Yang Terbaru

APAKAH BUDGET GEDE JAMINAN LARISNYA FILM SUPERHERO?

Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Baca

PERFILMAN INDONESIA: ANTARA INDUSTRI, INDEPENDEN DAN NON INDEPENDEN

Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bisokop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bisokop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Baca

MARVEL PERJUANGAN

Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Baca

GREEN BOOK (Peter Farrelly, 2018)

Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Baca

APA JANG KAU TJARI, PALUPI (Asrul Sani, 1969)

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Baca

ONE CUT OF THE DEAD a.k.a KAMERA O TOMERU NA! (Shinichiro Ueda, 2017)

Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Baca

REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Baca

REVIEW SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan, Cinta (Hanung Bramantyo & X. Jo, 2018)

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Baca

SINEMA DAN AKAR KEKERASAN

LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
Baca

Review A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Baca

Review THE WOLF OF WALL STREET (Martin Scorsese, 2013)

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Baca

REVIEW TAMPOPO (Juzo Itami, 1985)

Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA