5 SUTRADARA DEWA YANG JADI "GURU" SAYA

Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Baca

MAESTRO MUSIK FILM YANG "UNDERDOG" DI HOLLYWOOD

Kalo biasanya saya ngreview film, sekarang saya ngreview musik deh. Tetap gak jauh dari film juga sih… saya mo ngobrolin musik film. Siapa dan apa yang mau kita obrolin?

Sehat terus ya, Mbah!

Yak inilah dia Ennio Morricone, komposer musik film kelas dewa yang di-underdog-in ama Hollywood (baca Academy Award) bertahun-tahun. Buat anda yang masih asing sama namanya, berikut saya kasih rekomendasi 7 besar karya musiknya untuk berkenalan. Saya tuliskan juga kapan dan kenapa musik tersebut perlu didengarkan.

7. OST My Name is Nobody : Dengarkan saat anda lagi gembira.

Ini musik untuk film koboi tapi nuansanya komedik. Aransemen musiknya ngepop kayak balada. Dominan gitar dan flute plus backing vocal. Mendengarnya saat anda jalan-jalan, makan bersama atau peneman istirahat sangatlah cocok.

6. Rabbia e Tarantella dari film Allonsanfàn : Dengarkan saat anda mau perang.

Ini musik gagah. Filmnya nggak terkenal tapi musiknya legend banget. Dipakai di filmnya Tarantino juga. Orkestrasinya dominan alat gesek. Kalau anda mau maju skripsi atau tesis, ini bisa menaikkan level kemantaban hati. Bayangkan anda seorang Jendral jaman Perang Dunia II hendak memimpin pasukan tempur lawan NAZI.

5. Main theme of Cinema Paradiso : Dengarkan saat anda jatuh cinta.

Cinema Paradiso adalah film yang indah meski ada pedihnya. Mendengarkan musik yang manis ini akan menyelimuti hati anda. Musik ini dibikin banyak versinya, dan semuanya indah. Ada yang trumpet (oleh Chris Botti), Cello (oleh Yo-Yo Ma) dan lain-lain. Aslinya berupa orkestrasi strings, piano dan alat tiup. Musik ini membuai. Bahkan saat anda sedih ia akan membelai. hati-hati melekatkan memori pada musik ini. Musik ini terlalu indah untuk anda tempeli kenangan buruk. 

4. OST A Fistful of Dollars : Dengarkan saat anda sedang berpetualang atau ingin semangat berjuang.

Musik yang sangat beraroma koboi ini cocok untuk anda senandungkan di atas kuda. Kalo sekarang ya di atas motor lah. Musiknya berupa petikan gitar dengan arpeggio dan slur mengiringi siulan. Sesekali ada ketukan dan suara lonceng. Lalu ada vokal choir "We can fight" yang kayaknya ditiru ama lagu soundtrack film-film Kungfu jadul. Tetapi yang jelas musiknya "ngoboi" banget. Serasa anda akan dikawal oleh semangat gembira, siap mendapat pengalaman baru yang berharga. Anda siap menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru, orang-orang baru dan tantangan baru. Selain Rabbia e Tarantella tadi, ini juga merupakan musik perjuangan yang bergairah.

3. Theme from Once Upon a Time in The West : Dengarkan saat anda belajar sesuatu yang berharga dari suatu kehilangan.

Ini musik sedih, menyayat sekaligus menambal luka. Diiringi gesekan dawai, suara soprano dengan register tinggi mengalun. Mungkin pas menemani kesedihan anda saat kehilangan, ditinggalkan atau dikhianati. Hati-hati, ini bisa membuat anda sembuh (dengan membongkar perihnya) tapi bisa juga malah bikin depresif. Kalau rasa anda benar-benar pas, anda bisa menitikkan air mata. Jangan sok tegar. Musik ini bisa mengiris lembaran tipis yang menutupi hati anda. Kalau anda mampu meresapi daya sembuhnya, musik ini seolah menyampaikan; sekelam apapun badaimu, kau akan jumpai mentari baru di ufuk sana. Just keep walking there.

2. Un Amico dari film Revolver : Dengarkan saat anda ingin menyembuhkan hati.

Sama kayak musik dari Once Upon A Time in The West. Ini musik yang menyimpan obat juga racun. Ada versi vokalnya juga. Anda yang mau sembuh mungkin terbantu. Tapi hati-hati, ini juga bisa bikin depresi. Naik turunnya dinamika melodinya, bisa bikin air mata anda tumpah. Musik ini juga dipakai ulang oleh Quentin Tarantino di Inglourious Basterds, di sebuah adegan yang tragis.

1. Gabriel’s Oboe dari film The Mission : Dengarkan saat anda sedang ingin merenungkan hidup.

Musik ini bernuansa teduh, menenangkan. Anda bisa merenungkan hal-hal yang telah anda hadapi, alami dan pelajari. Musik ini menjadi katalisator emosi, membuat jiwa anda tersucikan. Anda akan semangat menjadi orang yang baru dan belajar dari kepahitan. Ini musiknya relijius, karena memang dari film religi. Tapi anda tak usah kuatir bakal kena pendangkalan akidah. Musik Morricone berbicara secara universal. Aslinya pakai oboe tapi penyanyi Sarah Brightman bikin versi vocalnya juga. Itu awalnya nggak dikasih ijin sama Morricone tapi dia ngeyel merajuk terus sampai Morricone eneg. Dan makin tenarlah musik The Mission itu ke mana-mana. Anehnya pada 1986 juri Academy Award menyepelekannya.



Nah, silakan mulai dari manapun sesuka anda. Yang di luar list ini bukan berarti kurang bagus lho. Saya tuh sebenarnya malah susah mencomot 7 gini. Lha hampir semua musik Morricone itu bagus. Dengar aja coba…lalu ceritakan kesan yang anda rasakan.

Okay, setelah anda cobain tuh satu per satu rekomendasi saya, mungkin anda perlu tahu sekilas profil sang maestro.

Morricone lahir 10 November 1928 di Italia. Sejak 1946 Morricone udah bikin musik setidaknya ada 500 musik baik film bioskop maupun televisi. Itu belum termasuk 100 komposisi klasik yang bukan score (musik film). Perlu anda tahu juga, Moriconne juga pernah bikin musik buat Piala Dunia. Official World Cup music theme tahun 1978 itu karyanya.

Morricone terkenal sebagai peletak dasar “musik film koboi” yang dikenal dengan genre “Spaghetti Western”. Musiknya telah menjadi legenda bareng sama filmnya. Contoh yang terkenal jelas musik buat film-film Sergio Leone seperti The Good, the Bad and the Ugly, A Fistfull of Dollars dll.. Itu film-film yang mengawali tenarnya Clint Eastwood. Kalo anda tertarik ama film koboi ala Italia tersebut coba deh tonton. Anda akan dapat pengalaman sinematik klasik dan keren, juga musik hebat dari Morricone.

Morricone tak cuma hebat di Italia. Ketenarannya menggaung di Eropa dan Amerika. Film-film legendaris tahun 70 hingga 90-an banyak yang memakai karyanya. Meski begitu, Morricone nggak kunjung dapet piala Oscar. Kalo di Eropa sih dia udah dapet banyak penghargaan. Cuma juri Oscar aja yang seleranya “meslek”. Yang bikin saya gregetan, tahun 1986 komposisinya untuk The Mission kalah ama Herbie Hancock. Padahal sejarah menunjukkan bahwa musik The Mission lah yang terus bergaung sampe saat ini.

Kendati sering dapet nominasi, Moriconne nggak pernah menang Oscar. Yo kagak patek’en sih. Lha wong dia udah hebat tanpa dikasih piala apapun. A true maestro. Baru pada 2007, dia dapet Oscar. Tapi bukan lewat kompetisi. He received the Academy Honorary Award " for his magnificent and multifaceted contributions to the art of film music." Ya lumayan lah.
Baru deh, tahun 2016 Morricone dapet Oscar untuk musik filmnya Quentin Tarantino, The Hateful Eight. Sebelumnya Tarantino demen banget nyomot score-nya Morricone yang lawas-lawas untuk ia pake di filmnya. Ya Oscar sih gak usah dipeduliin amat. Lagian ia juga dapet Grammy Awards, Golden Globes, BAFTAs, David di Donatello, Nastro d'Argento dll. Udah lumayan banyak dan tetap tak sebanding dengan keagungan karya-karyanya.

Morricone saya bilang adalah "Mozart, Beethoven, Bach atau siapalah.." pokoknya penjaga musik sastra pada masanya. Di jaman ini, kita punya Ennio Morricone. Musik yang ia gubah tahun 70an sampe sekarang tetap enak didengar. Maestro ini memang terdidik ala tradisi konservatori musik klasik Eropa. Dia tak hanya menulis tapi juga mengorkestrasi dan meng-conduct musiknya sendiri. Sungguh luar biasa. Usianya saat ini udah mendekati 90 tapi masih aktif. makin sakti aja. Semoga Mbah Morricone sehat selalu.

Kesimpulan saya untuk musiknya Ennio Moriconne....

Indah, dalem, abadi dan khas. Mendengarnya seakan terus bergaung di lipatan waktu, sudut-sudut ruang dan labirin benak.


Kalo biasanya saya ngreview film, sekarang saya ngreview musik deh. Tetap gak jauh dari film juga sih… saya mo ngobrolin musik film. Siapa dan apa yang mau kita obrolin?

Sehat terus ya, Mbah!

Yak inilah dia Ennio Morricone, komposer musik film kelas dewa yang di-underdog-in ama Hollywood (baca Academy Award) bertahun-tahun. Buat anda yang masih asing sama namanya, berikut saya kasih rekomendasi 7 besar karya musiknya untuk berkenalan. Saya tuliskan juga kapan dan kenapa musik tersebut perlu didengarkan.

7. OST My Name is Nobody : Dengarkan saat anda lagi gembira.

Ini musik untuk film koboi tapi nuansanya komedik. Aransemen musiknya ngepop kayak balada. Dominan gitar dan flute plus backing vocal. Mendengarnya saat anda jalan-jalan, makan bersama atau peneman istirahat sangatlah cocok.

6. Rabbia e Tarantella dari film Allonsanfàn : Dengarkan saat anda mau perang.

Ini musik gagah. Filmnya nggak terkenal tapi musiknya legend banget. Dipakai di filmnya Tarantino juga. Orkestrasinya dominan alat gesek. Kalau anda mau maju skripsi atau tesis, ini bisa menaikkan level kemantaban hati. Bayangkan anda seorang Jendral jaman Perang Dunia II hendak memimpin pasukan tempur lawan NAZI.

5. Main theme of Cinema Paradiso : Dengarkan saat anda jatuh cinta.

Cinema Paradiso adalah film yang indah meski ada pedihnya. Mendengarkan musik yang manis ini akan menyelimuti hati anda. Musik ini dibikin banyak versinya, dan semuanya indah. Ada yang trumpet (oleh Chris Botti), Cello (oleh Yo-Yo Ma) dan lain-lain. Aslinya berupa orkestrasi strings, piano dan alat tiup. Musik ini membuai. Bahkan saat anda sedih ia akan membelai. hati-hati melekatkan memori pada musik ini. Musik ini terlalu indah untuk anda tempeli kenangan buruk. 

4. OST A Fistful of Dollars : Dengarkan saat anda sedang berpetualang atau ingin semangat berjuang.

Musik yang sangat beraroma koboi ini cocok untuk anda senandungkan di atas kuda. Kalo sekarang ya di atas motor lah. Musiknya berupa petikan gitar dengan arpeggio dan slur mengiringi siulan. Sesekali ada ketukan dan suara lonceng. Lalu ada vokal choir "We can fight" yang kayaknya ditiru ama lagu soundtrack film-film Kungfu jadul. Tetapi yang jelas musiknya "ngoboi" banget. Serasa anda akan dikawal oleh semangat gembira, siap mendapat pengalaman baru yang berharga. Anda siap menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru, orang-orang baru dan tantangan baru. Selain Rabbia e Tarantella tadi, ini juga merupakan musik perjuangan yang bergairah.

3. Theme from Once Upon a Time in The West : Dengarkan saat anda belajar sesuatu yang berharga dari suatu kehilangan.

Ini musik sedih, menyayat sekaligus menambal luka. Diiringi gesekan dawai, suara soprano dengan register tinggi mengalun. Mungkin pas menemani kesedihan anda saat kehilangan, ditinggalkan atau dikhianati. Hati-hati, ini bisa membuat anda sembuh (dengan membongkar perihnya) tapi bisa juga malah bikin depresif. Kalau rasa anda benar-benar pas, anda bisa menitikkan air mata. Jangan sok tegar. Musik ini bisa mengiris lembaran tipis yang menutupi hati anda. Kalau anda mampu meresapi daya sembuhnya, musik ini seolah menyampaikan; sekelam apapun badaimu, kau akan jumpai mentari baru di ufuk sana. Just keep walking there.

2. Un Amico dari film Revolver : Dengarkan saat anda ingin menyembuhkan hati.

Sama kayak musik dari Once Upon A Time in The West. Ini musik yang menyimpan obat juga racun. Ada versi vokalnya juga. Anda yang mau sembuh mungkin terbantu. Tapi hati-hati, ini juga bisa bikin depresi. Naik turunnya dinamika melodinya, bisa bikin air mata anda tumpah. Musik ini juga dipakai ulang oleh Quentin Tarantino di Inglourious Basterds, di sebuah adegan yang tragis.

1. Gabriel’s Oboe dari film The Mission : Dengarkan saat anda sedang ingin merenungkan hidup.

Musik ini bernuansa teduh, menenangkan. Anda bisa merenungkan hal-hal yang telah anda hadapi, alami dan pelajari. Musik ini menjadi katalisator emosi, membuat jiwa anda tersucikan. Anda akan semangat menjadi orang yang baru dan belajar dari kepahitan. Ini musiknya relijius, karena memang dari film religi. Tapi anda tak usah kuatir bakal kena pendangkalan akidah. Musik Morricone berbicara secara universal. Aslinya pakai oboe tapi penyanyi Sarah Brightman bikin versi vocalnya juga. Itu awalnya nggak dikasih ijin sama Morricone tapi dia ngeyel merajuk terus sampai Morricone eneg. Dan makin tenarlah musik The Mission itu ke mana-mana. Anehnya pada 1986 juri Academy Award menyepelekannya.



Nah, silakan mulai dari manapun sesuka anda. Yang di luar list ini bukan berarti kurang bagus lho. Saya tuh sebenarnya malah susah mencomot 7 gini. Lha hampir semua musik Morricone itu bagus. Dengar aja coba…lalu ceritakan kesan yang anda rasakan.

Okay, setelah anda cobain tuh satu per satu rekomendasi saya, mungkin anda perlu tahu sekilas profil sang maestro.

Morricone lahir 10 November 1928 di Italia. Sejak 1946 Morricone udah bikin musik setidaknya ada 500 musik baik film bioskop maupun televisi. Itu belum termasuk 100 komposisi klasik yang bukan score (musik film). Perlu anda tahu juga, Moriconne juga pernah bikin musik buat Piala Dunia. Official World Cup music theme tahun 1978 itu karyanya.

Morricone terkenal sebagai peletak dasar “musik film koboi” yang dikenal dengan genre “Spaghetti Western”. Musiknya telah menjadi legenda bareng sama filmnya. Contoh yang terkenal jelas musik buat film-film Sergio Leone seperti The Good, the Bad and the Ugly, A Fistfull of Dollars dll.. Itu film-film yang mengawali tenarnya Clint Eastwood. Kalo anda tertarik ama film koboi ala Italia tersebut coba deh tonton. Anda akan dapat pengalaman sinematik klasik dan keren, juga musik hebat dari Morricone.

Morricone tak cuma hebat di Italia. Ketenarannya menggaung di Eropa dan Amerika. Film-film legendaris tahun 70 hingga 90-an banyak yang memakai karyanya. Meski begitu, Morricone nggak kunjung dapet piala Oscar. Kalo di Eropa sih dia udah dapet banyak penghargaan. Cuma juri Oscar aja yang seleranya “meslek”. Yang bikin saya gregetan, tahun 1986 komposisinya untuk The Mission kalah ama Herbie Hancock. Padahal sejarah menunjukkan bahwa musik The Mission lah yang terus bergaung sampe saat ini.

Kendati sering dapet nominasi, Moriconne nggak pernah menang Oscar. Yo kagak patek’en sih. Lha wong dia udah hebat tanpa dikasih piala apapun. A true maestro. Baru pada 2007, dia dapet Oscar. Tapi bukan lewat kompetisi. He received the Academy Honorary Award " for his magnificent and multifaceted contributions to the art of film music." Ya lumayan lah.
Baru deh, tahun 2016 Morricone dapet Oscar untuk musik filmnya Quentin Tarantino, The Hateful Eight. Sebelumnya Tarantino demen banget nyomot score-nya Morricone yang lawas-lawas untuk ia pake di filmnya. Ya Oscar sih gak usah dipeduliin amat. Lagian ia juga dapet Grammy Awards, Golden Globes, BAFTAs, David di Donatello, Nastro d'Argento dll. Udah lumayan banyak dan tetap tak sebanding dengan keagungan karya-karyanya.

Morricone saya bilang adalah "Mozart, Beethoven, Bach atau siapalah.." pokoknya penjaga musik sastra pada masanya. Di jaman ini, kita punya Ennio Morricone. Musik yang ia gubah tahun 70an sampe sekarang tetap enak didengar. Maestro ini memang terdidik ala tradisi konservatori musik klasik Eropa. Dia tak hanya menulis tapi juga mengorkestrasi dan meng-conduct musiknya sendiri. Sungguh luar biasa. Usianya saat ini udah mendekati 90 tapi masih aktif. makin sakti aja. Semoga Mbah Morricone sehat selalu.

Kesimpulan saya untuk musiknya Ennio Moriconne....

Indah, dalem, abadi dan khas. Mendengarnya seakan terus bergaung di lipatan waktu, sudut-sudut ruang dan labirin benak.


Baca

PK (Rajkumar Hirani 2014), satirical Bollywood movie

Selama 4 tahunan, saya amati film yang dibintangi Aamir Khan selalu beda dengan tipikal film Bollywood pada umumnya. Drama, nyanyi, njoged, gelut dan cinta….sebuah kelengkapan genre “masala” yang khas India. Tapi film Aamir selalu beda. Tema yang tidak umum, storytelling yang asyik dan tentunya totalitas Aamir Khan membuat saya selalu “terpaksa” menengok film dia. Ya tapi saya jelas nggak sebrutal konco almamater saya si Mahfud Ikhwan lah ya. Jadi kalo anda termasuk orang yang setengah hati suka sama Bollywood, maka siapa tahu mata saya bisa mewakili anda hehehe…

"Jaggu..Jaggu...kamu kenapa kamu pakai baju? Kok nggak kayak di planet saya?"
"PK... gue gampar mulut lo!" PLOKKK!

PK  adalah film komedi satir soal agama. Saya nonton film ini setelah 3 Idiots dan Taare Zameen Par. Jadi kesan akan kecemerlangan filmnya Aamir masih fresh-freshnya.

Aamir Khan berperan sebagai alien bugil sixpack dari planet antah berantah. Profesinya di sono adalah ilmuwan “alienologi” yang wilayah kerjanya antar galaksi. Suatu ketika si alien ini ditugasi nyelidikin bumi. Ndilalah turunnya di Rajastan India. Ya bosen lah turunnya di Amerika melulu dan urusan ama Steven Spielberg. Alih-alih dapat kesan ramah-tamah yang mungkin hanya bisa ia dapat kalo turun di Indonesia, ia malah ketemu pria jahat yang menjambret kont...eh remote controlnya. Maklum aja, remote controlnya mirip kalung permata. Untung aja ia nggak diperkosa. Kalo diperkosa saya bakal stop nonton film ini seketika.

Walhasil si alien pun kelabakan mencari remote controlnya di mana-mana. Terpaksalah ia belajar bahasa manusia. Karena ke-O’on-annya, ia banyak bikin masalah di masyarakat bumi. Itulah asal si alien dapat julukan PK. PK dibaca pee-kay (pi-key) yang artinya mabuk… atau bisa juga kita artikan “piye karepe?”. Soalnya emang nih Alien tingkah lakunya kagak jelas “karepe arep piye”.

Petualangan besar PK dimulai ketika ia harus mencari Tuhan karena orang-orang yang ia tanya soal barangnya bilang, “Hanya Tuhan yang tahu.” Lantas alien yang berperadaban maju beberapa juta "stop" dari manusia ini mengartikannya secara harfiah. PK mengikuti ritual semua agama yang ia temui. Nggak tahu di planet asalnya ini ada agama apa enggak. Yang jelas dia ikut aja apa kata orang soal Tuhan. Andai dia lahir di Indonesia sih enak. Dapat warisan.

Petualangan PK antara lain juga mempertemukannya dengan orang bumi yang baik. Jaggu, seorang cewek hidung “mbangir” (ya jelaslah cewek India non Dravida) yang sedang bermasalah dengan hubungan cinta antar budaya dan agama. Sebenarnya, di saat yang sama ketika PK tiba, Jaggu (Anushka Sharma) yang India Hindu lagi ada hubungan “yang-yangan” Sarfaraz (Sushant Singh Rajput) yang Pakistan muslim. Hubungannya sudah diprediksi bubar sama seorang enterpreneur dukunisme bernama Tapasvi. Galaulah si Jaggu.

Sementara itu PK yang tak kunjung dapat nemu jawaban atas remotenya ini juga ikut-ikutan galau. Cuma di level spiritualitas yang beda. Jaggu galau pacar, PK galau Tuhan. Tuhan mana yang bisa menjawab di mana remote-nya? Lalu PK pun membongkar banyak keyakinan mapan untuk mempertanyakan. Kurang lebih PK nanya, “Kamu yang sok ceramah soal Tuhan itu emang kamu punya akses langsung ke nomor telpon-Nya?”

Dan begitulah premis film ini dibangun. Do we dial the right number?

Oke, my reviews, guys sedulur kabeh….

APIKE

Filmnya menghibur.  Jajaran castnya prima. Akting Aamir Khan nggak mengecewakan amat. Darimana pula ide alien  bugil ya? saya jadi inget adegannya Terminator (Sutradara James Cameron). Anoushka Sharma pun sexy dengan bibir (yang mungkin udah diphotoshop ama pisau bedah nggak tauk deh) juga cleavage-nya yang nauudzubillah indah merekah. Sanjay Dutt (tak kusangka-sangka) nongol dengan keren meski cuma sebagai peran pembantu. Gila! Aku kok bisa nggak ingat ama aktor India yang pertama kukenal ini.

Satu kalimat yang saya garis bawahi. PK mempertanyakan bagaimana mungkin manusia membela Tuhan? Semesta ini begitu besar dan bumi ini Cuma setitik kecil. Tuhan yang pastinya lebih besar dari alam semesta ini mau dibela oleh sekumpulan organisme yang kecil banget compared with all of the universe? Come on, guys…Tuhan tak mungkin dibela oleh manusia! Mungkin gitu kata hatinya PK.

O’owwww ini mulai sensitif yak! :D kalimat serupa pernah diucapkan Gus Dur dan langsung deh Gus Dur dikafirkan hehehe …Sudahlah….nggak usah mancing perkara lagi.

KURANGE

Horizon harapan saya begitu nanjak karena saya memang suka banget tema-tema spiritual dan agama. Begitu nonton saya langsung pasang muka lempeng…is that all? Mung ngono kuwi thok, guys? Mungkin saya terlalu berharap banyak.

Minusnya PK menurutku ada beberapa hal…

Pertama sosok si alien yang karakternya lebih mirip Forrest Gump. Mungkinkah di planet asalnya kemampuan mencerna majas bukan merupakan bagian dari kecerdasan? Soalnya nih si alien lugunya nggak ketulungan. Lihat aja! Betapa bingung dia nyari Tuhan yang “benar” di bumi. Bangsa alien yang mampu bikin UFO mirip awan kinton-nya Dragon Ball, ternyata bego banget dalam memahami  spiritualitas bumi hehehe…

Kedua kritiknya yang nanggung. Ia cuma ngritik pemberhalaan Tuhan dan agama di level permukaan sih. Simbol yang dipake di film ini kebanyakan juga jarang menyinggung umat yang itu. Itu. Ya..saya nggak enak ngomongnya karena saya bagian dari itu hehehe. Tapi saya paham. Karena umat yang itu (ya saya juga masuk) level lugunya mirip ama PK. Lugu tapi level kekerasannya mirip ama alien dari film Mars Attack-nya Tim Burton.  Daripada kena demo kan ya main aman aja…

So, kesimpulanhe gimanahe? Ki filmhe apikporahe? Piye karepe? (sorry lagi ngelatih bahasa India saya)


Well, it’s fun, good, entertaining but agak nanggung kalo ngritik. Tapi siapa tahu ada sekuelnya. PK tapi cewek....dan turun ke bumi bugil juga...(maunyaaaaaaa...)

Tontonlah PK…meski jogednya nggak sebanyak biasanya film India.
Selama 4 tahunan, saya amati film yang dibintangi Aamir Khan selalu beda dengan tipikal film Bollywood pada umumnya. Drama, nyanyi, njoged, gelut dan cinta….sebuah kelengkapan genre “masala” yang khas India. Tapi film Aamir selalu beda. Tema yang tidak umum, storytelling yang asyik dan tentunya totalitas Aamir Khan membuat saya selalu “terpaksa” menengok film dia. Ya tapi saya jelas nggak sebrutal konco almamater saya si Mahfud Ikhwan lah ya. Jadi kalo anda termasuk orang yang setengah hati suka sama Bollywood, maka siapa tahu mata saya bisa mewakili anda hehehe…

"Jaggu..Jaggu...kamu kenapa kamu pakai baju? Kok nggak kayak di planet saya?"
"PK... gue gampar mulut lo!" PLOKKK!

PK  adalah film komedi satir soal agama. Saya nonton film ini setelah 3 Idiots dan Taare Zameen Par. Jadi kesan akan kecemerlangan filmnya Aamir masih fresh-freshnya.

Aamir Khan berperan sebagai alien bugil sixpack dari planet antah berantah. Profesinya di sono adalah ilmuwan “alienologi” yang wilayah kerjanya antar galaksi. Suatu ketika si alien ini ditugasi nyelidikin bumi. Ndilalah turunnya di Rajastan India. Ya bosen lah turunnya di Amerika melulu dan urusan ama Steven Spielberg. Alih-alih dapat kesan ramah-tamah yang mungkin hanya bisa ia dapat kalo turun di Indonesia, ia malah ketemu pria jahat yang menjambret kont...eh remote controlnya. Maklum aja, remote controlnya mirip kalung permata. Untung aja ia nggak diperkosa. Kalo diperkosa saya bakal stop nonton film ini seketika.

Walhasil si alien pun kelabakan mencari remote controlnya di mana-mana. Terpaksalah ia belajar bahasa manusia. Karena ke-O’on-annya, ia banyak bikin masalah di masyarakat bumi. Itulah asal si alien dapat julukan PK. PK dibaca pee-kay (pi-key) yang artinya mabuk… atau bisa juga kita artikan “piye karepe?”. Soalnya emang nih Alien tingkah lakunya kagak jelas “karepe arep piye”.

Petualangan besar PK dimulai ketika ia harus mencari Tuhan karena orang-orang yang ia tanya soal barangnya bilang, “Hanya Tuhan yang tahu.” Lantas alien yang berperadaban maju beberapa juta "stop" dari manusia ini mengartikannya secara harfiah. PK mengikuti ritual semua agama yang ia temui. Nggak tahu di planet asalnya ini ada agama apa enggak. Yang jelas dia ikut aja apa kata orang soal Tuhan. Andai dia lahir di Indonesia sih enak. Dapat warisan.

Petualangan PK antara lain juga mempertemukannya dengan orang bumi yang baik. Jaggu, seorang cewek hidung “mbangir” (ya jelaslah cewek India non Dravida) yang sedang bermasalah dengan hubungan cinta antar budaya dan agama. Sebenarnya, di saat yang sama ketika PK tiba, Jaggu (Anushka Sharma) yang India Hindu lagi ada hubungan “yang-yangan” Sarfaraz (Sushant Singh Rajput) yang Pakistan muslim. Hubungannya sudah diprediksi bubar sama seorang enterpreneur dukunisme bernama Tapasvi. Galaulah si Jaggu.

Sementara itu PK yang tak kunjung dapat nemu jawaban atas remotenya ini juga ikut-ikutan galau. Cuma di level spiritualitas yang beda. Jaggu galau pacar, PK galau Tuhan. Tuhan mana yang bisa menjawab di mana remote-nya? Lalu PK pun membongkar banyak keyakinan mapan untuk mempertanyakan. Kurang lebih PK nanya, “Kamu yang sok ceramah soal Tuhan itu emang kamu punya akses langsung ke nomor telpon-Nya?”

Dan begitulah premis film ini dibangun. Do we dial the right number?

Oke, my reviews, guys sedulur kabeh….

APIKE

Filmnya menghibur.  Jajaran castnya prima. Akting Aamir Khan nggak mengecewakan amat. Darimana pula ide alien  bugil ya? saya jadi inget adegannya Terminator (Sutradara James Cameron). Anoushka Sharma pun sexy dengan bibir (yang mungkin udah diphotoshop ama pisau bedah nggak tauk deh) juga cleavage-nya yang nauudzubillah indah merekah. Sanjay Dutt (tak kusangka-sangka) nongol dengan keren meski cuma sebagai peran pembantu. Gila! Aku kok bisa nggak ingat ama aktor India yang pertama kukenal ini.

Satu kalimat yang saya garis bawahi. PK mempertanyakan bagaimana mungkin manusia membela Tuhan? Semesta ini begitu besar dan bumi ini Cuma setitik kecil. Tuhan yang pastinya lebih besar dari alam semesta ini mau dibela oleh sekumpulan organisme yang kecil banget compared with all of the universe? Come on, guys…Tuhan tak mungkin dibela oleh manusia! Mungkin gitu kata hatinya PK.

O’owwww ini mulai sensitif yak! :D kalimat serupa pernah diucapkan Gus Dur dan langsung deh Gus Dur dikafirkan hehehe …Sudahlah….nggak usah mancing perkara lagi.

KURANGE

Horizon harapan saya begitu nanjak karena saya memang suka banget tema-tema spiritual dan agama. Begitu nonton saya langsung pasang muka lempeng…is that all? Mung ngono kuwi thok, guys? Mungkin saya terlalu berharap banyak.

Minusnya PK menurutku ada beberapa hal…

Pertama sosok si alien yang karakternya lebih mirip Forrest Gump. Mungkinkah di planet asalnya kemampuan mencerna majas bukan merupakan bagian dari kecerdasan? Soalnya nih si alien lugunya nggak ketulungan. Lihat aja! Betapa bingung dia nyari Tuhan yang “benar” di bumi. Bangsa alien yang mampu bikin UFO mirip awan kinton-nya Dragon Ball, ternyata bego banget dalam memahami  spiritualitas bumi hehehe…

Kedua kritiknya yang nanggung. Ia cuma ngritik pemberhalaan Tuhan dan agama di level permukaan sih. Simbol yang dipake di film ini kebanyakan juga jarang menyinggung umat yang itu. Itu. Ya..saya nggak enak ngomongnya karena saya bagian dari itu hehehe. Tapi saya paham. Karena umat yang itu (ya saya juga masuk) level lugunya mirip ama PK. Lugu tapi level kekerasannya mirip ama alien dari film Mars Attack-nya Tim Burton.  Daripada kena demo kan ya main aman aja…

So, kesimpulanhe gimanahe? Ki filmhe apikporahe? Piye karepe? (sorry lagi ngelatih bahasa India saya)


Well, it’s fun, good, entertaining but agak nanggung kalo ngritik. Tapi siapa tahu ada sekuelnya. PK tapi cewek....dan turun ke bumi bugil juga...(maunyaaaaaaa...)

Tontonlah PK…meski jogednya nggak sebanyak biasanya film India.
Baca

NGOBROLIN BOLLYWOOD AMA MAHFUD IKHWAN

Apakah anda suka film Bollywood?

Apakah anda masih ngerasa film India tuh norak abis? Lihat aja tiap ketemu tiang musti njoged dan nyanyi. India dengan tari dan nyanyi nyaris identik kayak film Hongkong dengan Kungfu. Tapi kalo nggak mendalami satu hal ya semuanya akan tampak sama saja.

Saya nonton film Bollywood sejak SD, yakni di TPI. TPI (waktu itu Televisi Pendidikan Indonesia) merupakan TV pertama yang menayangkan film-film India. Kebanyakan durasi film India adalah 3 jam, maka ada yang khas dari cara TPI menayangkannya. Biasanya filmnya dipotong jadi 4 bagian dan ditayangkan seminggu sekali, seperti jadi miniseri.

Bintang Hollywood yang saya kenal pertama adalah Sanjay Dutt, Amitabh Bachchan dan Salman Khan. Kalo perempuan Madhuri Dixit dan Aishwarya Rai.

Aishwarya Rai, kecantikan yang tak tertolak

Tapi ada jenuhnya juga ketika nonton India temanya itu-itu aja. Sama kayak bosannya saya ama serial Kungfu Mandarin. Ketika nonton film-film Amir Khan yang terkini, saya seolah menemukan harapan dalam nonton film India. 3 Idiots, Taree Zamin Paar, PK dan saat saya nulis ini yang terbaru adalah Dangal. 3 Idiots adalah film pertama yang bikin saya berharap ada perkembangan baru di Bollywood.

Menyetir motor matic, ia adalah mimpi buruk. Menodongkan pistol apalagi... Madhuri Dixit

Kecantikan klasik Madhuri Dixit

Jujur aja selera musikal saya bukanlah musikal Bollywood. Tapi kalo ngelihat Katrina Kaif goyang....kok guilty pleasure banget ya? Atau sexynya Aishwarya Rai dalam Dhoom 2....owww gilti pleserrrrr!!!

Selera saya soal kecantikan fisik juga cenderung "orientalis" atau "manis pedesaan" atau "keimutan Syar'i"..."kebahenolan akrobatik" juga suka. India? Hmmm... sebenarnya not my type. Tapi ya ada kecualinya.

Kecantikan klasik Madhuri Dixit adalah sesuatu yang saya wow-kan, imut kekinian kayak Alia Bhatt juga sesuatu yang saya ahhh-kan. Belum lagi Katrina Kaif yang jelas oohhhh-istic.

Keseksian tak terelakkan...Katrina

A guilty pleasure....Katrina Kaif

Alternatif romance selain Korean Drama....Bollywood sweetness

Ada yang lebih manis dari Alia Bhatt?

Nah untuk mengenal (kenal aja dulu...paham belakangan haha) soal film India. Saya mau ngobrol ama pakarnya. Dia adalah satu-satunya (setahu saya) orang yang nulis referensi mendalam berbahasa Indonesia soal Bollywood.

Dapatkan bukunya.

MAHFUD IKHWAN, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini adalah penulis buku “Aku dan Film India melawan Dunia” (penerbit EA Books 2017). Dia bisa saya bilang “Wikipedia berjalan soal Bollywood” dalam bahasa Indonesia.

Kita mulai obrolan ini.

===========

GUGUN: Pertama. Sebenarnya Bollywood itu istilah dari siapa? Mengacu ke industri film yang mana?

MAHFUD: Hahaha... itu sebenarnya baru muncul di awal 90-an. diberikan oleh jurnalis mereka. Jadi semacam nebeng tenar, biar naik kelas. Ini sebenarnya berbarengan dengan keterbukaan ekonomi pasca rejim (sok) sosialis Indira Gandhi.

MAHFUD: Bollywood hanya mengacu kepada industri film di Bombay (sekarang Mumbai). Tapi, istilah Bollywood segera dikopi oleh industri-industri film di bagian lain di India. macam di Kolkata, Chennai, Sochi, Hyderabad, dst.

GUGUN: Bahasa apa yang dipakai di film Bollywood?

MAHFUD: Bollywood memakai bahasa Hindi. Kira-kira mungkin ragam pasaran dari Urdu, bahasa resmi yang dulu dipakai oleh kesultanan Muslim yang jatuh bangun di India utara.

GUGUN: Kalau yang berbahasa Tamil?

MAHFUD: Industri film di India tersebar "merata" di setiap regionnya. dan mereka memakai bahasa masing-masing. Chennai pakai Tamil, Kolkata pakai Bengali, Kerala pakai Malayalam, Hyderabad pake Telugu, dst.

GUGUN: Jadi peta industrinya itu gimana? Berdasarkan daerahnya kah?

MAHFUD: Tentu saja. dan itu hebatnya. Cuma yang tak terhindarkan adalah dominasi Bollywood dengan bahasa Hindi-nya.


GUGUN: Nah jadi inikah bedanya India dengan Amerika ya? kalo Hollywood kan tidak ada pengelompokan berdasarkan daerah. Mereka berawal dari studio system. Begitu atau bagaimana?

MAHFUD: Studio system sebenarnya juga terjadi di India. Dan karena itu, beberapa pusat industri film lebih mendominasi dibanding yang lain. Cuma, diversitas bahasa menuntut industri untuk memberi penonton film yang berbahasa daerahnya. Sistem dubbing ditempuh, tapi itu sering dianggap nggak efektif. Makanya yang dilakukan akhirnya saling me-remake. Ini hal yang sangat khas India.

GUGUN: Jadi pengelompokan daerah tadi berdasarkan sasaran penonton atau lokasi industrinya?

MAHFUD:  Lokasi industri melayani daerahnya. Film-film Tamil tak akan ditonton di utara. Kalau ada yang bagus di selatan, maka yangg utara nge-dubb atau me-remake. Contoh hasil dubbing adalah Bahubali (yang aslinya berbahasa Telugu). Sementara film-film Hindi kadang butuh di-remake agar penonton di Bengal atau Kerala mau menonton. Tapi, Bollywood, karena kekuatan modal dan dominasi kulturalnya, tentu saja kadang melewati sekat-sekat yang kubilang itu.

GUGUN: Jadi kalo misalnya kalau mau bikin film yang mau ditonton di Bengal maka filmnya musti diproduksi di Bengal atau yang satu "rayon" kedaerahan?

MAHFUD:  Aku tak tahu. Tapi logisnya, untuk membuat film berbahasa Bengal, setidaknya kau butuh aktor-aktor Bengal dan keterjangkauan distribusinya. Maka ya bikinnya di Kolkatta. Tapi, mungkin yang belum aku sebut dari tadi sebenarnya adalah perbedaan karakter di masing-masing industri. Dan itu mempengaruhi di mana kau bikin film, dengan siapa kau minta dibikinin music score, dst. Tapi lagi-lagi, di luar desentralisasi itu, bagaimana pun, Bollywood adalah tempat uang dan tempat ketenaran. Jadi ia pada akhirnya tetap menjadi centre. Contoh menarik adalah sutradara Rituparno Gosh. Ia sangat Bengal. filmnya selalu tak lebih dari dua jam, nggak pakai nari-nari, seringnya pakai bahasa Bengal atau malah kadang pakai bahasa Inggris. Tapi untuk mengangkat filmnya, ia sering memakai bintang-bintang Bollywood. Jadinya adalah film-film seni yang ditonton relatif banyak orang.

GUGUN: Jadi dalam perindustrian film India, seberapa besar signifikansi kedaerahan tadi? Sebagai perbandingan di Indonesia, penonton film di daerah pun lebih mengapresiasi film nasional (bisa dibaca Jakarta). Kalau yang daerah murni, biasanya levelnya cuma film TV dan tayangnya di daerah pula. Dan di daerah ini jarang yang levelnya sampai jadi industri. Kalau pun ada dan bisa diitung mungkin cuma Makassar. Purbalingga yang gudangnya filmmaker daerah saja distribusi offline-nya cuma di festival.

MAHFUD:  Indonesia jelas bukan bandingan. Pusat-pusat film selain Mumbai, seperti Kolkatta atau Chenai, punya superstarnya sendiri-sendiri, komposer-komposer hebatnya sendiri, dan penyanyi-penyanyi joss-nya sendiri. dan mereka kadang memproduksi film-film yang lebih hebat, lebih mahal, dan lebih tenar dibanding Bollywood. Contohnya Bahubali. Contoh lain adalah sosok Rajinikant di film-film Tamil. Orang ini dipuja di India selatan lebih dari Shah Rukh atau Bahchchan di utara.

GUGUN: Oo jadi ternyata daerah saling jor-joran bikin film ya? Jadi selera mereka tidak sentral kayak di sini?

MAHFUD:  Jelas. Tapi kalau ngomong sentralisme ya masih Bollywood. Kau bisa gugling atau baca di Wikipedia soal daerah mana saja yang merupakan penghasil film terbesar. Juga siapa superstar di masing-masing daerah itu dan film apa yang paling terkenal dari sana.

GUGUN: Kalau film India yang beda apa? Yang nggak tipikal njoged dan nyanyi.

Karya Satyajit Ray, "The World of Apu" tahun 1959 (Courtesy of Janus Films). Jangan nyari orang njoged.

MAHFUD:  Kalo mau nyari yang arthouse, biasanya banyak ditemukan di film-film Bengal (tradisi seni tinggi mereka nggilani (luar biasa ngeri) soalnya, dan terutama pematronan mereka kepada realisme romantik ala Satyajit Ray. Tapi, arthouse juga ditemukan di film-film selatan, baik di Tamil maupun Malayalam, yang punya tradisi sinema kiri. Tapi, Bollywood juga banyak arthouse-nya.

GUGUN: Sekarang soal genre. Biasanya saya nontonnya drama. Kadang ada juga sci-fi kayak film Ra-One dan Enthiran. Baru-baru ini yang heboh adalah Bahubali. Gimana pendapatmu soal film itu? Sebenarnya sevariatif apa sih genre film di India/Bollywood?

MAHFUD:  Bahubali 1 wis nonton tapi yang 2 belum. CGI-nya mengagumkan. Tapi sebagai penonton film India level snob, kisah dan kesan yang kudapat sih biasa saja, hehehe... Bahubali kupikir adalah jawaban untuk 300-nya Hollywood. Itu saja, hahaha...
Dan ngomong soalgenre, yang pertama mesti disebut adalah Masala. Itu mengatasi semua genre di Bollywood. Dalam satu film ada drama, eksyen, komedi.

GUGUN: Jadi masala adalah film Bollywood dengan unsur drama, laga dan komedi?

MAHFUD:  Begitulah. Tapi masala bisa menampung lebih banyak hal lagi. Fiksi sains misalnya. Itu lah kenapa disebut masala. Masala itu kalau aku bayangkan kayak gado-gado di sini. Isinya macem-macem, rasanya macem-macem.  Meski begitu, beriring dengan mengglobalnya Bollywood, beberapa genre akhirnya menegaskan diri. Kini kita bisa ketemu film-film komedi slapstik, komedi romantis, komedi yang bertumpu pada dialog. Yang rame sejak tahun 2000-an adalah horror. Horror erotis terutama. Sport moviesekarang sedang jaya-jayanya. Puncaknya mungkin Dangal-nya Aamir Khan. Selain itu juga sedang marak bikin biopic.

GUGUN: Contoh film-film yang bergenre tadi apa saja? Misal khusus sci-fi, horror dll. kalo action sih jelas ada ya.

MAHFUD:  Fiksi sains contohnya pada Ra-One itu. Tapi, Ra-One sebenarnya kalah dulu dan kalah keren sama Robot (Enthiran), film Tamil yang mirip Bicentinal Man yang dibintangi Rajinikant. Film yang perlu kamu tonton untuk visual effect dengan sentuhan fiksi sains adalah Eaga. Lagi-lagi ini film selatan.

Kemudian francais-nya Krisshh adalah genre superhero. Dimulai dari tahun 1986, Mr.India, anak yatim piatu yang bisa menghilang. Belakangan di film-film Tamil banyak yang macam ini hehe....

GUGUN: Gimana dengan horror? kenapa jarang film horror India ya? Hanya satu judul film india horror yang saya ingat. Nagin. Itu aja juga gak pernah nonton. Hanya gara-gara posternya dipasang di bioskop kampung saya.

MAHFUD:  Horror Bollywood memang jarang muncul di Indonesia sih. Tapi belakangan ini dominan kok. Coba kamu gugling film “Ek Thi Dayan”.

GUGUN: Sekarang film-film yang arthouse. Yang baru terutama. Film apa yang dapat international acclaim?

MAHFUD:  Lha, ini yang biasanya kurang apdet. Soalnya arthouse ini biasanya juga gak rame-rame dibahas baik oleh koran-koran lokal sana apalagi oleh koran-koran di sini. Jadi seringnya telat. Tapi yang belum lama ini kutonton adalah “Visaranai”. Film dari Hyderabad. Ini thriller hukum yang menggigit dan bikin menggigil. Dapat perhatian di Venice. Tapi begini sih, bagaimana pun aku selalu lebih menyukai yang industrial namun tetap bagus. Film-film Bollywood yang keluar dari pakem film-film Bollywood, tapi tetap dimainkan para bintang. Ya film-film dengan nuansa gelap. Film-film gangster asyik-asyik tuh. Itu jauh lebih memuaskanku sebagai penonton film India. Sebab, rata-rata yang arthouse itu tampak seperti hanya ingin ditonton orang Eropa.

GUGUN:  Kenapa film india berdurasi 3 jam?

MAHFUD:  Karena mereka butuh menempatkan setidaknya sedikitnya 7 lagu yang mana masing-masing durasinya 7 menit. Film-film yang nggak pake lagu (atau yang OST-nya ditaruh sebagai bekgron biasanya ya sekitar 2 jam-an). Coba cek film-film Rituparno Gosh. Juga film Bollywood lain yang tidak mainstream.

GUGUN: Jadi mereka ini pakai “4 structure act narrative” yang mana satu act-nya adalah njoged ya? hahaha

MAHFUD:  Tentu saja, haha...

GUGUN: Sekarang tentang cast. Ini agak bau-bau rasial bahasannya. Yang saya lihat para aktor adalah yang berdarah "Arya". Sementara India yang "gelap" paling-paling jadi penjahat hehehe. Sebenarnya gimana petanya? Sebagai bandingan, di Hollywood ada isu “whitewashing”, dimana aktor-aktor Kaukasia memerankan karakter Asia. Di masa lalu tak banyak porsi untuk aktor kulit hitam. Sebenarnya etnografi aktor Bollywood itu gimana?

MAHFUD:  hahaha.. ini agak sulit aku ngejawabnya. Mungkin karena memang belum baca. Lagipula hal beginian tak terlalu menarik perhatianku. Sebab, sederhananya, industri film India itu rasis, paternalistik, klientalistik, dan tentu saja korup. Dan itu gak perlu kucari tahu.

GUGUN: Ya secara visual kan kita lihat aktor dan yang njoged di latar itu paras dan bodynya wow semua. Tapi kalo lihat profil masyarakat aslinya kok beda? Termasuk india lokal di sini. Sorry, bukan maksud merendahkan.

MAHFUD:  Penonton film India itu sama dengn penonton film Indonesia. Mereka butuh eskapisme dari hidup yang rumit. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh realitas yg berbeda dengan realitas yang mereka alami. Mereka butuh melihat rumah megah, perempuan-perempuan bening dan bahenol, pahlawan gagah, dst. Makanya yang mendominasi adalah orang-orang dari utara. Kalo mau cari yang “gelap”, coba cek bosnya, sutradaranya, produsernya, hahaha.. soal yang aku bilang terakhir itu sudah jadi anekdot. Mihir Bose menulis, di studio-studio yang sumpek di Bollywood, bos-bos berkulit gelap dan berbaju putih, dengan ketek basah oleh keringat, membawa koper-koper penuh uang yang mungkin dipinjamnya dari para mafia Mumbai (yang berkulit lebih gelap lagi) hahaha…

Tapi kalo mau lihat diversiti ras, coba cek ke film-film selatan. Rajinikant itu nggak putih dan nggak tampan dalam “standar industri”. Di industri film Malayalam, aktor-aktor penguasanya sudah pada gendut dengan kumis segede singkong gosong. Mereka sudah pada tuwir menunggu pensiun. Biasanya mereka mulai mengorbitkan anak-anak atau menantunya. 

Sebagai bahanreferensi ini aku kasih contoh.  Salt N' Pepper. Ini adalah film komediromantik plus kuliner yang asyik. Bintang cowoknya amit-amit itemnya. dan diakeren. 

Lal, aktor tenar yang lebih mirip bapak kost-mu.... atau calon mertuamu

Kamu musti tahu bintang Malayalam satu ini. M. P. Michael yang tenar dengan nama panggungnya, Lal. Tidak terlalu item (seperti di filmnya) sih, tapi jelas ini bukan sosok idaman mbak-mbak penggemar serial India di Indonesia. 

Soal perbedaan orang India di film sama orang India di dunia nyata ini aku ada cerita. Seorang teman yang kerja di Malaysia mentah-mentah menolak untuk percaya bahwa Shah Rukh, Aamir, atau Salman itu orang India. Sebab sehari-hari ia bergaul dengan orang-orang India di Malaysia (yang disebutnya sebagai Bangla itu) itemnya minta ampun. "Mana ada org India putih?", begitu katanya hahaha..

============


Apakah anda suka film Bollywood?

Apakah anda masih ngerasa film India tuh norak abis? Lihat aja tiap ketemu tiang musti njoged dan nyanyi. India dengan tari dan nyanyi nyaris identik kayak film Hongkong dengan Kungfu. Tapi kalo nggak mendalami satu hal ya semuanya akan tampak sama saja.

Saya nonton film Bollywood sejak SD, yakni di TPI. TPI (waktu itu Televisi Pendidikan Indonesia) merupakan TV pertama yang menayangkan film-film India. Kebanyakan durasi film India adalah 3 jam, maka ada yang khas dari cara TPI menayangkannya. Biasanya filmnya dipotong jadi 4 bagian dan ditayangkan seminggu sekali, seperti jadi miniseri.

Bintang Hollywood yang saya kenal pertama adalah Sanjay Dutt, Amitabh Bachchan dan Salman Khan. Kalo perempuan Madhuri Dixit dan Aishwarya Rai.

Aishwarya Rai, kecantikan yang tak tertolak

Tapi ada jenuhnya juga ketika nonton India temanya itu-itu aja. Sama kayak bosannya saya ama serial Kungfu Mandarin. Ketika nonton film-film Amir Khan yang terkini, saya seolah menemukan harapan dalam nonton film India. 3 Idiots, Taree Zamin Paar, PK dan saat saya nulis ini yang terbaru adalah Dangal. 3 Idiots adalah film pertama yang bikin saya berharap ada perkembangan baru di Bollywood.

Menyetir motor matic, ia adalah mimpi buruk. Menodongkan pistol apalagi... Madhuri Dixit

Kecantikan klasik Madhuri Dixit

Jujur aja selera musikal saya bukanlah musikal Bollywood. Tapi kalo ngelihat Katrina Kaif goyang....kok guilty pleasure banget ya? Atau sexynya Aishwarya Rai dalam Dhoom 2....owww gilti pleserrrrr!!!

Selera saya soal kecantikan fisik juga cenderung "orientalis" atau "manis pedesaan" atau "keimutan Syar'i"..."kebahenolan akrobatik" juga suka. India? Hmmm... sebenarnya not my type. Tapi ya ada kecualinya.

Kecantikan klasik Madhuri Dixit adalah sesuatu yang saya wow-kan, imut kekinian kayak Alia Bhatt juga sesuatu yang saya ahhh-kan. Belum lagi Katrina Kaif yang jelas oohhhh-istic.

Keseksian tak terelakkan...Katrina

A guilty pleasure....Katrina Kaif

Alternatif romance selain Korean Drama....Bollywood sweetness

Ada yang lebih manis dari Alia Bhatt?

Nah untuk mengenal (kenal aja dulu...paham belakangan haha) soal film India. Saya mau ngobrol ama pakarnya. Dia adalah satu-satunya (setahu saya) orang yang nulis referensi mendalam berbahasa Indonesia soal Bollywood.

Dapatkan bukunya.

MAHFUD IKHWAN, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini adalah penulis buku “Aku dan Film India melawan Dunia” (penerbit EA Books 2017). Dia bisa saya bilang “Wikipedia berjalan soal Bollywood” dalam bahasa Indonesia.

Kita mulai obrolan ini.

===========

GUGUN: Pertama. Sebenarnya Bollywood itu istilah dari siapa? Mengacu ke industri film yang mana?

MAHFUD: Hahaha... itu sebenarnya baru muncul di awal 90-an. diberikan oleh jurnalis mereka. Jadi semacam nebeng tenar, biar naik kelas. Ini sebenarnya berbarengan dengan keterbukaan ekonomi pasca rejim (sok) sosialis Indira Gandhi.

MAHFUD: Bollywood hanya mengacu kepada industri film di Bombay (sekarang Mumbai). Tapi, istilah Bollywood segera dikopi oleh industri-industri film di bagian lain di India. macam di Kolkata, Chennai, Sochi, Hyderabad, dst.

GUGUN: Bahasa apa yang dipakai di film Bollywood?

MAHFUD: Bollywood memakai bahasa Hindi. Kira-kira mungkin ragam pasaran dari Urdu, bahasa resmi yang dulu dipakai oleh kesultanan Muslim yang jatuh bangun di India utara.

GUGUN: Kalau yang berbahasa Tamil?

MAHFUD: Industri film di India tersebar "merata" di setiap regionnya. dan mereka memakai bahasa masing-masing. Chennai pakai Tamil, Kolkata pakai Bengali, Kerala pakai Malayalam, Hyderabad pake Telugu, dst.

GUGUN: Jadi peta industrinya itu gimana? Berdasarkan daerahnya kah?

MAHFUD: Tentu saja. dan itu hebatnya. Cuma yang tak terhindarkan adalah dominasi Bollywood dengan bahasa Hindi-nya.


GUGUN: Nah jadi inikah bedanya India dengan Amerika ya? kalo Hollywood kan tidak ada pengelompokan berdasarkan daerah. Mereka berawal dari studio system. Begitu atau bagaimana?

MAHFUD: Studio system sebenarnya juga terjadi di India. Dan karena itu, beberapa pusat industri film lebih mendominasi dibanding yang lain. Cuma, diversitas bahasa menuntut industri untuk memberi penonton film yang berbahasa daerahnya. Sistem dubbing ditempuh, tapi itu sering dianggap nggak efektif. Makanya yang dilakukan akhirnya saling me-remake. Ini hal yang sangat khas India.

GUGUN: Jadi pengelompokan daerah tadi berdasarkan sasaran penonton atau lokasi industrinya?

MAHFUD:  Lokasi industri melayani daerahnya. Film-film Tamil tak akan ditonton di utara. Kalau ada yang bagus di selatan, maka yangg utara nge-dubb atau me-remake. Contoh hasil dubbing adalah Bahubali (yang aslinya berbahasa Telugu). Sementara film-film Hindi kadang butuh di-remake agar penonton di Bengal atau Kerala mau menonton. Tapi, Bollywood, karena kekuatan modal dan dominasi kulturalnya, tentu saja kadang melewati sekat-sekat yang kubilang itu.

GUGUN: Jadi kalo misalnya kalau mau bikin film yang mau ditonton di Bengal maka filmnya musti diproduksi di Bengal atau yang satu "rayon" kedaerahan?

MAHFUD:  Aku tak tahu. Tapi logisnya, untuk membuat film berbahasa Bengal, setidaknya kau butuh aktor-aktor Bengal dan keterjangkauan distribusinya. Maka ya bikinnya di Kolkatta. Tapi, mungkin yang belum aku sebut dari tadi sebenarnya adalah perbedaan karakter di masing-masing industri. Dan itu mempengaruhi di mana kau bikin film, dengan siapa kau minta dibikinin music score, dst. Tapi lagi-lagi, di luar desentralisasi itu, bagaimana pun, Bollywood adalah tempat uang dan tempat ketenaran. Jadi ia pada akhirnya tetap menjadi centre. Contoh menarik adalah sutradara Rituparno Gosh. Ia sangat Bengal. filmnya selalu tak lebih dari dua jam, nggak pakai nari-nari, seringnya pakai bahasa Bengal atau malah kadang pakai bahasa Inggris. Tapi untuk mengangkat filmnya, ia sering memakai bintang-bintang Bollywood. Jadinya adalah film-film seni yang ditonton relatif banyak orang.

GUGUN: Jadi dalam perindustrian film India, seberapa besar signifikansi kedaerahan tadi? Sebagai perbandingan di Indonesia, penonton film di daerah pun lebih mengapresiasi film nasional (bisa dibaca Jakarta). Kalau yang daerah murni, biasanya levelnya cuma film TV dan tayangnya di daerah pula. Dan di daerah ini jarang yang levelnya sampai jadi industri. Kalau pun ada dan bisa diitung mungkin cuma Makassar. Purbalingga yang gudangnya filmmaker daerah saja distribusi offline-nya cuma di festival.

MAHFUD:  Indonesia jelas bukan bandingan. Pusat-pusat film selain Mumbai, seperti Kolkatta atau Chenai, punya superstarnya sendiri-sendiri, komposer-komposer hebatnya sendiri, dan penyanyi-penyanyi joss-nya sendiri. dan mereka kadang memproduksi film-film yang lebih hebat, lebih mahal, dan lebih tenar dibanding Bollywood. Contohnya Bahubali. Contoh lain adalah sosok Rajinikant di film-film Tamil. Orang ini dipuja di India selatan lebih dari Shah Rukh atau Bahchchan di utara.

GUGUN: Oo jadi ternyata daerah saling jor-joran bikin film ya? Jadi selera mereka tidak sentral kayak di sini?

MAHFUD:  Jelas. Tapi kalau ngomong sentralisme ya masih Bollywood. Kau bisa gugling atau baca di Wikipedia soal daerah mana saja yang merupakan penghasil film terbesar. Juga siapa superstar di masing-masing daerah itu dan film apa yang paling terkenal dari sana.

GUGUN: Kalau film India yang beda apa? Yang nggak tipikal njoged dan nyanyi.

Karya Satyajit Ray, "The World of Apu" tahun 1959 (Courtesy of Janus Films). Jangan nyari orang njoged.

MAHFUD:  Kalo mau nyari yang arthouse, biasanya banyak ditemukan di film-film Bengal (tradisi seni tinggi mereka nggilani (luar biasa ngeri) soalnya, dan terutama pematronan mereka kepada realisme romantik ala Satyajit Ray. Tapi, arthouse juga ditemukan di film-film selatan, baik di Tamil maupun Malayalam, yang punya tradisi sinema kiri. Tapi, Bollywood juga banyak arthouse-nya.

GUGUN: Sekarang soal genre. Biasanya saya nontonnya drama. Kadang ada juga sci-fi kayak film Ra-One dan Enthiran. Baru-baru ini yang heboh adalah Bahubali. Gimana pendapatmu soal film itu? Sebenarnya sevariatif apa sih genre film di India/Bollywood?

MAHFUD:  Bahubali 1 wis nonton tapi yang 2 belum. CGI-nya mengagumkan. Tapi sebagai penonton film India level snob, kisah dan kesan yang kudapat sih biasa saja, hehehe... Bahubali kupikir adalah jawaban untuk 300-nya Hollywood. Itu saja, hahaha...
Dan ngomong soalgenre, yang pertama mesti disebut adalah Masala. Itu mengatasi semua genre di Bollywood. Dalam satu film ada drama, eksyen, komedi.

GUGUN: Jadi masala adalah film Bollywood dengan unsur drama, laga dan komedi?

MAHFUD:  Begitulah. Tapi masala bisa menampung lebih banyak hal lagi. Fiksi sains misalnya. Itu lah kenapa disebut masala. Masala itu kalau aku bayangkan kayak gado-gado di sini. Isinya macem-macem, rasanya macem-macem.  Meski begitu, beriring dengan mengglobalnya Bollywood, beberapa genre akhirnya menegaskan diri. Kini kita bisa ketemu film-film komedi slapstik, komedi romantis, komedi yang bertumpu pada dialog. Yang rame sejak tahun 2000-an adalah horror. Horror erotis terutama. Sport moviesekarang sedang jaya-jayanya. Puncaknya mungkin Dangal-nya Aamir Khan. Selain itu juga sedang marak bikin biopic.

GUGUN: Contoh film-film yang bergenre tadi apa saja? Misal khusus sci-fi, horror dll. kalo action sih jelas ada ya.

MAHFUD:  Fiksi sains contohnya pada Ra-One itu. Tapi, Ra-One sebenarnya kalah dulu dan kalah keren sama Robot (Enthiran), film Tamil yang mirip Bicentinal Man yang dibintangi Rajinikant. Film yang perlu kamu tonton untuk visual effect dengan sentuhan fiksi sains adalah Eaga. Lagi-lagi ini film selatan.

Kemudian francais-nya Krisshh adalah genre superhero. Dimulai dari tahun 1986, Mr.India, anak yatim piatu yang bisa menghilang. Belakangan di film-film Tamil banyak yang macam ini hehe....

GUGUN: Gimana dengan horror? kenapa jarang film horror India ya? Hanya satu judul film india horror yang saya ingat. Nagin. Itu aja juga gak pernah nonton. Hanya gara-gara posternya dipasang di bioskop kampung saya.

MAHFUD:  Horror Bollywood memang jarang muncul di Indonesia sih. Tapi belakangan ini dominan kok. Coba kamu gugling film “Ek Thi Dayan”.

GUGUN: Sekarang film-film yang arthouse. Yang baru terutama. Film apa yang dapat international acclaim?

MAHFUD:  Lha, ini yang biasanya kurang apdet. Soalnya arthouse ini biasanya juga gak rame-rame dibahas baik oleh koran-koran lokal sana apalagi oleh koran-koran di sini. Jadi seringnya telat. Tapi yang belum lama ini kutonton adalah “Visaranai”. Film dari Hyderabad. Ini thriller hukum yang menggigit dan bikin menggigil. Dapat perhatian di Venice. Tapi begini sih, bagaimana pun aku selalu lebih menyukai yang industrial namun tetap bagus. Film-film Bollywood yang keluar dari pakem film-film Bollywood, tapi tetap dimainkan para bintang. Ya film-film dengan nuansa gelap. Film-film gangster asyik-asyik tuh. Itu jauh lebih memuaskanku sebagai penonton film India. Sebab, rata-rata yang arthouse itu tampak seperti hanya ingin ditonton orang Eropa.

GUGUN:  Kenapa film india berdurasi 3 jam?

MAHFUD:  Karena mereka butuh menempatkan setidaknya sedikitnya 7 lagu yang mana masing-masing durasinya 7 menit. Film-film yang nggak pake lagu (atau yang OST-nya ditaruh sebagai bekgron biasanya ya sekitar 2 jam-an). Coba cek film-film Rituparno Gosh. Juga film Bollywood lain yang tidak mainstream.

GUGUN: Jadi mereka ini pakai “4 structure act narrative” yang mana satu act-nya adalah njoged ya? hahaha

MAHFUD:  Tentu saja, haha...

GUGUN: Sekarang tentang cast. Ini agak bau-bau rasial bahasannya. Yang saya lihat para aktor adalah yang berdarah "Arya". Sementara India yang "gelap" paling-paling jadi penjahat hehehe. Sebenarnya gimana petanya? Sebagai bandingan, di Hollywood ada isu “whitewashing”, dimana aktor-aktor Kaukasia memerankan karakter Asia. Di masa lalu tak banyak porsi untuk aktor kulit hitam. Sebenarnya etnografi aktor Bollywood itu gimana?

MAHFUD:  hahaha.. ini agak sulit aku ngejawabnya. Mungkin karena memang belum baca. Lagipula hal beginian tak terlalu menarik perhatianku. Sebab, sederhananya, industri film India itu rasis, paternalistik, klientalistik, dan tentu saja korup. Dan itu gak perlu kucari tahu.

GUGUN: Ya secara visual kan kita lihat aktor dan yang njoged di latar itu paras dan bodynya wow semua. Tapi kalo lihat profil masyarakat aslinya kok beda? Termasuk india lokal di sini. Sorry, bukan maksud merendahkan.

MAHFUD:  Penonton film India itu sama dengn penonton film Indonesia. Mereka butuh eskapisme dari hidup yang rumit. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh realitas yg berbeda dengan realitas yang mereka alami. Mereka butuh melihat rumah megah, perempuan-perempuan bening dan bahenol, pahlawan gagah, dst. Makanya yang mendominasi adalah orang-orang dari utara. Kalo mau cari yang “gelap”, coba cek bosnya, sutradaranya, produsernya, hahaha.. soal yang aku bilang terakhir itu sudah jadi anekdot. Mihir Bose menulis, di studio-studio yang sumpek di Bollywood, bos-bos berkulit gelap dan berbaju putih, dengan ketek basah oleh keringat, membawa koper-koper penuh uang yang mungkin dipinjamnya dari para mafia Mumbai (yang berkulit lebih gelap lagi) hahaha…

Tapi kalo mau lihat diversiti ras, coba cek ke film-film selatan. Rajinikant itu nggak putih dan nggak tampan dalam “standar industri”. Di industri film Malayalam, aktor-aktor penguasanya sudah pada gendut dengan kumis segede singkong gosong. Mereka sudah pada tuwir menunggu pensiun. Biasanya mereka mulai mengorbitkan anak-anak atau menantunya. 

Sebagai bahanreferensi ini aku kasih contoh.  Salt N' Pepper. Ini adalah film komediromantik plus kuliner yang asyik. Bintang cowoknya amit-amit itemnya. dan diakeren. 

Lal, aktor tenar yang lebih mirip bapak kost-mu.... atau calon mertuamu

Kamu musti tahu bintang Malayalam satu ini. M. P. Michael yang tenar dengan nama panggungnya, Lal. Tidak terlalu item (seperti di filmnya) sih, tapi jelas ini bukan sosok idaman mbak-mbak penggemar serial India di Indonesia. 

Soal perbedaan orang India di film sama orang India di dunia nyata ini aku ada cerita. Seorang teman yang kerja di Malaysia mentah-mentah menolak untuk percaya bahwa Shah Rukh, Aamir, atau Salman itu orang India. Sebab sehari-hari ia bergaul dengan orang-orang India di Malaysia (yang disebutnya sebagai Bangla itu) itemnya minta ampun. "Mana ada org India putih?", begitu katanya hahaha..

============


Baca

COLLATERAL dan 2 FILM PEMBUNUH BAYARAN YANG LAIN

Ada 3 film tentang pembunuh bayaran yang jadi favorit teratas saya:
1. Collateral
2. John Wick
3. Leon
Collateral dengan realismenya, John Wick dengan mitologinya dan Leon dengan noir-nya.
Selain 3 di atas, beberapa judul yang perlu saya sebut dengan hormat antara lain: Nikita-nya Luc Besson (sama kayak Leon), The Killer-nya John Woo dan Le Samourai-nya Jean-Pierre Melville.


Collateral adalah film klasik terbaik dari Tom Cruise. Meski saya mengagumi Tom yang selalu total sebagai filmmaker (sejak Mission Impossible), saya selalu cemas ketika dia akting di film-film yang lain. John Reacher pun tak terlalu bisa mengesankan saya.
Tapi Collateral adalah film yang memorable. Pembunuh bayaran yang maniak sama musik jazz, mungkin hanya tertandingi oleh Leon yang hobi miara tanaman sri rejeki. Seandainya ia berada di realm-nya John Wick, keduanya merupakan lawan yang tangguh.
Collateral adalah film terbaik Michael Mann selain Heat.
Ada 3 film tentang pembunuh bayaran yang jadi favorit teratas saya:
1. Collateral
2. John Wick
3. Leon
Collateral dengan realismenya, John Wick dengan mitologinya dan Leon dengan noir-nya.
Selain 3 di atas, beberapa judul yang perlu saya sebut dengan hormat antara lain: Nikita-nya Luc Besson (sama kayak Leon), The Killer-nya John Woo dan Le Samourai-nya Jean-Pierre Melville.


Collateral adalah film klasik terbaik dari Tom Cruise. Meski saya mengagumi Tom yang selalu total sebagai filmmaker (sejak Mission Impossible), saya selalu cemas ketika dia akting di film-film yang lain. John Reacher pun tak terlalu bisa mengesankan saya.
Tapi Collateral adalah film yang memorable. Pembunuh bayaran yang maniak sama musik jazz, mungkin hanya tertandingi oleh Leon yang hobi miara tanaman sri rejeki. Seandainya ia berada di realm-nya John Wick, keduanya merupakan lawan yang tangguh.
Collateral adalah film terbaik Michael Mann selain Heat.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA