CONTOH SKENARIO: SANDERA (2014)

Apakah teman-teman sudah nonton SANDERA, film kami tahun lalu? :)

Nah, buat teman-teman yang pingin baca skenarionya, nih saya bagi gratis. Ini adalah skenario film SANDERA. Tapi saat produksi ternyata ada kendala sehingga hasil akhir filmnya tak sama persis dengan yang di skenario. Silakan tonton dan bandingkan.

PERHATIAN:
Skenario bikinan saya ini NGGAK STANDAR INDUSTRI!
Skenario dalam format yang benar bisa kalian bikin lewat software scripwriting macam Final Draft, Celtx dll. Kenapa saya bikin aturan sendiri?
Pertama karena ini film bikinan saya sendiri dan nggak ada yang bayar saya untuk menulis secara bener hahahahaha
You know...I'm the director, D.O.P, cameraman, actor, stuntman, writer, SFX guy, fighting choreographer, editor etc. jadi ya saya bikin skenario sesuka-suka saya.

Perlu juga kalian tahu bahwa skenario ASLI-nya, adalah untuk film panjang (feature). Actionnya lebih banyak, karakternya lebih berkembang dan plotnya lebih kompleks. Versi pendek ini sebenarnya buat nyari produser yang mau ngembangin versi panjangnya.

DISCLAIMER:

Pemakaian naskah saya ini hanya boleh untuk maksud non komersil misalnya buat bahan belajar.
Saya tidak mengijinkan naskah ini:

-Diubah, apalagi diganti nama penulisnya
-Diakui sebagaib karya orang lain
-Diproduksi ulang dalam bentuk apapun. 
-Disebarkan lewat blog atau website pribadi. Penyebaran hanya boleh dengan mencantumkan link langsung dari blog ini.

Naskah ini sudah diproduksi dalam bentuk film dan saya pemegang hak ciptanya.
Macem-macem ama karya saya bakal gue sambit ama collapsible baton.

Oke, silakan dowloand skenario film pendek SANDERA

DI SINI! 

Tonton filmnya di sini:


Monggo juga "like" and "subscribe" channel-nya biar up to date karya-karya kami terbaru.
Keep PECICILAN ING PAKARYAN!

Apakah teman-teman sudah nonton SANDERA, film kami tahun lalu? :)

Nah, buat teman-teman yang pingin baca skenarionya, nih saya bagi gratis. Ini adalah skenario film SANDERA. Tapi saat produksi ternyata ada kendala sehingga hasil akhir filmnya tak sama persis dengan yang di skenario. Silakan tonton dan bandingkan.

PERHATIAN:
Skenario bikinan saya ini NGGAK STANDAR INDUSTRI!
Skenario dalam format yang benar bisa kalian bikin lewat software scripwriting macam Final Draft, Celtx dll. Kenapa saya bikin aturan sendiri?
Pertama karena ini film bikinan saya sendiri dan nggak ada yang bayar saya untuk menulis secara bener hahahahaha
You know...I'm the director, D.O.P, cameraman, actor, stuntman, writer, SFX guy, fighting choreographer, editor etc. jadi ya saya bikin skenario sesuka-suka saya.

Perlu juga kalian tahu bahwa skenario ASLI-nya, adalah untuk film panjang (feature). Actionnya lebih banyak, karakternya lebih berkembang dan plotnya lebih kompleks. Versi pendek ini sebenarnya buat nyari produser yang mau ngembangin versi panjangnya.

DISCLAIMER:

Pemakaian naskah saya ini hanya boleh untuk maksud non komersil misalnya buat bahan belajar.
Saya tidak mengijinkan naskah ini:

-Diubah, apalagi diganti nama penulisnya
-Diakui sebagaib karya orang lain
-Diproduksi ulang dalam bentuk apapun. 
-Disebarkan lewat blog atau website pribadi. Penyebaran hanya boleh dengan mencantumkan link langsung dari blog ini.

Naskah ini sudah diproduksi dalam bentuk film dan saya pemegang hak ciptanya.
Macem-macem ama karya saya bakal gue sambit ama collapsible baton.

Oke, silakan dowloand skenario film pendek SANDERA

DI SINI! 

Tonton filmnya di sini:


Monggo juga "like" and "subscribe" channel-nya biar up to date karya-karya kami terbaru.
Keep PECICILAN ING PAKARYAN!

Baca

Physical Acting: Akting yang menggunakan kecerdasan gerak tubuh

Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Baca

Ketika Talents dan Kru Susah Diajak Kerjasama

Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA