Hargailah Karya Koncomu Dhewe!

Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Pada tahun 2010, setelah menanti luamaaaaa sejak kecil, akhirnya saya kelakon bikin film panjang untuk pertamakali. Durasinya lebih dari 60 menit. Film itu melibatkan murid-murid binaan saya, rekan senior guru dan anggota komunitas. Film itu kemudian kami putar di komunitas maupun di sekolah. Bahkan sempat bikin bioskop-bioskopan dengan menjual tiket. Kami semua yang membuatnya sangat senang. Film rampung dan kita semua bersorak ketika diputar di layar. Akan tetapi kegembiraan saya pribadi tidak berlangsung lama. Ketika diputar untuk penonton luar komunitas maupun sekolah, mulailah saya mendengar suara orang mengeritik.

“Itu film kok aneh? Sutradaranya siapa sih? Kok lemah banget?”


Saya lalu tersadarkan bahwa bikin karya itu tak semata-mata untuk golongan sendiri. Penonton takkan mau tau kesusahan kami berbulan-bulan menggarapnya. Mereka tak mau tahu kondisi komputer editing saya yang mengenaskan, mereka tak mau tahu saya pake kamera pinjaman dll. Pokoknya penonton harus dibahagiakan dan tak mau tahu. Nyebelin nggak tuh?

Yah sebel lah…tapi sejak saat itu saya mulai memperbaiki paradigma berkarya.

Lalu saya ingat-ingat dan timbang-timbang. Jujur aja karya saya waktu itu emang parah dari segala aspek. Skenario lemah, karakterisasi lemah, action design juga lemah. Wagu kalo orang Jawa bilang. So tasteless. Mau gimana coba seni tanpa taste?

Ketika kita berkarya, kita hanya bisa bergantung pada kualitas karya itu sendiri. Film kalo bagus ya bagus, jelek ya jelek. Penonton tak perlu tahu rahasia dapur kita. Apakah saya pake kamera murahan, mahalan dikit, pinjaman, colongan dll.? Penonton gak mau dan kayaknya juga gak perlu tahu. They don't give it a damn. In my opinion lho….

Saya kalo nonton film yang kemudian saya anggap bagus, saya gak peduli itu pake alat apa bikinnya. Saya peduli ama karakter dan ceritanya. Karena saya mencari kisah, bukan review gadget.
Maka kalo bikin film, saya seharusnya benar-benar mengolah kualitas film agar penonton suka. 

Saya mustinya tak menjual penderitaan produksi dengan berkata,

“Tontonlah film kreasi koncomu dhewe iki. Ini bujetnya nol, ini kameranya murah dan bla bla bla…”

Karena nanti para penonton jadi nggak tulus. Nanti mereka nonton karena itu bikinan koncone dhewe. Atau mereka sebenarnya nggak mau nonton film tapi mau nonton hasil eksperimen kamera murah (yang menghendaki hasil super).

So…bagi saya. Filmmaker adalah storyteller. Penutur kisah. Kalau kita hendak “menjual” cerita, maka kita fokus pada gimana agar medium kita bisa bercerita. Namun jika kita hanya ingin menunjukkan susahnya berkarya atau murahnya alat kita, kita bisa imbuhi ucapan,

“Tontonlah film yang dibikin dengan kamera murah ini, yang dibikin dengan susah buanget dan ini…karya koncomu sendiri. Gak kasihan to, kamu sama kami yang udah susah payah bikinin kalian film? Hargai dong!”

Hehehe…

Lebih menyakitkan loh dipuji di depan tapi diketawain di belakang.

Oke, man teman co pro konco… talk less, shoot more!




Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA