The Raid 2 Berandal: Pace Menyeimbangkan Drama dan Laga

Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA