Yang Terbaru

JOHN WICK Chapter 2 (2017, Chad Stahelski)

Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bhakan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ay karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bhakan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ay karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Baca

KONG: SKULL ISLAND (2017, Jordan Vogt-Roberts)

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Baca

HARGA SENI

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Baca

SOFTWARE GRATIS BUAT BIKIN FILM

Shotcut, salah satu software video editing gratis terbaik

Untuk mengedit film diperlukan beberapa SOFTWARE. Jarang sekali kita menggantungkan cuma pada satu software. Berikut ini daftar software yang kita perlukan mulai dari yang terpenting hingga yang optional:

·         OPERATING SYSTEM: Ini jelas karena tanpa itu komputer nggak jalan. Untuk mengedit film biasanya diperlukan spesifikasi tertentu, misalnya 64 bit.

·         SOFTWARE EDITING VIDEO: Banyak sekali software video yang beredar mulai dari yang simple hingga yang powerful. Semakin powerful tentu makin berat kerjanya.

·         SOFTWARE EDITING AUDIO: Software ini penting buat merekam, mengedit dan merekayasa efek suara. Kadang juga untuk bikin musik.

·         SOFTWARE BIKIN MUSIK: Software untuk khusus untuk bikin musik. Lebih baik bikin musik sendiri untuk film kita.

·         VIDEO/AUDIO CONVERTER: Berguna buat meng-convert file agar lebih ramping, atau jika file video dari kamera gak kebaca codec-nya.

·         SOFTWARE PENULISAN: Ada 2 macam yang kita butuhkan: Ngetik secara umum dan yang khusus buat nulis skenario.

·         SOFTWARE EDITING FOTO: Berguna buat bikin poster, visual effect sederhana dll.

·         SOFTWARE EDITING VEKTOR GRAFIS: Ini buat bikin logo, title, poster dll.

·         SOFTWARE COMPOSITING: Buat bikin visual effect seperti green screen, matte, compositing dll.

Tempat downloadnya di sini. Klik nama softwarenya ya.

No.
Fungsi
GRATIS
Nggak Gratis
1
OPERATING SYSTEM
2
SOFTWARE EDITING VIDEO
3
SOFTWARE EDITING AUDIO
4
SOFTWARE BIKIN MUSIK
Cubase trial
5
VIDEO/AUDIO CONVERTER
6
SOFTWARE PENULISAN
Umum
Ms Word trial
Skenario
Final Draft trial
7
SOFTWARE EDITING FOTO
8
SOFTWARE EDITING VEKTOR
Corel Draw trial
9
SOFTWARE COMPOSITING
















Kalo saya kurang update bagi-bagi info ya 😊



Shotcut, salah satu software video editing gratis terbaik

Untuk mengedit film diperlukan beberapa SOFTWARE. Jarang sekali kita menggantungkan cuma pada satu software. Berikut ini daftar software yang kita perlukan mulai dari yang terpenting hingga yang optional:

·         OPERATING SYSTEM: Ini jelas karena tanpa itu komputer nggak jalan. Untuk mengedit film biasanya diperlukan spesifikasi tertentu, misalnya 64 bit.

·         SOFTWARE EDITING VIDEO: Banyak sekali software video yang beredar mulai dari yang simple hingga yang powerful. Semakin powerful tentu makin berat kerjanya.

·         SOFTWARE EDITING AUDIO: Software ini penting buat merekam, mengedit dan merekayasa efek suara. Kadang juga untuk bikin musik.

·         SOFTWARE BIKIN MUSIK: Software untuk khusus untuk bikin musik. Lebih baik bikin musik sendiri untuk film kita.

·         VIDEO/AUDIO CONVERTER: Berguna buat meng-convert file agar lebih ramping, atau jika file video dari kamera gak kebaca codec-nya.

·         SOFTWARE PENULISAN: Ada 2 macam yang kita butuhkan: Ngetik secara umum dan yang khusus buat nulis skenario.

·         SOFTWARE EDITING FOTO: Berguna buat bikin poster, visual effect sederhana dll.

·         SOFTWARE EDITING VEKTOR GRAFIS: Ini buat bikin logo, title, poster dll.

·         SOFTWARE COMPOSITING: Buat bikin visual effect seperti green screen, matte, compositing dll.

Tempat downloadnya di sini. Klik nama softwarenya ya.

No.
Fungsi
GRATIS
Nggak Gratis
1
OPERATING SYSTEM
2
SOFTWARE EDITING VIDEO
3
SOFTWARE EDITING AUDIO
4
SOFTWARE BIKIN MUSIK
Cubase trial
5
VIDEO/AUDIO CONVERTER
6
SOFTWARE PENULISAN
Umum
Ms Word trial
Skenario
Final Draft trial
7
SOFTWARE EDITING FOTO
8
SOFTWARE EDITING VEKTOR
Corel Draw trial
9
SOFTWARE COMPOSITING
















Kalo saya kurang update bagi-bagi info ya 😊



Baca

Masalah Yang Dihadapi Filmmaker Laga Indie di Indonesia

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Baca

Mengapa Film G30S/PKI Penting Bagi Saya?

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Baca

TENTANG LUC BESSON

Luc Besson adalah sutradara Perancis yang mengawali kegemaran saya terhadap film-film non Hollywood. Kalo nggak salah inget, inilah awal saya menggemari film-film Perancis dan Eropa setelah saya bosan dengan Hollywood. Ketika pergi ke rental film (favorit saya Sketsa Sinemadeus di Jogja dulu), saya mikirnya nyari film bagus yang nggak berbahasa Inggris.

Style Luc Besson itu sebenarnya "Hollywood" banget. Cinéma du look, istilah para kritikus film Perancis kala itu. Cinéma du look itu mentingin gaya daripada isi. Ya mungkin film Eropa kala itu "nyeni" atau avant garde sedangkan Luc Besson bikin film yang stylish dan mudah dicerna. Makanya dibilang ia itu "Ngoliwud".

Luc adalah sutradara Perancis yang paling sering bikin film berbahasa Inggris (setau saya). Film-film lawasnya menarik bagi saya: Kekelaman, kekerasan dan ironi. Makin ke sini filmnya semakin berwarna. Nggak suram lagi. Saya kurang menyukai karya-karya dia yang semakin ke sini (sejak era Arthur & The Minimoys). Film Luc sedikit banyak telah mempengaruhi saya. Saat itu saya belum "kenal" Quentin Tarantino. Hanya ada 3 karya terbaik dari Luc Besson yang terus bergaung di diri saya hingga kini: LEON, NIKITA dan SUBWAY.



LEON
Dibintangi Jean Reno. Kisahnya tentang pembunuh bayaran yang bersahabat dengan gadis belia bernama Mathilda. Mathilda diperankan oleh Natalie Portman dengan sangat mengesankan. Di film ini saya pertamakali kagum pada Gary Oldman. Leon adalah pembunuh bayaran yang ngekos di sebuah apartemen. Dia memelihara sebuah tanaman semacam "beras kutah"...nggak ngerti saya nama tanaman ini. Di kampung namanya gitu. Leon berkenalan dengan Mathilda...dan tentunya masalah di belakangnya yang kemudian berujung pada baku tembak antara dirinya versus para polisi korup yang dipimpin Gary Oldman. LEON sangat keren bagi saya. Mungkin ini pula yang bikin saya demen film noir.

NIKITA
Nikita adalah seorang femme fatale (pembunuh bayaran cewek). Tak banyak yang bisa saya ingat dengan film ini selain ada aktor Tcheky Karyo sebagai antagonis. Tapi pengaruh film ini bahkan sampai sekarang...saya suka bikin karakter cewek yang jago membunuh.

SUBWAY
Film yang dibintangi Christopher Lambert dan Isabella Adjani ini tidak sekeren atau se-stylish LEON dan NIKITA. Tapi film ini paling besar pengaruhnya bagi saya. Sejak nonton inilah saya memikirkan soal film action yang "punya hati". Saat itu saya belum menemukan film action yang punya bobot sinematik, cerita dan karakter. Jaman segitu film action kebanyakan jual keseruan. Sampai sekarang pun jarang bisa nemu film action yang kuat di segala aspek: cinematography, story, characters dan tentu saja action itu sendiri. Saat itu saya bergumam pada diri saya...kalo kelakon bisa bikin film, saya mau film saya hidup, bercerita dan laganya tetep seru. Subway kayaknya bukan film action sih...tapi dari film inilah saya merumuskan visi film saya.

Lalu masuklah era Youtube. Banyak yang bikin film action indie. Kalo saya amati, kebanyakan nggak digarap "serius". Paling-paling jual berantemnya doang. Kalo nonton gini sering banget saya skip. Lihat yang gelutnya doang. Terngiang oleh film-film lawas Luc Besson, saya mau yang lebih. Saya mau ada cerita. Cerita yang serius pula ya...bukan drama-drama yang dipaksakan.

Emang The Raid adalah pemicu yang luar biasa. Setelahnya orang-orang pada "demam kekerasan" pada film laga...eh ya namanya film laga kalo nggak keras gimana ya? Haha tapi saya masih belum menemukan film laga yang kuat pada cerita dan penceritaan (storytelling). Meski The Raid statusnya udah "cult" tapi formula ini nggak bisa diulang. Ia akan menjadi satu-satunya film "tanpa cerita yang kuat" yang akan terlihat keren ditonton sampai kapanpun.

Trus, karya Luc Besson yang baru-baru apa yang favorit?

Sudah lumayan sukar bagi saya menyukai karya Luc Besson yang baru. Tapi kalo memilih, saya suka Les Aventures extraordinaires d'Adèle Blanc-Sec.
Luc Besson adalah sutradara Perancis yang mengawali kegemaran saya terhadap film-film non Hollywood. Kalo nggak salah inget, inilah awal saya menggemari film-film Perancis dan Eropa setelah saya bosan dengan Hollywood. Ketika pergi ke rental film (favorit saya Sketsa Sinemadeus di Jogja dulu), saya mikirnya nyari film bagus yang nggak berbahasa Inggris.

Style Luc Besson itu sebenarnya "Hollywood" banget. Cinéma du look, istilah para kritikus film Perancis kala itu. Cinéma du look itu mentingin gaya daripada isi. Ya mungkin film Eropa kala itu "nyeni" atau avant garde sedangkan Luc Besson bikin film yang stylish dan mudah dicerna. Makanya dibilang ia itu "Ngoliwud".

Luc adalah sutradara Perancis yang paling sering bikin film berbahasa Inggris (setau saya). Film-film lawasnya menarik bagi saya: Kekelaman, kekerasan dan ironi. Makin ke sini filmnya semakin berwarna. Nggak suram lagi. Saya kurang menyukai karya-karya dia yang semakin ke sini (sejak era Arthur & The Minimoys). Film Luc sedikit banyak telah mempengaruhi saya. Saat itu saya belum "kenal" Quentin Tarantino. Hanya ada 3 karya terbaik dari Luc Besson yang terus bergaung di diri saya hingga kini: LEON, NIKITA dan SUBWAY.



LEON
Dibintangi Jean Reno. Kisahnya tentang pembunuh bayaran yang bersahabat dengan gadis belia bernama Mathilda. Mathilda diperankan oleh Natalie Portman dengan sangat mengesankan. Di film ini saya pertamakali kagum pada Gary Oldman. Leon adalah pembunuh bayaran yang ngekos di sebuah apartemen. Dia memelihara sebuah tanaman semacam "beras kutah"...nggak ngerti saya nama tanaman ini. Di kampung namanya gitu. Leon berkenalan dengan Mathilda...dan tentunya masalah di belakangnya yang kemudian berujung pada baku tembak antara dirinya versus para polisi korup yang dipimpin Gary Oldman. LEON sangat keren bagi saya. Mungkin ini pula yang bikin saya demen film noir.

NIKITA
Nikita adalah seorang femme fatale (pembunuh bayaran cewek). Tak banyak yang bisa saya ingat dengan film ini selain ada aktor Tcheky Karyo sebagai antagonis. Tapi pengaruh film ini bahkan sampai sekarang...saya suka bikin karakter cewek yang jago membunuh.

SUBWAY
Film yang dibintangi Christopher Lambert dan Isabella Adjani ini tidak sekeren atau se-stylish LEON dan NIKITA. Tapi film ini paling besar pengaruhnya bagi saya. Sejak nonton inilah saya memikirkan soal film action yang "punya hati". Saat itu saya belum menemukan film action yang punya bobot sinematik, cerita dan karakter. Jaman segitu film action kebanyakan jual keseruan. Sampai sekarang pun jarang bisa nemu film action yang kuat di segala aspek: cinematography, story, characters dan tentu saja action itu sendiri. Saat itu saya bergumam pada diri saya...kalo kelakon bisa bikin film, saya mau film saya hidup, bercerita dan laganya tetep seru. Subway kayaknya bukan film action sih...tapi dari film inilah saya merumuskan visi film saya.

Lalu masuklah era Youtube. Banyak yang bikin film action indie. Kalo saya amati, kebanyakan nggak digarap "serius". Paling-paling jual berantemnya doang. Kalo nonton gini sering banget saya skip. Lihat yang gelutnya doang. Terngiang oleh film-film lawas Luc Besson, saya mau yang lebih. Saya mau ada cerita. Cerita yang serius pula ya...bukan drama-drama yang dipaksakan.

Emang The Raid adalah pemicu yang luar biasa. Setelahnya orang-orang pada "demam kekerasan" pada film laga...eh ya namanya film laga kalo nggak keras gimana ya? Haha tapi saya masih belum menemukan film laga yang kuat pada cerita dan penceritaan (storytelling). Meski The Raid statusnya udah "cult" tapi formula ini nggak bisa diulang. Ia akan menjadi satu-satunya film "tanpa cerita yang kuat" yang akan terlihat keren ditonton sampai kapanpun.

Trus, karya Luc Besson yang baru-baru apa yang favorit?

Sudah lumayan sukar bagi saya menyukai karya Luc Besson yang baru. Tapi kalo memilih, saya suka Les Aventures extraordinaires d'Adèle Blanc-Sec.
Baca

TENTANG QUENTIN TARANTINO

Saya akan ngobrolin soal Quentin Tarantino, salah satu filmmaker terhebat versi saya.

Nonton film-film Tarantino itu kayak makan semacam sandwich. Tapi sandwich ini urutan lapisannya nggak biasa. Cara makannya pun nggak langsung utuh "mak-lheb" tapi musti di-emplok per lapisan. Sepertiga bagian awal isinya cuman roti tawar. Makin ke tengah berasalah keju, salad dan aroma dagingnya. Masih aromanya doang...Dagingnya sendiri nyempil di bagian sepertiga terakhir. Dan ini bukan daging biasa... so tasty, rasa dan aromanya sama kuatnya. Setelah itu apakah dagingnya abis? oooh enggak. Setelah itu akan terasa cipratan saos yang pedas dan kaya rempah-rempah. Awal-awal nonton Tarantino tu emang bikin nguantuk polll. Tapi begitu nyampe bagian "daging"...langsung melek. Nonton Tarantino nggak bisa jatuh hati pada pandangan pertama. Saya perlu 5 taunan lebih untuk bisa suka.


Karya pertama Tarantino yang saya tonton adalah Kill Bill. Lalu Pulp Fiction. Kill Bill lumayanlah tapi film apaan nehhh?.... Pulp Fiction film ora nggenah. Namun semua terbalikkan ketika saya nonton Inglourious Basterds. Sandwich-nya Inglouriois Basterds ini beda. Semuanya daging. Berikutnya, saya jadi lebih sabar nonton Tarantino. Apa sih yang bikin jatuh hati pada film-film Quentin Tarantino?

1. DIALOG. Dialog-dialog dalam film Tarantino cerdas, unik dan khas. Seringkali terasa menggelikan.

"What is cheersleader movie?"
"A movie about cheersleader."

Entah kenapa dialog ini sering nempel di kepala saya dan terasa menggelikan. Dialog dalam film Tarantino seringkali berpanjang-panjang. Awalnya saya nggak telaten. Tapi ternyata dialog tersebut membuat karakternya serasa kian tebal.

2. ESTETIKA KEKERASAN. Tak diragukan lagi, Tarantino identik dengan pertarungan mandi darah. Darah muncrat di filmnya Tarantino selalu dibikin lebay. Doi juga sering bikin kaget dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Uniknya...Tarantino sendiri mengaku bahwa ia tak suka kekerasan...kecuali di film. Ketularan deh saya.

3. KEKUATAN KARAKTER. Karakter dalam film-film Tarantino unik, kompleks dan kadang penuh penyamaran. Seringkali dalam film Tarantino, satu karakter memerankan karakter yang lain. Dalam Inglourious Basterds, para basterds menyamar jadi orang Italia. Dalam Django Unchained, 2 sahabat Dr. Schultz dan Django menyamar sebagai pembeli budak dll. Dari semua karakter ciptaan Tarantino, Col. Hans Landa yang pertama merebut perhatian saya. Lalu Hattori Hanzo di film Kill Bill. Tak cuma itu. Tarantino adalah aktor yang bagus juga. Aktingnya yang paling lucu bagi saya adalah di Django Unchained. Saat dia bilang, "Shut up, Black!..."

4. MUSIK. Tarantino nyaris gak pernah pake musik original di filmnya. Rata-rata dia pake musik atau lagu jadul. Dan entah gimana bisa pas banget ama soul filmnya. Saya jadi gemar Spaghetti Western ya gara-gara denger musik-musik di film Tarantino.

Nonton Tarantino buat pemula itu gak bisa sekali. Barangkali butuh waktu lama baru bisa jatuh cinta. Kalo anda mau belajar menikmati Tarantino, cobalah Inglourious Basterds, lalu Kill Bill baru yang lain.
Saya akan ngobrolin soal Quentin Tarantino, salah satu filmmaker terhebat versi saya.

Nonton film-film Tarantino itu kayak makan semacam sandwich. Tapi sandwich ini urutan lapisannya nggak biasa. Cara makannya pun nggak langsung utuh "mak-lheb" tapi musti di-emplok per lapisan. Sepertiga bagian awal isinya cuman roti tawar. Makin ke tengah berasalah keju, salad dan aroma dagingnya. Masih aromanya doang...Dagingnya sendiri nyempil di bagian sepertiga terakhir. Dan ini bukan daging biasa... so tasty, rasa dan aromanya sama kuatnya. Setelah itu apakah dagingnya abis? oooh enggak. Setelah itu akan terasa cipratan saos yang pedas dan kaya rempah-rempah. Awal-awal nonton Tarantino tu emang bikin nguantuk polll. Tapi begitu nyampe bagian "daging"...langsung melek. Nonton Tarantino nggak bisa jatuh hati pada pandangan pertama. Saya perlu 5 taunan lebih untuk bisa suka.


Karya pertama Tarantino yang saya tonton adalah Kill Bill. Lalu Pulp Fiction. Kill Bill lumayanlah tapi film apaan nehhh?.... Pulp Fiction film ora nggenah. Namun semua terbalikkan ketika saya nonton Inglourious Basterds. Sandwich-nya Inglouriois Basterds ini beda. Semuanya daging. Berikutnya, saya jadi lebih sabar nonton Tarantino. Apa sih yang bikin jatuh hati pada film-film Quentin Tarantino?

1. DIALOG. Dialog-dialog dalam film Tarantino cerdas, unik dan khas. Seringkali terasa menggelikan.

"What is cheersleader movie?"
"A movie about cheersleader."

Entah kenapa dialog ini sering nempel di kepala saya dan terasa menggelikan. Dialog dalam film Tarantino seringkali berpanjang-panjang. Awalnya saya nggak telaten. Tapi ternyata dialog tersebut membuat karakternya serasa kian tebal.

2. ESTETIKA KEKERASAN. Tak diragukan lagi, Tarantino identik dengan pertarungan mandi darah. Darah muncrat di filmnya Tarantino selalu dibikin lebay. Doi juga sering bikin kaget dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Uniknya...Tarantino sendiri mengaku bahwa ia tak suka kekerasan...kecuali di film. Ketularan deh saya.

3. KEKUATAN KARAKTER. Karakter dalam film-film Tarantino unik, kompleks dan kadang penuh penyamaran. Seringkali dalam film Tarantino, satu karakter memerankan karakter yang lain. Dalam Inglourious Basterds, para basterds menyamar jadi orang Italia. Dalam Django Unchained, 2 sahabat Dr. Schultz dan Django menyamar sebagai pembeli budak dll. Dari semua karakter ciptaan Tarantino, Col. Hans Landa yang pertama merebut perhatian saya. Lalu Hattori Hanzo di film Kill Bill. Tak cuma itu. Tarantino adalah aktor yang bagus juga. Aktingnya yang paling lucu bagi saya adalah di Django Unchained. Saat dia bilang, "Shut up, Black!..."

4. MUSIK. Tarantino nyaris gak pernah pake musik original di filmnya. Rata-rata dia pake musik atau lagu jadul. Dan entah gimana bisa pas banget ama soul filmnya. Saya jadi gemar Spaghetti Western ya gara-gara denger musik-musik di film Tarantino.

Nonton Tarantino buat pemula itu gak bisa sekali. Barangkali butuh waktu lama baru bisa jatuh cinta. Kalo anda mau belajar menikmati Tarantino, cobalah Inglourious Basterds, lalu Kill Bill baru yang lain.
Baca

MBOK YA YANG SERIUS KALO BIKIN KARYA MAIN-MAIN

Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Baca

SENI, KREATIVITAS dan MORALITAS


DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)



DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA