Yang Terbaru

REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Baca

REVIEW SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan, Cinta (Hanung Bramantyo & X. Jo, 2018)

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Baca

SINEMA DAN AKAR KEKERASAN

LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
Baca

Review A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Baca

Review THE WOLF OF WALL STREET (Martin Scorsese, 2013)

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Baca

REVIEW TAMPOPO (Juzo Itami, 1985)

Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Baca

Review RAGING BULL (Martin Scorsese, 1980)

Jake LaMotta adalah seorang petinju dengan kepribadian bermasalah. Ia seorang pemarah, pencemburu yang kelewatan dan punya kecurigaan yang berlebihan. Meski karir bertinjunya cukup baik hingga bisa hidup layak, ia tak bisa menikmatinya dengan tenang. Setelah menceraikan istri tuanya demi gadis muda yang dikenalkan saudaranya kehidupannya tambah tidak tertata.


Melihat istrinya bertegursapa dengan lelaki lain bisa membuatnya naik pitam. Akibatnya ia sering melampiaskannya pada lawan tinjunya. Ia akan memukuli lawan bertubi-tubi seolah memukuli peselingkuh istrinya. Di atas ring Jake adalah juara namun di meja keluarga ia seorang pengacau. Tak cukup baginya amarah tertumpah di atas ring.

Karena tabiat itulah, kehidupan yang awalnya manis, karena Vikki sang istri masih muda dan cantik, berubah jadi ajang pertengkaran begitu usia perkawinan bertambah. Joey, saudara Jake pun seringkali kuwalahan menghadapi ketakstabilan mental Jake. Suatu ketika bahkan Joey dituduh Jake telah serong dengan Vikki.

Ketika karir Jake meredup, semua meninggalkannya. Joey maupun Vikki. Tak ada yang betah dengan kelakuannya. Jake yang bangkrut lalu beralih kerjaan sebagai standup comedian di klub malam.

===

Bagi saya, menonton karya Scorsese adalah menonton kesemrawutan kehidupan karakter-karakter kelam. Selain itu ciri khasnya adalah latar malam yang berisik sekaligus hampa. Scorsese bagi saya adalah masternya kalau bertutur soal kesuraman hidup.

Memandang sosok Jake LaMotta pada Robert De Niro, kita langsung merasa bahwa si petinju ini tak cuma sakit di atas ring namun juga dalam keseharian. Ia tak cukup bahagia dengan kemenangan-kemenangan. Yang terjadi malahan penyakitnya sering kambuh. Penyakit curiga berlebihan, sukar mengendalikan emosi dan pencemburu.

Matanya selalu awas saat Vikki beredar dari meja ke meja meski sekadar menyapa kenalan. Ia akan menghujaninya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menuduh. Tak jarang berakhir dengan pukulan. Kepada Joey pun juga begitu. Meski saling sayang sebagai kakak adik tak jarang keduanya nyaris baku pukul. Semua selalu Jake yang memulai. Apalagi kalau bukan dengan tuduhan-tuduhan atau kecurigaannya.

Tak seperti Rocky yang bercerita soal semangat juang, Raging Bull adalah cerita tentang penderitaan. Penderitaan karena gangguan mental. Jake LaMotta bukan seorang cendekia. Andai tak punya bakat baku pukul mungkin saja ia berakhir di jalanan sebagai bajingan. Intelektualitas yang tersisa darinya hanyalah sedikit kepandaian melucu di atas panggung. Melucu adalah hal yang mungkin bisa melunakkan keliarannya. Itupun baru ia jalani di saat tua.

Robert De Niro, saya rasa tak ada orang yang paling pantas untuk membawakan Jake selain dia. Ia bukan lagi penyendiri aneh si Travis Bickle dari Taxi Driver. Saya tak membicarakan soal prostetik makeup yang membuat hidungnya tampak lebih besar. Tapi pada bagaimana karakter biang rusuh Si Jake LaMotta nampak begitu menyatu bersemayam dalam pemeranannya.

Pembawaan dan penampakan si Jake muda dan tua pun ia bedakan dengan mulus. Jake muda yang liat dan gahar jadi Jake tua yang sumpek dan tambun. Sedikit aktor yang mampu bertransformasi begini. Mungkin memang karena Robert De Niro adalah seorang method actor yang tangguh. Kalau Robert diganjar piala Oscar atas perannya sebagai Jake LaMOtta itu sudah sebuah kepatutan.

Martin Scorsese pernah bilang bahwa ia lebih peduli karakter daripada plot. Itulah yang saya lihat tertuang dalam Raging Bull. Tak banyak tegangan naratif di film ini. Yang saya rasakan malah naik turunnya emosi, menyaksikan bagaimana Jake LaMotta yang jagoan di ring maupun di rumahtangga pada akhirnya juga menangis pilu di penjara.

Adegan Jake menangis meluapkan amarah sambil memukul tembok penjara itu adalah momen paling mengharukan menurut saya. Scorsese menggali cukup dalam, bagaimana bahwa lelaki sekuat apapun bisa memiliki sisi rapuh.

Kedalaman emosional sebuah film tentu tak cukup jika tanpa sinematografi yang kuat. Kemuraman nasib Jake direpresentasikan dengan tata gambar apik ala film klasik hitam putih. Begitu tegas, kuat dan puitis sekaligus. Scorsese lewat mata sang sinematografer Machael Chapman menekankan kesenduan lewat slow motion dan kefrustasian lewat close up shot. Jangan lupa, Chapman adalah orang yang juga menggarapa Taxi Driver sebelumnya bareng Scorsese.

Gambar-gambar olahan Chapman selalu sederhana namun efektif. Ia mengutamakan wide shot dengan blocking aktor yang efektif. Jarang saya lihat extreme close up. Dari sedikit yang ada itu, yang paling mengesankan saya adalah close up tetesan darah dari tali ring tinju. Sangat puitik, noir dan sangat sinematik.

Terakhir, soal musik. Kesuraman yang dibangun Scorsese dibungkus rapi dengan musik-musik yang ia pilih secara jeli. Karena Raging Bull berlatar tahun 40-60an tentu perlu musik yang pas dengan eranya. Sedangkan untuk jiwa keseluruhan Scorsese memilih musik yang timeless. Betapa tepat ia memilih sebuah komposisi dari Pietro Mascagni, "Intermezzo from Cavalleria rusticana". Mungkin gara-gara musik ini saya jadi terngiang-ngiang adegan-adegan tinju di dalamnya.

Raging Bull, bukan sport drama movie sekadarnya saja. Ia lebih merupakan film psikologi bagi saya.
Jake LaMotta adalah seorang petinju dengan kepribadian bermasalah. Ia seorang pemarah, pencemburu yang kelewatan dan punya kecurigaan yang berlebihan. Meski karir bertinjunya cukup baik hingga bisa hidup layak, ia tak bisa menikmatinya dengan tenang. Setelah menceraikan istri tuanya demi gadis muda yang dikenalkan saudaranya kehidupannya tambah tidak tertata.


Melihat istrinya bertegursapa dengan lelaki lain bisa membuatnya naik pitam. Akibatnya ia sering melampiaskannya pada lawan tinjunya. Ia akan memukuli lawan bertubi-tubi seolah memukuli peselingkuh istrinya. Di atas ring Jake adalah juara namun di meja keluarga ia seorang pengacau. Tak cukup baginya amarah tertumpah di atas ring.

Karena tabiat itulah, kehidupan yang awalnya manis, karena Vikki sang istri masih muda dan cantik, berubah jadi ajang pertengkaran begitu usia perkawinan bertambah. Joey, saudara Jake pun seringkali kuwalahan menghadapi ketakstabilan mental Jake. Suatu ketika bahkan Joey dituduh Jake telah serong dengan Vikki.

Ketika karir Jake meredup, semua meninggalkannya. Joey maupun Vikki. Tak ada yang betah dengan kelakuannya. Jake yang bangkrut lalu beralih kerjaan sebagai standup comedian di klub malam.

===

Bagi saya, menonton karya Scorsese adalah menonton kesemrawutan kehidupan karakter-karakter kelam. Selain itu ciri khasnya adalah latar malam yang berisik sekaligus hampa. Scorsese bagi saya adalah masternya kalau bertutur soal kesuraman hidup.

Memandang sosok Jake LaMotta pada Robert De Niro, kita langsung merasa bahwa si petinju ini tak cuma sakit di atas ring namun juga dalam keseharian. Ia tak cukup bahagia dengan kemenangan-kemenangan. Yang terjadi malahan penyakitnya sering kambuh. Penyakit curiga berlebihan, sukar mengendalikan emosi dan pencemburu.

Matanya selalu awas saat Vikki beredar dari meja ke meja meski sekadar menyapa kenalan. Ia akan menghujaninya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menuduh. Tak jarang berakhir dengan pukulan. Kepada Joey pun juga begitu. Meski saling sayang sebagai kakak adik tak jarang keduanya nyaris baku pukul. Semua selalu Jake yang memulai. Apalagi kalau bukan dengan tuduhan-tuduhan atau kecurigaannya.

Tak seperti Rocky yang bercerita soal semangat juang, Raging Bull adalah cerita tentang penderitaan. Penderitaan karena gangguan mental. Jake LaMotta bukan seorang cendekia. Andai tak punya bakat baku pukul mungkin saja ia berakhir di jalanan sebagai bajingan. Intelektualitas yang tersisa darinya hanyalah sedikit kepandaian melucu di atas panggung. Melucu adalah hal yang mungkin bisa melunakkan keliarannya. Itupun baru ia jalani di saat tua.

Robert De Niro, saya rasa tak ada orang yang paling pantas untuk membawakan Jake selain dia. Ia bukan lagi penyendiri aneh si Travis Bickle dari Taxi Driver. Saya tak membicarakan soal prostetik makeup yang membuat hidungnya tampak lebih besar. Tapi pada bagaimana karakter biang rusuh Si Jake LaMotta nampak begitu menyatu bersemayam dalam pemeranannya.

Pembawaan dan penampakan si Jake muda dan tua pun ia bedakan dengan mulus. Jake muda yang liat dan gahar jadi Jake tua yang sumpek dan tambun. Sedikit aktor yang mampu bertransformasi begini. Mungkin memang karena Robert De Niro adalah seorang method actor yang tangguh. Kalau Robert diganjar piala Oscar atas perannya sebagai Jake LaMOtta itu sudah sebuah kepatutan.

Martin Scorsese pernah bilang bahwa ia lebih peduli karakter daripada plot. Itulah yang saya lihat tertuang dalam Raging Bull. Tak banyak tegangan naratif di film ini. Yang saya rasakan malah naik turunnya emosi, menyaksikan bagaimana Jake LaMotta yang jagoan di ring maupun di rumahtangga pada akhirnya juga menangis pilu di penjara.

Adegan Jake menangis meluapkan amarah sambil memukul tembok penjara itu adalah momen paling mengharukan menurut saya. Scorsese menggali cukup dalam, bagaimana bahwa lelaki sekuat apapun bisa memiliki sisi rapuh.

Kedalaman emosional sebuah film tentu tak cukup jika tanpa sinematografi yang kuat. Kemuraman nasib Jake direpresentasikan dengan tata gambar apik ala film klasik hitam putih. Begitu tegas, kuat dan puitis sekaligus. Scorsese lewat mata sang sinematografer Machael Chapman menekankan kesenduan lewat slow motion dan kefrustasian lewat close up shot. Jangan lupa, Chapman adalah orang yang juga menggarapa Taxi Driver sebelumnya bareng Scorsese.

Gambar-gambar olahan Chapman selalu sederhana namun efektif. Ia mengutamakan wide shot dengan blocking aktor yang efektif. Jarang saya lihat extreme close up. Dari sedikit yang ada itu, yang paling mengesankan saya adalah close up tetesan darah dari tali ring tinju. Sangat puitik, noir dan sangat sinematik.

Terakhir, soal musik. Kesuraman yang dibangun Scorsese dibungkus rapi dengan musik-musik yang ia pilih secara jeli. Karena Raging Bull berlatar tahun 40-60an tentu perlu musik yang pas dengan eranya. Sedangkan untuk jiwa keseluruhan Scorsese memilih musik yang timeless. Betapa tepat ia memilih sebuah komposisi dari Pietro Mascagni, "Intermezzo from Cavalleria rusticana". Mungkin gara-gara musik ini saya jadi terngiang-ngiang adegan-adegan tinju di dalamnya.

Raging Bull, bukan sport drama movie sekadarnya saja. Ia lebih merupakan film psikologi bagi saya.
Baca

25 TAHUN JURASSIC PARK (1993 - 2018)

Sebuah perusahaan menghidupkan ulang dinosaurus dengan cara kloning. DNAnya didapat dari darah dinosaurus yang disedot nyamuk yang kemudian terawetkan dalam fosil amber. Sebagai sebuah novel saya pikir bukan hal yang luar biasa. Ada banyak novel hebat dengan imajinasi hebat. Tulisan adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Seorang penulis bebas menyapukan kuas imajinasinya karena pembaca pun bakal sama bebasnya berenang di dalamnya. Namun ketika kita bicara film, sebuah media yang mendiktekan audio visual sebagai wahana bercerita, urusannya tak gampang lagi.


Dinosaurus adalah hewan yang paling indah di muka bumi. Karena selain ukuran gigantiknya (manusia suka ama yang gigantic), juga karena lebih dari separuh pengetahuan kita tentangnya adalah imajinasi. Hanya sedikit dinosaurus yang ditemukan relatif utuh tulangnya. Di era Jurassic Park ditulis, belum ada fosil dinosaurus ditemukan beserta bulu atau cetakan kulit lengkapnya. Belum juga diketahui (atau diduga) bahwa Spinosaurus berenang seperti buaya dan berjalan dengan keempat kakinya.

Sampai tahun 1993, imajinasi kita soal dinosaurus hanya sampai di film Land of The Lost atau bahkan Carnosaurus, sebuah film kelas B yang lebih mirip Chucky versi dinosaurus. Kita membayangkan Tyrannosaurus berjalan dengan bokong ngesot, berbodi tambun dan lamban.

===

Tahun 1993, seorang sutradara visioner memutuskan melatih ulang para animator stop motion tradisional demi mewadahi teknologi terbaru Computer Graphic Imagery (CGI). Bahkan sudah ada CGI pun sang sutradara ini masih mau repot-repotnya membikin versi animatroniknya yang berskala satu banding satu.

Adalah Stan Winston yang berada di balik efek khusus film besar Hollywood. Tak cuma robot Terminator dan Robocop ia tangani. Ia juga piawai menghidupkan monster yang samasekali tak mirip terbuat dari lateks. Ia menerjemahkan visi sang sutradara sedetail-detailnya. Terlibatnya dia dengan Jurassic Park adalah keniscayaan. Gak boleh enggak.

Dengan arahan visi sutradara, beberapa jenis dinosaurus direka ulang sangat berbeda dari yang selama ini diimajinasikan orang. Seketika orang lupa soal dinosaurus yang pernah mereka tonton di TV atau film-film sebelumnya. This is something really different.


T-Rex (Tyrannosaurus Rex) yang sebelumnya cuma dikenal sama anak-anak penggemar dinosaurus, mendadak jadi selebriti. Semua orang tahu T-Rex. Namun mungkin mereka tak menyangka bahwa T-Rex yang berjalan dengan ekor terangkat dan mampu mengejar jeep baru dimulai sejak Jurassic Park.

Velociraptor, jenis dinosaurus yang sebelumnya tak terkenal, dibikin lebih lebay dari ukuran aslinya. Lebih serem dan ganas. Dilophosaur, yang sama tak terkenalnya dengan Velociraptor dibikin punya kipas di kepala dan bisa menyemburkan racun.

Orang tak protes karena kadung terpana. Suspension of disbelief at it's best cinematic presentation. Maka layaklah sang sutradara menangguk pujian seluruh dunia ketika film ini mampu membuat jutaan anak demam sama dinosaurus dan minat pada palaeologi meningkat.

Tak sopan menyebut Jurassic Park tanpa menyanjung John Williams. Lewat tangan dinginnya lah simfoni orkestra membuat Jurassic Park begitu megah. Tak bisa tidak, setiap saya lihat logo Jurassic Park tanpa terngiang musik temanya di kepala. Kalo main ke taman safari, atau lewat perbukitan, otomatis benak saya memutar ulang musik itu. Jurassic Park tak paripurna tanpa musik John Williams. Lagipula John adalah komposer yang kolaborasinya paling awet sama si sutradara ini.

Steven Spielberg, sang sutradara, tak pernah ada filmmaker sesukses ini dalam rentang karier begitu panjangnya. 40 tahun lebih!

Saya adalah salah satu dari jutaan ABG yang juga ikut demam dinosaurus. Bahkan bermimpi suatu saat ingin seperti Spielberg. Jurassic Park adalah film yang menginspirasi saya untuk bikin film. Jarang ada film yang demikian.

Saya pribadi menyukai ketiga serinya. Banyak yang menganggap bahwa film yang ketiga adalah sampah. Namun saya tetap saja menyukainya. Ketiga seri Jurassic Park awal tetap memberikan pengalaman yang berbeda.

Sayangnya pengalaman itu gagal saya peroleh di Jurassic World. Taman Jurassic yang modern dibikin serupa Sea World. Namun tak ada kemegahan yang saya rasakan sebagaimana saat helikopter Ingen memasuki kawasan Isla Nubar di Jurassic Park 1993. Kemunculan Indominus Rex pun garing-garing saja tak seperti saat saya pertamakali melihat Brachiosaurus. Lagipula entah kenapa musti memunculkan monster yang samasekali bukan dinosaurus itu. Seakan dinosaurus yang paling seram sudah mentok di T-Rex dan Velociraptor.

Lagi-lagi cuman Jurassic Park 1993 yang sudah menghabiskan semua greget soal dinosaurus. Jangankan pada sekuel-sekuelnya, sampai saat ini pun saya rasa belum ada film dinosaurus yang mampu menandingi versi 1993.

Apa ada film dinosaurus baru yang bisa sesukses Jurassic Park?

Atau kita turunin standar deh.... minimal yang bisa box office. Ada?

No!

===

Jurassic Park bukan sekadar film soal "kadal raksasa" (dinosaurus bukan reptil loh) yang hendak memangsa manusia. Ini adalah film yang sebenarnya punya inti cerita mendalam.

"This isn't some species that was obliterated by deforestation, or the building of a dam. Dinosaurs had their shot, and nature selected them for extinction."

Demikian kata Ian Malcolm yang diperankan Jeff Goldblum. Ian adalah seorang matematikawan. Menghidupkan binatang yang ditakdirkan alam punah milyaran tahun silam, tentunya akan membawa dampak jika dihadirkan pada masa kini. Ian Malcolm dipekerjakan untuk mengkalkulasikannya.

Kecemasan yang beralasan. Dinosaurus bagaimanapun hidup di era yang begitu terpaut jauh dari peradaban. Tentunya ada lasan tertentu kenapa mereka tak bertahan (dengan bentuknya di masa itu) hingga sekarang.

"The world has just changed so radically, and we're all running to catch up. I don't want to jump to any conclusions, but look... Dinosaurs and man, two species separated by 65 million years of evolution have just been suddenly thrown back into the mix together. How can we possibly have the slightest idea what to expect?"

Itu adalah tanggapan dari Dr. Allan Grant (diperankan Sam Neill). Kita tak asing dengan yang demikian. Ada sejumlah orang yang ingin membawa sesuatu yang lebih cocok hidup di puluhan abad silam, untuk diterapkan pada kompleksitas jaman ini. Akan ada benturan-benturan. Jaman itu progresif, bergerak seiring dengan kemajuan taraf berkebudayaan manusia. Membangunkan sesuatu yang meskipun pernah jaya di masa lalu, tentunya akan mengakibatkan sesuatu ini menabrak banyak hal.

Masih dari Dr. Grant, "Some of the worst things imaginable have been done with the best intentions."

Jadi rupanya, Jurassic Park punya kritik yang lebih mendalam. Ini bukan film yang sekadar bicara penyalahgunaan sains atau kekacauan ekologis, melainkan kayaknya sih....juga soal ideologi. Kalo anda bisa terima lho ya hehehe

Akan tetapi, sesuatu yang sudah telanjur hidup, akan terus berusaha bertahan hidup. Masih kata Ian Malcolm, "Life will find a way..."

Makanya hati-hati jika mau membangkitkan apa yang seharusnya sudah dipunahkan alam atau sejarah. Karena begitu sudah hidup, kita akan menanggung ketimpangan sistem. Dia akan mencari jalan meski sudah dibendung. Kayak kamu yang jatuh cinta sampe mati namun tetep dihalangi. Ra minggir ya tabrak to ya?

"Life.... will find a way."

Sebuah perusahaan menghidupkan ulang dinosaurus dengan cara kloning. DNAnya didapat dari darah dinosaurus yang disedot nyamuk yang kemudian terawetkan dalam fosil amber. Sebagai sebuah novel saya pikir bukan hal yang luar biasa. Ada banyak novel hebat dengan imajinasi hebat. Tulisan adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Seorang penulis bebas menyapukan kuas imajinasinya karena pembaca pun bakal sama bebasnya berenang di dalamnya. Namun ketika kita bicara film, sebuah media yang mendiktekan audio visual sebagai wahana bercerita, urusannya tak gampang lagi.


Dinosaurus adalah hewan yang paling indah di muka bumi. Karena selain ukuran gigantiknya (manusia suka ama yang gigantic), juga karena lebih dari separuh pengetahuan kita tentangnya adalah imajinasi. Hanya sedikit dinosaurus yang ditemukan relatif utuh tulangnya. Di era Jurassic Park ditulis, belum ada fosil dinosaurus ditemukan beserta bulu atau cetakan kulit lengkapnya. Belum juga diketahui (atau diduga) bahwa Spinosaurus berenang seperti buaya dan berjalan dengan keempat kakinya.

Sampai tahun 1993, imajinasi kita soal dinosaurus hanya sampai di film Land of The Lost atau bahkan Carnosaurus, sebuah film kelas B yang lebih mirip Chucky versi dinosaurus. Kita membayangkan Tyrannosaurus berjalan dengan bokong ngesot, berbodi tambun dan lamban.

===

Tahun 1993, seorang sutradara visioner memutuskan melatih ulang para animator stop motion tradisional demi mewadahi teknologi terbaru Computer Graphic Imagery (CGI). Bahkan sudah ada CGI pun sang sutradara ini masih mau repot-repotnya membikin versi animatroniknya yang berskala satu banding satu.

Adalah Stan Winston yang berada di balik efek khusus film besar Hollywood. Tak cuma robot Terminator dan Robocop ia tangani. Ia juga piawai menghidupkan monster yang samasekali tak mirip terbuat dari lateks. Ia menerjemahkan visi sang sutradara sedetail-detailnya. Terlibatnya dia dengan Jurassic Park adalah keniscayaan. Gak boleh enggak.

Dengan arahan visi sutradara, beberapa jenis dinosaurus direka ulang sangat berbeda dari yang selama ini diimajinasikan orang. Seketika orang lupa soal dinosaurus yang pernah mereka tonton di TV atau film-film sebelumnya. This is something really different.


T-Rex (Tyrannosaurus Rex) yang sebelumnya cuma dikenal sama anak-anak penggemar dinosaurus, mendadak jadi selebriti. Semua orang tahu T-Rex. Namun mungkin mereka tak menyangka bahwa T-Rex yang berjalan dengan ekor terangkat dan mampu mengejar jeep baru dimulai sejak Jurassic Park.

Velociraptor, jenis dinosaurus yang sebelumnya tak terkenal, dibikin lebih lebay dari ukuran aslinya. Lebih serem dan ganas. Dilophosaur, yang sama tak terkenalnya dengan Velociraptor dibikin punya kipas di kepala dan bisa menyemburkan racun.

Orang tak protes karena kadung terpana. Suspension of disbelief at it's best cinematic presentation. Maka layaklah sang sutradara menangguk pujian seluruh dunia ketika film ini mampu membuat jutaan anak demam sama dinosaurus dan minat pada palaeologi meningkat.

Tak sopan menyebut Jurassic Park tanpa menyanjung John Williams. Lewat tangan dinginnya lah simfoni orkestra membuat Jurassic Park begitu megah. Tak bisa tidak, setiap saya lihat logo Jurassic Park tanpa terngiang musik temanya di kepala. Kalo main ke taman safari, atau lewat perbukitan, otomatis benak saya memutar ulang musik itu. Jurassic Park tak paripurna tanpa musik John Williams. Lagipula John adalah komposer yang kolaborasinya paling awet sama si sutradara ini.

Steven Spielberg, sang sutradara, tak pernah ada filmmaker sesukses ini dalam rentang karier begitu panjangnya. 40 tahun lebih!

Saya adalah salah satu dari jutaan ABG yang juga ikut demam dinosaurus. Bahkan bermimpi suatu saat ingin seperti Spielberg. Jurassic Park adalah film yang menginspirasi saya untuk bikin film. Jarang ada film yang demikian.

Saya pribadi menyukai ketiga serinya. Banyak yang menganggap bahwa film yang ketiga adalah sampah. Namun saya tetap saja menyukainya. Ketiga seri Jurassic Park awal tetap memberikan pengalaman yang berbeda.

Sayangnya pengalaman itu gagal saya peroleh di Jurassic World. Taman Jurassic yang modern dibikin serupa Sea World. Namun tak ada kemegahan yang saya rasakan sebagaimana saat helikopter Ingen memasuki kawasan Isla Nubar di Jurassic Park 1993. Kemunculan Indominus Rex pun garing-garing saja tak seperti saat saya pertamakali melihat Brachiosaurus. Lagipula entah kenapa musti memunculkan monster yang samasekali bukan dinosaurus itu. Seakan dinosaurus yang paling seram sudah mentok di T-Rex dan Velociraptor.

Lagi-lagi cuman Jurassic Park 1993 yang sudah menghabiskan semua greget soal dinosaurus. Jangankan pada sekuel-sekuelnya, sampai saat ini pun saya rasa belum ada film dinosaurus yang mampu menandingi versi 1993.

Apa ada film dinosaurus baru yang bisa sesukses Jurassic Park?

Atau kita turunin standar deh.... minimal yang bisa box office. Ada?

No!

===

Jurassic Park bukan sekadar film soal "kadal raksasa" (dinosaurus bukan reptil loh) yang hendak memangsa manusia. Ini adalah film yang sebenarnya punya inti cerita mendalam.

"This isn't some species that was obliterated by deforestation, or the building of a dam. Dinosaurs had their shot, and nature selected them for extinction."

Demikian kata Ian Malcolm yang diperankan Jeff Goldblum. Ian adalah seorang matematikawan. Menghidupkan binatang yang ditakdirkan alam punah milyaran tahun silam, tentunya akan membawa dampak jika dihadirkan pada masa kini. Ian Malcolm dipekerjakan untuk mengkalkulasikannya.

Kecemasan yang beralasan. Dinosaurus bagaimanapun hidup di era yang begitu terpaut jauh dari peradaban. Tentunya ada lasan tertentu kenapa mereka tak bertahan (dengan bentuknya di masa itu) hingga sekarang.

"The world has just changed so radically, and we're all running to catch up. I don't want to jump to any conclusions, but look... Dinosaurs and man, two species separated by 65 million years of evolution have just been suddenly thrown back into the mix together. How can we possibly have the slightest idea what to expect?"

Itu adalah tanggapan dari Dr. Allan Grant (diperankan Sam Neill). Kita tak asing dengan yang demikian. Ada sejumlah orang yang ingin membawa sesuatu yang lebih cocok hidup di puluhan abad silam, untuk diterapkan pada kompleksitas jaman ini. Akan ada benturan-benturan. Jaman itu progresif, bergerak seiring dengan kemajuan taraf berkebudayaan manusia. Membangunkan sesuatu yang meskipun pernah jaya di masa lalu, tentunya akan mengakibatkan sesuatu ini menabrak banyak hal.

Masih dari Dr. Grant, "Some of the worst things imaginable have been done with the best intentions."

Jadi rupanya, Jurassic Park punya kritik yang lebih mendalam. Ini bukan film yang sekadar bicara penyalahgunaan sains atau kekacauan ekologis, melainkan kayaknya sih....juga soal ideologi. Kalo anda bisa terima lho ya hehehe

Akan tetapi, sesuatu yang sudah telanjur hidup, akan terus berusaha bertahan hidup. Masih kata Ian Malcolm, "Life will find a way..."

Makanya hati-hati jika mau membangkitkan apa yang seharusnya sudah dipunahkan alam atau sejarah. Karena begitu sudah hidup, kita akan menanggung ketimpangan sistem. Dia akan mencari jalan meski sudah dibendung. Kayak kamu yang jatuh cinta sampe mati namun tetep dihalangi. Ra minggir ya tabrak to ya?

"Life.... will find a way."

Baca

REVIEW DANGAL (Nitesh Tiwari, 2016)

Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat kampung yang gagal mewujudkan ambisi jadi juara nasional berharap sekali punya anak laki-laki. Ia ingin mewujudkan ambisi tersebut lewat anaknya. Malangnya 4 kali punya anak ndilalah cewek semua. Mahavir Singh pun putus asa.


Suatu hari dua anak tertuanya, Geeta dan Babita menghajar dua cowok yang mengejeknya hingga babak belur. Saat itulah Mahavir Singh merasa bahwa darah pegulat mengalir di kedua putrinya. Akibatnya mimpi untuk mewujudkan juara gulat nasional bangkit lagi. Esoknya Geeta dan Babita dipaksa menjalani latian berat agar jadi juara gulat. Tak ada ampun meski buat anak perempuan. Keduanya dilatih dengan porsi laki-laki.

Satu per satu rintangan ditembus. Tak mudah buat dua anak cewek ingin jadi atlit gulat. Sebagai bapak, Mahavir Singh pun mengorbankan banyak hal agar dua putrinya itu menjadi juara. Dia dibantu keponakannya yang mirip Martin Scorsese muda terus mendukung Geeta dan Babita mulai menjadi juara kampung hingga merangkak jadi juara nasional.

Cerita lalu mulai fokus ke Geeta. Mulai terjadi gap antara Geeta dan bapaknya. Geeta kini harus direlakan untuk berlatih di akademi. Apa yang dulu dianggap hebat di kampung, menjadi kuno di akademi olahraga. Apalagi kini Geeta yang sudah mulai passionated pada gulat diproyeksikan untuk jadi juara dunia. Maka bapak dan anak ini pun musti menghadapi dinamika emosional yang turun naik.

===

Dangal adalah racikan sinematik yang padat rasa. Di awal kisah kita akan merasa betapa konyol Mahavir Singh Phogat memaksa anaknya menebus kegagalan pribadinya. Ada berapa banyak bapak semacam ini? Gagal mencapai ambisi pribadi lalu mengorbankan anaknya. Tapi bukan tanpa alasan kuat Mahavir Singh melakukannya. Ini pula yang membuat kisah Dangal begitu berbobot. Tak cuma drama soal semangat laga namun juga kritik sosial untuk masyarakat rural India. Lebih baik tak saya ceritakan kenapa akhirnya Geeta dan Babita yang awalnya terpaksa (sampai-sampai ia menyabotase program latihan bikinan bapaknya), kemudian hari begitu bersemangat jadi pegulat. Karena ini adalah salah satu tanjakan dramatik yang akan membuat anda haru.

Bukan cuma totalitas para pelakonnya yang bikin saya makin terpesona. Apalagi menyaksikan bagaimana Aamir Khan memerankan karakter yang melalui 2 masa: Mahavir Singh Phogat yang berusia 20 tahunan dan six pack dan versi masa tuanya yang tambun di usia 60 tahunan. Namun yang bikin saya terpesona justru lebih dari itu. Film ini punya kedalaman yang mengaduk-aduk perasaan. Anda bisa ketawa dan menangis secara bergantian. Ini lebih dari yang saya antisipasi.

Simak bagaimana seorang bapak yang begitu berambisi agar anaknya juara, pada suatu saat akan merasa cemburu karena sang anak pintar melebihi dirinya. Kadang ia kesepian ditinggal anak-anaknya yang mengejar impian jadi juara. Dangal begitu rapih menata tanjakan-tanjakan dramatik. Dramanya juga begitu emosional hingga tak terasa air mata meleleh. Apalagi saya tuh cengeng banget kalo sebuah kisah bertutur soal keluarga. Keparatnya tak lama kemudian kita bisa ketawa. Ketawa usai disambung dengan ketegamgan pertandingan. Lalu haru lagi ketika sang tokoh meraih kemenangan.

Tak ada tempelan-tempelan yang tak perlu di film ini. Nggak ada drama cinta-cintaan dua sejoli, nggak ada karakter konyol khas Bollywood yang cuman jadi comic relief dan bahkan gersang dari adegan jejogedan. Dangal bertutur sangat efektif, beralur cepat namun tak terburu-buru.

Pujian pun saya ucapkan pada music score yang tidak terlalu tipikal. Nggak india banget namun juga gak lepas dari aroma Bollywood yang wajib tetabuhan. Saya pikir para penonton film non Bollywwod pun akan cocok dengan racikan ini.

Dangal adalah film drama olahraga yang padat. Baik aspek olahraga maupun dramanya lebur jadi satu kesatuan. Ini bukan drama yang sekadar berlatar sport. Namun juga bukan sekadar film yang melulu menampilkan sport tanpa bicara soal karakternya. Tak Cuma dramanya yang mendalam, detail soal olahraga gulat pun terekspose dengan baik.

India tak asing dengan gulat. Mereka punya tradisi olahraga ini sejak lama. Secara tradisional, gulat disebut dengan Pehlwani sedangkan yang lebih standar disebut dengan Kushti. Pehlwani dipertandingkan di kampung dan dilakukan di atas lumpur kering. Pesertanya sebagian besar pria. Maka tak mudah bagi Geeta dan Babita untuk terlibat ke dalamnya. Penguasaan atas teknik tradisional ini kelak mempermudah Geeta dan Babita untuk beradaptasi ke olahraga gulat standar olimpiade (Olympic Wrestling).

Soal gulat ini, Dangal tak main-main dengan koreografi. Bagi anda yang paham olahraga gulat dan grappling tentunya akan tahu bahwa teknik yang dipertontonkan nggak asal-asalan. Nggak ada fast cut atau extreme shot yang mengaburkan teknik. Teknik dilakukan detail, dalam wide shot dan nyaris nampak realistis. Fatima Sana Shaikh cukup meyakinkan memerankan Geeta saat dewasa. Gesture tubuhnya tidak janggal. Tubuhnya yang padat atletis cocok sekali bermanuver.

Kecemerlangan Dangal membuat saya makin ngefans saja sama Aamir Khan. Meski dia bukan sang sutradara, tapi sentuhan tangan dinginnya sebagai produser sudah kayak jadi jaminan mutu. Film Aamir Khan mana sih yang gagal akhir-akhir ini? Dia benar-benar filmmaker yang berdedikasi. Melihat bagaimana ia mengolah tubuhnya nyaris bikin saya membandingkannya dengan Christian Bale.

Film ini saya rekomendasikan bagi para penyuka sport drama terlebih yang suka grappling arts macam saya hehehe. Oh iya jangan lupa siapkan tisu ya kalau nontonnya sendirian.

Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat kampung yang gagal mewujudkan ambisi jadi juara nasional berharap sekali punya anak laki-laki. Ia ingin mewujudkan ambisi tersebut lewat anaknya. Malangnya 4 kali punya anak ndilalah cewek semua. Mahavir Singh pun putus asa.


Suatu hari dua anak tertuanya, Geeta dan Babita menghajar dua cowok yang mengejeknya hingga babak belur. Saat itulah Mahavir Singh merasa bahwa darah pegulat mengalir di kedua putrinya. Akibatnya mimpi untuk mewujudkan juara gulat nasional bangkit lagi. Esoknya Geeta dan Babita dipaksa menjalani latian berat agar jadi juara gulat. Tak ada ampun meski buat anak perempuan. Keduanya dilatih dengan porsi laki-laki.

Satu per satu rintangan ditembus. Tak mudah buat dua anak cewek ingin jadi atlit gulat. Sebagai bapak, Mahavir Singh pun mengorbankan banyak hal agar dua putrinya itu menjadi juara. Dia dibantu keponakannya yang mirip Martin Scorsese muda terus mendukung Geeta dan Babita mulai menjadi juara kampung hingga merangkak jadi juara nasional.

Cerita lalu mulai fokus ke Geeta. Mulai terjadi gap antara Geeta dan bapaknya. Geeta kini harus direlakan untuk berlatih di akademi. Apa yang dulu dianggap hebat di kampung, menjadi kuno di akademi olahraga. Apalagi kini Geeta yang sudah mulai passionated pada gulat diproyeksikan untuk jadi juara dunia. Maka bapak dan anak ini pun musti menghadapi dinamika emosional yang turun naik.

===

Dangal adalah racikan sinematik yang padat rasa. Di awal kisah kita akan merasa betapa konyol Mahavir Singh Phogat memaksa anaknya menebus kegagalan pribadinya. Ada berapa banyak bapak semacam ini? Gagal mencapai ambisi pribadi lalu mengorbankan anaknya. Tapi bukan tanpa alasan kuat Mahavir Singh melakukannya. Ini pula yang membuat kisah Dangal begitu berbobot. Tak cuma drama soal semangat laga namun juga kritik sosial untuk masyarakat rural India. Lebih baik tak saya ceritakan kenapa akhirnya Geeta dan Babita yang awalnya terpaksa (sampai-sampai ia menyabotase program latihan bikinan bapaknya), kemudian hari begitu bersemangat jadi pegulat. Karena ini adalah salah satu tanjakan dramatik yang akan membuat anda haru.

Bukan cuma totalitas para pelakonnya yang bikin saya makin terpesona. Apalagi menyaksikan bagaimana Aamir Khan memerankan karakter yang melalui 2 masa: Mahavir Singh Phogat yang berusia 20 tahunan dan six pack dan versi masa tuanya yang tambun di usia 60 tahunan. Namun yang bikin saya terpesona justru lebih dari itu. Film ini punya kedalaman yang mengaduk-aduk perasaan. Anda bisa ketawa dan menangis secara bergantian. Ini lebih dari yang saya antisipasi.

Simak bagaimana seorang bapak yang begitu berambisi agar anaknya juara, pada suatu saat akan merasa cemburu karena sang anak pintar melebihi dirinya. Kadang ia kesepian ditinggal anak-anaknya yang mengejar impian jadi juara. Dangal begitu rapih menata tanjakan-tanjakan dramatik. Dramanya juga begitu emosional hingga tak terasa air mata meleleh. Apalagi saya tuh cengeng banget kalo sebuah kisah bertutur soal keluarga. Keparatnya tak lama kemudian kita bisa ketawa. Ketawa usai disambung dengan ketegamgan pertandingan. Lalu haru lagi ketika sang tokoh meraih kemenangan.

Tak ada tempelan-tempelan yang tak perlu di film ini. Nggak ada drama cinta-cintaan dua sejoli, nggak ada karakter konyol khas Bollywood yang cuman jadi comic relief dan bahkan gersang dari adegan jejogedan. Dangal bertutur sangat efektif, beralur cepat namun tak terburu-buru.

Pujian pun saya ucapkan pada music score yang tidak terlalu tipikal. Nggak india banget namun juga gak lepas dari aroma Bollywood yang wajib tetabuhan. Saya pikir para penonton film non Bollywwod pun akan cocok dengan racikan ini.

Dangal adalah film drama olahraga yang padat. Baik aspek olahraga maupun dramanya lebur jadi satu kesatuan. Ini bukan drama yang sekadar berlatar sport. Namun juga bukan sekadar film yang melulu menampilkan sport tanpa bicara soal karakternya. Tak Cuma dramanya yang mendalam, detail soal olahraga gulat pun terekspose dengan baik.

India tak asing dengan gulat. Mereka punya tradisi olahraga ini sejak lama. Secara tradisional, gulat disebut dengan Pehlwani sedangkan yang lebih standar disebut dengan Kushti. Pehlwani dipertandingkan di kampung dan dilakukan di atas lumpur kering. Pesertanya sebagian besar pria. Maka tak mudah bagi Geeta dan Babita untuk terlibat ke dalamnya. Penguasaan atas teknik tradisional ini kelak mempermudah Geeta dan Babita untuk beradaptasi ke olahraga gulat standar olimpiade (Olympic Wrestling).

Soal gulat ini, Dangal tak main-main dengan koreografi. Bagi anda yang paham olahraga gulat dan grappling tentunya akan tahu bahwa teknik yang dipertontonkan nggak asal-asalan. Nggak ada fast cut atau extreme shot yang mengaburkan teknik. Teknik dilakukan detail, dalam wide shot dan nyaris nampak realistis. Fatima Sana Shaikh cukup meyakinkan memerankan Geeta saat dewasa. Gesture tubuhnya tidak janggal. Tubuhnya yang padat atletis cocok sekali bermanuver.

Kecemerlangan Dangal membuat saya makin ngefans saja sama Aamir Khan. Meski dia bukan sang sutradara, tapi sentuhan tangan dinginnya sebagai produser sudah kayak jadi jaminan mutu. Film Aamir Khan mana sih yang gagal akhir-akhir ini? Dia benar-benar filmmaker yang berdedikasi. Melihat bagaimana ia mengolah tubuhnya nyaris bikin saya membandingkannya dengan Christian Bale.

Film ini saya rekomendasikan bagi para penyuka sport drama terlebih yang suka grappling arts macam saya hehehe. Oh iya jangan lupa siapkan tisu ya kalau nontonnya sendirian.

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA