Yang Terbaru

MBOK YA YANG SERIUS KALO BIKIN KARYA MAIN-MAIN

Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Baca

SENI, KREATIVITAS dan MORALITAS


DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)



DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)


Baca

AKAL-AKALAN ALA WLINGIWOOD

Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Baca

FILMMAKER ATAU VIDEOMAKER?

Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Baca

ILUSI VISUAL DALAM FILM: Ngomongin SFX atau VFX.

Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Baca

Hargailah Karya Koncomu Dhewe!

Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Baca

KETIKA KITA BOSAN KARENA PRODUKSI NGGAK KELAR-KELAR

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Baca

TENTANG GARDA WEBSERIES

GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


Baca

SOAL SHAKY CAM ALIAS GAMBAR GOYANG

Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Baca

PROPAGANDA HIPERNASIONALISME DALAM FILM KITA

Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Baca

FILM YANG MENCERAMAHI VS FILM YANG NGAJAK MERENUNG

Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Baca

FRIED RICE PRELUDE BAKAL CALON FILM TERBARU SAYA DI 2015

Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA