Akhirnya kebeli juga kamera itu...

Tulisan lama di Jogja, 7 November 2007 posted at 03:18 a.m.....

Sebenarnya saya tahu fotografi sudah sejak lama. Sedari kecil dari majalah-majalah kakak saya. Tapi itu cuma sembarang tahu. Tahunya orang awam. Saya betul-betul menyukai fotografi baru-baru ini. Sebenarnya minat saya lebih ke sinematografi. Tapi karena saya melarat...minat mahal itu belum juga keturutan. Lalu Bunda membelikan saya kamera digital. Yang biasa, pocket camera...bukan yang profesional. Ya lumayanlah daripada nggak ada alat untuk menyalurkan hobi. Lalu saya, tetap dengan keawaman saya, makin sering main potrat-potret. Apa-apa saya potret. Jadi kemaruk potret. Hasilnya saya edit warnanya. Kadang saya crop. Kadang saya biarin seperti aslinya. Jadilah sekarang saya seorang fotografer kelas plankton he he he...

2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
Saya memiliki basis seni rupa yaitu melukis, menggambar dan seni musik. Dari fotografi saya belajar banyak hal tentang komposisi, pencahayaan, moment, irama dan hal-hal abstrak yang kadang tak terduga muncul. Bahkan dalam foto pun ternyata ada musiknya! Saya menemukan bahwa foto yang mengesankan bagaikan sebuah komposisi musik. Saya nggak pernah belajar teori yang njlimet tentang fotografi. Belum sih...semua saya pelajari otodidak. Intinya saya cuma mengandalkan kepekaan visual dan sensasi musikal yang saya miliki. Dan tentu saja...pakai alat yang seadanya itu. Kamera digital saku....ora mbejaji tenan!

Mustinya kalau di lingkungan fotografer yang asli saya bakal jadi bahan tertawaan memakai alat ini he he he...kalau saya sampai naksir cewek yang suka fotografi, pasti saya langsung ditendang jauh. Tapi memang sungguh asyik bermain dengan keterbatasan. Sejak kecil kehidupan saya terbatas. Ya nggak sampai miskin banget. Tapi di antara teman-teman saya termasuk golongan proletariat gagap sarana. Dulu waktu SD pingin mobil Tamiya nggak keturutan. Jadinya saya bikin Tamiya bohongan pake seng bekas kaleng susu yang saya gunting pake gunting jahit. Gunting itu milik Bapak. Guntingnya jadi tumpul, Bapak jadi blingsatan. Terus saya lihat teman saya punya gamewatch dan video game. Mana bisa saya punya seperti itu? TV aja nggak punya. Lalu saya bikin dari kardus. Kegilaan ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Pernah sekali malam saya terbangun karena ngebet bikin animasi stop-motion. Untuk bikin itu perlu kamera digital. Karena tak ada maka saya pakai scanner. Teman-teman satu studio pada was-was.

2010: Shooting film Apyun
2010: Shooting film Apyun
Waktu kecil saya dekat dengan alam. Hampir semua mainan saya bikin sendiri. Begitu gedhe saya jadi terbiasa kreatif kalau kepepet. Kalau nggak punya, ciptakan sendiri! Itu prinsipnya. Kalau nggak bisa mencipta?...ya pinjam... Sayang agama sudah diwariskan. Kalau nggak, mungkin saya bakal bikin sendiri he he he...HUSH! Kok jadi ngelantur ngomongnya. Kembali ke fotografi.

Nah, keterbatasan tadi tak menghalangi keasyikan saya untuk terus jeprat-jepret. Belum punya kamera profesional, yang kelas kacang pun lumayanlah. Sambil berlatih untuk menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat untuk apa? Tentu saja saat saya bisa menerapkan seni fotografi ini ke dalam media yang sangat saya sukai yaitu...FILM! Sinematografi!

Betapa banyak orang yang terbatas di dunia ini hingga untuk mengerjakan hal-hal yang normal saja mereka tidak mampu. Saya jadi malu untuk tidak bersyukur.

Catatan: Tahun 2013 baru saya keturutan beli kamera DSLR pertama saya.
Tulisan lama di Jogja, 7 November 2007 posted at 03:18 a.m.....

Sebenarnya saya tahu fotografi sudah sejak lama. Sedari kecil dari majalah-majalah kakak saya. Tapi itu cuma sembarang tahu. Tahunya orang awam. Saya betul-betul menyukai fotografi baru-baru ini. Sebenarnya minat saya lebih ke sinematografi. Tapi karena saya melarat...minat mahal itu belum juga keturutan. Lalu Bunda membelikan saya kamera digital. Yang biasa, pocket camera...bukan yang profesional. Ya lumayanlah daripada nggak ada alat untuk menyalurkan hobi. Lalu saya, tetap dengan keawaman saya, makin sering main potrat-potret. Apa-apa saya potret. Jadi kemaruk potret. Hasilnya saya edit warnanya. Kadang saya crop. Kadang saya biarin seperti aslinya. Jadilah sekarang saya seorang fotografer kelas plankton he he he...

2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
2013: Kamera Canon DSLR EOS 650D
Saya memiliki basis seni rupa yaitu melukis, menggambar dan seni musik. Dari fotografi saya belajar banyak hal tentang komposisi, pencahayaan, moment, irama dan hal-hal abstrak yang kadang tak terduga muncul. Bahkan dalam foto pun ternyata ada musiknya! Saya menemukan bahwa foto yang mengesankan bagaikan sebuah komposisi musik. Saya nggak pernah belajar teori yang njlimet tentang fotografi. Belum sih...semua saya pelajari otodidak. Intinya saya cuma mengandalkan kepekaan visual dan sensasi musikal yang saya miliki. Dan tentu saja...pakai alat yang seadanya itu. Kamera digital saku....ora mbejaji tenan!

Mustinya kalau di lingkungan fotografer yang asli saya bakal jadi bahan tertawaan memakai alat ini he he he...kalau saya sampai naksir cewek yang suka fotografi, pasti saya langsung ditendang jauh. Tapi memang sungguh asyik bermain dengan keterbatasan. Sejak kecil kehidupan saya terbatas. Ya nggak sampai miskin banget. Tapi di antara teman-teman saya termasuk golongan proletariat gagap sarana. Dulu waktu SD pingin mobil Tamiya nggak keturutan. Jadinya saya bikin Tamiya bohongan pake seng bekas kaleng susu yang saya gunting pake gunting jahit. Gunting itu milik Bapak. Guntingnya jadi tumpul, Bapak jadi blingsatan. Terus saya lihat teman saya punya gamewatch dan video game. Mana bisa saya punya seperti itu? TV aja nggak punya. Lalu saya bikin dari kardus. Kegilaan ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Pernah sekali malam saya terbangun karena ngebet bikin animasi stop-motion. Untuk bikin itu perlu kamera digital. Karena tak ada maka saya pakai scanner. Teman-teman satu studio pada was-was.

2010: Shooting film Apyun
2010: Shooting film Apyun
Waktu kecil saya dekat dengan alam. Hampir semua mainan saya bikin sendiri. Begitu gedhe saya jadi terbiasa kreatif kalau kepepet. Kalau nggak punya, ciptakan sendiri! Itu prinsipnya. Kalau nggak bisa mencipta?...ya pinjam... Sayang agama sudah diwariskan. Kalau nggak, mungkin saya bakal bikin sendiri he he he...HUSH! Kok jadi ngelantur ngomongnya. Kembali ke fotografi.

Nah, keterbatasan tadi tak menghalangi keasyikan saya untuk terus jeprat-jepret. Belum punya kamera profesional, yang kelas kacang pun lumayanlah. Sambil berlatih untuk menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat untuk apa? Tentu saja saat saya bisa menerapkan seni fotografi ini ke dalam media yang sangat saya sukai yaitu...FILM! Sinematografi!

Betapa banyak orang yang terbatas di dunia ini hingga untuk mengerjakan hal-hal yang normal saja mereka tidak mampu. Saya jadi malu untuk tidak bersyukur.

Catatan: Tahun 2013 baru saya keturutan beli kamera DSLR pertama saya.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA