Nightmare Before Christmas: Masterpiece Film Animasi Stopmotion

Tim Burton, walau film-filmnya jarang meledak di pasaran namun telah memiliki penggemar yang cukup fanatik. Saya boleh juga didaftar untuk dimasukkan ke situ.

Bagi saya Nightmare Before Christmas tak sekadar merupakan masterpiece film Tim Burton semata namun juga masterpiece untuk genre film animasi stopmotion. Sesungguhnya film ini bukan disutradarai oleh Tim Burton sendiri melainkan oleh Henry Sellick, seorang animator berbakat yang entah kenapa tak terdengar lagi gaungnya. Dalam film ini Tim Burton berlaku sebagai penulis cerita.

Nightmare Before Christmas

Cerita dibuka lewat Jack Skelington, sesosok makhluk berwujud tengkorak yang hidup di sebuah dunia yang suram. Jack merasa bosan dengan Halloween yang dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa hampa dan lalu berjalan-jalan sendirian. Kemudian ia terperosok ke dalam dunia yang lain dengan dunianya. Dunia yang penuh warna di mana para makhluk di situ sedang merayakan natal. Jack heran lalu menyelidiki tentang apa itu hari natal. Dari situ Jack mendapatkan ide untuk ikut merayakan natal di sana dengan caranya sendiri. Jack memakai ide-ide seram yang biasanya ia pakai saat Halloween untuk untuk merayakan natal di kota manusia. Sally sesosok makhluk yang bersimpati pada Jack berusaha mencegah namun Jack tetap tak tergoyahkan. Pertama Jack menculik Santa Klaus dan kemudian menyamar sebagai dirinya. Tak seperti yang ia perkirakan, perayaan natal yang dibawanya menjadi bencana bagi kota. Jack pun dimusuhi oleh para manusia yang menganggapnya sebagai biang bencana.

Film ini bercerita dengan gaya yang sungguh tak lazim saat itu. Boneka-boneka berwajah horor yang membawa sebuah cerita jenaka dalam suasana suram (yang merupakan khas Burton). Secara visual Nightmare Before Christmas adalah film dengan tata artistik luar biasa. Film ini digarap dengan teknik stopmotion di mana para animator menggerakkan boneka secara manual lalu dipotret satu persatu. Hasilnya, film ini menjadi begitu unik dan tak tertandingi bahkan oleh animasi CGI sekalipun. Perhatikan karakter Jack Skelington yang aneh. Sesosok tengkorak hidup yang bisa bergerak seperti laba-laba. Sosok yang tak punya bola mata tetapi ekspresi wajahnya begitu hidup. Namun sayangnya cerita yang dibangun terasa sangat lemah. Tak dijelaskan kenapa kebosanan Jack dengan Halloween begitu penting untuk dijadikan tema cerita. Juga kemunculan tokoh Sally yang kurang bisa mendukung cerita selain sekadar mengingatkan Jack dan bersimpati padanya. Bahkan si Oogie-Boogie Man juga tak terlalu memiliki posisi yang kuat menjadi tokoh antagonis. Belum lagi saat Jack merayakan natal di kota manusia dengan cara Halloweennya. Apakah alasannya? Kedodoran ini membuat cerita jadi absurd. Padahal adegan awalnya begitu menjanjikan, yaitu saat Jack mulai bosan dengan rutinitas perayaan Halloweennya.

Namun kita boleh juga agak melupakan itu karena Danny Elfman telah membuat musik yang hebat untuk film ini. Filmnya sendiri memang bergaya opera, yaitu jalinan cerita banyak diungkapkan lewat lagu (Danny Elfman sendiri mengisi suara Jack saat menyanyi). Dari awal hingga akhir anda akan disuguhi oleh musik-musik bernuansa gelap dan suram. Simak lagu untuk menyambut Halloween yang dinyanyikan para makhluk-makhluk seram sahabat Jack Skelington. Di sinilah kita akan bisa merasakan chemistry duet Tim Burton-Danny Elfman. Simak betapa cocoknya antara visualisasi film itu dengan musik yang mengiringinya. Boleh untuk diketahui, Tim Burton hampir tak pernah memakai komposer musik selain Danny Elfman dalam film-filmnya. Jadi kekuatan Nightmare Before Christmas memang terletak pada musik dan visualisasinya. Saksikan kembalinya Tim Burton pada genre seperti ini lewat “Corpse Bride”. Di film itu ia bisa bercerita dengan lebih baik.
Tim Burton, walau film-filmnya jarang meledak di pasaran namun telah memiliki penggemar yang cukup fanatik. Saya boleh juga didaftar untuk dimasukkan ke situ.

Bagi saya Nightmare Before Christmas tak sekadar merupakan masterpiece film Tim Burton semata namun juga masterpiece untuk genre film animasi stopmotion. Sesungguhnya film ini bukan disutradarai oleh Tim Burton sendiri melainkan oleh Henry Sellick, seorang animator berbakat yang entah kenapa tak terdengar lagi gaungnya. Dalam film ini Tim Burton berlaku sebagai penulis cerita.

Nightmare Before Christmas

Cerita dibuka lewat Jack Skelington, sesosok makhluk berwujud tengkorak yang hidup di sebuah dunia yang suram. Jack merasa bosan dengan Halloween yang dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa hampa dan lalu berjalan-jalan sendirian. Kemudian ia terperosok ke dalam dunia yang lain dengan dunianya. Dunia yang penuh warna di mana para makhluk di situ sedang merayakan natal. Jack heran lalu menyelidiki tentang apa itu hari natal. Dari situ Jack mendapatkan ide untuk ikut merayakan natal di sana dengan caranya sendiri. Jack memakai ide-ide seram yang biasanya ia pakai saat Halloween untuk untuk merayakan natal di kota manusia. Sally sesosok makhluk yang bersimpati pada Jack berusaha mencegah namun Jack tetap tak tergoyahkan. Pertama Jack menculik Santa Klaus dan kemudian menyamar sebagai dirinya. Tak seperti yang ia perkirakan, perayaan natal yang dibawanya menjadi bencana bagi kota. Jack pun dimusuhi oleh para manusia yang menganggapnya sebagai biang bencana.

Film ini bercerita dengan gaya yang sungguh tak lazim saat itu. Boneka-boneka berwajah horor yang membawa sebuah cerita jenaka dalam suasana suram (yang merupakan khas Burton). Secara visual Nightmare Before Christmas adalah film dengan tata artistik luar biasa. Film ini digarap dengan teknik stopmotion di mana para animator menggerakkan boneka secara manual lalu dipotret satu persatu. Hasilnya, film ini menjadi begitu unik dan tak tertandingi bahkan oleh animasi CGI sekalipun. Perhatikan karakter Jack Skelington yang aneh. Sesosok tengkorak hidup yang bisa bergerak seperti laba-laba. Sosok yang tak punya bola mata tetapi ekspresi wajahnya begitu hidup. Namun sayangnya cerita yang dibangun terasa sangat lemah. Tak dijelaskan kenapa kebosanan Jack dengan Halloween begitu penting untuk dijadikan tema cerita. Juga kemunculan tokoh Sally yang kurang bisa mendukung cerita selain sekadar mengingatkan Jack dan bersimpati padanya. Bahkan si Oogie-Boogie Man juga tak terlalu memiliki posisi yang kuat menjadi tokoh antagonis. Belum lagi saat Jack merayakan natal di kota manusia dengan cara Halloweennya. Apakah alasannya? Kedodoran ini membuat cerita jadi absurd. Padahal adegan awalnya begitu menjanjikan, yaitu saat Jack mulai bosan dengan rutinitas perayaan Halloweennya.

Namun kita boleh juga agak melupakan itu karena Danny Elfman telah membuat musik yang hebat untuk film ini. Filmnya sendiri memang bergaya opera, yaitu jalinan cerita banyak diungkapkan lewat lagu (Danny Elfman sendiri mengisi suara Jack saat menyanyi). Dari awal hingga akhir anda akan disuguhi oleh musik-musik bernuansa gelap dan suram. Simak lagu untuk menyambut Halloween yang dinyanyikan para makhluk-makhluk seram sahabat Jack Skelington. Di sinilah kita akan bisa merasakan chemistry duet Tim Burton-Danny Elfman. Simak betapa cocoknya antara visualisasi film itu dengan musik yang mengiringinya. Boleh untuk diketahui, Tim Burton hampir tak pernah memakai komposer musik selain Danny Elfman dalam film-filmnya. Jadi kekuatan Nightmare Before Christmas memang terletak pada musik dan visualisasinya. Saksikan kembalinya Tim Burton pada genre seperti ini lewat “Corpse Bride”. Di film itu ia bisa bercerita dengan lebih baik.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA