UANG PANAI (Amril Nuryan & H.G. Safia, 2016)

Jangankan film indie, pada film nasional berbujet waww aja saya susah naruh ekspektasi tinggi. Nggak tau ya... bukannya merendahkan. Jarang ada film nasional yang bisa membuat saya terhanyut pada cerita dan penceritaannya. Rupanya Uang Panai adalah film indie lokal yang melampaui ekspektasi saya. Saya ini kan kalo disodorin film Indonesia udah suudzon dulu...lah paling filmnya "gitu" hehehe . BTW lokal maksud saya semua talent yang bikin dan tema yang diangkat ini "non Jakarta" (haha).

A good local flick to watch

Apanya yang melampaui ekspektasi?

Saya pikir nih film cuma komedi ala eF-Ti-Vian yang bercerita masalah cinta berat di ongkos semata, paling-paling dengan bumbu-bumbu komedi absurd atau maksa. Ya tetep ada absurdnya sih. Komedinya, mostly nggak nangkep saya. Bukan garing dan bukan pula soal nggak paham. Saya ngerti maunya itu gitu tapi saya nggak "tergitukan" hehe. Jangan-jangan kelenjar tawa saya dah rusak. Butuh sesuatu yang sangat ultra lucu buat bikin saya ngakak. Tapi ternyata pada film ini bukan cuman lelucon absurd local Makassar style yang dijual. Ceritanya solid, konfliknya bagus dan tema yang diangkat aktual.

Uang Panai itu ceritanya tentang Si Ancha yang mau kawin sama kekasihnya Risna, tapi kehalang Uang Panai yang kelewat muahal. Nha konfliknya gak cuma itu. Setiap masalah dari kubu Si Ancha (selaku pelamar) dan Risna (yang dilamar) saling terkait. Misalnya, kenapa uang panainya Risna mahal? Karena bapaknya punya utang ke orang lain. Ancha sendiri bukan anak orang kaya. Pacaran aja yang njemput Risna. Yang nyetir Risna pulak. Nglamar kerja aja kalo gak ditolong Risna, Ancha gak bakal bisa dapet kerjaan. Itupun bukan posisi yang tinggi. Cuma karyawan sales. Gimana bisa Ancha mengumpulkan Uang Panai dalam waktu cepat?

Untung Ancha ditolong sama duo absurd Cumming eh Tumming dan Abu. Duo absurd ini mungkin bagi kawan-kawannya lucu sekali. Tapi karena keduanya bukan kawan saya, maka saya tidak bisa ketawa. Omong-omong soal ketawa, saya cuma ketawa (itupun satu suku kata aja "ha" nggak hahaha) sama dua kali tersenyum. Saya ketawa waktu Ancha pilih baju dengan ngundi pake bismillah. Saya senyum ketika Risna salah arah mau ke parkiran. Adegan satunya saya lupa senyum karena apa...berarti ya gak usah diitung. Tapi lumayan banget kan bisa bikin saya ketawa satu suku kata...ha.

Aktor-aktor yang main di Uang Panai semua saya gak kenal. Lokal semua. Semua nyaman dengan peran masing-masing dalam lokalisasinya...eh lokalitasnya. Mereka nggak tampak ingin menjadi "kejakarta-kejakartananan". Itu bagus menurut gue eh saya. Film ini pun membawa suasana Makassar tanpa harus lebay dalam berlokal-lokalria. Sering saya lihat beberapa film (TV) yang mengangkat daerah...misalnya Jawa...itu yang akting medoknya lebih dari orang Jowo asline. Guys...I think we are not too medhok nganti kaya ngono kuwi lah. That's too "kenemenen". Uang Panai sangat cukup. Porsinya cukup...and Makassaristik ji. .Jadi kebawa logatnya Uang Panai deh...hehe

Film ini memang fenomenal. Sebagai film indie non Jakarta dan bisa sukses relatif di bioskop, itu sebuah hal hebat. Film ini sukses mengangkat persoalan budaya tanpa latah jadi film propaganda budaya yang ngasih wejangan lebay. Ya tetep aja ada wejangan sih di film ini...soalnya kayaknya film ini juga menyasar segmen bapak-bapak dan emak-emak. Tapi porsinya gak sampai bikin enek.

Oke. Saya akan kasih good and bad-nya film ini. Btw saya nontonnya secara ilegal di youtube, dengan kualitas grading belang-belang dan audio mixing yang kayak dibikin anak magang. Tapi kata sutradaranya emang yang di youtube itu belum finished material sih. Jadi saya gak akan kritisi teknis audio visual. Sori ya Pak Sutradara....di kampung saya gak ada bioskop.

APIKE:
-Ceritanya solid, konfliknya meyakinkan
-Karakter-karakternya rata-rata "tipis" tapi peran mereka rata dalam cerita. Aktornya juga membawakan peran dengan pas, nggak lebay
-Banyak hal Makassaristik kita bisa tahu mulai dari logat hingga nama-nama makanan
-Komedinya tidak latah, banyak yang unik (meski ya itu....tidak terlalu lucu)

KURANGE:
-Resolusi konflik terlalu mudah, gali lubang tutup lubang bareng-bareng
-Scoringnya semrawut, dikit-dikit musik
-Muka aktor ceweknya mirip semua, saya bingung mbedain Risna, Hasna dll.
-3 gadis ribut tetangga Ancha ni ngapain ya kerjanya?

KESIMPULAN:
-Sangat layak ditonton dan diperhitungkan
-True local flick!
-Jangan berekspektasi lebih dan jangan cerewet. Nikmati!






Jangankan film indie, pada film nasional berbujet waww aja saya susah naruh ekspektasi tinggi. Nggak tau ya... bukannya merendahkan. Jarang ada film nasional yang bisa membuat saya terhanyut pada cerita dan penceritaannya. Rupanya Uang Panai adalah film indie lokal yang melampaui ekspektasi saya. Saya ini kan kalo disodorin film Indonesia udah suudzon dulu...lah paling filmnya "gitu" hehehe . BTW lokal maksud saya semua talent yang bikin dan tema yang diangkat ini "non Jakarta" (haha).

A good local flick to watch

Apanya yang melampaui ekspektasi?

Saya pikir nih film cuma komedi ala eF-Ti-Vian yang bercerita masalah cinta berat di ongkos semata, paling-paling dengan bumbu-bumbu komedi absurd atau maksa. Ya tetep ada absurdnya sih. Komedinya, mostly nggak nangkep saya. Bukan garing dan bukan pula soal nggak paham. Saya ngerti maunya itu gitu tapi saya nggak "tergitukan" hehe. Jangan-jangan kelenjar tawa saya dah rusak. Butuh sesuatu yang sangat ultra lucu buat bikin saya ngakak. Tapi ternyata pada film ini bukan cuman lelucon absurd local Makassar style yang dijual. Ceritanya solid, konfliknya bagus dan tema yang diangkat aktual.

Uang Panai itu ceritanya tentang Si Ancha yang mau kawin sama kekasihnya Risna, tapi kehalang Uang Panai yang kelewat muahal. Nha konfliknya gak cuma itu. Setiap masalah dari kubu Si Ancha (selaku pelamar) dan Risna (yang dilamar) saling terkait. Misalnya, kenapa uang panainya Risna mahal? Karena bapaknya punya utang ke orang lain. Ancha sendiri bukan anak orang kaya. Pacaran aja yang njemput Risna. Yang nyetir Risna pulak. Nglamar kerja aja kalo gak ditolong Risna, Ancha gak bakal bisa dapet kerjaan. Itupun bukan posisi yang tinggi. Cuma karyawan sales. Gimana bisa Ancha mengumpulkan Uang Panai dalam waktu cepat?

Untung Ancha ditolong sama duo absurd Cumming eh Tumming dan Abu. Duo absurd ini mungkin bagi kawan-kawannya lucu sekali. Tapi karena keduanya bukan kawan saya, maka saya tidak bisa ketawa. Omong-omong soal ketawa, saya cuma ketawa (itupun satu suku kata aja "ha" nggak hahaha) sama dua kali tersenyum. Saya ketawa waktu Ancha pilih baju dengan ngundi pake bismillah. Saya senyum ketika Risna salah arah mau ke parkiran. Adegan satunya saya lupa senyum karena apa...berarti ya gak usah diitung. Tapi lumayan banget kan bisa bikin saya ketawa satu suku kata...ha.

Aktor-aktor yang main di Uang Panai semua saya gak kenal. Lokal semua. Semua nyaman dengan peran masing-masing dalam lokalisasinya...eh lokalitasnya. Mereka nggak tampak ingin menjadi "kejakarta-kejakartananan". Itu bagus menurut gue eh saya. Film ini pun membawa suasana Makassar tanpa harus lebay dalam berlokal-lokalria. Sering saya lihat beberapa film (TV) yang mengangkat daerah...misalnya Jawa...itu yang akting medoknya lebih dari orang Jowo asline. Guys...I think we are not too medhok nganti kaya ngono kuwi lah. That's too "kenemenen". Uang Panai sangat cukup. Porsinya cukup...and Makassaristik ji. .Jadi kebawa logatnya Uang Panai deh...hehe

Film ini memang fenomenal. Sebagai film indie non Jakarta dan bisa sukses relatif di bioskop, itu sebuah hal hebat. Film ini sukses mengangkat persoalan budaya tanpa latah jadi film propaganda budaya yang ngasih wejangan lebay. Ya tetep aja ada wejangan sih di film ini...soalnya kayaknya film ini juga menyasar segmen bapak-bapak dan emak-emak. Tapi porsinya gak sampai bikin enek.

Oke. Saya akan kasih good and bad-nya film ini. Btw saya nontonnya secara ilegal di youtube, dengan kualitas grading belang-belang dan audio mixing yang kayak dibikin anak magang. Tapi kata sutradaranya emang yang di youtube itu belum finished material sih. Jadi saya gak akan kritisi teknis audio visual. Sori ya Pak Sutradara....di kampung saya gak ada bioskop.

APIKE:
-Ceritanya solid, konfliknya meyakinkan
-Karakter-karakternya rata-rata "tipis" tapi peran mereka rata dalam cerita. Aktornya juga membawakan peran dengan pas, nggak lebay
-Banyak hal Makassaristik kita bisa tahu mulai dari logat hingga nama-nama makanan
-Komedinya tidak latah, banyak yang unik (meski ya itu....tidak terlalu lucu)

KURANGE:
-Resolusi konflik terlalu mudah, gali lubang tutup lubang bareng-bareng
-Scoringnya semrawut, dikit-dikit musik
-Muka aktor ceweknya mirip semua, saya bingung mbedain Risna, Hasna dll.
-3 gadis ribut tetangga Ancha ni ngapain ya kerjanya?

KESIMPULAN:
-Sangat layak ditonton dan diperhitungkan
-True local flick!
-Jangan berekspektasi lebih dan jangan cerewet. Nikmati!






Baca

JOHN WICK Chapter 2 (2017, Chad Stahelski)

Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bahkan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ya karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bahkan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ya karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Baca

KONG: SKULL ISLAND (2017, Jordan Vogt-Roberts)

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA