MBOK YA YANG SERIUS KALO BIKIN KARYA MAIN-MAIN

Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Baca

SENI, KREATIVITAS dan MORALITAS


DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)



DEFINISI

What makes an art? Apa yang bisa bikin sesuatu disebut "seni"?

Definisi saya sih (yang nggak kuliah di ISI) gini...seni adalah karya manusia yang berupaya menggerakkan emosi sekaligus intelejensi. Arahnya bisa ke dalam yakni ekspresi pribadi yang bikin, dan keluar menggerakkan emosi dan intelejensi orang lain (audiens, penikmat, pembaca). Emosi dan intelejensi ini mustilah satu paket, karena kalo cuman nggerakin salah satu, menurut saya, itu belum utuh jadi seni. Seni nggak selalu yang indah-indah. Kadang sesuatu yang menjijikkan, bikin nggak nyaman, aneh, menakutkan.

Seni nggak semuanya menghibur, meski secara praktis saya menganjurkan agar seni musti menghibur dulu agar pesannya bisa nyampe. Yang jelas semua jenis seni musti bisa menggerakkan emosi-intelejensi. Kalo cuma nggerakin emosi yang itu berarti cuma alat kebaperan (apaan pulak?), kalo cuma nggerakin intelejensi ntar bakalnya jadi karya ilmiah.

Ini bikinan Gugun. Jangan asal nge-share.

Isu utama dalam seni antara lain adalah kreativitas. Kreativitas dekat sekali dengan inovasi. Ini yang akan makin memperjelas batas antara seni yang eksklusif dengan seni yang "pasaran". Okay...istilah saya ini nggak sekolahan banget ya...maklumlah artikel ini adalah hasil bertapa dalam tidur pagi 2,5 jam, bukan kuliah 4,5 taun (ngiahaha). Misal anda bikin satu buah kendi cantik, orang tergerak emosi-intelejensinya maka itu jadi karya seni. Secara emosional orang akan kagum...ni kok garapannya apik, rapi, alus....secara intelejensi orang akan melihat betapa proporsinya pas, terukur dll. Namun jika anda mereproduksinya secara masal, bentuknya sama....jadinya kerajinan hehehe. Tapi kerajinan juga seni....seni kerajinan. Lha kalo komik, lagu dan film gimana? Kan direproduksi sama persis?

Beda, boss. Musik, seni dan film itu yang dijual adalah ide, bukan medium penyampainya.


KREATIVITAS

Kreativitas berupaya menemukan bentuk-bentuk atau cara terbaru dalam menyampaikan gagasan seni. Seniman selalu mau beda. kalo ntar nyamain ya bisa dicap "pengrajin" ntar. Atau yang paling buruk...dicap plagiat. Meski doi bisa ngeles dengan bilang "terinspirasi" ngiahahahak... (sori makin ke sini artikel jadi kurang serius tone-nya...kagak betah serius ane). Karena dialektika kreativitas ini para seniman berusaha mencari terobosan dalam berkarya. Semua berjuang menemukan hal baru, unik dan sebagian menjadi kontroversial.

Ngomongin soal kontroversi, hampir setiap seniman (yang bukan pengrajin..uhuk) mengalami prosesnya. Kontroversi terjadi ketika karya seorang seni menabrak "sesuatu"... apaan kah itu? (bagus ya pilihan kata saya?...apaan-kah-itu)

Kontroversi terjadi ketika kreativitas menabrak konvensi. Konvensi adalah "kesepakatan" dalam banyak hal...salah satunya moralitas. Saya akan ambil bahasan soal kreativitas VS moral karena ini hal yang paling sering dihadapi seniman. Bagaimana seniman menghadapi moralitas yang udah baku di masyarakat? Apakah seni itu bebas dari moralitas (dan etika)?

Kompleks, rumit, gak sederhana, dilematis....that's it.

Saya percaya bahwa seni adalah satu-satunya tools yang elok untuk mempertanyakan setiap konvensi. Tapi batasnya sampai mana ya?

Sekalipun saya percaya sebaiknya tak usah dipasang batas dalam berkesenian, saya juga percaya bahwa seniman adalah juga bagian dari masyarakat normatif. Seniman adalah manusia...hidup dalam sistem ekonomi sosial. Sejauh yang saya tahu seniman kebanyakan hidup di kota dan di desa...bukan di hutan terpencil jauh dari internet. Seniman lho ya...bukan pertapa. So...ia hidup lewat serangkaian norma dan etika bermasyarakat. Jadi kalo mo kita tanyain apa batasnya kreativitas ya harmoni hidup si seniman bersama lingkungannya itu. Seniman mungkin bikin sebal orang lewat karyanya, tapi yang ditabrak adalah emosi-intelektual...bukan cuma asal bikin gara-gara. Bukan cuma asal ofensif. Atau mungkin ada yang mempertanyakan apakah ofensif juga bisa masuk dalam teknik baru berkesenian?

Well...ofense itu sudah naluri dasar kreativitas. Tapi gini... kalau murni ofense adalah tujuannya, maka bagi saya itu adalah seni (if you still call that as an art) yang rendah. Kenapa rendah? Marah itu adalah emosi paling dasar yang mudah dipicu. Bukankah paling gampang bikin orang marah daripada bikin kagum? Ngapain capek-capek mengerahkan intelektualitas kreatif jika dengan cara paling sederhana anda bisa bikin orang marah?

Dalam mempertanyakan dogma, menggugat konvensi...bikin orang kebakaran jemb...eh jenggot adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tapi ada beda antara ofensif murni (yang bertujuan cuma bikin marah) dengan ofensif yang merupakan imbas. Di sini bukan karyanya yang ofensif namun offense hanyalah imbas dari sejumlah gugatan yang disodorkannya. Saya mengibaratkan berkesenian itu adalah semacam semacam mengelola energi. Ada penghantar energi (seniman) dan penikmat seni (audiens, pembaca, penonton dll.). Interaksi antar keduanya selain saling "tukar energi" juga mungkin mengelola bagaimana energi itu hanya menjebol tembok kebuntuan berpikir, keterjebakan dogma dll. bukannya melukai harga diri personal. Batasannya memang tipis dan mungkin hanya bisa diterawang dengan kebijaksanaan bertutur. Dari sini harusnya anda bisa memahami bagaimana seharusnya offense itu dikelola.

Saya membedakan antara kemasan dengan pesan. Meski rata-rata pesannya itu-itu aja, namun seniman berusaha kreatif dalam mengemas. Makanya bisa aja sebuah film anti perang, isinya adegan ngerinya perang. Lha kalo anti pornografi gimana ya? Bisa nggak isinya malah porno gitu? Well...di sinilah kontrovesinya. Ada yang berpandangan bahwa untuk menunjukkan sesuatu menjijikkan, sodorkan hal itu kepada orang secara berlebihan...biar eneg. Well...I've tried. People said that porn is disgusting...so I watched porn a lot. Siapa tahu ntar jadi jijik dan kapok kan?...but you know what?... get addicted (ngiahahahahahaahkkk)

Efek sesuatu itu bisa beda, boss. Ada yang kalo dikasih dikit, nagih. Dikasih banyak, eneg. tapi ada juga dikasih banyak malah ketagihan.

Dalam kekhasan kemasan, ada yang memilih genre tertentu. kalo yang gini bisa jadi pesannya macem-macem tapi kemasannya gitu-gitu mulu. Gitu mulu dalam arti khas. Kalo dalam perfilman contonya Quentin Tarantino dan Lars Von Trier.

Memang seniman itu secara alami akan memilih kemasan yang nyaman baginya. tapi bagi saya terlalu sia-sia jika kemasannya unik, wah, beda, namun pesan yang dibawa is too simple: cuma ofensif dan waton kontroversial. Saya sih nggak keberatan sama offense ya...tapi saya concern ke "why is offended?"

Saya memilih seni yang meski bakal ofensif, namun itu bukan tujuan. Ofensif adalah imbas dari sebuah pertanyaan cerdas terhadap konvensi. Gampang lah kalo cuman mo bikin orang marah. Maka kreativitas adalah soal bagaimana mengelola cara menyampaikan gagasan secara cerdas.


MORALITAS

Anda muak dengan moralitas?

Ah mbok coba dipikir lagi...anda muak dengan moralitas apa hipocrisy (orang-orang yang sok moralis)? Harus jelas dong hehe

Kita perlu moralitas dalam kadar dan konteks yang tepat. Itulah yang membuat peradaban berjalan. Di manakah posisi seni? Seniman kan juga bagian dari masyarakat...
Saya sepakat bahwa setiap orang (seniman termasuk lho ya) musti punya moralitas. Moralitas itu konvensi peradaban yang bisa bikin kita kayak sekarang. Omong kosong kalo seniman gak peduli moral tapi ia masih cari makan lewat sistem ekonomi yang dianut masyarakat. Duit yang dipake masih duit yang dikeluarin negara kan?

Tapiiiiiiii...ada tapinya jugak nehhh...moralitas menurut saya juga punya konteks dan wilayah.

Seni juga memiliki konteks dan wilayah. Moralitas berlaku publik atau umum, sedangkan seni spesifik untuk lingkaran kedewasaan tertentu. Agar seni bisa seiring dengan moralitas maka perlu wilayah dan konteks. Misalnya kalo anda mo mengemas pesan dari karya seni anda dengan visualisasi yang vulgar, anda hanya bisa mempertontonkannya secara terbatas. Di film ada rating, di dunia seni rupa ada galleri. Itu yang saya maksud wilayah. Konteksnya apa? Ya pameran seni. Repotnya, internet bikin runyam suasana. Gak ada sekat lagi, semua bisa mengakses semua hal.

Saya tak bermaksud menyederhanakan semua persoalan kesenian ini. Banyak hal-hal yang kabur dan debatable. Banyak batasan-batasan yang tipis. Seniman musti mengelola bagaimana cara ia berinteraksi dengan masyarakat (with it's morality and specific "logic"), juga dengan sesama seniman dalam menggugat sebuah gagasan. Ada etika yang bisa mendudukkan masing-masing sama nyaman. Sejauh atau seaneh apapun dunia gagasan seorang seniman, secara fisik ia masih memerlukan masyarakat. Jadi moralitas harus hadir.

"Tapi Kak, bukankah moralitas itu juga berkembang? Emang gak boleh mempertanyakannya?"

Iya, Dek. Moralitas itu berkembang namun pesan dasarnya selalu sama: berupaya membuat semuanya nyaman pada posisinya. Moralitas itu implementasi rigid dari golden rules: jangan lakukan apa yang kau tak ingin menerimanya.

Moralitas masih dan bahkan harus selalu dipertanyakan tapi nilai dasarnya akan sama: Keberlangsungan kemanusiaan. Gini...soal moralitas ini mirip perahu. Jika mau ganti perahu, pakai dulu perahu yang kamu tumpangi untuk menyeberang.

Sekian. Maafkan bahasa saya yang campur aduk. Semoga anda diberkahi :)


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA