GODZILLA 2014 Gugun's review

Bikin film itu selalu tak bisa membahagiakan semua orang. Beberapa mungkin ingin nonton monster ngamuk yang dihajar habis oleh tentara, sementara yang lain ingin nonton film monster yang nggak cuma jual efek digital.

Godzilla yang ini adalah favorit terbaru saya. Dimulai dengan adegan yang atmosfirnya mirip film Jurassic Park (favorit abadi saya). Ada gunung, ada helikopter perusahaan dan ada ilmuwan. Jadi ingat adegan Alan Grant Cs dibawa helikopter Ingen ke Isla Sorna. 

Berikutnya serangkaian kejadian lintas generasi mengungkapkan kemunculan makhluk ini. Antara lain terjadinya bencana-bencana tidak wajar, adanya sinyal-sinyal elektromagnetis berpola tertentu dan adanya hal-hal yang disembunyikan otoritas sejak lama. 

Alur bertutur Godzilla menitikberatkan pada drama. Godzilla sang superstarnya sendiri baru muncul (dalam wujud utuh gak cuman zirah) nyaris satu jam setelah film mulai. Jadi nggak sabar....

Dari awal ketegangan justru dibangun dengan teror kemunculan MUTO (mirip nama chef yang jago akrobat alat dapur). MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Object) adalah makhluk konsumen limbah radioaktif berwujud paduan walang sangit dengan atlit egrang. Nih MUTO kalau makan bom nggak dikupas lebih dulu. E'ek-nya pasti berupa bongkahan besi padat. 

Beberapa orang mungkin sudah "angop" alias ngantuk dengan banyaknya drama di film ini tapi entahlah....dari awal saya sudah jatuh cinta ama plot dan konsepnya. 

Alfa predator, demikian julukan lain dari Mas Godzilla ini. Ia adalah makhluk yang lahir untuk menyeimbangkan ekologi. Kemunculan MUTO pun tidak sekadar sebagai monster kurang kerjaan mengobrak-abrik bumi, melainkan juga sebagai wujud "karma ekologis". Nah, tema ekologi inilah yang terutama memikat hati saya.

Walhasil ketika dua makhluk ultra bongsor, yakni Mas Godzilla dan MUTO bertemu, jadinya bukan sekadar monster berantem. Ada pesan berharga yang disampaikan, bahwa sebagai manusia, jika kita merusak keharmonisan semesta, maka akan ada energi yang dilepaskan untuk mengembalikannya. Besarnya energi itu akan sebanding dengan kerusakan yang dibuat tadi. MUTO adalah karma perbuatan manusia dengan sampah-sampah beratnya. Godzilla datang untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara....

Gelut! Merusak kota yang capek-capek dibangun manusia. Dan yang keren tuh...Godzilla yang ini mirip ama Godzilla jadul versi Jepang, punya jurus "abab nuklir". Tahu abab? Tanya teman anda yang orang Jawa.

Ini film yang secara substansi lebih baik daripada Pacific Rim maupun Godzilla versi 1998 (sama-sama jual Kaiju). Gareth Edwards mampu menanganinya dengan baik.

Disain sang bintang, "Si Kadal Cringih-cringih" yaitu Mas Godzilla, dibuat mirip ama yang versi Jepang. Gendut dan bermuka bijaksana seperti beruang-nya Masha. Ah...jadi inget muka saya sendiri....Lucu juga lihat Mas Godzilla kalo jalan kayak orang pakai kostum. Kalo Godzilla Amerika versi 1998 mirip dinosaurus sama Iguana.

Saya juga suka dengan music score-nya Alexander Desplat. Megah dan heroik. Choir sectionnya mengingatkan saya pada Danny Elfman yang juga komposer favorit saya. Yang paling berkesan adalah denting tuts piano register bawah saat Mas Godzilla muncul di antara gedung malam-malam. 

Film ini mungkin mengecewakan bagi yang cuma ingin lihat monster sangar yang gedenya "sak hoh-hah" ngamuk dan dibantai. Tapi mungkin bisa menghibur penggemar film monster ala Spielbergian dengan tema ekologis di dalamnya.

Bagi saya yang kurang dari GODZILLA 2014 ini adalah nihilnya sentuhan humor. Dari awal serius terus. Dan lagi-lagi....kenapa ya monsternya suka banget syuting malam-malam? Saya pingin banget lihat monster beraksi siang bolong. Cloverfield, Jurassic Park, G30SPKI dll monsternya beraksi malam-malam. Kapan yah ada film monster yang banyak beraksi siang hari?

Satu lagi....nggak nyesel saya beli merchandise figure-nya. Keren buat ditimang-timang sambil nonton filmnya hehehe...hmmm NECA ngeluarin MUTO juga nggak sih?




Bikin film itu selalu tak bisa membahagiakan semua orang. Beberapa mungkin ingin nonton monster ngamuk yang dihajar habis oleh tentara, sementara yang lain ingin nonton film monster yang nggak cuma jual efek digital.

Godzilla yang ini adalah favorit terbaru saya. Dimulai dengan adegan yang atmosfirnya mirip film Jurassic Park (favorit abadi saya). Ada gunung, ada helikopter perusahaan dan ada ilmuwan. Jadi ingat adegan Alan Grant Cs dibawa helikopter Ingen ke Isla Sorna. 

Berikutnya serangkaian kejadian lintas generasi mengungkapkan kemunculan makhluk ini. Antara lain terjadinya bencana-bencana tidak wajar, adanya sinyal-sinyal elektromagnetis berpola tertentu dan adanya hal-hal yang disembunyikan otoritas sejak lama. 

Alur bertutur Godzilla menitikberatkan pada drama. Godzilla sang superstarnya sendiri baru muncul (dalam wujud utuh gak cuman zirah) nyaris satu jam setelah film mulai. Jadi nggak sabar....

Dari awal ketegangan justru dibangun dengan teror kemunculan MUTO (mirip nama chef yang jago akrobat alat dapur). MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Object) adalah makhluk konsumen limbah radioaktif berwujud paduan walang sangit dengan atlit egrang. Nih MUTO kalau makan bom nggak dikupas lebih dulu. E'ek-nya pasti berupa bongkahan besi padat. 

Beberapa orang mungkin sudah "angop" alias ngantuk dengan banyaknya drama di film ini tapi entahlah....dari awal saya sudah jatuh cinta ama plot dan konsepnya. 

Alfa predator, demikian julukan lain dari Mas Godzilla ini. Ia adalah makhluk yang lahir untuk menyeimbangkan ekologi. Kemunculan MUTO pun tidak sekadar sebagai monster kurang kerjaan mengobrak-abrik bumi, melainkan juga sebagai wujud "karma ekologis". Nah, tema ekologi inilah yang terutama memikat hati saya.

Walhasil ketika dua makhluk ultra bongsor, yakni Mas Godzilla dan MUTO bertemu, jadinya bukan sekadar monster berantem. Ada pesan berharga yang disampaikan, bahwa sebagai manusia, jika kita merusak keharmonisan semesta, maka akan ada energi yang dilepaskan untuk mengembalikannya. Besarnya energi itu akan sebanding dengan kerusakan yang dibuat tadi. MUTO adalah karma perbuatan manusia dengan sampah-sampah beratnya. Godzilla datang untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara....

Gelut! Merusak kota yang capek-capek dibangun manusia. Dan yang keren tuh...Godzilla yang ini mirip ama Godzilla jadul versi Jepang, punya jurus "abab nuklir". Tahu abab? Tanya teman anda yang orang Jawa.

Ini film yang secara substansi lebih baik daripada Pacific Rim maupun Godzilla versi 1998 (sama-sama jual Kaiju). Gareth Edwards mampu menanganinya dengan baik.

Disain sang bintang, "Si Kadal Cringih-cringih" yaitu Mas Godzilla, dibuat mirip ama yang versi Jepang. Gendut dan bermuka bijaksana seperti beruang-nya Masha. Ah...jadi inget muka saya sendiri....Lucu juga lihat Mas Godzilla kalo jalan kayak orang pakai kostum. Kalo Godzilla Amerika versi 1998 mirip dinosaurus sama Iguana.

Saya juga suka dengan music score-nya Alexander Desplat. Megah dan heroik. Choir sectionnya mengingatkan saya pada Danny Elfman yang juga komposer favorit saya. Yang paling berkesan adalah denting tuts piano register bawah saat Mas Godzilla muncul di antara gedung malam-malam. 

Film ini mungkin mengecewakan bagi yang cuma ingin lihat monster sangar yang gedenya "sak hoh-hah" ngamuk dan dibantai. Tapi mungkin bisa menghibur penggemar film monster ala Spielbergian dengan tema ekologis di dalamnya.

Bagi saya yang kurang dari GODZILLA 2014 ini adalah nihilnya sentuhan humor. Dari awal serius terus. Dan lagi-lagi....kenapa ya monsternya suka banget syuting malam-malam? Saya pingin banget lihat monster beraksi siang bolong. Cloverfield, Jurassic Park, G30SPKI dll monsternya beraksi malam-malam. Kapan yah ada film monster yang banyak beraksi siang hari?

Satu lagi....nggak nyesel saya beli merchandise figure-nya. Keren buat ditimang-timang sambil nonton filmnya hehehe...hmmm NECA ngeluarin MUTO juga nggak sih?




Baca

CARA PALING CEPAT MENGEVALUASI KUALITAS FILM BIKINAN SENDIRI

Ini adalah kelanjutan dari penerapan artikel “CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM”. Jadi jangan baca kalau belum menerapkan artikel tersebut. Artikelnya disini nih


Setelah kamu mengalami rasanya bikin film, karyamu diapresiasi biasanya akan banyak masukan. Masukan bisa berarti juga celaan. Sekarang apa yang musti kamu lakukan untuk memperbaiki filmmu?
Perhatikan! Sekarang kamu boleh mulai serius untuk bikin film.
Ada 3 hal dasar yang menentukan kualitas film kamu:


Gambar
Gambar yang bagus adalah: Fokusnya pas, cahayanya cakep, sudut pengambilan gambarnya bagus, gerakan kameranya bagus. Tambahan lagi warnanya cantik.
Coba rasakan apakah dalam filmmu fokus lensanya pas pada obyek yang seharusnya?
Apakah cahayanya pas? Nggak kurang nggak lebih?
Apakah kamu menerapkan sudut pengambilan gambar yang mendukung cerita?
Apakah kameramu bergerak dengan mulus? Nggak asal goncang-goncang?
Apakah warna filmmu tidak mentah?

Suara
Suara film yang bagus adalah: Nggak bising saat ada dialog, sambungan suara antar potongan gambar terdengar mulus. Musik pengiring adegannya pas.
Coba dengarkan apakah suara filmmu terdengar mengganggu?
Apakah suara dialognya jelas terdengar?
Apakah musik pengiringnya sudah pas?

Sambungan antar gambar
Disebut montase atau editing. Pergantian gambar terasa pas, sesuai cerita. Nggak bertele-tele tapi juga tidak terlalu cepat. Saking pasnya, kita jadi hanyut dalam cerita dan lupa kalau film itu terdiri dari potongan-potongan gambar.
Coba tonton bareng orang lain. Apakah filmmu bikin bosan atau ngantuk? Apakah ada bagian yang kelamaan atau terlalu cepat?
--------
Coba kamu evaluasi film kamu berdasar 3 point tadi. Kalau kamu merasa tidak puas dan mau memperbaiki di produksi berikutnya, rencanakanlah filmmu baik-baik dengan mengingat 3 hal tadi: Gambar, suara dan sambungan antar gambar.
Ini adalah kelanjutan dari penerapan artikel “CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM”. Jadi jangan baca kalau belum menerapkan artikel tersebut. Artikelnya disini nih


Setelah kamu mengalami rasanya bikin film, karyamu diapresiasi biasanya akan banyak masukan. Masukan bisa berarti juga celaan. Sekarang apa yang musti kamu lakukan untuk memperbaiki filmmu?
Perhatikan! Sekarang kamu boleh mulai serius untuk bikin film.
Ada 3 hal dasar yang menentukan kualitas film kamu:


Gambar
Gambar yang bagus adalah: Fokusnya pas, cahayanya cakep, sudut pengambilan gambarnya bagus, gerakan kameranya bagus. Tambahan lagi warnanya cantik.
Coba rasakan apakah dalam filmmu fokus lensanya pas pada obyek yang seharusnya?
Apakah cahayanya pas? Nggak kurang nggak lebih?
Apakah kamu menerapkan sudut pengambilan gambar yang mendukung cerita?
Apakah kameramu bergerak dengan mulus? Nggak asal goncang-goncang?
Apakah warna filmmu tidak mentah?

Suara
Suara film yang bagus adalah: Nggak bising saat ada dialog, sambungan suara antar potongan gambar terdengar mulus. Musik pengiring adegannya pas.
Coba dengarkan apakah suara filmmu terdengar mengganggu?
Apakah suara dialognya jelas terdengar?
Apakah musik pengiringnya sudah pas?

Sambungan antar gambar
Disebut montase atau editing. Pergantian gambar terasa pas, sesuai cerita. Nggak bertele-tele tapi juga tidak terlalu cepat. Saking pasnya, kita jadi hanyut dalam cerita dan lupa kalau film itu terdiri dari potongan-potongan gambar.
Coba tonton bareng orang lain. Apakah filmmu bikin bosan atau ngantuk? Apakah ada bagian yang kelamaan atau terlalu cepat?
--------
Coba kamu evaluasi film kamu berdasar 3 point tadi. Kalau kamu merasa tidak puas dan mau memperbaiki di produksi berikutnya, rencanakanlah filmmu baik-baik dengan mengingat 3 hal tadi: Gambar, suara dan sambungan antar gambar.
Baca

CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM

Ini bukan tentang membuat film yang standar atau yang paling tepat. Ini adalah cara paling mudah untuk yang samasekali belum pernah bikin film. Gampangnya…ini adalah bagaimana cara kita mulai bikin film.


Pertama-tama yang dilakukan adalah:

Tonton film favoritmu
Kalau mau bikin film harus sudah pernah nonton film. Bisa di bioskop (paling dianjurkan!), di TV atau di internet. Dari situ kamu akan dapat ide, referensi dan gambaran film yang baik itu kayak gimana.

Tulis naskah
Tulislah cerita pendek. Cerita yang kamu ingin buat film. Kalau nggak ada cerita, maka kamu nggak akan bisa bikin film.
Tulislah cerita kamu dengan detail: setiap dandanan tokohnya,deskripsi lokasi dan kejadian, seolah kita benar-benar melihatnya di layar. Gunakan imajinasi.
Setelah kamu rasa ceritamu bagus dan kamu bisa bayangin filmnya jadi, saatnya tulis naskah.
Kalau kamu nggak pernah baca naskah untuk film, cara paling gampang adalah mencontek naskah yang asli. Kamu bisa cari di internet.
Atau kalau kamu malas, tulislah kembali cerita pendek kamu tadi dalam beberapa bagian yang disebut adegan atau “scene”. Paling gampangnya, tiap scene berarti satu kejadian di satu lokasi.

Kumpulkan peralatan
Alat bikin film paling dasar hanyalah kamera dan alat editing. Kamu bisa pinjam, beli, nyolong (haram!).
Kamera kamu bisa pakai jenis dan merk apapun pokoknya bisa rekam video lebih dari 1 menit.
Alat editing adalah komputer atau laptop.
Pelajari cara memakai kamera. Kamu harus tahu cara menyalakan dan mematikan. Kamu harus tahu tombol mana yang untuk merekam video. Kamu harus tahu tombol mana untuk mulai dan stop merekam. Kamu harus tahu caranya memindahkan file video dari kamera ke komputer.
Selain kamera kamu mungkin butuh lampu dan lain-lain.

Rencanakan syuting
Cari lokasi yang sesuai dengan film kamu. Lokasi harus aman, nggak ada penjahatnya, nggak ada binatang buasnya. Kecuali kamu mau syuting terus mati. Biasanya lokasi yang dekat rumah cukup enak buat syuting.
Kumpulkan aktor yang mau kamu ajak bikin film. Kalau nggak ada duit buat bayar mereka, bilang terus terang. Jangan nipu. Kasih mereka naskahnya dan jelaskan apa saja yang harus mereka lakukan sesuai adegan.
Rencanakan adegan mana yang nanti akan diambil duluan dan belakangan. Kamu pertimbangkan berdasarkan perasaan kamu, mana yang paling mudah atau mana yang paling susah. Buat janji kapan syuting mau dilakukan.

Syuting
Kumpul di tempat yang sudah direncanakan. Mulailah syuting.
Syuting biasanya diawali dengan aba-aba “camera rolling”. Artinya kamera mulai menyala dan aktor bersiap-siap. Lalu “Action”.
Saat “action” diteriakkan, aktor sudah mulai akting. Aturannya sederhana, pokoknya aktor jangan sampai lihat ke lensa kamera. Kalau aktornya sudah selesai, kita akan teriak “cut!”. Saat itu aktor stop akting dan kamera berhenti merekam. “Cut” juga bisa diteriakkan kalau aktornya salah akting.
Karena durasi baterai kamera terbatas, lakukan syuting dengan cermat. Secara umum satu adegan di satu lokasi sebaiknya dirampungkan hari itu juga. Ini buat jaga-jaga kalau besok aktornya kapok syuting bareng kamu.
Kalau syutingnya udah rampung, kamu bisa teriak “bungkus!”

Edit
Kalau seluruh agenda syuting sudah rampung, masukkan file videonya ke komputer.
Untuk mengedit ada banyak software, dari yang paling gampang sama yang paling rumit.
Pelajari cara memotong, menggabungkan video dan musik, video dengan audio (suara), cara memberi tulisan dan lain-lain.
Kalau nggak mau repot, cari teman yang bisa ngedit, lalu perintahkan dia menyusun video berdasarkan naskah yang kamu buat. Hasil akhir film kamu nanti akan menjadi satu file video.

Pamerkan
Kalau filmmu sudah jadi, pamerkan ke filmmaker keren yang tidak suka menghina pemula (seperti yang nulis artikel ini). Nanti kamu akan dapat masukan untuk membuat film yang lebih baik lagi. Atau bisa jadi dia akan meminjamimu alat-alat yang lebih layak.

Sudah sana bikin film gih!
Ini bukan tentang membuat film yang standar atau yang paling tepat. Ini adalah cara paling mudah untuk yang samasekali belum pernah bikin film. Gampangnya…ini adalah bagaimana cara kita mulai bikin film.


Pertama-tama yang dilakukan adalah:

Tonton film favoritmu
Kalau mau bikin film harus sudah pernah nonton film. Bisa di bioskop (paling dianjurkan!), di TV atau di internet. Dari situ kamu akan dapat ide, referensi dan gambaran film yang baik itu kayak gimana.

Tulis naskah
Tulislah cerita pendek. Cerita yang kamu ingin buat film. Kalau nggak ada cerita, maka kamu nggak akan bisa bikin film.
Tulislah cerita kamu dengan detail: setiap dandanan tokohnya,deskripsi lokasi dan kejadian, seolah kita benar-benar melihatnya di layar. Gunakan imajinasi.
Setelah kamu rasa ceritamu bagus dan kamu bisa bayangin filmnya jadi, saatnya tulis naskah.
Kalau kamu nggak pernah baca naskah untuk film, cara paling gampang adalah mencontek naskah yang asli. Kamu bisa cari di internet.
Atau kalau kamu malas, tulislah kembali cerita pendek kamu tadi dalam beberapa bagian yang disebut adegan atau “scene”. Paling gampangnya, tiap scene berarti satu kejadian di satu lokasi.

Kumpulkan peralatan
Alat bikin film paling dasar hanyalah kamera dan alat editing. Kamu bisa pinjam, beli, nyolong (haram!).
Kamera kamu bisa pakai jenis dan merk apapun pokoknya bisa rekam video lebih dari 1 menit.
Alat editing adalah komputer atau laptop.
Pelajari cara memakai kamera. Kamu harus tahu cara menyalakan dan mematikan. Kamu harus tahu tombol mana yang untuk merekam video. Kamu harus tahu tombol mana untuk mulai dan stop merekam. Kamu harus tahu caranya memindahkan file video dari kamera ke komputer.
Selain kamera kamu mungkin butuh lampu dan lain-lain.

Rencanakan syuting
Cari lokasi yang sesuai dengan film kamu. Lokasi harus aman, nggak ada penjahatnya, nggak ada binatang buasnya. Kecuali kamu mau syuting terus mati. Biasanya lokasi yang dekat rumah cukup enak buat syuting.
Kumpulkan aktor yang mau kamu ajak bikin film. Kalau nggak ada duit buat bayar mereka, bilang terus terang. Jangan nipu. Kasih mereka naskahnya dan jelaskan apa saja yang harus mereka lakukan sesuai adegan.
Rencanakan adegan mana yang nanti akan diambil duluan dan belakangan. Kamu pertimbangkan berdasarkan perasaan kamu, mana yang paling mudah atau mana yang paling susah. Buat janji kapan syuting mau dilakukan.

Syuting
Kumpul di tempat yang sudah direncanakan. Mulailah syuting.
Syuting biasanya diawali dengan aba-aba “camera rolling”. Artinya kamera mulai menyala dan aktor bersiap-siap. Lalu “Action”.
Saat “action” diteriakkan, aktor sudah mulai akting. Aturannya sederhana, pokoknya aktor jangan sampai lihat ke lensa kamera. Kalau aktornya sudah selesai, kita akan teriak “cut!”. Saat itu aktor stop akting dan kamera berhenti merekam. “Cut” juga bisa diteriakkan kalau aktornya salah akting.
Karena durasi baterai kamera terbatas, lakukan syuting dengan cermat. Secara umum satu adegan di satu lokasi sebaiknya dirampungkan hari itu juga. Ini buat jaga-jaga kalau besok aktornya kapok syuting bareng kamu.
Kalau syutingnya udah rampung, kamu bisa teriak “bungkus!”

Edit
Kalau seluruh agenda syuting sudah rampung, masukkan file videonya ke komputer.
Untuk mengedit ada banyak software, dari yang paling gampang sama yang paling rumit.
Pelajari cara memotong, menggabungkan video dan musik, video dengan audio (suara), cara memberi tulisan dan lain-lain.
Kalau nggak mau repot, cari teman yang bisa ngedit, lalu perintahkan dia menyusun video berdasarkan naskah yang kamu buat. Hasil akhir film kamu nanti akan menjadi satu file video.

Pamerkan
Kalau filmmu sudah jadi, pamerkan ke filmmaker keren yang tidak suka menghina pemula (seperti yang nulis artikel ini). Nanti kamu akan dapat masukan untuk membuat film yang lebih baik lagi. Atau bisa jadi dia akan meminjamimu alat-alat yang lebih layak.

Sudah sana bikin film gih!
Baca

Teknik Membuat Film (nyaris) Tanpa Duit


Independent atau indie

Sebelum saya uraikan teknik saya dalam membuat film (nyaris) tanpa duit (biaya), mari kita pahami dulu makna independen (yang populer dengan sebutan indie) beserta latar belakangnya.

Arti indie di sini bisa bermacam-macam, tergantung dari mana kita mulai membahasnya. Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah pedesaan di wilayah California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi sistem yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood melahirkan 5 studio besar yang mendominasi produksi film Amerika: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros.

Jadi, jika kita tilik dari sejarah, apa yang disebut sinema independen adalah gerakan awal pra-Hollywood. Namun ini belum selesai. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Lalu sekelompok pembuat film pun membuat semacam film alternatif, dengan budget rendah, aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Inilah awal gerakan independen yang mempengaruhi gerakan indie saat ini.

Gerakan independen atau indie mencapai ledakannya pada tahun 90-an saat teknologi kamera digital diperkenalkan. Ledakan ini juga bersamaan dengan gerakan indie di bidang seni yang lain yaitu musik. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai mini DV. Tahun 2000-an mini DV tergeser dengan kamera digital yang berbasis harddisk atau kartu memori.

Mendefinisikan indie memang agak rancu. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan.

Secara umum indie adalah:

l  Tidak menggunakan sistem studio dalam pembuatannya dan tidak memakai label distributor besar dalam pemasarannya.
l  Dibuat dengan biaya yang diusahakan sendiri, bukan oleh investor atau studio dalam industri besar
l  Pemutarannya tidak di bioskop besar yang masuk jaringan industri

Indie juga mengacu pada semangat mandiri tak tergantung pada pemodal dan distributor besar.


Zero, micro dan low budget

Mari kita luruskan pemahaman soal budget atau pembiayaan. Dalam pemaknaan yang ketat, adalah tidak mungkin kita mewujudkan karya benar-benar “tanpa biaya”. Sekecil apapun, setiap hal memiliki nilai atau biaya. Definisi ini mungkin agak mengecewakan anda tapi itulah kenyataannya. Dalam film indie yang tanpa biaya kita tidak menghitung upah aktor, kru, biaya transport, biaya latihan, biaya sewa dll. Karena semuanya berstatus pinjam atau pakai gratis.

Software komputer yang kita pakaipun ada harganya. Karena software itu tidak dibeli khusus untuk film tertentu maka ini pun tidak kita hitung. Jika kita daftar secara sungguh-sungguh, biaya bikin film akan menjadi sangat mahal. Bayangkan, anda harus menghitung ongkos bensin tiap kru, tarif aktor, biaya sewa alat, biaya pemakaian lokasi, biaya keamanan, biaya logistik dll. Semua itu kita tidak hitung karena statusnya adalah: Pinjaman gratis!

Istilah zero budget sebenarnya adalah teknik dimana kita bisa mendapatkan pinjaman gratis untuk semua hal yang kita perlukan untuk bikin film.

Micro adalah istilah untuk pembiayaan yang sangat minim. Minim di sini relatif. 1 juta rupiah pun bisa dibilang minim jika dibandingkan dengan biaya produksi ala industri. Teman saya bahkan mengeluarkan sekitar 7 juta rupiah untuk sebuah film pendek. 7 juta tentu jumlah yang sangat kecil dibanding dengan film industri yang bisa menghabiskan berjuta-juta atau milyar. Dengan demikian film teman saya bisa disebut film low budget.

Sementara itu film SAKTI hanya mengeluarkan uang untuk beli nasi kotak, beberapa botol pewarna makanan, sebuah lampu dan barang-barang remeh lainnya yang totalnya tak sampai 500 ribu. Air minum kami beli sendiri pakai uang pribadi meskipun nanti minumnya dibagi-bagi. Dengan demikian, dibandingkan film teman saya maupun film industri, SAKTI bisa disebut sebagai film micro budget, nyaris tanpa biaya.

Jadi sebelum memulai apa yang saya namakan Bikin Film (nyaris) Tanpa Duit, anda harus memahami kenyataan tersebut. Ingat! Tak ada yang tak bernilai dalam produksi film. Tetapi tak selalu kita yang harus membayarnya.

Jika tak punya maka pinjamlah!
Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!

Itu rumus saya.



Teknik Bikin Film (nyaris) Tanpa Biaya

Kredo teknik saya yang pertama adalah, “Jika tak punya maka pinjamlah!”
Saya tak memiliki alat film yang standar. Jika ingin membuat film dengan gambar yang berkualitas lumayan maka saya harus memakai alat yang bagus. Sayang saya tak punya uang untuk menyewa alat yang bagus itu. Satu-satunya cara adalah pinjam. Dalam urusan pinjam ini anda harus punya jaringan, teman, komunitas atau pihak manapun yang bisa meminjami anda secara gratis.

Seperti saya singgung sebelumnya jaringan sangatlah penting untuk seorang pembuat film indie. Kamera utama yang kami pakai dalam film SAKTI adalah pinjaman dari Kang Joe, koordinator komunitas kami. Lokasi yang kami pakai juga sebagian merupakan pinjaman dari kenalan. Misalnya rumah mewah tempat syuting kami adalah milik Mbak Aneke Kristin. Saya pribadi kenal baik dengan beliau, pertama karena beliau adalah mantan murid gitar saya (kebetulan saya guru les gitar he he), kedua karena beliau adalah teman kegiatan senam kakak saya.

Tentu saja yang terpenting dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah menjaga kepercayaan sang pemilik. Jagalah milik mereka dengan baik hingga kegiatan usai.

Bukan cuma dapat pinjaman berupa barang. Tak jarang jaringan memberikan donasi berupa dana. Saat premiere film SAKTI, mendadak kami dapat sponsor dana dari mereka.

Keberadaan komunitas juga membantu mendapatkan tim yang banyak. Karena bikin film juga merupakan kegiatan komunitas maka tak ada biaya yang diperlukan untuk membayar kru. Di sini anda harus adil. Karena semua tak dibayar maka anda tak boleh seenaknya memperlakukan anggota tim (meskipun tak jarang justru anggota tim yang berlaku seenaknya pada anda). Sadarilah bahwa film adalah karya kolaboratif. Semua harus merasa memiliki.

Kredo teknik saya berikutnya adalah, “Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!”

Membuat film indie tak cukup dengan kreatif. Kita harus super kreatif. Lighting dalam film kita dibikin hanya dengan tutup dandang serta lampu bohlam 100 watt. Microphone boom kita cuma dengan HP diikat pada galah. Kipas angin kita pakai lembaran kardus.

Membuat film apalagi yang bergenre fantasi akan memerlukan banyak akal-akalan. Sebagai sutradara ada baiknya anda paham semua trik kamera maupun special effect. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah. Jika terjadi demikian maka saya terpaksa melakukan compositing pada saat paska produksi. Gambar dia yang diambil hari ini akan saya gabungkan dengan gambar yang diambil di lain hari. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun dalam tim kita akan bekerja dengan beberapa orang dimana tugas akan dibagi-bagi (didelegasikan), kemampuan multi aspek akan memberikan keuntungan lebih bagi seorang pembuat film indie. Adalah suatu keuntungan jika kita memiliki keterampilan di berbagai aspek pembuatan film mulai dari kamera, suara, musik, special effect dan bahkan animasi. Dengan kemampuan multi ini kita bisa mandiri dan memiliki keleluasaan kreatif dengan film kita. Kita tak terlalu bergantung pada kemampuan orang lain (yang belum tentu tersedia). Selain itu kita juga mampu memberi penyelesaian masalah jika kru mengalami hambatan teknis.

Semoga menginspirasi anda dan lekaslah bikin film! Anda akan belajar lebih banyak dengan membikin film anda sendiri.

Independent atau indie

Sebelum saya uraikan teknik saya dalam membuat film (nyaris) tanpa duit (biaya), mari kita pahami dulu makna independen (yang populer dengan sebutan indie) beserta latar belakangnya.

Arti indie di sini bisa bermacam-macam, tergantung dari mana kita mulai membahasnya. Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah pedesaan di wilayah California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi sistem yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood melahirkan 5 studio besar yang mendominasi produksi film Amerika: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros.

Jadi, jika kita tilik dari sejarah, apa yang disebut sinema independen adalah gerakan awal pra-Hollywood. Namun ini belum selesai. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Lalu sekelompok pembuat film pun membuat semacam film alternatif, dengan budget rendah, aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Inilah awal gerakan independen yang mempengaruhi gerakan indie saat ini.

Gerakan independen atau indie mencapai ledakannya pada tahun 90-an saat teknologi kamera digital diperkenalkan. Ledakan ini juga bersamaan dengan gerakan indie di bidang seni yang lain yaitu musik. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai mini DV. Tahun 2000-an mini DV tergeser dengan kamera digital yang berbasis harddisk atau kartu memori.

Mendefinisikan indie memang agak rancu. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan.

Secara umum indie adalah:

l  Tidak menggunakan sistem studio dalam pembuatannya dan tidak memakai label distributor besar dalam pemasarannya.
l  Dibuat dengan biaya yang diusahakan sendiri, bukan oleh investor atau studio dalam industri besar
l  Pemutarannya tidak di bioskop besar yang masuk jaringan industri

Indie juga mengacu pada semangat mandiri tak tergantung pada pemodal dan distributor besar.


Zero, micro dan low budget

Mari kita luruskan pemahaman soal budget atau pembiayaan. Dalam pemaknaan yang ketat, adalah tidak mungkin kita mewujudkan karya benar-benar “tanpa biaya”. Sekecil apapun, setiap hal memiliki nilai atau biaya. Definisi ini mungkin agak mengecewakan anda tapi itulah kenyataannya. Dalam film indie yang tanpa biaya kita tidak menghitung upah aktor, kru, biaya transport, biaya latihan, biaya sewa dll. Karena semuanya berstatus pinjam atau pakai gratis.

Software komputer yang kita pakaipun ada harganya. Karena software itu tidak dibeli khusus untuk film tertentu maka ini pun tidak kita hitung. Jika kita daftar secara sungguh-sungguh, biaya bikin film akan menjadi sangat mahal. Bayangkan, anda harus menghitung ongkos bensin tiap kru, tarif aktor, biaya sewa alat, biaya pemakaian lokasi, biaya keamanan, biaya logistik dll. Semua itu kita tidak hitung karena statusnya adalah: Pinjaman gratis!

Istilah zero budget sebenarnya adalah teknik dimana kita bisa mendapatkan pinjaman gratis untuk semua hal yang kita perlukan untuk bikin film.

Micro adalah istilah untuk pembiayaan yang sangat minim. Minim di sini relatif. 1 juta rupiah pun bisa dibilang minim jika dibandingkan dengan biaya produksi ala industri. Teman saya bahkan mengeluarkan sekitar 7 juta rupiah untuk sebuah film pendek. 7 juta tentu jumlah yang sangat kecil dibanding dengan film industri yang bisa menghabiskan berjuta-juta atau milyar. Dengan demikian film teman saya bisa disebut film low budget.

Sementara itu film SAKTI hanya mengeluarkan uang untuk beli nasi kotak, beberapa botol pewarna makanan, sebuah lampu dan barang-barang remeh lainnya yang totalnya tak sampai 500 ribu. Air minum kami beli sendiri pakai uang pribadi meskipun nanti minumnya dibagi-bagi. Dengan demikian, dibandingkan film teman saya maupun film industri, SAKTI bisa disebut sebagai film micro budget, nyaris tanpa biaya.

Jadi sebelum memulai apa yang saya namakan Bikin Film (nyaris) Tanpa Duit, anda harus memahami kenyataan tersebut. Ingat! Tak ada yang tak bernilai dalam produksi film. Tetapi tak selalu kita yang harus membayarnya.

Jika tak punya maka pinjamlah!
Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!

Itu rumus saya.



Teknik Bikin Film (nyaris) Tanpa Biaya

Kredo teknik saya yang pertama adalah, “Jika tak punya maka pinjamlah!”
Saya tak memiliki alat film yang standar. Jika ingin membuat film dengan gambar yang berkualitas lumayan maka saya harus memakai alat yang bagus. Sayang saya tak punya uang untuk menyewa alat yang bagus itu. Satu-satunya cara adalah pinjam. Dalam urusan pinjam ini anda harus punya jaringan, teman, komunitas atau pihak manapun yang bisa meminjami anda secara gratis.

Seperti saya singgung sebelumnya jaringan sangatlah penting untuk seorang pembuat film indie. Kamera utama yang kami pakai dalam film SAKTI adalah pinjaman dari Kang Joe, koordinator komunitas kami. Lokasi yang kami pakai juga sebagian merupakan pinjaman dari kenalan. Misalnya rumah mewah tempat syuting kami adalah milik Mbak Aneke Kristin. Saya pribadi kenal baik dengan beliau, pertama karena beliau adalah mantan murid gitar saya (kebetulan saya guru les gitar he he), kedua karena beliau adalah teman kegiatan senam kakak saya.

Tentu saja yang terpenting dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah menjaga kepercayaan sang pemilik. Jagalah milik mereka dengan baik hingga kegiatan usai.

Bukan cuma dapat pinjaman berupa barang. Tak jarang jaringan memberikan donasi berupa dana. Saat premiere film SAKTI, mendadak kami dapat sponsor dana dari mereka.

Keberadaan komunitas juga membantu mendapatkan tim yang banyak. Karena bikin film juga merupakan kegiatan komunitas maka tak ada biaya yang diperlukan untuk membayar kru. Di sini anda harus adil. Karena semua tak dibayar maka anda tak boleh seenaknya memperlakukan anggota tim (meskipun tak jarang justru anggota tim yang berlaku seenaknya pada anda). Sadarilah bahwa film adalah karya kolaboratif. Semua harus merasa memiliki.

Kredo teknik saya berikutnya adalah, “Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!”

Membuat film indie tak cukup dengan kreatif. Kita harus super kreatif. Lighting dalam film kita dibikin hanya dengan tutup dandang serta lampu bohlam 100 watt. Microphone boom kita cuma dengan HP diikat pada galah. Kipas angin kita pakai lembaran kardus.

Membuat film apalagi yang bergenre fantasi akan memerlukan banyak akal-akalan. Sebagai sutradara ada baiknya anda paham semua trik kamera maupun special effect. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah. Jika terjadi demikian maka saya terpaksa melakukan compositing pada saat paska produksi. Gambar dia yang diambil hari ini akan saya gabungkan dengan gambar yang diambil di lain hari. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun dalam tim kita akan bekerja dengan beberapa orang dimana tugas akan dibagi-bagi (didelegasikan), kemampuan multi aspek akan memberikan keuntungan lebih bagi seorang pembuat film indie. Adalah suatu keuntungan jika kita memiliki keterampilan di berbagai aspek pembuatan film mulai dari kamera, suara, musik, special effect dan bahkan animasi. Dengan kemampuan multi ini kita bisa mandiri dan memiliki keleluasaan kreatif dengan film kita. Kita tak terlalu bergantung pada kemampuan orang lain (yang belum tentu tersedia). Selain itu kita juga mampu memberi penyelesaian masalah jika kru mengalami hambatan teknis.

Semoga menginspirasi anda dan lekaslah bikin film! Anda akan belajar lebih banyak dengan membikin film anda sendiri.
Baca

The Raid 2 Berandal: Pace Menyeimbangkan Drama dan Laga

Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Baca

Akhirnya kebeli juga kamera itu...

Tulisan lama di Jogja, 7 November 2007 posted at 03:18 a.m.....

Sebenarnya saya tahu fotografi sudah sejak lama. Sedari kecil dari majalah-majalah kakak saya. Tapi itu cuma sembarang tahu. Tahunya orang awam. Saya betul-betul menyukai fotografi baru-baru ini. Sebenarnya minat saya lebih ke sinematografi. Tapi karena saya melarat...minat mahal itu belum juga keturutan. Lalu Bunda membelikan saya kamera digital. Yang biasa, pocket camera...bukan yang profesional. Ya lumayanlah daripada nggak ada alat untuk menyalurkan hobi. Lalu saya, tetap dengan keawaman saya, makin sering main potrat-potret. Apa-apa saya potret. Jadi kemaruk potret. Hasilnya saya edit warnanya. Kadang saya crop. Kadang saya biarin seperti aslinya. Jadilah sekarang saya seorang fotografer kelas plankton he he he...

2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
Saya memiliki basis seni rupa yaitu melukis, menggambar dan seni musik. Dari fotografi saya belajar banyak hal tentang komposisi, pencahayaan, moment, irama dan hal-hal abstrak yang kadang tak terduga muncul. Bahkan dalam foto pun ternyata ada musiknya! Saya menemukan bahwa foto yang mengesankan bagaikan sebuah komposisi musik. Saya nggak pernah belajar teori yang njlimet tentang fotografi. Belum sih...semua saya pelajari otodidak. Intinya saya cuma mengandalkan kepekaan visual dan sensasi musikal yang saya miliki. Dan tentu saja...pakai alat yang seadanya itu. Kamera digital saku....ora mbejaji tenan!

Mustinya kalau di lingkungan fotografer yang asli saya bakal jadi bahan tertawaan memakai alat ini he he he...kalau saya sampai naksir cewek yang suka fotografi, pasti saya langsung ditendang jauh. Tapi memang sungguh asyik bermain dengan keterbatasan. Sejak kecil kehidupan saya terbatas. Ya nggak sampai miskin banget. Tapi di antara teman-teman saya termasuk golongan proletariat gagap sarana. Dulu waktu SD pingin mobil Tamiya nggak keturutan. Jadinya saya bikin Tamiya bohongan pake seng bekas kaleng susu yang saya gunting pake gunting jahit. Gunting itu milik Bapak. Guntingnya jadi tumpul, Bapak jadi blingsatan. Terus saya lihat teman saya punya gamewatch dan video game. Mana bisa saya punya seperti itu? TV aja nggak punya. Lalu saya bikin dari kardus. Kegilaan ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Pernah sekali malam saya terbangun karena ngebet bikin animasi stop-motion. Untuk bikin itu perlu kamera digital. Karena tak ada maka saya pakai scanner. Teman-teman satu studio pada was-was.

2010: Shooting film Apyun
2010: Shooting film Apyun
Waktu kecil saya dekat dengan alam. Hampir semua mainan saya bikin sendiri. Begitu gedhe saya jadi terbiasa kreatif kalau kepepet. Kalau nggak punya, ciptakan sendiri! Itu prinsipnya. Kalau nggak bisa mencipta?...ya pinjam... Sayang agama sudah diwariskan. Kalau nggak, mungkin saya bakal bikin sendiri he he he...HUSH! Kok jadi ngelantur ngomongnya. Kembali ke fotografi.

Nah, keterbatasan tadi tak menghalangi keasyikan saya untuk terus jeprat-jepret. Belum punya kamera profesional, yang kelas kacang pun lumayanlah. Sambil berlatih untuk menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat untuk apa? Tentu saja saat saya bisa menerapkan seni fotografi ini ke dalam media yang sangat saya sukai yaitu...FILM! Sinematografi!

Betapa banyak orang yang terbatas di dunia ini hingga untuk mengerjakan hal-hal yang normal saja mereka tidak mampu. Saya jadi malu untuk tidak bersyukur.

Catatan: Tahun 2013 baru saya keturutan beli kamera DSLR pertama saya.
Tulisan lama di Jogja, 7 November 2007 posted at 03:18 a.m.....

Sebenarnya saya tahu fotografi sudah sejak lama. Sedari kecil dari majalah-majalah kakak saya. Tapi itu cuma sembarang tahu. Tahunya orang awam. Saya betul-betul menyukai fotografi baru-baru ini. Sebenarnya minat saya lebih ke sinematografi. Tapi karena saya melarat...minat mahal itu belum juga keturutan. Lalu Bunda membelikan saya kamera digital. Yang biasa, pocket camera...bukan yang profesional. Ya lumayanlah daripada nggak ada alat untuk menyalurkan hobi. Lalu saya, tetap dengan keawaman saya, makin sering main potrat-potret. Apa-apa saya potret. Jadi kemaruk potret. Hasilnya saya edit warnanya. Kadang saya crop. Kadang saya biarin seperti aslinya. Jadilah sekarang saya seorang fotografer kelas plankton he he he...

2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
Saya memiliki basis seni rupa yaitu melukis, menggambar dan seni musik. Dari fotografi saya belajar banyak hal tentang komposisi, pencahayaan, moment, irama dan hal-hal abstrak yang kadang tak terduga muncul. Bahkan dalam foto pun ternyata ada musiknya! Saya menemukan bahwa foto yang mengesankan bagaikan sebuah komposisi musik. Saya nggak pernah belajar teori yang njlimet tentang fotografi. Belum sih...semua saya pelajari otodidak. Intinya saya cuma mengandalkan kepekaan visual dan sensasi musikal yang saya miliki. Dan tentu saja...pakai alat yang seadanya itu. Kamera digital saku....ora mbejaji tenan!

Mustinya kalau di lingkungan fotografer yang asli saya bakal jadi bahan tertawaan memakai alat ini he he he...kalau saya sampai naksir cewek yang suka fotografi, pasti saya langsung ditendang jauh. Tapi memang sungguh asyik bermain dengan keterbatasan. Sejak kecil kehidupan saya terbatas. Ya nggak sampai miskin banget. Tapi di antara teman-teman saya termasuk golongan proletariat gagap sarana. Dulu waktu SD pingin mobil Tamiya nggak keturutan. Jadinya saya bikin Tamiya bohongan pake seng bekas kaleng susu yang saya gunting pake gunting jahit. Gunting itu milik Bapak. Guntingnya jadi tumpul, Bapak jadi blingsatan. Terus saya lihat teman saya punya gamewatch dan video game. Mana bisa saya punya seperti itu? TV aja nggak punya. Lalu saya bikin dari kardus. Kegilaan ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Pernah sekali malam saya terbangun karena ngebet bikin animasi stop-motion. Untuk bikin itu perlu kamera digital. Karena tak ada maka saya pakai scanner. Teman-teman satu studio pada was-was.

2010: Shooting film Apyun
2010: Shooting film Apyun
Waktu kecil saya dekat dengan alam. Hampir semua mainan saya bikin sendiri. Begitu gedhe saya jadi terbiasa kreatif kalau kepepet. Kalau nggak punya, ciptakan sendiri! Itu prinsipnya. Kalau nggak bisa mencipta?...ya pinjam... Sayang agama sudah diwariskan. Kalau nggak, mungkin saya bakal bikin sendiri he he he...HUSH! Kok jadi ngelantur ngomongnya. Kembali ke fotografi.

Nah, keterbatasan tadi tak menghalangi keasyikan saya untuk terus jeprat-jepret. Belum punya kamera profesional, yang kelas kacang pun lumayanlah. Sambil berlatih untuk menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat untuk apa? Tentu saja saat saya bisa menerapkan seni fotografi ini ke dalam media yang sangat saya sukai yaitu...FILM! Sinematografi!

Betapa banyak orang yang terbatas di dunia ini hingga untuk mengerjakan hal-hal yang normal saja mereka tidak mampu. Saya jadi malu untuk tidak bersyukur.

Catatan: Tahun 2013 baru saya keturutan beli kamera DSLR pertama saya.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA