MBOK YA YANG SERIUS KALO BIKIN KARYA MAIN-MAIN

Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Ada beberapa yang nge-chat saya soal film. Beberapa nanya soal teknis dan non teknis film. Saya jawab aja berdasarkan pengalaman. Tapi mereka musti tahu bahwa saya penganut Rodriguez Method. Jadi kalo mau nanya bikin film ala Hanung Brahmantyo ya saya gak bisa jawab. Di antara yang nanya, satu atau dua dari mereka ingin banget jadi bintang film. Lalu saya tengok foto profil mereka, juga nonton karya-karya yang sudah mereka bikin. Saya tanya-tanya dikit pandangan mereka soal berkarya. Hmmm...gimana ya?

Tanpa mengurangi rasa hormat. Cita-cita mereka yang besar itu tampaknya perlu usaha yang lebih besar lagi dan entah lah...mungkin juga perlu bantuan "makhluk-makhluk gaib" dari dimensi lain hehehe. Jangan salah paham dulu...

Bikin film kualitas "njleput"...but it was fun anyway.

Saya juga pernah menjadi mereka. Saya begitu ingin masuk industri dengan karya compang-camping dan wajah yang tak bisa dijual. Tiap kenal orang yang "bau-bau film" saya bersemangat "njawil" dan nanya-nanya. Berharap bisa diajak dan ikut ngetop. Tak ada yang menggubris saya. Beberapa tahun kemudian saya tonton ulang karya saya...apa ada yang salah?

Ternyata ya emang sih...karya saya itu "njleput tenan" kalo istilah Jawa Timuran, alias ancur bangetttttt. Tak ada visi, tak ada storytelling, sedangkan kualitas gambar di bawah standar. Pantas diludahin lah hahahaha

Mereka yang chatting saya itu rupanya mengira saya orang industri. Soalnya mereka lihat saya di koran dan beberapa media online. Juga kadang karena temen-temen manggil saya "Pak Sutradara". Tapi emang iya sih saya ngaku-ngaku sutradara dan suka pajang-pajang poster film kami....(salahe sopo nek njut ngono?) Akan tetapi saya tak pernah mem-bully mereka. Cuek kayaknya juga enggak pernah karena saya pernah dicuekin dan itu sakit.

Industri film itu nggak gampang. Tanya aja temen-temen yang udah masuk ke sana. Kalo mereka sudah di sana juga nggak semudah itu ajak-ajak. Perlu kompetensi, skill, visi, juga karakter yang cocok ama orang-orang yang udah duluan di sana. Film (dan kayaknya kelompok kerja seni yang lain) itu tingkat nepotismenya tinggi. Yang demen film berantem merapatnya ke yang skillnya berantem, yang demen film "ambung-ambungan" merapatnya ke...pokoknya nepotis banget deh. Kalo nggak ada yang kenal (kualitas) kamu, nggak ada yang bakal akuin kamu. Portofolio aja nggak cukup.

Saya nggak bisa ngasih saran apa-apa bagi yang mau jadi bintang film atau masuk industrinya. So sorry about that...tapi kalo mo ngobrolin visi kreatif atau ngebahas film ya ayok kita diskusi sampe Habib Rizieq pake baju sinterklas deh.

Film adalah pernyataan pandangan dan cara penilaian kita atas dunia. Kadang karya kita kecil dan remeh. That's okay but please put your vision in it. Ini tentu beda dengan berkarya yang asal senang dan main-main. Portofolio dari teman-teman yang saya maksud di atas rata-rata seperti itu. Ayolah mbok ya serius dikit. Nggak harus se-wowww Christopher Nolan kok. Boleh bikin karya main-main, tapi mosok yo nggak ada visi blass? Visi...vision...cara pandang kita. Entah itu visual, aural atau kenyal-kenyal (halah ngomong opo to jane iki?)

So who am I? What kind of filmmaker am I?

Alah, saya ini cuma pengidap kelainan genetik kejiwaan yang mencoba menyalurkannya lewat karya.


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA