KETIKA KITA BOSAN KARENA PRODUKSI NGGAK KELAR-KELAR

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Pernah nggak ngalamin produksi film yang karena terlalu lama rampungnya akhirnya jadi males? Gairah menggarapnya sudah tak sekencang awalnya atau bahkan proyek yang mustinya tinggal sedikit aja jadi malah mangkrak?


Sering saya ngalamin gitu. Produksi yang nggak kelar-kelar akhirnya kita jadi bosen. Apalagi ide-ide baru terus muncul dan menggoda untuk digarap juga.

Kalo terjadi gitu biasanya sih yang bermasalah adalah pra produksinya. Kita nggak bener-bener tepat merancang produksi. Sehingga terjadi kekacauan saat produksi. Konon produksi film itu kayak argo taksi. Semakin kita nggak efisien, maka biaya yang keluar akan makin banyak. Bukan cuma biaya, energi kita-ibarat baterai-akan menyusut secara gradual.

Cara produksi yang bener itu emang ada standarnya. Akan tetapi cara itu tak seluruhnya akan bisa klop untuk diterapkan pada produksi indie low budget. Maka kita harus cermat mengadaptasinya untuk kebutuhan kita. Mana yang efisien bisa kita pakai, mana yang kurang aplikatif (untuk tim kita) bisa ditinggalkan.

Saya biasanya nggarap satu film indie durasi 25an menit dalam jangka waktu 3 bulan (total). Itu nggak termasuk ngolah idenya. Ngolah ide bisa setaun lebih, Om. Ini karena saya cuma bisa mengontrol 25 persen saja dari seluruh potensi kru dan talent. Lha wong ora ono duite mosok saya bisa ngontrol lebih? Ha ha ha masing-masing dari kami juga punya acara, agenda dan tanggungan kerjaan di luar syuting lah....

Saya musti berhati-hati juga mengontrol energi kami selama bikin. Soalnya kalo kelamaan, energi itu akan susut dan malah bisa ilang. Ketika filmnya jadi, rasanya kegembiraannya tidak seperti awal-awalnya. Semakin tua umur, tingkat energi itu lebih susut lagi. Jarang kita bisa tahan bikin film indie (no budget) yang durasinya di atas 10 menit. Kami di Wlingiwood dulu bisa bikin film durasi satu jam (selama 6 bulan total). Kini kami cuma mampu bikin 25-an menit kuwi wis pol hehe

Jadi sekarang gimana nih cara mengatur energi kita biar terus deras dan semburannya kenceng?
Gimana agar kita punya semacam perpetual passion, suatu hasrat berkarya yang berkesinambungan? Hasrat kalo gak segera tergapai kan juga bisa ilang karena kelamaan...teman saya ada yang 2 - 3 tahunan pingin jadi aktor tapi gak bisa-bisa akhirnya passionnya ilang sama sekali.

-Duit! (Huuuuuu!) Ya jelas lah kalo dibayar kita akan selalu semangat. Jadi selama ini kita nggarap tanpa duit itu kalo dilihat dari sisi ekonomi emang kebodohan luar biasa hahaha. Jiancuk. Tanpa kebodohan kami gak bakal ada yang mulai bikin film tauk!

-Kontrol produksi dengan perencanaan yang bagus. Belajar sama mahasiswa ISI ato IKJ ato sekolah film lainnya soal produksi.

-Get positive response. Kalo karya dipuji kita pasti akan semakin semangat bikin lagi. Namun ini bisa jadi racun juga. Terlalu puas karena pujian membuat kita buta terhadap kekurangan. Sementara kritik berlebihan juga bisa bikin seseorang kapok berkarya. Jadi pilihlah kritik yang perlu anda dengar dan anda ludahin eh maksud saya abaikan ehehe

Apa alasan anda berkarya? Uang? Ketenaran? Passion? Apapun tujuan anda itulah hal yang menentukan level energi anda.
Kalau berkarya demi uang maka semakin besar uangnya anda akan semakin kencang berkarya. Banyak orang sesudah kaya berhenti berkarya.
Kalau berkarya biar tenar maka semakin terkenal anda maka akan semakin santer berkarya. Hmmm ada gak ya yang banyak berkarya lantas jadi terkenal?
Kalau berkarya semata-mata passion maka anda tak akan terpengaruh hal lain dalam berkarya.

Saya nggak ngomongin mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Anyway bagus juga jika anda sudah passion dapet uang terus tenar juga. Karya anda pada hakikatnya menunjukkan jati diri anda. Makanya saya berkarya itu tak lain adalah sebuah jalan mencapai "diri saya". I define myself through my opus. Bau-bau eksistensialisme ya? Hahaha

Wis...saiki ndang dicandhak kameramu njut nggaweo taek siji loro sing asyik ditonton kono. Take your fucking camera and make some shit to entertain us! Wuahahahahah

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA