Impresi Debussy: Musik yang Bercerita

Saya agak menyesal karena baru sekarang menyadari keindahan musik Debussy. Karya komposer ini agak terlewatkan dari telinga saya sejak saya mulai menyukai musik komposisional beberapa tahun lalu. Karya-karya seperti Claire de Lune, Girl With a Flaxen Hair dan Golliwog's Cakewalk memang telah lama saya nikmati tapi saya baru benar-benar tersentuh setelah mendengar Prelude to the Afternoon of the Faun (Prélude à l'après-midi d'un faune) dan Arabesque No.1.

Menurut catatan yang saya tilik dari Ensiklopedia, Debussy merupakan pelopor daripada musik modern. Dia berhasil mengeksplorasi nada-nada secara menyeluruh dan membuatnya mengalir tanpa terikat pola tertentu. Musiknya langsung menimbulkan kesan yang kuat sehingga pikiran pun tak sempat menganalisisnya. Seperti membanjiri pendengarnya dengan ribuan warna seperti titik-titik warna yang menyusun sebuah lukisan.

Seringkali kesan itu berupa visual. Saya sering terbayang garis-garis yang melingkar, sapuan kuas yang lembut, cahaya dari pemandangan yang tajam dan gerakan-gerakan mengalir alamiah saat mendengar musik Debussy. Contohnya pada komposisi La Mer. Saya benar-benar terbayang akan laut, ombak dan camarnya. Bahkan sedemikian detail kesan itu pada saya sehingga saya seakan-akan sedang berbaring di atas pasir. Ada kesiur angin meniup rumput yang menyembul dari pasir tak jauh dari tempat saya berbaring. Lalu gesekan strings yang menyeruak di antara alunan instrumen tiup itu serupa riuh rendah kicauan camar. Musik Debussy melemparkan saya dalam alam khayal yang dibawa oleh gugusan nada-nadanya. Saya sendiri lebih suka menyebut musik semacam ini sebagai musik sinematografis. Musik yang melukiskan kejadian seperti film.

Dengan demikian saya jadi maklum kenapa aliran musik Debussy disebut dengan impresionis. Kesan psikis yang dihasilkan oleh warna musiknya memang serupa benar dengan sapuan kuas para pelukis impresionis semacam Renoir, Monet, Manet, Degas dan lain-lain. Selama ini saya terlalu menikmati musik sebagai tatanan semata. Permainan nada-nada dan irama. Tetapi musik Debussy membawakan lebih dari itu. Kesan yang mendalam. Musik yang tak hanya berbunyi namun juga bercerita.

Bagi saya yang tak paham benar teori musik, kesan adalah hal yang utama. Tentu saja. Mendengar musik yang tak berkesan akan seperti menemukan sampah di jalan yang kita lewati namun kita abaikan begitu saja. Dipungut juga tidak.   

Sagan-Jogja, 29 September 2007
Saya agak menyesal karena baru sekarang menyadari keindahan musik Debussy. Karya komposer ini agak terlewatkan dari telinga saya sejak saya mulai menyukai musik komposisional beberapa tahun lalu. Karya-karya seperti Claire de Lune, Girl With a Flaxen Hair dan Golliwog's Cakewalk memang telah lama saya nikmati tapi saya baru benar-benar tersentuh setelah mendengar Prelude to the Afternoon of the Faun (Prélude à l'après-midi d'un faune) dan Arabesque No.1.

Menurut catatan yang saya tilik dari Ensiklopedia, Debussy merupakan pelopor daripada musik modern. Dia berhasil mengeksplorasi nada-nada secara menyeluruh dan membuatnya mengalir tanpa terikat pola tertentu. Musiknya langsung menimbulkan kesan yang kuat sehingga pikiran pun tak sempat menganalisisnya. Seperti membanjiri pendengarnya dengan ribuan warna seperti titik-titik warna yang menyusun sebuah lukisan.

Seringkali kesan itu berupa visual. Saya sering terbayang garis-garis yang melingkar, sapuan kuas yang lembut, cahaya dari pemandangan yang tajam dan gerakan-gerakan mengalir alamiah saat mendengar musik Debussy. Contohnya pada komposisi La Mer. Saya benar-benar terbayang akan laut, ombak dan camarnya. Bahkan sedemikian detail kesan itu pada saya sehingga saya seakan-akan sedang berbaring di atas pasir. Ada kesiur angin meniup rumput yang menyembul dari pasir tak jauh dari tempat saya berbaring. Lalu gesekan strings yang menyeruak di antara alunan instrumen tiup itu serupa riuh rendah kicauan camar. Musik Debussy melemparkan saya dalam alam khayal yang dibawa oleh gugusan nada-nadanya. Saya sendiri lebih suka menyebut musik semacam ini sebagai musik sinematografis. Musik yang melukiskan kejadian seperti film.

Dengan demikian saya jadi maklum kenapa aliran musik Debussy disebut dengan impresionis. Kesan psikis yang dihasilkan oleh warna musiknya memang serupa benar dengan sapuan kuas para pelukis impresionis semacam Renoir, Monet, Manet, Degas dan lain-lain. Selama ini saya terlalu menikmati musik sebagai tatanan semata. Permainan nada-nada dan irama. Tetapi musik Debussy membawakan lebih dari itu. Kesan yang mendalam. Musik yang tak hanya berbunyi namun juga bercerita.

Bagi saya yang tak paham benar teori musik, kesan adalah hal yang utama. Tentu saja. Mendengar musik yang tak berkesan akan seperti menemukan sampah di jalan yang kita lewati namun kita abaikan begitu saja. Dipungut juga tidak.   

Sagan-Jogja, 29 September 2007
Baca

El Laberinto del Fauno: Film tentang Dunia Dongeng Terbaik

Film yang dalam edisi Inggrisnya berjudul Pan’s Labyrinth ini merupakan satu dari sedikit film Spanyol yang beredar secara luas. Kematangan desain kostumnya mendapat ganjaran piala Oscar pada tahun 2007, menempatkan Guillermo del Toro sebagai sutradara yang diperhitungkan setelah dikenal orang lewat debutnya menyutradarai Blade II dan Hellboy.

Pan’s Labyrinth

Dikisahkan bahwa di dunia bawah hidup seorang putri yang tertarik untuk mengunjungi dunia atas. Dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang kelam namun tenang dan damai sementara dunia atas penuh dengan warna, cahaya matahari dan keindahan. Suatu saat sang putri melarikan diri dari istana untuk pergi ke dunia atas. Malang baginya, sinar matahari yang begitu terang lantas membutakannya. Karena ia tersesat dan tak tertolong lagi maka ia meninggal di sana. Mengetahui hal ini, sang raja ayahnya berduka. Namun ia percaya bahwa suatu saat roh putrinya akan kembali ke istana dengan suatu cara.

Adalah Ofelia, gadis yatim yang kini mempunyai ayah tiri bernama Kapten Vidal. Sejak itu hidupnya tak lagi menggembirakan. Ia harus bersikap manis pada ayah tirinya yang bengis. Ia juga harus menjaga kesehatan ibunya yang saat itu sedang hamil. Sementara itu perang yang tak kunjung selesai. Yang menghiburnya adalah Mercedes, pengasuhnya yang baik hati. Hanya pada dialah ia bisa lari dari segala kesedihannya.

Suatu saat ia memasuki sebuah Labirin misterius yang keramat. Di sana ia bertemu dengan Sang Faun yang memberitahu bahwa ia adalah seorang putri. Faun adalah utusan ayahnya untuk menjemputnya. Tetapi ia tak bisa pulang begitu saja. Ofelia harus melewati tiga ujian yang diberikan oleh Sang Faun. Ujian pertama bisa ia lewati dengan gemilang tetapi ia gagal pada ujian kedua. Sang Faun marah dan tak mau menemuinya lagi, artinya Ofelia akan tinggal di dunia manusia seterusnya, merasakan sakit dan penderitaan. Untunglah Sang Faun memaafkannya dan bersedia memberikan ujian terakhir. Ujian yang terakhir ini begitu berat bagi Ofelia.

Saat hal yang perlu kita garis bawahi sebelum menonton film ini adalah bahwa ini samasekali BUKAN FILM UNTUK ANAK-ANAK. Ada banyak adegan kekerasan di dalamnya. El Laberinto del Fauno (ELDF) adalah film tentang dongeng yang unik. Ada kritikus yang menyebutnya a Fairytales for the Growns (dongeng untuk orang dewasa). Bisakah anda bayangkan kisah peri-peri yang berbaur dengan cerita perang. Selain sihir dan mukjizat juga ada pistol dan peluru.

Begitulah. ELDF meramunya dalam sebuah film dengan cerita yang apik, tata cahaya yang indah, kostum yang sangat luar biasa dan tak ketinggalan pula music score yang sangat menyentuh. Pantaslah ia dapat ganjaran piala Oscar.

Kostum dan art design ELDF membuat kita tercengang. Perhatikanlah desain karakter Sang Faun yang jauh dari Faun tradisional di buku-buku mitologi. Faun (dalam bahasa Inggris Pan) adalah makhluk dewata berwujud manusia berkepala kambing. Dalam ELDF ia tak cuma digambarkan begitu saja. Sosoknya seperti pohon tua yang menyatu dengan lingkungan sekelilingnya, dinding labirin yang berlumut.

Tak cuma kecanggihan tata artistik, kita bisa melihat akting para pemain dalam film ini yang benar-benar pas. Kesempurnaan akting Doug Jones membuat kita merasa bahwa tokoh aneh ini benar-benar nyata. Ekspresinya yang misterius membuat kita bimbang apakah ia tokoh yang baik atau bukan. Sementara itu Ivana Baquero membawakan karakter Ofelia dengan wajar dan meyakinkan. Gadis kecil ini meskipun cantik, parasnya terselimuti kesenduan karena beban hidup yang menimpanya.

Ada pula Sergi Lopez memerankan Kapten Vidal yang begitu meyakinkan sebagai sosok kejam, disiplin dan sedingin es. Namun adegan paling menyeramkan yang dilakukannya bukanlah saat ia memukuli wajah orang sampai hancur atau saat menembak kepala musuh dengan santainya, melainkan saat ia terluka oleh pisau Mercedes. Luka itu merobek pipinya hingga ia harus menjahitnya sendiri. Anda boleh menyipitkan mata untuk membayangkan nyerinya. Apalagi melihat darahnya merembes dari perban saat ia minum. Hasil dari tata rias yang luar biasa.

Selain kecemerlangan penggarapan visual itu kita boleh memuji musik yang menguatkan jiwa film ini. Betapa sendunya lagu nina bobo yang dibawakan Mercedes untuk menenangkan Ofelia. Komposer film Javier Navarette menggubahnnya dalam nada-nada minor sederhana. Begitu mudah diingat tetapi sangat indah. Seolah-olah kita pernah mendengarnya ketika masih dalam janin sang bunda.

Setelah menonton film ini kepala kita masih akan terus dipenuhi dengan bayangan Sang Faun, wajah bengis Kapten Vidal serta penderitaan Ofelia. Tak ada film dongeng sekelam sekaligus seindah film ini. Ingatlah, ini bukan film untuk anak-anak! Benar-benar dongeng untuk orang dewasa….
Film yang dalam edisi Inggrisnya berjudul Pan’s Labyrinth ini merupakan satu dari sedikit film Spanyol yang beredar secara luas. Kematangan desain kostumnya mendapat ganjaran piala Oscar pada tahun 2007, menempatkan Guillermo del Toro sebagai sutradara yang diperhitungkan setelah dikenal orang lewat debutnya menyutradarai Blade II dan Hellboy.

Pan’s Labyrinth

Dikisahkan bahwa di dunia bawah hidup seorang putri yang tertarik untuk mengunjungi dunia atas. Dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang kelam namun tenang dan damai sementara dunia atas penuh dengan warna, cahaya matahari dan keindahan. Suatu saat sang putri melarikan diri dari istana untuk pergi ke dunia atas. Malang baginya, sinar matahari yang begitu terang lantas membutakannya. Karena ia tersesat dan tak tertolong lagi maka ia meninggal di sana. Mengetahui hal ini, sang raja ayahnya berduka. Namun ia percaya bahwa suatu saat roh putrinya akan kembali ke istana dengan suatu cara.

Adalah Ofelia, gadis yatim yang kini mempunyai ayah tiri bernama Kapten Vidal. Sejak itu hidupnya tak lagi menggembirakan. Ia harus bersikap manis pada ayah tirinya yang bengis. Ia juga harus menjaga kesehatan ibunya yang saat itu sedang hamil. Sementara itu perang yang tak kunjung selesai. Yang menghiburnya adalah Mercedes, pengasuhnya yang baik hati. Hanya pada dialah ia bisa lari dari segala kesedihannya.

Suatu saat ia memasuki sebuah Labirin misterius yang keramat. Di sana ia bertemu dengan Sang Faun yang memberitahu bahwa ia adalah seorang putri. Faun adalah utusan ayahnya untuk menjemputnya. Tetapi ia tak bisa pulang begitu saja. Ofelia harus melewati tiga ujian yang diberikan oleh Sang Faun. Ujian pertama bisa ia lewati dengan gemilang tetapi ia gagal pada ujian kedua. Sang Faun marah dan tak mau menemuinya lagi, artinya Ofelia akan tinggal di dunia manusia seterusnya, merasakan sakit dan penderitaan. Untunglah Sang Faun memaafkannya dan bersedia memberikan ujian terakhir. Ujian yang terakhir ini begitu berat bagi Ofelia.

Saat hal yang perlu kita garis bawahi sebelum menonton film ini adalah bahwa ini samasekali BUKAN FILM UNTUK ANAK-ANAK. Ada banyak adegan kekerasan di dalamnya. El Laberinto del Fauno (ELDF) adalah film tentang dongeng yang unik. Ada kritikus yang menyebutnya a Fairytales for the Growns (dongeng untuk orang dewasa). Bisakah anda bayangkan kisah peri-peri yang berbaur dengan cerita perang. Selain sihir dan mukjizat juga ada pistol dan peluru.

Begitulah. ELDF meramunya dalam sebuah film dengan cerita yang apik, tata cahaya yang indah, kostum yang sangat luar biasa dan tak ketinggalan pula music score yang sangat menyentuh. Pantaslah ia dapat ganjaran piala Oscar.

Kostum dan art design ELDF membuat kita tercengang. Perhatikanlah desain karakter Sang Faun yang jauh dari Faun tradisional di buku-buku mitologi. Faun (dalam bahasa Inggris Pan) adalah makhluk dewata berwujud manusia berkepala kambing. Dalam ELDF ia tak cuma digambarkan begitu saja. Sosoknya seperti pohon tua yang menyatu dengan lingkungan sekelilingnya, dinding labirin yang berlumut.

Tak cuma kecanggihan tata artistik, kita bisa melihat akting para pemain dalam film ini yang benar-benar pas. Kesempurnaan akting Doug Jones membuat kita merasa bahwa tokoh aneh ini benar-benar nyata. Ekspresinya yang misterius membuat kita bimbang apakah ia tokoh yang baik atau bukan. Sementara itu Ivana Baquero membawakan karakter Ofelia dengan wajar dan meyakinkan. Gadis kecil ini meskipun cantik, parasnya terselimuti kesenduan karena beban hidup yang menimpanya.

Ada pula Sergi Lopez memerankan Kapten Vidal yang begitu meyakinkan sebagai sosok kejam, disiplin dan sedingin es. Namun adegan paling menyeramkan yang dilakukannya bukanlah saat ia memukuli wajah orang sampai hancur atau saat menembak kepala musuh dengan santainya, melainkan saat ia terluka oleh pisau Mercedes. Luka itu merobek pipinya hingga ia harus menjahitnya sendiri. Anda boleh menyipitkan mata untuk membayangkan nyerinya. Apalagi melihat darahnya merembes dari perban saat ia minum. Hasil dari tata rias yang luar biasa.

Selain kecemerlangan penggarapan visual itu kita boleh memuji musik yang menguatkan jiwa film ini. Betapa sendunya lagu nina bobo yang dibawakan Mercedes untuk menenangkan Ofelia. Komposer film Javier Navarette menggubahnnya dalam nada-nada minor sederhana. Begitu mudah diingat tetapi sangat indah. Seolah-olah kita pernah mendengarnya ketika masih dalam janin sang bunda.

Setelah menonton film ini kepala kita masih akan terus dipenuhi dengan bayangan Sang Faun, wajah bengis Kapten Vidal serta penderitaan Ofelia. Tak ada film dongeng sekelam sekaligus seindah film ini. Ingatlah, ini bukan film untuk anak-anak! Benar-benar dongeng untuk orang dewasa….
Baca

Review Film: Memento, Karya Cerdas Mengutak-atik Ingatan

Apa jadinya jika kita tak bisa lagi mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu, sementara kejadian yang terakhir kita ingat sebenarnya sudah lama sekali berlalu? Seperti rekaman pada pita kaset yang terhapus beberapa senti pada bagian akhir.
Poster Memento

Itulah yang terjadi pada Lenny (Guy Pierce). Sesuatu terjadi sehingga mengakibatkan ia menderita temporal memory loss dissorder (kehilangan ingatan jangka pendek). Yang menyedihkan, kejadian terakhir yang ia ingat adalah pemerkosaan dan pembunuhan  terhadap isterinya.

Kini ia hidup hanya dengan tujuan menemukan si penjahat itu lalu menghabisinya. Buruknya, ia hanya punya beberapa lembar foto dan catatan yang lupa kapan ia buat. Yang jelas ia tahu bahwa ingatannya tak lagi berguna. Catatan itu berguna untuk menentukan apa yang harus ia lakukan jika ingatannya terhapus lagi nanti. Ia harus mencatat, mencatat dan mencatat. Ia membawa terus catatan itu bahkan mentattokannya pada tubuhnya.

Ada suatu nama yang ia kejar. Tapi ia tak pernah tahu identitasnya. Waktu terus berjalan dan pencarian itu berujung pada hal yang tak terduga. Ironisnya, ia tak akan bisa mengingatnya. Ia hanya bisa mencatatnya. Sejauh apa catatan itu bisa membantunya?

MEMENTO adalah karya cerdas yang mengutak-atik sesuatu bernama ingatan. Sepanjang hidupnya manusia belajar dari ingatan. Manusia tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali karena belajar dari ingatan. Ingatan adalah acuan bagi manusia untuk menentukan sikap dan perbuatannya. Bagaimana jika itu hilang?

Untuk mengatasi kelupaan, orang bijak selalu menyarankan untuk mencatat hal-hal yang penting. Akan tetapi bagaimana jika kita lupa mengapa catatan itu dibuat? Catatan itu kemudian hanya berupa pesan yang tak jelas acuannya. Seperti Lenny. Di catatan yang ia buat tertera nama pembunuh isterinya, tapi bagaimana ia tahu bahwa hal itu benar? Untuk mengetahui validitas catatan itu ia bahkan samasekali tak punya referensi. Apa yang bisa menjamin kebenaran sebuah catatan yang dibuat oleh penderita penyakit seperti dia.

Christopher Nolan tak diragukan lagi memang piawai mengemas ironi ingatan itu dalam MEMENTO. Karya yang dibuat berdasarkan cerita pendek Jonathan Nolan itu unggul dari banyak hal. Alurnya yang maju mundur dan juga permainan antara gambar berwarna dan hitam putih membuat kita memandang ingatan Lenny seperti beberapa kepingan puzzle. Sayangnya untuk menyusun puzzle itu kita tak punya rujukan yang jelas. Kita sama bingungnya seperti Lenny. Hanya ada foto-foto dan catatan yang menyuruh kita melakukan suatu hal. Hanya itu referensi satu-satunya. Maka apapun yang sebenarnya terjadi, kita harus percaya pada catatan. Benar atau tidak toh kita tak bisa mengingatnya.

Akting Guy Pierce cukup mengesankan sebagai orang yang sakit. Juga Carry Anne-Moss yang kompleks. Terlebih Joe Pantoliano. Bisa saya bilang ia sangat berhasil membawakan karakternya. Kita tak punya referensi apakah karakter yang ia bawakan adalah orang jahat atau bukan. Kita seolah-olah sama sakitnya dengan Lenny. Pembawaannya yang santai membuat kita percaya padanya meskipun samasekali tak tahu latarbelakangnya. Dalam MEMENTO, jarak kita dengan Lenny begitu dekat. Seolah-olah kita adalah Lenny itu sendiri.

Saya tak berkomentar banyak tentang music score yang digarap oleh David Julyan. Tak perlu menuntut lebih karena selama musiknya padu dengan jalan cerita, semuanya oke. Lagipula, MEMENTO tak perlu score yang terlalu megah ala simfoni John Williams. Begitu pula dengan tata kamera. Namun ada satu hal yang bagi saya berkesan. Yaitu di bagian awal, adegan Lenny menembak seseorang yang diputar secara terbalik.

Kata yang bisa saya berikan untuk film ini hanya satu: Cerdas!
Reaksi saya setelah nonton film ini hanya satu: Tepuk tangan!
Jika anda suka kecerdasan ini, bolehlah menengok karya Nolan yang lain terutama: The Prestige!
Apa jadinya jika kita tak bisa lagi mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu, sementara kejadian yang terakhir kita ingat sebenarnya sudah lama sekali berlalu? Seperti rekaman pada pita kaset yang terhapus beberapa senti pada bagian akhir.
Poster Memento

Itulah yang terjadi pada Lenny (Guy Pierce). Sesuatu terjadi sehingga mengakibatkan ia menderita temporal memory loss dissorder (kehilangan ingatan jangka pendek). Yang menyedihkan, kejadian terakhir yang ia ingat adalah pemerkosaan dan pembunuhan  terhadap isterinya.

Kini ia hidup hanya dengan tujuan menemukan si penjahat itu lalu menghabisinya. Buruknya, ia hanya punya beberapa lembar foto dan catatan yang lupa kapan ia buat. Yang jelas ia tahu bahwa ingatannya tak lagi berguna. Catatan itu berguna untuk menentukan apa yang harus ia lakukan jika ingatannya terhapus lagi nanti. Ia harus mencatat, mencatat dan mencatat. Ia membawa terus catatan itu bahkan mentattokannya pada tubuhnya.

Ada suatu nama yang ia kejar. Tapi ia tak pernah tahu identitasnya. Waktu terus berjalan dan pencarian itu berujung pada hal yang tak terduga. Ironisnya, ia tak akan bisa mengingatnya. Ia hanya bisa mencatatnya. Sejauh apa catatan itu bisa membantunya?

MEMENTO adalah karya cerdas yang mengutak-atik sesuatu bernama ingatan. Sepanjang hidupnya manusia belajar dari ingatan. Manusia tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali karena belajar dari ingatan. Ingatan adalah acuan bagi manusia untuk menentukan sikap dan perbuatannya. Bagaimana jika itu hilang?

Untuk mengatasi kelupaan, orang bijak selalu menyarankan untuk mencatat hal-hal yang penting. Akan tetapi bagaimana jika kita lupa mengapa catatan itu dibuat? Catatan itu kemudian hanya berupa pesan yang tak jelas acuannya. Seperti Lenny. Di catatan yang ia buat tertera nama pembunuh isterinya, tapi bagaimana ia tahu bahwa hal itu benar? Untuk mengetahui validitas catatan itu ia bahkan samasekali tak punya referensi. Apa yang bisa menjamin kebenaran sebuah catatan yang dibuat oleh penderita penyakit seperti dia.

Christopher Nolan tak diragukan lagi memang piawai mengemas ironi ingatan itu dalam MEMENTO. Karya yang dibuat berdasarkan cerita pendek Jonathan Nolan itu unggul dari banyak hal. Alurnya yang maju mundur dan juga permainan antara gambar berwarna dan hitam putih membuat kita memandang ingatan Lenny seperti beberapa kepingan puzzle. Sayangnya untuk menyusun puzzle itu kita tak punya rujukan yang jelas. Kita sama bingungnya seperti Lenny. Hanya ada foto-foto dan catatan yang menyuruh kita melakukan suatu hal. Hanya itu referensi satu-satunya. Maka apapun yang sebenarnya terjadi, kita harus percaya pada catatan. Benar atau tidak toh kita tak bisa mengingatnya.

Akting Guy Pierce cukup mengesankan sebagai orang yang sakit. Juga Carry Anne-Moss yang kompleks. Terlebih Joe Pantoliano. Bisa saya bilang ia sangat berhasil membawakan karakternya. Kita tak punya referensi apakah karakter yang ia bawakan adalah orang jahat atau bukan. Kita seolah-olah sama sakitnya dengan Lenny. Pembawaannya yang santai membuat kita percaya padanya meskipun samasekali tak tahu latarbelakangnya. Dalam MEMENTO, jarak kita dengan Lenny begitu dekat. Seolah-olah kita adalah Lenny itu sendiri.

Saya tak berkomentar banyak tentang music score yang digarap oleh David Julyan. Tak perlu menuntut lebih karena selama musiknya padu dengan jalan cerita, semuanya oke. Lagipula, MEMENTO tak perlu score yang terlalu megah ala simfoni John Williams. Begitu pula dengan tata kamera. Namun ada satu hal yang bagi saya berkesan. Yaitu di bagian awal, adegan Lenny menembak seseorang yang diputar secara terbalik.

Kata yang bisa saya berikan untuk film ini hanya satu: Cerdas!
Reaksi saya setelah nonton film ini hanya satu: Tepuk tangan!
Jika anda suka kecerdasan ini, bolehlah menengok karya Nolan yang lain terutama: The Prestige!
Baca

Gugun's Recommended Movies


  1. Before Sunrise & Before Sunset-Richard Linklater (film terbaik tentang komunikasi)
  2. Jurassic Park-Steven Spielberg (film dengan visual effect terbaik)
  3. Trois Coleur: Blanc-Krzytov Kieslowski (film dark comedy terbaik)
  4. Les Fabuleux Destin d’Amelie Poulain-Jean-Pierre Jeunet (film terbaik tentang hal-hal kecil)
  5. Shawshank Redemption-Frank Darabont (film terbaik tentang semangat hidup)
  6. Forrest Gump-Robert Zemeckis (film terbaik tentang ketulusan tindakan)
  7. L'Appartement (film dengan plot terbaik)
  8. Happy Feet (film terbaik tentang ekosistem)
  9. Nightmare Before Christmas-Henry Sellick (film stopmotion artistik terbaik)
  10. Contact-Robert Zemeckis (film terbaik tentang alien)
  11. Fauteuils d’Orchestre-Danielle Thompson (film dengan happy ending terbaik)
  12. Bourne Identity (film spionase terbaik)
  13. The Exorcist-William Friedkin (film horror terbaik)
  14. Mean Girls (film remaja terbaik)
  15. El Laberinto del Fauno-Guillermo del Toro (film tentang dunia dongeng terbaik)
  16. The Parent’s Trap-Nancy Meyers (film drama keluarga terbaik)
  17. Spiderman 2-Sam Raimi (film action superhero terbaik)
  18. The Island (film science fiction terbaik)
  19. The Prestige-Christoper Nolan (film dengan twist ending terbaik)
  20. Rashomon-Akira Kurosawa (film dengan multi point of view terbaik)
Kalian punya versi kalian sendiri? Send it to me! I'm mad about movie!

  1. Before Sunrise & Before Sunset-Richard Linklater (film terbaik tentang komunikasi)
  2. Jurassic Park-Steven Spielberg (film dengan visual effect terbaik)
  3. Trois Coleur: Blanc-Krzytov Kieslowski (film dark comedy terbaik)
  4. Les Fabuleux Destin d’Amelie Poulain-Jean-Pierre Jeunet (film terbaik tentang hal-hal kecil)
  5. Shawshank Redemption-Frank Darabont (film terbaik tentang semangat hidup)
  6. Forrest Gump-Robert Zemeckis (film terbaik tentang ketulusan tindakan)
  7. L'Appartement (film dengan plot terbaik)
  8. Happy Feet (film terbaik tentang ekosistem)
  9. Nightmare Before Christmas-Henry Sellick (film stopmotion artistik terbaik)
  10. Contact-Robert Zemeckis (film terbaik tentang alien)
  11. Fauteuils d’Orchestre-Danielle Thompson (film dengan happy ending terbaik)
  12. Bourne Identity (film spionase terbaik)
  13. The Exorcist-William Friedkin (film horror terbaik)
  14. Mean Girls (film remaja terbaik)
  15. El Laberinto del Fauno-Guillermo del Toro (film tentang dunia dongeng terbaik)
  16. The Parent’s Trap-Nancy Meyers (film drama keluarga terbaik)
  17. Spiderman 2-Sam Raimi (film action superhero terbaik)
  18. The Island (film science fiction terbaik)
  19. The Prestige-Christoper Nolan (film dengan twist ending terbaik)
  20. Rashomon-Akira Kurosawa (film dengan multi point of view terbaik)
Kalian punya versi kalian sendiri? Send it to me! I'm mad about movie!
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA