Masalah Yang Dihadapi Filmmaker Laga Indie di Indonesia

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Anggaplah anda nggak punya modal, senjata anda paling banter cuma kamera DSLR entry class dan kru anda cuman teman komunitas....artikel ini ... mungkin....untuk anda. Because you just like me...ra nduwe duit, ra sekolah film...ning mekso nggawe film action. Action is one of technically difficult genre to make.

The Raid memang racun yang sangat dahsyat. Para pembuat film indie jadi naik semangatnya, bikin film laga dengan corak lokal...well saya juga termasuk yang kena racun itu hehehe. Dari sejumlah yang tersebar di Youtube, agaknya tak semua memenuhi "standar sinematik" yang diharapkan. Yang tak memenuhi standar itu digarap asal-asalan, waton gelut istilah saya, dan nggak believable. Ojo nesu dhisik ya, Guys...bikinan saya pun juga "nggak believeble-believable amat" kok hahahah. Jadi ini menyoroti masalah yang saya alami juga. Ini bukan kritik buat kalian, ini kritik buat saya sendiri.

Hahaha saya pernah bikin film sekonyol ini...
Berapa sih film indie laga lokal di Youtube yang udah bagus "production value"nya? Saya bisa sebut sedikit. Yang penting sebenarnya adalah... Apa masalahnya? Mengapa bisa begitu?

Jadi inilah masalah yang kita hadapi:

TALENT

Saya hidup di ndeso, kebanyakan dari kami tampangnya "rural agraris". Muka-muka kami tidak memenuhi standar sinematik. Mungkin pasnya masuk ke film dokumenter yang temanya tingginya angka pengangguran di Indonesia. Dengan talent begini rupa, gimana saya bisa "believable" bikin setting action ala metropolis macam Fast n Furious coba? Paling banter juga balapan ojek...

Terus kalo mau bikin film laga. Butuh yang bisa gelut to? Nha ini repotnya, anak yang bisa gelut gak bisa akting sedangkan yang bisa akting nggak bisa gelut. Badannya kaku kayak action figure baru keluar blister. Otomatis perlu latian. Nha latian susah bisa efektif, jadwalnya bentrok ama kegiatan sehari-hari. Yang anak sekolah bentrok ama jam sekolah...anak sekarang tu jarang punya waktu luang lho. Sekolahnya padat. Gak sempat bermain. Mereka akan dididik jadi robot industri yang sukses.

Lha sementara yang kerja, yo harus bagi waktu. Saya sih pengangguran jadi ya free-free ajah...

Soal wajah yang marjinal tadi....aneh lah kalo saya maksa bikin film mafia pake jas ala-ala Hongkong Triad gitu. Udah gitu aktingnya dijahat-jahatin sampe taraf unbelievable (in awkward way...)

BUDGET

Jelassss. Bikin film laga yang ada tembak-tembakannya, pasti butuh properti lumayan lah. Pistol ya jangan sampe ada tulisan "Made in China" gitu. Kalo kena close up, ketahuan tuh tulisan repot lah. Untunglah kalo anak-anaknya lumayan tajir bisa beli airsoft gun. Kalo kami...cukup miskin. Mo minjem gak ada temen yang punya. Terus gimana?

Ya udah jangan ngeshoot pistol close up haha. Paling nggak pake pistol korek api tu lumayan...

Soal special effect. Gak ada yang bisa bikin blood squib, itu lho yang bisa bikin efek darah muncrat, akhirnya ya pake digital. Ambil footagenya dari youtube hahaha...dan itu jarang bisa believable.

Saya sangat bersyukur mengenal Robert Rodriguez. Dialah yang ngajarin kita untuk main akal-akalan ketika budget nggak ngatasin.

ACTION CONCEPT

Kebanyakan kita cuma niru apa yang udah dibikin. Sejak OngBak, kita jadi latah MuayThai, sejak The Raid kita jadi latah main kerambit. Mana yang original? Nayato aja saat bikin film Pukulan Maut, meski mengekor aura brutal The Raid, setidaknya konsep action-nya nggak mirip-mirip amat ama The Raid..penjahatnya pake sarung dan bersenjatakan duren.

Belum lagi rata-rata belum paham "basic rules of cinematography". Belum paham apa itu screen direction, camera angle and movement dll.

Pukulan Maut, sutradara: Nayato Fio Nuala
Sinematografi itu butuh style. Sinematografer non-action pun masih perlu "belajar" kalo urusannya mau bikin adegan laga. Film laga butuh sinematografi berkarakter kan? Bukan gambar "cantik"? Tapi namanya karakter ya nggak sekadar shoot goyang-goyang ala filmnya Paul Greengrass atau Dutch Angle-nya Tsui Hark.

STORYTELLING

Ini paling penting bagi saya. Film laga, meski ya namanya film laga nggak mungkinlah isinya cuman showreel orang kelahi mulu. Udah gitu alasannya gak believable. Adegan drama pun paling banter cuman marah-marah ama ngancem. Perlu sebuah cerita, karakter yang kuat. Film laga juga perlu dramaturgi. Karakter perlu dibangun agar dia makin badass. Tarungnya nggak cuma jual koreografi tapi jual emotional content juga. Kecuali jago visual style kayak Gareth Evans, bisa deh bikin gebak-gebukan dari awal sampe akhir. Tapi formula The Raid akan susah diulang. Udah pernah dibikin soalnya. Dengan budget indie, diperlukan cerita. Film laga kan nggak cuma pamer jurus. Ada konsep sinematografi, ada konsep editing dll. Nggak cukup melotot marah, tonjok-tonjokan ama kasih darah buatan terus di-shoot goyang-goyang...yesss saya dulu juga bikin yang lebih parah dari ini sih. malu saya...hihihi

Kenapa storytelling skill ini begitu lemah? Mungkin karena cenderung meniru apa yang ditonton. Okay, The Raid itu bagus karena brutal, tiru aja yuk ikutan brutal. Konsep shootnya ditiru, koreografinya ditiru (kayak saya aja...suka niru). Jadinya filmnya adalah KW parah dari The Raid.

Belum lagi filmmakernya miskin referensi non laga. Tontonannya melulu film gelut yang ndilalah masuk kategori B, ato rating reviewnya 50% ke bawah. Padahal kayaknya akan lebih bagus filmmakernya memperluas scope seleranya. Nonton film untuk mempelajari storytelling, visual concept, dll.

Nah, demikianlah. Ini bukan mo ngritik anda-anda...ini lebih buat diri saya sendiri. Soalnya saya masih sering bikin "kesalahan" serupa juga. Nah, kalo anda senasib sepemikiran sama saya, kalo anda filmmaker low budget, indie...opo meneh you stay at ndeso....ya....artikel ini boleh juga buat anda hihihi.

Film boleh aneh, absurd...tapi musti BELIEVABLE sih. Sayangnya standar believable kayak apa gitu saya bingung juga. Kill Bill-nya Tarantino yang ajaib itu aja masih believable buat banyak kritikus film.

Whatever...lets keep shooting action movie hahahahahahhhhh

(nyesel gak baca sampe sini? Lebih kayak curhat daripada ulasan)

Baca

Mengapa Film G30S/PKI Penting Bagi Saya?

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit. Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!" By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu. Yang jelas kalo kamu anggap Pak Harto itu pembela Islam ya... atas nama sejarah "biarken saya mengetawakan daripada anda...begitu"....hiak hiak hiak hiak... Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Adegan rapat, noir-nya kerasa banget
Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:
-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit -Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya -Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat
Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.
Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

D.N. Aidit dalam film G30SPKI, perhatikan lighting yang diterapkan
Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam. "Bapak dipanggil presiden!" "Saya mandi dulu!" "Tidak usah!" (sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya) Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion... Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini. Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat: -Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban. -Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh. -Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik. -Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all! -Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!" Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA