AKAL-AKALAN ALA WLINGIWOOD

Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Baca

FILMMAKER ATAU VIDEOMAKER?

Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Baca

ILUSI VISUAL DALAM FILM: Ngomongin SFX atau VFX.

Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Efek khusus dalam film itu secara umum dibagi dua, yakni:

-Special Effect (SFX) mengacu rekayasa yang dilakukan secara fisik dan optis (trik kamera).
-Visual Effect (VFX) yang mengacu pada rekayasa digital.

Nah, sayangnya saya nggak akan ngobrolin soal definisi, jenis, sejarah dll. Juga nggak akan mbahas teknologi semacam software, green screen dll. Lhah njut arep mbahas opo nek ngono, cak? :D

Saya mau mbahas ilusi sebagai alat bantu storytelling. Ini berdasarkan pengalaman pribadi aja…Pengalaman saya ini mungkin cocok untuk anda yang bikin film indie, micro budget, “run n gun” dll. Jangan salah ya…saya juga itungannya gaptek parah. Jadi yang saya beber adalah hal-hal substansial. Soal teknikal ntar kita belajar bareng. Kalo situ ada ilmu, bagi juga lah ke saya hehe.


Jadi bagaimana cara kita memperlakukan special effect? Saya akan memakai istilah yang lebih umum, “ilusi visual”.

Bagi saya ilusi visual adalah elemen yang penting dikuasai untuk membantu penceritaan (storytelling). Nggak hanya bagi yang demen film fantastik lho. Bahkan drama pun juga sering perlu sentuhan ilusi. Sebagai contoh gini…


Saya tinggal di desa (atau kota yang nanggung). Tempat syuting terbatas, kru cabutan dan dana mepet. Jika mau bikin film dengan setting yang luar biasa, saya harus mikir cara bikin ilusinya. Misalnya ketika saya mau bikin setting kota tua…nah padahal pemandangan kampung saya nggak ada yang mirip kota tua. Gimana caranya? Saya pun ambil dinding bangunan tua (itupun cuma sebagian) sebagai background, sisanya saya photoshop hehehe…

Lho kok nggak pakai 3D animation buat matte-nya, Cak? Kenapa nggak pake After Effects? Kenapa nggak pakai greenscreen bla bla bla…hmm bukan soal itunya ya...beda bahasan.


Saya meyakini bahwa ilusi visual film atau efek, sebagian besar adalah “problem solving”. Jadi bukan soal belajar software. What’s the problem?...keterbatasan sarana. How to solve?...dengan memahami karakter ilusi yang hendak kita bikin. Iya bener kita seringkali nggak bisa menghindari kebutuhan mengolah gambar secara digital, tapi menurut saya penciptaan efek khusus itu bukan melulu soal itu.

Efek khusus sekali lagi adalah soal bikin ilusi…alias ngapusi uwong hehehe. Caranya ya terserah kita pribadi. Bagaimana kita menyelesaikan problem bikin ilusi dengan alat dan bahan yang ada?
Setidaknya untuk menerapkan ilusi visual, saya memodali diri dengan hal-hal berikut ini:

-Pemahaman soal perspektif. Ini berguna kalau saya mau menciptakan matte digital untuk gambar saya.

-Kepekaan soal warna dan tekstur. Ini diperlukan ketika saya mensinkronkan dua gambar jadi satu dalam compositing digital. Gambar itu harus sinkron baik soal warna maupun kepyur-kepyurnya (noise).

-Pemahaman animasi. Ini saya perlukan ketika membuat elemen visual yang bergerak. Misalnya animasi burung terbang, kecoak mrambat dll.

-Pemahaman lensa dan teori optik bego-begoan. Ini diperlukan kalau saya mau bikin trik kamera.

-Pemahaman soal pencahayaan. Ini diperlukan secara umum.

-Mainin suspension of disbelief. Nha bagian ini paling PENTING nih..

Suspension of disbelief adalah keadaan dimana para penonton menjadi nggak terganggu oleh sebuah tipuan. Misalnya…dalam film Jurassic Park (1993) nggak semua special effectnya alus. T-Rex lari ngejar jeep masih keliatan ngambang kayak animasi video game. Adegan raptor “clever girl” nubruk keliatan kayak boneka. Tapi penonton terhibur sampai akhir. Jadi ada kondisi dimana penonton seakan lupa dan nggak kritis lagi kalo udah terhibur ama storytelling. You know what I mean?

Jurassic Park adalah panutan saya dalam memperlakukan ilusi visual. Harap diketahui bahwa efek digital di Jurassic Park itu bukan pilihan utama mereka. Sebelumnya Spielberg merasa yakin mau bikin efek dinosaurusnya pake teknik go-motion. Lha ndilalah dia diperlihatkan teknik animasi 3D CGI yang tergolong baru saat itu…akibatnya Spielberg memutuskan hijrah. Animator tradisionalnya dididik ulang untuk memakai software. See? Skillnya udah ada, selanjutnya tinggal alih peralatan. Secara keilmuan, tim SFX-nya udah punya visi. Teknologi hanyalah alat bantu. Namun nggak Cuma di situ aja..Spielberg masih mau repot-repot bikin boneka dinosaurus segeda aslinya. Jadi ilusi digital dia campur ama practical. What a visionary filmmaker…iyo po ra?

Maka kalau belum paham prinsip dasar “ngapusi” secara visual, maka saya rasa bakal sia-sia aja penggunaan software ini itu. It’s manungso behind the senjata! Toh sejak lahirnya sinema, para filmmaker sudah main “ngapusi” kok. Mereka ngapusi untuk mengakali banyak hal. Jaman dulu kameranya nggak seenteng DSLR loh. Pasti super duper repot nggotong tuh kamera kesana-kemari. Jadi para filmmaker pun mulai ngakali gimana bikin background setting palsu.

Special effects are all about….. an illusion, a suspension of disbelief and a vision.


Woke wis…lets nggarap film maning!
Baca

Hargailah Karya Koncomu Dhewe!

Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Baca

KETIKA KITA BOSAN KARENA PRODUKSI NGGAK KELAR-KELAR

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Baca

TENTANG GARDA WEBSERIES

GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


Baca

SOAL SHAKY CAM ALIAS GAMBAR GOYANG

Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Baca

PROPAGANDA HIPERNASIONALISME DALAM FILM KITA

Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Baca

FILM YANG MENCERAMAHI VS FILM YANG NGAJAK MERENUNG

Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Baca

FRIED RICE PRELUDE BAKAL CALON FILM TERBARU SAYA DI 2015

Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Baca

TIPS BIKIN FILM BAGUS DENGAN KAMERA MURAH

Bikin film bagus dengan kamera murah?

"Oalah mas..mas...murah kok njaluk apik?"

Sori mungkin saya sedang menggurui saat ini ehehe.

Tips-tips untuk membuat film dengan kamera murah biar kelihatan bagus:

-Kamera murah bagaimanapun tak akan menghasilkan gambar se-"mencengangkan" kamera mahal. Maka kita harus memperkuat bagian lain yang tidak berurusan dengan kualitas gambar, misalnya: angle, editing dan efek suara.
-Kualitas video kamera murah biasanya udah "ancur" dari sononya, jadi sekalian aja kita bikin film dengan konsep film lawas atau rusak. Caranya? Mainkan pencahayaan sebaik-baiknya, kasih color black and white dan gunakan suara yang terdengar seperti radio lawas. Suara "rusak" begitu bisa kita rekam pake handphone murahan.
-Referensi yang bisa dipelajari untuk menentukan "look" filmnya adalah film-film noir, found footage atau film black and white jaman dulu.
-Yang tak tergantikan adalah cerita yang bagus digarap dengan taste yang bagus. Biasanya dua hal ini jarang bisa menyatu. Kadang terjadi punya cerita bagus tapi taste sutradaranya buruk, Kalau cerita jelek tapi taste penyutradaraannya bagus sih masih agak terbantu di style-nya. Btw saya mengutamakan taste di atas yang lain. Kalau anda nggak terima kita bahas lain kali hahaha

BTW film yang bagus itu gimana? Monggo dibaca DI SINI.

Sedikit kilas balik

Begitu lama saya menunggu teknologi menjadi murah untuk bikin film. Lama sekali sehingga akhirnya saya pinjam kamera sana-sini supaya bisa merasakan bagaimana rasanya merekam video. Saya sering sedih dengan kenyataan banyak anak-anak kaya punya kamera mahal tapi tidak dipakai secara kreatif. Di situ saya mulai menjadi semacam pemberontak kelaziman.


Suatu ketika saya punya KODAK C743. Hadiah ibu dari jaman kuliah. Harap diketahui ini adalah kamera kasta sudra dengan resolusi video cuma 640 X 480. Saya tanya teman saya yang lebih dulu paham soal video. Mungkinkah saya memakai kamera tersebut untuk bikin film?

Dia bilang TIDAK!

Lalu saya pakai kamera itu selama 6 tahun untuk berlatih film sampai sensornya rusak.
Saya pun selalu meyakinkan teman-teman untuk berkarya segera. Optimalkan apa yang ada. Berikut ini adalah film pendek yang saya bikin dengan kamera tadi.
-Gambar diambil dengan KODAK C743
-Voice over direkam pakai Oppo Find Piano
-Gitar direkam pakai protholan headset 40 ribuan dengan PC Pentium 4 RAM 512, software pake Adobe Audition 2.0
-Editing sebelumnya pakai Premiere pro 7 yang belum HD, kemudian diedit ulang di Premiere CS5.






Bikin film bagus dengan kamera murah?

"Oalah mas..mas...murah kok njaluk apik?"

Sori mungkin saya sedang menggurui saat ini ehehe.

Tips-tips untuk membuat film dengan kamera murah biar kelihatan bagus:

-Kamera murah bagaimanapun tak akan menghasilkan gambar se-"mencengangkan" kamera mahal. Maka kita harus memperkuat bagian lain yang tidak berurusan dengan kualitas gambar, misalnya: angle, editing dan efek suara.
-Kualitas video kamera murah biasanya udah "ancur" dari sononya, jadi sekalian aja kita bikin film dengan konsep film lawas atau rusak. Caranya? Mainkan pencahayaan sebaik-baiknya, kasih color black and white dan gunakan suara yang terdengar seperti radio lawas. Suara "rusak" begitu bisa kita rekam pake handphone murahan.
-Referensi yang bisa dipelajari untuk menentukan "look" filmnya adalah film-film noir, found footage atau film black and white jaman dulu.
-Yang tak tergantikan adalah cerita yang bagus digarap dengan taste yang bagus. Biasanya dua hal ini jarang bisa menyatu. Kadang terjadi punya cerita bagus tapi taste sutradaranya buruk, Kalau cerita jelek tapi taste penyutradaraannya bagus sih masih agak terbantu di style-nya. Btw saya mengutamakan taste di atas yang lain. Kalau anda nggak terima kita bahas lain kali hahaha

BTW film yang bagus itu gimana? Monggo dibaca DI SINI.

Sedikit kilas balik

Begitu lama saya menunggu teknologi menjadi murah untuk bikin film. Lama sekali sehingga akhirnya saya pinjam kamera sana-sini supaya bisa merasakan bagaimana rasanya merekam video. Saya sering sedih dengan kenyataan banyak anak-anak kaya punya kamera mahal tapi tidak dipakai secara kreatif. Di situ saya mulai menjadi semacam pemberontak kelaziman.


Suatu ketika saya punya KODAK C743. Hadiah ibu dari jaman kuliah. Harap diketahui ini adalah kamera kasta sudra dengan resolusi video cuma 640 X 480. Saya tanya teman saya yang lebih dulu paham soal video. Mungkinkah saya memakai kamera tersebut untuk bikin film?

Dia bilang TIDAK!

Lalu saya pakai kamera itu selama 6 tahun untuk berlatih film sampai sensornya rusak.
Saya pun selalu meyakinkan teman-teman untuk berkarya segera. Optimalkan apa yang ada. Berikut ini adalah film pendek yang saya bikin dengan kamera tadi.
-Gambar diambil dengan KODAK C743
-Voice over direkam pakai Oppo Find Piano
-Gitar direkam pakai protholan headset 40 ribuan dengan PC Pentium 4 RAM 512, software pake Adobe Audition 2.0
-Editing sebelumnya pakai Premiere pro 7 yang belum HD, kemudian diedit ulang di Premiere CS5.






Baca

MENJUAL FILM INDIE


Gagal Dulu

Siapa yang kayak saya?
Mimpi jadi filmmaker, filmnya diputer di bioskop, laris. Lalu ditawarin Hollywood bikin film di sono. Masuk media. Twitter dibanjiri follower jutaan. Kalau masuk TV dan majalah, nama tertulis… FILM DIRECTOR atau PRODUCER.

Anda punya mimpi gitu? Sekarang sampai di mana anda?

Oh anda ternyata sudah sesuatu? Anda sutradara terkenal sekarang. Oke bagi anda yang sukses tinggalkan baca ini! This is not for you.

Saya mau ngobrol ama yang gagal. Yang masih bikin film low budget, wara-wiri, alat telat upgrade bla bla…

Saya dedikasikan tulisan ini untuk para pejuang senasib dengan saya ngiahahaha…

Lagian nggak banyak kan orang terkenal yang mau bicara dan berbagi ama kita? Paling juga dicuekin kalo komen di medsos mereka.

Oke…mari kita berbagi dalam perjuangan.


Sekalipun punya mimpi semasa kecil untuk jadi filmmaker, sebenarnya saya nggak bisa membayangkan bikin film bisa menjadi pekerjaan. Yang bener aja hehee… saya nggak sekolah film, saya nggak punya kenalan produser, saya nggak punya duit buat modal buat produksi dan promosi. Gimana pula saya bisa jadi pengusaha film?

Ya memang banyak beredar kata-kata motivasi yang terlalu manis seperti:
“Tak ada yang tak mungkin dengan mimpimu.”
“Kerja keras suatu saat pasti berhasil.”
Kenyataannya dari jutaan orang bermimpi hanya puluhan yang berhasil. Dari ribuan yang kerja keras, hanya belasan yang berhasil. Lama-lama saya curiga semuanya itu karena faktor keberuntungan hehehe

Jujur aja lah…sering kan anda berusaha sangat keras tapi tetap aja gagal dan kalah?

Hanya saja adanya motivasi dari tokoh idola kita yang membuat rasa sakit itu hilang. Fungsinya mirip painkiller atau alkohol. Mabok dengan motivational quote dan kenyataan yang pahit terus berjalan. Kerasa nggak? Hahaha

So you really wannabe indie filmmaker in reality?


Kenyataan Menjadi Indie Filmmaker

Mari kita bicara soal kenyataan yang jujur dengan segala manis dan pahitnya. Saya persembahkan tulisan ini untuk para filmmaker indie yang sampai hari ini masih nekad, masih passion dan tak lelah untuk mencoba.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai indie filmmaker?

Indie tentu beda ama yang non-indie (major label). Saya pernah bahas soal makna indie di lain artikel. Ada macem-macem indie. Ada yang bujetnya juga milyaran…tetep disebut indie juga…jiancuk ya? Hiahahaha

Sementara itu kalao indie versi kita artinya “lebih kelam”…lebih dark…lebih pahittt.
Kita tak bisa terus menerus menipu diri bahwa ini soal passion bla bla bla…
Alat makin lama makin degradasi, turun nilai, kebutuhan juga naik…
You know…almarhum komputer saya yang dulu harganya jutaan terakhir saya jual cuman laku 300 ribu.
Mau nggak mau muncul pertanyaan…”mau kemana kita dengan film indie kita?”

Katakanlah anda sama kayak saya: nggak sekolah film (jadi nggak punya banyak koneksi perfilman), nggak punya modal produksi (atau mungkin kamera aja masih minjem), nggak paham seluk beluk industri. Saya nggak akan kasih tutorial “how to” lho ya…ini sekadar berbagi saja.

Di manapun konon kalau nggak punya modal gede dan koneksi maka kita nggak akan dapat duit dari film indie. That’s true. Bahkan di Hollywood para pelaku industri besar pun pada awalnya harus kerja sampingan buat hidup. Dalam kasus saya, saya nglatih film, ngajar les musik, nulis dan kadang nggambar buat dapet duit receh. Receh beneran ini!

Jadi untuk start awal, cari pekerjaan yang membuat diri anda nggak terlalu terbelenggu sehingga anda masih bisa kerja membangun mimpi anda. Soalnya kalau anda sudah kadung established atau mapan dengan penghasilan gedhe, ya udah lupakan mimpi. Saat anda mengalami itu artinya anda hanya bekerja demi uang. 

Di saat kita indie filmmaker kerja keras cuma dapet receh, seorang bitch kelas atas bisa dapet 80 juta sekali crot. Sangar ora kuwi? So make sure that this is not about money only.

Saya kerja serabutan kreatif, meski Cuma ngumpulin receh, hati saya bebas dan gerak saya luas. Sayangnya saya cukup telat memulai fokus. Kalau kamu masih usia belasan atau dua puluhan…THIS IS YOUR TIME! Karena kamu masih dalam masa TAK PERNAH RUGI MENCOBA SESUATU!


Menjual Film Indie

Secara teknis, susah sekali menjual film indie buatan kita secara langsung. Siapa pula yang mau nonton film tanpa artis terkenal dan minim production value? Kecuali bikin film saru. Semakin ndeso orang malah semakin penasaran ama film saru.

Anggaplah kita adalah filmmaker kebanyakan. Film kita hanya bernilai jual lokal alias yang nonton teman dan kita sendiri.

“Menjual film” bisa berarti menjual DVD-nya. Saya Cuma berhasil jual DVD film saya satu keping. Ojo ngguyu! Ini kan artinya menjual juga.
"Menjual film" juga bisa dengan mengikutkannya ke festival, berharap menang dan dideketin produser. Itu kalau film anda itu berkelas festival and enggak wagu banget.
“Menjual film” bisa berwujud pemutaran bertiket. Saya pernah melakukan ini bersama komunitas. Dapat receh masuk ke kas.
“Menjual film” bisa juga berupa penjualan merchandise terkait. Komunitas kami pernah bikin kaos untuk pemutaran film. Eh dari luar komunitas yang mau beli ternyata juga ada. Hanya ganti ongkos sablon. Nggak ada receh untuk ini. Kami bahagia melakukannya (cieeeee…)
“Menjual film” juga bisa dalam wujud menyediakan space iklan buat pihak lain. Kami pernah melakukannya. Hanya saja statusnya kayak-kayaknya lebih berbau amal daripada sebuah transaksi profesional hehehe
“Menjual film” juga bisa mengunggahnya di youtube lalu di-monetize. Saya juga melakukannya dan belum keliatan hasilnya hahaha….njut ngopo kok ngomong nek ora ono hasile?

Saya yakin ada buwanyaaaaak cara untuk menjual. This way, that way, another way bla bla bla…. Tapi bagi anda yang sudah mencobanya pasti nggak semudah itu kan? Pasti banyak trial and error, so many fails, so many unpatience…

Di situlah…kalau anda bisa bertahan dengan sekian banyak kegagalan dan anda tetap melakukannya…maka itu sebuah passion. Jadi nantinya kegagalan itu tidak lagi menjadi sebuah himpitan. Namun ia menjadi bagian dari perjalanan perjuangan. Saya berulang kali gagal. Saya berkali-kali menyerah. Tapi kenapa saya masih melakukannya?… (kalau dihitung-hitung ini sudah 10 tahunan saya mencoba)… karena inilah passion dan jati diri.

Artinya nanti orientasinya tak melulu menjadi sukses ala Mario Bros eh Teguh. Namun memaknai setiap langkah dalam perjuangan itu lah kita menemukan jati diri kita. Kalau gak salah Karl Marx, Jean-Paul Sartre atau siapa gitu pernah bilang kalau kita itu didefinisikan oleh pekerjaan kita, karya kita. Steve Jobs juga bilang kalau passion itu penentu utama keberhasilan. Karena perjuangan pastilah membosankan dan kebanyakan orang menyerah. Hanya dengan passion orang bertahan dan terus mencoba. 

Saya inget cerita bapak yang dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan. Waktu itu membayangkan merdeka aja jauh banget. Kita kalah senjata dan kemahiran. Pejuang nasional hanyalah orang-orang teguh dan terus berusaha. Maka paham banget saya hancurnya hati bapak kalau melihat hasil perjuangannya dikhianati oleh kimcil-kimcil peradaban banal jaman sekarang. Bapak..oh bapak...beliau juga nggak terlalu merestui saya sebagai indie filmmaker :D


Jadi karena to be indie filmmaker sebenarnya lebih berupa way of life…macem menjadi Samurai atau Shinobi…maka do it without only thinking about “duwit”.

Yang perlu dilakukan (menurut saya) adalah berusaha stabil secara ekonomi…which is susah juga ahahaha. Bikin usaha apa kek asal syuting tetep jalan. Temen saya nyuting manten, motret manten dll…saya nglatih, ngajar, nipu (eh ora ding… :p )

Mungkin nggak perlu jadi kaya dulu (jiancuk pait tenan noh, cak hahaha)…cukup stabil aja buat berkarya. Karena manusia itu ada dua: Kreator dan Imitator. Kreator memaknai hidup dengan berkarya kreatif. Imitator melanjutkan hidup sebagaimana imitator sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnyaaaa….

Bagi kreator bekerja bahagia itu penting, bagi imitator hidup sebagaimana sebelumnya hidup itu penting.

Sebenarnya sih enak lho jadi imitator. Standar kebahagiaan mereka sederhana. Mereka tak pernah melakukan hijrah spiritual. Mereka Cuma bekerja, berkembangbiak lalu mati. Lalu keturunannya juga seperti itu sampai kiamat.

Jadi kreator itu menyedihkan. Gampang nggak puas dengan apa yang diterima. Selalu kritis. Cerewet ama anugrah yang jelas ada. Nggak mau menjalani hidup sebagai binatang berkecerdasan. Susah banget kan….

Menjadi filmmaker yang sukses

Kita bisa menjadi indie selamanya tapi tentu nggak bisa terus miskin selamanya kan?

Jadi mencari kekayaan dengan berkarya itu dua hal yang berbeda.  Memang ada yang cukup beruntung bisa memadukannya namun kebanyakan tidak. Buktinya banyak yang ketika sudah kaya…berhenti berkarya.

Teruskan berjuang menjadi indie filmmaker..tapi juga berupaya memperbaiki ekonomi. Ada yang melakukannya dengan buka usaha sampingan, ada yang menjadi pegawai di tempat lain. Ada banyak cara namun saya bukan orang yang tepat untuk kasih tutorial enterpreneurship.

Kalau memang sedang gagal ya akui saja!

Tak perlu berbuih-buih dengan kata-kata manis bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya gagal dan saya masih bertarung akan kedengaran lebih realistis hahaha masalahnya adalah mengubah paradigma dari GAGAL=HANCUR menuju GAGAL=BAGIAN DARI PERMAINAN. Jika paradigma menjadi gagal adalah bermain, itu bakal asyik. Pahit, sakit tapi asyik.

Berdasarkan THE FACT bahwa sekarang saya gagal (dan saya mengakuinya) itulah saya tulis artikel ini. Jadi anda semua akan tahu bahwa yang namanya kegagalan tidak musti melulu dikubur. Gagal is our best friend J

Jadi saya sekarang mendefinisikan ulang…gagal adalah nothing. Saya bermain dan enjoy. Ketika gagal sudah tak ada maka sukses bukan tujuan.

Tujuan saya adalah berbahagia dengan bermain, berjuang menuju ke satu pencapaian. Terserah itu mau dinamain apa. Mau dinamain sukses kek…mau dinamain gagal kek…masa bodoh lah :D
Saya juga mau kaya. Tapi itu tidak saya sebut sukses. Kaya hanya satu jalan untuk berbahagia…bukan satu-satunya.

Dan kelak jika saya sampai di satu titik itu….ingatkan saya untuk terus berbagi tanpa kesombongan.

BTW ngg ..nganu, Guys.…isi dompet kalian berapa ya sekarang? Sama gak ya dengan punyaku? Hiakhakahakahakhak….

(selepas nulis ini sang sutradara kemudian nangis di pojokan.)



Gagal Dulu

Siapa yang kayak saya?
Mimpi jadi filmmaker, filmnya diputer di bioskop, laris. Lalu ditawarin Hollywood bikin film di sono. Masuk media. Twitter dibanjiri follower jutaan. Kalau masuk TV dan majalah, nama tertulis… FILM DIRECTOR atau PRODUCER.

Anda punya mimpi gitu? Sekarang sampai di mana anda?

Oh anda ternyata sudah sesuatu? Anda sutradara terkenal sekarang. Oke bagi anda yang sukses tinggalkan baca ini! This is not for you.

Saya mau ngobrol ama yang gagal. Yang masih bikin film low budget, wara-wiri, alat telat upgrade bla bla…

Saya dedikasikan tulisan ini untuk para pejuang senasib dengan saya ngiahahaha…

Lagian nggak banyak kan orang terkenal yang mau bicara dan berbagi ama kita? Paling juga dicuekin kalo komen di medsos mereka.

Oke…mari kita berbagi dalam perjuangan.


Sekalipun punya mimpi semasa kecil untuk jadi filmmaker, sebenarnya saya nggak bisa membayangkan bikin film bisa menjadi pekerjaan. Yang bener aja hehee… saya nggak sekolah film, saya nggak punya kenalan produser, saya nggak punya duit buat modal buat produksi dan promosi. Gimana pula saya bisa jadi pengusaha film?

Ya memang banyak beredar kata-kata motivasi yang terlalu manis seperti:
“Tak ada yang tak mungkin dengan mimpimu.”
“Kerja keras suatu saat pasti berhasil.”
Kenyataannya dari jutaan orang bermimpi hanya puluhan yang berhasil. Dari ribuan yang kerja keras, hanya belasan yang berhasil. Lama-lama saya curiga semuanya itu karena faktor keberuntungan hehehe

Jujur aja lah…sering kan anda berusaha sangat keras tapi tetap aja gagal dan kalah?

Hanya saja adanya motivasi dari tokoh idola kita yang membuat rasa sakit itu hilang. Fungsinya mirip painkiller atau alkohol. Mabok dengan motivational quote dan kenyataan yang pahit terus berjalan. Kerasa nggak? Hahaha

So you really wannabe indie filmmaker in reality?


Kenyataan Menjadi Indie Filmmaker

Mari kita bicara soal kenyataan yang jujur dengan segala manis dan pahitnya. Saya persembahkan tulisan ini untuk para filmmaker indie yang sampai hari ini masih nekad, masih passion dan tak lelah untuk mencoba.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai indie filmmaker?

Indie tentu beda ama yang non-indie (major label). Saya pernah bahas soal makna indie di lain artikel. Ada macem-macem indie. Ada yang bujetnya juga milyaran…tetep disebut indie juga…jiancuk ya? Hiahahaha

Sementara itu kalao indie versi kita artinya “lebih kelam”…lebih dark…lebih pahittt.
Kita tak bisa terus menerus menipu diri bahwa ini soal passion bla bla bla…
Alat makin lama makin degradasi, turun nilai, kebutuhan juga naik…
You know…almarhum komputer saya yang dulu harganya jutaan terakhir saya jual cuman laku 300 ribu.
Mau nggak mau muncul pertanyaan…”mau kemana kita dengan film indie kita?”

Katakanlah anda sama kayak saya: nggak sekolah film (jadi nggak punya banyak koneksi perfilman), nggak punya modal produksi (atau mungkin kamera aja masih minjem), nggak paham seluk beluk industri. Saya nggak akan kasih tutorial “how to” lho ya…ini sekadar berbagi saja.

Di manapun konon kalau nggak punya modal gede dan koneksi maka kita nggak akan dapat duit dari film indie. That’s true. Bahkan di Hollywood para pelaku industri besar pun pada awalnya harus kerja sampingan buat hidup. Dalam kasus saya, saya nglatih film, ngajar les musik, nulis dan kadang nggambar buat dapet duit receh. Receh beneran ini!

Jadi untuk start awal, cari pekerjaan yang membuat diri anda nggak terlalu terbelenggu sehingga anda masih bisa kerja membangun mimpi anda. Soalnya kalau anda sudah kadung established atau mapan dengan penghasilan gedhe, ya udah lupakan mimpi. Saat anda mengalami itu artinya anda hanya bekerja demi uang. 

Di saat kita indie filmmaker kerja keras cuma dapet receh, seorang bitch kelas atas bisa dapet 80 juta sekali crot. Sangar ora kuwi? So make sure that this is not about money only.

Saya kerja serabutan kreatif, meski Cuma ngumpulin receh, hati saya bebas dan gerak saya luas. Sayangnya saya cukup telat memulai fokus. Kalau kamu masih usia belasan atau dua puluhan…THIS IS YOUR TIME! Karena kamu masih dalam masa TAK PERNAH RUGI MENCOBA SESUATU!


Menjual Film Indie

Secara teknis, susah sekali menjual film indie buatan kita secara langsung. Siapa pula yang mau nonton film tanpa artis terkenal dan minim production value? Kecuali bikin film saru. Semakin ndeso orang malah semakin penasaran ama film saru.

Anggaplah kita adalah filmmaker kebanyakan. Film kita hanya bernilai jual lokal alias yang nonton teman dan kita sendiri.

“Menjual film” bisa berarti menjual DVD-nya. Saya Cuma berhasil jual DVD film saya satu keping. Ojo ngguyu! Ini kan artinya menjual juga.
"Menjual film" juga bisa dengan mengikutkannya ke festival, berharap menang dan dideketin produser. Itu kalau film anda itu berkelas festival and enggak wagu banget.
“Menjual film” bisa berwujud pemutaran bertiket. Saya pernah melakukan ini bersama komunitas. Dapat receh masuk ke kas.
“Menjual film” bisa juga berupa penjualan merchandise terkait. Komunitas kami pernah bikin kaos untuk pemutaran film. Eh dari luar komunitas yang mau beli ternyata juga ada. Hanya ganti ongkos sablon. Nggak ada receh untuk ini. Kami bahagia melakukannya (cieeeee…)
“Menjual film” juga bisa dalam wujud menyediakan space iklan buat pihak lain. Kami pernah melakukannya. Hanya saja statusnya kayak-kayaknya lebih berbau amal daripada sebuah transaksi profesional hehehe
“Menjual film” juga bisa mengunggahnya di youtube lalu di-monetize. Saya juga melakukannya dan belum keliatan hasilnya hahaha….njut ngopo kok ngomong nek ora ono hasile?

Saya yakin ada buwanyaaaaak cara untuk menjual. This way, that way, another way bla bla bla…. Tapi bagi anda yang sudah mencobanya pasti nggak semudah itu kan? Pasti banyak trial and error, so many fails, so many unpatience…

Di situlah…kalau anda bisa bertahan dengan sekian banyak kegagalan dan anda tetap melakukannya…maka itu sebuah passion. Jadi nantinya kegagalan itu tidak lagi menjadi sebuah himpitan. Namun ia menjadi bagian dari perjalanan perjuangan. Saya berulang kali gagal. Saya berkali-kali menyerah. Tapi kenapa saya masih melakukannya?… (kalau dihitung-hitung ini sudah 10 tahunan saya mencoba)… karena inilah passion dan jati diri.

Artinya nanti orientasinya tak melulu menjadi sukses ala Mario Bros eh Teguh. Namun memaknai setiap langkah dalam perjuangan itu lah kita menemukan jati diri kita. Kalau gak salah Karl Marx, Jean-Paul Sartre atau siapa gitu pernah bilang kalau kita itu didefinisikan oleh pekerjaan kita, karya kita. Steve Jobs juga bilang kalau passion itu penentu utama keberhasilan. Karena perjuangan pastilah membosankan dan kebanyakan orang menyerah. Hanya dengan passion orang bertahan dan terus mencoba. 

Saya inget cerita bapak yang dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan. Waktu itu membayangkan merdeka aja jauh banget. Kita kalah senjata dan kemahiran. Pejuang nasional hanyalah orang-orang teguh dan terus berusaha. Maka paham banget saya hancurnya hati bapak kalau melihat hasil perjuangannya dikhianati oleh kimcil-kimcil peradaban banal jaman sekarang. Bapak..oh bapak...beliau juga nggak terlalu merestui saya sebagai indie filmmaker :D


Jadi karena to be indie filmmaker sebenarnya lebih berupa way of life…macem menjadi Samurai atau Shinobi…maka do it without only thinking about “duwit”.

Yang perlu dilakukan (menurut saya) adalah berusaha stabil secara ekonomi…which is susah juga ahahaha. Bikin usaha apa kek asal syuting tetep jalan. Temen saya nyuting manten, motret manten dll…saya nglatih, ngajar, nipu (eh ora ding… :p )

Mungkin nggak perlu jadi kaya dulu (jiancuk pait tenan noh, cak hahaha)…cukup stabil aja buat berkarya. Karena manusia itu ada dua: Kreator dan Imitator. Kreator memaknai hidup dengan berkarya kreatif. Imitator melanjutkan hidup sebagaimana imitator sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnyaaaa….

Bagi kreator bekerja bahagia itu penting, bagi imitator hidup sebagaimana sebelumnya hidup itu penting.

Sebenarnya sih enak lho jadi imitator. Standar kebahagiaan mereka sederhana. Mereka tak pernah melakukan hijrah spiritual. Mereka Cuma bekerja, berkembangbiak lalu mati. Lalu keturunannya juga seperti itu sampai kiamat.

Jadi kreator itu menyedihkan. Gampang nggak puas dengan apa yang diterima. Selalu kritis. Cerewet ama anugrah yang jelas ada. Nggak mau menjalani hidup sebagai binatang berkecerdasan. Susah banget kan….

Menjadi filmmaker yang sukses

Kita bisa menjadi indie selamanya tapi tentu nggak bisa terus miskin selamanya kan?

Jadi mencari kekayaan dengan berkarya itu dua hal yang berbeda.  Memang ada yang cukup beruntung bisa memadukannya namun kebanyakan tidak. Buktinya banyak yang ketika sudah kaya…berhenti berkarya.

Teruskan berjuang menjadi indie filmmaker..tapi juga berupaya memperbaiki ekonomi. Ada yang melakukannya dengan buka usaha sampingan, ada yang menjadi pegawai di tempat lain. Ada banyak cara namun saya bukan orang yang tepat untuk kasih tutorial enterpreneurship.

Kalau memang sedang gagal ya akui saja!

Tak perlu berbuih-buih dengan kata-kata manis bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya gagal dan saya masih bertarung akan kedengaran lebih realistis hahaha masalahnya adalah mengubah paradigma dari GAGAL=HANCUR menuju GAGAL=BAGIAN DARI PERMAINAN. Jika paradigma menjadi gagal adalah bermain, itu bakal asyik. Pahit, sakit tapi asyik.

Berdasarkan THE FACT bahwa sekarang saya gagal (dan saya mengakuinya) itulah saya tulis artikel ini. Jadi anda semua akan tahu bahwa yang namanya kegagalan tidak musti melulu dikubur. Gagal is our best friend J

Jadi saya sekarang mendefinisikan ulang…gagal adalah nothing. Saya bermain dan enjoy. Ketika gagal sudah tak ada maka sukses bukan tujuan.

Tujuan saya adalah berbahagia dengan bermain, berjuang menuju ke satu pencapaian. Terserah itu mau dinamain apa. Mau dinamain sukses kek…mau dinamain gagal kek…masa bodoh lah :D
Saya juga mau kaya. Tapi itu tidak saya sebut sukses. Kaya hanya satu jalan untuk berbahagia…bukan satu-satunya.

Dan kelak jika saya sampai di satu titik itu….ingatkan saya untuk terus berbagi tanpa kesombongan.

BTW ngg ..nganu, Guys.…isi dompet kalian berapa ya sekarang? Sama gak ya dengan punyaku? Hiakhakahakahakhak….

(selepas nulis ini sang sutradara kemudian nangis di pojokan.)


Baca

CONTOH SKENARIO: SANDERA (2014)

Apakah teman-teman sudah nonton SANDERA, film kami tahun lalu? :)

Nah, buat teman-teman yang pingin baca skenarionya, nih saya bagi gratis. Ini adalah skenario film SANDERA. Tapi saat produksi ternyata ada kendala sehingga hasil akhir filmnya tak sama persis dengan yang di skenario. Silakan tonton dan bandingkan.

PERHATIAN:
Skenario bikinan saya ini NGGAK STANDAR INDUSTRI!
Skenario dalam format yang benar bisa kalian bikin lewat software scripwriting macam Final Draft, Celtx dll. Kenapa saya bikin aturan sendiri?
Pertama karena ini film bikinan saya sendiri dan nggak ada yang bayar saya untuk menulis secara bener hahahahaha
You know...I'm the director, D.O.P, cameraman, actor, stuntman, writer, SFX guy, fighting choreographer, editor etc. jadi ya saya bikin skenario sesuka-suka saya.

Perlu juga kalian tahu bahwa skenario ASLI-nya, adalah untuk film panjang (feature). Actionnya lebih banyak, karakternya lebih berkembang dan plotnya lebih kompleks. Versi pendek ini sebenarnya buat nyari produser yang mau ngembangin versi panjangnya.

DISCLAIMER:

Pemakaian naskah saya ini hanya boleh untuk maksud non komersil misalnya buat bahan belajar.
Saya tidak mengijinkan naskah ini:

-Diubah, apalagi diganti nama penulisnya
-Diakui sebagaib karya orang lain
-Diproduksi ulang dalam bentuk apapun. 
-Disebarkan lewat blog atau website pribadi. Penyebaran hanya boleh dengan mencantumkan link langsung dari blog ini.

Naskah ini sudah diproduksi dalam bentuk film dan saya pemegang hak ciptanya.
Macem-macem ama karya saya bakal gue sambit ama collapsible baton.

Oke, silakan dowloand skenario film pendek SANDERA

DI SINI! 

Tonton filmnya di sini:


Monggo juga "like" and "subscribe" channel-nya biar up to date karya-karya kami terbaru.
Keep PECICILAN ING PAKARYAN!

Apakah teman-teman sudah nonton SANDERA, film kami tahun lalu? :)

Nah, buat teman-teman yang pingin baca skenarionya, nih saya bagi gratis. Ini adalah skenario film SANDERA. Tapi saat produksi ternyata ada kendala sehingga hasil akhir filmnya tak sama persis dengan yang di skenario. Silakan tonton dan bandingkan.

PERHATIAN:
Skenario bikinan saya ini NGGAK STANDAR INDUSTRI!
Skenario dalam format yang benar bisa kalian bikin lewat software scripwriting macam Final Draft, Celtx dll. Kenapa saya bikin aturan sendiri?
Pertama karena ini film bikinan saya sendiri dan nggak ada yang bayar saya untuk menulis secara bener hahahahaha
You know...I'm the director, D.O.P, cameraman, actor, stuntman, writer, SFX guy, fighting choreographer, editor etc. jadi ya saya bikin skenario sesuka-suka saya.

Perlu juga kalian tahu bahwa skenario ASLI-nya, adalah untuk film panjang (feature). Actionnya lebih banyak, karakternya lebih berkembang dan plotnya lebih kompleks. Versi pendek ini sebenarnya buat nyari produser yang mau ngembangin versi panjangnya.

DISCLAIMER:

Pemakaian naskah saya ini hanya boleh untuk maksud non komersil misalnya buat bahan belajar.
Saya tidak mengijinkan naskah ini:

-Diubah, apalagi diganti nama penulisnya
-Diakui sebagaib karya orang lain
-Diproduksi ulang dalam bentuk apapun. 
-Disebarkan lewat blog atau website pribadi. Penyebaran hanya boleh dengan mencantumkan link langsung dari blog ini.

Naskah ini sudah diproduksi dalam bentuk film dan saya pemegang hak ciptanya.
Macem-macem ama karya saya bakal gue sambit ama collapsible baton.

Oke, silakan dowloand skenario film pendek SANDERA

DI SINI! 

Tonton filmnya di sini:


Monggo juga "like" and "subscribe" channel-nya biar up to date karya-karya kami terbaru.
Keep PECICILAN ING PAKARYAN!

Baca

Physical Acting: Akting yang menggunakan kecerdasan gerak tubuh

Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Baca

Ketika Talents dan Kru Susah Diajak Kerjasama

Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Baca

Film dan Saya, Saya dan Film...Sebuah Kisah Cinta ha ha ha

Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA