Review Film Jadul: Krakatau (Sebuah Film Silat Thriller Noir)


Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36

Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA