Yang Terbaru

Masalah Yang Dihadapi Filmmaker Laga Indie di Indonesia

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Baca

Mengapa Film G30S/PKI Penting Bagi Saya?

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Baca

TENTANG LUC BESSON

Luc Besson adalah sutradara Perancis yang mengawali kegemaran saya terhadap film-film non Hollywood. Kalo nggak salah inget, inilah awal saya menggemari film-film Perancis dan Eropa setelah saya bosan dengan Hollywood. Ketika pergi ke rental film (favorit saya Sketsa Sinemadeus di Jogja dulu), saya mikirnya nyari film bagus yang nggak berbahasa Inggris.

Style Luc Besson itu sebenarnya "Hollywood" banget. Cinéma du look, istilah para kritikus film Perancis kala itu. Cinéma du look itu mentingin gaya daripada isi. Ya mungkin film Eropa kala itu "nyeni" atau avant garde sedangkan Luc Besson bikin film yang stylish dan mudah dicerna. Makanya dibilang ia itu "Ngoliwud".

Luc adalah sutradara Perancis yang paling sering bikin film berbahasa Inggris (setau saya). Film-film lawasnya menarik bagi saya: Kekelaman, kekerasan dan ironi. Makin ke sini filmnya semakin berwarna. Nggak suram lagi. Saya kurang menyukai karya-karya dia yang semakin ke sini (sejak era Arthur & The Minimoys). Film Luc sedikit banyak telah mempengaruhi saya. Saat itu saya belum "kenal" Quentin Tarantino. Hanya ada 3 karya terbaik dari Luc Besson yang terus bergaung di diri saya hingga kini: LEON, NIKITA dan SUBWAY.



LEON
Dibintangi Jean Reno. Kisahnya tentang pembunuh bayaran yang bersahabat dengan gadis belia bernama Mathilda. Mathilda diperankan oleh Natalie Portman dengan sangat mengesankan. Di film ini saya pertamakali kagum pada Gary Oldman. Leon adalah pembunuh bayaran yang ngekos di sebuah apartemen. Dia memelihara sebuah tanaman semacam "beras kutah"...nggak ngerti saya nama tanaman ini. Di kampung namanya gitu. Leon berkenalan dengan Mathilda...dan tentunya masalah di belakangnya yang kemudian berujung pada baku tembak antara dirinya versus para polisi korup yang dipimpin Gary Oldman. LEON sangat keren bagi saya. Mungkin ini pula yang bikin saya demen film noir.

NIKITA
Nikita adalah seorang femme fatale (pembunuh bayaran cewek). Tak banyak yang bisa saya ingat dengan film ini selain ada aktor Tcheky Karyo sebagai antagonis. Tapi pengaruh film ini bahkan sampai sekarang...saya suka bikin karakter cewek yang jago membunuh.

SUBWAY
Film yang dibintangi Christopher Lambert dan Isabella Adjani ini tidak sekeren atau se-stylish LEON dan NIKITA. Tapi film ini paling besar pengaruhnya bagi saya. Sejak nonton inilah saya memikirkan soal film action yang "punya hati". Saat itu saya belum menemukan film action yang punya bobot sinematik, cerita dan karakter. Jaman segitu film action kebanyakan jual keseruan. Sampai sekarang pun jarang bisa nemu film action yang kuat di segala aspek: cinematography, story, characters dan tentu saja action itu sendiri. Saat itu saya bergumam pada diri saya...kalo kelakon bisa bikin film, saya mau film saya hidup, bercerita dan laganya tetep seru. Subway kayaknya bukan film action sih...tapi dari film inilah saya merumuskan visi film saya.

Lalu masuklah era Youtube. Banyak yang bikin film action indie. Kalo saya amati, kebanyakan nggak digarap "serius". Paling-paling jual berantemnya doang. Kalo nonton gini sering banget saya skip. Lihat yang gelutnya doang. Terngiang oleh film-film lawas Luc Besson, saya mau yang lebih. Saya mau ada cerita. Cerita yang serius pula ya...bukan drama-drama yang dipaksakan.

Emang The Raid adalah pemicu yang luar biasa. Setelahnya orang-orang pada "demam kekerasan" pada film laga...eh ya namanya film laga kalo nggak keras gimana ya? Haha tapi saya masih belum menemukan film laga yang kuat pada cerita dan penceritaan (storytelling). Meski The Raid statusnya udah "cult" tapi formula ini nggak bisa diulang. Ia akan menjadi satu-satunya film "tanpa cerita yang kuat" yang akan terlihat keren ditonton sampai kapanpun.

Trus, karya Luc Besson yang baru-baru apa yang favorit?

Sudah lumayan sukar bagi saya menyukai karya Luc Besson yang baru. Tapi kalo memilih, saya suka Les Aventures extraordinaires d'Adèle Blanc-Sec.
Luc Besson adalah sutradara Perancis yang mengawali kegemaran saya terhadap film-film non Hollywood. Kalo nggak salah inget, inilah awal saya menggemari film-film Perancis dan Eropa setelah saya bosan dengan Hollywood. Ketika pergi ke rental film (favorit saya Sketsa Sinemadeus di Jogja dulu), saya mikirnya nyari film bagus yang nggak berbahasa Inggris.

Style Luc Besson itu sebenarnya "Hollywood" banget. Cinéma du look, istilah para kritikus film Perancis kala itu. Cinéma du look itu mentingin gaya daripada isi. Ya mungkin film Eropa kala itu "nyeni" atau avant garde sedangkan Luc Besson bikin film yang stylish dan mudah dicerna. Makanya dibilang ia itu "Ngoliwud".

Luc adalah sutradara Perancis yang paling sering bikin film berbahasa Inggris (setau saya). Film-film lawasnya menarik bagi saya: Kekelaman, kekerasan dan ironi. Makin ke sini filmnya semakin berwarna. Nggak suram lagi. Saya kurang menyukai karya-karya dia yang semakin ke sini (sejak era Arthur & The Minimoys). Film Luc sedikit banyak telah mempengaruhi saya. Saat itu saya belum "kenal" Quentin Tarantino. Hanya ada 3 karya terbaik dari Luc Besson yang terus bergaung di diri saya hingga kini: LEON, NIKITA dan SUBWAY.



LEON
Dibintangi Jean Reno. Kisahnya tentang pembunuh bayaran yang bersahabat dengan gadis belia bernama Mathilda. Mathilda diperankan oleh Natalie Portman dengan sangat mengesankan. Di film ini saya pertamakali kagum pada Gary Oldman. Leon adalah pembunuh bayaran yang ngekos di sebuah apartemen. Dia memelihara sebuah tanaman semacam "beras kutah"...nggak ngerti saya nama tanaman ini. Di kampung namanya gitu. Leon berkenalan dengan Mathilda...dan tentunya masalah di belakangnya yang kemudian berujung pada baku tembak antara dirinya versus para polisi korup yang dipimpin Gary Oldman. LEON sangat keren bagi saya. Mungkin ini pula yang bikin saya demen film noir.

NIKITA
Nikita adalah seorang femme fatale (pembunuh bayaran cewek). Tak banyak yang bisa saya ingat dengan film ini selain ada aktor Tcheky Karyo sebagai antagonis. Tapi pengaruh film ini bahkan sampai sekarang...saya suka bikin karakter cewek yang jago membunuh.

SUBWAY
Film yang dibintangi Christopher Lambert dan Isabella Adjani ini tidak sekeren atau se-stylish LEON dan NIKITA. Tapi film ini paling besar pengaruhnya bagi saya. Sejak nonton inilah saya memikirkan soal film action yang "punya hati". Saat itu saya belum menemukan film action yang punya bobot sinematik, cerita dan karakter. Jaman segitu film action kebanyakan jual keseruan. Sampai sekarang pun jarang bisa nemu film action yang kuat di segala aspek: cinematography, story, characters dan tentu saja action itu sendiri. Saat itu saya bergumam pada diri saya...kalo kelakon bisa bikin film, saya mau film saya hidup, bercerita dan laganya tetep seru. Subway kayaknya bukan film action sih...tapi dari film inilah saya merumuskan visi film saya.

Lalu masuklah era Youtube. Banyak yang bikin film action indie. Kalo saya amati, kebanyakan nggak digarap "serius". Paling-paling jual berantemnya doang. Kalo nonton gini sering banget saya skip. Lihat yang gelutnya doang. Terngiang oleh film-film lawas Luc Besson, saya mau yang lebih. Saya mau ada cerita. Cerita yang serius pula ya...bukan drama-drama yang dipaksakan.

Emang The Raid adalah pemicu yang luar biasa. Setelahnya orang-orang pada "demam kekerasan" pada film laga...eh ya namanya film laga kalo nggak keras gimana ya? Haha tapi saya masih belum menemukan film laga yang kuat pada cerita dan penceritaan (storytelling). Meski The Raid statusnya udah "cult" tapi formula ini nggak bisa diulang. Ia akan menjadi satu-satunya film "tanpa cerita yang kuat" yang akan terlihat keren ditonton sampai kapanpun.

Trus, karya Luc Besson yang baru-baru apa yang favorit?

Sudah lumayan sukar bagi saya menyukai karya Luc Besson yang baru. Tapi kalo memilih, saya suka Les Aventures extraordinaires d'Adèle Blanc-Sec.
Baca

TENTANG QUENTIN TARANTINO

Saya akan ngobrolin soal Quentin Tarantino, salah satu filmmaker terhebat versi saya.

Nonton film-film Tarantino itu kayak makan semacam sandwich. Tapi sandwich ini urutan lapisannya nggak biasa. Cara makannya pun nggak langsung utuh "mak-lheb" tapi musti di-emplok per lapisan. Sepertiga bagian awal isinya cuman roti tawar. Makin ke tengah berasalah keju, salad dan aroma dagingnya. Masih aromanya doang...Dagingnya sendiri nyempil di bagian sepertiga terakhir. Dan ini bukan daging biasa... so tasty, rasa dan aromanya sama kuatnya. Setelah itu apakah dagingnya abis? oooh enggak. Setelah itu akan terasa cipratan saos yang pedas dan kaya rempah-rempah. Awal-awal nonton Tarantino tu emang bikin nguantuk polll. Tapi begitu nyampe bagian "daging"...langsung melek. Nonton Tarantino nggak bisa jatuh hati pada pandangan pertama. Saya perlu 5 taunan lebih untuk bisa suka.


Karya pertama Tarantino yang saya tonton adalah Kill Bill. Lalu Pulp Fiction. Kill Bill lumayanlah tapi film apaan nehhh?.... Pulp Fiction film ora nggenah. Namun semua terbalikkan ketika saya nonton Inglourious Basterds. Sandwich-nya Inglouriois Basterds ini beda. Semuanya daging. Berikutnya, saya jadi lebih sabar nonton Tarantino. Apa sih yang bikin jatuh hati pada film-film Quentin Tarantino?

1. DIALOG. Dialog-dialog dalam film Tarantino cerdas, unik dan khas. Seringkali terasa menggelikan.

"What is cheersleader movie?"
"A movie about cheersleader."

Entah kenapa dialog ini sering nempel di kepala saya dan terasa menggelikan. Dialog dalam film Tarantino seringkali berpanjang-panjang. Awalnya saya nggak telaten. Tapi ternyata dialog tersebut membuat karakternya serasa kian tebal.

2. ESTETIKA KEKERASAN. Tak diragukan lagi, Tarantino identik dengan pertarungan mandi darah. Darah muncrat di filmnya Tarantino selalu dibikin lebay. Doi juga sering bikin kaget dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Uniknya...Tarantino sendiri mengaku bahwa ia tak suka kekerasan...kecuali di film. Ketularan deh saya.

3. KEKUATAN KARAKTER. Karakter dalam film-film Tarantino unik, kompleks dan kadang penuh penyamaran. Seringkali dalam film Tarantino, satu karakter memerankan karakter yang lain. Dalam Inglourious Basterds, para basterds menyamar jadi orang Italia. Dalam Django Unchained, 2 sahabat Dr. Schultz dan Django menyamar sebagai pembeli budak dll. Dari semua karakter ciptaan Tarantino, Col. Hans Landa yang pertama merebut perhatian saya. Lalu Hattori Hanzo di film Kill Bill. Tak cuma itu. Tarantino adalah aktor yang bagus juga. Aktingnya yang paling lucu bagi saya adalah di Django Unchained. Saat dia bilang, "Shut up, Black!..."

4. MUSIK. Tarantino nyaris gak pernah pake musik original di filmnya. Rata-rata dia pake musik atau lagu jadul. Dan entah gimana bisa pas banget ama soul filmnya. Saya jadi gemar Spaghetti Western ya gara-gara denger musik-musik di film Tarantino.

Nonton Tarantino buat pemula itu gak bisa sekali. Barangkali butuh waktu lama baru bisa jatuh cinta. Kalo anda mau belajar menikmati Tarantino, cobalah Inglourious Basterds, lalu Kill Bill baru yang lain.
Saya akan ngobrolin soal Quentin Tarantino, salah satu filmmaker terhebat versi saya.

Nonton film-film Tarantino itu kayak makan semacam sandwich. Tapi sandwich ini urutan lapisannya nggak biasa. Cara makannya pun nggak langsung utuh "mak-lheb" tapi musti di-emplok per lapisan. Sepertiga bagian awal isinya cuman roti tawar. Makin ke tengah berasalah keju, salad dan aroma dagingnya. Masih aromanya doang...Dagingnya sendiri nyempil di bagian sepertiga terakhir. Dan ini bukan daging biasa... so tasty, rasa dan aromanya sama kuatnya. Setelah itu apakah dagingnya abis? oooh enggak. Setelah itu akan terasa cipratan saos yang pedas dan kaya rempah-rempah. Awal-awal nonton Tarantino tu emang bikin nguantuk polll. Tapi begitu nyampe bagian "daging"...langsung melek. Nonton Tarantino nggak bisa jatuh hati pada pandangan pertama. Saya perlu 5 taunan lebih untuk bisa suka.


Karya pertama Tarantino yang saya tonton adalah Kill Bill. Lalu Pulp Fiction. Kill Bill lumayanlah tapi film apaan nehhh?.... Pulp Fiction film ora nggenah. Namun semua terbalikkan ketika saya nonton Inglourious Basterds. Sandwich-nya Inglouriois Basterds ini beda. Semuanya daging. Berikutnya, saya jadi lebih sabar nonton Tarantino. Apa sih yang bikin jatuh hati pada film-film Quentin Tarantino?

1. DIALOG. Dialog-dialog dalam film Tarantino cerdas, unik dan khas. Seringkali terasa menggelikan.

"What is cheersleader movie?"
"A movie about cheersleader."

Entah kenapa dialog ini sering nempel di kepala saya dan terasa menggelikan. Dialog dalam film Tarantino seringkali berpanjang-panjang. Awalnya saya nggak telaten. Tapi ternyata dialog tersebut membuat karakternya serasa kian tebal.

2. ESTETIKA KEKERASAN. Tak diragukan lagi, Tarantino identik dengan pertarungan mandi darah. Darah muncrat di filmnya Tarantino selalu dibikin lebay. Doi juga sering bikin kaget dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Uniknya...Tarantino sendiri mengaku bahwa ia tak suka kekerasan...kecuali di film. Ketularan deh saya.

3. KEKUATAN KARAKTER. Karakter dalam film-film Tarantino unik, kompleks dan kadang penuh penyamaran. Seringkali dalam film Tarantino, satu karakter memerankan karakter yang lain. Dalam Inglourious Basterds, para basterds menyamar jadi orang Italia. Dalam Django Unchained, 2 sahabat Dr. Schultz dan Django menyamar sebagai pembeli budak dll. Dari semua karakter ciptaan Tarantino, Col. Hans Landa yang pertama merebut perhatian saya. Lalu Hattori Hanzo di film Kill Bill. Tak cuma itu. Tarantino adalah aktor yang bagus juga. Aktingnya yang paling lucu bagi saya adalah di Django Unchained. Saat dia bilang, "Shut up, Black!..."

4. MUSIK. Tarantino nyaris gak pernah pake musik original di filmnya. Rata-rata dia pake musik atau lagu jadul. Dan entah gimana bisa pas banget ama soul filmnya. Saya jadi gemar Spaghetti Western ya gara-gara denger musik-musik di film Tarantino.

Nonton Tarantino buat pemula itu gak bisa sekali. Barangkali butuh waktu lama baru bisa jatuh cinta. Kalo anda mau belajar menikmati Tarantino, cobalah Inglourious Basterds, lalu Kill Bill baru yang lain.
Baca

MBOK YA YANG SERIUS KALO BIKIN KARYA MAIN-MAIN

Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Baca

SENI, KREATIVITAS dan MORALITAS


DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)



DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)


Baca

AKAL-AKALAN ALA WLINGIWOOD

Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Baca

FILMMAKER ATAU VIDEOMAKER?

Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Baca

ILUSI VISUAL DALAM FILM: Ngomongin SFX atau VFX.

Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Baca

Hargailah Karya Koncomu Dhewe!

Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Baca

KETIKA KITA BOSAN KARENA PRODUKSI NGGAK KELAR-KELAR

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Baca

TENTANG GARDA WEBSERIES

GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA