Yang Terbaru

STORYTELLING VS ENGAGEMENT (BELAJAR DARI TOKUSATSU)

Kemarin-kemarin saya percaya bahwa storytelling adalah kunci sukses sebuah film. Storytelling adalah urusan "memanipulasi" informasi agar penonton percaya dan terlibat (engaged). Namun belakangan ini saya mulai melihat ada kemungkinan lain.

Untuk membuat penonton terlibat, engaged, bisa juga tanpa storytelling. Engagement adalah hal yang bisa bikin penggemar jatuh cinta. Lha namanya cinta kan gak peduli latar belakangnya. Kita bisa kesengsem sama Ultraman tanpa peduli dia anak siapa, sukunya apa, agamanya apa...


Saya mengambil film-film tokusatsu atau super sentai sebagai contoh kasus. Saya tak paham kenapa film-film itu digemari gila-gilaan meski mengusung dunia dan cerita yang unbelievable. Tokoh-tokoh yang sehari-hari pakai kostum, jagoan yang bisa "henshin" tanpa kejelasan dalil fisika, asal-usul yang menimbulkan tanda tanya besar, dunia monster yang absurd dll. Belum lagi sinematografi yang tanpa polesan. Dishoot sederhana layaknya FTV tanpa ambisi lebih membuat gambar-gambar yang kuat.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa saya nggak bisa menikmati sajian macam ini. Film-film tokusatsu dan super sentai punya fans base jutaan di seluruh dunia, kenapa saya bukan salah satunya? Bagaimana bisa karakter-karakter itu bisa dapet engagement masif?

Apa mungkin karena jutaan fansnya menyukai karena itu mereka tonton sedari kecil? Jadi ketika mereka dewasa, karakter-karakter kesukaan mereka udah engaged ke selera mereka. Karena itulah saya pikir storytelling bukan satu-satunya (meski saya tetep aja mendewakannya hehehe). Ketika satu karakter dalam film udah punya fans base yang artinya engagementnya solid dan lama maka kayaknya penceritaan bisa dikesampingkan. Tuh film absurd gak absurd tetep punya massa penonton. Toh cerita tapi kalo gak engage ke yang nonton percuma juga.

Hal yang sama mungkin terjadi pada konten yutub. Kok bisa satu konten yang saya pribadi gak tau bagusnya di mana disukai banyak orang. Saya tahu pandangan tiap orang akan bagusnya sesuatu itu berbeda-beda. Apalagi selera saya juga terlalu sempit. Namun yang pasti, karya-karya itu sudah punya engagement khusus ke pemirsanya.

Jadi kalo ukuran suksesnya cuma agar disukai penonton kayaknya gak papa gak mahir storytelling asal udah punya engagement dengan mereka hehehe ...

Tapi cuman ngomong kek gini gampang ya...hmmm
Kemarin-kemarin saya percaya bahwa storytelling adalah kunci sukses sebuah film. Storytelling adalah urusan "memanipulasi" informasi agar penonton percaya dan terlibat (engaged). Namun belakangan ini saya mulai melihat ada kemungkinan lain.

Untuk membuat penonton terlibat, engaged, bisa juga tanpa storytelling. Engagement adalah hal yang bisa bikin penggemar jatuh cinta. Lha namanya cinta kan gak peduli latar belakangnya. Kita bisa kesengsem sama Ultraman tanpa peduli dia anak siapa, sukunya apa, agamanya apa...


Saya mengambil film-film tokusatsu atau super sentai sebagai contoh kasus. Saya tak paham kenapa film-film itu digemari gila-gilaan meski mengusung dunia dan cerita yang unbelievable. Tokoh-tokoh yang sehari-hari pakai kostum, jagoan yang bisa "henshin" tanpa kejelasan dalil fisika, asal-usul yang menimbulkan tanda tanya besar, dunia monster yang absurd dll. Belum lagi sinematografi yang tanpa polesan. Dishoot sederhana layaknya FTV tanpa ambisi lebih membuat gambar-gambar yang kuat.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa saya nggak bisa menikmati sajian macam ini. Film-film tokusatsu dan super sentai punya fans base jutaan di seluruh dunia, kenapa saya bukan salah satunya? Bagaimana bisa karakter-karakter itu bisa dapet engagement masif?

Apa mungkin karena jutaan fansnya menyukai karena itu mereka tonton sedari kecil? Jadi ketika mereka dewasa, karakter-karakter kesukaan mereka udah engaged ke selera mereka. Karena itulah saya pikir storytelling bukan satu-satunya (meski saya tetep aja mendewakannya hehehe). Ketika satu karakter dalam film udah punya fans base yang artinya engagementnya solid dan lama maka kayaknya penceritaan bisa dikesampingkan. Tuh film absurd gak absurd tetep punya massa penonton. Toh cerita tapi kalo gak engage ke yang nonton percuma juga.

Hal yang sama mungkin terjadi pada konten yutub. Kok bisa satu konten yang saya pribadi gak tau bagusnya di mana disukai banyak orang. Saya tahu pandangan tiap orang akan bagusnya sesuatu itu berbeda-beda. Apalagi selera saya juga terlalu sempit. Namun yang pasti, karya-karya itu sudah punya engagement khusus ke pemirsanya.

Jadi kalo ukuran suksesnya cuma agar disukai penonton kayaknya gak papa gak mahir storytelling asal udah punya engagement dengan mereka hehehe ...

Tapi cuman ngomong kek gini gampang ya...hmmm
Baca

MENGGOLONGKAN PENONTON FILM (CARA BELAJAR MENGAPRESIASI FILM)

Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Baca

CONTRATIEMPO a.k.a THE INVISIBLE GUEST (2016, Oriol Paulo), BEST SPANISH THRILLER

Film asal Spanyol yang disutradarai oleh Oriol Paulo ini adalah film yang cocok bagi para penggemar thriller detektif dan konspirasi. Tak hanya plot yang rumit khas film persekongkolan, sinematografinya juga sangat berkelas. Tak akan membuat mengantuk pada menit-menit awalnya.

Adrián Doria, seorang pengusaha sukses ditangkap polisi sedang bersama mayat Laura Vidal, selingkuhannya di sebuah kamar hotel yang terkunci dari dalam. Sejak Laura dan Adrián berada di kamar, saksi menyatakan bahwa tak ada seorangpun keluar dari kamar tersebut. Maka tuduhan pembunuhan hanya bisa ditudingkan ke Adrián Doria seorang.

Adrián Doria yang mengaku tak bersalah kemudian didatangi oleh Virginia Goodman, pengacara kelas kakap yang akan menyelamatkan kariernya. Untuk itu Virginia meminta Adrián Doria menceritakan semua kejadiannya secara komplit. Namun ternyata cerita Adrián malah membuka labirin-labirin misteri yang makin rumit saja.


Meski mengasyikkan dari awal hingga akhir, film ini tentu bukan tanpa kekurangan. Alam di Contratiempo adalah alamnya film detektif, di mana semua kejadian tidak berlangsung chaotic. Kalau pada kejadian sehari-hari, kita bisa pastikan kalau yang demikian itu "too good to be true". Alih-alih menjebak seseorang dengan highly intricate plot macam gitu, kalo di Indonesia mah jebak aja dia dengan tuduhan menista agama hahaha. Beres dah. Gak usah mikir banyak-banyak to?

Ketika plot yang disusun terlalu rumit, maka resikonya akan ada karakter yang kehadirannya seolah cuma sebagai penyumbat lubang atau "kawat pengikat" rangkaian mesin yang rumit agar bekerja normal. Kekurangan ini mungkin baru bisa dirasakan begitu filmnya usai. Tapi tak masalah. Sebagai sebuah hidangan, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Twist yang diberikan pun lumayan rapih meski kalau kita lebih jeli dengan detail, maka hal itu akan terbaca dari awal-awal.


Saya mengganjarnya lima bintang dari lima bintang karena film ini berhasil menggugah saya dari kantuk yang sangat di waktu siang terik begini. Ini bukan hal yang mudah lho. Banyak film bagus tapi masih bikin ngantuk di awal-awal. Nonton Contratiempo kayak minum secangkir kopi panas. Dan saya rasa kopi racikan ini menjadi begitu sempurna ditunjang oleh performa para bintangnya:

Mario Casas as Adrián Doria, seorang pengusaha yang terjebak dalam kasus berliku. Adrian adalah sosok impian para selingkuhan; ganteng, kaya dan perhatian.

Bárbara Lennie as Laura Vidal. Memerankan dengan sempurna sosok perempuan yang manipulatif sekaligus pengidap anxiety disorder. Pas menjadi selingkuhan pengusaha.

Ana Wagener as Virginia Goodman. Sepintas karakter yang diperankannya nampak komikal. Akan tetapi jangan salah! Dia adalah karakter yang setangguh Sherlock Holmes. Mungkin pas jadi emaknya Sherlock.

José Coronado as Tomás Garrido. Memerankan seorang pria kharismatik yang tak putus asa mencari keadilan. Polisi telah membuatnya down, tapi ia tak berhenti sampai di situ.

Film ini recommeded banget untuk anda yang ingin mengusir kantuk di sela-sela sedang menjalani proses kreatif. Seperti secangkir kopi.
Film asal Spanyol yang disutradarai oleh Oriol Paulo ini adalah film yang cocok bagi para penggemar thriller detektif dan konspirasi. Tak hanya plot yang rumit khas film persekongkolan, sinematografinya juga sangat berkelas. Tak akan membuat mengantuk pada menit-menit awalnya.

Adrián Doria, seorang pengusaha sukses ditangkap polisi sedang bersama mayat Laura Vidal, selingkuhannya di sebuah kamar hotel yang terkunci dari dalam. Sejak Laura dan Adrián berada di kamar, saksi menyatakan bahwa tak ada seorangpun keluar dari kamar tersebut. Maka tuduhan pembunuhan hanya bisa ditudingkan ke Adrián Doria seorang.

Adrián Doria yang mengaku tak bersalah kemudian didatangi oleh Virginia Goodman, pengacara kelas kakap yang akan menyelamatkan kariernya. Untuk itu Virginia meminta Adrián Doria menceritakan semua kejadiannya secara komplit. Namun ternyata cerita Adrián malah membuka labirin-labirin misteri yang makin rumit saja.


Meski mengasyikkan dari awal hingga akhir, film ini tentu bukan tanpa kekurangan. Alam di Contratiempo adalah alamnya film detektif, di mana semua kejadian tidak berlangsung chaotic. Kalau pada kejadian sehari-hari, kita bisa pastikan kalau yang demikian itu "too good to be true". Alih-alih menjebak seseorang dengan highly intricate plot macam gitu, kalo di Indonesia mah jebak aja dia dengan tuduhan menista agama hahaha. Beres dah. Gak usah mikir banyak-banyak to?

Ketika plot yang disusun terlalu rumit, maka resikonya akan ada karakter yang kehadirannya seolah cuma sebagai penyumbat lubang atau "kawat pengikat" rangkaian mesin yang rumit agar bekerja normal. Kekurangan ini mungkin baru bisa dirasakan begitu filmnya usai. Tapi tak masalah. Sebagai sebuah hidangan, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Twist yang diberikan pun lumayan rapih meski kalau kita lebih jeli dengan detail, maka hal itu akan terbaca dari awal-awal.


Saya mengganjarnya lima bintang dari lima bintang karena film ini berhasil menggugah saya dari kantuk yang sangat di waktu siang terik begini. Ini bukan hal yang mudah lho. Banyak film bagus tapi masih bikin ngantuk di awal-awal. Nonton Contratiempo kayak minum secangkir kopi panas. Dan saya rasa kopi racikan ini menjadi begitu sempurna ditunjang oleh performa para bintangnya:

Mario Casas as Adrián Doria, seorang pengusaha yang terjebak dalam kasus berliku. Adrian adalah sosok impian para selingkuhan; ganteng, kaya dan perhatian.

Bárbara Lennie as Laura Vidal. Memerankan dengan sempurna sosok perempuan yang manipulatif sekaligus pengidap anxiety disorder. Pas menjadi selingkuhan pengusaha.

Ana Wagener as Virginia Goodman. Sepintas karakter yang diperankannya nampak komikal. Akan tetapi jangan salah! Dia adalah karakter yang setangguh Sherlock Holmes. Mungkin pas jadi emaknya Sherlock.

José Coronado as Tomás Garrido. Memerankan seorang pria kharismatik yang tak putus asa mencari keadilan. Polisi telah membuatnya down, tapi ia tak berhenti sampai di situ.

Film ini recommeded banget untuk anda yang ingin mengusir kantuk di sela-sela sedang menjalani proses kreatif. Seperti secangkir kopi.
Baca

SUPER (James Gunn, 2010), SEKACAU-KACAUNYA FILM SUPERHERO

Udah jadi kebiasaan kalo ada film bagus, saya tertarik menelusuri jejak rekam sutradaranya ke belakang. Guardian of Galaxy 1 dan 2 buat saya adalah film yang bagus dan memuaskan. Saya suka visi James Gunn menjadikan sebuah kisah dari latar antah berantah dengan karakter-karakter aneh jadi tontonan asyik. Para penyelamat galaksi yang terdiri dari manusia yang merupakan anak blasteran manusia dan planet, rakun hasil rekayasa, pohon yang bisa nari dll. sebenarnya adalah ide komik yang absurd kalo difilmkan. Tapi toh ternyata James Gunn bisa mewujudkannya jadi tontonan menyenangkan.


Super adalah film bergenre superhero black comedy lawas yang ia bikin agak bersamaan waktunya dengan peluncuran Kick Ass (sutradara Matthew Vaughn). Kedua film ini nyrempet genre yang sama, superhero real life tanpa kekuatan super. Settingnya juga sama, sebuah kota kecil yang ditempati bajingan kelas lokal.

Belakangan Kick Ass jauh lebih sukses daripada punyanya James Gunn. Bukan karena Kick Ass berasal dari komik yang udah lebih dulu dikenal, tapi memang film itu jauh lebih baik daripada Super. So seburuk apakah Super?

Super bercerita tentang Frank Darbo (Rainn Wilson), seorang koki di sebuah warung yang sepi. Setelah Sarah (Liv Tyler) istrinya meninggalkannya gara-gara rayuan Jacques (Kevin Beacon) seorang bos narkoba, Frank terinspirasi jadi superhero. Ia pun membuat kostum murahan dan menjelma sebagai Crimson Bolt yang punya mental gak stabil. Sayangnya mental gak stabil ini tidak dalam artian asyik...lebih ke arah merusak karakterisasi filmnya. Lalu ia ketemu seorang Libby (Ellen Page) geek cewek yang merayunya agar jadi sidekicknya. Si Libby sama anehnya kayak Frank, tapi mentalnya jauh lebih terganggu. Mereka berdua hendak menumpas kejahatan terutama si Jacques yang selain pengedar narkoba juga mencuri istri Frank. Film ditutup dengan sebuah ending yang dark and annoying. Meski begitu, please do not spoil this shit ending ya hehehe :D

Karakter dalam film ini sungguh nggak stabil. Frank yang tindakannya ngawur mendadak menjadi bijak saat diperkosa Libby. What? Yes... Libby, yang diperanin Ellen Page memperkosa Si Frank, chef yang usianya jauh di atasnya untuk merayunya memberantas kejahatan malam-malam. Cukup annoying.

Frank adalah karakter yang mixed antara aneh, bijak, tak terkontrol, pemberani, pintar dan gegabah sekaligus. Keganjilan ini masih ditambahi dengan azbabun nuzul tindakannya yang gak jelas. Sukar menjelaskan motivasi si Frank ini. Dia jadi Crimson Bolt, superhero yang bersenjatakan kunci Inggris, untuk memberantas kejahatan. Tapi di lapangan ia memukul siapa saja yang menurutnya menyebalkan. Meski ia depresi dan kadang tak terkendali, ia masih bisa mengendalikan nafsu saat dirayu Libby.

Tanpa ada penjelasan, ujug-ujug ia bisa menjadi pakar senjata custom. Belum lagi, bagaimana ia yang cuma jadi koki di sebuah warung sepi bisa punya rumah yang cukup bagus? Duit darimana ia mampu belanja banyak bahan peledak?

Munculnya superhero religius yang ngasih motivasi gak jelas menambah absurditas film ini.

Jadi saya kadang mikir...mungkin yang nulis cerita bikinnya sambil mabok.

Yang menyelamatkan film ini mungkin pembawaan directing James Gunn yang nyantai dan gak berpretensi macem-macem. Aktor-aktornya pun performanya terlalu bagus untuk sebuah film dengan cerita yang jelek. Kalo anda mulai mengamati Michael Rooker setelah performanya sebagai Yondu Udonta di Guardian of Galaxy, maka mungkin anda akan mulai menyukainya. Dia juga main di film ini ama Sean Gunn, adiknya James Gunn yang jadi Kraglin di Guardian of the Galaxy. Ellen Page memukau dengan kekonyolannya. Image dia sebagai Kitty Pride di film X-Men ilang gak berbekas. Jangan lupa bahwa Rainn Wilson si aktor utama pun memberikan performa yang baik meski karakter yang ia perankan ya itu tadi...ditulis sambil mabok (kayaknya).

Entah deh untuk film ini sebaiknya anda nonton apa enggak. Terserah kalian aja. Kick Ass is better, Guardian of Galaxy is amazing (mainly because of it's soundtrack selection).
Udah jadi kebiasaan kalo ada film bagus, saya tertarik menelusuri jejak rekam sutradaranya ke belakang. Guardian of Galaxy 1 dan 2 buat saya adalah film yang bagus dan memuaskan. Saya suka visi James Gunn menjadikan sebuah kisah dari latar antah berantah dengan karakter-karakter aneh jadi tontonan asyik. Para penyelamat galaksi yang terdiri dari manusia yang merupakan anak blasteran manusia dan planet, rakun hasil rekayasa, pohon yang bisa nari dll. sebenarnya adalah ide komik yang absurd kalo difilmkan. Tapi toh ternyata James Gunn bisa mewujudkannya jadi tontonan menyenangkan.


Super adalah film bergenre superhero black comedy lawas yang ia bikin agak bersamaan waktunya dengan peluncuran Kick Ass (sutradara Matthew Vaughn). Kedua film ini nyrempet genre yang sama, superhero real life tanpa kekuatan super. Settingnya juga sama, sebuah kota kecil yang ditempati bajingan kelas lokal.

Belakangan Kick Ass jauh lebih sukses daripada punyanya James Gunn. Bukan karena Kick Ass berasal dari komik yang udah lebih dulu dikenal, tapi memang film itu jauh lebih baik daripada Super. So seburuk apakah Super?

Super bercerita tentang Frank Darbo (Rainn Wilson), seorang koki di sebuah warung yang sepi. Setelah Sarah (Liv Tyler) istrinya meninggalkannya gara-gara rayuan Jacques (Kevin Beacon) seorang bos narkoba, Frank terinspirasi jadi superhero. Ia pun membuat kostum murahan dan menjelma sebagai Crimson Bolt yang punya mental gak stabil. Sayangnya mental gak stabil ini tidak dalam artian asyik...lebih ke arah merusak karakterisasi filmnya. Lalu ia ketemu seorang Libby (Ellen Page) geek cewek yang merayunya agar jadi sidekicknya. Si Libby sama anehnya kayak Frank, tapi mentalnya jauh lebih terganggu. Mereka berdua hendak menumpas kejahatan terutama si Jacques yang selain pengedar narkoba juga mencuri istri Frank. Film ditutup dengan sebuah ending yang dark and annoying. Meski begitu, please do not spoil this shit ending ya hehehe :D

Karakter dalam film ini sungguh nggak stabil. Frank yang tindakannya ngawur mendadak menjadi bijak saat diperkosa Libby. What? Yes... Libby, yang diperanin Ellen Page memperkosa Si Frank, chef yang usianya jauh di atasnya untuk merayunya memberantas kejahatan malam-malam. Cukup annoying.

Frank adalah karakter yang mixed antara aneh, bijak, tak terkontrol, pemberani, pintar dan gegabah sekaligus. Keganjilan ini masih ditambahi dengan azbabun nuzul tindakannya yang gak jelas. Sukar menjelaskan motivasi si Frank ini. Dia jadi Crimson Bolt, superhero yang bersenjatakan kunci Inggris, untuk memberantas kejahatan. Tapi di lapangan ia memukul siapa saja yang menurutnya menyebalkan. Meski ia depresi dan kadang tak terkendali, ia masih bisa mengendalikan nafsu saat dirayu Libby.

Tanpa ada penjelasan, ujug-ujug ia bisa menjadi pakar senjata custom. Belum lagi, bagaimana ia yang cuma jadi koki di sebuah warung sepi bisa punya rumah yang cukup bagus? Duit darimana ia mampu belanja banyak bahan peledak?

Munculnya superhero religius yang ngasih motivasi gak jelas menambah absurditas film ini.

Jadi saya kadang mikir...mungkin yang nulis cerita bikinnya sambil mabok.

Yang menyelamatkan film ini mungkin pembawaan directing James Gunn yang nyantai dan gak berpretensi macem-macem. Aktor-aktornya pun performanya terlalu bagus untuk sebuah film dengan cerita yang jelek. Kalo anda mulai mengamati Michael Rooker setelah performanya sebagai Yondu Udonta di Guardian of Galaxy, maka mungkin anda akan mulai menyukainya. Dia juga main di film ini ama Sean Gunn, adiknya James Gunn yang jadi Kraglin di Guardian of the Galaxy. Ellen Page memukau dengan kekonyolannya. Image dia sebagai Kitty Pride di film X-Men ilang gak berbekas. Jangan lupa bahwa Rainn Wilson si aktor utama pun memberikan performa yang baik meski karakter yang ia perankan ya itu tadi...ditulis sambil mabok (kayaknya).

Entah deh untuk film ini sebaiknya anda nonton apa enggak. Terserah kalian aja. Kick Ass is better, Guardian of Galaxy is amazing (mainly because of it's soundtrack selection).
Baca

THE SHAPE OF WATER (Guillermo Del Toro, 2017), SEBUAH ROMANSA ANTAR SPESIES

Ada jenis-jenis film yang "bukan untuk semua orang". Sering juga film-film semacam itu dibikin oleh sutradara yang "bukan untuk semua orang". Apanya yang bukan untuk semua orang? Bukannya tiap film ada penontonnya sendiri-sendiri?

Ya ini cuman istilah yang agak "gebyah uyah" alias generalistik sih. Paling tidak film yang untuk semua orang, secara statistik ditonton lebih banyak orang. Mungkin film box office atau blockbuster.

The Shape of Water adalah film bikinan seorang sutradara "selera banyak orang" (untuk nggak bilang mainstream). Akan tetapi menurut saya, kayaknya nih film bukan untuk semua orang. Agak kaget juga ketika film ini dinobatkan sebagai film terbaik di Academy Award. Bagi saya yang ngefans ama sutradaranya, ini berita yang nyenengin. Kapan lagi film monster bisa dapat penghargaan terbaik di ajang mainstream?


Guillermo Del Toro adalah seorang spesialis. Obsesinya adalah dunia fantasi, peri, magis dan monster. Secara khusus saya bilang Del Toro adalah spesialis monster. Hampir semua filmnya menampilkan monster atau makhluk-makhluk fantasi. Tapi sekaligus ia juga sutradara "selera banyak orang" karena Hellboy dan Pacific Rim itu box office. Lagi-lagi kedua film itu....ada monsternya hehehe.

Fantasi ala Del Toro bukan fantasi biasa ala dongeng balita. Ia punya citarasa yang kelam sehingga filmnya bisa disebut "Fairy Tales for Adults". Itu sudah terlihat di Pan's Labirynth. Pan's Labirynth meskipun sentral karakternya adalah gadis belia, namun latar kisahnya adalah kesuraman perang dunia. Kurang cocok ditonton anak-anak karena adegan gore dan sadistisnya.

The Shape of Water kurang lebih membawa vibrasi yang sama: Ini masih Fairy Tales for Adults. Dunia monster yang berkelindan dengan realita sosial politik. Sebuah "realisme magis". Saya begitu demen sama subgenre yang juga diusung oleh sastrawan Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia-Marquez ini. Saya pikir Del Toro adalah salah satu sutradara yang sukses mengemas realisme magis lewat film.

KISAHNYA

Elisa adalah seorang pembersih yang kerja di fasilitas rahasia milik pemerintah Amerika tahun 1960an. Suatu hari militer membawa sesosok makhluk amfibi yang katanya ditangkap di sungai Amazon. Makhluk yang berwujud humanoid mirip ikan itu ditahan di fasilitas itu untuk diteliti. Tujuan militer yang menyekapnya adalah mencari tahu apakah makhluk ini bisa berguna untuk misi ke luar angkasa. Saat itu Amerika dan Sovyet sedang dalam masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya ini saling berlomba dengan misi luar angkasa. Salah satu yang dibutuhkan dalam misi tersebut adalah kelinci percobaan yang akan dikirim ke antariksa sebelum nanti benar-benar memakai manusia.


Elisa, perempuan yang mengidap tuna wicara (tapi tidak tuna rungu) ini mencoba berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Selanjutnya konflik kepentingan pun terjadi. Col. Richard Strickland, pimpinan fasilitas tersebut ingin membedah makhluk itu hidup-hidup (vivisect) untuk meneliti anatominya.

Sedangkan Sovyet, yang tak ingin Amerika berhasil, memerintahkan Dr. Robert Hoffstetler alias Dimitri Mosenkov yang sebenarnya mata-mata Sovyet untuk membunuh makhluk tersebut. Dr. Robert Hoffstetler sendiri menentang keduanya. Sama seperti Elisa, ia melihat bahwa makhluk itu lebih mirip manusia daripada hewan amfibi.

Selanjutnya misi penyelamatan pun dilakukan. Singkat kata, Elisa berhasil membawa si makhluk Amazon ini ke apartemennya. Di sini Elisa menjalin hubungan yang makin intens dengan si makhluk, hingga ke hubungan seksual. Nah di sini pula yang kemudian menjadi titik kontroversi film ini.

Meski tetap ada adegan berdarah dan gore (tipikal Del Toro), sebenarnya film ini happy ending.

REAKSI AUDIENS

Film ini banyak dicaci para penikmat karya De Toro antara lain karena:

-Mengira bahwa film ini adalah the origin of Abe Sapiens dari Hellboy. Selain penampakannya mirip, karakter manusia amfibi ini juga dimainkan oleh orang yang sama, Doug Jones.

-Adegan masturbasi Elisa yang berlebihan porsinya. Entah kenapa ini diprotes hehehe. Apa karena pemerannya tidak cantik?

-Hubungan romatik dan seksual yang terlalu aneh. Si makhluk amfibi bukan manusia namun juga bukan binatang. Anggaplah ia spesies yang konon didewakan oleh penduduk tepi Amazon. Banyak penonton tak bisa menerima ini. Hubungan Elisa dengan si makhluk amfibi lebih terlihat menjijikkan kata mereka.

REVIEW SAYA

Dari pembukanya, aura magisme realis ala Del Toro langsung semerbak. Musik misterius dari Alexandre Desplat mengapungkan imajinasi kita ke alam fantasi. Detail settingnya begitu nyata. Tanki air yang karatan, bangunan yang lembab dan juga nuansa 60an dengan mobil Cadillac.

Disain si makhluk amfibi pun, meski mencomot dari Creature The Black Lagoon dan Abe Sapiens dari Hellboy tetaplah terlihat mengagumkan. Sirip, insang dan matanya yang hidup, membuat kita membayangkan jangan-jangan makhluk semacam ini juga hidup di sungai-sungai pedalaman Kalimantan.

Beberapa belas tahun silam, Del Toro membikin Pan's Labirynth yang karakter sentralnya adalah gadis belia yang menarik. Sedangkan di film ini, karakter utamanya tidaklah cukup cantik dalam standar film umum.

Elisa yang diperankan oleh Sally Hawkins adalah perempuan bertampang depresif, terasing sekaligus punya orientasi seks menyimpang. Namun justru inilah kekuatan karakternya. Sally membawakannya dengan sangat meyakinkan. Elisa menjadi karakter perempuan terasing yang tidak lemah. Saat cinta menguasainya, ia mau berkorban apapun.

Saya sendiri begitu terkesan oleh performa Michael Shannon. Aktor bertampang berandalan ini memang langganan peran antagonis. Simaklah saat dia jadi Jendral Zod musuhnya Man of Steel. Jarang kita bisa bayangin Shannon main sebagai orang baik kecuali di filmnya Jeff Nichols, Midnight Special. Lihat betapa bengisnya tampangnya sebagai Colonel Richard Strickland dengan dua jarinya yang busuk itu.

Sayangnya, performa jajaran cast yang unggul ini kurang didukung dengan motivasi plot yang meyakinkan. Mungkin benar kata orang-orang, ikatan batin Elisa dengan si makhluk amfibi kurang dieksplorasi dengan anggun. Del Toro malah sibuk membangun adegan-adegan aneh semacam nari-nari ala film musikal vintage dan juga sex underwater yang rada ajaib. Gila aja nyumpel pintu kamar mandi biar jadi kolam renang...

Belum lagi ada satu keanehan yang bikin saya mikir...

Tuh makhluk kan nemunya di sungai Amazon? Ngapain dia butuh air asin ya?

Meski begitu secara keseluruhan saya suka film ini. Karena saya mungkin termasuk orang yang sedikit tadi... penggemar film yang "bukan untuk semua orang"... ya meski nggak ekstrim sih. Saya ini penyuka film monster.

The Shape of Wateri bisa jadi akan sangat anda sukai atau juga sangat anda benci, bahkan bagi anda yang pecinta film monster sekalipun.

The Shape of Water secara tematik sebenarnya tidak orginal. Selain secara estetik merupakan hommage untuk film monster klasik, Creature Of The Black Lagoon, film ini mengulang lagi tema-tema lawas cinta antar dunia yang berbeda. Bahkan lebih tegasnya: cinta antar spesies! Sebut saja Beauty and The Beast, Splash, Putri Duyung karya H.C. Andersen dll.

Kalo ngomong cinta antar spesies, kita tak hanya bicara romansa manusia dan alien dari planet lain. Bagaimana dengan spesies di bumi yang sama? Repotnya cinta ini juga termasuk aspek seksualnya.

Jika dunia lebih terbuka dengan isu homoseksualitas, tidak demikian dengan zoophilia dan bestiality. Yang terakhir ini adalah penyakit psikis yang memiliki sejarah panjang. Lukisan pornografis di reruntuhan Pompei menunjukkan bahwa praktek seksualitas antar spesies ini telah terjadi sejak lama.

Mungkin yang membuat kisah Elisa ini "menjijikkan" adalah kekaburan jatidiri sang manusia amfibi. Apakah ia hanya binatang yang cerdas? Atau ia sebenarnya lebih dekat dengan manusia?

Tapi bagaimana bisa orang umum menerimanya sebagai manusia dengan wujud bersisik mirip ikan berjalan gitu?

Demikianlah, maka bersamaan dengan sambutan positif oleh juri Academy Award, film ini pun bertaburan cacimaki oleh para penonton karya Del Toro sebelumnya.

Jika anda suka Pan's Labirynth saya pikir anda bisa saja menyukai The Shape of Water. Tetapi ingat, ini adalah Fairy Tale for Adults. Tidak cocok untuk semua umur... dan tak cocok untuk semua selera.
Ada jenis-jenis film yang "bukan untuk semua orang". Sering juga film-film semacam itu dibikin oleh sutradara yang "bukan untuk semua orang". Apanya yang bukan untuk semua orang? Bukannya tiap film ada penontonnya sendiri-sendiri?

Ya ini cuman istilah yang agak "gebyah uyah" alias generalistik sih. Paling tidak film yang untuk semua orang, secara statistik ditonton lebih banyak orang. Mungkin film box office atau blockbuster.

The Shape of Water adalah film bikinan seorang sutradara "selera banyak orang" (untuk nggak bilang mainstream). Akan tetapi menurut saya, kayaknya nih film bukan untuk semua orang. Agak kaget juga ketika film ini dinobatkan sebagai film terbaik di Academy Award. Bagi saya yang ngefans ama sutradaranya, ini berita yang nyenengin. Kapan lagi film monster bisa dapat penghargaan terbaik di ajang mainstream?


Guillermo Del Toro adalah seorang spesialis. Obsesinya adalah dunia fantasi, peri, magis dan monster. Secara khusus saya bilang Del Toro adalah spesialis monster. Hampir semua filmnya menampilkan monster atau makhluk-makhluk fantasi. Tapi sekaligus ia juga sutradara "selera banyak orang" karena Hellboy dan Pacific Rim itu box office. Lagi-lagi kedua film itu....ada monsternya hehehe.

Fantasi ala Del Toro bukan fantasi biasa ala dongeng balita. Ia punya citarasa yang kelam sehingga filmnya bisa disebut "Fairy Tales for Adults". Itu sudah terlihat di Pan's Labirynth. Pan's Labirynth meskipun sentral karakternya adalah gadis belia, namun latar kisahnya adalah kesuraman perang dunia. Kurang cocok ditonton anak-anak karena adegan gore dan sadistisnya.

The Shape of Water kurang lebih membawa vibrasi yang sama: Ini masih Fairy Tales for Adults. Dunia monster yang berkelindan dengan realita sosial politik. Sebuah "realisme magis". Saya begitu demen sama subgenre yang juga diusung oleh sastrawan Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia-Marquez ini. Saya pikir Del Toro adalah salah satu sutradara yang sukses mengemas realisme magis lewat film.

KISAHNYA

Elisa adalah seorang pembersih yang kerja di fasilitas rahasia milik pemerintah Amerika tahun 1960an. Suatu hari militer membawa sesosok makhluk amfibi yang katanya ditangkap di sungai Amazon. Makhluk yang berwujud humanoid mirip ikan itu ditahan di fasilitas itu untuk diteliti. Tujuan militer yang menyekapnya adalah mencari tahu apakah makhluk ini bisa berguna untuk misi ke luar angkasa. Saat itu Amerika dan Sovyet sedang dalam masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya ini saling berlomba dengan misi luar angkasa. Salah satu yang dibutuhkan dalam misi tersebut adalah kelinci percobaan yang akan dikirim ke antariksa sebelum nanti benar-benar memakai manusia.


Elisa, perempuan yang mengidap tuna wicara (tapi tidak tuna rungu) ini mencoba berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Selanjutnya konflik kepentingan pun terjadi. Col. Richard Strickland, pimpinan fasilitas tersebut ingin membedah makhluk itu hidup-hidup (vivisect) untuk meneliti anatominya.

Sedangkan Sovyet, yang tak ingin Amerika berhasil, memerintahkan Dr. Robert Hoffstetler alias Dimitri Mosenkov yang sebenarnya mata-mata Sovyet untuk membunuh makhluk tersebut. Dr. Robert Hoffstetler sendiri menentang keduanya. Sama seperti Elisa, ia melihat bahwa makhluk itu lebih mirip manusia daripada hewan amfibi.

Selanjutnya misi penyelamatan pun dilakukan. Singkat kata, Elisa berhasil membawa si makhluk Amazon ini ke apartemennya. Di sini Elisa menjalin hubungan yang makin intens dengan si makhluk, hingga ke hubungan seksual. Nah di sini pula yang kemudian menjadi titik kontroversi film ini.

Meski tetap ada adegan berdarah dan gore (tipikal Del Toro), sebenarnya film ini happy ending.

REAKSI AUDIENS

Film ini banyak dicaci para penikmat karya De Toro antara lain karena:

-Mengira bahwa film ini adalah the origin of Abe Sapiens dari Hellboy. Selain penampakannya mirip, karakter manusia amfibi ini juga dimainkan oleh orang yang sama, Doug Jones.

-Adegan masturbasi Elisa yang berlebihan porsinya. Entah kenapa ini diprotes hehehe. Apa karena pemerannya tidak cantik?

-Hubungan romatik dan seksual yang terlalu aneh. Si makhluk amfibi bukan manusia namun juga bukan binatang. Anggaplah ia spesies yang konon didewakan oleh penduduk tepi Amazon. Banyak penonton tak bisa menerima ini. Hubungan Elisa dengan si makhluk amfibi lebih terlihat menjijikkan kata mereka.

REVIEW SAYA

Dari pembukanya, aura magisme realis ala Del Toro langsung semerbak. Musik misterius dari Alexandre Desplat mengapungkan imajinasi kita ke alam fantasi. Detail settingnya begitu nyata. Tanki air yang karatan, bangunan yang lembab dan juga nuansa 60an dengan mobil Cadillac.

Disain si makhluk amfibi pun, meski mencomot dari Creature The Black Lagoon dan Abe Sapiens dari Hellboy tetaplah terlihat mengagumkan. Sirip, insang dan matanya yang hidup, membuat kita membayangkan jangan-jangan makhluk semacam ini juga hidup di sungai-sungai pedalaman Kalimantan.

Beberapa belas tahun silam, Del Toro membikin Pan's Labirynth yang karakter sentralnya adalah gadis belia yang menarik. Sedangkan di film ini, karakter utamanya tidaklah cukup cantik dalam standar film umum.

Elisa yang diperankan oleh Sally Hawkins adalah perempuan bertampang depresif, terasing sekaligus punya orientasi seks menyimpang. Namun justru inilah kekuatan karakternya. Sally membawakannya dengan sangat meyakinkan. Elisa menjadi karakter perempuan terasing yang tidak lemah. Saat cinta menguasainya, ia mau berkorban apapun.

Saya sendiri begitu terkesan oleh performa Michael Shannon. Aktor bertampang berandalan ini memang langganan peran antagonis. Simaklah saat dia jadi Jendral Zod musuhnya Man of Steel. Jarang kita bisa bayangin Shannon main sebagai orang baik kecuali di filmnya Jeff Nichols, Midnight Special. Lihat betapa bengisnya tampangnya sebagai Colonel Richard Strickland dengan dua jarinya yang busuk itu.

Sayangnya, performa jajaran cast yang unggul ini kurang didukung dengan motivasi plot yang meyakinkan. Mungkin benar kata orang-orang, ikatan batin Elisa dengan si makhluk amfibi kurang dieksplorasi dengan anggun. Del Toro malah sibuk membangun adegan-adegan aneh semacam nari-nari ala film musikal vintage dan juga sex underwater yang rada ajaib. Gila aja nyumpel pintu kamar mandi biar jadi kolam renang...

Belum lagi ada satu keanehan yang bikin saya mikir...

Tuh makhluk kan nemunya di sungai Amazon? Ngapain dia butuh air asin ya?

Meski begitu secara keseluruhan saya suka film ini. Karena saya mungkin termasuk orang yang sedikit tadi... penggemar film yang "bukan untuk semua orang"... ya meski nggak ekstrim sih. Saya ini penyuka film monster.

The Shape of Wateri bisa jadi akan sangat anda sukai atau juga sangat anda benci, bahkan bagi anda yang pecinta film monster sekalipun.

The Shape of Water secara tematik sebenarnya tidak orginal. Selain secara estetik merupakan hommage untuk film monster klasik, Creature Of The Black Lagoon, film ini mengulang lagi tema-tema lawas cinta antar dunia yang berbeda. Bahkan lebih tegasnya: cinta antar spesies! Sebut saja Beauty and The Beast, Splash, Putri Duyung karya H.C. Andersen dll.

Kalo ngomong cinta antar spesies, kita tak hanya bicara romansa manusia dan alien dari planet lain. Bagaimana dengan spesies di bumi yang sama? Repotnya cinta ini juga termasuk aspek seksualnya.

Jika dunia lebih terbuka dengan isu homoseksualitas, tidak demikian dengan zoophilia dan bestiality. Yang terakhir ini adalah penyakit psikis yang memiliki sejarah panjang. Lukisan pornografis di reruntuhan Pompei menunjukkan bahwa praktek seksualitas antar spesies ini telah terjadi sejak lama.

Mungkin yang membuat kisah Elisa ini "menjijikkan" adalah kekaburan jatidiri sang manusia amfibi. Apakah ia hanya binatang yang cerdas? Atau ia sebenarnya lebih dekat dengan manusia?

Tapi bagaimana bisa orang umum menerimanya sebagai manusia dengan wujud bersisik mirip ikan berjalan gitu?

Demikianlah, maka bersamaan dengan sambutan positif oleh juri Academy Award, film ini pun bertaburan cacimaki oleh para penonton karya Del Toro sebelumnya.

Jika anda suka Pan's Labirynth saya pikir anda bisa saja menyukai The Shape of Water. Tetapi ingat, ini adalah Fairy Tale for Adults. Tidak cocok untuk semua umur... dan tak cocok untuk semua selera.
Baca

MENGAPA MANAJEMEN PRODUKSI LEBIH PENTING DARIPADA GEAR

Saya mengawali belajar film dengan cara yang sangat chaotic. Semua berdasar asumsi dan nekad-nekadan….ya dengan sebongkah kemlinthi di benak saya. Saya pikir bikin film itu gampang. Perlu beberapa tahun untuk menyadarkan saya bahwa karya-karya saya (yang dibuat secara chaotic tadi) sangat tidak memenuhi standar paling dasar.
MOVO FILM CLUB, ekskul film sekolah yang kami bina sedang melakukan pra produksi di 2018
Hal yang paling saya urus pertama untuk diperbaiki adalah kualitas cerita, juga talent. Saya pun kemudian belajar bikin cerita yang lebih baik. Tapi ternyata karya berikutnya, meski lebih mending, tak juga memenuhi visi saya. Ibarat kucuran dana dari pemerintah, di pelaksanaan ada aja potongannya. Saya pun mulai mempelajari, apalagi yang salah? Senior saya pernah ngajarin bahwa bikin film itu mirip argo taksi. Kita diburu waktu, duit terbatas dan tujuan kudu jelas. Saya lalu menemukan sebuah hubungan antara kualitas, visi, biaya dan waktu. Untuk mendukung KUALITAS diperlukan sinkronisasi antara visi, biaya dan waktu. VISI nggak usah muluk-muluk kalo gak ada BIAYA. Duit sebanyak apapun gak bisa membantu kualitas kalo WAKTU yang dimiliki terbatas. Jadi musti dimanage. Jadi sekarang tiap bikin karya, saya pastikan visi saya distel untuk production value paling rendah. Saya perkuat storytelling lebih daripada yang lain. Itu satu-satunya penyelamat jika biaya udah mentok. Makanya saya jarang mengeluh soal bujet. Kebanyakan yang susah adalah nyari tim.
Tim saya yang cuma 4 orang: Vara (D.O.P), Tera (Editor), Belle (Astrada dan Co-Produser) dan saya.
Beberapa jam sebelum produksi rapat di kantin.
Kalo timnya superkere no bujet 3 – 4 orang cukup. Agenda dan alokasi waktu untuk masing-masing kegiatan kudu jelas dan akurat. Bikin plan B atau C sekalian. Tiap orang musti menjalankan tugasnya, diawasi sama yang jadi produser. Saya punya tips: BEKERJALAH DENGAN ORANG YANG KOOPERATIF BUKAN DENGAN YANG JAGO! Hindari yang egois, suka show off, ndak ada respect ama anggota lain dll. You’ll save half of your work. Hmmm okay…agak sulit nyari di era millenial gini. Tim produksi yang solid, yang passion ama kerjanya akan membuat kontrol terhadap visi kreatif lebih mudah. Punya seabreg gear canggih, punya talent keren (gratis pulak) tapi tanpa manajemen yang bagus karya anda bisa bubrah. Visi tak bisa dikontrol tanpa perencanaan matang. Makanya senior saya menasehati…JANGAN MULAI KALO PRA PRODUKSI BELUM BERES RES RES. Saya mengalami secara nyata bahwa karya saya dari 2005 – 2014 buruk sekali manajemen produksinya. Lama banget kan proses belajarnya? Hehehe Perencanaan, manajemen adalah untuk memastikan visi anda tertuang sepenuhnya dalam karya. Visi itu mudah tercecer kemana-mana. Bisa karena jadwal yang kacau, halangan di lapangan, kondisi fisik anggota tim yang berubah, perubahan alam dll. Kalau tidak dimanage jauh-jauh hari, maka kita cuma mengandalkan satu plan aja, tanpa antisipasi. Kondisi di lapangan tak selalu bisa dikontrol. Hari ini planning syuting di pantai yang cerah, eh tiba-tiba hujan. Saat mau ganti hari, eh talent ternyata ada acara lain. Repot. Memanage waktu sangat PENTING. Harus ada ketegasan mengatur durasi syuting. Secara umum kita masih bisa lah konsentrasi 3 jam tanpa break. Tapi kalo demi ngejar scene anda merapel semua jadwal di satu hari, energi tiap anggota tak bisa terdistribusi dengan baik. Anda akan kelelahan. Maka bikin jadwal yang masuk akal, atau anda musti menulis ulang script. Batasan aman yang disarankan senior saya Om Wowo adalah 8 jam sehari. Ikuti irama natural tubuh dan jangan sok sangar tinimbang kamu terkapar menggelepar.
Vara, D.O.P saya sedang breakdown script Ulat Waktu
sementara Mbah Siswo talent kami sedang script reading (duduk di belakang).
Makanya musti ada plan A, B, C dll. Karena jika bujet minim (atau malah nol) anda gak bisa mengontrol aset-aset produksi. Rencanakan bahkan sejak nulis script. Nulis script dengan production value yang sudah diketahui lebih aman daripada nanti repot mewujudkan sesuai tuntutan imajinasi. Makanya tulis cerita berdasar aset. Ini nasehat dari Robert Rodriguez yang saya terapkan di komunitas. Rekrut talent yang anda kenal baik dan ngerti waktu-waktu sibuk/senggangnya. Syukur kalo tetanggaan. Punya talent keren tapi tinggal di luar pulau ya lumayan repot ngurus akomodasinya. Apalagi yang jadwalnya nggak bisa dikunci. Anda gak bisa berharap pada janji "insyaallah" lho :D (ini bukan penistaan agama loh). Kalo dapet talent profesional maka manajemen anda meski no bujet pun kudu level profesional. Bayangin anda udah dapet talent yang pro, tapi karena manajemen syuting anda kaco, maka talent ini gak bisa sinkron sama jadwal syuting anda. Pilih lokasi yang aman dan gak kejauhan. Satu yang penting lokasi itu jelas available untuk syuting. Ijin dulu ama yang punya kuasa. Misal syuting di pendopo desa eh batal gara-gara ada rapat kelurahan. Terpaksa urung deh karena kesalahan koordinasi. Eman-eman banget. Kalopun mau syuting gerilya (alias nggak minta ijin) itu butuh teknik tersendiri (saya pernah hahaha tapi itu ilegal). Well, kalo bikin film diibaratkan perang, kemenangan itu 90 persen karena strategi. Strategi adalah perencanaan. Dan itulah wilayah manajemen produksi. (makasih guru-guru manajemen produksiku :) Mas Cahyo dan Mbak Prita)
Saya mengawali belajar film dengan cara yang sangat chaotic. Semua berdasar asumsi dan nekad-nekadan….ya dengan sebongkah kemlinthi di benak saya. Saya pikir bikin film itu gampang. Perlu beberapa tahun untuk menyadarkan saya bahwa karya-karya saya (yang dibuat secara chaotic tadi) sangat tidak memenuhi standar paling dasar.
MOVO FILM CLUB, ekskul film sekolah yang kami bina sedang melakukan pra produksi di 2018
Hal yang paling saya urus pertama untuk diperbaiki adalah kualitas cerita, juga talent. Saya pun kemudian belajar bikin cerita yang lebih baik. Tapi ternyata karya berikutnya, meski lebih mending, tak juga memenuhi visi saya. Ibarat kucuran dana dari pemerintah, di pelaksanaan ada aja potongannya. Saya pun mulai mempelajari, apalagi yang salah? Senior saya pernah ngajarin bahwa bikin film itu mirip argo taksi. Kita diburu waktu, duit terbatas dan tujuan kudu jelas. Saya lalu menemukan sebuah hubungan antara kualitas, visi, biaya dan waktu. Untuk mendukung KUALITAS diperlukan sinkronisasi antara visi, biaya dan waktu. VISI nggak usah muluk-muluk kalo gak ada BIAYA. Duit sebanyak apapun gak bisa membantu kualitas kalo WAKTU yang dimiliki terbatas. Jadi musti dimanage. Jadi sekarang tiap bikin karya, saya pastikan visi saya distel untuk production value paling rendah. Saya perkuat storytelling lebih daripada yang lain. Itu satu-satunya penyelamat jika biaya udah mentok. Makanya saya jarang mengeluh soal bujet. Kebanyakan yang susah adalah nyari tim.
Tim saya yang cuma 4 orang: Vara (D.O.P), Tera (Editor), Belle (Astrada dan Co-Produser) dan saya.
Beberapa jam sebelum produksi rapat di kantin.
Kalo timnya superkere no bujet 3 – 4 orang cukup. Agenda dan alokasi waktu untuk masing-masing kegiatan kudu jelas dan akurat. Bikin plan B atau C sekalian. Tiap orang musti menjalankan tugasnya, diawasi sama yang jadi produser. Saya punya tips: BEKERJALAH DENGAN ORANG YANG KOOPERATIF BUKAN DENGAN YANG JAGO! Hindari yang egois, suka show off, ndak ada respect ama anggota lain dll. You’ll save half of your work. Hmmm okay…agak sulit nyari di era millenial gini. Tim produksi yang solid, yang passion ama kerjanya akan membuat kontrol terhadap visi kreatif lebih mudah. Punya seabreg gear canggih, punya talent keren (gratis pulak) tapi tanpa manajemen yang bagus karya anda bisa bubrah. Visi tak bisa dikontrol tanpa perencanaan matang. Makanya senior saya menasehati…JANGAN MULAI KALO PRA PRODUKSI BELUM BERES RES RES. Saya mengalami secara nyata bahwa karya saya dari 2005 – 2014 buruk sekali manajemen produksinya. Lama banget kan proses belajarnya? Hehehe Perencanaan, manajemen adalah untuk memastikan visi anda tertuang sepenuhnya dalam karya. Visi itu mudah tercecer kemana-mana. Bisa karena jadwal yang kacau, halangan di lapangan, kondisi fisik anggota tim yang berubah, perubahan alam dll. Kalau tidak dimanage jauh-jauh hari, maka kita cuma mengandalkan satu plan aja, tanpa antisipasi. Kondisi di lapangan tak selalu bisa dikontrol. Hari ini planning syuting di pantai yang cerah, eh tiba-tiba hujan. Saat mau ganti hari, eh talent ternyata ada acara lain. Repot. Memanage waktu sangat PENTING. Harus ada ketegasan mengatur durasi syuting. Secara umum kita masih bisa lah konsentrasi 3 jam tanpa break. Tapi kalo demi ngejar scene anda merapel semua jadwal di satu hari, energi tiap anggota tak bisa terdistribusi dengan baik. Anda akan kelelahan. Maka bikin jadwal yang masuk akal, atau anda musti menulis ulang script. Batasan aman yang disarankan senior saya Om Wowo adalah 8 jam sehari. Ikuti irama natural tubuh dan jangan sok sangar tinimbang kamu terkapar menggelepar.
Vara, D.O.P saya sedang breakdown script Ulat Waktu
sementara Mbah Siswo talent kami sedang script reading (duduk di belakang).
Makanya musti ada plan A, B, C dll. Karena jika bujet minim (atau malah nol) anda gak bisa mengontrol aset-aset produksi. Rencanakan bahkan sejak nulis script. Nulis script dengan production value yang sudah diketahui lebih aman daripada nanti repot mewujudkan sesuai tuntutan imajinasi. Makanya tulis cerita berdasar aset. Ini nasehat dari Robert Rodriguez yang saya terapkan di komunitas. Rekrut talent yang anda kenal baik dan ngerti waktu-waktu sibuk/senggangnya. Syukur kalo tetanggaan. Punya talent keren tapi tinggal di luar pulau ya lumayan repot ngurus akomodasinya. Apalagi yang jadwalnya nggak bisa dikunci. Anda gak bisa berharap pada janji "insyaallah" lho :D (ini bukan penistaan agama loh). Kalo dapet talent profesional maka manajemen anda meski no bujet pun kudu level profesional. Bayangin anda udah dapet talent yang pro, tapi karena manajemen syuting anda kaco, maka talent ini gak bisa sinkron sama jadwal syuting anda. Pilih lokasi yang aman dan gak kejauhan. Satu yang penting lokasi itu jelas available untuk syuting. Ijin dulu ama yang punya kuasa. Misal syuting di pendopo desa eh batal gara-gara ada rapat kelurahan. Terpaksa urung deh karena kesalahan koordinasi. Eman-eman banget. Kalopun mau syuting gerilya (alias nggak minta ijin) itu butuh teknik tersendiri (saya pernah hahaha tapi itu ilegal). Well, kalo bikin film diibaratkan perang, kemenangan itu 90 persen karena strategi. Strategi adalah perencanaan. Dan itulah wilayah manajemen produksi. (makasih guru-guru manajemen produksiku :) Mas Cahyo dan Mbak Prita)
Baca

BAGAIMANA SAYA MENILAI FILM?

Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Baca

REVIEW FILM PENGKHIANATAN G30SPKI (ARIFIN C. NOER 1984)

Pada awalnya saya tidak suka film yang oleh orang-orang tua di desa kami disebut ber-genre “beleh-belehan” (sembelih-sembelihan, bhs. Jawa). Bahkan melihat poster film Jaka Sembung saja dulu saya bergidik. Itu jaman saya masih SD di tahun 80-90an. Selera saya bergeser sejak nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Yang berperan mengubah taste saya antara lain adalah Kill Bill dan paling nyantol jelas Inglorious Basterds. Sebagaimana yang anda para movie buff tahu, Tarantino sudah jelas-jelas dikenal sebagai filmmaker yang brandingnya adalah “cinematic violence”. Maka perlahan namun pasti saya pun mulai menonton ulang beberapa film yang masuk kategori beleh-belehan tadi. Bukan kekerasannya yang saya kagumi, melainkan citarasa estetik yang disampaikan. Kadang cerita saja tidak cukup. Sebuah film butuh karakter.

Arifin C. Noer (pakai kacamata) menyutradarai film G30SPKI. Dokumen TEMPO.


Pengkhianatan G30SPKI adalah film yang dibiayai negara (with a very big budget) dan menontonnya adalah sebuah ritual wajib yang dipropagandakan di kanal-kanal resmi negara. Tak heran film ini jadi box office pada masanya (tahun 1984 dan setelahnya). Lha yo jelas….nontonnya dipaksa. Kewajiban ini baru berhenti setelah era reformasi 98, di saat propaganda penguasa sebelumnya telanjur meresap dengan baik. Ini kayaknya membuat pengetahuan masyarakat soal sejarah 1965, secara praktis, ya hanya dari film itu. Cobalah tanya orang-orang, pernahkah mereka baca buku putih peristiwa G30SPKI yang dikeluarkan sekretariat negara? Buku itu terlalu tebal (meski tak setebal Das Kapital).

Sebagai sebuah film propaganda, bagaimana kualitas film bikinan Arifin C. Noer ini sebenarnya?

Pertama-tama, sebagai seorang movie buff, saya akan menentukan dulu genre film ini. Saya tidak memandang film ini sebagai sebuah film sejarah melainkan film horror. Maka kita kesampingkan dulu soal muatan propaganda atau kekisruhan baru-baru ini mengenai rencana putar ulangnya.

Arifin C. Noer, pengadeganan film-filmnya selalu memikat, membumi dan bernuansa. Wajar karena ia punya latar belakang teater. Kaidah pengadeganan panggung sudah ia kuasai dengan baik, dan ia tinggal memindahkan esensinya ke media seluloid. Suntingan (editing) gambarnya tidak cuma sekadar penggabungan gambar dan suara, melainkan sudah menjadi wahana estetikanya yang khas. Tontonlah opening Suci Sang Primadona (1977) di mana saat terdengar suara “Eros! Kembali, Eros!”, gambar yang nongol malah patung Pancoran. Selain itu sinematografinya selalu inovatif. Filmnya menyajikan kualitas visual yang levelnya lain dari kebanyakan film yang beredar. Bibir Mer (1991), perhatikan kemewahan gambarnya yang sangat lain dari film-film nasional semasanya. Sedangkan tentang film G30SPKI yang akan kita obrolkan kali ini, tentu anda (yang dulu nonton) masih ingat extreme close up shot mulut yang legendaris itu.

Film G30SPKI, sekali lagi ini murni dari sudut pandang estetis belaka, adalah sebuah film hebat. Pengadeganannya detail dan bernuansa. Perhatikan saat Bung Karno (diperankan Umar Khayam) yang sedang sakit-sakitan, berdiri membelakangi kita, pelan-pelan ia menyapukan pandangan. Ini adegan yang menyimpan begitu banyak rasa. Kita diajak ikut merasa…apa gerangan yang berkecamuk di dalam diri Si Bung dan apa yang sedang bergerak di luar istana? Kegamangan ini disajikan secara kelam. Gamang bahwa sebuah bencana akan terjadi tak lama setelah ini.

Itulah bagaimana Arifin C. Noer memulai horror film ini. Jika film-film horror pada lazimnya memuat gambar-gambar setting (misal rumah tua, kuburan dll.) G30SPKI memuatnya dalam gambaran pergolakan tokohnya. Melihat bagaimana Bung Karno menoleh, ikut membuat kita tak menentu. Bahkan menontonnya dalam resolusi terburuk (saya nonton versi VCD) pun nuansa itu masih terasa. Saya ingat betul ini adegan yang bikin saya takut untuk terus nonton. Sampai sekarangpun saya tidak pernah nonton dalam sekuens utuh. Selalu “skip-skip”.

Horror yang berdarah, yakni adegan pembunuhan para Jendral bukanlah hal yang bisa saya nikmati sebagaimana nonton darah di film-film Tarantino. Tarantino mengemas darah secara “cool”, artistik…nggak “njijiki”. Sedangkan atmosfir adegan gitu di G30SPKI samasekali lain. Adegan penyiletan muka jendral dan melemparkannya ke dalam lubang itu sebuah mimpi buruk terburuk di jagad sinema. The most gory scene I’ve ever seen.

Ada banyak adegan yang bisa bikin anda mimpi buruk. Terutama adegan penculikan. Saya sebut beberapa secara acak:

-Adegan saat penjemputan paksa (saya udah lupa nama jendralnya hehehe)
-Adegan slow motion roboh kena tembak (ini saya juga lupa siapa yang ditembak)
-Tertembaknya Ade Irma Suryani
-Adegan basuh muka pakai darah

Oke, tadi saya ungkap kenapa film ini saya sebut film horror. Bahkan saya kasih julukan khusus “historical noir political thriller slasher horror”. Sekarang gimana dengan struktur naratifnya?

G30SPKI, sebagai film yang maunya jadi film sejarah, menggunakan pendekatan linier. Semua dibangun secara kronologis. Tapi sejarah yang asli bukanlah sebuah narasi film. Di sinilah kecerdasan Arifin C. Noer terlihat. Ia menyusun sejarah (versi penguasa saat itu) seakan memang dalam 3 babak. Untuk kebutuhan storytelling film tentunya. Arifin cermat membangun suspense, menyelipkan humor, membikin klimaks secara mengerikan dan memberikan ending yang membuat penontonnya bernafas normal lagi.

Jujur saja, review yang saya tulis ini lebih berdasarkan ingatan daripada mencermati satu per satu adegannya. saking horror-nya film ini di mata saya, buku kuduk saya masih merinding setiap saya memutar ulang di scene tertentu. Paling-paling saya cuma denger audionya, gak berani lihat gambarnya haha (anehnya lha kok saya malah puter berulang-ulang)

Film dibuka dengan kegentingan situasi karena sakitnya Bung Karno. Penggunaan bahasa Mandarin sang dokter dari RRC membuat film ini nampak otentik. Sementara itu rapat para elit PKI ditampilkan dalam semacam high angle shot yang keren. Penampilan D.N. Aidit (diperankan Syu’bah Asa) tak cukup dengan akting namun juga didukung dengan pencahayaan satu arah dan angle yang membangun karakternya sebagai tokoh jahat. Extreme close up shot mata Aidit yang tajam sungguh gila. Seram secara subliminal.

Bersamaan dengan ketegangan politik, disebutkan para militan PKI menggelar latihan di Lubang Buaya. Detail senjata, seragam dan settingnya begitu otentik. Saya pernah baca kalau tak salah adegan tersebut diambil di lokasi aslinya. Jika benar, maka tak salah aura seramnya begitu dapet. Dasar Arifin memang seorang master storytelling, ia masih mengijinkan kita menghela napas karena pengadeganannya yang kadang tegang, kadang lepas. Mungkin ada yang masih ingat kata-kata komandan yang melatih pasukan?

"...sebelum bisa nembak, itu harus bisa baris dulu!"

"Baris aja nggak becus lho... mau ngganyang Nekolim!"

Kapan lagi kita bisa dengar kata-kata se-greget itu dalam film Indonesia?

Sementara itu di luar pagar elit politik, ditampilkan adegan penderitaan rakyat; antrian bahan bakar oleh rakyat jelata. Sebagai katarsis, Arifin C. Noer juga menyelipkan humor. Simak saja karakter seorang bapak relijius yang anti komunis dengan keluarganya yang mulai kesulitan beli beras. Di sela-sela omongannya yang berapi-api soal "kominis" anaknya malah main drum band. Ini lucu sekaligus ironi. Bagi saya ini kayaknya satu-satunya adegan yang tidak menyeramkan hehehe. Kelucuan itu tak cuma dibangun dalam dialog-dialog namun juga lewat sinematografi. Extreme close up mulut yang legendaris itu, selain lucu juga berkarakter kuat. Ini yang saya pikir sebagai master piece shot-nya Arifin C. Noer. Sayang, itu dipotong di versi VCD-nya, namun kemarin baru saya dapat info tautan link dari rekan versi uncut-nya (TVRI version). Cari saja di Youtube.

Menuju suspense. Ketegangan dibangun lewat potongan-potongan berita. Koran-koran yang memuat aksi sepihak PKI. Juga kecemasan yang digambarkan lewat firasat para tokoh militer yang kelak akan jadi korban. Dalam sebuah adegan, istri seorang tokoh salah menerka rancangan gambar museum sebagai gambar kuburan. Simak juga dialog-dialog yang seakan mengisyaratkan tragedi.

"Malam apa ini?"
"Malam Jum'at legi."

Betapa dahsyat Arifin C. Noer, membangun suspense.

Menjelang subuh, pergantian hari yang kalau dalam banyak film horror merupakan akhir dari sebuah terror, dalam film ini malah sebaliknya. G30SPKI memulai terrornya justru sejak subuh. Derap kaki pasukan penculik, keremangan cahaya dan suara raungan serigala! Ya raungan serigala menjelang subuh di rerimbun pohon Lubang Buaya. Bagaimana anda mau memungkiri kalau ini film horror? Kemudian satu hal yang tak boleh dilupakan...

Musik!

Horror film ini jelas tak kan semakin mencekam tanpa satu kunci penting!... Musik dari Embie C. Noer!

Ini perlu saya sebut secara khusus karena memori saya terhadap film ini tak cuma potongan adegan namun juga potongan musik. Musik temanya kalo tak salah cuma 3 atau 4 not. Akor yang dibangun lewat bunyi synthetizer organ (kalau saya tak salah mencermati) "dihinggapi" dengan alunan alat musik tiup semacam saluang. Sekali lagi itu cuma kesan dengaran saya. Saya belum sempet nanya detail ini ke komposernya. Pak Embie pernah bilang kalau masternya ilang dilalap banjir. Selain musik synthesizer, ada juga bunyi-bunyi instrumen asli seperti gesekan biola, vocal choir dan denting piano. Aransemen lagu "Lihat Kebunku" bukannya menggambarkan keceriaan anak-anak malah memberi atmosfir yang kelam.

"Lihat kebunku, penuh dengan bunga..."

Bunga apa gerangan? Bunga kuburan?

Dan jangan lupakan satu lagu daerah yang kemudian menjadi lagu ikon "kominis" lokal... "Gendjer-Gendjer". Selain dinyanyikan dalam adegan penyiksaan para jendral, nada-nada utamanya juga disusupkan secara cerdik dalam music score-nya. Ini sebenarnya cuma lagu daerah Jawa Timuran. Pernah dinyanyikan biduan jadul kondang Lilis Suryani. Gara-gara sering dinyanyikan oleh para simpatisan PKI, lagu ini lantas seakan identik dengan "lagu komunis". Padahal apa sih isi lagunya?

"Gendjer-gendjer nong kedokan pating keleler..." Ini kan lagu tentang tanaman sayur bernama genjer. Mungkin pas untuk mengiringi makan pecel. Atau jangan-jangan pecel nanti dikira makanan komunis? Hiii...ngeri! (Belakangan saya baru dapat info bahwa lagu tersebut berasal dari lagu rakyat Banyuwangi. Oleh seorang seniman bernama M. Arief dikasih lirik baru untuk menggambarkan penderitaan jaman Jepang.)

Musik Embie C. Noer tak cuma menghiasi, mengilustrasi, melainkan sudah menjadi jiwa film itu sendiri. Berpadu dengan gambar berpencahayaan rendah, musik ini jadi mimpi buruk mengendap di bawah sadar. Buktinya? Ya itu….sampai sekarang saya masih ngeri menonton film ini secara utuh. Sungguh kolaborasi kakak-adik, sutradara-komposer yang luar biasa.

Klimaksnya tentu adegan penyiksaan. Saya selalu tak betah menontonnya. Bahkan saat quote memorable “Darah itu merah, Jendral!” diucapkan, udah bikin saya ngeri. Di sini G30SPKI menunjukkan kelas sebagai film slasher…yaitu…genre “beleh-belehan”. Para Jendral disiksa dengan alat, ditusuk dengan bayonet, dipukuli, ditendangi, disundut rokok, dicungkil matanya dan lalu dimauskkan ke sumur tua. Tak cukup sampai di situ. Di atasnya ditanam pohon pisang. Itulah puncak horror film ini. Tentu saja akan lain kalau anda baca sejarah asli dari banyak sumber. Konon horror di realitanya malah berlangsung setelah 30 September kan?

Lalu sebagai resolusi cerita, muncullah Pak Harto (diperankan Amoroso Katmasi) sebagai penyelamat bangsa. Di sini film G30SPKI jadi nampak kayak film perang. Ada tentara-tentara bergerak dan kendaraan tempur. Ketika saya menontonnya saat masih kecil, di sinilah saya mulai merasa lega. Tidak takut lagi. TNI bersama Pancasila telah menumpas kekuatan setan hehehe

Ada untungnya film ini diproduksi negara. Jadinya budget nggak terlalu masalah bagi sang filmmaker. G30SPKI begitu detail. Naskahnya, meski terlalu panjang, memuat hal-hal yang secara sinematik penting. Arifin C. Noer adalah penutur kisah yang hebat. Maklum ia bisa nulis dan ngerti dramaturgi. Tapi ia juga punya tim yang bagus. Filmnya sangat well made. Adapun beban gugatan sejarah, itulah yang menjadi kelemahan non teknis satu-satunya. Ya mau gimana lagi?

Entah sudah berapa kali saya ngomong….G30SPKI yang disutradari Arifin C. Noer adalah satu-satunya film terhebat yang pernah dibikin orang Indonesia. Dan selalu saya katakan itu dengan ironi…sayangnya ini film propaganda hahaha.

Lalu saya dengar ada wacana usulan mau dibikin remake?

Pendapat saya...nggak bisa. Itu nggak akan berhasil. Nggak ada yang akan menandingi Arifin C. Noer. Tapi ya monggo saja sih dengan segala resiko, kekurangan, kelebihan dan dampaknya. Tapi jangan pakai naskah Arifin C. Noer lah. Film ini sudah menjadi sejarah estetika sinema Indonesia.




Pada awalnya saya tidak suka film yang oleh orang-orang tua di desa kami disebut ber-genre “beleh-belehan” (sembelih-sembelihan, bhs. Jawa). Bahkan melihat poster film Jaka Sembung saja dulu saya bergidik. Itu jaman saya masih SD di tahun 80-90an. Selera saya bergeser sejak nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Yang berperan mengubah taste saya antara lain adalah Kill Bill dan paling nyantol jelas Inglorious Basterds. Sebagaimana yang anda para movie buff tahu, Tarantino sudah jelas-jelas dikenal sebagai filmmaker yang brandingnya adalah “cinematic violence”. Maka perlahan namun pasti saya pun mulai menonton ulang beberapa film yang masuk kategori beleh-belehan tadi. Bukan kekerasannya yang saya kagumi, melainkan citarasa estetik yang disampaikan. Kadang cerita saja tidak cukup. Sebuah film butuh karakter.

Arifin C. Noer (pakai kacamata) menyutradarai film G30SPKI. Dokumen TEMPO.


Pengkhianatan G30SPKI adalah film yang dibiayai negara (with a very big budget) dan menontonnya adalah sebuah ritual wajib yang dipropagandakan di kanal-kanal resmi negara. Tak heran film ini jadi box office pada masanya (tahun 1984 dan setelahnya). Lha yo jelas….nontonnya dipaksa. Kewajiban ini baru berhenti setelah era reformasi 98, di saat propaganda penguasa sebelumnya telanjur meresap dengan baik. Ini kayaknya membuat pengetahuan masyarakat soal sejarah 1965, secara praktis, ya hanya dari film itu. Cobalah tanya orang-orang, pernahkah mereka baca buku putih peristiwa G30SPKI yang dikeluarkan sekretariat negara? Buku itu terlalu tebal (meski tak setebal Das Kapital).

Sebagai sebuah film propaganda, bagaimana kualitas film bikinan Arifin C. Noer ini sebenarnya?

Pertama-tama, sebagai seorang movie buff, saya akan menentukan dulu genre film ini. Saya tidak memandang film ini sebagai sebuah film sejarah melainkan film horror. Maka kita kesampingkan dulu soal muatan propaganda atau kekisruhan baru-baru ini mengenai rencana putar ulangnya.

Arifin C. Noer, pengadeganan film-filmnya selalu memikat, membumi dan bernuansa. Wajar karena ia punya latar belakang teater. Kaidah pengadeganan panggung sudah ia kuasai dengan baik, dan ia tinggal memindahkan esensinya ke media seluloid. Suntingan (editing) gambarnya tidak cuma sekadar penggabungan gambar dan suara, melainkan sudah menjadi wahana estetikanya yang khas. Tontonlah opening Suci Sang Primadona (1977) di mana saat terdengar suara “Eros! Kembali, Eros!”, gambar yang nongol malah patung Pancoran. Selain itu sinematografinya selalu inovatif. Filmnya menyajikan kualitas visual yang levelnya lain dari kebanyakan film yang beredar. Bibir Mer (1991), perhatikan kemewahan gambarnya yang sangat lain dari film-film nasional semasanya. Sedangkan tentang film G30SPKI yang akan kita obrolkan kali ini, tentu anda (yang dulu nonton) masih ingat extreme close up shot mulut yang legendaris itu.

Film G30SPKI, sekali lagi ini murni dari sudut pandang estetis belaka, adalah sebuah film hebat. Pengadeganannya detail dan bernuansa. Perhatikan saat Bung Karno (diperankan Umar Khayam) yang sedang sakit-sakitan, berdiri membelakangi kita, pelan-pelan ia menyapukan pandangan. Ini adegan yang menyimpan begitu banyak rasa. Kita diajak ikut merasa…apa gerangan yang berkecamuk di dalam diri Si Bung dan apa yang sedang bergerak di luar istana? Kegamangan ini disajikan secara kelam. Gamang bahwa sebuah bencana akan terjadi tak lama setelah ini.

Itulah bagaimana Arifin C. Noer memulai horror film ini. Jika film-film horror pada lazimnya memuat gambar-gambar setting (misal rumah tua, kuburan dll.) G30SPKI memuatnya dalam gambaran pergolakan tokohnya. Melihat bagaimana Bung Karno menoleh, ikut membuat kita tak menentu. Bahkan menontonnya dalam resolusi terburuk (saya nonton versi VCD) pun nuansa itu masih terasa. Saya ingat betul ini adegan yang bikin saya takut untuk terus nonton. Sampai sekarangpun saya tidak pernah nonton dalam sekuens utuh. Selalu “skip-skip”.

Horror yang berdarah, yakni adegan pembunuhan para Jendral bukanlah hal yang bisa saya nikmati sebagaimana nonton darah di film-film Tarantino. Tarantino mengemas darah secara “cool”, artistik…nggak “njijiki”. Sedangkan atmosfir adegan gitu di G30SPKI samasekali lain. Adegan penyiletan muka jendral dan melemparkannya ke dalam lubang itu sebuah mimpi buruk terburuk di jagad sinema. The most gory scene I’ve ever seen.

Ada banyak adegan yang bisa bikin anda mimpi buruk. Terutama adegan penculikan. Saya sebut beberapa secara acak:

-Adegan saat penjemputan paksa (saya udah lupa nama jendralnya hehehe)
-Adegan slow motion roboh kena tembak (ini saya juga lupa siapa yang ditembak)
-Tertembaknya Ade Irma Suryani
-Adegan basuh muka pakai darah

Oke, tadi saya ungkap kenapa film ini saya sebut film horror. Bahkan saya kasih julukan khusus “historical noir political thriller slasher horror”. Sekarang gimana dengan struktur naratifnya?

G30SPKI, sebagai film yang maunya jadi film sejarah, menggunakan pendekatan linier. Semua dibangun secara kronologis. Tapi sejarah yang asli bukanlah sebuah narasi film. Di sinilah kecerdasan Arifin C. Noer terlihat. Ia menyusun sejarah (versi penguasa saat itu) seakan memang dalam 3 babak. Untuk kebutuhan storytelling film tentunya. Arifin cermat membangun suspense, menyelipkan humor, membikin klimaks secara mengerikan dan memberikan ending yang membuat penontonnya bernafas normal lagi.

Jujur saja, review yang saya tulis ini lebih berdasarkan ingatan daripada mencermati satu per satu adegannya. saking horror-nya film ini di mata saya, buku kuduk saya masih merinding setiap saya memutar ulang di scene tertentu. Paling-paling saya cuma denger audionya, gak berani lihat gambarnya haha (anehnya lha kok saya malah puter berulang-ulang)

Film dibuka dengan kegentingan situasi karena sakitnya Bung Karno. Penggunaan bahasa Mandarin sang dokter dari RRC membuat film ini nampak otentik. Sementara itu rapat para elit PKI ditampilkan dalam semacam high angle shot yang keren. Penampilan D.N. Aidit (diperankan Syu’bah Asa) tak cukup dengan akting namun juga didukung dengan pencahayaan satu arah dan angle yang membangun karakternya sebagai tokoh jahat. Extreme close up shot mata Aidit yang tajam sungguh gila. Seram secara subliminal.

Bersamaan dengan ketegangan politik, disebutkan para militan PKI menggelar latihan di Lubang Buaya. Detail senjata, seragam dan settingnya begitu otentik. Saya pernah baca kalau tak salah adegan tersebut diambil di lokasi aslinya. Jika benar, maka tak salah aura seramnya begitu dapet. Dasar Arifin memang seorang master storytelling, ia masih mengijinkan kita menghela napas karena pengadeganannya yang kadang tegang, kadang lepas. Mungkin ada yang masih ingat kata-kata komandan yang melatih pasukan?

"...sebelum bisa nembak, itu harus bisa baris dulu!"

"Baris aja nggak becus lho... mau ngganyang Nekolim!"

Kapan lagi kita bisa dengar kata-kata se-greget itu dalam film Indonesia?

Sementara itu di luar pagar elit politik, ditampilkan adegan penderitaan rakyat; antrian bahan bakar oleh rakyat jelata. Sebagai katarsis, Arifin C. Noer juga menyelipkan humor. Simak saja karakter seorang bapak relijius yang anti komunis dengan keluarganya yang mulai kesulitan beli beras. Di sela-sela omongannya yang berapi-api soal "kominis" anaknya malah main drum band. Ini lucu sekaligus ironi. Bagi saya ini kayaknya satu-satunya adegan yang tidak menyeramkan hehehe. Kelucuan itu tak cuma dibangun dalam dialog-dialog namun juga lewat sinematografi. Extreme close up mulut yang legendaris itu, selain lucu juga berkarakter kuat. Ini yang saya pikir sebagai master piece shot-nya Arifin C. Noer. Sayang, itu dipotong di versi VCD-nya, namun kemarin baru saya dapat info tautan link dari rekan versi uncut-nya (TVRI version). Cari saja di Youtube.

Menuju suspense. Ketegangan dibangun lewat potongan-potongan berita. Koran-koran yang memuat aksi sepihak PKI. Juga kecemasan yang digambarkan lewat firasat para tokoh militer yang kelak akan jadi korban. Dalam sebuah adegan, istri seorang tokoh salah menerka rancangan gambar museum sebagai gambar kuburan. Simak juga dialog-dialog yang seakan mengisyaratkan tragedi.

"Malam apa ini?"
"Malam Jum'at legi."

Betapa dahsyat Arifin C. Noer, membangun suspense.

Menjelang subuh, pergantian hari yang kalau dalam banyak film horror merupakan akhir dari sebuah terror, dalam film ini malah sebaliknya. G30SPKI memulai terrornya justru sejak subuh. Derap kaki pasukan penculik, keremangan cahaya dan suara raungan serigala! Ya raungan serigala menjelang subuh di rerimbun pohon Lubang Buaya. Bagaimana anda mau memungkiri kalau ini film horror? Kemudian satu hal yang tak boleh dilupakan...

Musik!

Horror film ini jelas tak kan semakin mencekam tanpa satu kunci penting!... Musik dari Embie C. Noer!

Ini perlu saya sebut secara khusus karena memori saya terhadap film ini tak cuma potongan adegan namun juga potongan musik. Musik temanya kalo tak salah cuma 3 atau 4 not. Akor yang dibangun lewat bunyi synthetizer organ (kalau saya tak salah mencermati) "dihinggapi" dengan alunan alat musik tiup semacam saluang. Sekali lagi itu cuma kesan dengaran saya. Saya belum sempet nanya detail ini ke komposernya. Pak Embie pernah bilang kalau masternya ilang dilalap banjir. Selain musik synthesizer, ada juga bunyi-bunyi instrumen asli seperti gesekan biola, vocal choir dan denting piano. Aransemen lagu "Lihat Kebunku" bukannya menggambarkan keceriaan anak-anak malah memberi atmosfir yang kelam.

"Lihat kebunku, penuh dengan bunga..."

Bunga apa gerangan? Bunga kuburan?

Dan jangan lupakan satu lagu daerah yang kemudian menjadi lagu ikon "kominis" lokal... "Gendjer-Gendjer". Selain dinyanyikan dalam adegan penyiksaan para jendral, nada-nada utamanya juga disusupkan secara cerdik dalam music score-nya. Ini sebenarnya cuma lagu daerah Jawa Timuran. Pernah dinyanyikan biduan jadul kondang Lilis Suryani. Gara-gara sering dinyanyikan oleh para simpatisan PKI, lagu ini lantas seakan identik dengan "lagu komunis". Padahal apa sih isi lagunya?

"Gendjer-gendjer nong kedokan pating keleler..." Ini kan lagu tentang tanaman sayur bernama genjer. Mungkin pas untuk mengiringi makan pecel. Atau jangan-jangan pecel nanti dikira makanan komunis? Hiii...ngeri! (Belakangan saya baru dapat info bahwa lagu tersebut berasal dari lagu rakyat Banyuwangi. Oleh seorang seniman bernama M. Arief dikasih lirik baru untuk menggambarkan penderitaan jaman Jepang.)

Musik Embie C. Noer tak cuma menghiasi, mengilustrasi, melainkan sudah menjadi jiwa film itu sendiri. Berpadu dengan gambar berpencahayaan rendah, musik ini jadi mimpi buruk mengendap di bawah sadar. Buktinya? Ya itu….sampai sekarang saya masih ngeri menonton film ini secara utuh. Sungguh kolaborasi kakak-adik, sutradara-komposer yang luar biasa.

Klimaksnya tentu adegan penyiksaan. Saya selalu tak betah menontonnya. Bahkan saat quote memorable “Darah itu merah, Jendral!” diucapkan, udah bikin saya ngeri. Di sini G30SPKI menunjukkan kelas sebagai film slasher…yaitu…genre “beleh-belehan”. Para Jendral disiksa dengan alat, ditusuk dengan bayonet, dipukuli, ditendangi, disundut rokok, dicungkil matanya dan lalu dimauskkan ke sumur tua. Tak cukup sampai di situ. Di atasnya ditanam pohon pisang. Itulah puncak horror film ini. Tentu saja akan lain kalau anda baca sejarah asli dari banyak sumber. Konon horror di realitanya malah berlangsung setelah 30 September kan?

Lalu sebagai resolusi cerita, muncullah Pak Harto (diperankan Amoroso Katmasi) sebagai penyelamat bangsa. Di sini film G30SPKI jadi nampak kayak film perang. Ada tentara-tentara bergerak dan kendaraan tempur. Ketika saya menontonnya saat masih kecil, di sinilah saya mulai merasa lega. Tidak takut lagi. TNI bersama Pancasila telah menumpas kekuatan setan hehehe

Ada untungnya film ini diproduksi negara. Jadinya budget nggak terlalu masalah bagi sang filmmaker. G30SPKI begitu detail. Naskahnya, meski terlalu panjang, memuat hal-hal yang secara sinematik penting. Arifin C. Noer adalah penutur kisah yang hebat. Maklum ia bisa nulis dan ngerti dramaturgi. Tapi ia juga punya tim yang bagus. Filmnya sangat well made. Adapun beban gugatan sejarah, itulah yang menjadi kelemahan non teknis satu-satunya. Ya mau gimana lagi?

Entah sudah berapa kali saya ngomong….G30SPKI yang disutradari Arifin C. Noer adalah satu-satunya film terhebat yang pernah dibikin orang Indonesia. Dan selalu saya katakan itu dengan ironi…sayangnya ini film propaganda hahaha.

Lalu saya dengar ada wacana usulan mau dibikin remake?

Pendapat saya...nggak bisa. Itu nggak akan berhasil. Nggak ada yang akan menandingi Arifin C. Noer. Tapi ya monggo saja sih dengan segala resiko, kekurangan, kelebihan dan dampaknya. Tapi jangan pakai naskah Arifin C. Noer lah. Film ini sudah menjadi sejarah estetika sinema Indonesia.




Baca

BAGAIMANA CARA SAYA BIKIN BREAKDOWN SCRIPT UNTUK D.O.P/CINEMATOGRAPHER UNTUK TIM PRODUKSI YANG SUPER MINI?

Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Baca

TONARI NO TOTORO (Hayao Miyazaki 1988), KISAH GENDRUWO DESA BERBULU IMUT

Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Baca

BAGAIMANA SAYA MENANGANI AUDIO DI FILM SAYA YANG NO BUDGET

Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Baca

MENGAPA SAYA PAKAI CLOSE UP DAN WIDE APERTURE?


Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.

Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA