HARGA SENI

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA