Review Film Jadul: Jaka Sembung (Sisworo Gautama Putra 1981)


Adegan bermula di halaman kantor gubermen Belanda. Para tawanan kumpeni (sebutan untuk penjajah Belanda) tengah dikumpulkan untuk dijadikan pekerja paksa. Di antara tawanan itu ada Parmin alias Jaka Sembung (Barry Prima), yang wajahnya lebih bule daripada jendral kumpeni yang menahannya (Dicky Zulkarnain dengan rambut dan kumis palsu).

Kredit gambar: jejakandromeda.com

Di daerah kerja paksa para tawanan memberontak. Jaka Sembung melarikan diri. Para kumpeni yang blingsatan pun membuat sayembara untuk merekrut para jagoan sakti untuk menangkap Jaka Sembung. Pengumuman sayembara ditempel besar-besar di sudut kampung meskipun belum tentu orang-orang bisa membacanya (maklum pada jaman penjajahan angka buta huruf sangat tinggi). Untuk itu punggawa kumpeni harus kerja dua kali; menempelkan pengumuman sekaligus membacakannya.

Seorang jagoan (yang kemungkinan buta huruf) melihat pengumuman itu. Ia menyemburnya hingga terbakar. Apinya asli bukan CGI. Jagoan gundul bernama Kobar ini lalu pergi ke kantor gubermen, melakukan sedikit demo kekebalan dan silat. Ia ikut sayembara menangkap jaka Sembung. Jendral kumpeni itu masih meminta Kobar untuk melakukan demonstrasi lagi. Kali ini Kobar bergulat dengan sapi. Sapinya beneran, bukan animatronik. Kobar mengalahkannya bagaikan Masutatsu Oyama.

Sementara itu Jaka Sembung sedang bersembunyi di rumah Surti kekasihnya (Eva Arnaz). Kenapa ia malah bersembunyi di rumah orang dekatnya? Mungkin Jaka Sembung sengaja biar kepergok. Betul saja, Kobar dan para jagoan pro kumpeni mendatanginya. Jaka (dengan diksi ala Rhoma Irama) pun mengkotbahi Kobar sebelum berduel. Jaka dan Kobar bertarung seru. Jaka kewalahan karena Kobar bisa menyemburkan api. Akhirnya Kobar tewas dengan sebilah bambu menembus tenggorokannya. So gory...

Kekalahan Kobar membuat kumpeni makin blingsatan. Di tengah kegalauan untuk mendapatkan jagoan yang bisa menandingi Jaka Sembung, datanglah seorang dukun (HIM Damsyik). Dukun ini punya kemampuan membangkitkan mayat. Rencananya dia akan membangkitkan Ki Hitam (W.D. Mochtar), jagoan sakti yang bisa mengalahkan Jaka Sembung. Para kumpeni tidak percaya dengan si dukun dan membentaknya. Tapi si dukun berhasil meyakinkan mereka dengan kemampuan telekinetisnya.

Dan sepakatlah kumpeni. Ki Hitam dibangkitkan dari kematiannya. Ki Hitam memiliki ilmu bernama Rawe Rontek. Dengan ilmu ini, ia tak akan mati meski tubuhnya dimutilasi. Tubuh Ki Hitam dikubur di sebuah bukit yang mirip dengan gundukan di film Close Encounters To the Third Kind. Sedangkan kepalanya digantung di pohon. Cara ini ampuh untuh mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek. Dulu yang memutilasi Ki Hitam adalah Ki Sapu Angin, gurunya Jaka.

Kumpeni mulai menangkapi orang desa untuk memancing Jaka Sembung muncul. Bahkan seorang anak ditodong agar Jaka Sembung nongol. Rencana ini berhasil. Jaka Sembung (yang berwajah bule) ini muncul menghardik para kumpeni dengan kata-kata puitis, "Hei orang bule! Aku paling tidak bisa melihat di depan hidungku ada anak kecil mati karena aku!". Semuanya adalah jebakan. Ki Hitam muncul dan menghajar Jaka Sembung. Jaka Sembung kalah dan ditawan. Di dalam kerangkeng, kedua tapak tangannya dipaku di dinding seperti Yesus yang disalib.

Diam-diam Maria (Dana Christina), putri si jendral kumpeni yang juga bisa silat berusaha membebaskan Jaka Sembung. Ternyata dia memang menaruh simpati pada Jaka. Hal ini dipergoki si jendral kumpeni. Akibatnya mata Jaka Sembung dicungkil sebagai hukuman. Berikutnya Surti, kekasih Jaka menerobos rumah tawanan juga hendak membebaskannya. Rencananya gagal sehingga ia malah ikutan dijebloskan di kerangkeng.

Jaka Sembung masih belum putus asa. Dengan matanya yang hilang ia berdoa memohon kekuatan. Dan, "Allahu Akbar!", Jaka Sembung menarik tangannya yang terpaku di dinding. Lalu dengan giginya ia mencabut paku di tangannya yang mirip manekin lateks itu. Lagi-lagi pelariannya gagal. Punggawa kumpeni dan Ki Hitam menghadang mereka berdua. Surti tertembak dan Jaka Sembung disihir menjadi babi hutan. (mungkinkah ia bisa dibebaskan dengan dicium oleh seorang putri?) Betapa malang menjadi babi hutan buta. Sudah buta, haram, babi pula....

Surti yang terluka parah diselamatkan oleh seorang pertapa sufi sakti. Pertapa itupun memulihkan wujud Jaka Sembung (ternyata tidak dengan menciumnya). Jaka Sembung jadi manusia lagi. Saat itu Surti telah tewas karena kehabisan darah. Ternyata pertapa sakti yang bisa mengembalikan wujud manusia dari babi tidak bisa menyembuhkan luka tembak. Sebelum meninggal, Surti berwasiat agar kedua biji-nya eh matanya didonorkan kepada Jaka Sembung. So sweeet....so gorrrryyyy. Kemudian sang pertapa sakti membedah mata Surti, memencetnya paksa agar keluar dari rongganya, lalu memindahkannya ke Jaka Sembung. Sayang sekali...kesaktian semacam ini tetap tak bisa menyelamatkan Surti dari kehabisan darah tadi.

Jaka Sembung pun pulih. Ia menjalani beberapa terapi agar matanya bisa beradaptasi. Kini Jaka Sembung adalah pria bertubuh pendekar jantan dengan mata indah seorang perempuan. Kita belum tahu selepas ini dia jadi hobby berbelanja apa tidak...

Menyongsong kembalinya Jaka Sembung, Ki Hitam dan dukun sakti mengisruh di surau tempat Jaka dan kawan-kawan sembahyang. Jaka Sembung pun terlibat duel dahsyat dengan Ki Hitam. Ilmu Rawe Rontek Ki Hitam terbukti sakti. Tangan ditebas kembali ke pergelangannya, kaki disabet bisa nendang, kepala dipenggal bisa balik ke lehernya. Semuanya seperti digerakkan oleh remote kontrol gaib. Jaka Sembung yang sudah tahu cara mende-aktivasi ilmu Rawe Rontek, memisahkan badan atas dan badan bawah Ki Hitam. Kedua bagian itu tak boleh menyentuh tanah agar tidak hidup lagi.

Di saat yang sama rakyat pejuang menyerbu markas kumpeni. Jaka Sembung pun menyusul ke sana. Jaka Sembung berduel dengan jendral kumpeni, silat versus European fencing. Jaka Sembung menang diiringi jerit Maria yang histeris melihat ayahnya mati. Jendral kumpeni yang sekarat itu masih sempat meraih pistol dan menembak Jaka. Maria pun menjadikan tubuhnya sebagai tameng peluru. Maria tewas dalam pelukan Jaka Sembung. Tragissss...

Itulah kisah Jaka Sembung yang diangkat dari komik (karya Jair Warni bukan ya?). Ini adalah film terbaik dari Barry Prima yang menjadikannya ikon film laga kala itu. Unsur silat, fantasi, mistik, kolonialisme merupakan bumbu-bumbu yang meramu film ini. Ceritanya lumayan bagus dan mengalir. Artistiknya keren (pada masanya) terutama saat adegan mutilasi tangan, operasi gaib donor mata dan pemenggalan kepala Ki Hitam. Sayang koreografinya kurang dahsyat. Menurut saya film ini pantas untuk di-remake.

Film ini diluncurkan juga di Amerika dengan Judul The Warrior oleh perusahaan Mondo Macabre yang secara khusus mendistribusikan film-film cult eksploitasi Asia.

REVIEW JAKA SEMBUNG (Sisworo Gautama Putra)
Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 22 Desember 2012 pukul 22:56

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA