Yang Terbaru

MENGAPA SPOILER FILM ADALAH TABU?

Spoiler dalam konteks karya fiksi artinya membocorkan jalan cerita. Khusus mengenai film, spoiler mempunyai akibat yang fatal untuk kenikmatan menonton. Pada dasarnya struktur cerita fiksi dibuat agar penonton bisa mendapat sensasi naratifnya, yang mana menyembunyikan informasi yang mengarah pada akhir cerita adalah hal terpenting. Tentu kurang menarik jika menonton film yang sudah diketahui detail-detailnya, meskipun ada juga yang tidak bermasalah dengan itu. Secara umum, kenikmatan menonton adalah ketika tiap informasi plot diungkap secara berlapis-lapis. Itu yang membuat kenapa menonton film terasa greget. Lazimnya, para pekerja film dilarang untuk spoiling atau bahkan memajang foto-foto syuting tertentu yang digariskan oleh produser selama film itu dalam masa release. Ketika detail film terlalu diumbar, tidak ada rasa penasaran yang menjadi salah satu unsur marketingnya.

The Sixth Sense, film yang cukup sukar mengulasnya tanpa spoiler.

Lantas apakah yang termasuk "spoiling" (kata kerja untuk spoiler)?
Pada intinya adalah semua hal menyangkut detail dan penjabaran yang memuat informasi yang harusnya memang disembunyikan. Ini gampang jika kita menerapkannya dalam film genre detektif, thriller dan horror. Hal-hal yang merupakan spoiler antara lain:
1. Kejadian penting yang mengubah pikiran para tokohnya
2. Pelaku kunci sebuah kasus
3. Tokoh mana yang akan meninggal
4. Plot twist yang terjadi
Dan lain-lain.
Apa gunanya nonton film detektif atau thriller jika kita sudah tahu kejadian aslinya? Fiksi jenis ini disusun khusus memang untuk menyesatkan dugaan penontonnya.
Sedangkan untuk genre drama, larangan spoiler tidak seketat genre tadi. Meskipun begitu untuk menghargai para pembuat ceritanya, spoiler harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Terus bagaimana dengan review kritik dan sebagainya? Bukankah mereka juga berpotensi besar mengandung spoiler?

Scream, film thriller yang sangat fatal jika disebar spoilernya.

Ada etika tertentu dalam menulis tentang film yang sedang tayang atau masih dalam masa mencari audiens. Salah satunya adalah menuliskan "SPOILER ALERT" secara jelas di awal tulisan. Artinya memperingatkan pembaca bahwa ulasan itu mengandung resiko spoiling beberapa plot. Akan tetapi penulis review yang baik tentu paham bagaimana menyiasati agar spoiler diminimalisir. Biasanya masa berlaku "larangan" spoiler adalah selama film tersebut dalam masa edar (antara satu hingga dua bulan kira-kira).
Meski tidak ada hukum yang melarang spoiler, ini adalah urusan etis saja dalam dunia literasi. Terlebih dalam ekosistem perfilman banyak hal yang harus dihidupi. Spoiling film bisa merugikan tak hanya industri namun juga secara moral bagi penulis ceritanya. Ini adalah hal yang masih perlu terus dikampanyekan dalam masyarakat yang miskin literasi, jangankan membaca fiksi, kebanyakan juga belum paham bagaimana memperlakukan produk kreatif naratif semacam ini. Diperparah dengan etika berinternet yang belum cukup maju. Ketika larangan spoiler dikemukakan, masih banyak yang menganggapnya lebay karena mungkin belum cukup paham bagaimana industri ini bekerja. Agak bisa dimaklumi karena sejarah perfilman kita tergolong muda di dunia dan pernah mati suri di era 90 ke awal 2000an. Jadi budaya literasi sinema kita sangat terlambat.
Jadi begitulah mengapa spoiler adalah tabu dan tidak etis. Kalau saya ibaratkan seperti anda mau beli nogosari, anda buka satu-satu, anda ciumi atau jilat lalu anda cuma pilih satu untuk dibeli.
(ditulis dari Wlingiwood pada pagi hari yang spoiling)
Spoiler dalam konteks karya fiksi artinya membocorkan jalan cerita. Khusus mengenai film, spoiler mempunyai akibat yang fatal untuk kenikmatan menonton. Pada dasarnya struktur cerita fiksi dibuat agar penonton bisa mendapat sensasi naratifnya, yang mana menyembunyikan informasi yang mengarah pada akhir cerita adalah hal terpenting. Tentu kurang menarik jika menonton film yang sudah diketahui detail-detailnya, meskipun ada juga yang tidak bermasalah dengan itu. Secara umum, kenikmatan menonton adalah ketika tiap informasi plot diungkap secara berlapis-lapis. Itu yang membuat kenapa menonton film terasa greget. Lazimnya, para pekerja film dilarang untuk spoiling atau bahkan memajang foto-foto syuting tertentu yang digariskan oleh produser selama film itu dalam masa release. Ketika detail film terlalu diumbar, tidak ada rasa penasaran yang menjadi salah satu unsur marketingnya.

The Sixth Sense, film yang cukup sukar mengulasnya tanpa spoiler.

Lantas apakah yang termasuk "spoiling" (kata kerja untuk spoiler)?
Pada intinya adalah semua hal menyangkut detail dan penjabaran yang memuat informasi yang harusnya memang disembunyikan. Ini gampang jika kita menerapkannya dalam film genre detektif, thriller dan horror. Hal-hal yang merupakan spoiler antara lain:
1. Kejadian penting yang mengubah pikiran para tokohnya
2. Pelaku kunci sebuah kasus
3. Tokoh mana yang akan meninggal
4. Plot twist yang terjadi
Dan lain-lain.
Apa gunanya nonton film detektif atau thriller jika kita sudah tahu kejadian aslinya? Fiksi jenis ini disusun khusus memang untuk menyesatkan dugaan penontonnya.
Sedangkan untuk genre drama, larangan spoiler tidak seketat genre tadi. Meskipun begitu untuk menghargai para pembuat ceritanya, spoiler harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Terus bagaimana dengan review kritik dan sebagainya? Bukankah mereka juga berpotensi besar mengandung spoiler?

Scream, film thriller yang sangat fatal jika disebar spoilernya.

Ada etika tertentu dalam menulis tentang film yang sedang tayang atau masih dalam masa mencari audiens. Salah satunya adalah menuliskan "SPOILER ALERT" secara jelas di awal tulisan. Artinya memperingatkan pembaca bahwa ulasan itu mengandung resiko spoiling beberapa plot. Akan tetapi penulis review yang baik tentu paham bagaimana menyiasati agar spoiler diminimalisir. Biasanya masa berlaku "larangan" spoiler adalah selama film tersebut dalam masa edar (antara satu hingga dua bulan kira-kira).
Meski tidak ada hukum yang melarang spoiler, ini adalah urusan etis saja dalam dunia literasi. Terlebih dalam ekosistem perfilman banyak hal yang harus dihidupi. Spoiling film bisa merugikan tak hanya industri namun juga secara moral bagi penulis ceritanya. Ini adalah hal yang masih perlu terus dikampanyekan dalam masyarakat yang miskin literasi, jangankan membaca fiksi, kebanyakan juga belum paham bagaimana memperlakukan produk kreatif naratif semacam ini. Diperparah dengan etika berinternet yang belum cukup maju. Ketika larangan spoiler dikemukakan, masih banyak yang menganggapnya lebay karena mungkin belum cukup paham bagaimana industri ini bekerja. Agak bisa dimaklumi karena sejarah perfilman kita tergolong muda di dunia dan pernah mati suri di era 90 ke awal 2000an. Jadi budaya literasi sinema kita sangat terlambat.
Jadi begitulah mengapa spoiler adalah tabu dan tidak etis. Kalau saya ibaratkan seperti anda mau beli nogosari, anda buka satu-satu, anda ciumi atau jilat lalu anda cuma pilih satu untuk dibeli.
(ditulis dari Wlingiwood pada pagi hari yang spoiling)
Baca

PENTINGNYA PLATFORM BUAT KREATOR

Di toko buku saya melihat banyak judul yang tak populer dan ragu apakah orang benar-benar membelinya. Tetapi saya yakin tetap ada, karena itu toko buku tempat orang mencari buku-buku apa saja. Yang laris memang buku populer tapi buku non populer juga bisa ditemukan di toko itu.
Dengan adanya suatu tempat untuk memajang, maka orang tak akan repot-repot blusukan mencari penulis di rumahnya, cukup ke toko buku. Filmmaker juga gak repot-repot bawa flashdisk jualan film dari pintu ke pintu. Mau nonton ya ke bioskop atau streaming di internet secara legal.
Begitulah konsep tentang "lapak dagangan" atau platform.


Suatu ketika saya unggah video main-main saya (yang bikin mie itu) di Facebook. Reaksi orang adem-adem saja. Follower saya cuma 2000an di akun pribadi, yang share cuma satu atau dua orang saja. Lalu saya coba unggah di Page saya, eh jadi viral. Hal yang sama juga kalo saya unggah di Youtube. Di sana sepi, di Page FB rame. Dari sini saya belajar bahwa sebuah konten itu laku bukan cuma karena isinya tapi juga tempat kita menaruhnya.
Di jaman ini tidak bisa seorang kreator menjual langsung karyanya dari pintu ke pintu. Terlalu repot dan makan biaya. Pernahkah anda bayangkan Christopher Nolan bawa harddisk terus nawarin filmnya di depan kost-kostan? Atau Frank Miller naik sepeda dengan sekeranjang komik jualan di depan Taman Wlingi?
Kreator butuh lapak atau kalo bahasa sekarang ini platform. Platform adalah sebuah wadah yang mempertemukan para pencipta dan peminat. Seringkali ciptaan dan minat itu begitu khusus. Sama seperti video main-main saya yang tak diminati follower saya namun disukai follower page saya. Juga di Youtube, karya saya tak diminati namun di page Facebook banyak yang membagikannya. Keramaian atau traffic tiap platform beda-beda.
Berhubung pentingnya platform dalam mengekspose suatu produk atau karya, maka valuenya besar sekali. Ibarat toko atau pasar lokasinya kudu strategis, maka ada ilmu mengelola platform agar trafficnya bagus. Sayang sekali pengelolaan ini butuh alokasi energi dan waktu tersendiri. Seorang kreator tak selalu sempat bisa mengurusi sebuah platform. Maka akan lebih mudah jika ada orang lain yang mengurusi. Seperti para pembuat konten digital hari ini, mereka bergantung pada platform yang sudah mapan semacam Youtube, Vimeo dan lain-lain. Kalau bikin sendiri biayanya jauh lebih besar meskipun akan lebih mandiri. Ini memang kurang menyenangkan bagi para kreator pemula yang karyanya segmented. Karya segmented yang tidak laku di platform umum perlu platform yang lebih khusus.
Bicara sesuai bidang saya, ada dua macam platform untuk filmmaker dan comic creator: ONLINE dan OFFLINE. Platform online bisa menjangkau lebih banyak penonton/pembaca namun cenderung susah untuk bisa mendapat profit secara langsung. Platform tertentu kadang menerapkan "bagi hasil" berupa revenue dari iklan. Contohnya Youtube dengan Google Adsense. Untuk mendapatkan penghasilan dari sini susah sekali. Syaratnya banyak dan tak bersahabat untuk konten yang sifatnya segmented. Kreator musti cari cara lain untuk menguangkan karyanya. Dari platform online, value yang didapat adalah exposure atau branding. Misalnya saya bisa jualan komik setelah komiknya viral di medsos.
Platform offline jangkauannya sempit namun langsung. Film yang diputar di bioskop atau komik yang dijual di toko buku hanya bisa diakses secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di radius tertentu dari lokasi. Namun uangnya akan didapat secara langsung. Antara online dan offline ini bisa bersinergi. Apalagi sekarang semua serba terhubung. Branding dilakukan secara online, adapun kegiatan offline bisa dipakai untuk kampanye brand atau platform.
Menurut saya, untuk para kreator yang kesusahan menemukan sasaran pembaca seperti: Filmmaker yang ditolak festival tenar, comic creator yang gayanya nggak "webtoonable", musisi yang belum dapat audiens dll. bisa mulai memikirkan untuk mendapatkan platform. Sebuah ekosistem kreatif tak akan jalan tanpa adanya platform yang tertata.
Menemukan (atau membikin) platform ini memang butuh usaha keras. Perlu waktu lama untuk dapat follower, perlu waktu lama untuk dapat penonton dll. Saya dan rekan senior saya pernah ngobrol bahwa setiap karya akan ada pendengarnya sendiri. Ya realitanya emang tak seindah bibirnya Chloe Grace Moretz. Dalam menemukan atau membangun platform yang sesuai itu butuh perjuangan, darah dan doa.
Sangat penting menciptakan platform yang sesuai sama corak karya kita sendiri. Berharap pada industri yang mapan itu tak mudah. Masing-masing orang sudah ada kepentingan yang mapan di sana. Apa lantas dengan modal udah jadi friend di Facebook lantas kita bakal masuk di jaringan mereka? Nggak seenak itu. Mereka membangun ekosistem juga lewat perjalanan yang lama. Nha kita yang "Lha kowe ki sopo" ini kan nggak ikutan sewaktu mereka membangun itu. Tau-tau mereka udah terkenal dan kita baru mulai jadi gurem yang merindukan bulan. Peduli apa para dinosaurus sama gurem? Mereka punya urusan yang lebih prioritas. We are "The dudu sopo-sopo", Cukgaes.
Mari kita urus diri sendiri agar sedikit lebih merdeka. Segeralah bangun ekosistemmu mulai dari mencari atau membangun platform.
Di toko buku saya melihat banyak judul yang tak populer dan ragu apakah orang benar-benar membelinya. Tetapi saya yakin tetap ada, karena itu toko buku tempat orang mencari buku-buku apa saja. Yang laris memang buku populer tapi buku non populer juga bisa ditemukan di toko itu.
Dengan adanya suatu tempat untuk memajang, maka orang tak akan repot-repot blusukan mencari penulis di rumahnya, cukup ke toko buku. Filmmaker juga gak repot-repot bawa flashdisk jualan film dari pintu ke pintu. Mau nonton ya ke bioskop atau streaming di internet secara legal.
Begitulah konsep tentang "lapak dagangan" atau platform.


Suatu ketika saya unggah video main-main saya (yang bikin mie itu) di Facebook. Reaksi orang adem-adem saja. Follower saya cuma 2000an di akun pribadi, yang share cuma satu atau dua orang saja. Lalu saya coba unggah di Page saya, eh jadi viral. Hal yang sama juga kalo saya unggah di Youtube. Di sana sepi, di Page FB rame. Dari sini saya belajar bahwa sebuah konten itu laku bukan cuma karena isinya tapi juga tempat kita menaruhnya.
Di jaman ini tidak bisa seorang kreator menjual langsung karyanya dari pintu ke pintu. Terlalu repot dan makan biaya. Pernahkah anda bayangkan Christopher Nolan bawa harddisk terus nawarin filmnya di depan kost-kostan? Atau Frank Miller naik sepeda dengan sekeranjang komik jualan di depan Taman Wlingi?
Kreator butuh lapak atau kalo bahasa sekarang ini platform. Platform adalah sebuah wadah yang mempertemukan para pencipta dan peminat. Seringkali ciptaan dan minat itu begitu khusus. Sama seperti video main-main saya yang tak diminati follower saya namun disukai follower page saya. Juga di Youtube, karya saya tak diminati namun di page Facebook banyak yang membagikannya. Keramaian atau traffic tiap platform beda-beda.
Berhubung pentingnya platform dalam mengekspose suatu produk atau karya, maka valuenya besar sekali. Ibarat toko atau pasar lokasinya kudu strategis, maka ada ilmu mengelola platform agar trafficnya bagus. Sayang sekali pengelolaan ini butuh alokasi energi dan waktu tersendiri. Seorang kreator tak selalu sempat bisa mengurusi sebuah platform. Maka akan lebih mudah jika ada orang lain yang mengurusi. Seperti para pembuat konten digital hari ini, mereka bergantung pada platform yang sudah mapan semacam Youtube, Vimeo dan lain-lain. Kalau bikin sendiri biayanya jauh lebih besar meskipun akan lebih mandiri. Ini memang kurang menyenangkan bagi para kreator pemula yang karyanya segmented. Karya segmented yang tidak laku di platform umum perlu platform yang lebih khusus.
Bicara sesuai bidang saya, ada dua macam platform untuk filmmaker dan comic creator: ONLINE dan OFFLINE. Platform online bisa menjangkau lebih banyak penonton/pembaca namun cenderung susah untuk bisa mendapat profit secara langsung. Platform tertentu kadang menerapkan "bagi hasil" berupa revenue dari iklan. Contohnya Youtube dengan Google Adsense. Untuk mendapatkan penghasilan dari sini susah sekali. Syaratnya banyak dan tak bersahabat untuk konten yang sifatnya segmented. Kreator musti cari cara lain untuk menguangkan karyanya. Dari platform online, value yang didapat adalah exposure atau branding. Misalnya saya bisa jualan komik setelah komiknya viral di medsos.
Platform offline jangkauannya sempit namun langsung. Film yang diputar di bioskop atau komik yang dijual di toko buku hanya bisa diakses secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di radius tertentu dari lokasi. Namun uangnya akan didapat secara langsung. Antara online dan offline ini bisa bersinergi. Apalagi sekarang semua serba terhubung. Branding dilakukan secara online, adapun kegiatan offline bisa dipakai untuk kampanye brand atau platform.
Menurut saya, untuk para kreator yang kesusahan menemukan sasaran pembaca seperti: Filmmaker yang ditolak festival tenar, comic creator yang gayanya nggak "webtoonable", musisi yang belum dapat audiens dll. bisa mulai memikirkan untuk mendapatkan platform. Sebuah ekosistem kreatif tak akan jalan tanpa adanya platform yang tertata.
Menemukan (atau membikin) platform ini memang butuh usaha keras. Perlu waktu lama untuk dapat follower, perlu waktu lama untuk dapat penonton dll. Saya dan rekan senior saya pernah ngobrol bahwa setiap karya akan ada pendengarnya sendiri. Ya realitanya emang tak seindah bibirnya Chloe Grace Moretz. Dalam menemukan atau membangun platform yang sesuai itu butuh perjuangan, darah dan doa.
Sangat penting menciptakan platform yang sesuai sama corak karya kita sendiri. Berharap pada industri yang mapan itu tak mudah. Masing-masing orang sudah ada kepentingan yang mapan di sana. Apa lantas dengan modal udah jadi friend di Facebook lantas kita bakal masuk di jaringan mereka? Nggak seenak itu. Mereka membangun ekosistem juga lewat perjalanan yang lama. Nha kita yang "Lha kowe ki sopo" ini kan nggak ikutan sewaktu mereka membangun itu. Tau-tau mereka udah terkenal dan kita baru mulai jadi gurem yang merindukan bulan. Peduli apa para dinosaurus sama gurem? Mereka punya urusan yang lebih prioritas. We are "The dudu sopo-sopo", Cukgaes.
Mari kita urus diri sendiri agar sedikit lebih merdeka. Segeralah bangun ekosistemmu mulai dari mencari atau membangun platform.
Baca

CARA SAYA MEMAHAMI SINEMA (LITERASI SINEMA)

Saya sering nulis review film buat bahan update status medsos maupun blog. Kadang juga ada unsur penilaiannya sedikit-sedikit. Tapi menyebut diri sebagai kritikus film terlalu jauh lah buat saya. Terlebih saya memandang film lewat kacamata keterpesonaan. Orang yang terpesona sering abai melihat kelemahan. Dalam menonton film, saya bukan tipe pencari kesalahan. Meski begitu "kesalahan" itu dengan mudah bisa saya temukan karena saya paham cara bikinnya.
Yang jelas dalam memberikan pendapat mengenai film, saya memegang sejumlah bekal, menjalani proses dan memahami beberapa hal mendasar terlebih dahulu. Semua ini saya rumuskan dalam sekian waktu saya belajar film secara mandiri.


Jadi apa saja yang perlu dalam bicara soal film atau memahami film?
Ini langkah-langkah saya selama ini:

PAHAM TEKNIS BIKIN FILM
Ini adalah langkah awal saya memahami film. Paham bagaimana film itu dibuat baik secara lazim maupun tidak lazim. Tapi ini belum cukup berguna untuk menilai film karena ibarat masakan, apapun rahasia dapurnya rasa tetaplah yang utama. Saya tak peduli misalnya film itu ada naskahnya apa tidak, seandainya hasil jadinya bisa ditonton dengan nyaman. Tentu saja sebagian besar film selalu memakai naskah, tapi itu hanyalah persoalan teknis dalam memetakan ide kepada tim produksi.
Ada setidaknya 5 tahap dalam produksi film: Pengembangan, pra produksi, produksi, pasca produksi dan distribusi.

PAHAM NARATIF FILM
Film yang umum dikonsumsi penonton adalah tipe film cerita. Cerita itu rata-rata berpola. Pola paling mudah adalah 3 babak dan alur paling mudah adalah alur maju. Ini cara saya paling dasar dalam memahami cerita film. Lalu saya membiasakan diri untuk menikmati alur yang non linier yakni susunan kronologisnya diacak-acak. Jika kita terbiasa dengan macam-macam cara bercerita lebih mudah bagi kita menilainya.
Ada beberapa film yang mencoba keluar dari pakem-pakem semacam itu. Hasilnya mereka menjadi butuh perhatian lebih. Satu hal yang paling penting disoroti adalah logika cerita. Cerita yang baik tentu tidak melanggar logika kisah di dalamnya. Ini bisa jadi nggak sesederhana ini.

PAHAM SEMIOTIKA DALAM FILM
Film sebagai produk audio visual juga sering menggunakan simbol-simbol. Komunikais tak melulu lewat kata-kata namun juga bisa lewat gesture. Pemahaman kita terhadap simbol-simbol visual juga membantu dalam memahami narasi. Dulu kala ada kecenderungan filmmaker tidak yakin atas gagasan yang ingin dikomunikasikan. Jadi ia menjelaskan semua kejadian lewat dialog. Seperti saat adegan terima telpon.
"Apa, masuk rumah sakit? Apa biayanya mahal?"
Jadi si karakter mengucapkan terang-terangan kejadiannya.
Filmmaker yang bisa mengoptimalkan semiotika, cukup mengoptimalisasi gambarnya. Lewat editing, pergerakan kamera, lewat musik, lewat sudut pengambilan gambar, cahaya dan lain-lain.
Seringkali kita perlu terobosan. Kalau jaman dulu horror dibangun lewat petir, hujan dan angin mungkin saat ini musti menemukan cara baru menggunakan simbol macam itu.
Ada istilah "mise en scene" (baca: misongsin), artinya apa yang terlihat dalam layar. Jika kita paham mulai dari cara mewujudkan apa yang nampak itu dan semiotika apa yang hendak disampaikan maka kita bisa memahami gagasan yang dibawa film secara utuh.

PAHAM GENRE FILM
Genre adalah sekelompok ciri umum yang menandai karakter film tertentu. Misalnya film laga. Di sini pasti pertarungan fisik antara perwakilan kebaikan dan kejahatan mendominasi film. Komedi. Dalam genre komedi pasti kejadian-kejadian yang tak lazim dan memancing rasa tawa mendominasi film. Kesalahan memahami genre berakibat pada kesalahpahaman memahami keumuman ciri itu.
Jangan protes kalau The Raid misalnya berlebihan dalam pertarungan, karena memang itu genre laga. Jika ada perkembangan karakter secara dramatis, maka itu bonus. Juga jangan harap anak yang menderita dalam kisah ibu tiri bakal belajar silat lalu melawan para pembullynya.

MEMPELAJARI GAGASAN DARI FILM-FILM SEJENIS
Mengasup film yang punya kesamaan tematik, alur dan bahkan premis akan memperkaya kita dalam memahami. Kita bisa membandingkan satu sama lain. Saya percaya, pendapat orang yang sudah banyak referensi akan lebih kokoh daripada yang cuma nonton sedikit. Ketika misalnya menonton Avatar dari James Cameron, kita bisa bandingkan kesamaan tematiknya dengan Dance With Wolves. Meski begitu pembandingan juga musti "apple to apple". Setiap sutradara punya pendekatan yang berbeda-beda dan tak selalu bisa dibandingkan dalam paradigma better or worse.
Ketika saya mulai membandingkan, saya mulai mengapresiasi orang-orang di balik layar. Kenapa misalnya film bertema perang garapan seorang sutradara A akan berbeda dengan si B? Dari situ saya mulai mengenali beberapa nama. Bagi saya rasanya tak cukup kalo bicara film tapi tidak mengapresiasi para filmmaker di baliknya. Yang paling mendasar biasanya saya hafal: Sutradara, produser, scriptwriter, aktor utama, music composer, D.O.P dan editor. Namun sering saya cuma batasi tahu sutradara sama aktor saja.
Yang teroenting dari perbandingan ini adalah soal gagasan. Apakah ada gagasan yang baru? Atau apakah gagasan yang lama diceritakan dengan cara baru?
Maka jika sebuah film sekadar mengulang gagasan lama, bagi saya itu tidak cukup memukau meskipun masih bisa menghibur.

PAHAM MASALAH PREFERENSI INDIVIDU
Ada ungkapan "Kita tak bisa bikin semua orang bahagia". Dalam film tentu banyak hal bisa kita suka atau benci namun bukan karena urusan benar dan salah. Saya lebih menyukai film laga ala Asia dibanding Barat bukan karena Asia lebih hebat. Melainkan preferensi visual, koreografi dan atmosfir film laga Asia lebih memukau saya. Dengan paradigma ini, kita mengasup film seperti kopi. Ada yang suka begini, ada yang suka begitu atau malah bukan dua-duanya. Tak ada yang lebih hebat. Jika urusannya preferensi maka apa yang ada di kepala tiap orang akan beda.
Pernah saya baca komentar seseorang yang berkata, "Lu gak usah memuja si sutradara A. Menurut gue dia itu dangkal."
Di sini saya melihat ia belum terdidik dalam literasi, karena masih memaksakan hal-hal yang sifatnya preferensial. Cinta dan benci tentu sah-sah aja. Saya pribadi mencintai karya sutradara tertentu dan emoh sama sutradara tertentu juga. Ada alasan preferensial saya mengenai hal itu. Namun di mata orang lain itu bisa jadi sebuah nilai pukau.
========
Nah, begitulah cara saya memahami sinema. Paham sinema berarti:
1. Paham cara membuatnya
2. Paham gagasan yang dibawanya
3. Kenal siapa-siapa yang terlibat di dalamnya
4. Menonton cukup banyak film untuk bisa membandingkan
5. Mampu memberikan sebuah ulasan mengenai film
Mungkin nomor 5 opsional ya. Hal-hal beginilah yang saya sebut sebagai "melek film" atau istilah kerennya literasi sinema. Pemahaman ini mempengaruhi cara saya menilai, menuliskan review, berdiskusi dan juga ketika saya bikin film sendiri.
Saya sering nulis review film buat bahan update status medsos maupun blog. Kadang juga ada unsur penilaiannya sedikit-sedikit. Tapi menyebut diri sebagai kritikus film terlalu jauh lah buat saya. Terlebih saya memandang film lewat kacamata keterpesonaan. Orang yang terpesona sering abai melihat kelemahan. Dalam menonton film, saya bukan tipe pencari kesalahan. Meski begitu "kesalahan" itu dengan mudah bisa saya temukan karena saya paham cara bikinnya.
Yang jelas dalam memberikan pendapat mengenai film, saya memegang sejumlah bekal, menjalani proses dan memahami beberapa hal mendasar terlebih dahulu. Semua ini saya rumuskan dalam sekian waktu saya belajar film secara mandiri.


Jadi apa saja yang perlu dalam bicara soal film atau memahami film?
Ini langkah-langkah saya selama ini:

PAHAM TEKNIS BIKIN FILM
Ini adalah langkah awal saya memahami film. Paham bagaimana film itu dibuat baik secara lazim maupun tidak lazim. Tapi ini belum cukup berguna untuk menilai film karena ibarat masakan, apapun rahasia dapurnya rasa tetaplah yang utama. Saya tak peduli misalnya film itu ada naskahnya apa tidak, seandainya hasil jadinya bisa ditonton dengan nyaman. Tentu saja sebagian besar film selalu memakai naskah, tapi itu hanyalah persoalan teknis dalam memetakan ide kepada tim produksi.
Ada setidaknya 5 tahap dalam produksi film: Pengembangan, pra produksi, produksi, pasca produksi dan distribusi.

PAHAM NARATIF FILM
Film yang umum dikonsumsi penonton adalah tipe film cerita. Cerita itu rata-rata berpola. Pola paling mudah adalah 3 babak dan alur paling mudah adalah alur maju. Ini cara saya paling dasar dalam memahami cerita film. Lalu saya membiasakan diri untuk menikmati alur yang non linier yakni susunan kronologisnya diacak-acak. Jika kita terbiasa dengan macam-macam cara bercerita lebih mudah bagi kita menilainya.
Ada beberapa film yang mencoba keluar dari pakem-pakem semacam itu. Hasilnya mereka menjadi butuh perhatian lebih. Satu hal yang paling penting disoroti adalah logika cerita. Cerita yang baik tentu tidak melanggar logika kisah di dalamnya. Ini bisa jadi nggak sesederhana ini.

PAHAM SEMIOTIKA DALAM FILM
Film sebagai produk audio visual juga sering menggunakan simbol-simbol. Komunikais tak melulu lewat kata-kata namun juga bisa lewat gesture. Pemahaman kita terhadap simbol-simbol visual juga membantu dalam memahami narasi. Dulu kala ada kecenderungan filmmaker tidak yakin atas gagasan yang ingin dikomunikasikan. Jadi ia menjelaskan semua kejadian lewat dialog. Seperti saat adegan terima telpon.
"Apa, masuk rumah sakit? Apa biayanya mahal?"
Jadi si karakter mengucapkan terang-terangan kejadiannya.
Filmmaker yang bisa mengoptimalkan semiotika, cukup mengoptimalisasi gambarnya. Lewat editing, pergerakan kamera, lewat musik, lewat sudut pengambilan gambar, cahaya dan lain-lain.
Seringkali kita perlu terobosan. Kalau jaman dulu horror dibangun lewat petir, hujan dan angin mungkin saat ini musti menemukan cara baru menggunakan simbol macam itu.
Ada istilah "mise en scene" (baca: misongsin), artinya apa yang terlihat dalam layar. Jika kita paham mulai dari cara mewujudkan apa yang nampak itu dan semiotika apa yang hendak disampaikan maka kita bisa memahami gagasan yang dibawa film secara utuh.

PAHAM GENRE FILM
Genre adalah sekelompok ciri umum yang menandai karakter film tertentu. Misalnya film laga. Di sini pasti pertarungan fisik antara perwakilan kebaikan dan kejahatan mendominasi film. Komedi. Dalam genre komedi pasti kejadian-kejadian yang tak lazim dan memancing rasa tawa mendominasi film. Kesalahan memahami genre berakibat pada kesalahpahaman memahami keumuman ciri itu.
Jangan protes kalau The Raid misalnya berlebihan dalam pertarungan, karena memang itu genre laga. Jika ada perkembangan karakter secara dramatis, maka itu bonus. Juga jangan harap anak yang menderita dalam kisah ibu tiri bakal belajar silat lalu melawan para pembullynya.

MEMPELAJARI GAGASAN DARI FILM-FILM SEJENIS
Mengasup film yang punya kesamaan tematik, alur dan bahkan premis akan memperkaya kita dalam memahami. Kita bisa membandingkan satu sama lain. Saya percaya, pendapat orang yang sudah banyak referensi akan lebih kokoh daripada yang cuma nonton sedikit. Ketika misalnya menonton Avatar dari James Cameron, kita bisa bandingkan kesamaan tematiknya dengan Dance With Wolves. Meski begitu pembandingan juga musti "apple to apple". Setiap sutradara punya pendekatan yang berbeda-beda dan tak selalu bisa dibandingkan dalam paradigma better or worse.
Ketika saya mulai membandingkan, saya mulai mengapresiasi orang-orang di balik layar. Kenapa misalnya film bertema perang garapan seorang sutradara A akan berbeda dengan si B? Dari situ saya mulai mengenali beberapa nama. Bagi saya rasanya tak cukup kalo bicara film tapi tidak mengapresiasi para filmmaker di baliknya. Yang paling mendasar biasanya saya hafal: Sutradara, produser, scriptwriter, aktor utama, music composer, D.O.P dan editor. Namun sering saya cuma batasi tahu sutradara sama aktor saja.
Yang teroenting dari perbandingan ini adalah soal gagasan. Apakah ada gagasan yang baru? Atau apakah gagasan yang lama diceritakan dengan cara baru?
Maka jika sebuah film sekadar mengulang gagasan lama, bagi saya itu tidak cukup memukau meskipun masih bisa menghibur.

PAHAM MASALAH PREFERENSI INDIVIDU
Ada ungkapan "Kita tak bisa bikin semua orang bahagia". Dalam film tentu banyak hal bisa kita suka atau benci namun bukan karena urusan benar dan salah. Saya lebih menyukai film laga ala Asia dibanding Barat bukan karena Asia lebih hebat. Melainkan preferensi visual, koreografi dan atmosfir film laga Asia lebih memukau saya. Dengan paradigma ini, kita mengasup film seperti kopi. Ada yang suka begini, ada yang suka begitu atau malah bukan dua-duanya. Tak ada yang lebih hebat. Jika urusannya preferensi maka apa yang ada di kepala tiap orang akan beda.
Pernah saya baca komentar seseorang yang berkata, "Lu gak usah memuja si sutradara A. Menurut gue dia itu dangkal."
Di sini saya melihat ia belum terdidik dalam literasi, karena masih memaksakan hal-hal yang sifatnya preferensial. Cinta dan benci tentu sah-sah aja. Saya pribadi mencintai karya sutradara tertentu dan emoh sama sutradara tertentu juga. Ada alasan preferensial saya mengenai hal itu. Namun di mata orang lain itu bisa jadi sebuah nilai pukau.
========
Nah, begitulah cara saya memahami sinema. Paham sinema berarti:
1. Paham cara membuatnya
2. Paham gagasan yang dibawanya
3. Kenal siapa-siapa yang terlibat di dalamnya
4. Menonton cukup banyak film untuk bisa membandingkan
5. Mampu memberikan sebuah ulasan mengenai film
Mungkin nomor 5 opsional ya. Hal-hal beginilah yang saya sebut sebagai "melek film" atau istilah kerennya literasi sinema. Pemahaman ini mempengaruhi cara saya menilai, menuliskan review, berdiskusi dan juga ketika saya bikin film sendiri.
Baca

CARA DAPET DUIT DARI BIKIN KOMIK, FILM, ANIMASI DLL.

Saya akan membahas cara nyari duit dari bikin karya. Berdasar pengalaman saya baik yang gagal atau yang agak berhasil. Tulisan ini juga merupakan sebuah revisi dari postingan lama saya yang ini: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/10/hidup-dari-dan-menghidupi-ekosistem.html

Gambar 1: Diagram ekosistem kreatif yang menyeluruh, tapi versi sederhana. Sederhana aja udah ribet ya?

Gambar 2: Diagram yang fokus pada pola distribusi online. Saya nyari duit dari pola yang ini.

Gambar 3: Diagram yang fokus pada pola distribusi offline. Saya masih nyoba dan belum berhasil.

Gambar 4: Diagram yang fokus pada peran komunitas, edukator dll. Saya juga berada di bidang ini yakni sebagai pembina komunitas/klub.

8 ELEMEN DASAR EKOSISTEM (VERSI GUGUN):

1. KREATOR: Siapapun yang berkarya mewujudkan film secara LANGSUNG baik individu maupun kelompok usaha. Jadi bisa production house, klub, komunitas, individu, perseroan terbatas dll.
2. PLATFORM ONLINE: Merupakan wadah atau media pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya ONLINE. Jadi kreator mengunggah karyanya ke platform ini baru nyampe ke audiens. Misalnya Youtube, Facebook, Instagram dll. Platform ini ada yang numpang (Youtube dkk.) ada yang bikin sendiri (kalo punya duit buat bayar programmer).
3. PLATFORM OFFLINE: Wadah pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya OFFLINE. Termasuk di dalamnya TOKO (yang jual karya kreator), BIOSKOP (untuk karya film), ruang putar alternatif, pameran, festival, pemutaran dll. Di sini karya dan audiens berjumpa secara fisik. Antara kreator dan platform ini seringkali ada job perantara yakni DISTRIBUTOR. Indie biasanya distribusi ditangani sendiri.
4. AUDIENS: Mereka yang menjadi target pemasaran karya. Dalam hal ini terutama yang berdaya beli. Meski begitu yang tidak membeli pun punya peran sebagai promotor tak langsung.
Catatan: 4 pihak di atasi adalah elemen dasar ekosistem.
5. PENGIKLAN: Ini untuk yang tipe distribusinya lebih gede. Pengiklan adalah pemilik produk yang butuh eksposure di platform yang kita tempati. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat. Film The Raid dulu iklannya minyak goreng.
6. PENDANA/INVESTOR: Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya. Keuntungan (lebih pasnya saya sebut VALUE) bisa berupa prestige dan material (modal kembali).
7. PENDIDIK, PEMBELAJAR DAN PENGAMAT: Saya belum nemu istilah yang pas. Ini istilah saya untuk para non kreator yang lebih berperan dalam pendidikan, pengulasan, dan pembelajaran kreatif. Posisi nomor 7 ini penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten.
8. PITCHING FORUM: Adalah forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator. Forum ini tidak memberikan dana melainkan memberikan kesempatan para kreator dan pendana untuk mewujudkan konten.

GIMANA CARA DAPET DUITNYA?

DISTRIBUSI ONLINE:
Perhatikan bagian yang berwarna hijau. Itu adalah jalur di mana ada potensi uang. Ya tergantung kalo laku ya. Platform kayak Youtube dan Facebook saat ini ada revenue bagi postingan yang eligible. Saya belum pernah dapet duit dari cara ini. Saya dapet duitnya adalah dengan jualan barang yang relate sama konten postingan kita. Contohnya komik-komik di Javora Studio, beberapa dijual dalam versi cetak.

Dijual via pre oder

Apakah selalu laku? Ya enggak, Bro. Macam dagang di pasar gitu, ada yang beli ada yang enggak.
Untuk distribusi online yang paling susah adalah ngumpulin jumlah exposure konten kita yang terwujud dalam LIKES, FOLLOW dan SUBSCRIBE. Asumsi kita, katakanlah dari 100 orang follower maka kira-kira berapa kah yang berdaya beli. Kalo pengalaman saya dari 1000 follower rata-rata 10 orang yang bakal beli beneran hehehe. Edyan to.
Ingat tak semua follower berdaya beli atau mau beli. Jadi pinter-pinter kita aja bikin konten yang bisa dirupabendakan jadi barang jualan.

DISTRIBUSI OFFLINE:
Ini tipe jualan yang lebih langsung. Tapi ya kudu lewat platform dulu. Karena baik online maupun offline biasanya susah untuk jual langsung. Kreator indie dapet duit dari selain ticketing (jika karyanya berupa tontonan) juga merchandising. Kaos adalah yang paling sering dijual.
Cara distribusi ini susah berhasil kalo belum terkenal atau dipromosikan oleh yang udah terkenal duluan. Saya belum berhasil menjalani pola distribusi ini maybe because I'm "dudusoposopo". But I'll keep trying...bodo amat.

PERAN KOMUNITAS/KLUB DLL.
Kebetulan saya juga ngurusin dua klub film sekolah serta pernah jadi koordinator komunitas film lokal. Komunitas kami lumayan terekspose setelah masuk festival.
Basically susah bisa dapat duit dari komunitas, kecuali kalo berbentuk badan legal. Komunitas saya non legal. Duit bisa berupa bantuan dari lembaga pemerintah, bisa juga dari bagi hasil menang lomba. Untuk bisnis ini bukan hal yang cocok.
Peran komunitas adalah lebih ke media edukasi. Sasaran edukasi tak cuma anggota namun bisa juga masyarakat luas yakni dengan menyelenggarakan acara pameran, konser dan pemutaran.
Value atau untung yang didapat kreator adalah EXPOSURE atas konten. Ini bisa bersifat promosional. Namun bisa juga berupa kritik pedas. Komunitas lebih ke bidang peningkatan literasi. Kreator bisa mendapatkan inspirasi dan masukan dari sini. Duit? Jangan mikir itu dulu.

TENTANG SEKOLAH SENI
Biar diagramnya nggak ribet, sekolah seni dan variannya termasuk kursus dan workshop saya masukin juga ke golongan nomor 7 ini. Perannya adalah menyediakan pasokan pekerja yang butuh skill. Berlaku untuk kreator yang udah masuk industri skala besar. Kalo indie sih biasanya ya ditangani sendiri, anggota komunitas dididik lalu diajak kolaborasi dan melengkapi kebutuhan tim atau kru.
Sekolah punya peran lebih terstruktur dalam mendidik para pelaku industri kreatif. Saya nggak sekolah jadi gak bisa kasih ulasan banyak. Bisa dikata I created my own school. Komunitas dan klub seringkali berfungsi sebagai kelas.
Sekolah ini dapet duit ya dari iuran muridnya. Kalo saya dapet uang transport dari sekolah yang ada ekskul filmnya. Alih-alih jadi sumber duit, sekolah fungsinya lebih ke bakti sosial. Don't hope more than that. Kalo mau dapet duit sedikit lebih banyak ya bikin workshop. Syaratnya anda musti udah dikenal atau punya kompetensi. Saya kadang diundang ngasih workshop di institusi lokal.

Ngasih workshop
Begitulah hasil belajar saya sejauh ini. Maaf kalo judulnya click bait. Hai pembaca dewasa or adult, boleh follow Javora Studio, awas itu kontennya banyak yang NSFW tapi bukan murni porno... hanya nyrempet seperlunya.
Saya akan membahas cara nyari duit dari bikin karya. Berdasar pengalaman saya baik yang gagal atau yang agak berhasil. Tulisan ini juga merupakan sebuah revisi dari postingan lama saya yang ini: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/10/hidup-dari-dan-menghidupi-ekosistem.html

Gambar 1: Diagram ekosistem kreatif yang menyeluruh, tapi versi sederhana. Sederhana aja udah ribet ya?

Gambar 2: Diagram yang fokus pada pola distribusi online. Saya nyari duit dari pola yang ini.

Gambar 3: Diagram yang fokus pada pola distribusi offline. Saya masih nyoba dan belum berhasil.

Gambar 4: Diagram yang fokus pada peran komunitas, edukator dll. Saya juga berada di bidang ini yakni sebagai pembina komunitas/klub.

8 ELEMEN DASAR EKOSISTEM (VERSI GUGUN):

1. KREATOR: Siapapun yang berkarya mewujudkan film secara LANGSUNG baik individu maupun kelompok usaha. Jadi bisa production house, klub, komunitas, individu, perseroan terbatas dll.
2. PLATFORM ONLINE: Merupakan wadah atau media pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya ONLINE. Jadi kreator mengunggah karyanya ke platform ini baru nyampe ke audiens. Misalnya Youtube, Facebook, Instagram dll. Platform ini ada yang numpang (Youtube dkk.) ada yang bikin sendiri (kalo punya duit buat bayar programmer).
3. PLATFORM OFFLINE: Wadah pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya OFFLINE. Termasuk di dalamnya TOKO (yang jual karya kreator), BIOSKOP (untuk karya film), ruang putar alternatif, pameran, festival, pemutaran dll. Di sini karya dan audiens berjumpa secara fisik. Antara kreator dan platform ini seringkali ada job perantara yakni DISTRIBUTOR. Indie biasanya distribusi ditangani sendiri.
4. AUDIENS: Mereka yang menjadi target pemasaran karya. Dalam hal ini terutama yang berdaya beli. Meski begitu yang tidak membeli pun punya peran sebagai promotor tak langsung.
Catatan: 4 pihak di atasi adalah elemen dasar ekosistem.
5. PENGIKLAN: Ini untuk yang tipe distribusinya lebih gede. Pengiklan adalah pemilik produk yang butuh eksposure di platform yang kita tempati. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat. Film The Raid dulu iklannya minyak goreng.
6. PENDANA/INVESTOR: Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya. Keuntungan (lebih pasnya saya sebut VALUE) bisa berupa prestige dan material (modal kembali).
7. PENDIDIK, PEMBELAJAR DAN PENGAMAT: Saya belum nemu istilah yang pas. Ini istilah saya untuk para non kreator yang lebih berperan dalam pendidikan, pengulasan, dan pembelajaran kreatif. Posisi nomor 7 ini penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten.
8. PITCHING FORUM: Adalah forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator. Forum ini tidak memberikan dana melainkan memberikan kesempatan para kreator dan pendana untuk mewujudkan konten.

GIMANA CARA DAPET DUITNYA?

DISTRIBUSI ONLINE:
Perhatikan bagian yang berwarna hijau. Itu adalah jalur di mana ada potensi uang. Ya tergantung kalo laku ya. Platform kayak Youtube dan Facebook saat ini ada revenue bagi postingan yang eligible. Saya belum pernah dapet duit dari cara ini. Saya dapet duitnya adalah dengan jualan barang yang relate sama konten postingan kita. Contohnya komik-komik di Javora Studio, beberapa dijual dalam versi cetak.

Dijual via pre oder

Apakah selalu laku? Ya enggak, Bro. Macam dagang di pasar gitu, ada yang beli ada yang enggak.
Untuk distribusi online yang paling susah adalah ngumpulin jumlah exposure konten kita yang terwujud dalam LIKES, FOLLOW dan SUBSCRIBE. Asumsi kita, katakanlah dari 100 orang follower maka kira-kira berapa kah yang berdaya beli. Kalo pengalaman saya dari 1000 follower rata-rata 10 orang yang bakal beli beneran hehehe. Edyan to.
Ingat tak semua follower berdaya beli atau mau beli. Jadi pinter-pinter kita aja bikin konten yang bisa dirupabendakan jadi barang jualan.

DISTRIBUSI OFFLINE:
Ini tipe jualan yang lebih langsung. Tapi ya kudu lewat platform dulu. Karena baik online maupun offline biasanya susah untuk jual langsung. Kreator indie dapet duit dari selain ticketing (jika karyanya berupa tontonan) juga merchandising. Kaos adalah yang paling sering dijual.
Cara distribusi ini susah berhasil kalo belum terkenal atau dipromosikan oleh yang udah terkenal duluan. Saya belum berhasil menjalani pola distribusi ini maybe because I'm "dudusoposopo". But I'll keep trying...bodo amat.

PERAN KOMUNITAS/KLUB DLL.
Kebetulan saya juga ngurusin dua klub film sekolah serta pernah jadi koordinator komunitas film lokal. Komunitas kami lumayan terekspose setelah masuk festival.
Basically susah bisa dapat duit dari komunitas, kecuali kalo berbentuk badan legal. Komunitas saya non legal. Duit bisa berupa bantuan dari lembaga pemerintah, bisa juga dari bagi hasil menang lomba. Untuk bisnis ini bukan hal yang cocok.
Peran komunitas adalah lebih ke media edukasi. Sasaran edukasi tak cuma anggota namun bisa juga masyarakat luas yakni dengan menyelenggarakan acara pameran, konser dan pemutaran.
Value atau untung yang didapat kreator adalah EXPOSURE atas konten. Ini bisa bersifat promosional. Namun bisa juga berupa kritik pedas. Komunitas lebih ke bidang peningkatan literasi. Kreator bisa mendapatkan inspirasi dan masukan dari sini. Duit? Jangan mikir itu dulu.

TENTANG SEKOLAH SENI
Biar diagramnya nggak ribet, sekolah seni dan variannya termasuk kursus dan workshop saya masukin juga ke golongan nomor 7 ini. Perannya adalah menyediakan pasokan pekerja yang butuh skill. Berlaku untuk kreator yang udah masuk industri skala besar. Kalo indie sih biasanya ya ditangani sendiri, anggota komunitas dididik lalu diajak kolaborasi dan melengkapi kebutuhan tim atau kru.
Sekolah punya peran lebih terstruktur dalam mendidik para pelaku industri kreatif. Saya nggak sekolah jadi gak bisa kasih ulasan banyak. Bisa dikata I created my own school. Komunitas dan klub seringkali berfungsi sebagai kelas.
Sekolah ini dapet duit ya dari iuran muridnya. Kalo saya dapet uang transport dari sekolah yang ada ekskul filmnya. Alih-alih jadi sumber duit, sekolah fungsinya lebih ke bakti sosial. Don't hope more than that. Kalo mau dapet duit sedikit lebih banyak ya bikin workshop. Syaratnya anda musti udah dikenal atau punya kompetensi. Saya kadang diundang ngasih workshop di institusi lokal.

Ngasih workshop
Begitulah hasil belajar saya sejauh ini. Maaf kalo judulnya click bait. Hai pembaca dewasa or adult, boleh follow Javora Studio, awas itu kontennya banyak yang NSFW tapi bukan murni porno... hanya nyrempet seperlunya.
Baca

HIDUP DARI DAN MENGHIDUPI EKOSISTEM KREATIF

Oleh Gugun Javora Studio

Tulisan ini berdasarkan proses "trial and error" dalam menjual, memasarkan dan mendistribusikan karya saya. Mungkin nggak cocok ama teori akademik manapun lha wong emang saya nggak sekolah. Namun ini berdasar apa yang berfungsi pada saya.

MEMAHAMI EKOSISTEM

Mirip seperti alam biologis, industri kreatif itu terdiri dari banyak pelaku dan elemen yang semua harus saling menyokong dan menghidupi. Satu bagian mati yang lain akan terancam. Dari percobaan kecil saya, setidaknya teramati ada beberapa elemen dalam ekosistem yang saya maksud:

1. Kreator (siapapun yang berkarya baik individu maupun kelompok usaha)
2. Platform (saya sebut arena pertemuan karya dengan audiens. Ada yang online, ada yang offline. Termasuk di dalamnya pameran, festival, pemutaran dll.)
3. Audiens atau pembaca (mereka yang mengasup karya kita, terutama yang berdaya beli)

Tiga pihak ini adalah elemen dasar ekosistem. Selanjutnya...

4. Pengiklan (pemilik produk yang butuh eksposure di platform. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat)
5. Pendana (atau investor. Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya)
6. Pengamat dan pembelajar (ini istilah saya untuk para non praktisi yang berperan penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten)
7. Pitching forum (forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator)


Bagaimana masing-masing elemen ini berinteraksi dalam kegiatan saling menyokong dan menghidupi saya gambarkan dalam infografis. Di sini ada 3 "pengaliran" yang saya pandang sangat penting:

1. Distribusi produk (warna pink)
2. Distribusi value (warna biru)
3. Distribusi uang (warna hijau)

Anggap saja 3 hal "pengaliran" ini semacam darah dan oksigen. Semua harus lancar agar sustainable.
Setelah memahami ini tinggal kita putuskan peran kita apa. Dalam hal ini saya menjalani peran sebagai kreator. Platform saya saat ini adalah media sosial (Facebook). Konten yang saya bikin adalah komik, animasi dan film. Produk yang saya jual saat ini baru komik cetak.

MEMAHAMI WATAK DISTRIBUSI ONLINE

Pertama-tama kita musti memahami value dari exposure. Exposure adalah tingkatan kepedulian audiens pada karya kita. Semakin gede exposure maka akan makin mudah mendistribusikan karya dan pada ujungnya membantu menemukan para pembeli. Saya bisa berjualan komik cetak setelah dapat exposure gede untuk konten saya di media sosial. Dengan catatan konten yang dibikin bisa dibuat versi produknya. Contohnya saya memviralkan komik strip 2 panel, kemudian menjual komik cetak 200an halaman berdasar 2 panel yang viral itu.

Saya menemukan bahwa exposure konten kita akan meningkat jika kita:

1. Bikin karya viral
2. Punya branding yang mengingatkan audiens ke yang kita viralkan itu
3. Terus menjalin interaksi dengan audiens

Nah, dengan cara ini kita bisa mengukur kapan kira-kira konten tadi dikonversi jadi produk yang bisa dijual.
Selama proses testing audiens, saya juga menemukan fakta bahwa:

1. Karya bagus tak akan optimal exposurenya jika tidak ditaruh di platform yang exposurenya juga bagus. Contohnya saya posting konten di akun pribadi ternyata tak banyak yang respons. Namun begitu saya posting di page yang followernya banyak, langsung jadi viral.
2. Karya biasa akan lebih dapat exposure jika diposting di media yang followernya banyak (asalkan generik) atau jika dishare oleh "seleb medsos".
3. Konten dengan isu kekinian, kontroversial, NSFW dan related sama audiens akan lebih mudah disukai.

Jadi kata kuncinya adalah "viral". Distribusi akan jauh lebih mudah jika kita berhasil viral.

TARGETING PEMBELI

Setelah viral, langkah selanjutnya adalah mulai targeting. dari top fans, mana kah yang kira-kira berdaya beli dan berniat beli. Dengan mereka kita jalin interaksi intens. Adapun para penggemar lainnya bukan berarti tak berguna meski tidak beli produk kita. Selama mereka mendapat value dari konten kita, mereka akan terus memperluas exposure kita. Jadi tumbuhkan respect sama audiens baik yang membeli maupun tidak.

DARI KONTEN NON FISIK KE PRODUK YANG BISA DIJUAL

Konten yang saya maksud adalah lebih ke yang diunggah secara digital. Konten ini biasanya kita berikan gratis buat para pembaca. Jika exposurenya tinggi (minimal 1K share) maka kita bisa pertimbangkan untuk mengkonversinya sebagai produk. Dalam hal ini diperlukan ketrampilan storytelling. Ada dua macam konversi:

1. Langsung: Produk berdasarkan tema dari konten
2. Tak langsung: Produk tidak berdasarkan tema dari konten

Yang langsung sudah jelas. Yang tidak langsung ini maksudnya kita menggunakan exposure atas branding kita untuk berjualan. Sederhananya, misalnya kita bikin video viral. Jangan lupa kasih branding kita. Nah, dengan brand yang sudah dikenal kita berjualan memakai reputasi tadi. Dalam hal ini pengalaman berjualan online sangat diperlukan.

MERAWAT EKOSISTEM

Tidak selalu anda musti berjualan. Orang akan jenuh ditawari jika tak butuh. Sering-sering juga kita bikin konten yang memang murni menghibur. Tujuannya menciptakan "engagement" yang lebih langgeng. Saya hitungannya termasuk jarang berjualan. Yang saya lakukan adalah terus membangun ikatan dengan audiens. Semoga mereka menyukai, mencintai dan merestui karya-karya saya. Dalam industri kreatif, dalam pandangan saya, uang bukan segalanya. Ada kebahagiaan, pemenuhan diri dan interaksi sosial dan psikologis.

Kadang saya juga berperan sebagai edukator, reviewer, kritikus (amatiran tapi ya) untuk menjaga apresiasi pada karya tetap menyala. Exposure pada dunia konten itu harus tetap dipupuk. Bisa lewat diskusi, nulis artikel di medsos, saling promosi karya dll. Tak ada ruginya anda mempromosikan karya teman. Jangan melihatnya sebagai kompetitor melainkan sebagai pelengkap ekosistem.
Oleh Gugun Javora Studio

Tulisan ini berdasarkan proses "trial and error" dalam menjual, memasarkan dan mendistribusikan karya saya. Mungkin nggak cocok ama teori akademik manapun lha wong emang saya nggak sekolah. Namun ini berdasar apa yang berfungsi pada saya.

MEMAHAMI EKOSISTEM

Mirip seperti alam biologis, industri kreatif itu terdiri dari banyak pelaku dan elemen yang semua harus saling menyokong dan menghidupi. Satu bagian mati yang lain akan terancam. Dari percobaan kecil saya, setidaknya teramati ada beberapa elemen dalam ekosistem yang saya maksud:

1. Kreator (siapapun yang berkarya baik individu maupun kelompok usaha)
2. Platform (saya sebut arena pertemuan karya dengan audiens. Ada yang online, ada yang offline. Termasuk di dalamnya pameran, festival, pemutaran dll.)
3. Audiens atau pembaca (mereka yang mengasup karya kita, terutama yang berdaya beli)

Tiga pihak ini adalah elemen dasar ekosistem. Selanjutnya...

4. Pengiklan (pemilik produk yang butuh eksposure di platform. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat)
5. Pendana (atau investor. Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya)
6. Pengamat dan pembelajar (ini istilah saya untuk para non praktisi yang berperan penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten)
7. Pitching forum (forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator)


Bagaimana masing-masing elemen ini berinteraksi dalam kegiatan saling menyokong dan menghidupi saya gambarkan dalam infografis. Di sini ada 3 "pengaliran" yang saya pandang sangat penting:

1. Distribusi produk (warna pink)
2. Distribusi value (warna biru)
3. Distribusi uang (warna hijau)

Anggap saja 3 hal "pengaliran" ini semacam darah dan oksigen. Semua harus lancar agar sustainable.
Setelah memahami ini tinggal kita putuskan peran kita apa. Dalam hal ini saya menjalani peran sebagai kreator. Platform saya saat ini adalah media sosial (Facebook). Konten yang saya bikin adalah komik, animasi dan film. Produk yang saya jual saat ini baru komik cetak.

MEMAHAMI WATAK DISTRIBUSI ONLINE

Pertama-tama kita musti memahami value dari exposure. Exposure adalah tingkatan kepedulian audiens pada karya kita. Semakin gede exposure maka akan makin mudah mendistribusikan karya dan pada ujungnya membantu menemukan para pembeli. Saya bisa berjualan komik cetak setelah dapat exposure gede untuk konten saya di media sosial. Dengan catatan konten yang dibikin bisa dibuat versi produknya. Contohnya saya memviralkan komik strip 2 panel, kemudian menjual komik cetak 200an halaman berdasar 2 panel yang viral itu.

Saya menemukan bahwa exposure konten kita akan meningkat jika kita:

1. Bikin karya viral
2. Punya branding yang mengingatkan audiens ke yang kita viralkan itu
3. Terus menjalin interaksi dengan audiens

Nah, dengan cara ini kita bisa mengukur kapan kira-kira konten tadi dikonversi jadi produk yang bisa dijual.
Selama proses testing audiens, saya juga menemukan fakta bahwa:

1. Karya bagus tak akan optimal exposurenya jika tidak ditaruh di platform yang exposurenya juga bagus. Contohnya saya posting konten di akun pribadi ternyata tak banyak yang respons. Namun begitu saya posting di page yang followernya banyak, langsung jadi viral.
2. Karya biasa akan lebih dapat exposure jika diposting di media yang followernya banyak (asalkan generik) atau jika dishare oleh "seleb medsos".
3. Konten dengan isu kekinian, kontroversial, NSFW dan related sama audiens akan lebih mudah disukai.

Jadi kata kuncinya adalah "viral". Distribusi akan jauh lebih mudah jika kita berhasil viral.

TARGETING PEMBELI

Setelah viral, langkah selanjutnya adalah mulai targeting. dari top fans, mana kah yang kira-kira berdaya beli dan berniat beli. Dengan mereka kita jalin interaksi intens. Adapun para penggemar lainnya bukan berarti tak berguna meski tidak beli produk kita. Selama mereka mendapat value dari konten kita, mereka akan terus memperluas exposure kita. Jadi tumbuhkan respect sama audiens baik yang membeli maupun tidak.

DARI KONTEN NON FISIK KE PRODUK YANG BISA DIJUAL

Konten yang saya maksud adalah lebih ke yang diunggah secara digital. Konten ini biasanya kita berikan gratis buat para pembaca. Jika exposurenya tinggi (minimal 1K share) maka kita bisa pertimbangkan untuk mengkonversinya sebagai produk. Dalam hal ini diperlukan ketrampilan storytelling. Ada dua macam konversi:

1. Langsung: Produk berdasarkan tema dari konten
2. Tak langsung: Produk tidak berdasarkan tema dari konten

Yang langsung sudah jelas. Yang tidak langsung ini maksudnya kita menggunakan exposure atas branding kita untuk berjualan. Sederhananya, misalnya kita bikin video viral. Jangan lupa kasih branding kita. Nah, dengan brand yang sudah dikenal kita berjualan memakai reputasi tadi. Dalam hal ini pengalaman berjualan online sangat diperlukan.

MERAWAT EKOSISTEM

Tidak selalu anda musti berjualan. Orang akan jenuh ditawari jika tak butuh. Sering-sering juga kita bikin konten yang memang murni menghibur. Tujuannya menciptakan "engagement" yang lebih langgeng. Saya hitungannya termasuk jarang berjualan. Yang saya lakukan adalah terus membangun ikatan dengan audiens. Semoga mereka menyukai, mencintai dan merestui karya-karya saya. Dalam industri kreatif, dalam pandangan saya, uang bukan segalanya. Ada kebahagiaan, pemenuhan diri dan interaksi sosial dan psikologis.

Kadang saya juga berperan sebagai edukator, reviewer, kritikus (amatiran tapi ya) untuk menjaga apresiasi pada karya tetap menyala. Exposure pada dunia konten itu harus tetap dipupuk. Bisa lewat diskusi, nulis artikel di medsos, saling promosi karya dll. Tak ada ruginya anda mempromosikan karya teman. Jangan melihatnya sebagai kompetitor melainkan sebagai pelengkap ekosistem.
Baca

REVIEW GUNDALA (Joko Anwar, 2019)

Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA