Review Film Jadul: Saur Sepuh 1 (Satria Madangkara)

Diceritakan bahwa Bhre Wirabhumi, seorang raja separatis dari Pamotan yang kumisnya ada 3 (satu ada di atas bibir, dua ada di atas mata), berencana hendak memisahkan diri dari Majapahit. Alasannya sih karena sebagai putra selir dia merasa lebih berhak atas tahta Majapahit daripada Prabu Wikramawardhana yang isterinya putri dari permaisuri. Wirabhumi Si Kumis Tiga ini selain mendapat dukungan dari Amerika eh Cina, juga menggalang dukungan dari negara-negara kecil imperium Majapahit. Sponsor utama separatisme ini adalah kekaisaran Cina. You see? Jaman dulu pun sudah ada negara yang hobi mengobok-obok negara lain.


Kredit Gambar: jejakandromeda.com
Sementara itu tersebutlah negara kecil di Pasundan bernama Madangkara. Presiden eh rajanya adalah Brama Kumbara (Fendy Pradana). Madangkara memilih non-blok terhadap perseteruan Pamotan VS Majapahit. Brama Kumbara adalah ksatria sakti mandraguna. Paling-paling kelemahannya adalah nyemplung ke air lama-lama, karena ia takut kumis palsunya bisa copot. Brama adalah seorang poligamis yang setia. Istrinya Dewi Hanum (Aneke Putri) dan Paramita. Punya adik bernama Mantili Si Pedang Setan (Elly Ermawatie). Mantili bersuamikan Patih Gotawa (saudaranya Erwin Gotawa...Hush dengkulmu! Ngawur!) (diperankan Hengky Tarnando).

Brama punya semacam “pesawat jet pribadi”, semacam Air Force One berwujud rajawali animatronik raksasa. Ada kemungkinan si rajawali ini terlahir gigantis karena terkena mutasi radioaktif. Mungkin makanan induknya dulu tercemar limbah dari studio penempaan keris yang dibuang sembarangan. Rajawali ini mungkin punya semacam penyakit tengeng karena kalau terbang kepalanya tegak seperti celengan ayam.

Suatu ketika orang Pamotan bernama Tumenggung Bayan (Baron Hermanto) bikin ulah. Dia membunuh utusan Madangkara yang mau kirim surat ke Majapahit. Brama Kumbara menjadi marah dan ingin menghukum Tumenggung Bayan meskipun kematian utusan itu juga salah dia sendiri. Ia lupa bahwa sebenarnya ia bisa kirim surat lewat pos udara dengan nitip rajawali raksasa. Pastinya lebih cepat sampai.

Brama pun menantang Tumenggung Bayan untuk carok di pinggir hutan. Dengan mudah Brama membunuh Tumenggung Bayan dengan memanggangnya seperti ayam bakar kecap. Karena Tumenggung Bayan tewas, maka menurut adat yang berlaku di situ, isterinya melakukan adat bakar diri. Jadi ketika pejabat Pamotan mati maka isterinya juga akan ikut mati, bukannya dibagi-bagikan kepada bawahannya.

Kematian Tumenggung Bayan membuat beberapa orang jadi dendam. Tersebutlah Lasmini (Murty Sari Dewi), selingkuhan si Tumenggung Bayan yang jadi dendam pada Brama Kumbara. Begitu juga guru silat Tumenggung Bayan. Keduanya menantang kelahi dengan Brama, Dewi Hanum, Gotawa dan Mantili. Ini merepotkan misi Brama Kumbara cs yang saat itu sedang menjalankan misi diplomatik. Mereka harus mengirim beberapa surat diplomatik ke Pamotan dan Majapahit untuk memposisikan diri sebagai kerajaan non-blok.

Lagi-lagi Brama cs lebih suka repot-repot mengirim surat resmi lewat jalan darat. Kenapa ya?

Mungkin ada zona larangan terbang bagi rajawali raksasa di kerajaan. Dikawatirkan atap-atap keraton akan kena kotoran burung dalam jumlah masiv. Terbang pakai jurus juga nggak mungkin. Ajian semacam itu ada time limit-nya. Kirim pesan lewat telepati juga rentan pembajakan. Frekuensi gelombang komunikasi spiritual jaman itu memang mudah di-hack oleh pendekar jahat hacker kerajaan lain.

Atau mungkin pengen lihat beberapa perempuan Majapahit topless di jalanan? (bener loh, ada topless scene di Saur Sepuh 1 ini).

Dengan ajian Serat Jiwa Brama bisa mengatasi musuhnya. Ajian ini adalah semacam muntahan listrik yang bisa membakar musuh jadi abu. Saking asyiknya bertarung, Brama nggak sadar kalau Gotawa, Hanum dan Mantili disirep oleh Lasmini dan disembunyikan di suatu tempat.

Brama's Elctrical Scum

Di saat yang sama perseteruan Pamotan VS Majapahit memuncak jadi perang. Perang besar terjadi di sebuah lapangan tempat bermain anjing Snowie-nya Tintin (Serius lho! Ada anjing mirip Snowie sekilas lari di depan barisan berkuda).

Pihak Pamotan ternyata tak mendapat bantuan dari sekutunya sesuai rencana. Cuma ada sedikit prajurit Cina ikut bantu. Akibatnya Pamotan kalah dan Bhre Wirabhumi dihukum mati. Brama pun naik rajawali force one mencari keluarganya yang disembunyikan Lasmini.

Omong-omong sejauh saya nulis review sampai kayang gini, anda tahu SAUR SEPUH?

Kalau anda jawab, "Nggak tahu!" kalian (lu pade, kowe kabeh, awake peno, maneh sadayana) pasti kelahiran 90-an. Film hebat ini dibikin ketika kalian (90-an-ers) masih jadi enzim-enzim dalam beras, tempe dan tuak yang dikonsumsi calon orangtua kalian. Tanyalah orangtua kalian!

“Simbok, Saur Sepuh itu apa?”

Saur Sepuh adalah sandiwara radio yang laris di tahun 80-an sehingga sampai dibikin film. Ada total 5 film Saur Sepuh yang dibikin. Lengkapnya:

1st installment: SAUR SEPUH Satria Madangkara (Imam Tantowi 1988). Dalam film ini anda bisa lihat ratusan kuda dan gajah, rajawali animatronik raksasa paling keren dalam sejarah film Indonesia serta wanita Majapahit topless yang mungkin nggak banyak disadari orang.

2nd installment: SAUR SEPUH 2 Pesanggrahan Keramat (Imam Tantowi 1988). Dalam film ini ada adegan Brama Kumbara jadi raksasa mirip ultraman, ada Mantili memakai Lightsaber kayak di Star Wars dan visual effect perut tembus berlubang kena tembakan energi.

3rd installment: SAUR SEPUH 3 Kembang Gunung Lawu (Imam Tantowi 1990). Di film ini anda bisa lihat bagaimana 2 gadis seksi bacok-bacokan habis-habisan.

4th installment: SAUR SEPUH 4 Titisan Darah Biru. Apa ya yang bisa dilihat? Belum nonton he he he...

5th installment: SAUR SEPUH 5 Istana Atap langit (Torro Margens 1992). Di film ini anda bisa lihat koreografi, sinematografi dan editing ala film Hongkong. Orang-orang terbang dan berputar di udara dengan color garding kebiruan. Kostum Brama Kumbara didisain ulang dengan corak Dayak kalimantan. Yang jadi biksu Tibet wajahnya mirip Harry Tanoesoedibjo, bos-nya MNCTV. Tarung terus sampai nggak jelas ceritanya apa.

Satria Madangkara adalah film kolosal yang benar-benar kolosal sekolosal-kolosalnya yang kolosal banget. Rasanya belum pernah (dan mungkin tak kan pernah....hmmm wow) ada film yang digarap sekolosal ini dalam sejarah Indonesia. Ratusan kuda dan puluhan gajah dilibatkan dalam film ini.
Film dengan production value semegah Saur Sepuh adalah terobosan di Indonesia (atau Asia Tenggara?) di kala itu. Belum ada yang bikin seperti ini sampai sekarang.

Mungkin koreografi maupun spesial efeknya akan tampak jadul jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Tapi ini masih jauh lebih hebat daripada apa yang ada dalam sinetron-sinetron laga di tivi saat ini (yang biasa tayang di tivi “cap iwak”). Lagipula, film ini dibuat tahun 1988 di Indonesia, bro! You know what? Tahun 88 itu jadul banget loh. Saat itu dinosaurus dan manusia purba masih mendiami pulau Jawa...halah lebay!

Enggak ding...tahun itu anak-anak di desa masih bermain dengan lempung, orang-orang kalau berak masih di sungai dengan bergelayut pada akar pohon dan yang punya tivi sekampung cuma segelintir oknum.

Anda harus nonton Saur Sepuh untuk menyadari bahwa kebanyakan film Indonesia saat ini dibuat dengan asal-asalan.


30 Desember 2012 pukul 22:58
Diceritakan bahwa Bhre Wirabhumi, seorang raja separatis dari Pamotan yang kumisnya ada 3 (satu ada di atas bibir, dua ada di atas mata), berencana hendak memisahkan diri dari Majapahit. Alasannya sih karena sebagai putra selir dia merasa lebih berhak atas tahta Majapahit daripada Prabu Wikramawardhana yang isterinya putri dari permaisuri. Wirabhumi Si Kumis Tiga ini selain mendapat dukungan dari Amerika eh Cina, juga menggalang dukungan dari negara-negara kecil imperium Majapahit. Sponsor utama separatisme ini adalah kekaisaran Cina. You see? Jaman dulu pun sudah ada negara yang hobi mengobok-obok negara lain.


Kredit Gambar: jejakandromeda.com
Sementara itu tersebutlah negara kecil di Pasundan bernama Madangkara. Presiden eh rajanya adalah Brama Kumbara (Fendy Pradana). Madangkara memilih non-blok terhadap perseteruan Pamotan VS Majapahit. Brama Kumbara adalah ksatria sakti mandraguna. Paling-paling kelemahannya adalah nyemplung ke air lama-lama, karena ia takut kumis palsunya bisa copot. Brama adalah seorang poligamis yang setia. Istrinya Dewi Hanum (Aneke Putri) dan Paramita. Punya adik bernama Mantili Si Pedang Setan (Elly Ermawatie). Mantili bersuamikan Patih Gotawa (saudaranya Erwin Gotawa...Hush dengkulmu! Ngawur!) (diperankan Hengky Tarnando).

Brama punya semacam “pesawat jet pribadi”, semacam Air Force One berwujud rajawali animatronik raksasa. Ada kemungkinan si rajawali ini terlahir gigantis karena terkena mutasi radioaktif. Mungkin makanan induknya dulu tercemar limbah dari studio penempaan keris yang dibuang sembarangan. Rajawali ini mungkin punya semacam penyakit tengeng karena kalau terbang kepalanya tegak seperti celengan ayam.

Suatu ketika orang Pamotan bernama Tumenggung Bayan (Baron Hermanto) bikin ulah. Dia membunuh utusan Madangkara yang mau kirim surat ke Majapahit. Brama Kumbara menjadi marah dan ingin menghukum Tumenggung Bayan meskipun kematian utusan itu juga salah dia sendiri. Ia lupa bahwa sebenarnya ia bisa kirim surat lewat pos udara dengan nitip rajawali raksasa. Pastinya lebih cepat sampai.

Brama pun menantang Tumenggung Bayan untuk carok di pinggir hutan. Dengan mudah Brama membunuh Tumenggung Bayan dengan memanggangnya seperti ayam bakar kecap. Karena Tumenggung Bayan tewas, maka menurut adat yang berlaku di situ, isterinya melakukan adat bakar diri. Jadi ketika pejabat Pamotan mati maka isterinya juga akan ikut mati, bukannya dibagi-bagikan kepada bawahannya.

Kematian Tumenggung Bayan membuat beberapa orang jadi dendam. Tersebutlah Lasmini (Murty Sari Dewi), selingkuhan si Tumenggung Bayan yang jadi dendam pada Brama Kumbara. Begitu juga guru silat Tumenggung Bayan. Keduanya menantang kelahi dengan Brama, Dewi Hanum, Gotawa dan Mantili. Ini merepotkan misi Brama Kumbara cs yang saat itu sedang menjalankan misi diplomatik. Mereka harus mengirim beberapa surat diplomatik ke Pamotan dan Majapahit untuk memposisikan diri sebagai kerajaan non-blok.

Lagi-lagi Brama cs lebih suka repot-repot mengirim surat resmi lewat jalan darat. Kenapa ya?

Mungkin ada zona larangan terbang bagi rajawali raksasa di kerajaan. Dikawatirkan atap-atap keraton akan kena kotoran burung dalam jumlah masiv. Terbang pakai jurus juga nggak mungkin. Ajian semacam itu ada time limit-nya. Kirim pesan lewat telepati juga rentan pembajakan. Frekuensi gelombang komunikasi spiritual jaman itu memang mudah di-hack oleh pendekar jahat hacker kerajaan lain.

Atau mungkin pengen lihat beberapa perempuan Majapahit topless di jalanan? (bener loh, ada topless scene di Saur Sepuh 1 ini).

Dengan ajian Serat Jiwa Brama bisa mengatasi musuhnya. Ajian ini adalah semacam muntahan listrik yang bisa membakar musuh jadi abu. Saking asyiknya bertarung, Brama nggak sadar kalau Gotawa, Hanum dan Mantili disirep oleh Lasmini dan disembunyikan di suatu tempat.

Brama's Elctrical Scum

Di saat yang sama perseteruan Pamotan VS Majapahit memuncak jadi perang. Perang besar terjadi di sebuah lapangan tempat bermain anjing Snowie-nya Tintin (Serius lho! Ada anjing mirip Snowie sekilas lari di depan barisan berkuda).

Pihak Pamotan ternyata tak mendapat bantuan dari sekutunya sesuai rencana. Cuma ada sedikit prajurit Cina ikut bantu. Akibatnya Pamotan kalah dan Bhre Wirabhumi dihukum mati. Brama pun naik rajawali force one mencari keluarganya yang disembunyikan Lasmini.

Omong-omong sejauh saya nulis review sampai kayang gini, anda tahu SAUR SEPUH?

Kalau anda jawab, "Nggak tahu!" kalian (lu pade, kowe kabeh, awake peno, maneh sadayana) pasti kelahiran 90-an. Film hebat ini dibikin ketika kalian (90-an-ers) masih jadi enzim-enzim dalam beras, tempe dan tuak yang dikonsumsi calon orangtua kalian. Tanyalah orangtua kalian!

“Simbok, Saur Sepuh itu apa?”

Saur Sepuh adalah sandiwara radio yang laris di tahun 80-an sehingga sampai dibikin film. Ada total 5 film Saur Sepuh yang dibikin. Lengkapnya:

1st installment: SAUR SEPUH Satria Madangkara (Imam Tantowi 1988). Dalam film ini anda bisa lihat ratusan kuda dan gajah, rajawali animatronik raksasa paling keren dalam sejarah film Indonesia serta wanita Majapahit topless yang mungkin nggak banyak disadari orang.

2nd installment: SAUR SEPUH 2 Pesanggrahan Keramat (Imam Tantowi 1988). Dalam film ini ada adegan Brama Kumbara jadi raksasa mirip ultraman, ada Mantili memakai Lightsaber kayak di Star Wars dan visual effect perut tembus berlubang kena tembakan energi.

3rd installment: SAUR SEPUH 3 Kembang Gunung Lawu (Imam Tantowi 1990). Di film ini anda bisa lihat bagaimana 2 gadis seksi bacok-bacokan habis-habisan.

4th installment: SAUR SEPUH 4 Titisan Darah Biru. Apa ya yang bisa dilihat? Belum nonton he he he...

5th installment: SAUR SEPUH 5 Istana Atap langit (Torro Margens 1992). Di film ini anda bisa lihat koreografi, sinematografi dan editing ala film Hongkong. Orang-orang terbang dan berputar di udara dengan color garding kebiruan. Kostum Brama Kumbara didisain ulang dengan corak Dayak kalimantan. Yang jadi biksu Tibet wajahnya mirip Harry Tanoesoedibjo, bos-nya MNCTV. Tarung terus sampai nggak jelas ceritanya apa.

Satria Madangkara adalah film kolosal yang benar-benar kolosal sekolosal-kolosalnya yang kolosal banget. Rasanya belum pernah (dan mungkin tak kan pernah....hmmm wow) ada film yang digarap sekolosal ini dalam sejarah Indonesia. Ratusan kuda dan puluhan gajah dilibatkan dalam film ini.
Film dengan production value semegah Saur Sepuh adalah terobosan di Indonesia (atau Asia Tenggara?) di kala itu. Belum ada yang bikin seperti ini sampai sekarang.

Mungkin koreografi maupun spesial efeknya akan tampak jadul jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Tapi ini masih jauh lebih hebat daripada apa yang ada dalam sinetron-sinetron laga di tivi saat ini (yang biasa tayang di tivi “cap iwak”). Lagipula, film ini dibuat tahun 1988 di Indonesia, bro! You know what? Tahun 88 itu jadul banget loh. Saat itu dinosaurus dan manusia purba masih mendiami pulau Jawa...halah lebay!

Enggak ding...tahun itu anak-anak di desa masih bermain dengan lempung, orang-orang kalau berak masih di sungai dengan bergelayut pada akar pohon dan yang punya tivi sekampung cuma segelintir oknum.

Anda harus nonton Saur Sepuh untuk menyadari bahwa kebanyakan film Indonesia saat ini dibuat dengan asal-asalan.


30 Desember 2012 pukul 22:58
Baca

Review Film Jadul: Jaka Sembung (Sisworo Gautama Putra 1981)


Adegan bermula di halaman kantor gubermen Belanda. Para tawanan kumpeni (sebutan untuk penjajah Belanda) tengah dikumpulkan untuk dijadikan pekerja paksa. Di antara tawanan itu ada Parmin alias Jaka Sembung (Barry Prima), yang wajahnya lebih bule daripada jendral kumpeni yang menahannya (Dicky Zulkarnain dengan rambut dan kumis palsu).

Kredit gambar: jejakandromeda.com

Di daerah kerja paksa para tawanan memberontak. Jaka Sembung melarikan diri. Para kumpeni yang blingsatan pun membuat sayembara untuk merekrut para jagoan sakti untuk menangkap Jaka Sembung. Pengumuman sayembara ditempel besar-besar di sudut kampung meskipun belum tentu orang-orang bisa membacanya (maklum pada jaman penjajahan angka buta huruf sangat tinggi). Untuk itu punggawa kumpeni harus kerja dua kali; menempelkan pengumuman sekaligus membacakannya.

Seorang jagoan (yang kemungkinan buta huruf) melihat pengumuman itu. Ia menyemburnya hingga terbakar. Apinya asli bukan CGI. Jagoan gundul bernama Kobar ini lalu pergi ke kantor gubermen, melakukan sedikit demo kekebalan dan silat. Ia ikut sayembara menangkap jaka Sembung. Jendral kumpeni itu masih meminta Kobar untuk melakukan demonstrasi lagi. Kali ini Kobar bergulat dengan sapi. Sapinya beneran, bukan animatronik. Kobar mengalahkannya bagaikan Masutatsu Oyama.

Sementara itu Jaka Sembung sedang bersembunyi di rumah Surti kekasihnya (Eva Arnaz). Kenapa ia malah bersembunyi di rumah orang dekatnya? Mungkin Jaka Sembung sengaja biar kepergok. Betul saja, Kobar dan para jagoan pro kumpeni mendatanginya. Jaka (dengan diksi ala Rhoma Irama) pun mengkotbahi Kobar sebelum berduel. Jaka dan Kobar bertarung seru. Jaka kewalahan karena Kobar bisa menyemburkan api. Akhirnya Kobar tewas dengan sebilah bambu menembus tenggorokannya. So gory...

Kekalahan Kobar membuat kumpeni makin blingsatan. Di tengah kegalauan untuk mendapatkan jagoan yang bisa menandingi Jaka Sembung, datanglah seorang dukun (HIM Damsyik). Dukun ini punya kemampuan membangkitkan mayat. Rencananya dia akan membangkitkan Ki Hitam (W.D. Mochtar), jagoan sakti yang bisa mengalahkan Jaka Sembung. Para kumpeni tidak percaya dengan si dukun dan membentaknya. Tapi si dukun berhasil meyakinkan mereka dengan kemampuan telekinetisnya.

Dan sepakatlah kumpeni. Ki Hitam dibangkitkan dari kematiannya. Ki Hitam memiliki ilmu bernama Rawe Rontek. Dengan ilmu ini, ia tak akan mati meski tubuhnya dimutilasi. Tubuh Ki Hitam dikubur di sebuah bukit yang mirip dengan gundukan di film Close Encounters To the Third Kind. Sedangkan kepalanya digantung di pohon. Cara ini ampuh untuh mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek. Dulu yang memutilasi Ki Hitam adalah Ki Sapu Angin, gurunya Jaka.

Kumpeni mulai menangkapi orang desa untuk memancing Jaka Sembung muncul. Bahkan seorang anak ditodong agar Jaka Sembung nongol. Rencana ini berhasil. Jaka Sembung (yang berwajah bule) ini muncul menghardik para kumpeni dengan kata-kata puitis, "Hei orang bule! Aku paling tidak bisa melihat di depan hidungku ada anak kecil mati karena aku!". Semuanya adalah jebakan. Ki Hitam muncul dan menghajar Jaka Sembung. Jaka Sembung kalah dan ditawan. Di dalam kerangkeng, kedua tapak tangannya dipaku di dinding seperti Yesus yang disalib.

Diam-diam Maria (Dana Christina), putri si jendral kumpeni yang juga bisa silat berusaha membebaskan Jaka Sembung. Ternyata dia memang menaruh simpati pada Jaka. Hal ini dipergoki si jendral kumpeni. Akibatnya mata Jaka Sembung dicungkil sebagai hukuman. Berikutnya Surti, kekasih Jaka menerobos rumah tawanan juga hendak membebaskannya. Rencananya gagal sehingga ia malah ikutan dijebloskan di kerangkeng.

Jaka Sembung masih belum putus asa. Dengan matanya yang hilang ia berdoa memohon kekuatan. Dan, "Allahu Akbar!", Jaka Sembung menarik tangannya yang terpaku di dinding. Lalu dengan giginya ia mencabut paku di tangannya yang mirip manekin lateks itu. Lagi-lagi pelariannya gagal. Punggawa kumpeni dan Ki Hitam menghadang mereka berdua. Surti tertembak dan Jaka Sembung disihir menjadi babi hutan. (mungkinkah ia bisa dibebaskan dengan dicium oleh seorang putri?) Betapa malang menjadi babi hutan buta. Sudah buta, haram, babi pula....

Surti yang terluka parah diselamatkan oleh seorang pertapa sufi sakti. Pertapa itupun memulihkan wujud Jaka Sembung (ternyata tidak dengan menciumnya). Jaka Sembung jadi manusia lagi. Saat itu Surti telah tewas karena kehabisan darah. Ternyata pertapa sakti yang bisa mengembalikan wujud manusia dari babi tidak bisa menyembuhkan luka tembak. Sebelum meninggal, Surti berwasiat agar kedua biji-nya eh matanya didonorkan kepada Jaka Sembung. So sweeet....so gorrrryyyy. Kemudian sang pertapa sakti membedah mata Surti, memencetnya paksa agar keluar dari rongganya, lalu memindahkannya ke Jaka Sembung. Sayang sekali...kesaktian semacam ini tetap tak bisa menyelamatkan Surti dari kehabisan darah tadi.

Jaka Sembung pun pulih. Ia menjalani beberapa terapi agar matanya bisa beradaptasi. Kini Jaka Sembung adalah pria bertubuh pendekar jantan dengan mata indah seorang perempuan. Kita belum tahu selepas ini dia jadi hobby berbelanja apa tidak...

Menyongsong kembalinya Jaka Sembung, Ki Hitam dan dukun sakti mengisruh di surau tempat Jaka dan kawan-kawan sembahyang. Jaka Sembung pun terlibat duel dahsyat dengan Ki Hitam. Ilmu Rawe Rontek Ki Hitam terbukti sakti. Tangan ditebas kembali ke pergelangannya, kaki disabet bisa nendang, kepala dipenggal bisa balik ke lehernya. Semuanya seperti digerakkan oleh remote kontrol gaib. Jaka Sembung yang sudah tahu cara mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek, memisahkan badan atas dan badan bawah Ki Hitam. Kedua bagian itu tak boleh menyentuh tanah agar tidak hidup lagi.

Di saat yang sama rakyat pejuang menyerbu markas kumpeni. Jaka Sembung pun menyusul ke sana. Jaka Sembung berduel dengan jendral kumpeni, silat versus European fencing. Jaka Sembung menang diiringi jerit Maria yang histeris melihat ayahnya mati. Jendral kumpeni yang sekarat itu masih sempat meraih pistol dan menembak Jaka. Maria pun menjadikan tubuhnya sebagai tameng peluru. Maria tewas dalam pelukan Jaka Sembung. Tragissss...

Itulah kisah Jaka Sembung yang diangkat dari komik (karya Jair Warni bukan ya?). Ini adalah film terbaik dari Barry Prima yang menjadikannya ikon film laga kala itu. Unsur silat, fantasi, mistik, kolonialisme merupakan bumbu-bumbu yang meramu film ini. Ceritanya lumayan bagus dan mengalir. Artistiknya keren (pada masanya) terutama saat adegan mutilasi tangan, operasi gaib donor mata dan pemenggalan kepala Ki Hitam. Sayang koreografinya kurang dahsyat. Menurut saya film ini pantas untuk di-remake.

Film ini diluncurkan juga di Amerika dengan Judul The Warrior oleh perusahaan Mondo Macabre yang secara khusus mendistribusikan film-film cult eksploitasi Asia.

REVIEW JAKA SEMBUNG (Sisworo Gautama Putra)
Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 22 Desember 2012 pukul 22:56

Adegan bermula di halaman kantor gubermen Belanda. Para tawanan kumpeni (sebutan untuk penjajah Belanda) tengah dikumpulkan untuk dijadikan pekerja paksa. Di antara tawanan itu ada Parmin alias Jaka Sembung (Barry Prima), yang wajahnya lebih bule daripada jendral kumpeni yang menahannya (Dicky Zulkarnain dengan rambut dan kumis palsu).

Kredit gambar: jejakandromeda.com

Di daerah kerja paksa para tawanan memberontak. Jaka Sembung melarikan diri. Para kumpeni yang blingsatan pun membuat sayembara untuk merekrut para jagoan sakti untuk menangkap Jaka Sembung. Pengumuman sayembara ditempel besar-besar di sudut kampung meskipun belum tentu orang-orang bisa membacanya (maklum pada jaman penjajahan angka buta huruf sangat tinggi). Untuk itu punggawa kumpeni harus kerja dua kali; menempelkan pengumuman sekaligus membacakannya.

Seorang jagoan (yang kemungkinan buta huruf) melihat pengumuman itu. Ia menyemburnya hingga terbakar. Apinya asli bukan CGI. Jagoan gundul bernama Kobar ini lalu pergi ke kantor gubermen, melakukan sedikit demo kekebalan dan silat. Ia ikut sayembara menangkap jaka Sembung. Jendral kumpeni itu masih meminta Kobar untuk melakukan demonstrasi lagi. Kali ini Kobar bergulat dengan sapi. Sapinya beneran, bukan animatronik. Kobar mengalahkannya bagaikan Masutatsu Oyama.

Sementara itu Jaka Sembung sedang bersembunyi di rumah Surti kekasihnya (Eva Arnaz). Kenapa ia malah bersembunyi di rumah orang dekatnya? Mungkin Jaka Sembung sengaja biar kepergok. Betul saja, Kobar dan para jagoan pro kumpeni mendatanginya. Jaka (dengan diksi ala Rhoma Irama) pun mengkotbahi Kobar sebelum berduel. Jaka dan Kobar bertarung seru. Jaka kewalahan karena Kobar bisa menyemburkan api. Akhirnya Kobar tewas dengan sebilah bambu menembus tenggorokannya. So gory...

Kekalahan Kobar membuat kumpeni makin blingsatan. Di tengah kegalauan untuk mendapatkan jagoan yang bisa menandingi Jaka Sembung, datanglah seorang dukun (HIM Damsyik). Dukun ini punya kemampuan membangkitkan mayat. Rencananya dia akan membangkitkan Ki Hitam (W.D. Mochtar), jagoan sakti yang bisa mengalahkan Jaka Sembung. Para kumpeni tidak percaya dengan si dukun dan membentaknya. Tapi si dukun berhasil meyakinkan mereka dengan kemampuan telekinetisnya.

Dan sepakatlah kumpeni. Ki Hitam dibangkitkan dari kematiannya. Ki Hitam memiliki ilmu bernama Rawe Rontek. Dengan ilmu ini, ia tak akan mati meski tubuhnya dimutilasi. Tubuh Ki Hitam dikubur di sebuah bukit yang mirip dengan gundukan di film Close Encounters To the Third Kind. Sedangkan kepalanya digantung di pohon. Cara ini ampuh untuh mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek. Dulu yang memutilasi Ki Hitam adalah Ki Sapu Angin, gurunya Jaka.

Kumpeni mulai menangkapi orang desa untuk memancing Jaka Sembung muncul. Bahkan seorang anak ditodong agar Jaka Sembung nongol. Rencana ini berhasil. Jaka Sembung (yang berwajah bule) ini muncul menghardik para kumpeni dengan kata-kata puitis, "Hei orang bule! Aku paling tidak bisa melihat di depan hidungku ada anak kecil mati karena aku!". Semuanya adalah jebakan. Ki Hitam muncul dan menghajar Jaka Sembung. Jaka Sembung kalah dan ditawan. Di dalam kerangkeng, kedua tapak tangannya dipaku di dinding seperti Yesus yang disalib.

Diam-diam Maria (Dana Christina), putri si jendral kumpeni yang juga bisa silat berusaha membebaskan Jaka Sembung. Ternyata dia memang menaruh simpati pada Jaka. Hal ini dipergoki si jendral kumpeni. Akibatnya mata Jaka Sembung dicungkil sebagai hukuman. Berikutnya Surti, kekasih Jaka menerobos rumah tawanan juga hendak membebaskannya. Rencananya gagal sehingga ia malah ikutan dijebloskan di kerangkeng.

Jaka Sembung masih belum putus asa. Dengan matanya yang hilang ia berdoa memohon kekuatan. Dan, "Allahu Akbar!", Jaka Sembung menarik tangannya yang terpaku di dinding. Lalu dengan giginya ia mencabut paku di tangannya yang mirip manekin lateks itu. Lagi-lagi pelariannya gagal. Punggawa kumpeni dan Ki Hitam menghadang mereka berdua. Surti tertembak dan Jaka Sembung disihir menjadi babi hutan. (mungkinkah ia bisa dibebaskan dengan dicium oleh seorang putri?) Betapa malang menjadi babi hutan buta. Sudah buta, haram, babi pula....

Surti yang terluka parah diselamatkan oleh seorang pertapa sufi sakti. Pertapa itupun memulihkan wujud Jaka Sembung (ternyata tidak dengan menciumnya). Jaka Sembung jadi manusia lagi. Saat itu Surti telah tewas karena kehabisan darah. Ternyata pertapa sakti yang bisa mengembalikan wujud manusia dari babi tidak bisa menyembuhkan luka tembak. Sebelum meninggal, Surti berwasiat agar kedua biji-nya eh matanya didonorkan kepada Jaka Sembung. So sweeet....so gorrrryyyy. Kemudian sang pertapa sakti membedah mata Surti, memencetnya paksa agar keluar dari rongganya, lalu memindahkannya ke Jaka Sembung. Sayang sekali...kesaktian semacam ini tetap tak bisa menyelamatkan Surti dari kehabisan darah tadi.

Jaka Sembung pun pulih. Ia menjalani beberapa terapi agar matanya bisa beradaptasi. Kini Jaka Sembung adalah pria bertubuh pendekar jantan dengan mata indah seorang perempuan. Kita belum tahu selepas ini dia jadi hobby berbelanja apa tidak...

Menyongsong kembalinya Jaka Sembung, Ki Hitam dan dukun sakti mengisruh di surau tempat Jaka dan kawan-kawan sembahyang. Jaka Sembung pun terlibat duel dahsyat dengan Ki Hitam. Ilmu Rawe Rontek Ki Hitam terbukti sakti. Tangan ditebas kembali ke pergelangannya, kaki disabet bisa nendang, kepala dipenggal bisa balik ke lehernya. Semuanya seperti digerakkan oleh remote kontrol gaib. Jaka Sembung yang sudah tahu cara mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek, memisahkan badan atas dan badan bawah Ki Hitam. Kedua bagian itu tak boleh menyentuh tanah agar tidak hidup lagi.

Di saat yang sama rakyat pejuang menyerbu markas kumpeni. Jaka Sembung pun menyusul ke sana. Jaka Sembung berduel dengan jendral kumpeni, silat versus European fencing. Jaka Sembung menang diiringi jerit Maria yang histeris melihat ayahnya mati. Jendral kumpeni yang sekarat itu masih sempat meraih pistol dan menembak Jaka. Maria pun menjadikan tubuhnya sebagai tameng peluru. Maria tewas dalam pelukan Jaka Sembung. Tragissss...

Itulah kisah Jaka Sembung yang diangkat dari komik (karya Jair Warni bukan ya?). Ini adalah film terbaik dari Barry Prima yang menjadikannya ikon film laga kala itu. Unsur silat, fantasi, mistik, kolonialisme merupakan bumbu-bumbu yang meramu film ini. Ceritanya lumayan bagus dan mengalir. Artistiknya keren (pada masanya) terutama saat adegan mutilasi tangan, operasi gaib donor mata dan pemenggalan kepala Ki Hitam. Sayang koreografinya kurang dahsyat. Menurut saya film ini pantas untuk di-remake.

Film ini diluncurkan juga di Amerika dengan Judul The Warrior oleh perusahaan Mondo Macabre yang secara khusus mendistribusikan film-film cult eksploitasi Asia.

REVIEW JAKA SEMBUNG (Sisworo Gautama Putra)
Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 22 Desember 2012 pukul 22:56
Baca

Review Film Jadul: Gundala Putra Petir (Liliek Sudjio 1982)

Gundala Putra Petir adalah superhero yang agak terlupakan di benak remaja Indonesia masa kini. Maklum sampai sekarang belum ada yang membuat filmnya sejak 1982. Jadi kekangenan saya pada superhero berkostum kurang ketat ini hanya bisa terlampiaskan dengan nonton film jadul yang satu-satunya ini. (berapa sih harga spandex tahun segitu? Soalnya kostum di film ini masih kendor dan ada lipatannya).

Gundala Putra Petir
Kredit gambar: jnfernalworld.blogspot.com


Cerita dimulai dengan Sancoko (Teddy Purbo) yang terlalu sibuk di laboratorium sehingga Minarti (Anna Tairas) kekasihnya merasa jablay. Bahkan saat Mince eh Minarti ulang tahun Sancoko tidak hadir. Akhirnya Minarti memvonis putus pada Sancoko. Sancoko yang galau kelayapan di tengah badai petir. Ternyata itu petir bukan sembarang petir. Sancoko tersambar dan tahu-tahu terbangun di hadapan bapak tua yang bermain cosplay. Bapak itu ternyata adalah Dewa Petir (Pitra Jaya Burnama). Gundala pun diangkat anak oleh Dewa Petir. Bisa saya duga setelah ini mereka akan repot mengurus surat adopsi di kantor catatan sipil. Apalagi status bapak dan anak angkat ini adalah alien dan manusia. Sancoko pun menjadi Gundala Putra Petir dengan bonus kostum dan kalung aktivasi. Kini jadilah Sancoko manusia yang benar-benar sakti. Tangannya bisa memancarkan petir dan bisa berlari secepat kilat. Gundala kemudian mendapat misi baru sebagai superhero dari papa Dewa Petir.

Sementara itu Sancoko mendapat job dari profesor Saelan (Amy Priyono) untuk membuat serum anti morfin. Mungkin maksud serum ini untuk membuat kita bisa memakai morfin secara bebas tanpa harus kecanduan. Mulia sekali job yang dilakukan Sancoko ini. Harusnya para bandar narkoba malah mendanai proyek ini karena serumnya bisa dijual bersamaan dengan narkotiknya. Jadi dagangan mereka akan laris tanpa merugikan konsumen. Di sela-sela jobnya, Sancoko sebagai Gundala mulai menjalankan tugasnya sebagai superhero. Antara lain menolong korban penculikan. Setelah menghajar satu per satu para begundalnya, Gundala berpesan pada korban, tentunya berlaku untuk kita semua, "Kalau di tempat ramai jangan pakai perhiasan." Tentunya pesan ini akan efektif jika kita tulis di spanduk atas sponsor kepolisian.

Kiprah Sancoko dan sepak terjang Gundala membuat gusar Ghazul (W.D. Mochtar) seorang bos narkoba. Ghazul memiliki banyak anak buah dan gadget canggih (pada masanya). Ada komputer yang bisa ia gunakan untuk chatting dengan para anak buahnya. Kita tak tahu apakah ia juga bisa mengakses konten pornografi dari komputer itu mengingat sistim operasinya masih berbasis DOS (belum GUI). Mungkin ia cuma bisa baca salinan stensilan saja.

Berikutnya Sancoko dengan proyek serum anti morfinnya mendapat musuh dalam selimut. Agus (Agus Melasz), kolega sesama peneliti ternyata bekerjasama dengan Ghazul untuk menghalangi Sancoko. Sancoko sendiri belum sadar hal itu. Ia membagi waktu antara meneliti dan jadi superhero. Kejahatan yang ia atasi biasanya standar film aksi 80an. Salah satunya adalah memburu perampok bank. Saat memburu mereka, Gundala sempat nebeng di atap jeep. Ia memutuskan tidak mengejar dengan cara berlari meskipun ia tahu bahwa ia bisa lebih cepat sampai lokasi. Maklum ia belum tahu lokasi yang dituju penjahat ada di mana. Sampai di lokasi ia berhadapan dengan para berandal yang bersenjatakan senapan serbu. Tapi Gundala tidak terlalu khawatir karena senapan itu lebih berfungsi untuk memukul daripada ditembakkan. Mungkin memang berandalnya belum tahu kalau senapan itu bisa dipakai untuk menembak.

Sancoko sempat diculik dan oleh anak buah Ghazul. Kalung aktivasi Sancoko sempat dirampas tapi kemudian dikembalikan lagi (karena penulis naskahnya tidak mau repot menyusun plot Sancaka merebut kembali kalungnya). Maka Sancoko mengubah diri jadi Gundala. Rupanya jarinya bisa dijadikan las untuk membobol jeruji besi yang mengurungnya. Kita tahu membobol jeruji besi dengan las tidak akan menimbulkan keributan. Sayang Gundala lupa menjaga ketenangan itu karena kemudian ia menendang hancur sebuah pintu stereofoam. Sancoko pun beraksi menghajar para begundal yang tadi mengurungnya.

Korban penculikan berikutnya adalah profesor Saelan dan Minarti kekasih Sancoko. Lagi-lagi Gundala harus beraksi menyelamatkan mereka. Di bagian akhir Gundala melabrak markas Ghazul. Tanpa kesulitan ia membobol tembok batu bata yang tidak disemen (cuma disusun begitu saja). Ia pun berhadapan dengan Ghazul di ruang makan. Ghazul punya dua tangan sakti terbuat dari besi dan bisa menembakkan sinar. Tangan itu juga bisa berfungsi sebagai bor (yang membuatnya merasa sangat perih setiap kali cebok).

Gundala bertarung melawan Ghazul dengan ajian menggandakan diri jadi tiga. Hmmm sebentar! Seingat saya itu tak termasuk dalam daftar kesaktian Gundala. Mungkin saking cepatnya ia bergerak seolah-olah ada tiga aktor stand in yang melakukannya. Tak tahu lah...
Pokoknya akhirnya Gundala menang dan berhasil memperbaiki hubungannya dengan Minarti.

Gundala Putra Petir arahan Liliek Sudjio belum menawarkan euforia film superhero untuk beberapa masa setelahnya. Buktinya film ini tak diproduksi sekuelnya dan juga tak ada kelatahan produksi genre serupa. Selain Rama Superman Indonesia, ini adalah film superhero nasional yang memang sangat langka dan kalah tenar dibandingkan genre silat, pocong dan seks. Betapa kita merindukan film superhero nasional berbudget tinggi dibuat setelah grup Marvel dan DC menyerbu layar bioskop di negeri ini. Tapi kapan ya? Masak kita cuma bisa bernostalgia dengan menonton film jadul ini. Oya, musik dan OST-nya keren lho :)

REVIEW GUNDALA PUTRA PETIR
Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 22 Desember 2012 pukul 00:57
Gundala Putra Petir adalah superhero yang agak terlupakan di benak remaja Indonesia masa kini. Maklum sampai sekarang belum ada yang membuat filmnya sejak 1982. Jadi kekangenan saya pada superhero berkostum kurang ketat ini hanya bisa terlampiaskan dengan nonton film jadul yang satu-satunya ini. (berapa sih harga spandex tahun segitu? Soalnya kostum di film ini masih kendor dan ada lipatannya).

Gundala Putra Petir
Kredit gambar: jnfernalworld.blogspot.com


Cerita dimulai dengan Sancoko (Teddy Purbo) yang terlalu sibuk di laboratorium sehingga Minarti (Anna Tairas) kekasihnya merasa jablay. Bahkan saat Mince eh Minarti ulang tahun Sancoko tidak hadir. Akhirnya Minarti memvonis putus pada Sancoko. Sancoko yang galau kelayapan di tengah badai petir. Ternyata itu petir bukan sembarang petir. Sancoko tersambar dan tahu-tahu terbangun di hadapan bapak tua yang bermain cosplay. Bapak itu ternyata adalah Dewa Petir (Pitra Jaya Burnama). Gundala pun diangkat anak oleh Dewa Petir. Bisa saya duga setelah ini mereka akan repot mengurus surat adopsi di kantor catatan sipil. Apalagi status bapak dan anak angkat ini adalah alien dan manusia. Sancoko pun menjadi Gundala Putra Petir dengan bonus kostum dan kalung aktivasi. Kini jadilah Sancoko manusia yang benar-benar sakti. Tangannya bisa memancarkan petir dan bisa berlari secepat kilat. Gundala kemudian mendapat misi baru sebagai superhero dari papa Dewa Petir.

Sementara itu Sancoko mendapat job dari profesor Saelan (Amy Priyono) untuk membuat serum anti morfin. Mungkin maksud serum ini untuk membuat kita bisa memakai morfin secara bebas tanpa harus kecanduan. Mulia sekali job yang dilakukan Sancoko ini. Harusnya para bandar narkoba malah mendanai proyek ini karena serumnya bisa dijual bersamaan dengan narkotiknya. Jadi dagangan mereka akan laris tanpa merugikan konsumen. Di sela-sela jobnya, Sancoko sebagai Gundala mulai menjalankan tugasnya sebagai superhero. Antara lain menolong korban penculikan. Setelah menghajar satu per satu para begundalnya, Gundala berpesan pada korban, tentunya berlaku untuk kita semua, "Kalau di tempat ramai jangan pakai perhiasan." Tentunya pesan ini akan efektif jika kita tulis di spanduk atas sponsor kepolisian.

Kiprah Sancoko dan sepak terjang Gundala membuat gusar Ghazul (W.D. Mochtar) seorang bos narkoba. Ghazul memiliki banyak anak buah dan gadget canggih (pada masanya). Ada komputer yang bisa ia gunakan untuk chatting dengan para anak buahnya. Kita tak tahu apakah ia juga bisa mengakses konten pornografi dari komputer itu mengingat sistim operasinya masih berbasis DOS (belum GUI). Mungkin ia cuma bisa baca salinan stensilan saja.

Berikutnya Sancoko dengan proyek serum anti morfinnya mendapat musuh dalam selimut. Agus (Agus Melasz), kolega sesama peneliti ternyata bekerjasama dengan Ghazul untuk menghalangi Sancoko. Sancoko sendiri belum sadar hal itu. Ia membagi waktu antara meneliti dan jadi superhero. Kejahatan yang ia atasi biasanya standar film aksi 80an. Salah satunya adalah memburu perampok bank. Saat memburu mereka, Gundala sempat nebeng di atap jeep. Ia memutuskan tidak mengejar dengan cara berlari meskipun ia tahu bahwa ia bisa lebih cepat sampai lokasi. Maklum ia belum tahu lokasi yang dituju penjahat ada di mana. Sampai di lokasi ia berhadapan dengan para berandal yang bersenjatakan senapan serbu. Tapi Gundala tidak terlalu khawatir karena senapan itu lebih berfungsi untuk memukul daripada ditembakkan. Mungkin memang berandalnya belum tahu kalau senapan itu bisa dipakai untuk menembak.

Sancoko sempat diculik dan oleh anak buah Ghazul. Kalung aktivasi Sancoko sempat dirampas tapi kemudian dikembalikan lagi (karena penulis naskahnya tidak mau repot menyusun plot Sancaka merebut kembali kalungnya). Maka Sancoko mengubah diri jadi Gundala. Rupanya jarinya bisa dijadikan las untuk membobol jeruji besi yang mengurungnya. Kita tahu membobol jeruji besi dengan las tidak akan menimbulkan keributan. Sayang Gundala lupa menjaga ketenangan itu karena kemudian ia menendang hancur sebuah pintu stereofoam. Sancoko pun beraksi menghajar para begundal yang tadi mengurungnya.

Korban penculikan berikutnya adalah profesor Saelan dan Minarti kekasih Sancoko. Lagi-lagi Gundala harus beraksi menyelamatkan mereka. Di bagian akhir Gundala melabrak markas Ghazul. Tanpa kesulitan ia membobol tembok batu bata yang tidak disemen (cuma disusun begitu saja). Ia pun berhadapan dengan Ghazul di ruang makan. Ghazul punya dua tangan sakti terbuat dari besi dan bisa menembakkan sinar. Tangan itu juga bisa berfungsi sebagai bor (yang membuatnya merasa sangat perih setiap kali cebok).

Gundala bertarung melawan Ghazul dengan ajian menggandakan diri jadi tiga. Hmmm sebentar! Seingat saya itu tak termasuk dalam daftar kesaktian Gundala. Mungkin saking cepatnya ia bergerak seolah-olah ada tiga aktor stand in yang melakukannya. Tak tahu lah...
Pokoknya akhirnya Gundala menang dan berhasil memperbaiki hubungannya dengan Minarti.

Gundala Putra Petir arahan Liliek Sudjio belum menawarkan euforia film superhero untuk beberapa masa setelahnya. Buktinya film ini tak diproduksi sekuelnya dan juga tak ada kelatahan produksi genre serupa. Selain Rama Superman Indonesia, ini adalah film superhero nasional yang memang sangat langka dan kalah tenar dibandingkan genre silat, pocong dan seks. Betapa kita merindukan film superhero nasional berbudget tinggi dibuat setelah grup Marvel dan DC menyerbu layar bioskop di negeri ini. Tapi kapan ya? Masak kita cuma bisa bernostalgia dengan menonton film jadul ini. Oya, musik dan OST-nya keren lho :)

REVIEW GUNDALA PUTRA PETIR
Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 22 Desember 2012 pukul 00:57
Baca

Review Film Jadul: Golok Setan (Ratno Timoer 1983)

Ini film genre silat fantasi yang bercerita tentang petualangan Mandala (Si Conan The Barbarian Melayu) dalam mencari pusaka bernama Golok Setan dan Kitab ilmu dewa pedang. Kitab ini berisi ilmu paling sakti dan berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah (mungkin isinya ilmu membuat bom nuklir). Tentu saja kedua pusaka ini menjadi perburuan para pendekar dunia persilatan. Tak dijelaskan berapa nomor seri pusaka itu dan juga edisi berapa kitab yang jadi rebutan itu. Barang kalau laris mestinya dibuat beberapa versi.


Film Golok Setan

Nah, Mandala (yang diperankan Barry Prima) ini musuhnya banyak. Ada Ratu Buaya (Enny Christina), seorang tante girang sakti yang berdandan campuran Cleopatra dan Lady Gaga. Tiap saat Ratu ini mencari perjaka untuk di'begitu'kan. Bahkan ia tak segan-segan menculik calon pengantin untuk memuaskan hiperseksnya itu. Tante eh Ratu Buaya memiliki tangan kanan yang tangguh, yaitu Bayujaka (Advent Bangun). Bayujaka-lah yang bertugas mencari perjaka-perjaka buat si Ratu.

Setelah menolong gurunya yang habis dikeroyok para pendekar jahat, Mandala mendapat misi mencari kitab ilmu dewa pedang. Pitaloka, yang calon suaminya direbut duluan oleh Bayujaka buat sang ratu, pingin balas dendam. Jadi ia nebeng sama Mandala. Bisa dimaklumi karena Mandala punya kuda dan Pitaloka pasti males kalau pergi balas dendam sambil jalan kaki.

Di perjalanan, Mandala berhadapan dengan beberapa monster buaya yang mirip musuhnya Ultraman. Tapi dengan mudah Mandala menyikat habis cecunguk-cecunguk berkostum aneh itu.

Sampailah Mandala di depan gua. Maka ia menyuruh Pitaloka nunggu di luar dan ia akan masuk ke dalam. Kenapa Pitaloka disuruh nunggu di luar? Mungkin ia merasa dua

orang berlainan jenis kelamin nggak baik berduaan dalam gua. Apalagi di dalam gua ada pedang. Pedang dan gua bukan hal yang baik dibicarakan untuk mereka.
Sementara itu lewat "monitor" ajaib, Ratu Buaya menyaksikan perjalanan Mandala. Maka ia mengutus Bayujaka untuk menggagalkan misi Mandala. Ternyata di lokasi sudah ada beberapa pendekar yang bertujuan sama. Mereka adalah Cambuk Seribu, Gelang-Gelang Setan dan Raja Siluman Ular Merah yang tempo hari mengeroyok gurunya Mandala. Bayujaka bertarung dengan mereka dan menang.

Sementara itu Mandala telah berhasil masuk dalam gua dimana kitab ilmu dewa pedang disembunyikan. Di dalam gua, Mandala dicegat oleh sosok "cyclops". Lebih tepatnya monster bermata satu yang merupakan perpaduan antara cyclops, babi hutan dan flashdisk. Mandala membunuh cyclops itu dengan mudah. Dicolok matanya pake golok. Mandala lalu mengambil golok setan. Mungkin karena Mandala tidak menekan password, guanya runtuh begitu goloknya dicabut. Saat Mandala berhasil keluar, tahu-tahu Bayujaka sudah menyandera Pitaloka. Bayujaka meminta golok setan diserahkan kepadanya. Maka keduanya bertarung sengit.

Pitaloka juga ikut mengeroyok. Bayujaka kalah karena Mandala menggunakan golok setan. Dengan membawa luka parah, Bayujaka melarikan diri setelah mengucapkan frase klasik dalam film silat, "Tunggulah pembalasanku!"

Ratu Buaya tidak bisa mengampuni kegagalan Bayuaji. Ia harus dihukum mati. Setelah automaton buaya metal gagal menghukumnya, si Ratu lalu memanggang Bayuaji sampai tewas. Selanjutnya Mandala akan melabrak Ratu gatal ini sampai ludes.

Golok Setan adalah film laga non stop dengan bumbu fantasi. Film ini termasuk film terbaik Barry Prima di masa kejayaannya. Adegan laga, special effect dan sex scene menjadi ciri khas film se-genre pada masanya. Sayang saya nonton versi yang udah disensor sana-sini. Jadi adegan yang gory juga beberapa sex scene sudah dipangkas.

Film ini juga di-release di Amerika oleh perusahaan Mondo Macabre (yang secara khusus mendistribusikan film-film cult eksploitasi Asia) dengan judul The Devil Sword.

Jika anda ingin mengenang indahnya masa kejayaan film silat 80an, ini adalah salah satu yang cult!

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 21 Desember 2012 pukul 23:04
Ini film genre silat fantasi yang bercerita tentang petualangan Mandala (Si Conan The Barbarian Melayu) dalam mencari pusaka bernama Golok Setan dan Kitab ilmu dewa pedang. Kitab ini berisi ilmu paling sakti dan berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah (mungkin isinya ilmu membuat bom nuklir). Tentu saja kedua pusaka ini menjadi perburuan para pendekar dunia persilatan. Tak dijelaskan berapa nomor seri pusaka itu dan juga edisi berapa kitab yang jadi rebutan itu. Barang kalau laris mestinya dibuat beberapa versi.


Film Golok Setan

Nah, Mandala (yang diperankan Barry Prima) ini musuhnya banyak. Ada Ratu Buaya (Enny Christina), seorang tante girang sakti yang berdandan campuran Cleopatra dan Lady Gaga. Tiap saat Ratu ini mencari perjaka untuk di'begitu'kan. Bahkan ia tak segan-segan menculik calon pengantin untuk memuaskan hiperseksnya itu. Tante eh Ratu Buaya memiliki tangan kanan yang tangguh, yaitu Bayujaka (Advent Bangun). Bayujaka-lah yang bertugas mencari perjaka-perjaka buat si Ratu.

Setelah menolong gurunya yang habis dikeroyok para pendekar jahat, Mandala mendapat misi mencari kitab ilmu dewa pedang. Pitaloka, yang calon suaminya direbut duluan oleh Bayujaka buat sang ratu, pingin balas dendam. Jadi ia nebeng sama Mandala. Bisa dimaklumi karena Mandala punya kuda dan Pitaloka pasti males kalau pergi balas dendam sambil jalan kaki.

Di perjalanan, Mandala berhadapan dengan beberapa monster buaya yang mirip musuhnya Ultraman. Tapi dengan mudah Mandala menyikat habis cecunguk-cecunguk berkostum aneh itu.

Sampailah Mandala di depan gua. Maka ia menyuruh Pitaloka nunggu di luar dan ia akan masuk ke dalam. Kenapa Pitaloka disuruh nunggu di luar? Mungkin ia merasa dua

orang berlainan jenis kelamin nggak baik berduaan dalam gua. Apalagi di dalam gua ada pedang. Pedang dan gua bukan hal yang baik dibicarakan untuk mereka.
Sementara itu lewat "monitor" ajaib, Ratu Buaya menyaksikan perjalanan Mandala. Maka ia mengutus Bayujaka untuk menggagalkan misi Mandala. Ternyata di lokasi sudah ada beberapa pendekar yang bertujuan sama. Mereka adalah Cambuk Seribu, Gelang-Gelang Setan dan Raja Siluman Ular Merah yang tempo hari mengeroyok gurunya Mandala. Bayujaka bertarung dengan mereka dan menang.

Sementara itu Mandala telah berhasil masuk dalam gua dimana kitab ilmu dewa pedang disembunyikan. Di dalam gua, Mandala dicegat oleh sosok "cyclops". Lebih tepatnya monster bermata satu yang merupakan perpaduan antara cyclops, babi hutan dan flashdisk. Mandala membunuh cyclops itu dengan mudah. Dicolok matanya pake golok. Mandala lalu mengambil golok setan. Mungkin karena Mandala tidak menekan password, guanya runtuh begitu goloknya dicabut. Saat Mandala berhasil keluar, tahu-tahu Bayujaka sudah menyandera Pitaloka. Bayujaka meminta golok setan diserahkan kepadanya. Maka keduanya bertarung sengit.

Pitaloka juga ikut mengeroyok. Bayujaka kalah karena Mandala menggunakan golok setan. Dengan membawa luka parah, Bayujaka melarikan diri setelah mengucapkan frase klasik dalam film silat, "Tunggulah pembalasanku!"

Ratu Buaya tidak bisa mengampuni kegagalan Bayuaji. Ia harus dihukum mati. Setelah automaton buaya metal gagal menghukumnya, si Ratu lalu memanggang Bayuaji sampai tewas. Selanjutnya Mandala akan melabrak Ratu gatal ini sampai ludes.

Golok Setan adalah film laga non stop dengan bumbu fantasi. Film ini termasuk film terbaik Barry Prima di masa kejayaannya. Adegan laga, special effect dan sex scene menjadi ciri khas film se-genre pada masanya. Sayang saya nonton versi yang udah disensor sana-sini. Jadi adegan yang gory juga beberapa sex scene sudah dipangkas.

Film ini juga di-release di Amerika oleh perusahaan Mondo Macabre (yang secara khusus mendistribusikan film-film cult eksploitasi Asia) dengan judul The Devil Sword.

Jika anda ingin mengenang indahnya masa kejayaan film silat 80an, ini adalah salah satu yang cult!

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 21 Desember 2012 pukul 23:04
Baca

Saur Sepuh: Bibit Awal Kreatifitas Saya

Begitu tulisan rumah produksi lenyap di layar, intro seruling bertiup. Kemudian sebuah hentakan orkestral mengiringi munculnya title card dengan font 3D berbentuk batu bata. SAUR SEPUH SATRIA MADANGKARA.

Lalu muncul seorang ksatria menunggang rajawali terbang. Credit title pun menyusul satu per satu.

Saur Sepuh
Terbayang saat nonton di bioskop kampung. bau asap rokok, soundsystem yang sember, dan taburan chips tai kambing kering di lapangan desa.
Ingsun berdebar gemeteran....terharu...ini...ini adalah tontonan terhebat di mata kecil saya dulu....tahun 80an. Saat itulah saya ingin menjadi seperti Imam Tantowi, jadi filmmaker kolosal. Petualangan saya berikutnya adalah mengais-ngais tempat sampah di samping bioskop. Mencari potongan slide film untuk dikoleksi.

Musik Saur Sepuh yang digarap Harry Sabar ini sebenarnya terlalu "elektronik" untuk film semegah itu. Tapi musik inilah yang terus terngiang di masa kecil saya. Musik itu saya senandungkan sewaktu mandi atau saat menggambar di atas tanah. Saat itulah saya mulai mencintai musik film. Itulah bibit kreativitas awal saya. Saya bertahun-tahun kemudian, yang waktu SMP nilai pelajaran musiknya 5, bertekad belajar keras membaca dan menulis not balok. Akhirnya menulis komposisi sendiri.

Lucunya ketika sudah jadi, saya tak tahu musiknya mau dikemanakan. Dan mulailah saya membuat film....bikin film supaya musik saya bisa masuk di sana.

Semua berawal dari gedung bioskop jadul itu. Yang kini menjadi tempat latihan badminton meski udah reot. Dan entah siapa yang akan memedulikannya.

Poster Saur Sepuh
Poster Saur Sepuh bikinan saya waktu SD. bandingkan dengan aslinya! ha ha ha

Gambar ini saya selamatkan ketika saya kuliah tahun awal. Ketika bongkar-bongkar lemari, saya temukan poster Saur Sepuh yang saya gambar waktu kecil. Sayang, banyak komik yang saya buat waktu SD sudah tak ada. Juga slide animasi di plastik bungkus gula. 

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dalam timeline Facebook
Tertanggal 20 Desember 2012 pukul 23:26
Begitu tulisan rumah produksi lenyap di layar, intro seruling bertiup. Kemudian sebuah hentakan orkestral mengiringi munculnya title card dengan font 3D berbentuk batu bata. SAUR SEPUH SATRIA MADANGKARA.

Lalu muncul seorang ksatria menunggang rajawali terbang. Credit title pun menyusul satu per satu.

Saur Sepuh
Terbayang saat nonton di bioskop kampung. bau asap rokok, soundsystem yang sember, dan taburan chips tai kambing kering di lapangan desa.
Ingsun berdebar gemeteran....terharu...ini...ini adalah tontonan terhebat di mata kecil saya dulu....tahun 80an. Saat itulah saya ingin menjadi seperti Imam Tantowi, jadi filmmaker kolosal. Petualangan saya berikutnya adalah mengais-ngais tempat sampah di samping bioskop. Mencari potongan slide film untuk dikoleksi.

Musik Saur Sepuh yang digarap Harry Sabar ini sebenarnya terlalu "elektronik" untuk film semegah itu. Tapi musik inilah yang terus terngiang di masa kecil saya. Musik itu saya senandungkan sewaktu mandi atau saat menggambar di atas tanah. Saat itulah saya mulai mencintai musik film. Itulah bibit kreativitas awal saya. Saya bertahun-tahun kemudian, yang waktu SMP nilai pelajaran musiknya 5, bertekad belajar keras membaca dan menulis not balok. Akhirnya menulis komposisi sendiri.

Lucunya ketika sudah jadi, saya tak tahu musiknya mau dikemanakan. Dan mulailah saya membuat film....bikin film supaya musik saya bisa masuk di sana.

Semua berawal dari gedung bioskop jadul itu. Yang kini menjadi tempat latihan badminton meski udah reot. Dan entah siapa yang akan memedulikannya.

Poster Saur Sepuh
Poster Saur Sepuh bikinan saya waktu SD. bandingkan dengan aslinya! ha ha ha

Gambar ini saya selamatkan ketika saya kuliah tahun awal. Ketika bongkar-bongkar lemari, saya temukan poster Saur Sepuh yang saya gambar waktu kecil. Sayang, banyak komik yang saya buat waktu SD sudah tak ada. Juga slide animasi di plastik bungkus gula. 

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dalam timeline Facebook
Tertanggal 20 Desember 2012 pukul 23:26
Baca

Review Film: Red Eagle (2010)

Tadi baru nonton RED EAGLE, film superhero Thailand. Awal film mulai, aku terkenang akan Christopher Nolan, maestronya film superhero "berat" yang nggak "campy". Banyak iklan terang-terangan muncul sebagai background. Begitu masuk opening title, teringat bau-bau James Bond. Liat kostum Red Eagle, aku ingat Robin (sidekick Batman) dan Green Hornet, lihat Black Devil (villain Red Eagle) ingat pada Doctor Doom di Fantastic Four. Begitu film habis separuh lebih semua pengharapan indah buyar berantakan.

Red Eagle
Red Eagle (2010)
Awalnya aku merasa ini film yang potensial. Kucoba bersabar walau alur bertuturnya kendor kenceng-kendor kenceng. Ternyata hancur lebur. Maunya bikin twist tapi hasilnya malah jadi keplintir-plintir nggak karuan. Banyaknya karakter muncul dengan misinya sendiri-sendiri nggak jelas. Jangan bayangkan bahwa semua karakter itu koheren dengan plot utamanya. Yang ada malah kita disorientasi plot dan inti ceritanya. Apakah ini kisah tentang Red Eagle yang vigilante dan psycho itu sendiri? Atau kisah tentang pengkhianatan janji seorang politisi (yang wajah aktornya mengingatkanku pada Anas Urbaningrum)?

Sebenarnya persona alter ego Red Eagle sendiri menarik. Dia adalah manusia dengan penuh amarah. Kecanduan terhadap rasa sakit (yang juga mengakibatkannya terus memakai morfin). Sehabis bertarung tubuhnya pasti penuh luka. Manusiawi banget. Kemuakan pada sistem membuatnya bertindak di luar hukum. Agak mengingatkan pada Bruce Wayne tanpa gemerlap dan kekayaan. Tapi sosok alter ego Red Eagle ini nggak kunjung digali lebih dalam. Sosoknya terlalu kabur sehingga dia terkesan cuma vigilante biasa. Kalaupun ada kelebihan mungkin ya karena dia agak psycho. Dia suka memotong tangan dan membabat kepala. Hampir semua korbannya mati dengan tubuh tak utuh. Yang mengganggu "suspension of disbelief" saya adalah bahwa si Red Eagle ini sering terlihat terlalu sakti untuk seorang yang nggak kebal peluru. Tambahan lagi dia mempunyai "ginkang" yang luar biasa. Bisa melompat-lompat gedung lebih baik dari praktisi parkour sekalian. Lebih aneh lagi. Ada senjata yang bisa memotong logam tapi nggak mempan memotong es. Baju zirah yang kebal peluru tapi kok bisa koyak kena bongkahan es.

Aku nggak familiar dengan aktor-aktor Thailand kecuali Tony Jaa (karena fenomenal lewat Ong Bak) dan Bongkoj Khongmalai (main satu film ama Tony Jaa di Tom Yum Goong, wajahnya mirip banget ama Masayu Anastasia). Film ini diisi dengan jajaran casting yang lumayan. Akting mereka bagus dan nggak "wagu". Actionnya lumayan walau kurang fresh. Action directornya harusnya bisa bikin lebih greget lagi. Pada beberapa scene CGI-nya kurang terpoles dengan baik. Koreografi laganya standar. Padahal dengan kostum semacam itu mustinya tata kelahinya bisa lebih eksploratif. Sedikit banget lho superhero dengan kostum yang practical untuk combat. Lihat aja Batman, sangat gak praktis buat grappling. Superman? Walaahhhh...kalau musuhnya gay pasti dilecehin tuh (no offense bagi yang gay).

Jadi? Aku menjadi disorientasi berat dalam menonton film ini. Twistnya tanpa arah. Banyak adegan nggak penting. Satu-satunya adegan yang kuingat adalah adegan seks di ruang es. Panas dalam dingin (bisa "erectus' nggak ya? Hi hi hi). Ketika film rampung muncul tulisan "to be continued"! Walaaaaaaah....jadi ke-nggakjelas-an tadi masih mau disambung lagi toh?

Sampeyan sekalian ada yang udah nonton Mercury Man yang juga made in Thailand itu? Ada pendapat soal perbandingan? Well...ini bukan film yang "layak" untuk jadi one of good superhero film. Kalau sampeyan adalah penggemar atau pengamat khusus genre superhero ya tonton aja sih. Karena ini film remake yang juga diangkat dari novel lawas mungkin ada baiknya mencari info tentang film asli dan novelnya. Dulu karakter ini ngetop di Thailand.

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 17  Desember 2012 pukul 1:32
Tadi baru nonton RED EAGLE, film superhero Thailand. Awal film mulai, aku terkenang akan Christopher Nolan, maestronya film superhero "berat" yang nggak "campy". Banyak iklan terang-terangan muncul sebagai background. Begitu masuk opening title, teringat bau-bau James Bond. Liat kostum Red Eagle, aku ingat Robin (sidekick Batman) dan Green Hornet, lihat Black Devil (villain Red Eagle) ingat pada Doctor Doom di Fantastic Four. Begitu film habis separuh lebih semua pengharapan indah buyar berantakan.

Red Eagle
Red Eagle (2010)
Awalnya aku merasa ini film yang potensial. Kucoba bersabar walau alur bertuturnya kendor kenceng-kendor kenceng. Ternyata hancur lebur. Maunya bikin twist tapi hasilnya malah jadi keplintir-plintir nggak karuan. Banyaknya karakter muncul dengan misinya sendiri-sendiri nggak jelas. Jangan bayangkan bahwa semua karakter itu koheren dengan plot utamanya. Yang ada malah kita disorientasi plot dan inti ceritanya. Apakah ini kisah tentang Red Eagle yang vigilante dan psycho itu sendiri? Atau kisah tentang pengkhianatan janji seorang politisi (yang wajah aktornya mengingatkanku pada Anas Urbaningrum)?

Sebenarnya persona alter ego Red Eagle sendiri menarik. Dia adalah manusia dengan penuh amarah. Kecanduan terhadap rasa sakit (yang juga mengakibatkannya terus memakai morfin). Sehabis bertarung tubuhnya pasti penuh luka. Manusiawi banget. Kemuakan pada sistem membuatnya bertindak di luar hukum. Agak mengingatkan pada Bruce Wayne tanpa gemerlap dan kekayaan. Tapi sosok alter ego Red Eagle ini nggak kunjung digali lebih dalam. Sosoknya terlalu kabur sehingga dia terkesan cuma vigilante biasa. Kalaupun ada kelebihan mungkin ya karena dia agak psycho. Dia suka memotong tangan dan membabat kepala. Hampir semua korbannya mati dengan tubuh tak utuh. Yang mengganggu "suspension of disbelief" saya adalah bahwa si Red Eagle ini sering terlihat terlalu sakti untuk seorang yang nggak kebal peluru. Tambahan lagi dia mempunyai "ginkang" yang luar biasa. Bisa melompat-lompat gedung lebih baik dari praktisi parkour sekalian. Lebih aneh lagi. Ada senjata yang bisa memotong logam tapi nggak mempan memotong es. Baju zirah yang kebal peluru tapi kok bisa koyak kena bongkahan es.

Aku nggak familiar dengan aktor-aktor Thailand kecuali Tony Jaa (karena fenomenal lewat Ong Bak) dan Bongkoj Khongmalai (main satu film ama Tony Jaa di Tom Yum Goong, wajahnya mirip banget ama Masayu Anastasia). Film ini diisi dengan jajaran casting yang lumayan. Akting mereka bagus dan nggak "wagu". Actionnya lumayan walau kurang fresh. Action directornya harusnya bisa bikin lebih greget lagi. Pada beberapa scene CGI-nya kurang terpoles dengan baik. Koreografi laganya standar. Padahal dengan kostum semacam itu mustinya tata kelahinya bisa lebih eksploratif. Sedikit banget lho superhero dengan kostum yang practical untuk combat. Lihat aja Batman, sangat gak praktis buat grappling. Superman? Walaahhhh...kalau musuhnya gay pasti dilecehin tuh (no offense bagi yang gay).

Jadi? Aku menjadi disorientasi berat dalam menonton film ini. Twistnya tanpa arah. Banyak adegan nggak penting. Satu-satunya adegan yang kuingat adalah adegan seks di ruang es. Panas dalam dingin (bisa "erectus' nggak ya? Hi hi hi). Ketika film rampung muncul tulisan "to be continued"! Walaaaaaaah....jadi ke-nggakjelas-an tadi masih mau disambung lagi toh?

Sampeyan sekalian ada yang udah nonton Mercury Man yang juga made in Thailand itu? Ada pendapat soal perbandingan? Well...ini bukan film yang "layak" untuk jadi one of good superhero film. Kalau sampeyan adalah penggemar atau pengamat khusus genre superhero ya tonton aja sih. Karena ini film remake yang juga diangkat dari novel lawas mungkin ada baiknya mencari info tentang film asli dan novelnya. Dulu karakter ini ngetop di Thailand.

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 17  Desember 2012 pukul 1:32
Baca

Review Film Jadul: Krakatau (Sebuah Film Silat Thriller Noir)


Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36

Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36
Baca

SAKTI, Sebuah Film Indie dengan Sedikit Ambisi

Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA