AKAL-AKALAN ALA WLINGIWOOD

Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Wlingiwood, istilah yang sering saya promosikan kemana-mana itu (cieeeh) sebenarnya adalah sebuah branding untuk filmmaking style kami. Jadi sebenarnya bukan cuma komunitas, namun dari awal kami emang punya gaya tersendiri. Ya bukan bener-bener gaya dalam makna "style" sih...katakanlah bahwa hampir semua film kami tuh penuh akal-akalan teknis. Salah satunya yang mau kita beber di sini.

Keterbatasan lokasi adalah masalah umum kami. Sebenarnya sih Wlingi itu nggak sempit. Masih ada banyak sudut menarik yang bisa direkam lho. Namun kita sering terbatasi oleh ketersediaan kru, perijinan, keamanan dll. Makanya kita sering akal-akalan aja memanfaatkan lokasi sekitar rumah. Sekitar rumah rata-rata aman lah...walau kami pernah nyaris dikeroyok sekitar 8 berandalan mabuk di depan rumah sendiri!

Ini contoh salah satu akal-akalan kita. Memakai matte untuk menciptakan "lokasi baru". Teknik ini sangat simpel, gampang dan murah mendesah..eh..meriah maksud saya.

Di sini saya mau bikin adegan di sebuah ruang aula luas, ada patung-patung. Aula yang sempurna, seperti yang saya butuhkan tidak tersedia. Maka saya memanfaatkan ruang di rumah sendiri. Rumahnya sempit banget. Yang perlu dilakukan si aktor adalah berakting seakan-akan ia masuk ke sebuah aula. Patung di sebelah kiri si aktor sebenarnya cuma setinggi 15an centi, dinosaurus di depan juga kurang lebih segitu. Saya potret keduanya dengan bukaan sempit agar depth of fieldnya merata. Di post production, saya bikin dinosarusnya yang ada di depan blur mengikuti hukum perspektif.

Well...ini adalah teknik primitif yang masih sering saya mainkan untuk film-film indie saya.

Karena teknik ini sangat terbatas, beda ama 3D matte yang mana saya kagak bisa hehe... maka kita harus menambal kekurangan teknik ini dengan pengadeganan, editing dan storytelling yang bagus. Saya adalah orang yang yakin bahwa visual effect (VFX) tak akan bermakna apapun jika itu tidak masuk ke dalam storytelling.

Bagaimanapun mata modern kita pastilah jeli dalam menangkap tipuan grafis. Serapi apapun biasanya naluri kesadaran visual udah bisa menebak....wah, ini VFX nihhh...gitu deh. Jadi anggaplah penonton itu pasti tahu kita main VFX untuk "menipu". Sekarang bagaimana caranya agar tipuan ini believable, masuk ke dalam suspension of disbelief. Itulah skill yang perlu terus diasah (tanpa perlu mendesah).

Berikut ini breakdown videonya:


Terimakasih, semoga berguna :)


Baca

FILMMAKER ATAU VIDEOMAKER?

Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Bagi yang sudah coba bikin film pendek, mungkin pake HP, Handycam, DSLR dll ada pertanyaan bawel lagi nih. Anda filmmaker atau videomaker?

Well...Film sama video itu beda. Ada videomaker, ada filmmaker. Berita sama cerita itu beda. Ada pembawa berita, ada pembawa cerita.


Video dan film berbeda secara fisik. Video itu gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita liat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat baru nongol deh gambarnya. Contohnya coba kalo punya kaset video, cabut pitanya. Gambarnya nggak keliatan. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita lihat pita film, gambarnya kelihatan. Alat pemutar (projector) akan memutar gambar itu jadi tertayang di layar. Itu definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.

Sekarang ini perkembangan teknologi membuat definisi tersebut mulai bergeser secara substansial. Teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya secara fisik memakai media rekam film, sekarang sudah digantikan alat digital, video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film. Jadi di sini film memiliki makna substansial. Makanya festival film beda dengan festival video. Film itu ber-"cerita", sementara kalau video itu lebih ke "berita".  Terus apa bedanya berita dengan cerita? Nha ini ada hubungannya dengan pertanyaan: Anda filmmaker atau videomaker?

Saya kasih gambaran ya :D

"Gugun gendut." Itu sebuah berita.
"Gugun gendut naksir cewek." Itu baru cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar." Itu lebih jadi cerita.
"Gugun gendut naksir cewek yang sudah punya pacar, dan pacarnya itu sixpack." Itu cerita banget.
"Gugun gendut pengangguran anak mantan tapol, naksir cewek yang pacarnya sixpack anggota TNI." Whaaa CERITA nihhh!

See?

Bagi saya...menyampaikan cerita itu adalah filmmaking. Menyampaikan berita itu videografi.

Jadi kalau nyuting-nyuting gambarnya bagus tapi gak ada CERITA-nya, berarti itu bikin video. Video wedding, company profile, videoklip, video iseng...
Tapi kalau nyuting, ada naskah, ada karakter ada kisah, ada cerita...itulah filmmaking. Dalam video, cuma ada gambar, keadaan dan berita. Sedangkan dalam film, ada gambar, ada karakter, ada permasalahan, ada plot, ada CERITA. Jadi kalau saya punya kamera dan ingin berkarya, maka saya bisa memutuskan. Mau jadi videografer atau jadi filmmaker? Mau kasih berita atau kasih cerita?

Gitu deh :) Ngombe kopi dhisiiiik...
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA