SAKTI, Sebuah Film Indie dengan Sedikit Ambisi

Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA