Yang Terbaru

BAGAIMANA SAYA MENILAI FILM?

Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Baca

REVIEW FILM PENGKHIANATAN G30SPKI (ARIFIN C. NOER 1984)

Pada awalnya saya tidak suka film yang oleh orang-orang tua di desa kami disebut ber-genre “beleh-belehan” (sembelih-sembelihan, bhs. Jawa). Bahkan melihat poster film Jaka Sembung saja dulu saya bergidik. Itu jaman saya masih SD di tahun 80-90an. Selera saya bergeser sejak nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Yang berperan mengubah taste saya antara lain adalah Kill Bill dan paling nyantol jelas Inglorious Basterds. Sebagaimana yang anda para movie buff tahu, Tarantino sudah jelas-jelas dikenal sebagai filmmaker yang brandingnya adalah “cinematic violence”. Maka perlahan namun pasti saya pun mulai menonton ulang beberapa film yang masuk kategori beleh-belehan tadi. Bukan kekerasannya yang saya kagumi, melainkan citarasa estetik yang disampaikan. Kadang cerita saja tidak cukup. Sebuah film butuh karakter.

Arifin C. Noer (pakai kacamata) menyutradarai film G30SPKI. Dokumen TEMPO.


Pengkhianatan G30SPKI adalah film yang dibiayai negara (with a very big budget) dan menontonnya adalah sebuah ritual wajib yang dipropagandakan di kanal-kanal resmi negara. Tak heran film ini jadi box office pada masanya (tahun 1984 dan setelahnya). Lha yo jelas….nontonnya dipaksa. Kewajiban ini baru berhenti setelah era reformasi 98, di saat propaganda penguasa sebelumnya telanjur meresap dengan baik. Ini kayaknya membuat pengetahuan masyarakat soal sejarah 1965, secara praktis, ya hanya dari film itu. Cobalah tanya orang-orang, pernahkah mereka baca buku putih peristiwa G30SPKI yang dikeluarkan sekretariat negara? Buku itu terlalu tebal (meski tak setebal Das Kapital).

Sebagai sebuah film propaganda, bagaimana kualitas film bikinan Arifin C. Noer ini sebenarnya?

Pertama-tama, sebagai seorang movie buff, saya akan menentukan dulu genre film ini. Saya tidak memandang film ini sebagai sebuah film sejarah melainkan film horror. Maka kita kesampingkan dulu soal muatan propaganda atau kekisruhan baru-baru ini mengenai rencana putar ulangnya.

Arifin C. Noer, pengadeganan film-filmnya selalu memikat, membumi dan bernuansa. Wajar karena ia punya latar belakang teater. Kaidah pengadeganan panggung sudah ia kuasai dengan baik, dan ia tinggal memindahkan esensinya ke media seluloid. Suntingan (editing) gambarnya tidak cuma sekadar penggabungan gambar dan suara, melainkan sudah menjadi wahana estetikanya yang khas. Tontonlah opening Suci Sang Primadona (1977) di mana saat terdengar suara “Eros! Kembali, Eros!”, gambar yang nongol malah patung Pancoran. Selain itu sinematografinya selalu inovatif. Filmnya menyajikan kualitas visual yang levelnya lain dari kebanyakan film yang beredar. Bibir Mer (1991), perhatikan kemewahan gambarnya yang sangat lain dari film-film nasional semasanya. Sedangkan tentang film G30SPKI yang akan kita obrolkan kali ini, tentu anda (yang dulu nonton) masih ingat extreme close up shot mulut yang legendaris itu.

Film G30SPKI, sekali lagi ini murni dari sudut pandang estetis belaka, adalah sebuah film hebat. Pengadeganannya detail dan bernuansa. Perhatikan saat Bung Karno (diperankan Umar Khayam) yang sedang sakit-sakitan, berdiri membelakangi kita, pelan-pelan ia menyapukan pandangan. Ini adegan yang menyimpan begitu banyak rasa. Kita diajak ikut merasa…apa gerangan yang berkecamuk di dalam diri Si Bung dan apa yang sedang bergerak di luar istana? Kegamangan ini disajikan secara kelam. Gamang bahwa sebuah bencana akan terjadi tak lama setelah ini.

Itulah bagaimana Arifin C. Noer memulai horror film ini. Jika film-film horror pada lazimnya memuat gambar-gambar setting (misal rumah tua, kuburan dll.) G30SPKI memuatnya dalam gambaran pergolakan tokohnya. Melihat bagaimana Bung Karno menoleh, ikut membuat kita tak menentu. Bahkan menontonnya dalam resolusi terburuk (saya nonton versi VCD) pun nuansa itu masih terasa. Saya ingat betul ini adegan yang bikin saya takut untuk terus nonton. Sampai sekarangpun saya tidak pernah nonton dalam sekuens utuh. Selalu “skip-skip”.

Horror yang berdarah, yakni adegan pembunuhan para Jendral bukanlah hal yang bisa saya nikmati sebagaimana nonton darah di film-film Tarantino. Tarantino mengemas darah secara “cool”, artistik…nggak “njijiki”. Sedangkan atmosfir adegan gitu di G30SPKI samasekali lain. Adegan penyiletan muka jendral dan melemparkannya ke dalam lubang itu sebuah mimpi buruk terburuk di jagad sinema. The most gory scene I’ve ever seen.

Ada banyak adegan yang bisa bikin anda mimpi buruk. Terutama adegan penculikan. Saya sebut beberapa secara acak:

-Adegan saat penjemputan paksa (saya udah lupa nama jendralnya hehehe)
-Adegan slow motion roboh kena tembak (ini saya juga lupa siapa yang ditembak)
-Tertembaknya Ade Irma Suryani
-Adegan basuh muka pakai darah

Oke, tadi saya ungkap kenapa film ini saya sebut film horror. Bahkan saya kasih julukan khusus “historical noir political thriller slasher horror”. Sekarang gimana dengan struktur naratifnya?

G30SPKI, sebagai film yang maunya jadi film sejarah, menggunakan pendekatan linier. Semua dibangun secara kronologis. Tapi sejarah yang asli bukanlah sebuah narasi film. Di sinilah kecerdasan Arifin C. Noer terlihat. Ia menyusun sejarah (versi penguasa saat itu) seakan memang dalam 3 babak. Untuk kebutuhan storytelling film tentunya. Arifin cermat membangun suspense, menyelipkan humor, membikin klimaks secara mengerikan dan memberikan ending yang membuat penontonnya bernafas normal lagi.

Jujur saja, review yang saya tulis ini lebih berdasarkan ingatan daripada mencermati satu per satu adegannya. saking horror-nya film ini di mata saya, buku kuduk saya masih merinding setiap saya memutar ulang di scene tertentu. Paling-paling saya cuma denger audionya, gak berani lihat gambarnya haha (anehnya lha kok saya malah puter berulang-ulang)

Film dibuka dengan kegentingan situasi karena sakitnya Bung Karno. Penggunaan bahasa Mandarin sang dokter dari RRC membuat film ini nampak otentik. Sementara itu rapat para elit PKI ditampilkan dalam semacam high angle shot yang keren. Penampilan D.N. Aidit (diperankan Syu’bah Asa) tak cukup dengan akting namun juga didukung dengan pencahayaan satu arah dan angle yang membangun karakternya sebagai tokoh jahat. Extreme close up shot mata Aidit yang tajam sungguh gila. Seram secara subliminal.

Bersamaan dengan ketegangan politik, disebutkan para militan PKI menggelar latihan di Lubang Buaya. Detail senjata, seragam dan settingnya begitu otentik. Saya pernah baca kalau tak salah adegan tersebut diambil di lokasi aslinya. Jika benar, maka tak salah aura seramnya begitu dapet. Dasar Arifin memang seorang master storytelling, ia masih mengijinkan kita menghela napas karena pengadeganannya yang kadang tegang, kadang lepas. Mungkin ada yang masih ingat kata-kata komandan yang melatih pasukan?

"...sebelum bisa nembak, itu harus bisa baris dulu!"

"Baris aja nggak becus lho... mau ngganyang Nekolim!"

Kapan lagi kita bisa dengar kata-kata se-greget itu dalam film Indonesia?

Sementara itu di luar pagar elit politik, ditampilkan adegan penderitaan rakyat; antrian bahan bakar oleh rakyat jelata. Sebagai katarsis, Arifin C. Noer juga menyelipkan humor. Simak saja karakter seorang bapak relijius yang anti komunis dengan keluarganya yang mulai kesulitan beli beras. Di sela-sela omongannya yang berapi-api soal "kominis" anaknya malah main drum band. Ini lucu sekaligus ironi. Bagi saya ini kayaknya satu-satunya adegan yang tidak menyeramkan hehehe. Kelucuan itu tak cuma dibangun dalam dialog-dialog namun juga lewat sinematografi. Extreme close up mulut yang legendaris itu, selain lucu juga berkarakter kuat. Ini yang saya pikir sebagai master piece shot-nya Arifin C. Noer. Sayang, itu dipotong di versi VCD-nya, namun kemarin baru saya dapat info tautan link dari rekan versi uncut-nya (TVRI version). Cari saja di Youtube.

Menuju suspense. Ketegangan dibangun lewat potongan-potongan berita. Koran-koran yang memuat aksi sepihak PKI. Juga kecemasan yang digambarkan lewat firasat para tokoh militer yang kelak akan jadi korban. Dalam sebuah adegan, istri seorang tokoh salah menerka rancangan gambar museum sebagai gambar kuburan. Simak juga dialog-dialog yang seakan mengisyaratkan tragedi.

"Malam apa ini?"
"Malam Jum'at legi."

Betapa dahsyat Arifin C. Noer, membangun suspense.

Menjelang subuh, pergantian hari yang kalau dalam banyak film horror merupakan akhir dari sebuah terror, dalam film ini malah sebaliknya. G30SPKI memulai terrornya justru sejak subuh. Derap kaki pasukan penculik, keremangan cahaya dan suara raungan serigala! Ya raungan serigala menjelang subuh di rerimbun pohon Lubang Buaya. Bagaimana anda mau memungkiri kalau ini film horror? Kemudian satu hal yang tak boleh dilupakan...

Musik!

Horror film ini jelas tak kan semakin mencekam tanpa satu kunci penting!... Musik dari Embie C. Noer!

Ini perlu saya sebut secara khusus karena memori saya terhadap film ini tak cuma potongan adegan namun juga potongan musik. Musik temanya kalo tak salah cuma 3 atau 4 not. Akor yang dibangun lewat bunyi synthetizer organ (kalau saya tak salah mencermati) "dihinggapi" dengan alunan alat musik tiup semacam saluang. Sekali lagi itu cuma kesan dengaran saya. Saya belum sempet nanya detail ini ke komposernya. Pak Embie pernah bilang kalau masternya ilang dilalap banjir. Selain musik synthesizer, ada juga bunyi-bunyi instrumen asli seperti gesekan biola, vocal choir dan denting piano. Aransemen lagu "Lihat Kebunku" bukannya menggambarkan keceriaan anak-anak malah memberi atmosfir yang kelam.

"Lihat kebunku, penuh dengan bunga..."

Bunga apa gerangan? Bunga kuburan?

Dan jangan lupakan satu lagu daerah yang kemudian menjadi lagu ikon "kominis" lokal... "Gendjer-Gendjer". Selain dinyanyikan dalam adegan penyiksaan para jendral, nada-nada utamanya juga disusupkan secara cerdik dalam music score-nya. Ini sebenarnya cuma lagu daerah Jawa Timuran. Pernah dinyanyikan biduan jadul kondang Lilis Suryani. Gara-gara sering dinyanyikan oleh para simpatisan PKI, lagu ini lantas seakan identik dengan "lagu komunis". Padahal apa sih isi lagunya?

"Gendjer-gendjer nong kedokan pating keleler..." Ini kan lagu tentang tanaman sayur bernama genjer. Mungkin pas untuk mengiringi makan pecel. Atau jangan-jangan pecel nanti dikira makanan komunis? Hiii...ngeri! (Belakangan saya baru dapat info bahwa lagu tersebut berasal dari lagu rakyat Banyuwangi. Oleh seorang seniman bernama M. Arief dikasih lirik baru untuk menggambarkan penderitaan jaman Jepang.)

Musik Embie C. Noer tak cuma menghiasi, mengilustrasi, melainkan sudah menjadi jiwa film itu sendiri. Berpadu dengan gambar berpencahayaan rendah, musik ini jadi mimpi buruk mengendap di bawah sadar. Buktinya? Ya itu….sampai sekarang saya masih ngeri menonton film ini secara utuh. Sungguh kolaborasi kakak-adik, sutradara-komposer yang luar biasa.

Klimaksnya tentu adegan penyiksaan. Saya selalu tak betah menontonnya. Bahkan saat quote memorable “Darah itu merah, Jendral!” diucapkan, udah bikin saya ngeri. Di sini G30SPKI menunjukkan kelas sebagai film slasher…yaitu…genre “beleh-belehan”. Para Jendral disiksa dengan alat, ditusuk dengan bayonet, dipukuli, ditendangi, disundut rokok, dicungkil matanya dan lalu dimauskkan ke sumur tua. Tak cukup sampai di situ. Di atasnya ditanam pohon pisang. Itulah puncak horror film ini. Tentu saja akan lain kalau anda baca sejarah asli dari banyak sumber. Konon horror di realitanya malah berlangsung setelah 30 September kan?

Lalu sebagai resolusi cerita, muncullah Pak Harto (diperankan Amoroso Katmasi) sebagai penyelamat bangsa. Di sini film G30SPKI jadi nampak kayak film perang. Ada tentara-tentara bergerak dan kendaraan tempur. Ketika saya menontonnya saat masih kecil, di sinilah saya mulai merasa lega. Tidak takut lagi. TNI bersama Pancasila telah menumpas kekuatan setan hehehe

Ada untungnya film ini diproduksi negara. Jadinya budget nggak terlalu masalah bagi sang filmmaker. G30SPKI begitu detail. Naskahnya, meski terlalu panjang, memuat hal-hal yang secara sinematik penting. Arifin C. Noer adalah penutur kisah yang hebat. Maklum ia bisa nulis dan ngerti dramaturgi. Tapi ia juga punya tim yang bagus. Filmnya sangat well made. Adapun beban gugatan sejarah, itulah yang menjadi kelemahan non teknis satu-satunya. Ya mau gimana lagi?

Entah sudah berapa kali saya ngomong….G30SPKI yang disutradari Arifin C. Noer adalah satu-satunya film terhebat yang pernah dibikin orang Indonesia. Dan selalu saya katakan itu dengan ironi…sayangnya ini film propaganda hahaha.

Lalu saya dengar ada wacana usulan mau dibikin remake?

Pendapat saya...nggak bisa. Itu nggak akan berhasil. Nggak ada yang akan menandingi Arifin C. Noer. Tapi ya monggo saja sih dengan segala resiko, kekurangan, kelebihan dan dampaknya. Tapi jangan pakai naskah Arifin C. Noer lah. Film ini sudah menjadi sejarah estetika sinema Indonesia.




Pada awalnya saya tidak suka film yang oleh orang-orang tua di desa kami disebut ber-genre “beleh-belehan” (sembelih-sembelihan, bhs. Jawa). Bahkan melihat poster film Jaka Sembung saja dulu saya bergidik. Itu jaman saya masih SD di tahun 80-90an. Selera saya bergeser sejak nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Yang berperan mengubah taste saya antara lain adalah Kill Bill dan paling nyantol jelas Inglorious Basterds. Sebagaimana yang anda para movie buff tahu, Tarantino sudah jelas-jelas dikenal sebagai filmmaker yang brandingnya adalah “cinematic violence”. Maka perlahan namun pasti saya pun mulai menonton ulang beberapa film yang masuk kategori beleh-belehan tadi. Bukan kekerasannya yang saya kagumi, melainkan citarasa estetik yang disampaikan. Kadang cerita saja tidak cukup. Sebuah film butuh karakter.

Arifin C. Noer (pakai kacamata) menyutradarai film G30SPKI. Dokumen TEMPO.


Pengkhianatan G30SPKI adalah film yang dibiayai negara (with a very big budget) dan menontonnya adalah sebuah ritual wajib yang dipropagandakan di kanal-kanal resmi negara. Tak heran film ini jadi box office pada masanya (tahun 1984 dan setelahnya). Lha yo jelas….nontonnya dipaksa. Kewajiban ini baru berhenti setelah era reformasi 98, di saat propaganda penguasa sebelumnya telanjur meresap dengan baik. Ini kayaknya membuat pengetahuan masyarakat soal sejarah 1965, secara praktis, ya hanya dari film itu. Cobalah tanya orang-orang, pernahkah mereka baca buku putih peristiwa G30SPKI yang dikeluarkan sekretariat negara? Buku itu terlalu tebal (meski tak setebal Das Kapital).

Sebagai sebuah film propaganda, bagaimana kualitas film bikinan Arifin C. Noer ini sebenarnya?

Pertama-tama, sebagai seorang movie buff, saya akan menentukan dulu genre film ini. Saya tidak memandang film ini sebagai sebuah film sejarah melainkan film horror. Maka kita kesampingkan dulu soal muatan propaganda atau kekisruhan baru-baru ini mengenai rencana putar ulangnya.

Arifin C. Noer, pengadeganan film-filmnya selalu memikat, membumi dan bernuansa. Wajar karena ia punya latar belakang teater. Kaidah pengadeganan panggung sudah ia kuasai dengan baik, dan ia tinggal memindahkan esensinya ke media seluloid. Suntingan (editing) gambarnya tidak cuma sekadar penggabungan gambar dan suara, melainkan sudah menjadi wahana estetikanya yang khas. Tontonlah opening Suci Sang Primadona (1977) di mana saat terdengar suara “Eros! Kembali, Eros!”, gambar yang nongol malah patung Pancoran. Selain itu sinematografinya selalu inovatif. Filmnya menyajikan kualitas visual yang levelnya lain dari kebanyakan film yang beredar. Bibir Mer (1991), perhatikan kemewahan gambarnya yang sangat lain dari film-film nasional semasanya. Sedangkan tentang film G30SPKI yang akan kita obrolkan kali ini, tentu anda (yang dulu nonton) masih ingat extreme close up shot mulut yang legendaris itu.

Film G30SPKI, sekali lagi ini murni dari sudut pandang estetis belaka, adalah sebuah film hebat. Pengadeganannya detail dan bernuansa. Perhatikan saat Bung Karno (diperankan Umar Khayam) yang sedang sakit-sakitan, berdiri membelakangi kita, pelan-pelan ia menyapukan pandangan. Ini adegan yang menyimpan begitu banyak rasa. Kita diajak ikut merasa…apa gerangan yang berkecamuk di dalam diri Si Bung dan apa yang sedang bergerak di luar istana? Kegamangan ini disajikan secara kelam. Gamang bahwa sebuah bencana akan terjadi tak lama setelah ini.

Itulah bagaimana Arifin C. Noer memulai horror film ini. Jika film-film horror pada lazimnya memuat gambar-gambar setting (misal rumah tua, kuburan dll.) G30SPKI memuatnya dalam gambaran pergolakan tokohnya. Melihat bagaimana Bung Karno menoleh, ikut membuat kita tak menentu. Bahkan menontonnya dalam resolusi terburuk (saya nonton versi VCD) pun nuansa itu masih terasa. Saya ingat betul ini adegan yang bikin saya takut untuk terus nonton. Sampai sekarangpun saya tidak pernah nonton dalam sekuens utuh. Selalu “skip-skip”.

Horror yang berdarah, yakni adegan pembunuhan para Jendral bukanlah hal yang bisa saya nikmati sebagaimana nonton darah di film-film Tarantino. Tarantino mengemas darah secara “cool”, artistik…nggak “njijiki”. Sedangkan atmosfir adegan gitu di G30SPKI samasekali lain. Adegan penyiletan muka jendral dan melemparkannya ke dalam lubang itu sebuah mimpi buruk terburuk di jagad sinema. The most gory scene I’ve ever seen.

Ada banyak adegan yang bisa bikin anda mimpi buruk. Terutama adegan penculikan. Saya sebut beberapa secara acak:

-Adegan saat penjemputan paksa (saya udah lupa nama jendralnya hehehe)
-Adegan slow motion roboh kena tembak (ini saya juga lupa siapa yang ditembak)
-Tertembaknya Ade Irma Suryani
-Adegan basuh muka pakai darah

Oke, tadi saya ungkap kenapa film ini saya sebut film horror. Bahkan saya kasih julukan khusus “historical noir political thriller slasher horror”. Sekarang gimana dengan struktur naratifnya?

G30SPKI, sebagai film yang maunya jadi film sejarah, menggunakan pendekatan linier. Semua dibangun secara kronologis. Tapi sejarah yang asli bukanlah sebuah narasi film. Di sinilah kecerdasan Arifin C. Noer terlihat. Ia menyusun sejarah (versi penguasa saat itu) seakan memang dalam 3 babak. Untuk kebutuhan storytelling film tentunya. Arifin cermat membangun suspense, menyelipkan humor, membikin klimaks secara mengerikan dan memberikan ending yang membuat penontonnya bernafas normal lagi.

Jujur saja, review yang saya tulis ini lebih berdasarkan ingatan daripada mencermati satu per satu adegannya. saking horror-nya film ini di mata saya, buku kuduk saya masih merinding setiap saya memutar ulang di scene tertentu. Paling-paling saya cuma denger audionya, gak berani lihat gambarnya haha (anehnya lha kok saya malah puter berulang-ulang)

Film dibuka dengan kegentingan situasi karena sakitnya Bung Karno. Penggunaan bahasa Mandarin sang dokter dari RRC membuat film ini nampak otentik. Sementara itu rapat para elit PKI ditampilkan dalam semacam high angle shot yang keren. Penampilan D.N. Aidit (diperankan Syu’bah Asa) tak cukup dengan akting namun juga didukung dengan pencahayaan satu arah dan angle yang membangun karakternya sebagai tokoh jahat. Extreme close up shot mata Aidit yang tajam sungguh gila. Seram secara subliminal.

Bersamaan dengan ketegangan politik, disebutkan para militan PKI menggelar latihan di Lubang Buaya. Detail senjata, seragam dan settingnya begitu otentik. Saya pernah baca kalau tak salah adegan tersebut diambil di lokasi aslinya. Jika benar, maka tak salah aura seramnya begitu dapet. Dasar Arifin memang seorang master storytelling, ia masih mengijinkan kita menghela napas karena pengadeganannya yang kadang tegang, kadang lepas. Mungkin ada yang masih ingat kata-kata komandan yang melatih pasukan?

"...sebelum bisa nembak, itu harus bisa baris dulu!"

"Baris aja nggak becus lho... mau ngganyang Nekolim!"

Kapan lagi kita bisa dengar kata-kata se-greget itu dalam film Indonesia?

Sementara itu di luar pagar elit politik, ditampilkan adegan penderitaan rakyat; antrian bahan bakar oleh rakyat jelata. Sebagai katarsis, Arifin C. Noer juga menyelipkan humor. Simak saja karakter seorang bapak relijius yang anti komunis dengan keluarganya yang mulai kesulitan beli beras. Di sela-sela omongannya yang berapi-api soal "kominis" anaknya malah main drum band. Ini lucu sekaligus ironi. Bagi saya ini kayaknya satu-satunya adegan yang tidak menyeramkan hehehe. Kelucuan itu tak cuma dibangun dalam dialog-dialog namun juga lewat sinematografi. Extreme close up mulut yang legendaris itu, selain lucu juga berkarakter kuat. Ini yang saya pikir sebagai master piece shot-nya Arifin C. Noer. Sayang, itu dipotong di versi VCD-nya, namun kemarin baru saya dapat info tautan link dari rekan versi uncut-nya (TVRI version). Cari saja di Youtube.

Menuju suspense. Ketegangan dibangun lewat potongan-potongan berita. Koran-koran yang memuat aksi sepihak PKI. Juga kecemasan yang digambarkan lewat firasat para tokoh militer yang kelak akan jadi korban. Dalam sebuah adegan, istri seorang tokoh salah menerka rancangan gambar museum sebagai gambar kuburan. Simak juga dialog-dialog yang seakan mengisyaratkan tragedi.

"Malam apa ini?"
"Malam Jum'at legi."

Betapa dahsyat Arifin C. Noer, membangun suspense.

Menjelang subuh, pergantian hari yang kalau dalam banyak film horror merupakan akhir dari sebuah terror, dalam film ini malah sebaliknya. G30SPKI memulai terrornya justru sejak subuh. Derap kaki pasukan penculik, keremangan cahaya dan suara raungan serigala! Ya raungan serigala menjelang subuh di rerimbun pohon Lubang Buaya. Bagaimana anda mau memungkiri kalau ini film horror? Kemudian satu hal yang tak boleh dilupakan...

Musik!

Horror film ini jelas tak kan semakin mencekam tanpa satu kunci penting!... Musik dari Embie C. Noer!

Ini perlu saya sebut secara khusus karena memori saya terhadap film ini tak cuma potongan adegan namun juga potongan musik. Musik temanya kalo tak salah cuma 3 atau 4 not. Akor yang dibangun lewat bunyi synthetizer organ (kalau saya tak salah mencermati) "dihinggapi" dengan alunan alat musik tiup semacam saluang. Sekali lagi itu cuma kesan dengaran saya. Saya belum sempet nanya detail ini ke komposernya. Pak Embie pernah bilang kalau masternya ilang dilalap banjir. Selain musik synthesizer, ada juga bunyi-bunyi instrumen asli seperti gesekan biola, vocal choir dan denting piano. Aransemen lagu "Lihat Kebunku" bukannya menggambarkan keceriaan anak-anak malah memberi atmosfir yang kelam.

"Lihat kebunku, penuh dengan bunga..."

Bunga apa gerangan? Bunga kuburan?

Dan jangan lupakan satu lagu daerah yang kemudian menjadi lagu ikon "kominis" lokal... "Gendjer-Gendjer". Selain dinyanyikan dalam adegan penyiksaan para jendral, nada-nada utamanya juga disusupkan secara cerdik dalam music score-nya. Ini sebenarnya cuma lagu daerah Jawa Timuran. Pernah dinyanyikan biduan jadul kondang Lilis Suryani. Gara-gara sering dinyanyikan oleh para simpatisan PKI, lagu ini lantas seakan identik dengan "lagu komunis". Padahal apa sih isi lagunya?

"Gendjer-gendjer nong kedokan pating keleler..." Ini kan lagu tentang tanaman sayur bernama genjer. Mungkin pas untuk mengiringi makan pecel. Atau jangan-jangan pecel nanti dikira makanan komunis? Hiii...ngeri! (Belakangan saya baru dapat info bahwa lagu tersebut berasal dari lagu rakyat Banyuwangi. Oleh seorang seniman bernama M. Arief dikasih lirik baru untuk menggambarkan penderitaan jaman Jepang.)

Musik Embie C. Noer tak cuma menghiasi, mengilustrasi, melainkan sudah menjadi jiwa film itu sendiri. Berpadu dengan gambar berpencahayaan rendah, musik ini jadi mimpi buruk mengendap di bawah sadar. Buktinya? Ya itu….sampai sekarang saya masih ngeri menonton film ini secara utuh. Sungguh kolaborasi kakak-adik, sutradara-komposer yang luar biasa.

Klimaksnya tentu adegan penyiksaan. Saya selalu tak betah menontonnya. Bahkan saat quote memorable “Darah itu merah, Jendral!” diucapkan, udah bikin saya ngeri. Di sini G30SPKI menunjukkan kelas sebagai film slasher…yaitu…genre “beleh-belehan”. Para Jendral disiksa dengan alat, ditusuk dengan bayonet, dipukuli, ditendangi, disundut rokok, dicungkil matanya dan lalu dimauskkan ke sumur tua. Tak cukup sampai di situ. Di atasnya ditanam pohon pisang. Itulah puncak horror film ini. Tentu saja akan lain kalau anda baca sejarah asli dari banyak sumber. Konon horror di realitanya malah berlangsung setelah 30 September kan?

Lalu sebagai resolusi cerita, muncullah Pak Harto (diperankan Amoroso Katmasi) sebagai penyelamat bangsa. Di sini film G30SPKI jadi nampak kayak film perang. Ada tentara-tentara bergerak dan kendaraan tempur. Ketika saya menontonnya saat masih kecil, di sinilah saya mulai merasa lega. Tidak takut lagi. TNI bersama Pancasila telah menumpas kekuatan setan hehehe

Ada untungnya film ini diproduksi negara. Jadinya budget nggak terlalu masalah bagi sang filmmaker. G30SPKI begitu detail. Naskahnya, meski terlalu panjang, memuat hal-hal yang secara sinematik penting. Arifin C. Noer adalah penutur kisah yang hebat. Maklum ia bisa nulis dan ngerti dramaturgi. Tapi ia juga punya tim yang bagus. Filmnya sangat well made. Adapun beban gugatan sejarah, itulah yang menjadi kelemahan non teknis satu-satunya. Ya mau gimana lagi?

Entah sudah berapa kali saya ngomong….G30SPKI yang disutradari Arifin C. Noer adalah satu-satunya film terhebat yang pernah dibikin orang Indonesia. Dan selalu saya katakan itu dengan ironi…sayangnya ini film propaganda hahaha.

Lalu saya dengar ada wacana usulan mau dibikin remake?

Pendapat saya...nggak bisa. Itu nggak akan berhasil. Nggak ada yang akan menandingi Arifin C. Noer. Tapi ya monggo saja sih dengan segala resiko, kekurangan, kelebihan dan dampaknya. Tapi jangan pakai naskah Arifin C. Noer lah. Film ini sudah menjadi sejarah estetika sinema Indonesia.




Baca

BAGAIMANA CARA SAYA BIKIN BREAKDOWN SCRIPT UNTUK D.O.P/CINEMATOGRAPHER UNTUK TIM PRODUKSI YANG SUPER MINI?

Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Baca

TONARI NO TOTORO (Hayao Miyazaki 1988), KISAH GENDRUWO DESA BERBULU IMUT

Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Baca

BAGAIMANA SAYA MENANGANI AUDIO DI FILM SAYA YANG NO BUDGET

Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Baca

MENGAPA SAYA PAKAI CLOSE UP DAN WIDE APERTURE?


Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.

Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.
Baca

COLOSSAL (Nacho Vigalondo, 2016), FILM MONSTER/KAIJU BAPERAN

Sepertinya loh ya…menonton film itu, sama halnya kayak kehidupan. Don’t be too serious. Ada kalanya peristiwa-peristiwa kita periksa mendalam (seperti ilmuwan), tapi ada kalanya kita anggap peristiwa itu biarlah sekadar lewat asal dapet maknanya (seperti sufi…entah sufi yang mana). Tak perlu dalem-dalem menelitinya selama kamu dapet hikmah. Don’t dig too much if happiness is enough. Coro Jowone…asal ati ayem tentrem, ra sah jero-jero mikire. Ya tapi itu lamunan sesat saya hehehe…


Colossal adalah film komedi kelam yang dipersembahkan untuk anda yang sedang nggak mau ber-“jero-jero mikir” itu. Bukan berarti ini film nggak serius ya. Lupakanlah kacamata “Nolanistik” atau “Spielbergian” anda saat nonton film ini. Kalau anda terbiasa dengan cerita bikinan Charlie Kaufman (Being John Malkovoch, Adaptation dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind)  mungkin ini adalah film yang akan anda sukai. Anda demen exclusively genre kaiju, tokutsatsu, Gundam, Ultraman? Hmmm saya nggak yakin ini film cocok buat anda. Colossal adalah film komedi (dark), romans, fantastik dan ya…KAIJU. Kaiju adalah genre film monster raksasa ala-ala Jepang. It’s fun, “lutju tur nyenengake”.

Gloria adalah cewek yang bermasalah dengan alkohol dan karena suatu peristiwa di masa kecil, ia punya masalah ingatan. Di New York ia mengejar karier sebagai penulis artikel online, namun berantakan. Hidupnya makin kacau setelah diusir Tim, pacarnya yang kaya. Pulang kampung ke pinggiran kota, Gloria ketemu lagi dengan Oscar, teman masa kecilnya. Oscar mengelola bar warisan bapaknya.  Ia punya dua teman yang membantunya, Garth si junkie dan Joel si ganteng culun. Baru aja dateng, Gloria udah bikin masalah. Ia nyaris dicumbu si Joel yang sebelumnya ia flirt duluan. Namun Oscar menaruh belas kasihan pada Gloria. Ia pun mempekerjakannya di bar.


Di saat yang sama, sesosok kaiju (makhluk) segede monas muncul di Seoul. Anehnya kaiju itu terkoneksi secara gaib dengan Gloria. Apapun yang Gloria perbuat, si kaiju akan bertingkah sama persis. Tapi keduanya hanya terhubung kalau Gloria menginjak area sebuah petak di taman dekat sekolah jadulnya. Gloria dan kawan-kawan yang menyadari hal itu, malah menjadikannya main-main. Begitu tahu main-mainnya mengakibatkan banyak korban, Gloria merasa bersalah. Belakangan muncul robot besar yang gedenya sama ama kaiju tadi. Ternyata itu adalah proyeksi dari si Oscar.

Masalah muncul ketika Gloria nggak bisa mengendalikan hasrat impulsifnya. Apalagi kalau ia mabuk. Ia ini tipe cewek-cewek labil yang gampangan ngeflirt tanpa mikir. Ia menggoda Joel dan tidur bersama. Oscar yang cemburu mulai berbuat menyebalkan. Selama ini Oscar memperlakukan Gloria lebih seperti teman daripada karyawan. Sejak hal itu, ia menunjukkan dirinya bahwa ia adalah boss. Saat keduanya bertengkar, Oscar memanfaatkan koneksi gaibnya dengan robot raksasa di Seoul. Ia pergi ke petak di taman dan bikin kerusakan. Gloria tak bisa tinggal diam. Ia mengkonfrontasi Oscar. Hasilnya, penduduk Seoul pun melihat bahwa kaiju proyeksi Gloria sedang berusaha melindungi kota dari ancaman robot.

Masalah jadi runyam ketika Tim, mantan Gloria muncul di kota. Ia mau balikan sama Gloria. Jadilah Oscar yang berang bin baper bertarung dengan Gloria di petak taman. Gloria kalah. Oscar mengancam, kalo Gloria balik ama Tim, ia bakal hancurin Seoul tiap pagi. Gloria pun bimbang antara balik ke New York ama Tim, atau menyelamatkan Seoul. Sejak saat itu Gloria pun ngerti bahwa Oscar nggak cuma cemburu, tapi juga punya masalah kejiwaan yang serius.

Akhirnya Gloria menemukan satu cara untuk mengalahkan Oscar sekaligus menyelamatkan Seoul.

Sounds a weird plot?
Ya emang hahaha…

Makanya saya bilang nikmati film ini secara santai.

Ndak bisa? Masih gak paham ama filmnya?

Ya coba pemanasan dulu nonton film yang scriptnya ditulis Charlie Kaufman deh. Not every film for everybody.

Anne Hathaway, selalu dengan “imutisitas”nya yang khas. Cuma aja dia udah bukan eranya Princess Diary. Setidaknya Anne bikin filmnya menyenangkan karena dialog-dialog dari naskahnya biasa aja. Garing enggak, basah enggak. Jason Sudeikis sebagai Oscar? Biasa aja. Dan Stevens sebagai Tim juga biasa aja. Kayaknya magnet film ini selain nama Anne Hathaway adalah si kaiju itu sendiri. Saya mah suka karena saya kan penggemar kaiju. Sutradaranya orang Spanyol, Nacho Vigalondo juga belum terkenal amat. Tapi ia pernah bikin film thriller soal time travel yang bagus. Judulnya Los Cronocrímenes.

Soal plotnya? Well, it’s funny. Filmnya lucu-lucu aneh. Gimana coba dua orang baper lagi bertengkar bikin monster segede Gaban gelut ama robot raksasa dan ngehancurin kota. Cuma jangan berharap adegannya bakal ancur-ancuran ala Pacific Rim. Karena kaiju dan robot itu cuma proyeksi dua orang baper, ya mereka tarungnya kayak sepasang pacar amuk-amukan.

Colossal (mirip ama karya Kaufman) adalah film yang bermain-main dengan konsep. Ndak ada tema besar substansial di sini. Sebenarnya intinya sih cuma film cewek kacau yang jadi pahlawan penyelamat kota (what the fuck…). Film ini mengajak bercanda dengan cara yang aneh. Jadi kalo anda nggak punya bibit “aneh” kemungkinan sukar menghibur anda. Kalo saya emang aneh jadi ya girang bukan kepalang nonton ini. Well…kaiju and Anne Hathaway! Bayangin siapa coba yang mau bikin film kayak gini. Seabsurd apapun sinetron laga kolosal fantasy di TV, saya pikir mereka nggak akan sejauh itu bikin film yang mau menampilkan Chelsea Islan dengan lembusora di layar lebar, dengan sutradara Joko Anwar misalnya. Kayaknya hanya Hollywood yang mahir serius dalam bermain-main.

Trus apa dong bagusnya?

-Lucu, menghibur
-Kalo anda fans Anne ya mungkin anda betah
-Kaijunya imut, robotnya jelek

Kurangnya?

-Dialog yang mengkal, nggak garing nggak basah, ndak memorable
-Ndak ada tema substansial yang mendalam, soal cinta atau apa kek…kosong
-Di bagian akhir compositingnya kasar. Cukup mengganggu polesan cinematic yang dibangun dari awal. Mungkin yang nggarap anak magang.

Kesimpulan umum?

Menghibur…tapi ya jangan berharap banyak J pokoknya ada kaiju saya udah bahagia.




Sepertinya loh ya…menonton film itu, sama halnya kayak kehidupan. Don’t be too serious. Ada kalanya peristiwa-peristiwa kita periksa mendalam (seperti ilmuwan), tapi ada kalanya kita anggap peristiwa itu biarlah sekadar lewat asal dapet maknanya (seperti sufi…entah sufi yang mana). Tak perlu dalem-dalem menelitinya selama kamu dapet hikmah. Don’t dig too much if happiness is enough. Coro Jowone…asal ati ayem tentrem, ra sah jero-jero mikire. Ya tapi itu lamunan sesat saya hehehe…


Colossal adalah film komedi kelam yang dipersembahkan untuk anda yang sedang nggak mau ber-“jero-jero mikir” itu. Bukan berarti ini film nggak serius ya. Lupakanlah kacamata “Nolanistik” atau “Spielbergian” anda saat nonton film ini. Kalau anda terbiasa dengan cerita bikinan Charlie Kaufman (Being John Malkovoch, Adaptation dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind)  mungkin ini adalah film yang akan anda sukai. Anda demen exclusively genre kaiju, tokutsatsu, Gundam, Ultraman? Hmmm saya nggak yakin ini film cocok buat anda. Colossal adalah film komedi (dark), romans, fantastik dan ya…KAIJU. Kaiju adalah genre film monster raksasa ala-ala Jepang. It’s fun, “lutju tur nyenengake”.

Gloria adalah cewek yang bermasalah dengan alkohol dan karena suatu peristiwa di masa kecil, ia punya masalah ingatan. Di New York ia mengejar karier sebagai penulis artikel online, namun berantakan. Hidupnya makin kacau setelah diusir Tim, pacarnya yang kaya. Pulang kampung ke pinggiran kota, Gloria ketemu lagi dengan Oscar, teman masa kecilnya. Oscar mengelola bar warisan bapaknya.  Ia punya dua teman yang membantunya, Garth si junkie dan Joel si ganteng culun. Baru aja dateng, Gloria udah bikin masalah. Ia nyaris dicumbu si Joel yang sebelumnya ia flirt duluan. Namun Oscar menaruh belas kasihan pada Gloria. Ia pun mempekerjakannya di bar.


Di saat yang sama, sesosok kaiju (makhluk) segede monas muncul di Seoul. Anehnya kaiju itu terkoneksi secara gaib dengan Gloria. Apapun yang Gloria perbuat, si kaiju akan bertingkah sama persis. Tapi keduanya hanya terhubung kalau Gloria menginjak area sebuah petak di taman dekat sekolah jadulnya. Gloria dan kawan-kawan yang menyadari hal itu, malah menjadikannya main-main. Begitu tahu main-mainnya mengakibatkan banyak korban, Gloria merasa bersalah. Belakangan muncul robot besar yang gedenya sama ama kaiju tadi. Ternyata itu adalah proyeksi dari si Oscar.

Masalah muncul ketika Gloria nggak bisa mengendalikan hasrat impulsifnya. Apalagi kalau ia mabuk. Ia ini tipe cewek-cewek labil yang gampangan ngeflirt tanpa mikir. Ia menggoda Joel dan tidur bersama. Oscar yang cemburu mulai berbuat menyebalkan. Selama ini Oscar memperlakukan Gloria lebih seperti teman daripada karyawan. Sejak hal itu, ia menunjukkan dirinya bahwa ia adalah boss. Saat keduanya bertengkar, Oscar memanfaatkan koneksi gaibnya dengan robot raksasa di Seoul. Ia pergi ke petak di taman dan bikin kerusakan. Gloria tak bisa tinggal diam. Ia mengkonfrontasi Oscar. Hasilnya, penduduk Seoul pun melihat bahwa kaiju proyeksi Gloria sedang berusaha melindungi kota dari ancaman robot.

Masalah jadi runyam ketika Tim, mantan Gloria muncul di kota. Ia mau balikan sama Gloria. Jadilah Oscar yang berang bin baper bertarung dengan Gloria di petak taman. Gloria kalah. Oscar mengancam, kalo Gloria balik ama Tim, ia bakal hancurin Seoul tiap pagi. Gloria pun bimbang antara balik ke New York ama Tim, atau menyelamatkan Seoul. Sejak saat itu Gloria pun ngerti bahwa Oscar nggak cuma cemburu, tapi juga punya masalah kejiwaan yang serius.

Akhirnya Gloria menemukan satu cara untuk mengalahkan Oscar sekaligus menyelamatkan Seoul.

Sounds a weird plot?
Ya emang hahaha…

Makanya saya bilang nikmati film ini secara santai.

Ndak bisa? Masih gak paham ama filmnya?

Ya coba pemanasan dulu nonton film yang scriptnya ditulis Charlie Kaufman deh. Not every film for everybody.

Anne Hathaway, selalu dengan “imutisitas”nya yang khas. Cuma aja dia udah bukan eranya Princess Diary. Setidaknya Anne bikin filmnya menyenangkan karena dialog-dialog dari naskahnya biasa aja. Garing enggak, basah enggak. Jason Sudeikis sebagai Oscar? Biasa aja. Dan Stevens sebagai Tim juga biasa aja. Kayaknya magnet film ini selain nama Anne Hathaway adalah si kaiju itu sendiri. Saya mah suka karena saya kan penggemar kaiju. Sutradaranya orang Spanyol, Nacho Vigalondo juga belum terkenal amat. Tapi ia pernah bikin film thriller soal time travel yang bagus. Judulnya Los Cronocrímenes.

Soal plotnya? Well, it’s funny. Filmnya lucu-lucu aneh. Gimana coba dua orang baper lagi bertengkar bikin monster segede Gaban gelut ama robot raksasa dan ngehancurin kota. Cuma jangan berharap adegannya bakal ancur-ancuran ala Pacific Rim. Karena kaiju dan robot itu cuma proyeksi dua orang baper, ya mereka tarungnya kayak sepasang pacar amuk-amukan.

Colossal (mirip ama karya Kaufman) adalah film yang bermain-main dengan konsep. Ndak ada tema besar substansial di sini. Sebenarnya intinya sih cuma film cewek kacau yang jadi pahlawan penyelamat kota (what the fuck…). Film ini mengajak bercanda dengan cara yang aneh. Jadi kalo anda nggak punya bibit “aneh” kemungkinan sukar menghibur anda. Kalo saya emang aneh jadi ya girang bukan kepalang nonton ini. Well…kaiju and Anne Hathaway! Bayangin siapa coba yang mau bikin film kayak gini. Seabsurd apapun sinetron laga kolosal fantasy di TV, saya pikir mereka nggak akan sejauh itu bikin film yang mau menampilkan Chelsea Islan dengan lembusora di layar lebar, dengan sutradara Joko Anwar misalnya. Kayaknya hanya Hollywood yang mahir serius dalam bermain-main.

Trus apa dong bagusnya?

-Lucu, menghibur
-Kalo anda fans Anne ya mungkin anda betah
-Kaijunya imut, robotnya jelek

Kurangnya?

-Dialog yang mengkal, nggak garing nggak basah, ndak memorable
-Ndak ada tema substansial yang mendalam, soal cinta atau apa kek…kosong
-Di bagian akhir compositingnya kasar. Cukup mengganggu polesan cinematic yang dibangun dari awal. Mungkin yang nggarap anak magang.

Kesimpulan umum?

Menghibur…tapi ya jangan berharap banyak J pokoknya ada kaiju saya udah bahagia.




Baca

5 SUTRADARA DEWA YANG JADI "GURU" SAYA

Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA