Film dan Saya, Saya dan Film...Sebuah Kisah Cinta ha ha ha

Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Baca

Akting Untuk Film

Konsep akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Meski latian dasarnya sama, eksekusinya untuk dua media ini saya bedakan. Sebelum kita bicara soal beda dan detail, secara umum akting itu aturan umumnya adalah BELIEVABILITY. Akting yang membuat penonton masuk ke cerita.

Basis Latihan Akting

Saya membagi akting itu ada 2: Fisik dan Mental.

Akting Fisik adalah pendayagunaan tubuh untuk bergerak dan menunjang akting mental. Aktor laga, aktor penari, stunt fighter adalah yang paling banyak menggunakan akting jenis ini.

Akting Mental adalah permainan watak, karakter membuat penonton terbawa pada emosi yang kita bangun. Kalo aktornya akting nangis, kita juga ikut sedih. Kalo dia akting takut, kita juga merasakan ketakutannya.

Akting fisik dan mental itu satu kesatuan ya…jangan dipisahkan seperti Romeo dan Juliet.
Sehubungan dengan itu kalo latian akting biasanya saya mulai dari oleh fisik (terdiri dari napas, suara dan mimik wajah). Lalu latian ekspresi emosi (terdiri dari penghayatan, improvisasi dan imajinasi).

Berdasarkan eksekusinya saya membagi akting ada 2: Mayor dan minor. Mayor itu akting yang ada di naskah. Kalau minor itu pelengkap untuk menjiwai akting mayor tadi. Bisa berupa variasi sikap tubuh atau gesture. Sejauh aktor nyaman melakukan.




Murid-murid saya sedang latian akting natural

Eksekusi Akting

Nah, tadi saya tulis bahwa akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Maksudnya gini:

Akting teater: Ada unsur eksagerasi (exaggerate). Ada yang dilebih-lebihkan. Suara diperbesar volume agar proyeksinya nyampe ke penonton paling belakang. Sering perasaan diverbalisasikan. Misalnya ketika akting menunggu sesuatu sampai lama, aktor mengungkapkannya ke penonton. “Aduuuh kok lama banget sih?” Si aktor berkali-kali lihat jam, wajahnya gelisah, mondar-mandir dll.

Akting film: Saya mendekatinya lebih secara natural dan realis. Sewajarnya. Misal kalo akting menunggu sesuatu yang lama, saya visualisasikan gini: Shot aktor duduk diam. Wajah terlihat bete. Lalu ada shot daun bergoyang. Kamera bergerak pelan. Lalu ada shot close up jarum jam yang berdetak, kemudian ekstreme close up jari mengetuk-ngetuk meja dll.

Nah, di situ bedanya. Dalam film kita memadukan akting dan visual storytelling. Aktor nggak selalu harus mondar-mandir. Kegelisahan itu kita ungkapkan lewat editing dan pergerakan kamera.

Karena pendekatan film saya adalah realisme, maka saya tidak mendekati akting dengan cara seperti…"main teater yang direkam video".

Tentu bukan berarti akting yang verbalis atau exaggerated tadi salah samasekali. Nggaaaak. Cuman liat dulu konsepnya gimana. Di film juga ada yang konsepnya emang di-lebay-kan gitu.


Intinya, akting harus BELIEVABLE. Apa yang mau disampaikan ke penonton? kalau konsepnya lebay, ya tampilkan lebay. Kalo realis, maka tampilkan realis. Ada konsep dan porsinya masing-masing.

Gunakan teori akting manapun yang bisa mendukung performa aktor kita.
Konsep akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Meski latian dasarnya sama, eksekusinya untuk dua media ini saya bedakan. Sebelum kita bicara soal beda dan detail, secara umum akting itu aturan umumnya adalah BELIEVABILITY. Akting yang membuat penonton masuk ke cerita.

Basis Latihan Akting

Saya membagi akting itu ada 2: Fisik dan Mental.

Akting Fisik adalah pendayagunaan tubuh untuk bergerak dan menunjang akting mental. Aktor laga, aktor penari, stunt fighter adalah yang paling banyak menggunakan akting jenis ini.

Akting Mental adalah permainan watak, karakter membuat penonton terbawa pada emosi yang kita bangun. Kalo aktornya akting nangis, kita juga ikut sedih. Kalo dia akting takut, kita juga merasakan ketakutannya.

Akting fisik dan mental itu satu kesatuan ya…jangan dipisahkan seperti Romeo dan Juliet.
Sehubungan dengan itu kalo latian akting biasanya saya mulai dari oleh fisik (terdiri dari napas, suara dan mimik wajah). Lalu latian ekspresi emosi (terdiri dari penghayatan, improvisasi dan imajinasi).

Berdasarkan eksekusinya saya membagi akting ada 2: Mayor dan minor. Mayor itu akting yang ada di naskah. Kalau minor itu pelengkap untuk menjiwai akting mayor tadi. Bisa berupa variasi sikap tubuh atau gesture. Sejauh aktor nyaman melakukan.




Murid-murid saya sedang latian akting natural

Eksekusi Akting

Nah, tadi saya tulis bahwa akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Maksudnya gini:

Akting teater: Ada unsur eksagerasi (exaggerate). Ada yang dilebih-lebihkan. Suara diperbesar volume agar proyeksinya nyampe ke penonton paling belakang. Sering perasaan diverbalisasikan. Misalnya ketika akting menunggu sesuatu sampai lama, aktor mengungkapkannya ke penonton. “Aduuuh kok lama banget sih?” Si aktor berkali-kali lihat jam, wajahnya gelisah, mondar-mandir dll.

Akting film: Saya mendekatinya lebih secara natural dan realis. Sewajarnya. Misal kalo akting menunggu sesuatu yang lama, saya visualisasikan gini: Shot aktor duduk diam. Wajah terlihat bete. Lalu ada shot daun bergoyang. Kamera bergerak pelan. Lalu ada shot close up jarum jam yang berdetak, kemudian ekstreme close up jari mengetuk-ngetuk meja dll.

Nah, di situ bedanya. Dalam film kita memadukan akting dan visual storytelling. Aktor nggak selalu harus mondar-mandir. Kegelisahan itu kita ungkapkan lewat editing dan pergerakan kamera.

Karena pendekatan film saya adalah realisme, maka saya tidak mendekati akting dengan cara seperti…"main teater yang direkam video".

Tentu bukan berarti akting yang verbalis atau exaggerated tadi salah samasekali. Nggaaaak. Cuman liat dulu konsepnya gimana. Di film juga ada yang konsepnya emang di-lebay-kan gitu.


Intinya, akting harus BELIEVABLE. Apa yang mau disampaikan ke penonton? kalau konsepnya lebay, ya tampilkan lebay. Kalo realis, maka tampilkan realis. Ada konsep dan porsinya masing-masing.

Gunakan teori akting manapun yang bisa mendukung performa aktor kita.
Baca

Wawancara dengan Isaac Nabwana dari WAKALIWOOD, filmmaker Uganda (Bahasa Indonesia)

Begitu tahu caranya bagaimana Robert Rodriguez bikin El Mariachi, langsung saya melantik diri sebagai murid tak sah-nya. Kebanyakan dari film saya emang niru caranya Rodriguez yang penuh akal-akalan. Setidaknya saya dan Rodriguez punya beberapa kesamaan: tinggal di kota kecil (atau malah ndeso), peralatan terbatas, passion bikin film panjang dan demen film laga. Rodriguez bikinnya tahun 1992 sedangkan saya mulainya tahun 2010. Yah, saya emang juniornya.


Next Robert Rodriguez from Uganda.

Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Filmnya Rodriguez's jadi legenda sedangkan film saya payah....kasihan bener :D
Gak papa lah. Yang penting saya belajar banyak dari Rodriguez. Kalo Rodriguez namain jurus filmmakingnya Mariachi style, saya namian punya saya Wlingiwood style...Wlingi kota tinggal saya. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Lalu pada 2014 saya nemu clip di Youtube, isinya orang teriak...TEBAATUSASULA!!! lalu jurus-jurus Kungfu dan aksi laga gila-gilaan. Saya baca ini film mana dan heeeeh? Uganda? Saya tahu Uganda cuman karena Idi Amin. baru tahu orang Uganda bisa bikin film ginian. Murah, gila dan keren. 

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Nggak cuman itu. Ternyata mereka bikinnya juga hebat...malah lebih ngeri daripada caranya Rodriguez. Belum lagi mereka sebut komunitasnya (atau semacam studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Kok kedengeran kayak Wlingiwood ya? :D wow! This is cool!

langsung deh saya samperin si biang kerok di belakang semua ini...Isaac Godfrey Geoffrey alias Isaac Nabwana. Kita chatting dikit via facebook.

Langsung kepikiran...kayaknya nih bakal jadi Rodriguez saya (baca: panutan semangat) berikutnya. Gilanya...semangat dan passion dia melebihi yang Wlingiwood lakukan di sini...Rodriguez aja mungkin kalah. Bayangkan....bikin film di Uganda dengan sarana minim namun talent potensial banyak. Wlingiwood aja gak punya sebanyak itu.


Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Lantas di facebook page mereka nawarin wawancara buat dimuat di blog...dan gratis. Kebetulan kan udah ada blog gratisan kayak yang kalian baca ini. langsung saya sambut tawarannya. Gini ini hasilnya. Harapannya kita bisa belajar dari manusia gila kreatif gini.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Halo, Masbro. Piye kabar sampeyan n Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. Apik wae, Mas! Terus berkarya. Sekarang kita juga punya teman baru dari Indonesia dan mulai sibuk mikirin hancurin negara kalian lewat film. Cuman temen loh yang kita gituin.

Gugun: Keren banget lho karya sampeyan. Langsung saya ngefans ama situ hahaha...Bro, ini awalnya gimana sih? Inspirasi dikau buat bikin film itu siapa?

Nabwana: Oh iya toh? Inspirasinya Abangku sendiri, Bro. Dulu dia sering ngintip ke gedung video (tempat biasa nonton film, mungkin semacam bioskop video atau apa lah gitu). Jaman itu saya masih kecil. Lalu kalo pulang dia biasanya cerita ulang soal filmnya. Film action yang dibintangi Buddy Spencer dan Chuck Norris. Saya terkesan banget sama cara dia cerita, jadinya saya pingin banget bisa bikin film.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Dulu belajar bikin film gimana, Mas? Yang ngajarin special effects, ngoperasiin camera, makai softwares dll. siapa?

Nabwana: Wah, susah tenan neng kene, Uganda iki, Bro. Apalagi 9 tahun silam pas aku mulai. Yang punya kamera dikit dan yang bisa ngajarin apalagi. Lalu saya kursus sebulan reparasi komputer jadi biar saya ntar bisa ngrakit komputer sendiri buat editing. Saya juga kerja keras bikin bata (heh beneran, bro?) buat beli kamera. Kita mah otodidak, bahkan soal After Effects juga. Internet payah di sini jadi cuma dikit tutorial yang bisa dipelajari.

Gugun: Kalo alat film kayak slider, jib, tripod, lighting etc itu gimana bikinnya?

Nabwana: Yang bikin Dauda Bisaso, aktor laga kita di sini tapi juga tukang props. Dia yang bikin senjata, dolly, jibs dll. Kita dapet rongsokan besinya di ghettos sini, kita utak-atik. Disain dia dapat dari internet and ngakalin biar dibikin lebih bagus.

Gugun: Dapat talents darimana, Masbro? Mereka juga passion kayak sampeyan, nggak?

Nabwana: Wah, kita semuanya passion, Mas. Ada yang dateng jauh-jauh dari Uganda cuman buat ikutan film action sini. Nggak semua dari kita sama bahasanya, tapi kita disatukan oleh cinta pada film. Lha itu Si Alan Ssali datang dari New York City buat ngikut Wakaliwood doang.

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Kalian belajar Kungfu gimana sih? Yang nglatih siapa? kalian atlet bukan ya, soalnya kok Kungfu-nya keren! Saya tahu soalnya saya kan juga pernah main Kungfu hahaha

Nabwana: Bukenya Charles itu Master Sifu di Wakaliwood. Dia jadi Bruce U (Uganda's Bruce Lee) di film Captain Alex, dan jadi Pakde Benon di film Return of Uncle Benon (cooming soon). Kita temenan dari kecil. Dia gila Kungfu, aku gila film. Dia belajar dari nonton film dan dari majalah Cina. Sekarang dia jadi pendiri Uganda's International Kung Fu Team dan jadi bintang film laga di Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Masbro kerjanya sehari-hari buat nafkahin keluarga apa? Masbro kan udah nikah n punya anak. Susah nggak tetap mempertahankan passion di filmmaking passion sementara harus kasih makan keluarga?

Nabwana: Film kita itu dibikin dengan passion dan minim duit. Susah, Bro cari duit di sini. Aku kadang buat videoklip, nyuting manten atau dokumentasi acara kelulusan sekolah. Nggak banyak sih dapetnya. Pembajakan bikin jualan film di Uganda sini susah..

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Ceritain dikit dong, Mas soal proyek terbarunya n hal keren apa nih yang bakal muncul ntar?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA tuh rencana international film kita yang perdana! Pengennya sih fans Wakaliwood dan fans action seluruh dunia ikutan film kita ini. Kalian bisa kok jadi bintang laga film Ugandan tanpa musti pergi dari rumah. Kalian cuma syuting aja adegan kalian modar ntar kita masukin di film. GRATIS. Kalian lalu jadi bintang laga film Uganda. Fans keren dari Indonesia udah ada lho yang kirim video. Udah kita taruh juga tuh di film. Nih dia! Keren! 



Gugun: Rencana terdekat ngapain, Masbro? Ikutan festival internasional ato gimana?

Nabwana: Ya. Kita pengen sih bawa film kita ke dunia, lantas bikin orang-orang dari negara lain main ke Uganda, ke komunita skita. Cuma ya itu, Bro...duit ama visa yang jadi masalah. Kita pingin ama film kita ikutan ke festival tapi susah dapet visa. Kita juga udah diundang tapi ya itu...nggak bisa dateng deh kita.

Gugun: Suwun banget, Masro. Terakhir boleh gak minta foto spesial? Ada foto kamu dengan tulisan..."From IsaacNabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D mau takjadiin jimat hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Catatan keras: Terjemahan wawancara ini telah ditulis ulang dengan adaptasi sana-sini. Bukan terjemahan mentah-mentah. Biar greget. Kalau mau baca aslinya di sini: 
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/interview-with-isaac-nabwana-of.html

Begitu deh. Kalo mau lihat salah satu trailer film mereka di sini:



Dan ini mini dokumenter tentang Isaac Nabwana:







Begitu tahu caranya bagaimana Robert Rodriguez bikin El Mariachi, langsung saya melantik diri sebagai murid tak sah-nya. Kebanyakan dari film saya emang niru caranya Rodriguez yang penuh akal-akalan. Setidaknya saya dan Rodriguez punya beberapa kesamaan: tinggal di kota kecil (atau malah ndeso), peralatan terbatas, passion bikin film panjang dan demen film laga. Rodriguez bikinnya tahun 1992 sedangkan saya mulainya tahun 2010. Yah, saya emang juniornya.


Next Robert Rodriguez from Uganda.

Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Filmnya Rodriguez's jadi legenda sedangkan film saya payah....kasihan bener :D
Gak papa lah. Yang penting saya belajar banyak dari Rodriguez. Kalo Rodriguez namain jurus filmmakingnya Mariachi style, saya namian punya saya Wlingiwood style...Wlingi kota tinggal saya. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Lalu pada 2014 saya nemu clip di Youtube, isinya orang teriak...TEBAATUSASULA!!! lalu jurus-jurus Kungfu dan aksi laga gila-gilaan. Saya baca ini film mana dan heeeeh? Uganda? Saya tahu Uganda cuman karena Idi Amin. baru tahu orang Uganda bisa bikin film ginian. Murah, gila dan keren. 

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Nggak cuman itu. Ternyata mereka bikinnya juga hebat...malah lebih ngeri daripada caranya Rodriguez. Belum lagi mereka sebut komunitasnya (atau semacam studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Kok kedengeran kayak Wlingiwood ya? :D wow! This is cool!

langsung deh saya samperin si biang kerok di belakang semua ini...Isaac Godfrey Geoffrey alias Isaac Nabwana. Kita chatting dikit via facebook.

Langsung kepikiran...kayaknya nih bakal jadi Rodriguez saya (baca: panutan semangat) berikutnya. Gilanya...semangat dan passion dia melebihi yang Wlingiwood lakukan di sini...Rodriguez aja mungkin kalah. Bayangkan....bikin film di Uganda dengan sarana minim namun talent potensial banyak. Wlingiwood aja gak punya sebanyak itu.


Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Lantas di facebook page mereka nawarin wawancara buat dimuat di blog...dan gratis. Kebetulan kan udah ada blog gratisan kayak yang kalian baca ini. langsung saya sambut tawarannya. Gini ini hasilnya. Harapannya kita bisa belajar dari manusia gila kreatif gini.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Halo, Masbro. Piye kabar sampeyan n Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. Apik wae, Mas! Terus berkarya. Sekarang kita juga punya teman baru dari Indonesia dan mulai sibuk mikirin hancurin negara kalian lewat film. Cuman temen loh yang kita gituin.

Gugun: Keren banget lho karya sampeyan. Langsung saya ngefans ama situ hahaha...Bro, ini awalnya gimana sih? Inspirasi dikau buat bikin film itu siapa?

Nabwana: Oh iya toh? Inspirasinya Abangku sendiri, Bro. Dulu dia sering ngintip ke gedung video (tempat biasa nonton film, mungkin semacam bioskop video atau apa lah gitu). Jaman itu saya masih kecil. Lalu kalo pulang dia biasanya cerita ulang soal filmnya. Film action yang dibintangi Buddy Spencer dan Chuck Norris. Saya terkesan banget sama cara dia cerita, jadinya saya pingin banget bisa bikin film.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Dulu belajar bikin film gimana, Mas? Yang ngajarin special effects, ngoperasiin camera, makai softwares dll. siapa?

Nabwana: Wah, susah tenan neng kene, Uganda iki, Bro. Apalagi 9 tahun silam pas aku mulai. Yang punya kamera dikit dan yang bisa ngajarin apalagi. Lalu saya kursus sebulan reparasi komputer jadi biar saya ntar bisa ngrakit komputer sendiri buat editing. Saya juga kerja keras bikin bata (heh beneran, bro?) buat beli kamera. Kita mah otodidak, bahkan soal After Effects juga. Internet payah di sini jadi cuma dikit tutorial yang bisa dipelajari.

Gugun: Kalo alat film kayak slider, jib, tripod, lighting etc itu gimana bikinnya?

Nabwana: Yang bikin Dauda Bisaso, aktor laga kita di sini tapi juga tukang props. Dia yang bikin senjata, dolly, jibs dll. Kita dapet rongsokan besinya di ghettos sini, kita utak-atik. Disain dia dapat dari internet and ngakalin biar dibikin lebih bagus.

Gugun: Dapat talents darimana, Masbro? Mereka juga passion kayak sampeyan, nggak?

Nabwana: Wah, kita semuanya passion, Mas. Ada yang dateng jauh-jauh dari Uganda cuman buat ikutan film action sini. Nggak semua dari kita sama bahasanya, tapi kita disatukan oleh cinta pada film. Lha itu Si Alan Ssali datang dari New York City buat ngikut Wakaliwood doang.

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Kalian belajar Kungfu gimana sih? Yang nglatih siapa? kalian atlet bukan ya, soalnya kok Kungfu-nya keren! Saya tahu soalnya saya kan juga pernah main Kungfu hahaha

Nabwana: Bukenya Charles itu Master Sifu di Wakaliwood. Dia jadi Bruce U (Uganda's Bruce Lee) di film Captain Alex, dan jadi Pakde Benon di film Return of Uncle Benon (cooming soon). Kita temenan dari kecil. Dia gila Kungfu, aku gila film. Dia belajar dari nonton film dan dari majalah Cina. Sekarang dia jadi pendiri Uganda's International Kung Fu Team dan jadi bintang film laga di Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Masbro kerjanya sehari-hari buat nafkahin keluarga apa? Masbro kan udah nikah n punya anak. Susah nggak tetap mempertahankan passion di filmmaking passion sementara harus kasih makan keluarga?

Nabwana: Film kita itu dibikin dengan passion dan minim duit. Susah, Bro cari duit di sini. Aku kadang buat videoklip, nyuting manten atau dokumentasi acara kelulusan sekolah. Nggak banyak sih dapetnya. Pembajakan bikin jualan film di Uganda sini susah..

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Ceritain dikit dong, Mas soal proyek terbarunya n hal keren apa nih yang bakal muncul ntar?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA tuh rencana international film kita yang perdana! Pengennya sih fans Wakaliwood dan fans action seluruh dunia ikutan film kita ini. Kalian bisa kok jadi bintang laga film Ugandan tanpa musti pergi dari rumah. Kalian cuma syuting aja adegan kalian modar ntar kita masukin di film. GRATIS. Kalian lalu jadi bintang laga film Uganda. Fans keren dari Indonesia udah ada lho yang kirim video. Udah kita taruh juga tuh di film. Nih dia! Keren! 



Gugun: Rencana terdekat ngapain, Masbro? Ikutan festival internasional ato gimana?

Nabwana: Ya. Kita pengen sih bawa film kita ke dunia, lantas bikin orang-orang dari negara lain main ke Uganda, ke komunita skita. Cuma ya itu, Bro...duit ama visa yang jadi masalah. Kita pingin ama film kita ikutan ke festival tapi susah dapet visa. Kita juga udah diundang tapi ya itu...nggak bisa dateng deh kita.

Gugun: Suwun banget, Masro. Terakhir boleh gak minta foto spesial? Ada foto kamu dengan tulisan..."From IsaacNabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D mau takjadiin jimat hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Catatan keras: Terjemahan wawancara ini telah ditulis ulang dengan adaptasi sana-sini. Bukan terjemahan mentah-mentah. Biar greget. Kalau mau baca aslinya di sini: 
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/interview-with-isaac-nabwana-of.html

Begitu deh. Kalo mau lihat salah satu trailer film mereka di sini:



Dan ini mini dokumenter tentang Isaac Nabwana:







Baca

Interview with Isaac Nabwana of WAKALIWOOD, filmmaker from Uganda (in English)

It is very inspiring when I first time to know how Robert Rodriguez made his El Mariachi film. Soon I became his "student". I made my movie using tricks I learned from Rodriguez. Rodriguez and I have the same thing in common; living in a small town, limited by equipments, has a passion to make feature film and love action genre. Rodriguez did it in 1992, I did mine in 2010. I'm his junior.


Next Robert Rodriguez from Uganda.Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Rodriguez's is legendary cult movie, but mine is suck...so pathetic :D
It's okay. I've learnt so much from Rodriguez. While Rodriguez called his style as Mariachi style, I called my techniques Wlingiwood style...Wlingi is my hometown. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Then in 2014 I found a clip in youtube. So crazy stuff with freaky shout...TEBAATUSASULA!!! I see crazy kungfu and crazy action scenes. And what the f...it comes from Uganda. The thing I know about Uganda is only Idi Amin. I never knew Ugandan make a film so cool like this. It's cheap, crazy but so awesome stuff.

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
However, this is not the only thing impressed me. Later I know that this crazy Ugandan made that film in so amazing way...more badass than Rodriguez did! Amazingly they called their community (or studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Sounds like Wlingiwood? :D wow! This is cool!

I contacted the guy behind all of this...Isaac Godfrey Geoffrey or better known as Isaac Nabwana. We chat a little through facebook. Well...I think Isaac would be my next "Rodriguez" in spirit. His spirit I think....surpassed my spirit and maybe Rodriguez's also. Imagine! They made it in Uganda! Very minimum equipments but a lot of potential talents. 

Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Later in their facebook page, they offer to interview them for movie blog. I do have a blog about filmmaking (in Indonesian). So I answer that offer. I sent message to Nabwana and here is the result. Hope that we, all guerilla filmmakers, get big inspiration from this badass guy.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Hello, Brother. How are you and Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. We are good! Always working. But now we have new friends in Indonesia, and busy to see how we can destroy your country in movies. We only do that to friends.

Gugun: It's very amazing the job you did you know. I instantly become the fans of yours hahaha...well, Brother...how did this all begin? What inspire you to make a movie?

Nabwana: Really, it was my older brother. he would often sneak into video halls, were we watch movies in Uganda. i was too young but he would go and come back and tell me the stories. movies with action, stars like Buddy Spencer and Chuck Norris. I loved the way he told the stories and made me want to make movies.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you learn filmmaking? Who teach you special effects, operating camera, using softwares etc.?

Nabwana: It is not easy here in Uganda. Especially 9 years ago when i started. there were very few who had cameras and can teach. i took one month class in computer repair so i could build computers for editing, and worked very hard making bricks to afford a camera. really we taught ourselves. even software like After Effects. internet was poor so were few tutorials. 

Gugun: How do you make your film equipment such like slider, jib, tripod, lighting etc?

Nabwana: that is Dauda Bisaso, an action movie star here but also head builder. he makes all our guns, dolly, jibs, etc. we find scrap metal here in the ghettos, and just build. he finds a design maybe on the internet, and finds a way to make it better.

Gugun: How do you get your film talents? Do they have the same big passion as you?

Nabwana: we all have passion here. many come from very far in Ugandan to make action movies with us. not all of us even speak the same language, but we speak love of film. even Alan Ssali came from New York City to be part pf Wakaliwood

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you all guys learn Kungfu? Who train you? Are you athlete or something coz your Kungfu looks awesome! I know it because I've ever learn Kungfu also hahaha

Nabwana:Bukenya Charles is wakaliwood's Master Sifu. He is Bruce U (uganda's Bruce Lee) in Catain Alex, and Uncle Benon in Return of Uncle Benon (cooming soon). we are childhood friends and grew up together. but he loved kung fu more and i loved movies. he also taught himself by watching movies and magazines from China. now he is part and founder of Uganda's International Kung Fu Team and an action movie star with Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: What job do you do to make a living with your family? I know you have been married and have children. Is it difficult to maintain your filmmaking passion while you have to feed your family?

Nabwana: Our movies are made with passion, and vert little money. money is hard to find. for money i sometimes make music videos for musicians, or shoot a wedding or school graduation. it is not much money, but we get by. piracy makes selling films difficult here in Uganda.

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Tell me a little bit about your recent project and what cool thing you offer in that film?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA is going to be our 1st international film! we want fans of Wakaliwood and fans of action from all over the world to be part of the film. you can even be a ugandan action movie star without leaving home! just shoot yourselves dying and we put it in the movie. and it is FREE. you can become a Ugandan Action MOvie Star. in fact, some supa fans from indonesia have sent us themselves dying and we already are putting in movie. it is great! 


Gugun: What is your goal in the near future? Are you interested in international festival or what?

Nabwana: yes, we are interested in bringing our films to international, and having people from everywhere come to us in Uganda. but the challenge is money and a visa. we would like to go with our films to film festivals, but difficult to get visas, we have been invited, but so far cannot go.

Gugun: Big thanks, Brother. Now the last thing...could I, Gugun Ekalaya of Wlingiwood family, get your special photo. You photo yourself holding a paper with a message written like this..."From Isaac Nabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D It will be my treasure hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Terjemahan lepas Bahasa Indonesia di sini:
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/wawancara-dengan-isaac-nabwana-dari.html


See one of their film trailer here:


And this is mini documentary about Isaac Nabwana:





It is very inspiring when I first time to know how Robert Rodriguez made his El Mariachi film. Soon I became his "student". I made my movie using tricks I learned from Rodriguez. Rodriguez and I have the same thing in common; living in a small town, limited by equipments, has a passion to make feature film and love action genre. Rodriguez did it in 1992, I did mine in 2010. I'm his junior.


Next Robert Rodriguez from Uganda.Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Rodriguez's is legendary cult movie, but mine is suck...so pathetic :D
It's okay. I've learnt so much from Rodriguez. While Rodriguez called his style as Mariachi style, I called my techniques Wlingiwood style...Wlingi is my hometown. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Then in 2014 I found a clip in youtube. So crazy stuff with freaky shout...TEBAATUSASULA!!! I see crazy kungfu and crazy action scenes. And what the f...it comes from Uganda. The thing I know about Uganda is only Idi Amin. I never knew Ugandan make a film so cool like this. It's cheap, crazy but so awesome stuff.

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
However, this is not the only thing impressed me. Later I know that this crazy Ugandan made that film in so amazing way...more badass than Rodriguez did! Amazingly they called their community (or studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Sounds like Wlingiwood? :D wow! This is cool!

I contacted the guy behind all of this...Isaac Godfrey Geoffrey or better known as Isaac Nabwana. We chat a little through facebook. Well...I think Isaac would be my next "Rodriguez" in spirit. His spirit I think....surpassed my spirit and maybe Rodriguez's also. Imagine! They made it in Uganda! Very minimum equipments but a lot of potential talents. 

Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Later in their facebook page, they offer to interview them for movie blog. I do have a blog about filmmaking (in Indonesian). So I answer that offer. I sent message to Nabwana and here is the result. Hope that we, all guerilla filmmakers, get big inspiration from this badass guy.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Hello, Brother. How are you and Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. We are good! Always working. But now we have new friends in Indonesia, and busy to see how we can destroy your country in movies. We only do that to friends.

Gugun: It's very amazing the job you did you know. I instantly become the fans of yours hahaha...well, Brother...how did this all begin? What inspire you to make a movie?

Nabwana: Really, it was my older brother. he would often sneak into video halls, were we watch movies in Uganda. i was too young but he would go and come back and tell me the stories. movies with action, stars like Buddy Spencer and Chuck Norris. I loved the way he told the stories and made me want to make movies.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you learn filmmaking? Who teach you special effects, operating camera, using softwares etc.?

Nabwana: It is not easy here in Uganda. Especially 9 years ago when i started. there were very few who had cameras and can teach. i took one month class in computer repair so i could build computers for editing, and worked very hard making bricks to afford a camera. really we taught ourselves. even software like After Effects. internet was poor so were few tutorials. 

Gugun: How do you make your film equipment such like slider, jib, tripod, lighting etc?

Nabwana: that is Dauda Bisaso, an action movie star here but also head builder. he makes all our guns, dolly, jibs, etc. we find scrap metal here in the ghettos, and just build. he finds a design maybe on the internet, and finds a way to make it better.

Gugun: How do you get your film talents? Do they have the same big passion as you?

Nabwana: we all have passion here. many come from very far in Ugandan to make action movies with us. not all of us even speak the same language, but we speak love of film. even Alan Ssali came from New York City to be part pf Wakaliwood

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you all guys learn Kungfu? Who train you? Are you athlete or something coz your Kungfu looks awesome! I know it because I've ever learn Kungfu also hahaha

Nabwana:Bukenya Charles is wakaliwood's Master Sifu. He is Bruce U (uganda's Bruce Lee) in Catain Alex, and Uncle Benon in Return of Uncle Benon (cooming soon). we are childhood friends and grew up together. but he loved kung fu more and i loved movies. he also taught himself by watching movies and magazines from China. now he is part and founder of Uganda's International Kung Fu Team and an action movie star with Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: What job do you do to make a living with your family? I know you have been married and have children. Is it difficult to maintain your filmmaking passion while you have to feed your family?

Nabwana: Our movies are made with passion, and vert little money. money is hard to find. for money i sometimes make music videos for musicians, or shoot a wedding or school graduation. it is not much money, but we get by. piracy makes selling films difficult here in Uganda.

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Tell me a little bit about your recent project and what cool thing you offer in that film?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA is going to be our 1st international film! we want fans of Wakaliwood and fans of action from all over the world to be part of the film. you can even be a ugandan action movie star without leaving home! just shoot yourselves dying and we put it in the movie. and it is FREE. you can become a Ugandan Action MOvie Star. in fact, some supa fans from indonesia have sent us themselves dying and we already are putting in movie. it is great! 


Gugun: What is your goal in the near future? Are you interested in international festival or what?

Nabwana: yes, we are interested in bringing our films to international, and having people from everywhere come to us in Uganda. but the challenge is money and a visa. we would like to go with our films to film festivals, but difficult to get visas, we have been invited, but so far cannot go.

Gugun: Big thanks, Brother. Now the last thing...could I, Gugun Ekalaya of Wlingiwood family, get your special photo. You photo yourself holding a paper with a message written like this..."From Isaac Nabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D It will be my treasure hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Terjemahan lepas Bahasa Indonesia di sini:
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/wawancara-dengan-isaac-nabwana-dari.html


See one of their film trailer here:


And this is mini documentary about Isaac Nabwana:





Baca

Moralitas Bikin Film

Suatu saat di kelas kuliah sastra, dosen saya bilang, “Apa sih gunanya baca Sastra? Dapat pelajaran moral?...ah bullshit! Baca sastra ya supaya ati kita seneng…”

Awalnya saya kurang paham apa yang dikatakan bu dosen berdarah Jepang yang tinggal sebagai Jawa di Solo itu. Pahamnya baru bertahun-tahun kemudian. Pemahaman itu menjelma menjadi semacam…hmmm begini….

Ketika saya sharing ama sekelompok kecil pelajar yang sangat pemula, pendamping mereka bilang ke anak-anak, “Coba tulis naskah yang baik, misalnya nilai moral yang disampaikan dalam film harus jelas…bla bla”. Lalu ketika mereka mendengarkan intruksi saya saya bilang gini…

“Dik, sebagai filmmaker pemula…jangan bicara dulu soal moral.”

Dengan saya bilang begini mungkin guru-guru atau orangtua langsung noleh….jeng! Jeng!

Dasar filmmaker ndeso ngajarin yang nggak bener!

Oke…gini. Saya nggak bilang bahwa bikinlah film yang bejat dan nggak bermoral.
Filmmaker pemula sebaiknya berlatih soal bertutur. Temukan keasyikan. Bangun passion dan…taste! Cita rasa.

Film superhero dedemit yang juga ngotbahin...tapi asyik.
Kredit gambar: cihaule/forum.indowebster.com

Dengan membangun filmmaking skill dan taste yang bagus, suatu saat otomatis film karya kita akan menyampaikan moralitas terdalam yang kita pegang.  Tanpa harus ngoyo berkotbah, nilai-nilai pribadi akan tersampaikan secara non verbal. Akan tetapi memang ada dua macam penonton…penonton yang merenung, dan penonton yang gagal paham. Yang gagal paham nggak usah diurusin. Di mata mereka kita selalu salah.

Yah, memang ada dua aliran dalam menyampaikan ide sih dalam menyampaikan nilai-nilai pribadi dalam film.

Yang pertama adalah film propaganda. Ini bisa ditemui di sinetron hidayah, film religi (nggak semuanya loh) dan juga film propagandanya Hitler. Cirinya…ngajarin orang, mengkotbahin orang dan menunjukkan secara langsung mana yang baik dan buruk. Dengan kata lain….”film bermoral” hehehe

Yang kedua adalah film perenungan. Ini ditemui pada film-film drama tematik soal tertentu. Misalnya Platoon (Oliver Stone 1986) adalah film perang yang sebenarnya anti perang. Children of God (Fernando Meirelles dan Katia Lund 2002) adalah film geng yang sebenarnya anti kekerasan. Meskipun lho ya…kedua film itu isinya visualisasi perang dan kekerasan.

Jadi kalo film ada adegan perang itu bukan berarti ngajarin perang. Beda ya ama film porno yang emang ngajarin porno. Beda juga ama film telanjang macam La Belle Noiseuse (Jacques Rivette 1991) yang bukan ngajarin porno.

Penonton emang sebaiknya bisa membedakan antara nilai dan kemasan. Butuh pemahaman berlapis dan merenung.

Kebetulan saya adalah aliran film perenungan.

Yang paling susah dengan penganut aliran macam saya adalah berhadapan dengan kaum moralis propagandis yang sering gagal paham dan sukar membedakan antara fiksi dan realitas.

Saya tidak mengecam mereka atau merendahkan mereka. Bagi saya mereka cukup imut dan lucu-lucu. Selama mereka tidak mencampuri kreativitas kita…it’s okey. Saya juga kadang nonton sinetron hidayah…saya terhibur jika lihat good guys never win atau the evil got punished dengan cara yang konyol. Judul-judulnya juga unyu dan antik.

Kembali soal moralitas tadi…

Tak ada yang saya salahkan dengan nilai moral (kecuali nilai itu merusak nilai-nilai positif yang lain). Namun saya sih lebih suka jika nilai itu disampaikan dengan cara yang keren dalam karya. Nggak verbal frontal. Kebetulan saya nggak suka dikotbahin. Bukan karena saya sok pinter. Saya cuman nggak cocok dengan semacam itu. Semoga anda nggak terlalu jauh menyimpulkan saya sebagai…penolak hidayah (heheeh…cie)

Untuk filmmaker pemula…bergelut aja dulu dengan teknik dan cara tutur (storytelling). Kalau karya kita emang bagus alias asyik…maka kita bisa kasih nilai apapun ke dalamnya. Asyiknya…penonton bahkan nggak sadar diinfus ama nilai itu. Ini kayak ngeracunin tanpa disadari. Atau tanpa sengaja pun nilai pribadi itu otomatis akan tercium dengan sendirinya.

Nilai pribadi itu kayak parfum (atau malah bangkai) dalam bungkusan lukisan seorang kreator. Kuwi bakal mambu….it’s gonna smell.


Terpikirkan nggak?
Suatu saat di kelas kuliah sastra, dosen saya bilang, “Apa sih gunanya baca Sastra? Dapat pelajaran moral?...ah bullshit! Baca sastra ya supaya ati kita seneng…”

Awalnya saya kurang paham apa yang dikatakan bu dosen berdarah Jepang yang tinggal sebagai Jawa di Solo itu. Pahamnya baru bertahun-tahun kemudian. Pemahaman itu menjelma menjadi semacam…hmmm begini….

Ketika saya sharing ama sekelompok kecil pelajar yang sangat pemula, pendamping mereka bilang ke anak-anak, “Coba tulis naskah yang baik, misalnya nilai moral yang disampaikan dalam film harus jelas…bla bla”. Lalu ketika mereka mendengarkan intruksi saya saya bilang gini…

“Dik, sebagai filmmaker pemula…jangan bicara dulu soal moral.”

Dengan saya bilang begini mungkin guru-guru atau orangtua langsung noleh….jeng! Jeng!

Dasar filmmaker ndeso ngajarin yang nggak bener!

Oke…gini. Saya nggak bilang bahwa bikinlah film yang bejat dan nggak bermoral.
Filmmaker pemula sebaiknya berlatih soal bertutur. Temukan keasyikan. Bangun passion dan…taste! Cita rasa.

Film superhero dedemit yang juga ngotbahin...tapi asyik.
Kredit gambar: cihaule/forum.indowebster.com

Dengan membangun filmmaking skill dan taste yang bagus, suatu saat otomatis film karya kita akan menyampaikan moralitas terdalam yang kita pegang.  Tanpa harus ngoyo berkotbah, nilai-nilai pribadi akan tersampaikan secara non verbal. Akan tetapi memang ada dua macam penonton…penonton yang merenung, dan penonton yang gagal paham. Yang gagal paham nggak usah diurusin. Di mata mereka kita selalu salah.

Yah, memang ada dua aliran dalam menyampaikan ide sih dalam menyampaikan nilai-nilai pribadi dalam film.

Yang pertama adalah film propaganda. Ini bisa ditemui di sinetron hidayah, film religi (nggak semuanya loh) dan juga film propagandanya Hitler. Cirinya…ngajarin orang, mengkotbahin orang dan menunjukkan secara langsung mana yang baik dan buruk. Dengan kata lain….”film bermoral” hehehe

Yang kedua adalah film perenungan. Ini ditemui pada film-film drama tematik soal tertentu. Misalnya Platoon (Oliver Stone 1986) adalah film perang yang sebenarnya anti perang. Children of God (Fernando Meirelles dan Katia Lund 2002) adalah film geng yang sebenarnya anti kekerasan. Meskipun lho ya…kedua film itu isinya visualisasi perang dan kekerasan.

Jadi kalo film ada adegan perang itu bukan berarti ngajarin perang. Beda ya ama film porno yang emang ngajarin porno. Beda juga ama film telanjang macam La Belle Noiseuse (Jacques Rivette 1991) yang bukan ngajarin porno.

Penonton emang sebaiknya bisa membedakan antara nilai dan kemasan. Butuh pemahaman berlapis dan merenung.

Kebetulan saya adalah aliran film perenungan.

Yang paling susah dengan penganut aliran macam saya adalah berhadapan dengan kaum moralis propagandis yang sering gagal paham dan sukar membedakan antara fiksi dan realitas.

Saya tidak mengecam mereka atau merendahkan mereka. Bagi saya mereka cukup imut dan lucu-lucu. Selama mereka tidak mencampuri kreativitas kita…it’s okey. Saya juga kadang nonton sinetron hidayah…saya terhibur jika lihat good guys never win atau the evil got punished dengan cara yang konyol. Judul-judulnya juga unyu dan antik.

Kembali soal moralitas tadi…

Tak ada yang saya salahkan dengan nilai moral (kecuali nilai itu merusak nilai-nilai positif yang lain). Namun saya sih lebih suka jika nilai itu disampaikan dengan cara yang keren dalam karya. Nggak verbal frontal. Kebetulan saya nggak suka dikotbahin. Bukan karena saya sok pinter. Saya cuman nggak cocok dengan semacam itu. Semoga anda nggak terlalu jauh menyimpulkan saya sebagai…penolak hidayah (heheeh…cie)

Untuk filmmaker pemula…bergelut aja dulu dengan teknik dan cara tutur (storytelling). Kalau karya kita emang bagus alias asyik…maka kita bisa kasih nilai apapun ke dalamnya. Asyiknya…penonton bahkan nggak sadar diinfus ama nilai itu. Ini kayak ngeracunin tanpa disadari. Atau tanpa sengaja pun nilai pribadi itu otomatis akan tercium dengan sendirinya.

Nilai pribadi itu kayak parfum (atau malah bangkai) dalam bungkusan lukisan seorang kreator. Kuwi bakal mambu….it’s gonna smell.


Terpikirkan nggak?
Baca

Tonggak-tonggak Sejarah Perfilman Dunia

-1830an
Ditemukannya Zoetrope, sebuah tabung dengan gambar berjajar di permukaan dalamnya. Jika diputar, maka gambar di dalam tabung terlihat seperti bergerak. Alat ini merupakan cikal bakal animasi yang kelak prinsip kerjanya dikembangkan jadi kamera film. Penemu berkebangsaan Perancis, Émile Reynaud lalu mengembangkan Zoetrope menjadi semacam proyektor sehingga bisa ditampilkan di layar. Kelak dia berhasil mengadakan pemutaran publik di Théâtre Optique, Paris pada tahun 1892, di mana ia memainkan gambar bergeraknya dengan durasi 15 menit.

Zoetrope oleh Milton Bradley and Company, sekitar tahun 1870
Zoetrope oleh Milton Bradley and Company, sekitar tahun 1870

-1870an
Fotografer Inggris, Eadweard Muybridge membuat percobaan dimana ia meletakkan 12 kamera berderet di sebuah lintasan kuda. Di lintasan itu ia pasang alat yang akan menyalakan kamera secara otomatis saat kuda melewati titik-titik tertentu. Hasilnya adalah sederet foto berurutan yang memperlihatkan proses kuda berlari. 

Eksperimen fotografi Eadweard Muybridge
Eksperimen fotografi Eadweard Muybridge

-1880an
Thomas Alva Edison menugaskan seorang pekerja Inggris, William K. L. Dickson, untuk membuat kamera yang mampu merekam gerakan dan alat untuk memutar hasilnya. Tahun 1891 Dickson berhasil membuat Kinetograph untuk merekam dan Kinetoscope untuk memutarnya.

Kinetoscope
Kinetoscope

-1895
Di Perancis Auguste dan Louis Lumière bersaudara mengembangkan karya Edison. Mereka mengembangkan alat yang lebih canggih bernama Cinématographe. Alat itu bisa merekam dan memutar hasilnya jika dihubungkan ke alat proyeksi. Pemutaran film perdana mereka dilakukan pada bulan Desember di Paris tahun 1895. Sejak saat itu, para penemu di negara lain juga berusaha mengembangkan kamera versi mereka sendiri.
Lumière bersaudara memegang peranan penting dalam sejarah film karena selain sebagai penemu, mereka juga merupakan pembuat film yang inovatif.

-1910an
Merupakan era film bisu. Di antaranya yang terkenal adalah film-film Charlie Chaplin.

-1920an
The Jazz Singer (1927), film bersuara pertama.

Al Jolson dalam The Jazz Singer
Al Jolson dalam The Jazz Singer

-1932
Film animasi berwarna pertama dipelopori oleh Walt Disney lewat film Flowers and Trees (1932),yang kemudian dilanjutkan dengan film animasi berwarna panjang pertama, Snow White and the Seven Dwarfs (1937). Sebenarnya eksperimen film berwarna sudah dimulai sejak tahun 1920, namun baru setelah tahun 1950an, film warna menjadi standar yang umum.


Snow White and The Seven Dwarfs

-1970 hingga 1990an
Revolusi penggunaan efek digital dalam film. Pengembangan teknologi animasi komputer yang telah dilakukan sejak tahun 1970an, membuat cara pembuatan film berubah. Efek-efek yang semula dilakukan manual dan berbiaya besar kini bisa dibuat dengan komputer. Star Wars (1977), Terminator 2 (1991) dan Jurassic Park (1993) merupakan film yang paling sukses menggunakan teknologi ini.

Terminator 2: Judgement Day
Terminator 2: Judgement Day


Jurassic Park
Jurassic Park



-1830an
Ditemukannya Zoetrope, sebuah tabung dengan gambar berjajar di permukaan dalamnya. Jika diputar, maka gambar di dalam tabung terlihat seperti bergerak. Alat ini merupakan cikal bakal animasi yang kelak prinsip kerjanya dikembangkan jadi kamera film. Penemu berkebangsaan Perancis, Émile Reynaud lalu mengembangkan Zoetrope menjadi semacam proyektor sehingga bisa ditampilkan di layar. Kelak dia berhasil mengadakan pemutaran publik di Théâtre Optique, Paris pada tahun 1892, di mana ia memainkan gambar bergeraknya dengan durasi 15 menit.

Zoetrope oleh Milton Bradley and Company, sekitar tahun 1870
Zoetrope oleh Milton Bradley and Company, sekitar tahun 1870

-1870an
Fotografer Inggris, Eadweard Muybridge membuat percobaan dimana ia meletakkan 12 kamera berderet di sebuah lintasan kuda. Di lintasan itu ia pasang alat yang akan menyalakan kamera secara otomatis saat kuda melewati titik-titik tertentu. Hasilnya adalah sederet foto berurutan yang memperlihatkan proses kuda berlari. 

Eksperimen fotografi Eadweard Muybridge
Eksperimen fotografi Eadweard Muybridge

-1880an
Thomas Alva Edison menugaskan seorang pekerja Inggris, William K. L. Dickson, untuk membuat kamera yang mampu merekam gerakan dan alat untuk memutar hasilnya. Tahun 1891 Dickson berhasil membuat Kinetograph untuk merekam dan Kinetoscope untuk memutarnya.

Kinetoscope
Kinetoscope

-1895
Di Perancis Auguste dan Louis Lumière bersaudara mengembangkan karya Edison. Mereka mengembangkan alat yang lebih canggih bernama Cinématographe. Alat itu bisa merekam dan memutar hasilnya jika dihubungkan ke alat proyeksi. Pemutaran film perdana mereka dilakukan pada bulan Desember di Paris tahun 1895. Sejak saat itu, para penemu di negara lain juga berusaha mengembangkan kamera versi mereka sendiri.
Lumière bersaudara memegang peranan penting dalam sejarah film karena selain sebagai penemu, mereka juga merupakan pembuat film yang inovatif.

-1910an
Merupakan era film bisu. Di antaranya yang terkenal adalah film-film Charlie Chaplin.

-1920an
The Jazz Singer (1927), film bersuara pertama.

Al Jolson dalam The Jazz Singer
Al Jolson dalam The Jazz Singer

-1932
Film animasi berwarna pertama dipelopori oleh Walt Disney lewat film Flowers and Trees (1932),yang kemudian dilanjutkan dengan film animasi berwarna panjang pertama, Snow White and the Seven Dwarfs (1937). Sebenarnya eksperimen film berwarna sudah dimulai sejak tahun 1920, namun baru setelah tahun 1950an, film warna menjadi standar yang umum.


Snow White and The Seven Dwarfs

-1970 hingga 1990an
Revolusi penggunaan efek digital dalam film. Pengembangan teknologi animasi komputer yang telah dilakukan sejak tahun 1970an, membuat cara pembuatan film berubah. Efek-efek yang semula dilakukan manual dan berbiaya besar kini bisa dibuat dengan komputer. Star Wars (1977), Terminator 2 (1991) dan Jurassic Park (1993) merupakan film yang paling sukses menggunakan teknologi ini.

Terminator 2: Judgement Day
Terminator 2: Judgement Day


Jurassic Park
Jurassic Park



Baca

19 Plot Device and Literary Techniques: Bikin cerita film kita lebih asyik

Plot device adalah, gampangnya, sesuatu yang berfungsi menggerakkan cerita. Semacam “alat” dalam bercerita untuk mengarahkan pikiran pembaca/pemirsa. Plot device bisa saja membuat cerita lebih menarik, asyik, nggak mudah ditebak atau justru malah bikin bosan. Semua tergantung cara penulis mengolah cerita.

Literary technique adalah cara atau teknik bercerita. Ada cara bercerita urut dari awal hingga akhir, ada pula cara bercerita dengan mencuplik bagian akhir, lalu ke awal kejadian kemudian lompat ke bagian lain dan sebagainya.


Untuk membuat cerita menarik, kita bisa menggunakan cara manapun dengan memanfaatkan plot device yang umum.

Berikut ini 19 plot device dan literary technique yang sering dipakai dalam film (atau novel juga sih). Fokus saya adalah film karena saya emang filmmaker dan ini adalah blog berbau film J Maka sengaja saya jadikan dalam satu daftar.

1)      Flashback: Menceritakan apa yang terjadi di masa silam yang penting bagi kejadian sekarang. Contoh film dimana ada flashback adalah di film Titanic ketika Rose bercerita masa lalunya di kapal Titanic.

2)      Reverse chronology: Bercerita dengan cara mundur. Misalnya beberapa bagian dalam film Memento karya Christopher Nolan.

3)      In medias res: Cerita bermula dari pertengahan cerita di mana banyak hal belum jelas akan diterangkan secara perlahan lewat flashback. Sementara itu cerita terus berjalan ke depan tanpa penonton tahu akhirnya bagaimana. Misalnya film Inception karya Christopher Nolan

4)      Flash forward: Menceritakan kejadian di masa depan yang kemudian diperinci proses menuju ke sananya. Misalnya film Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore.

5)      Non-linear: Cerita terbagi dalam fragmen acak sehingga penonton harus menghubungkan sendiri. Dipakai untuk menciptakan twist karena ada keping cerita belum terbaca pada awal. Umum di film detektif semacam Sherlock Holmes namun juga ada di film drama misalnya 500 Days of Summer karya Marc Webb.

6)      Narative hooks: Kunci cerita yang membuat penonton bertahan menikmati. Biasaya sangat terasa di serial TV. Misalnya serial Desperate Housewife. Setiap serial berakhir, pasti ada clue yang membuat kita seakan “terpaksa” menantikan kelanjutannya. Di film panjang (feature), adanya satu hal yang belum “selesai” membuat penonton merasa harus terus menonton hingga selesai.

7)      Foreshadowing ala Chekov Gun: Memperlihatkan sesuatu yang terlihat tak penting di awal cerita lalu tidak diceritakan lagi. Belakangan ternyata itu elemen yang vital di bagian lanjut cerita. Contohnya topi dalam film The Prestige karya Christopher Nolan.

8)      Frame story: Cerita dalam cerita. Contohnya kisah 1001 Malam.

9)      Ticking clock scenario: Cerita dimana waktu dibatasi bagi tokoh untuk menyelamatkan diri. Misalnya film Speed yang disutradarai Jan De Bont.

10)  Red herring/umpan palsu: Penonton diarahkan menuju satu kesimpulan yang nantinya bakal salah. Sering dipakai dalam film detektif atau thriller. Penonton dibawa percaya bahwa seorang tokoh merupakan pelaku kejahatan padahal sebenarnya pelakunya adalah orang lain. Misalnya film Scream karya Kevin Williamson.

11)  Deux Ex Machina: Semua masalah pelik dimentahkan dengan hadirnya orang ketiga yang menyelesaikan persoalan dengan gampangnya. Misalnya kehadiran Gandalf di saat genting dalam trilogi Lord of the Rings karya Peter Jackson.

12)  Cliffhanger: Cerita yang endingnya menggantung.

13)  Penghubung tak berguna/benang hijau/mata rantai yang copot: Satu hal atau benda yang menghubungkan banyak kejadian yang tak secara langsung berhubungan. Misalnya film Babel karya Alejandro González Iñárritu.

14)  Time loops: perulangan waktu yang mewujudkan kejadian baru. Misalnya film 12 Monkeys karya Terry Gilliam.

15)  Twist: Puntiran kejadian sehingga penonton jadi salah duga. Contoh film yang ada twist adalah A.I. yang disutradari Steven Spielberg.

16)  Anagnorisis: Ketika protagonis menyadari identitas sebenarnya dari dirinya yang merupakan penjelasan dari misteri-misteri di awal mula cerita. Misalnya film Fight Club karya David Fincher.

17)  Unreliable narrator: Adanya tokoh yang berbicara bohong di awal cerita, membawa penonton percaya itu adalah kejadian yang sedang terjadi dalam cerita. Contohnya film Usual Suspect yang disutradarai Bryan Singer.

18)  Peripeteia: Pembalikan nasib secara tiba-tiba namun logis sehingga menjadi semacam twist. Misalnya pembalikan nasib karakter utama dalam film Kungfu Hustle karya Stephen Chow.

19)  MacGuffin: Suatu hal yang menjadi motivasi karakter untuk dikejar. Bisa juga ia merupakan sebuah benda yang diburu oleh para pelaku cerita untuk menyelesaikan suatu misi. Hal ini menjadi penentu jalan cerita. Disebut juga plot coupons jika benda itu ada beberapa dan harus dijadikan satu agar berfungsi. Contohnya film Lord of The Rings (yang disatukan adalah cincin sakti) dan serial animasi Dragon Ball (yang disatukan adalah bola naga).

Nah, tujuan saya mengumpulkan 19 point ini adalah untuk membantu anda, penulis film indie, dalam membikin cerita yang semakin asyik. Karena saya adalah pembikin bukan kritikus, jadi jangan nanya judul film tertentu terus itu menggunakan teknik atau device yang mana ya hehehe...


Plot device adalah, gampangnya, sesuatu yang berfungsi menggerakkan cerita. Semacam “alat” dalam bercerita untuk mengarahkan pikiran pembaca/pemirsa. Plot device bisa saja membuat cerita lebih menarik, asyik, nggak mudah ditebak atau justru malah bikin bosan. Semua tergantung cara penulis mengolah cerita.

Literary technique adalah cara atau teknik bercerita. Ada cara bercerita urut dari awal hingga akhir, ada pula cara bercerita dengan mencuplik bagian akhir, lalu ke awal kejadian kemudian lompat ke bagian lain dan sebagainya.


Untuk membuat cerita menarik, kita bisa menggunakan cara manapun dengan memanfaatkan plot device yang umum.

Berikut ini 19 plot device dan literary technique yang sering dipakai dalam film (atau novel juga sih). Fokus saya adalah film karena saya emang filmmaker dan ini adalah blog berbau film J Maka sengaja saya jadikan dalam satu daftar.

1)      Flashback: Menceritakan apa yang terjadi di masa silam yang penting bagi kejadian sekarang. Contoh film dimana ada flashback adalah di film Titanic ketika Rose bercerita masa lalunya di kapal Titanic.

2)      Reverse chronology: Bercerita dengan cara mundur. Misalnya beberapa bagian dalam film Memento karya Christopher Nolan.

3)      In medias res: Cerita bermula dari pertengahan cerita di mana banyak hal belum jelas akan diterangkan secara perlahan lewat flashback. Sementara itu cerita terus berjalan ke depan tanpa penonton tahu akhirnya bagaimana. Misalnya film Inception karya Christopher Nolan

4)      Flash forward: Menceritakan kejadian di masa depan yang kemudian diperinci proses menuju ke sananya. Misalnya film Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore.

5)      Non-linear: Cerita terbagi dalam fragmen acak sehingga penonton harus menghubungkan sendiri. Dipakai untuk menciptakan twist karena ada keping cerita belum terbaca pada awal. Umum di film detektif semacam Sherlock Holmes namun juga ada di film drama misalnya 500 Days of Summer karya Marc Webb.

6)      Narative hooks: Kunci cerita yang membuat penonton bertahan menikmati. Biasaya sangat terasa di serial TV. Misalnya serial Desperate Housewife. Setiap serial berakhir, pasti ada clue yang membuat kita seakan “terpaksa” menantikan kelanjutannya. Di film panjang (feature), adanya satu hal yang belum “selesai” membuat penonton merasa harus terus menonton hingga selesai.

7)      Foreshadowing ala Chekov Gun: Memperlihatkan sesuatu yang terlihat tak penting di awal cerita lalu tidak diceritakan lagi. Belakangan ternyata itu elemen yang vital di bagian lanjut cerita. Contohnya topi dalam film The Prestige karya Christopher Nolan.

8)      Frame story: Cerita dalam cerita. Contohnya kisah 1001 Malam.

9)      Ticking clock scenario: Cerita dimana waktu dibatasi bagi tokoh untuk menyelamatkan diri. Misalnya film Speed yang disutradarai Jan De Bont.

10)  Red herring/umpan palsu: Penonton diarahkan menuju satu kesimpulan yang nantinya bakal salah. Sering dipakai dalam film detektif atau thriller. Penonton dibawa percaya bahwa seorang tokoh merupakan pelaku kejahatan padahal sebenarnya pelakunya adalah orang lain. Misalnya film Scream karya Kevin Williamson.

11)  Deux Ex Machina: Semua masalah pelik dimentahkan dengan hadirnya orang ketiga yang menyelesaikan persoalan dengan gampangnya. Misalnya kehadiran Gandalf di saat genting dalam trilogi Lord of the Rings karya Peter Jackson.

12)  Cliffhanger: Cerita yang endingnya menggantung.

13)  Penghubung tak berguna/benang hijau/mata rantai yang copot: Satu hal atau benda yang menghubungkan banyak kejadian yang tak secara langsung berhubungan. Misalnya film Babel karya Alejandro González Iñárritu.

14)  Time loops: perulangan waktu yang mewujudkan kejadian baru. Misalnya film 12 Monkeys karya Terry Gilliam.

15)  Twist: Puntiran kejadian sehingga penonton jadi salah duga. Contoh film yang ada twist adalah A.I. yang disutradari Steven Spielberg.

16)  Anagnorisis: Ketika protagonis menyadari identitas sebenarnya dari dirinya yang merupakan penjelasan dari misteri-misteri di awal mula cerita. Misalnya film Fight Club karya David Fincher.

17)  Unreliable narrator: Adanya tokoh yang berbicara bohong di awal cerita, membawa penonton percaya itu adalah kejadian yang sedang terjadi dalam cerita. Contohnya film Usual Suspect yang disutradarai Bryan Singer.

18)  Peripeteia: Pembalikan nasib secara tiba-tiba namun logis sehingga menjadi semacam twist. Misalnya pembalikan nasib karakter utama dalam film Kungfu Hustle karya Stephen Chow.

19)  MacGuffin: Suatu hal yang menjadi motivasi karakter untuk dikejar. Bisa juga ia merupakan sebuah benda yang diburu oleh para pelaku cerita untuk menyelesaikan suatu misi. Hal ini menjadi penentu jalan cerita. Disebut juga plot coupons jika benda itu ada beberapa dan harus dijadikan satu agar berfungsi. Contohnya film Lord of The Rings (yang disatukan adalah cincin sakti) dan serial animasi Dragon Ball (yang disatukan adalah bola naga).

Nah, tujuan saya mengumpulkan 19 point ini adalah untuk membantu anda, penulis film indie, dalam membikin cerita yang semakin asyik. Karena saya adalah pembikin bukan kritikus, jadi jangan nanya judul film tertentu terus itu menggunakan teknik atau device yang mana ya hehehe...


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA