TENTANG GARDA WEBSERIES

GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


GARDA adalah webseries pertama bikinan saya. Saya belum tahu mau bikin berapa episode nanti. Sehabis bikin episode 1 saja saya belum punya cerita lanjutannya. Cerita biasanya saya dapat secara spontan dan mengalir.

GARDA saya bikin dengan konsep:

-Naskah tak lebih 5 halaman
-Talents tak lebih 5 orang
-Produksi tak lebih 5 hari
-Satu sesi syuting tak lebih 5 jam (ternyata pada prakteknya kami lebih nyaman dengan batas maskimal 3 jam)


Tujuannya adalah untuk melatih skill filmmaking saya. Soalnya kadang apa yang saya visi-kan sering ada gap sewaktu eksekusi. Dalam proses syuting yang sehari maksimal 3 jam, saya menerapkan teknik "run n gun". Datang, shoot, pergi. Kadang akting dan koreografi juga di-rehearse langsung di lokasi beberapa menit sebelum syuting. Sering saya tak melengkapi dengan aksesoris kamera seperti rig. Lampu sesekali saya gunakan. Tujuannya melatih kepekaan terhadap lokasi. Dengan meminimalisir alat, saya memaksimalkan kontrol fisik terhadap kamera, talents dan lokasi.

Cara ini biasanya dihindari dalam produksi profesional atau industrial. Karena saya tak berkepentingan dengan hal-hal itu, maka saya bebas saja memakai teknik minimalis saya. Toh paling-paling cuma dibully para penonton kalo hasilnya jelek hehehe

Dalam produksi GARDA, saya memaksimalkan cerita, akting dan koreografi. Hasil produksi perdana kemarin tentunya masih jauh dari harapan. Namun saya tertarik untuk menantang diri saya. Produksi 5 hari itu sebenarnya masih terasa "kelamaan" buat saya. Mungkin saya harus menciptakan cara untuk menstabilkan gambar namun tanpa seperangkat rig yang ribet. Toh meskipun saya menganut Cinéma vérité, ada beberapa adegan yang saya rasa nanti sebaiknya diambil secara smooth.

Jadi GARDA ini sebenarnya "sekolah film" buat saya pribadi. Sarana saya melatih "Kungfu" sinematografi dan filmmaking secara luas.

Yang saya suka dalam produksi ini adalah...rasanya saya begitu senang dan merdeka.

Tonton GARDA Episode Perdana di sini atau ikuti terus channel Javora Pictures.


Baca

SOAL SHAKY CAM ALIAS GAMBAR GOYANG

Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Shaky cam adalah salah satu teknik atau gaya sinematografi untuk memberi kesan tegang, spontan, gawat dan chaos. Teknik demikian sedikit bersinggungan dengan apa yang disebut dengan Cinéma vérité. Cinéma vérité adalah gaya film dokumenter yang mulai populer sejak tahun 60an di Perancis, di mana filmmaker merekam gambar serealistis mungkin. Mereka tak merekayasa pencahayaan, dialog dan setting. Semua dilakukan secara mentah. Bahkan kamera dipegang seadanya tanpa perabot pendukung yang ribet. Kalau kita tonton film-film yang masuk ke dalam Cinéma vérité tersebut akan terasa beda dengan jika kita nonton film-film yang gerakan kamera maupun audionya serba terkontrol. Cinéma vérité menyajikan gambaran yang mentah, kasar dan tak direka-reka. Nah salah satu ciri khas dari film beraliran Cinéma vérité itu adalah gambar yang shaky. Gaya tersebut saya bilang merupakan anti tesis terhadap gaya gambar yang terlalu tenang, diatur dan direkayasa. Umumnya para filmmaker mengontrol segenap pergerakan kamera sehingga gambar menjadi stabil.


Cinéma vérité dipelopori oleh filmmaker Perancis yang juga antropolog bernama Jean Rouch. Dia terpengaruh oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda (kebenaran film) dan juga oleh film-film Robert Flaherty. Tapi rupanya "racun" dari gaya Cinéma vérité ini nggak sebatas di film dokumenter. Teknik ala Cinéma vérité yaitu shaky cam tadi juga dipakai untuk film-film fiksi, terutama di film-film yang terpengaruh oleh gerakan "avant-garde" (soal ini suruh bahas orang lain aja yach...aku nggak kuattt). Beberapa orang yang ingin menggali lebih jauh potensi cara tutur visual (visual storytelling) kemudian mencoba meng"kasarkan" sinematografi mereka. Jadi film mereka terkesan nyata, seperti dokumenter. Beberapa film fiksi (non dokumenter) yang di dalamnya terdapat shaky cam antara lain Bourne Trilogy, Saving Private Ryan, Blair Witch Project, Following dan Cloverfield.


Kalau jaman sekarang ini sutradara yang memakai gaya tersebut antara lain Christopher Nolan (yang bikin Inception dan The Dark Knight Trilogy), Paul Greengrass (salah satu sutradara film Bourne) dan Gugun Ekalaya (cie hiahahaha) :p . Nggak cuma di film-film bioskop, gaya Cinéma vérité juga nular ke serial-serial TV. Jadi kalo kalian lihat sinetron kameranya dipegang handheld goyang-goyang gitu anggaplah mereka ketularan racun Cinéma vérité. Tapi perlu saya ingatkan kalau Cinéma vérité dengan shaky cam itu beda. Cinéma vérité biasanya gambarnya unstable, shaky namun semua yang shaky nggak selalu bisa disebut dengan Cinéma vérité. Yang mau saya bahas adalah soal shaky saja.

Umumnya shaky cam adalah hal yang ingin dihindari para filmmaker. Alasan utamanya adalah bahwa gambar yang goyang-goyang akan bikin penonton pusing. Kalau kita fokus pada isu kepusingan ini maka film-film 3D (stereographic), dan film-film dengan permainan cahaya berlebih mendapat masalah serupa. Tentu nggak semua orang nyaman kan nonton film 3D? Saya ingat ketika masih SMP orang-orang mengeluhkan tayangan anime Saint Seiya karena banyak adegan cahaya berkerlap-kerlap cepat. Lantas bagaimana jika gambar goyang alias shaky sebagai sebuah gaya? Atau sebagai sebuah teknik visual?

Dalam produksi film amatir atau indie, shaky cam yang terjadi tak selalu bisa dinamakan sebagai Cinéma vérité. Ada kalanya hal itu terjadi gara-gara kurang alat saja. Maunya gambar smooth tapi tak ada stabiliser buat kamera, jadilah shaky. Akan tetapi repotnya, ketika indie filmmaker memang sengaja menerapkan gaya Cinéma vérité lewat shaky cam, orang-orang lantas menghakiminya sebagai cacat. Saya rasa penilaian itu kadang terasa berlebihan. Goyang dikit dituduh sok Cinéma vérité, disuruh-suruh pakai tripod atau stabiliser padahal emang maunya filmmaker gambar terlihat "bernyawa". Baiklah...bagaimana seharusnya shaky cam itu digunakan?

Dalam penilaian saya yang mana bisa jadi cara ini hanya cocok untuk saya, shaky cam digunakan untuk:

1. Adegan-adegan yang bertujuan membangkitkan rasa disorientasi. Misalnya adegan laga. Tentu nggak semua adegan laga bisa kita terapkan cara ini. Kelemahan teknik ini adalah membuat detail koreografi laga tertutupi. Kadang beberapa filmmaker menggunakannya memang sengaja untuk menutupi kurangnya kemampuan aktornya.

2. Adegan-adegan yang tegang. Misalnya dalam film thriller. Adegan penguntitan akan terasa tegang beneran jika camera kita biarkan shaky.

3. Adegan-adegan dialog yang intens. Misalnya adegan dua orang yang bertengkar.

4. Adegan-adegan yang dimaksudkan untuk mengesankan "hidup", realis, tak terlalu "staged". Misalnya suasana cafe, warung dll.

5. Adegan gempa bumi....ya karena lebih susah menggoyang setting daripada menggoyang kameranya (ngiahahaha...guyon, Om...)

Menurut saya shaky is okay. Asalkan dalam porsi yang pas. Bagi saya gambar yang smooth aja malah bikin ngantuk. Jadi anggaplah shaky itu juga sama saja kayak smooth. Keduanya harus digunakan secara pas. Toh kita menilai film itu nggak bisa lewat sepotong scene aja, harus dalam lintasan waktu dan pengaliran cerita. Kalau masih tidak sreg dengan "pembelaan" saya terhadap shaky cam, silakan mendebat Om saya Christopeher Nolan dalam karyanya Following. Film ini banyak banget shaky cam-nya.


Tapiii...ada tapinya nih....Sebaiknya kita jangan lantas beralasan shaky sebagai pilihan jika sebenarnya itu cuman karena gak ada alat. Beda loh, antara shaky sebagai pilihan dengan shaky sebagai "kecerobohan" (meskipun kebetulan emang pas gak punya alat stabiliser).

Terakhir, mari kita agak bedakan antara "shaky" dengan "handheld". Di beberapa pembicaraan soal film, saya temukan kedua kata ini digunakan secara berbeda. Sebenarnya handheld itu teknik dan shaky itu hasil. Handheld itu tak harus shaky...hmmm ya shaky sih tapi tingkatnya ada bermacam-macam. Kamera yang shaky biasanya dipegang secara handheld alias langsung tanpa stabiliser. Sedangkan handheld bisa saja merupakan cara mengambil gambar yang tak terlalu smooth (stabilized) namun juga tak terlalu shaky (goyang parah).

Oke deh...plis gunakan shaky seperlunya dan seindahnya saja, namun juga jangan asal mencela tanpa tahu konsep filmmakingnya :)
Baca

PROPAGANDA HIPERNASIONALISME DALAM FILM KITA

Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Saya punya perasaan bahwa kita sebagai filmmaker lokal ini terlalu sering minder sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Lha kok bisa?

Gini...

Kita merasa nggak yakin sebagai "orang Indonesia" kalo nggak pake batik, nggak ngomong Indonesia, nggak mempromosikan pariwisata, nggak mengangkat nilai lokal...dll

Wait wait wait! "Kita"? Loe aja kaleee...
Nggak ah. Kowe yo ngono!

Hahahahhhh

Dalam keyakinan saya berkarya. Menjadi Indonesia adalah proses seumur zaman. Meskipun saya bikin film action, sci-fi, horror...jati diriku yang Indonesia mustinya sudah terasa dalam setiap gaya filmku, tanpa harus berkoar.."Inilah karya anak bangsa", "Inilah karya yang mengangkat kearifan lokal" dan bla bla bla... Idealnya begitu ya. Prakteknya entah nanti...yang penting kan ber-teori dulu hehe


Saya sih sepakat ama Joko Anwar kalo film itu ditonton ya karena emang bagus, bukan karena "solidaritas sesama bangsa" (widihhh)

Fenomena hipernasionalis ini terasa banget kalau kita simak komentar di social media ya...kalo ada aktor luar pakai unsur budaya kita, kita itu heboh banget. Misal (misalnya aja loh) ada Miyabi pakai batik, biasanya pada heboh di komentar. "Wow batik is from Indonesia. Bangga loh!" (BTW saya dulu denger isu Miyabi pake batik itu dari siapa ya? Ada yang inget?)

Kenapa ya orang Amerika nggak heboh sebaliknya? "Wow Indonesian loves SpongeBob! Wow Indonesia can speak English!"...bla bla blah...


Sementara itu identitas suatu negara itu kenapa bisa begitu kuat? Misalnya kalau kita nonton film Hollywood, Jepang, Iran dll. kita bisa merasa kalo film-film itu "mereka banget". Wow Amrik banget, wow njepang banget dll. Sementara mereka kan juga nggak selalu pake pakaian koboi untuk film Amerika, atau selalu promo-promo pakai kimono untuk film Jepang dll. Dengan kata lain, mereka nggak berusaha (secara "ngoyo") untuk beridentitas. Namun mereka menjadi wakil dari kebudayaan mereka sendiri.

Saya pikir sebagian orang kita memaknai nasionalisme itu terlalu sempit. Misalnya di lomba-lomba atau festival film pelajar, selalu ada kewajiban mengangkat kearifan lokal. Hasilnya kadang cuman film propaganda yang gagal. Kenapa gagal?

Nah, sekarang apa sih yang bikin film Indonesia dikenal di dunia?

Ternyata bukan Laskar Pelangi, bukan Ayat-Ayat Cinta kan?

Kenapa yang dikenal malah film yang "tidak mendidik" (ngiahahaha) kayak The Raid. Film apaan tuh? Isinya orang bunuh-bunuhan. Indonesianya mana?

Tapi ketika di Sundance, di Toronto dan festival film internasional lainnya orang-orang pada tahu kalau itu film Indonesia.

Jadi keindonesiaan kita dalam film, menurut saya dikenal lewat cara kita bertutur, bukannya apa yang kita tuturkan.

"Lohh Cak...kok ujung-ujunganya ngasih kesimpulan sendiri? Ngikut aliran propaganda berarti nih?"

Biarin hahaha aku wonge ncen ngene

Oiya nambah lagi... kalau The Raid itu katanya film Indonesia, dan dunia mengakuinya....kenapa kok sutradara dan D.O.P-nya orang bule? Emang nggak bisa pribumi bikin gitu?

Wuaduhhhh pitakonmu abottt, Mbahhhh! Hha ha ha (abis itu nangis trenyuh di pojokan).
Baca

FILM YANG MENCERAMAHI VS FILM YANG NGAJAK MERENUNG

Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Saya membagi cara menyampaikan gagasan dalam film itu ke dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan cara propaganda, yang kedua adalah dengan cara kontemplatif. Propaganda dan kontemplatif juga menjadi istilah yang saya pakai untuk menyebut jenis-jenis film tertentu.

Hayo ini film mana?

Film propaganda adalah jenis film yang mana pembuatnya sudah menyimpulkan "mana yang benar" dan "mana yang salah", serta bagaimana seharusnya sang tokoh bersikap. Misalnya film G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Sedangkan film kontemplatif adalah film yang menyodorkan satu hal atau kejadian untuk dijadikan bahan renungan bagi penonton. Film kontemplatif tidak membuat penilaian "benar dan salah" melainkan hanya menyodorkan konsekuensi dari sikap atau perbuatan tertentu. Kadang juga nggak menyajikan solusi. Kadang juga cuma menyodorkan kejadian sebagai kejadian. Salah satu contohnya adalah film Antichrist karya Lars Von Trier.

Kalo dalam bahasa gampangnya, film propaganda adalah film yang berceramah, kalau film kontemplatif adalah film yang mengajak merenung.

Nah yang namanya penggolongan biasanya mengambil hal-hal umum saja. Ada film-film yang secara visual mungkin tampak sebagai non propaganda tapi secara substansi adalah propaganda dari filmmakernya. Contoh terbaik adalah film-film karya Deddy Mizwar. Film-film Deddy Mizwar secara adegan tidak bisa dikatakan menceramahi, namun secara ideologis pasti itu mewakili relijiusitas Dedy Mizwar sebagai Muslim. Sama kayak Schindler List yang mewakili pandangan komunitas Yahudi lewat mata Steven Spelberg. Contoh lainnya adalah film Platoon karya Oliver Stone. Ini film anti perang tapi isinya isinya malah adegan perang.

Nah, anda termasuk yang mana? :)
Baca

FRIED RICE PRELUDE BAKAL CALON FILM TERBARU SAYA DI 2015

Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Di penghujung tahun 2015 saya dan teman-teman Wlingiwood ada rencana bikin film laga lagi. Judul yang saya pilih adalah FRIED RICE PRELUDE. Ceritanya tentang mantan pembunuh bayaran (kayak John Wick gitu) yang punya keahlian masak kayak Carl Jaspers dari film "Chef" (sutradara Jon Favreau). Orang-orang dari organisasi lamanya memburunya hingga ke kota kecil tempat ia sembunyi. Si chef pembunuh yang desertir ini buka warung kecil tapi laris. Nah, nanti bakal ada bantai-bantaian di warung yang sempit itu. Ada tembak-tembakan, ada banting, tusuk, gumul pokoknya ancur-ancuran. Beberapa film klasik saya tonton ulang sebagai referensi visual. Misalnya film-film karya John Woo, Quentin Tarantino, Jackie Chan, Sergio Leone, Sergio Corbucci, Jean-Pierre Melville dll.


Mungkin ada yang (lagi-lagi) nanya kenapa kok judulnya bahasa Inggris? Kok nggak nasionalis hehehe kayaknya saya perlu pamer kalau saya juga pernah bikin film berbahasa Jawa. Bahkan saya menggunakan huruf Jawa dalam credit title film saya. Sebenarnya sih namanya nasionalisme nggak harus mabok jargon kayak gitu. Mosok dari dulu nasionalisme cuma berwujud cosplay batik? Masa' nggak boleh mencintai negeri ini dengan cara berkarya non tradisi?


Ide judul FRIED RICE PRELUDE saya dapat dari nasi goreng yang saya makan bersama tim saya saat kegiatan syuting malam (BTW mangan sego goreng kuwi Indonesia banget to?). Selain itu sebelumnya saya juga berpikir bagaimana membuat sebuah film laga yang ada adegan masaknya. Kata PRELUDE berasal dari komposisi karya Bach favorit saya. "Prelude from Suite for Solo Cello No. 1", itulah judul komposisi yang sering saya mainkan dengan gitar saya jaman masih nge-kost di Jogja. Mau denger? KLIK DI SINI!

Sekarang saya sedang menggarap naskahnya yang udah sampai draft 3. Yang paling susah adalah menggarap adegan laganya. Maklum aja, naskahnya yang harus menyesuaikan kondisi kemampuan kita. Talent terbatas dan dana entah darimana. Saya bahkan bersiap terhadap kemungkinan terburuk dengan no budget. Ada lumayan banyak waktu untuk mempersiapkan produksi ini. Sekarang bulan Mei sedangkan saya berencana mengambil gambar bulan November.


Selama tenggat waktu ini saya dan tim berlatih, merekrut talents serta merekayasa naskah agar realistis untuk kami wujudkan. Kami ingin setidaknya FRIED RICE PRELUDE nantinya akan mengungguli standar yang kami capai di film SANDERA tahun lalu. Unggul dari segi cerita, akting, koreografi dan disain laga. Yah...kami usahakan.

Production video blog film ini bisa anda pantau di blog JAVORA Pictures DI SINI!

Atau bisa juga langsung ngobok-obok Youtube channelnya DI SINI!

Monggo mampir dan kita bisa ngobrol soal filmnya nanti.


Baca

TIPS BIKIN FILM BAGUS DENGAN KAMERA MURAH

Bikin film bagus dengan kamera murah?

"Oalah mas..mas...murah kok njaluk apik?"

Sori mungkin saya sedang menggurui saat ini ehehe.

Tips-tips untuk membuat film dengan kamera murah biar kelihatan bagus:

-Kamera murah bagaimanapun tak akan menghasilkan gambar se-"mencengangkan" kamera mahal. Maka kita harus memperkuat bagian lain yang tidak berurusan dengan kualitas gambar, misalnya: angle, editing dan efek suara.
-Kualitas video kamera murah biasanya udah "ancur" dari sononya, jadi sekalian aja kita bikin film dengan konsep film lawas atau rusak. Caranya? Mainkan pencahayaan sebaik-baiknya, kasih color black and white dan gunakan suara yang terdengar seperti radio lawas. Suara "rusak" begitu bisa kita rekam pake handphone murahan.
-Referensi yang bisa dipelajari untuk menentukan "look" filmnya adalah film-film noir, found footage atau film black and white jaman dulu.
-Yang tak tergantikan adalah cerita yang bagus digarap dengan taste yang bagus. Biasanya dua hal ini jarang bisa menyatu. Kadang terjadi punya cerita bagus tapi taste sutradaranya buruk, Kalau cerita jelek tapi taste penyutradaraannya bagus sih masih agak terbantu di style-nya. Btw saya mengutamakan taste di atas yang lain. Kalau anda nggak terima kita bahas lain kali hahaha

BTW film yang bagus itu gimana? Monggo dibaca DI SINI.

Sedikit kilas balik

Begitu lama saya menunggu teknologi menjadi murah untuk bikin film. Lama sekali sehingga akhirnya saya pinjam kamera sana-sini supaya bisa merasakan bagaimana rasanya merekam video. Saya sering sedih dengan kenyataan banyak anak-anak kaya punya kamera mahal tapi tidak dipakai secara kreatif. Di situ saya mulai menjadi semacam pemberontak kelaziman.


Suatu ketika saya punya KODAK C743. Hadiah ibu dari jaman kuliah. Harap diketahui ini adalah kamera kasta sudra dengan resolusi video cuma 640 X 480. Saya tanya teman saya yang lebih dulu paham soal video. Mungkinkah saya memakai kamera tersebut untuk bikin film?

Dia bilang TIDAK!

Lalu saya pakai kamera itu selama 6 tahun untuk berlatih film sampai sensornya rusak.
Saya pun selalu meyakinkan teman-teman untuk berkarya segera. Optimalkan apa yang ada. Berikut ini adalah film pendek yang saya bikin dengan kamera tadi.
-Gambar diambil dengan KODAK C743
-Voice over direkam pakai Oppo Find Piano
-Gitar direkam pakai protholan headset 40 ribuan dengan PC Pentium 4 RAM 512, software pake Adobe Audition 2.0
-Editing sebelumnya pakai Premiere pro 7 yang belum HD, kemudian diedit ulang di Premiere CS5.






Bikin film bagus dengan kamera murah?

"Oalah mas..mas...murah kok njaluk apik?"

Sori mungkin saya sedang menggurui saat ini ehehe.

Tips-tips untuk membuat film dengan kamera murah biar kelihatan bagus:

-Kamera murah bagaimanapun tak akan menghasilkan gambar se-"mencengangkan" kamera mahal. Maka kita harus memperkuat bagian lain yang tidak berurusan dengan kualitas gambar, misalnya: angle, editing dan efek suara.
-Kualitas video kamera murah biasanya udah "ancur" dari sononya, jadi sekalian aja kita bikin film dengan konsep film lawas atau rusak. Caranya? Mainkan pencahayaan sebaik-baiknya, kasih color black and white dan gunakan suara yang terdengar seperti radio lawas. Suara "rusak" begitu bisa kita rekam pake handphone murahan.
-Referensi yang bisa dipelajari untuk menentukan "look" filmnya adalah film-film noir, found footage atau film black and white jaman dulu.
-Yang tak tergantikan adalah cerita yang bagus digarap dengan taste yang bagus. Biasanya dua hal ini jarang bisa menyatu. Kadang terjadi punya cerita bagus tapi taste sutradaranya buruk, Kalau cerita jelek tapi taste penyutradaraannya bagus sih masih agak terbantu di style-nya. Btw saya mengutamakan taste di atas yang lain. Kalau anda nggak terima kita bahas lain kali hahaha

BTW film yang bagus itu gimana? Monggo dibaca DI SINI.

Sedikit kilas balik

Begitu lama saya menunggu teknologi menjadi murah untuk bikin film. Lama sekali sehingga akhirnya saya pinjam kamera sana-sini supaya bisa merasakan bagaimana rasanya merekam video. Saya sering sedih dengan kenyataan banyak anak-anak kaya punya kamera mahal tapi tidak dipakai secara kreatif. Di situ saya mulai menjadi semacam pemberontak kelaziman.


Suatu ketika saya punya KODAK C743. Hadiah ibu dari jaman kuliah. Harap diketahui ini adalah kamera kasta sudra dengan resolusi video cuma 640 X 480. Saya tanya teman saya yang lebih dulu paham soal video. Mungkinkah saya memakai kamera tersebut untuk bikin film?

Dia bilang TIDAK!

Lalu saya pakai kamera itu selama 6 tahun untuk berlatih film sampai sensornya rusak.
Saya pun selalu meyakinkan teman-teman untuk berkarya segera. Optimalkan apa yang ada. Berikut ini adalah film pendek yang saya bikin dengan kamera tadi.
-Gambar diambil dengan KODAK C743
-Voice over direkam pakai Oppo Find Piano
-Gitar direkam pakai protholan headset 40 ribuan dengan PC Pentium 4 RAM 512, software pake Adobe Audition 2.0
-Editing sebelumnya pakai Premiere pro 7 yang belum HD, kemudian diedit ulang di Premiere CS5.






Baca

MENJUAL FILM INDIE


Gagal Dulu

Siapa yang kayak saya?
Mimpi jadi filmmaker, filmnya diputer di bioskop, laris. Lalu ditawarin Hollywood bikin film di sono. Masuk media. Twitter dibanjiri follower jutaan. Kalau masuk TV dan majalah, nama tertulis… FILM DIRECTOR atau PRODUCER.

Anda punya mimpi gitu? Sekarang sampai di mana anda?

Oh anda ternyata sudah sesuatu? Anda sutradara terkenal sekarang. Oke bagi anda yang sukses tinggalkan baca ini! This is not for you.

Saya mau ngobrol ama yang gagal. Yang masih bikin film low budget, wara-wiri, alat telat upgrade bla bla…

Saya dedikasikan tulisan ini untuk para pejuang senasib dengan saya ngiahahaha…

Lagian nggak banyak kan orang terkenal yang mau bicara dan berbagi ama kita? Paling juga dicuekin kalo komen di medsos mereka.

Oke…mari kita berbagi dalam perjuangan.


Sekalipun punya mimpi semasa kecil untuk jadi filmmaker, sebenarnya saya nggak bisa membayangkan bikin film bisa menjadi pekerjaan. Yang bener aja hehee… saya nggak sekolah film, saya nggak punya kenalan produser, saya nggak punya duit buat modal buat produksi dan promosi. Gimana pula saya bisa jadi pengusaha film?

Ya memang banyak beredar kata-kata motivasi yang terlalu manis seperti:
“Tak ada yang tak mungkin dengan mimpimu.”
“Kerja keras suatu saat pasti berhasil.”
Kenyataannya dari jutaan orang bermimpi hanya puluhan yang berhasil. Dari ribuan yang kerja keras, hanya belasan yang berhasil. Lama-lama saya curiga semuanya itu karena faktor keberuntungan hehehe

Jujur aja lah…sering kan anda berusaha sangat keras tapi tetap aja gagal dan kalah?

Hanya saja adanya motivasi dari tokoh idola kita yang membuat rasa sakit itu hilang. Fungsinya mirip painkiller atau alkohol. Mabok dengan motivational quote dan kenyataan yang pahit terus berjalan. Kerasa nggak? Hahaha

So you really wannabe indie filmmaker in reality?


Kenyataan Menjadi Indie Filmmaker

Mari kita bicara soal kenyataan yang jujur dengan segala manis dan pahitnya. Saya persembahkan tulisan ini untuk para filmmaker indie yang sampai hari ini masih nekad, masih passion dan tak lelah untuk mencoba.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai indie filmmaker?

Indie tentu beda ama yang non-indie (major label). Saya pernah bahas soal makna indie di lain artikel. Ada macem-macem indie. Ada yang bujetnya juga milyaran…tetep disebut indie juga…jiancuk ya? Hiahahaha

Sementara itu kalao indie versi kita artinya “lebih kelam”…lebih dark…lebih pahittt.
Kita tak bisa terus menerus menipu diri bahwa ini soal passion bla bla bla…
Alat makin lama makin degradasi, turun nilai, kebutuhan juga naik…
You know…almarhum komputer saya yang dulu harganya jutaan terakhir saya jual cuman laku 300 ribu.
Mau nggak mau muncul pertanyaan…”mau kemana kita dengan film indie kita?”

Katakanlah anda sama kayak saya: nggak sekolah film (jadi nggak punya banyak koneksi perfilman), nggak punya modal produksi (atau mungkin kamera aja masih minjem), nggak paham seluk beluk industri. Saya nggak akan kasih tutorial “how to” lho ya…ini sekadar berbagi saja.

Di manapun konon kalau nggak punya modal gede dan koneksi maka kita nggak akan dapat duit dari film indie. That’s true. Bahkan di Hollywood para pelaku industri besar pun pada awalnya harus kerja sampingan buat hidup. Dalam kasus saya, saya nglatih film, ngajar les musik, nulis dan kadang nggambar buat dapet duit receh. Receh beneran ini!

Jadi untuk start awal, cari pekerjaan yang membuat diri anda nggak terlalu terbelenggu sehingga anda masih bisa kerja membangun mimpi anda. Soalnya kalau anda sudah kadung established atau mapan dengan penghasilan gedhe, ya udah lupakan mimpi. Saat anda mengalami itu artinya anda hanya bekerja demi uang. 

Di saat kita indie filmmaker kerja keras cuma dapet receh, seorang bitch kelas atas bisa dapet 80 juta sekali crot. Sangar ora kuwi? So make sure that this is not about money only.

Saya kerja serabutan kreatif, meski Cuma ngumpulin receh, hati saya bebas dan gerak saya luas. Sayangnya saya cukup telat memulai fokus. Kalau kamu masih usia belasan atau dua puluhan…THIS IS YOUR TIME! Karena kamu masih dalam masa TAK PERNAH RUGI MENCOBA SESUATU!


Menjual Film Indie

Secara teknis, susah sekali menjual film indie buatan kita secara langsung. Siapa pula yang mau nonton film tanpa artis terkenal dan minim production value? Kecuali bikin film saru. Semakin ndeso orang malah semakin penasaran ama film saru.

Anggaplah kita adalah filmmaker kebanyakan. Film kita hanya bernilai jual lokal alias yang nonton teman dan kita sendiri.

“Menjual film” bisa berarti menjual DVD-nya. Saya Cuma berhasil jual DVD film saya satu keping. Ojo ngguyu! Ini kan artinya menjual juga.
"Menjual film" juga bisa dengan mengikutkannya ke festival, berharap menang dan dideketin produser. Itu kalau film anda itu berkelas festival and enggak wagu banget.
“Menjual film” bisa berwujud pemutaran bertiket. Saya pernah melakukan ini bersama komunitas. Dapat receh masuk ke kas.
“Menjual film” bisa juga berupa penjualan merchandise terkait. Komunitas kami pernah bikin kaos untuk pemutaran film. Eh dari luar komunitas yang mau beli ternyata juga ada. Hanya ganti ongkos sablon. Nggak ada receh untuk ini. Kami bahagia melakukannya (cieeeee…)
“Menjual film” juga bisa dalam wujud menyediakan space iklan buat pihak lain. Kami pernah melakukannya. Hanya saja statusnya kayak-kayaknya lebih berbau amal daripada sebuah transaksi profesional hehehe
“Menjual film” juga bisa mengunggahnya di youtube lalu di-monetize. Saya juga melakukannya dan belum keliatan hasilnya hahaha….njut ngopo kok ngomong nek ora ono hasile?

Saya yakin ada buwanyaaaaak cara untuk menjual. This way, that way, another way bla bla bla…. Tapi bagi anda yang sudah mencobanya pasti nggak semudah itu kan? Pasti banyak trial and error, so many fails, so many unpatience…

Di situlah…kalau anda bisa bertahan dengan sekian banyak kegagalan dan anda tetap melakukannya…maka itu sebuah passion. Jadi nantinya kegagalan itu tidak lagi menjadi sebuah himpitan. Namun ia menjadi bagian dari perjalanan perjuangan. Saya berulang kali gagal. Saya berkali-kali menyerah. Tapi kenapa saya masih melakukannya?… (kalau dihitung-hitung ini sudah 10 tahunan saya mencoba)… karena inilah passion dan jati diri.

Artinya nanti orientasinya tak melulu menjadi sukses ala Mario Bros eh Teguh. Namun memaknai setiap langkah dalam perjuangan itu lah kita menemukan jati diri kita. Kalau gak salah Karl Marx, Jean-Paul Sartre atau siapa gitu pernah bilang kalau kita itu didefinisikan oleh pekerjaan kita, karya kita. Steve Jobs juga bilang kalau passion itu penentu utama keberhasilan. Karena perjuangan pastilah membosankan dan kebanyakan orang menyerah. Hanya dengan passion orang bertahan dan terus mencoba. 

Saya inget cerita bapak yang dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan. Waktu itu membayangkan merdeka aja jauh banget. Kita kalah senjata dan kemahiran. Pejuang nasional hanyalah orang-orang teguh dan terus berusaha. Maka paham banget saya hancurnya hati bapak kalau melihat hasil perjuangannya dikhianati oleh kimcil-kimcil peradaban banal jaman sekarang. Bapak..oh bapak...beliau juga nggak terlalu merestui saya sebagai indie filmmaker :D


Jadi karena to be indie filmmaker sebenarnya lebih berupa way of life…macem menjadi Samurai atau Shinobi…maka do it without only thinking about “duwit”.

Yang perlu dilakukan (menurut saya) adalah berusaha stabil secara ekonomi…which is susah juga ahahaha. Bikin usaha apa kek asal syuting tetep jalan. Temen saya nyuting manten, motret manten dll…saya nglatih, ngajar, nipu (eh ora ding… :p )

Mungkin nggak perlu jadi kaya dulu (jiancuk pait tenan noh, cak hahaha)…cukup stabil aja buat berkarya. Karena manusia itu ada dua: Kreator dan Imitator. Kreator memaknai hidup dengan berkarya kreatif. Imitator melanjutkan hidup sebagaimana imitator sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnyaaaa….

Bagi kreator bekerja bahagia itu penting, bagi imitator hidup sebagaimana sebelumnya hidup itu penting.

Sebenarnya sih enak lho jadi imitator. Standar kebahagiaan mereka sederhana. Mereka tak pernah melakukan hijrah spiritual. Mereka Cuma bekerja, berkembangbiak lalu mati. Lalu keturunannya juga seperti itu sampai kiamat.

Jadi kreator itu menyedihkan. Gampang nggak puas dengan apa yang diterima. Selalu kritis. Cerewet ama anugrah yang jelas ada. Nggak mau menjalani hidup sebagai binatang berkecerdasan. Susah banget kan….

Menjadi filmmaker yang sukses

Kita bisa menjadi indie selamanya tapi tentu nggak bisa terus miskin selamanya kan?

Jadi mencari kekayaan dengan berkarya itu dua hal yang berbeda.  Memang ada yang cukup beruntung bisa memadukannya namun kebanyakan tidak. Buktinya banyak yang ketika sudah kaya…berhenti berkarya.

Teruskan berjuang menjadi indie filmmaker..tapi juga berupaya memperbaiki ekonomi. Ada yang melakukannya dengan buka usaha sampingan, ada yang menjadi pegawai di tempat lain. Ada banyak cara namun saya bukan orang yang tepat untuk kasih tutorial enterpreneurship.

Kalau memang sedang gagal ya akui saja!

Tak perlu berbuih-buih dengan kata-kata manis bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya gagal dan saya masih bertarung akan kedengaran lebih realistis hahaha masalahnya adalah mengubah paradigma dari GAGAL=HANCUR menuju GAGAL=BAGIAN DARI PERMAINAN. Jika paradigma menjadi gagal adalah bermain, itu bakal asyik. Pahit, sakit tapi asyik.

Berdasarkan THE FACT bahwa sekarang saya gagal (dan saya mengakuinya) itulah saya tulis artikel ini. Jadi anda semua akan tahu bahwa yang namanya kegagalan tidak musti melulu dikubur. Gagal is our best friend J

Jadi saya sekarang mendefinisikan ulang…gagal adalah nothing. Saya bermain dan enjoy. Ketika gagal sudah tak ada maka sukses bukan tujuan.

Tujuan saya adalah berbahagia dengan bermain, berjuang menuju ke satu pencapaian. Terserah itu mau dinamain apa. Mau dinamain sukses kek…mau dinamain gagal kek…masa bodoh lah :D
Saya juga mau kaya. Tapi itu tidak saya sebut sukses. Kaya hanya satu jalan untuk berbahagia…bukan satu-satunya.

Dan kelak jika saya sampai di satu titik itu….ingatkan saya untuk terus berbagi tanpa kesombongan.

BTW ngg ..nganu, Guys.…isi dompet kalian berapa ya sekarang? Sama gak ya dengan punyaku? Hiakhakahakahakhak….

(selepas nulis ini sang sutradara kemudian nangis di pojokan.)



Gagal Dulu

Siapa yang kayak saya?
Mimpi jadi filmmaker, filmnya diputer di bioskop, laris. Lalu ditawarin Hollywood bikin film di sono. Masuk media. Twitter dibanjiri follower jutaan. Kalau masuk TV dan majalah, nama tertulis… FILM DIRECTOR atau PRODUCER.

Anda punya mimpi gitu? Sekarang sampai di mana anda?

Oh anda ternyata sudah sesuatu? Anda sutradara terkenal sekarang. Oke bagi anda yang sukses tinggalkan baca ini! This is not for you.

Saya mau ngobrol ama yang gagal. Yang masih bikin film low budget, wara-wiri, alat telat upgrade bla bla…

Saya dedikasikan tulisan ini untuk para pejuang senasib dengan saya ngiahahaha…

Lagian nggak banyak kan orang terkenal yang mau bicara dan berbagi ama kita? Paling juga dicuekin kalo komen di medsos mereka.

Oke…mari kita berbagi dalam perjuangan.


Sekalipun punya mimpi semasa kecil untuk jadi filmmaker, sebenarnya saya nggak bisa membayangkan bikin film bisa menjadi pekerjaan. Yang bener aja hehee… saya nggak sekolah film, saya nggak punya kenalan produser, saya nggak punya duit buat modal buat produksi dan promosi. Gimana pula saya bisa jadi pengusaha film?

Ya memang banyak beredar kata-kata motivasi yang terlalu manis seperti:
“Tak ada yang tak mungkin dengan mimpimu.”
“Kerja keras suatu saat pasti berhasil.”
Kenyataannya dari jutaan orang bermimpi hanya puluhan yang berhasil. Dari ribuan yang kerja keras, hanya belasan yang berhasil. Lama-lama saya curiga semuanya itu karena faktor keberuntungan hehehe

Jujur aja lah…sering kan anda berusaha sangat keras tapi tetap aja gagal dan kalah?

Hanya saja adanya motivasi dari tokoh idola kita yang membuat rasa sakit itu hilang. Fungsinya mirip painkiller atau alkohol. Mabok dengan motivational quote dan kenyataan yang pahit terus berjalan. Kerasa nggak? Hahaha

So you really wannabe indie filmmaker in reality?


Kenyataan Menjadi Indie Filmmaker

Mari kita bicara soal kenyataan yang jujur dengan segala manis dan pahitnya. Saya persembahkan tulisan ini untuk para filmmaker indie yang sampai hari ini masih nekad, masih passion dan tak lelah untuk mencoba.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai indie filmmaker?

Indie tentu beda ama yang non-indie (major label). Saya pernah bahas soal makna indie di lain artikel. Ada macem-macem indie. Ada yang bujetnya juga milyaran…tetep disebut indie juga…jiancuk ya? Hiahahaha

Sementara itu kalao indie versi kita artinya “lebih kelam”…lebih dark…lebih pahittt.
Kita tak bisa terus menerus menipu diri bahwa ini soal passion bla bla bla…
Alat makin lama makin degradasi, turun nilai, kebutuhan juga naik…
You know…almarhum komputer saya yang dulu harganya jutaan terakhir saya jual cuman laku 300 ribu.
Mau nggak mau muncul pertanyaan…”mau kemana kita dengan film indie kita?”

Katakanlah anda sama kayak saya: nggak sekolah film (jadi nggak punya banyak koneksi perfilman), nggak punya modal produksi (atau mungkin kamera aja masih minjem), nggak paham seluk beluk industri. Saya nggak akan kasih tutorial “how to” lho ya…ini sekadar berbagi saja.

Di manapun konon kalau nggak punya modal gede dan koneksi maka kita nggak akan dapat duit dari film indie. That’s true. Bahkan di Hollywood para pelaku industri besar pun pada awalnya harus kerja sampingan buat hidup. Dalam kasus saya, saya nglatih film, ngajar les musik, nulis dan kadang nggambar buat dapet duit receh. Receh beneran ini!

Jadi untuk start awal, cari pekerjaan yang membuat diri anda nggak terlalu terbelenggu sehingga anda masih bisa kerja membangun mimpi anda. Soalnya kalau anda sudah kadung established atau mapan dengan penghasilan gedhe, ya udah lupakan mimpi. Saat anda mengalami itu artinya anda hanya bekerja demi uang. 

Di saat kita indie filmmaker kerja keras cuma dapet receh, seorang bitch kelas atas bisa dapet 80 juta sekali crot. Sangar ora kuwi? So make sure that this is not about money only.

Saya kerja serabutan kreatif, meski Cuma ngumpulin receh, hati saya bebas dan gerak saya luas. Sayangnya saya cukup telat memulai fokus. Kalau kamu masih usia belasan atau dua puluhan…THIS IS YOUR TIME! Karena kamu masih dalam masa TAK PERNAH RUGI MENCOBA SESUATU!


Menjual Film Indie

Secara teknis, susah sekali menjual film indie buatan kita secara langsung. Siapa pula yang mau nonton film tanpa artis terkenal dan minim production value? Kecuali bikin film saru. Semakin ndeso orang malah semakin penasaran ama film saru.

Anggaplah kita adalah filmmaker kebanyakan. Film kita hanya bernilai jual lokal alias yang nonton teman dan kita sendiri.

“Menjual film” bisa berarti menjual DVD-nya. Saya Cuma berhasil jual DVD film saya satu keping. Ojo ngguyu! Ini kan artinya menjual juga.
"Menjual film" juga bisa dengan mengikutkannya ke festival, berharap menang dan dideketin produser. Itu kalau film anda itu berkelas festival and enggak wagu banget.
“Menjual film” bisa berwujud pemutaran bertiket. Saya pernah melakukan ini bersama komunitas. Dapat receh masuk ke kas.
“Menjual film” bisa juga berupa penjualan merchandise terkait. Komunitas kami pernah bikin kaos untuk pemutaran film. Eh dari luar komunitas yang mau beli ternyata juga ada. Hanya ganti ongkos sablon. Nggak ada receh untuk ini. Kami bahagia melakukannya (cieeeee…)
“Menjual film” juga bisa dalam wujud menyediakan space iklan buat pihak lain. Kami pernah melakukannya. Hanya saja statusnya kayak-kayaknya lebih berbau amal daripada sebuah transaksi profesional hehehe
“Menjual film” juga bisa mengunggahnya di youtube lalu di-monetize. Saya juga melakukannya dan belum keliatan hasilnya hahaha….njut ngopo kok ngomong nek ora ono hasile?

Saya yakin ada buwanyaaaaak cara untuk menjual. This way, that way, another way bla bla bla…. Tapi bagi anda yang sudah mencobanya pasti nggak semudah itu kan? Pasti banyak trial and error, so many fails, so many unpatience…

Di situlah…kalau anda bisa bertahan dengan sekian banyak kegagalan dan anda tetap melakukannya…maka itu sebuah passion. Jadi nantinya kegagalan itu tidak lagi menjadi sebuah himpitan. Namun ia menjadi bagian dari perjalanan perjuangan. Saya berulang kali gagal. Saya berkali-kali menyerah. Tapi kenapa saya masih melakukannya?… (kalau dihitung-hitung ini sudah 10 tahunan saya mencoba)… karena inilah passion dan jati diri.

Artinya nanti orientasinya tak melulu menjadi sukses ala Mario Bros eh Teguh. Namun memaknai setiap langkah dalam perjuangan itu lah kita menemukan jati diri kita. Kalau gak salah Karl Marx, Jean-Paul Sartre atau siapa gitu pernah bilang kalau kita itu didefinisikan oleh pekerjaan kita, karya kita. Steve Jobs juga bilang kalau passion itu penentu utama keberhasilan. Karena perjuangan pastilah membosankan dan kebanyakan orang menyerah. Hanya dengan passion orang bertahan dan terus mencoba. 

Saya inget cerita bapak yang dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan. Waktu itu membayangkan merdeka aja jauh banget. Kita kalah senjata dan kemahiran. Pejuang nasional hanyalah orang-orang teguh dan terus berusaha. Maka paham banget saya hancurnya hati bapak kalau melihat hasil perjuangannya dikhianati oleh kimcil-kimcil peradaban banal jaman sekarang. Bapak..oh bapak...beliau juga nggak terlalu merestui saya sebagai indie filmmaker :D


Jadi karena to be indie filmmaker sebenarnya lebih berupa way of life…macem menjadi Samurai atau Shinobi…maka do it without only thinking about “duwit”.

Yang perlu dilakukan (menurut saya) adalah berusaha stabil secara ekonomi…which is susah juga ahahaha. Bikin usaha apa kek asal syuting tetep jalan. Temen saya nyuting manten, motret manten dll…saya nglatih, ngajar, nipu (eh ora ding… :p )

Mungkin nggak perlu jadi kaya dulu (jiancuk pait tenan noh, cak hahaha)…cukup stabil aja buat berkarya. Karena manusia itu ada dua: Kreator dan Imitator. Kreator memaknai hidup dengan berkarya kreatif. Imitator melanjutkan hidup sebagaimana imitator sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnyaaaa….

Bagi kreator bekerja bahagia itu penting, bagi imitator hidup sebagaimana sebelumnya hidup itu penting.

Sebenarnya sih enak lho jadi imitator. Standar kebahagiaan mereka sederhana. Mereka tak pernah melakukan hijrah spiritual. Mereka Cuma bekerja, berkembangbiak lalu mati. Lalu keturunannya juga seperti itu sampai kiamat.

Jadi kreator itu menyedihkan. Gampang nggak puas dengan apa yang diterima. Selalu kritis. Cerewet ama anugrah yang jelas ada. Nggak mau menjalani hidup sebagai binatang berkecerdasan. Susah banget kan….

Menjadi filmmaker yang sukses

Kita bisa menjadi indie selamanya tapi tentu nggak bisa terus miskin selamanya kan?

Jadi mencari kekayaan dengan berkarya itu dua hal yang berbeda.  Memang ada yang cukup beruntung bisa memadukannya namun kebanyakan tidak. Buktinya banyak yang ketika sudah kaya…berhenti berkarya.

Teruskan berjuang menjadi indie filmmaker..tapi juga berupaya memperbaiki ekonomi. Ada yang melakukannya dengan buka usaha sampingan, ada yang menjadi pegawai di tempat lain. Ada banyak cara namun saya bukan orang yang tepat untuk kasih tutorial enterpreneurship.

Kalau memang sedang gagal ya akui saja!

Tak perlu berbuih-buih dengan kata-kata manis bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya gagal dan saya masih bertarung akan kedengaran lebih realistis hahaha masalahnya adalah mengubah paradigma dari GAGAL=HANCUR menuju GAGAL=BAGIAN DARI PERMAINAN. Jika paradigma menjadi gagal adalah bermain, itu bakal asyik. Pahit, sakit tapi asyik.

Berdasarkan THE FACT bahwa sekarang saya gagal (dan saya mengakuinya) itulah saya tulis artikel ini. Jadi anda semua akan tahu bahwa yang namanya kegagalan tidak musti melulu dikubur. Gagal is our best friend J

Jadi saya sekarang mendefinisikan ulang…gagal adalah nothing. Saya bermain dan enjoy. Ketika gagal sudah tak ada maka sukses bukan tujuan.

Tujuan saya adalah berbahagia dengan bermain, berjuang menuju ke satu pencapaian. Terserah itu mau dinamain apa. Mau dinamain sukses kek…mau dinamain gagal kek…masa bodoh lah :D
Saya juga mau kaya. Tapi itu tidak saya sebut sukses. Kaya hanya satu jalan untuk berbahagia…bukan satu-satunya.

Dan kelak jika saya sampai di satu titik itu….ingatkan saya untuk terus berbagi tanpa kesombongan.

BTW ngg ..nganu, Guys.…isi dompet kalian berapa ya sekarang? Sama gak ya dengan punyaku? Hiakhakahakahakhak….

(selepas nulis ini sang sutradara kemudian nangis di pojokan.)


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA