Meninjau Trend Terbaru Koreografi Laga Tahun 2000-an: Ong Bak dan The Raid

Sepanjang tahun 2000-an ini muncul fenomena baru dalam dunia film laga. Inovasi koreografi laga kini tidak melulu didominasi oleh Hongkong yang memang pusatnya film laga terbaik. 2 negara yang mulai menjadi pusat baru kebangkitan film laga adalah Thailand dan Indonesia. Saya akan fokus pada 2 film fenomenal dari kedua negara tersebut yaitu Ong Bak (Prachya Pinkaew 2003) dan The Raid (Gareth Evans 2011). Tak dapat dipungkiri bahwa Ong Bak yang lebih sukses duluan memicu reaksi berantai demam film laga dunia. The Raid (yang diproduksi belakangan) dalam beberapa sisi juga ikut "kecipratan" demam tersebut.

Ong Bak

Ong Baik adalah film yang melejitkan beladiri Muay Thai ke dalam budaya populer. Sejak film ini konon kelas-kelas Muay Thai menjadi laris. Jika ditilik sebenarnya apa yang ditampilkan oleh Tony "Panom Yeerum" Jaa adalah sebuah racikan kreatif antara Muay Boran, Tricking, Wushu, Taekwondo dan Muay Thai. Jadi tidak betul-betul murni Muay Thai. Namun dalam film, kesan adalah yang utama. Kita tentu tahu bahwa Muay Thai tradisional tidak mengandung akrobat-akrobat semasif dalam Ong Bak. Beberapa gerakan itu sesungguhnya tidak asing dalam tricking art yang dilakukan praktisi Taekwondo, Capoeira maupun Wushu. Ada aerial, backflip, backhandspring dll.

Ong Bak (2003)
Ong Bak (2003)
Tony pun mengakui bahwa ia sangat mengidolakan Jackie Chan dan Jet Li. Ia ingin menciptakan sesuatu yang "seindah" idolanya lakukan tetapi dengan cita rasa Thailand. Jika Jackie Chan dan Jet Li merepresentasikan keindahan Wushu, ia ingin dunia mengenal kedahsyatan Muay Thai. Namun Muay Thai yang original terlalu "combat oriented". Tony pun nampaknya meramu unsur-unsur Muay Boran (predesor Muay Thai), Wushu, Taekwondo, Gymnastic dll. agar menjadi adonan baru yang ia mau. Bagaimanakah melakukannya?

Tony Jaa menggunakan gerakan khas Muay Thai sebagai "bumbu dasar". Gerakan itu adalah serangan sikut dan lutut dengan berbagai variasinya. Meskipun dalam sekuens pertarungan Tony mencampur-campur semua pengaruh yang ada, namun Tony akan menutup setiap gerakan dengan pose Muay Boran yang khas. Jadilah "Muay Thai gaya baru". Meskipun hampir setiap beladiri jenis "stand up martial art" memiliki serangan sikut dan lutut, akan tetapi gaya sikut dan lutut ala Muay Thai (atau Muay Boran) cukup berbeda. Tony memperkuat kekhasan ini dengan "melebihkan" porsinya. Ia melakukannya dengan berbagai variasi (sambil lompat, sambil berputar dll). Jika laga ala Hongkong terlihat cepat dan indah, Tony membuat "neo-Muay Thai" style-nya terlihat keras dan dahsyat. Makanya ia banyak mengulang adegan yang sama dari berbagai angle secara slow-motion.

Ia juga ingin memperlihatkan bahwa impact setiap serangan terlihat nyata. Kita lihat pukulan maupun tendangan diperlihatkan benar-benar menghantam sasaran tanpa trik. Dalam film laga pada umumnya, kamera diletakkan pada posisi tertentu sehingga pukulan tak terlihat betul kena apa tidaknya ke sasaran. Dalam Ong Bak, hal ini dieksploitasi. Pukulan atau tendangan yang menghantam sasaran diputar dalam slow-motion. Sebenarnya ini makin lama terkesan berlebihan. Nampaknya Tony CS ingin agar penonton tercengang, seolah ingin mengatakan: Ini lho pukulannya kena beneran!. Ternyata ia sukses.

Ong Bak memiliki kekuatan dari segi style visual. Kesan orang akan Muay Thai yang keras dan dahsyat dieksploitasi secara artistik dalam film ini. Tak lupa Tony juga melakukan tricking gila-gilaan. Beberapa pengamat membandingkan bahwa ia hanya mengulang apa yang telah dilakukan idolanya, Jackie Chan. Memang betul, Jackie Chan sudah melakukan hal-hal berbahaya tanpa peran pengganti ketika Tony Jaa masih anak-anak. Tapi Tony bukan sekadar peniru. Ia membuat pembaharuan kreatif! Ia ingin melakukan Jackie Chan-Jet Li yang berbau Thailand! Ia tambahkan adonan Muay Thai ke dalam setiap gerakan. Ia sukses. Sekarang ini hampir kita lihat banyak orang ingin meniru-niru apa yang ia lakukan. Ada sikut dan lutut "berterbangan" ditambah banyak salto!

Apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan lewat Ong Bak? Muay Thai gaya sinematik? Itu sudah jelas. Tapi yang sebenarnya tersampaikan dalam Ong Bak adalah kesan bahwa Tony Jaa melakukannya tanpa trik kamera! Ong Bak yang "mentah" (dalam artian positif), kasar dan keras! Beladiri yang bertenaga tanpa polesan. Itulah "rasa" yang sampai pada kita. Kalau kepukul ya kena beneran kalau salto ya tak tanggung-tanggung. Ong Bak yang keras, hebat, kasar, mentah namun indah.

Tony Jaa tidak sendiri dalam membuat semua itu. Ada Panna Rittikrai yang merupakan mentornya sejak muda dan tim Bangkok Muay Thai Stunt yang mau-maunya ditonjok sampai nyonyor demi film. Kerja kolaboratif, dedikasi, keberanian dan kemauan menampilkan sesuatu yang beridentitas (Thailand) membuat suksesnya film Ong Bak. Tampaknya sukses ini hanya berlangsung "lokal". Saya lihat selain produksi Sahamongkol Pictures (rumah produksi yang bikin Ong Bak), tak ada film laga Thailand yang racikannya sedahsyat mereka.

The Raid

The Raid alias Serbuan Maut adalah film yang sukses mengangkat Silat dalam mainstream koreografi laga. Meskipun tim Iko Uwais CS (lewat Tim Silat Harimau Edwell Yusri) sudah mengawalinya lewat Merantau, baru lewat The Raid inilah penonton internasional bisa terpana: "Wow silat memang keren!".

The Raid (2011)
The Raid (2011)
Yang dominan dalam aksi The Raid adalah penggunaan senjata tajam dengan cukup memikat. Lihatlah ketika pisau merobek paha, menusuk tubuh, menggorok leher dll. Kesan yang terlihat betapa gerakan Silat itu indah namun mematikan. Kalau dalam film-film aksi Barat, orang melihat pertarungan pisau secara tersendat-sendat. Petarung biasanya akan saling mencengkram pergelangan, berebut pisau agar bisa lebih dulu membunuh. Biasanya kedua petarung akan jatuh ke lantai dan mulai grappling menentukan nasib.

Tidak demikian halnya dalam The Raid. Pertarungan berlangsung bertubi-tubi. Kedua petarung harus lincah berkelit dan membabat kalau tidak ususnya terburai robek oleh belati. Darah-darah muncrat juga diperlihatkan jelas. Tak ada slow motion sehingga penonton hampir kehabisan napas menerka siapa yang akan bertahan. "Indahnya", pertarungan ini tak cuma melibatkan dua orang melainkan dilakukan keroyokan dalam ruang sempit. Tak cuma pisau, golok dan kapak juga dilibatkan dalam keasyikan bacok-bacokan ini. Sepertinya, unsur berdarah yang tak tanggung-tanggung inilah yang berhasil memikat penonton. Bahkan konon kabarnya, film teranyar Teenage Mutant Ninja Turtles ingin mengadopsi style tarung ala The Raid ini. Ingat film Expendables 2? Saya kok merasa tarungnya mulai berbau The Raid ya...

Selain senjata tajam, The Raid juga melakukan inovasi dalam pertarungan tangan kosong. Yang paling nampak adalah membenturkan kepala ke benda keras dalam berbagai variasi. Ada kepala dibenturkan dinding, kepala dibenturkan meja, kepala dibenturkan tiang dll. Beberapa pengaruh Ong Bak kadang muncul seperti serangan sikut dan lutut. Beberapa bahkan agak repetitif. Yayan Ruhian (ko-koreografer bersama Iko Uwais) pun sempat menyinggung bahwa yang namanya memukul juga pakai tangan dan menendang memakai kaki maka kesamaan gerakan tak bisa dihindari. Namun polesan gerakan Silat bisa menyamarkannya.

Secara cerita plot The Raid biasa saja, beberapa bilang bahkan terlalu flat, namun The Raid kuat secara style. The Raid secara cerdas berhasil keluar dari jebakan kesuksesan Ong Bak. Tak ada slow-motion lebay. Tak terlalu peduli bahwa gerakannya terlihat kena beneran ke sasaran. The Raid mengeksplorasi sisi lain; tusukan menembus daging, benturan yang membuat kepala pecah dan pertarungan yang intens nyaris tanpa jeda. Pertarungan dalam The Raid berlangsung cepat dan berdarah-darah. Lebih sadis daripada Ong Bak.

Selain itu alasan berkelahi pakai tangan kosong cukup realistis; karena pelurunya udah habis, atau memang sengaja mau njajal keahlian (seperti Mad Dog Vs Jaka). Beda dengan film laga umumnya yang secara "gegabah bin nekad" melawan pistol dengan tendangan.

Kalau reaksi saya terhadap Ong Bak adalah "Wowww!" maka pada The Raid reaksi saya adalah "Hiiii..." (ngeri). Tampaknya para pembuat The Raid mengetahui apa yang ingin mereka sampaikan daripada sekadar membuat laga baku hantam yang style-nya comot sana comot sini. Salut kepada trio Gareth Evans, Yayan Ruhian dan Iko Uwais, koki utama racikan ini.
Sepanjang tahun 2000-an ini muncul fenomena baru dalam dunia film laga. Inovasi koreografi laga kini tidak melulu didominasi oleh Hongkong yang memang pusatnya film laga terbaik. 2 negara yang mulai menjadi pusat baru kebangkitan film laga adalah Thailand dan Indonesia. Saya akan fokus pada 2 film fenomenal dari kedua negara tersebut yaitu Ong Bak (Prachya Pinkaew 2003) dan The Raid (Gareth Evans 2011). Tak dapat dipungkiri bahwa Ong Bak yang lebih sukses duluan memicu reaksi berantai demam film laga dunia. The Raid (yang diproduksi belakangan) dalam beberapa sisi juga ikut "kecipratan" demam tersebut.

Ong Bak

Ong Baik adalah film yang melejitkan beladiri Muay Thai ke dalam budaya populer. Sejak film ini konon kelas-kelas Muay Thai menjadi laris. Jika ditilik sebenarnya apa yang ditampilkan oleh Tony "Panom Yeerum" Jaa adalah sebuah racikan kreatif antara Muay Boran, Tricking, Wushu, Taekwondo dan Muay Thai. Jadi tidak betul-betul murni Muay Thai. Namun dalam film, kesan adalah yang utama. Kita tentu tahu bahwa Muay Thai tradisional tidak mengandung akrobat-akrobat semasif dalam Ong Bak. Beberapa gerakan itu sesungguhnya tidak asing dalam tricking art yang dilakukan praktisi Taekwondo, Capoeira maupun Wushu. Ada aerial, backflip, backhandspring dll.

Ong Bak (2003)
Ong Bak (2003)
Tony pun mengakui bahwa ia sangat mengidolakan Jackie Chan dan Jet Li. Ia ingin menciptakan sesuatu yang "seindah" idolanya lakukan tetapi dengan cita rasa Thailand. Jika Jackie Chan dan Jet Li merepresentasikan keindahan Wushu, ia ingin dunia mengenal kedahsyatan Muay Thai. Namun Muay Thai yang original terlalu "combat oriented". Tony pun nampaknya meramu unsur-unsur Muay Boran (predesor Muay Thai), Wushu, Taekwondo, Gymnastic dll. agar menjadi adonan baru yang ia mau. Bagaimanakah melakukannya?

Tony Jaa menggunakan gerakan khas Muay Thai sebagai "bumbu dasar". Gerakan itu adalah serangan sikut dan lutut dengan berbagai variasinya. Meskipun dalam sekuens pertarungan Tony mencampur-campur semua pengaruh yang ada, namun Tony akan menutup setiap gerakan dengan pose Muay Boran yang khas. Jadilah "Muay Thai gaya baru". Meskipun hampir setiap beladiri jenis "stand up martial art" memiliki serangan sikut dan lutut, akan tetapi gaya sikut dan lutut ala Muay Thai (atau Muay Boran) cukup berbeda. Tony memperkuat kekhasan ini dengan "melebihkan" porsinya. Ia melakukannya dengan berbagai variasi (sambil lompat, sambil berputar dll). Jika laga ala Hongkong terlihat cepat dan indah, Tony membuat "neo-Muay Thai" style-nya terlihat keras dan dahsyat. Makanya ia banyak mengulang adegan yang sama dari berbagai angle secara slow-motion.

Ia juga ingin memperlihatkan bahwa impact setiap serangan terlihat nyata. Kita lihat pukulan maupun tendangan diperlihatkan benar-benar menghantam sasaran tanpa trik. Dalam film laga pada umumnya, kamera diletakkan pada posisi tertentu sehingga pukulan tak terlihat betul kena apa tidaknya ke sasaran. Dalam Ong Bak, hal ini dieksploitasi. Pukulan atau tendangan yang menghantam sasaran diputar dalam slow-motion. Sebenarnya ini makin lama terkesan berlebihan. Nampaknya Tony CS ingin agar penonton tercengang, seolah ingin mengatakan: Ini lho pukulannya kena beneran!. Ternyata ia sukses.

Ong Bak memiliki kekuatan dari segi style visual. Kesan orang akan Muay Thai yang keras dan dahsyat dieksploitasi secara artistik dalam film ini. Tak lupa Tony juga melakukan tricking gila-gilaan. Beberapa pengamat membandingkan bahwa ia hanya mengulang apa yang telah dilakukan idolanya, Jackie Chan. Memang betul, Jackie Chan sudah melakukan hal-hal berbahaya tanpa peran pengganti ketika Tony Jaa masih anak-anak. Tapi Tony bukan sekadar peniru. Ia membuat pembaharuan kreatif! Ia ingin melakukan Jackie Chan-Jet Li yang berbau Thailand! Ia tambahkan adonan Muay Thai ke dalam setiap gerakan. Ia sukses. Sekarang ini hampir kita lihat banyak orang ingin meniru-niru apa yang ia lakukan. Ada sikut dan lutut "berterbangan" ditambah banyak salto!

Apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan lewat Ong Bak? Muay Thai gaya sinematik? Itu sudah jelas. Tapi yang sebenarnya tersampaikan dalam Ong Bak adalah kesan bahwa Tony Jaa melakukannya tanpa trik kamera! Ong Bak yang "mentah" (dalam artian positif), kasar dan keras! Beladiri yang bertenaga tanpa polesan. Itulah "rasa" yang sampai pada kita. Kalau kepukul ya kena beneran kalau salto ya tak tanggung-tanggung. Ong Bak yang keras, hebat, kasar, mentah namun indah.

Tony Jaa tidak sendiri dalam membuat semua itu. Ada Panna Rittikrai yang merupakan mentornya sejak muda dan tim Bangkok Muay Thai Stunt yang mau-maunya ditonjok sampai nyonyor demi film. Kerja kolaboratif, dedikasi, keberanian dan kemauan menampilkan sesuatu yang beridentitas (Thailand) membuat suksesnya film Ong Bak. Tampaknya sukses ini hanya berlangsung "lokal". Saya lihat selain produksi Sahamongkol Pictures (rumah produksi yang bikin Ong Bak), tak ada film laga Thailand yang racikannya sedahsyat mereka.

The Raid

The Raid alias Serbuan Maut adalah film yang sukses mengangkat Silat dalam mainstream koreografi laga. Meskipun tim Iko Uwais CS (lewat Tim Silat Harimau Edwell Yusri) sudah mengawalinya lewat Merantau, baru lewat The Raid inilah penonton internasional bisa terpana: "Wow silat memang keren!".

The Raid (2011)
The Raid (2011)
Yang dominan dalam aksi The Raid adalah penggunaan senjata tajam dengan cukup memikat. Lihatlah ketika pisau merobek paha, menusuk tubuh, menggorok leher dll. Kesan yang terlihat betapa gerakan Silat itu indah namun mematikan. Kalau dalam film-film aksi Barat, orang melihat pertarungan pisau secara tersendat-sendat. Petarung biasanya akan saling mencengkram pergelangan, berebut pisau agar bisa lebih dulu membunuh. Biasanya kedua petarung akan jatuh ke lantai dan mulai grappling menentukan nasib.

Tidak demikian halnya dalam The Raid. Pertarungan berlangsung bertubi-tubi. Kedua petarung harus lincah berkelit dan membabat kalau tidak ususnya terburai robek oleh belati. Darah-darah muncrat juga diperlihatkan jelas. Tak ada slow motion sehingga penonton hampir kehabisan napas menerka siapa yang akan bertahan. "Indahnya", pertarungan ini tak cuma melibatkan dua orang melainkan dilakukan keroyokan dalam ruang sempit. Tak cuma pisau, golok dan kapak juga dilibatkan dalam keasyikan bacok-bacokan ini. Sepertinya, unsur berdarah yang tak tanggung-tanggung inilah yang berhasil memikat penonton. Bahkan konon kabarnya, film teranyar Teenage Mutant Ninja Turtles ingin mengadopsi style tarung ala The Raid ini. Ingat film Expendables 2? Saya kok merasa tarungnya mulai berbau The Raid ya...

Selain senjata tajam, The Raid juga melakukan inovasi dalam pertarungan tangan kosong. Yang paling nampak adalah membenturkan kepala ke benda keras dalam berbagai variasi. Ada kepala dibenturkan dinding, kepala dibenturkan meja, kepala dibenturkan tiang dll. Beberapa pengaruh Ong Bak kadang muncul seperti serangan sikut dan lutut. Beberapa bahkan agak repetitif. Yayan Ruhian (ko-koreografer bersama Iko Uwais) pun sempat menyinggung bahwa yang namanya memukul juga pakai tangan dan menendang memakai kaki maka kesamaan gerakan tak bisa dihindari. Namun polesan gerakan Silat bisa menyamarkannya.

Secara cerita plot The Raid biasa saja, beberapa bilang bahkan terlalu flat, namun The Raid kuat secara style. The Raid secara cerdas berhasil keluar dari jebakan kesuksesan Ong Bak. Tak ada slow-motion lebay. Tak terlalu peduli bahwa gerakannya terlihat kena beneran ke sasaran. The Raid mengeksplorasi sisi lain; tusukan menembus daging, benturan yang membuat kepala pecah dan pertarungan yang intens nyaris tanpa jeda. Pertarungan dalam The Raid berlangsung cepat dan berdarah-darah. Lebih sadis daripada Ong Bak.

Selain itu alasan berkelahi pakai tangan kosong cukup realistis; karena pelurunya udah habis, atau memang sengaja mau njajal keahlian (seperti Mad Dog Vs Jaka). Beda dengan film laga umumnya yang secara "gegabah bin nekad" melawan pistol dengan tendangan.

Kalau reaksi saya terhadap Ong Bak adalah "Wowww!" maka pada The Raid reaksi saya adalah "Hiiii..." (ngeri). Tampaknya para pembuat The Raid mengetahui apa yang ingin mereka sampaikan daripada sekadar membuat laga baku hantam yang style-nya comot sana comot sini. Salut kepada trio Gareth Evans, Yayan Ruhian dan Iko Uwais, koki utama racikan ini.
Baca

Saur Sepuh 3 (Kembang Gunung Lawu, Imam Tantowi 1990): A Story About A Badass Woman

Kisah bermula dari Lasmini yang menjadi korban “gang rape” oleh para begundal sewaan suaminya sendiri, Basra. Ini akibat Lasmini yang “mbalelo” kepada Basra dengan pindah sendirian ke kota besar tanpa ijinnya. Setelah para begundal puas mem”begitu”kan Lasmini, ia dibuang ke jurang. Untunglah bahwa cerita silat selalu klise. Seorang Nenek Sakti menyelamatkannya. Maka Lasmini pun menjadi murid dari akademi silat sang Nenek Sakti. Di situ Lasmini belajar silat dan kadigdayan selama beberapa SKS. Bertepatan dengan rampungnya studi silat Lasmini, Sang Nenek Sakti meninggal (dengan cara yang terlalu mudah untuk orang sakti). Sebelum meninggal, Nenek Sakti sempat memberi Lasmini sebuah pedang bernama “Pedang Ular”. Nama yang unik. Memang biasanya sebuah pusaka diberi nama binatang tertentu, bukan sembarang binatang. Kita mungkin pernah dengar ada nama pedang naga, pedang kupu-kupu dan pedang rajawali. Namun kita belum pernah mendengar ada nama pedang kelinci, pedang kepik dan pedang cumi-cumi.

Saur Sepuh 3: Kembang Gunung Lawu
Kredit Gambar: andromedajunior.wordpress.com
Lasmini pun kemudian mengembara berbekal Pedang Ular dan hot pants gaya Majapahit. Untunglah ia tidak hamil akibat gang rape yang dulu. Mungkin para pelakunya pakai ajian kontrasepsi. Yang ia lakukan sebelum memulai hidup baru adalah membalas dendam pada para raper-nya (eh rapist maksudnya) termasuk Basra, mantan suami sekaligus biang keroknya. Mereka dibacok, dimutilasi dan dicolok matanya. Gory...


Hot pants Majapahit not available online

Yang makai hot pants kehausan karena cuaca sedang hot dan bikin dia tambah hot.
Cewek cakep mana minum sambil "ngglogok" langsung dari gayung?

Hot pants yang oke buat silat

Suatu ketika Lasmini menyelamatkan Paksi Jaladara bin Gotawa (putra Mantili ama Patih Gotawa) yang sedang kebut-kebutan bersama Raden Bentar bin Brama Kumbara. Jadi hobi kebut-kebutan nggak cuma monopoli geng motor lho ya. Cuma kalau jaman dulu namanya ya...geng kuda.

Melihat Lasmini, rupanya Raden Brondong eh Raden Bentar jadi jatuh cinta. Rupanya seleranya Raden emang tante-tante. Selepas kejadian itu Raden Bentar menjalin hubungan asmara dengan Lasmini (yang ternyata gemar brondong juga). Sesaat film Saur Sepuh berubah jadi musikal karena ada adegan nyanyi berdua. Lagunya tentang burung....saya lupa syairnya. Mungkin gini...

Oh burung satria
Hinggaplah di pangkuanku...…...........

Eh gitu bukan ya? Dengerin sendiri deh!

Hubungan tante-brondong ini jelas membuat gusar keluarga elit Madangkara terutama Mantili. Ia nggak rela ponakannya diracuni oleh janda gatal macam Lasmini. Ia pun melabrak Lasmini, mengancamnya bakal kena pasal hubungan seks dengan anak di bawah umur. Raden Bentar dan Lasmini harus “end!”.

Di rumah Raden Bentar sedih dan galau. Nggak bergairah hidup. Tiap hari hanya melamun dan main suling. Sulingnya ajaib sekali karena bunyinya mirip electone.

Sedangkan Lasmini tak kalah galaunya. Mengingat peristiwa pelabrakan itu, ia jadi marah dan dendam. Dari dulu ia selalu dihina dan dilecehkan. Ia bersumpah bahwa kelak setiap laki-laki akan bertekuk lutut di hadapannya. Saat melampiaskan marah sambil memukul tiang, tanpa sengaja ia menemukan sebuah “Illustrated Martial Art Manual” karangan gurunya.

Semoga segera diterbitkan Gramedia atau kalo tidak ada pdf-nya

Abis baca kitab langsung latian. Sungguh rajin

"Oh Sang Hyang Widi...berilah hamba jodoh seorang filmmaker yang bisa nge-blog..."

Duo Srigala?
Lasmini pun mempelajari kitab itu. Setelah melatih diri, ia menjadi sakti. Ia pun memantapkan diri menjadi penerus gurunya, Si Nenek Lawu alias nenek sakti yang menyelamatkannya. Nama perguruannya adalah Anggrek Jingga. Murid pertamanya adalah seorang gadis kurus berdada besar.

Sebenarnya ia ingin mengganti nama perguruan itu menjadi “Lasmini's Martial Art Academy” andai saja tak terikat hutang budi dengan gurunya. Tentu ia bisa membuka banyak jenis kelas dengan tarif mahal. Kelas yang mungkin bisa ia tawarkan:
  • Anti gang rape self defense course
  • Anti gravity tricking course
  • Energy blasting skill course
  • Flying with manualy removed wire course
  • Silat combat course for hot sexy woman
  • Dll.
Lasmini pun hendak mempublikasikan perguruannya di sebuah event. Kebetulan saat itu ada event semacam Vale Tudo di Gunung Saba. Kompetisi ini benar-benar no rules. Pakai teknik apa saja boleh: tinju, tendang, grappling (agak repot karena pertarungan berlangsung dia atas palang kayu dengan tombak ditanam di lantai). Paki senjata apapun boleh; senjata tajam, senjata tumpul, senjata biologis, senjata matematika...

Lasmini menantang seorang master silat bernama Panembahan Pasopati. Ajian Waringin Sungsang milik Panembahan Pasopati berhasil dikalahkan oleh Lasmini. Bahkan Panembahan Pasopati dibakar habis sampai matanya meleleh. Gory...
Murid-murid Panembahan Pasopati juga dihabisinya. Dipanggang massal.

Saat itu datanglah Mantili yang juga mau ikut kompetisi. Melihat Lasmini yang jumawa, ia pun bertarung dengannya. Lasmini ternyata sudah sedemikian sakti sehingga Mantili harus memakai kedua lightsaber-nya. Mantili bertarung dengan emosional, akibatnya ia malah kalah dan nyaris tewas oleh Lasmini. Untung saja Raden Bentar menghentikan Lasmini. Melihat tante-nya luka bakar, Bentar jadi benci pada Lasmini.

Is Mantili a Jedi Knight?
Lasmini galau lagi. Ia minggat dari Jawa. Sementara itu Mantili sewot dan malu karena kalah dari Lasmini. Brama pun menghiburnya. Brama lalu mengajari Mantili beberapa teknik gymnastic dan Parkour. Kata Brama, ilmu Lasmini tak usah dilawan. Mending dihindari terus agar Lasmini kecapaian mengeluarkan energi. Saat lemah itulah Lasmini bisa diperkosa eh salah maksud saya dihajar.

Kredit gambar: dwiwongtera.blogspot.com
Sekarang Lasmini bukan pesilat sembarangan. Maklum saja, ilmu yang dikuasai Lasmini setara dengan Ajian Serat Jiwa, Waringin Sungsang dan Lampah-Lumpuh digabung jadi satu. Betul-betul sebuah MMA (Mixed Martial Ajian).

Mantili yang merasa cukup skill minta restu Brama untuk menantang ulang Lasmini. Brama memperingatkan agar jangan sampai membunuh. Sementara itu Kijara dan Lugina, 2 murid terbaik dari Pasopati's Academy of Martial Art ingin balas dendam atas kematian gurunya.

Ilmu Lasmini yang tinggi bukan tandingan kedua orang itu. Sehingga hanya Mantili yang bisa menghadapinya. Film pun ditutup dengan duel seru dua jagoan seksi ini. Kapan lagi bisa lihat 2 tante seksi bacok-bacokan sambil terbang naik pelepah kelapa....

Dalam sekuel ke-3 Saur sepuh ini saya terpesona pada karakter kompleks Lasmini. Sebenarnya ia orang seksi eh salah maksud saya orang baik. Hanya saja ia selalu terbentur pada judgement orang lain. Dari kecil hidupnya susah. Karena seksi ia sering dilecehkan secara seksual. Akibatnya ia menjadi jahat dan ketus pada laki-laki. Baginya seakan-akan semua lelaki adalah buaya. Jika semua laki-laki adalah buaya tentunya semua perempuan punya suami buaya. Nggak tahu ding...

Iiiih ayuneeee Mbak Pendekar Hot...
Murti Sari Dewi sebagai Lasmini mencapai puncak keseksiannya di film ini. She was really hot badass “kinyis-kinyis” woman! Lihat gerakan silatnya, mantab bertenaga dan padat. Langkahnya bagaikan kucing lari di atas genteng, lincah. Kuda-kudanya bagai prasasti batu, sangat kokoh. Pukulan dan tendangannya mantab menggampar muka. Perlu stuntman paling cuma pas adegan salto. Belum ada lagi aktris laga seperti ini di Indonesia selama puluhan tahun (really?).

Sub judul Kembang Gunung Lawu memang terwakili dalam diri Tante (yup sekarang emang udah jadi tante ihik ihik) Murti Sari Dewi. This is story about a badass woman, kicking bastard's ass with awsome electric blasts!


31 Desember 2012 pukul 21:56
Kisah bermula dari Lasmini yang menjadi korban “gang rape” oleh para begundal sewaan suaminya sendiri, Basra. Ini akibat Lasmini yang “mbalelo” kepada Basra dengan pindah sendirian ke kota besar tanpa ijinnya. Setelah para begundal puas mem”begitu”kan Lasmini, ia dibuang ke jurang. Untunglah bahwa cerita silat selalu klise. Seorang Nenek Sakti menyelamatkannya. Maka Lasmini pun menjadi murid dari akademi silat sang Nenek Sakti. Di situ Lasmini belajar silat dan kadigdayan selama beberapa SKS. Bertepatan dengan rampungnya studi silat Lasmini, Sang Nenek Sakti meninggal (dengan cara yang terlalu mudah untuk orang sakti). Sebelum meninggal, Nenek Sakti sempat memberi Lasmini sebuah pedang bernama “Pedang Ular”. Nama yang unik. Memang biasanya sebuah pusaka diberi nama binatang tertentu, bukan sembarang binatang. Kita mungkin pernah dengar ada nama pedang naga, pedang kupu-kupu dan pedang rajawali. Namun kita belum pernah mendengar ada nama pedang kelinci, pedang kepik dan pedang cumi-cumi.

Saur Sepuh 3: Kembang Gunung Lawu
Kredit Gambar: andromedajunior.wordpress.com
Lasmini pun kemudian mengembara berbekal Pedang Ular dan hot pants gaya Majapahit. Untunglah ia tidak hamil akibat gang rape yang dulu. Mungkin para pelakunya pakai ajian kontrasepsi. Yang ia lakukan sebelum memulai hidup baru adalah membalas dendam pada para raper-nya (eh rapist maksudnya) termasuk Basra, mantan suami sekaligus biang keroknya. Mereka dibacok, dimutilasi dan dicolok matanya. Gory...


Hot pants Majapahit not available online

Yang makai hot pants kehausan karena cuaca sedang hot dan bikin dia tambah hot.
Cewek cakep mana minum sambil "ngglogok" langsung dari gayung?

Hot pants yang oke buat silat

Suatu ketika Lasmini menyelamatkan Paksi Jaladara bin Gotawa (putra Mantili ama Patih Gotawa) yang sedang kebut-kebutan bersama Raden Bentar bin Brama Kumbara. Jadi hobi kebut-kebutan nggak cuma monopoli geng motor lho ya. Cuma kalau jaman dulu namanya ya...geng kuda.

Melihat Lasmini, rupanya Raden Brondong eh Raden Bentar jadi jatuh cinta. Rupanya seleranya Raden emang tante-tante. Selepas kejadian itu Raden Bentar menjalin hubungan asmara dengan Lasmini (yang ternyata gemar brondong juga). Sesaat film Saur Sepuh berubah jadi musikal karena ada adegan nyanyi berdua. Lagunya tentang burung....saya lupa syairnya. Mungkin gini...

Oh burung satria
Hinggaplah di pangkuanku...…...........

Eh gitu bukan ya? Dengerin sendiri deh!

Hubungan tante-brondong ini jelas membuat gusar keluarga elit Madangkara terutama Mantili. Ia nggak rela ponakannya diracuni oleh janda gatal macam Lasmini. Ia pun melabrak Lasmini, mengancamnya bakal kena pasal hubungan seks dengan anak di bawah umur. Raden Bentar dan Lasmini harus “end!”.

Di rumah Raden Bentar sedih dan galau. Nggak bergairah hidup. Tiap hari hanya melamun dan main suling. Sulingnya ajaib sekali karena bunyinya mirip electone.

Sedangkan Lasmini tak kalah galaunya. Mengingat peristiwa pelabrakan itu, ia jadi marah dan dendam. Dari dulu ia selalu dihina dan dilecehkan. Ia bersumpah bahwa kelak setiap laki-laki akan bertekuk lutut di hadapannya. Saat melampiaskan marah sambil memukul tiang, tanpa sengaja ia menemukan sebuah “Illustrated Martial Art Manual” karangan gurunya.

Semoga segera diterbitkan Gramedia atau kalo tidak ada pdf-nya

Abis baca kitab langsung latian. Sungguh rajin

"Oh Sang Hyang Widi...berilah hamba jodoh seorang filmmaker yang bisa nge-blog..."

Duo Srigala?
Lasmini pun mempelajari kitab itu. Setelah melatih diri, ia menjadi sakti. Ia pun memantapkan diri menjadi penerus gurunya, Si Nenek Lawu alias nenek sakti yang menyelamatkannya. Nama perguruannya adalah Anggrek Jingga. Murid pertamanya adalah seorang gadis kurus berdada besar.

Sebenarnya ia ingin mengganti nama perguruan itu menjadi “Lasmini's Martial Art Academy” andai saja tak terikat hutang budi dengan gurunya. Tentu ia bisa membuka banyak jenis kelas dengan tarif mahal. Kelas yang mungkin bisa ia tawarkan:
  • Anti gang rape self defense course
  • Anti gravity tricking course
  • Energy blasting skill course
  • Flying with manualy removed wire course
  • Silat combat course for hot sexy woman
  • Dll.
Lasmini pun hendak mempublikasikan perguruannya di sebuah event. Kebetulan saat itu ada event semacam Vale Tudo di Gunung Saba. Kompetisi ini benar-benar no rules. Pakai teknik apa saja boleh: tinju, tendang, grappling (agak repot karena pertarungan berlangsung dia atas palang kayu dengan tombak ditanam di lantai). Paki senjata apapun boleh; senjata tajam, senjata tumpul, senjata biologis, senjata matematika...

Lasmini menantang seorang master silat bernama Panembahan Pasopati. Ajian Waringin Sungsang milik Panembahan Pasopati berhasil dikalahkan oleh Lasmini. Bahkan Panembahan Pasopati dibakar habis sampai matanya meleleh. Gory...
Murid-murid Panembahan Pasopati juga dihabisinya. Dipanggang massal.

Saat itu datanglah Mantili yang juga mau ikut kompetisi. Melihat Lasmini yang jumawa, ia pun bertarung dengannya. Lasmini ternyata sudah sedemikian sakti sehingga Mantili harus memakai kedua lightsaber-nya. Mantili bertarung dengan emosional, akibatnya ia malah kalah dan nyaris tewas oleh Lasmini. Untung saja Raden Bentar menghentikan Lasmini. Melihat tante-nya luka bakar, Bentar jadi benci pada Lasmini.

Is Mantili a Jedi Knight?
Lasmini galau lagi. Ia minggat dari Jawa. Sementara itu Mantili sewot dan malu karena kalah dari Lasmini. Brama pun menghiburnya. Brama lalu mengajari Mantili beberapa teknik gymnastic dan Parkour. Kata Brama, ilmu Lasmini tak usah dilawan. Mending dihindari terus agar Lasmini kecapaian mengeluarkan energi. Saat lemah itulah Lasmini bisa diperkosa eh salah maksud saya dihajar.

Kredit gambar: dwiwongtera.blogspot.com
Sekarang Lasmini bukan pesilat sembarangan. Maklum saja, ilmu yang dikuasai Lasmini setara dengan Ajian Serat Jiwa, Waringin Sungsang dan Lampah-Lumpuh digabung jadi satu. Betul-betul sebuah MMA (Mixed Martial Ajian).

Mantili yang merasa cukup skill minta restu Brama untuk menantang ulang Lasmini. Brama memperingatkan agar jangan sampai membunuh. Sementara itu Kijara dan Lugina, 2 murid terbaik dari Pasopati's Academy of Martial Art ingin balas dendam atas kematian gurunya.

Ilmu Lasmini yang tinggi bukan tandingan kedua orang itu. Sehingga hanya Mantili yang bisa menghadapinya. Film pun ditutup dengan duel seru dua jagoan seksi ini. Kapan lagi bisa lihat 2 tante seksi bacok-bacokan sambil terbang naik pelepah kelapa....

Dalam sekuel ke-3 Saur sepuh ini saya terpesona pada karakter kompleks Lasmini. Sebenarnya ia orang seksi eh salah maksud saya orang baik. Hanya saja ia selalu terbentur pada judgement orang lain. Dari kecil hidupnya susah. Karena seksi ia sering dilecehkan secara seksual. Akibatnya ia menjadi jahat dan ketus pada laki-laki. Baginya seakan-akan semua lelaki adalah buaya. Jika semua laki-laki adalah buaya tentunya semua perempuan punya suami buaya. Nggak tahu ding...

Iiiih ayuneeee Mbak Pendekar Hot...
Murti Sari Dewi sebagai Lasmini mencapai puncak keseksiannya di film ini. She was really hot badass “kinyis-kinyis” woman! Lihat gerakan silatnya, mantab bertenaga dan padat. Langkahnya bagaikan kucing lari di atas genteng, lincah. Kuda-kudanya bagai prasasti batu, sangat kokoh. Pukulan dan tendangannya mantab menggampar muka. Perlu stuntman paling cuma pas adegan salto. Belum ada lagi aktris laga seperti ini di Indonesia selama puluhan tahun (really?).

Sub judul Kembang Gunung Lawu memang terwakili dalam diri Tante (yup sekarang emang udah jadi tante ihik ihik) Murti Sari Dewi. This is story about a badass woman, kicking bastard's ass with awsome electric blasts!


31 Desember 2012 pukul 21:56
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA