BAGAIMANA CARA SAYA BIKIN BREAKDOWN SCRIPT UNTUK D.O.P/CINEMATOGRAPHER UNTUK TIM PRODUKSI YANG SUPER MINI?

Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Fungsi standar Director Of Photography alias Cinematographer adalah sebagai “mata” sang sutradara. Dia pada hakekatnya adalah “sutradara untuk gambar”. Kalau saya, karena berkarya dalam sebuah tim yang kecil, merangkap sutradara sekaligus D.O.P. Bahkan kadang saya pegang kamera sendiri. Apa yang saya jabarkan di sini adalah cara saya pribadi bikin film, bukan cara standar yang lazim dilakukan industri.

Ada 3 jenis shot yang saya ambil setiap bikin film; MASTER, DETAIL dan CUTAWAY. Berikut ini tahapannya.

LANGKAH PERTAMA: TENTUKAN MASTER SHOT

Setelah script dibaca dan didalami, saya akan mulai mencorat-coret naskah. Yang pertama adalah menentukan MASTER SHOT. Master shot adalah gambar yang menangkap keseluruhan adegan tanpa terputus. Gambar ini menunjukkan kejadian dalam waktu sebenarnya (real time). Yang paling penting untuk hal ini adalah bahwa keseluruhan karakter, adegan dan lokasi bisa ditangkap dengan satu angle. Artinya, sebaiknya master diambil secara steady shot atau maksimal satu jenis pergerakan kamera saja misalnya panning. Tergantung pada kompleksitas script, bisa saja master shot diambil lebih dari satu.

Di script, bagian yang mau saya jadikan master shot saya tandai dalam kotak. Saya beri keterangan sesuai nomor scene, jenis shot dan nomor shot-nya. Misalnya begini; Scene 2 Master Shot 1. Ini akan memudahkan asisten saya mencatatnya.


Master shot, sebaiknya mampu memberikan gambaran adegan secara utuh. Maka saya biasanya memperlakukan master shot dengan cermat seolah-olah saya tak akan sempat mengambil detail. Sebagai sutradara, saya akan mengatur dengan cermat blocking pemain dan posisi kamera.

LANGKAH KEDUA: TENTUKAN DETAIL SHOT

DETAIL SHOT adalah gambar yang mewakili mata penonton untuk memfokuskan pada bagian tertentu yang dimaui sutradara. Shot ini berguna untuk melihat detail atau menangkap lebih dalam emosi karakter. Saya sebagai sutradara akan memutuskan bagian mana yang perlu dikasih detail.

Pada script, bagian itu juga saya tandai dalam kotak, namun lebih kecil daripada kotak yang menandai masternya. Berapa jumlah detail yang musti diambil, tergantung apa yang mau saya ungkap secara visual. Setiap detail menyampaikan emosi yang jelas dan spesifik.

LANGKAH KETIGA: TENTUKAN CUTAWAY

CUTAWAY adalah gambar sisipan. Cutaway berupa shot detail bagian dari aktor, properti dan lokasi yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan cerita. Misalnya shot tangan, jam, lampu, gelas dan lain-lain. Sisipan ini akan berguna di tangan editor jika ingin memanipulasi waktu. Jika adegan pada master shot secara real time berlangsung 5 menit, editor bisa membuatnya hanya menjadi 2 menit dengan bantuan CUTAWAY.

Karena dalam script tak ada instruksi soal cutaway, maka kita bisa memutuskan bagian mana yang mau diambil untuk cutaway. Misalnya adegan ngobrol sambil minum kopi di cafe, maka cutaway yang saya ambil biasanya cangkir kopi, jendela café, pengunjung ngobrol  dan lain-lain.

Di script saya akan bikin satu kotak kecil yang saya hubungkan ke kotak detail shot. Saya akan tulis nomor scene,  jenis shot dan nomornya. Misalnya; Scene 2 shot 3 cutaway close up cangkir kopi.

LANGKAH KEEMPAT: TENTUKAN PENANGANAN ESTETIK TIAP SHOT

Setiap shot harus diperlakukan dengan cantik. Maka saya perlu merencanakannya dengan baik. Saat inilah saya perlu kertas baru untuk mencatat rencana penanganan estetik (karena script udah terlalu penuh coretan).

Berdasarkan breakdown tadi, saya tulis SHOT LIST beserta penjelasan rinci tiap adegannya. Saya tak memakai cara standar. Biasanya saya bikin sendiri yang pokoknya kru saya paham.

SHOT LIST tadi menjadi acuan untuk bikin STORYBOARD. STORYBOARD adalah reka visual tahap awal bagaimana adegan akan tampak di kamera. Di sini terlihat bagaimana angle dan gerakan kameranya. Karena nomor scene, shot dan jenis shotnya sudah tercatat maka kerja bikin storyboard jadi mudah.

Setelah adegan bisa diperkirakan secara visual lewat storyboard, maka saya sebagai D.O.P akan menentukan teknik pencahayaan, pemilihan lensa dan sebagainya. Saya musti cermat apakah gambar yang mau diambil nanti melibatkan perekaman audio, penggunaan special effect dan lain-lain. Hal-hal semacam itu perlu dicatat. Di tahap ini tak jarang saya merevisi storyboard untuk berkompromi dengan keadaan.

LANGKAH KELIMA: EKSEKUSI DI LAPANGAN

Sebelum melakukan eksekusi, saya biasanya melakukan latihan dulu. Yakni melakukan RECCE atau BLOCKING SHOT. RECCE adalah melakukan latihan di lokasi sebenarnya sambil mengantisipasi kendala yang mungkin muncul. BLOCKING SHOT adalah test mengambil gambar untuk memastikan agar semua perencanaan akan efektif pada saat syuting beneran nanti. Tak jarang saya cuma punya waktu blocking shot beberapa menit sebelum syuting sebenarnya dimulai.

AGAR EFEKTIF DI LAPANGAN: ASISTEN YANG TANGGUH

Tim saya saat ini SUPER KECIL. Cuma 4 orang:

-Saya selaku sutradara merangkap penulis
-Seorang asisten sutradara merangkap pencatat adegan dan pegang clapper
-Seorang D.O.P merangkap kameramen dan penggambar storyboard
-Seorang editor merangkap ko-kameramen


Dalam tim yang super kecil ini kunci efektifnya syuting adalah ASISTEN yang tangguh. Dia lah yang memantau jalannya waktu, mencatat detail mana yang belum dan sudah diambil. Sebagai filmmaker yang posisinya merangkap-rangkap, saya sudah tak punya waktu untuk melihat catatan secara utuh. Bahkan pegang naskah saja sampai tak sempat. Kameramen dua orang biasanya saya atur agar satu mengambil master shot yang lain ambil detail dalam waktu bersamaan. Mereka takkan sempat membawa-bawa script dan storyboard. Asisten lah yang membawa semua berkas dan mencatat. Ia sangat penting untuk mengontrol efektivitas produksi di lokasi. Asisten musti cermat, detail dan tahan capek. Makin banyak asisten sebenarnya makin baik. Tapi saya cuma punya satu.


Demikianlah cara saya bikin breakdown script untuk Director Of Photography. Semoga berguna buat teman-teman yang bikin film dengan kru terbatas.
Baca

TONARI NO TOTORO (Hayao Miyazaki 1988), KISAH GENDRUWO DESA BERBULU IMUT

Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Saya nonton film ini jaman kuliah, dikasih lihat ama dosen kami. Tapi saat itu saya belum terlalu demen monster-monsteran. Jadi ya kesannya biasa aja. Jatuh hati saya pada film ini ternyata tidak bisa pada pandangan pertama. Bertahun-tahun kemudian saat saya nonton ulang (pas mulai demen monster-monsteran) saya mulai bisa menyukai film ini. Mulailah saya sadar bahwa Tonari no Totoro adalah masterpiece animasi dan juga genre film fantasi.


Kisahnya sih simpel, bahkan tanpa konflik. Pada era paska Perang Dunia II, Pak Kusakabe bersama dua anaknya yang masih kecil pindah ke desa, tinggal di sebuah rumah tua. Satsuki si sulung adalah gadis SD yang ceria, selalu antusias dengan alam sekitarnya. Mei, adiknya masih usia PAUD. Sama kayak kakaknya, ia suka dengan alam dan gemar teriak-teriak. Pak Kusakabe sangat menyayangi mereka berdua. Sayangnya kehidupan mereka kurang lengkap karena sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.

Hari-hari Satsuki dan Mei diisi dengan bermain di lingkungan sekitar. Rupanya betul bahwa rumah itu "angker". Semak-semaknya menyimpan misteri. Suatu hari Mei berjumpa dengan makhluk halus berbentuk hybrida kucing-beruang-kaiju. Mei memanggilnya Totoro. Totoro nggak banyak bicara. Sesekali ia mengaum dan melenguh. Tinggalnya di dalam ceruk gaib pohon camphor raksasa di bukit belakang rumah. Selain molor sepanjang hari, kadang ia terbang dan naik bis kucing. Totorolah yang membantu Satsuki dan Mei bertemu dengan ibunya di rumah sakit kota lain.

Wis…ngono thok hehehe

Jadi ini memang bukan tipe film yang memanjakan anda dengan plot canggih. Ndak ada konflik kepentingan. Lebih merupakan a slice of (fantastic) life. Cuma kisah dua anak kecil ketemu gendruwo unyu. Tekniknya adalah animasi 2 D yang jujur aja pergerakannya nggak semulus Walt Disney bikin. Tapi saya jamin anda nggak akan terganggu dengan itu. Ada banyak elemen yang menaruh nyawa di film ini.


Melihat sejak scene awal digelar. Pepohonan, jalan setapak desa, tanaman pagar hidup, gemricik air sungai yang bening, rumah tua dengan pekarangan penuh pohon rimbun, tempat rahasia di bawah rerimbun semak. Itu menggali kenangan masa kecil saya. Miyazaki begitu detail menggambarkannya. Kita bisa lihat betapa detail semak-semak dan bunga yang digambar. Seolah anda bisa merengkuhnya menerobos layar. Perhatikanlah adegan Satsuki melihat botol bekas di dasar selokan, saat Mei melihat kerumun kecebong di kolam tua, saat badai menggoyang pucuk pohon dan atap seng, saat hujan malam gelap di tepi jalan, saat butiran air dari dahan menimpa payung… Sebagaimana visualnya, tiap suara film ini juga begitu detail. Suara kecipak air, kepakan sayap belalang, gemerisik dedaunan, biji yang jatuh. Bahkan seolah anda juga bisa membaui hijaunya sawah dan tanah....semua begitu hidup. Melambungkan angan menembus waktu. Dunia Hayao Miyazaki adalah labirin fantasi yang membuat saya kangen masa kecil.

Omong-omong soal masa kecil. Saya dulu lahir di sebuah rumah tua. Ari-ari saya ditanam di rerimbun sirih yang mirip markas peri liliput. Di belakang rumah ada hutan bambu yang dihuni kucing hutan. Sayang sekali sekarang sudah habis dikikis abrasi sungai. Ya, ada sungai di samping rumah kami. Sering saya membayangkan makhluk-makhluk fantasi yang saya baca dari buku dongeng tinggal di sela-sela batang beluntas. Saya juga pernah bermimpi bahwa di bawah akar pohon aren di belakang rumah ada sebuah candi. Imajinasi semacam inilah yang dihidupkan oleh Tonari no Totoro.


Dunia Miyazaki adalah imajinasi tentang alam yang berlapis. Selain manusia, ada juga gendruwo unyu yang suka main occarina di pucuk pohon. Mungkin Miyazaki ingin menggambarkan bahwa begitulah ruh yang menjaga alam pedesaan. Imut, misterius, menentramkan sekaligus agung. Saat adegan Satsuki dan Mei dibawa terbang oleh Totoro naik gasingan, saya jadi ingat mimpi masa balita saya…terbang di atas pedesaan. Melewati pucuk-pucuk pohon dan sawah luas. Mimpi terbang adalah keindahan masa kecil yang sukar dialami lagi di masa dewasa. Coba saja...anda masih bisa mimpi terbang di usia dewasa saat ini?

Semua orkestrasi citra dan swara tentu tak lengkap tanpa hiasan music scorenya. Sebagai soundtrack pembuka, gubahan Joe Hisaishi memadukan gaya march, sedikit sentuhan musik folk Skotlandia (kalo kuping saya gak salah hahaha) dan melodi yang "anak-anak" banget.

Coba nyanyikan lagu yang aslinya diisi vokal Mika Arisaka ini...

Arukou...Arukou   
Watashi wa genki 
Aruku no daisuki   
Dondon yukou
Sakamichi...Tonneru...Kusappara 
Ippon bashi ni  
Dekoboko jari michi 
Kumo no su kugutte   
Kudari michi

(Yo mlaku....yo mlaku...
Girase awakku
Aku senengane mlaku
Gek budhal ayo 
Ing perengan, ing kalenan lan sesuketan
Ing kreteg jembatan lan dalan kang grunjal-grunjal
Jaringe kalamangga 
Ngisor dundunan...)

*) terjemahan waton

Tonari no Totoro tidak memakai struktur naratif standar Barat yang 3 acts itu sebagai daya pikat. Ia menghidupkan kisah lewat detail dan tema. Kita tak akan dibawa cemas melainkan gemas. Tak ada drama yang bikin mewek. Namun setiap jengkal gambar, menyimpan roh. Roh inilah yang mebuat kita selalu kangen untuk nonton ulang film ini (dan juga karya Miyazaki lainnya).

Tonari no Totoro adalah film “spiritual”. Ngelihatnya musti pake hati. Hati itu dari jiwa kita. Animasi dari kata animate, menghidupkan. Dan kehidupan itu soal jiwa. Maka lupakan analisa “ndakik-ndakik bin njelimet”. Pokoknya nonton Totoro dengan hati bisa bikin bahagia hehehe.

Nyanyi lagi... 

Dareka ga, kossori 
Komichi ni, ko no mi  
Uzumete... 
Chiisana me, haetara   
Himitsu no ango 
Mori e no pasupooto 
Sutekina bouken hajimaru...

Tonari no To-to-ro...Totoro   
To-to-ro...Totoro

Ini film yang “nyenengke”.




Baca

BAGAIMANA SAYA MENANGANI AUDIO DI FILM SAYA YANG NO BUDGET

Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Jaman masih kuliah dulu, akses saya ke film cuma dalam format VCD. VCD tu resolusinya cuma 352 x 288. Bandingin aja sama standar kebanyakan video sekarang yang full HD 1920 x 1080. Bahkan full HD aja sebentar lagi bakal digeser sama 4K. Meski demikian, jelas saya gak bisa lupa betapa berjasanya format VCD mendidik saya tentang film. Satu hal yang saya pelajari dari VCD, bahwa gambar yang parah (menurut standar sekarang loh) masih bisa diterima dibanding audio yang buruk. Bagi saya, mending nonton film yang gambarnya buruk tapi audionya bagus daripada sebaliknya.

Saya punya satu shotgun mic (Audio-Technica ATR- 6550) tapi saya nggak selalu punya kru khusus sound. Ini menyulitkan karena musti ada seorang tukang pegang boom pole. Blocking pun juga musti direkayasa agar kamera bebas ambil angle sedangkan audio tercover dengan baik. Lalu saya cobalah nggak pake shotgun mic. Saya pake HP Xiaomi Redmi 2 buat ngrekam. Hasilnya bisa anda denger di tautan yang saya sertakan.

Perhatikan lingkaran merah. Di saku aktor saya taruh HP buat rekam dialog.

Enaknya pake HP, saya jadi lebih bebas menentukan tata kamera. Hasil rekamannya pun tak mengecewakan. Tentu tak seprima shotgun mic profesional. Rekaman audio dari HP banyak yang mengikis detail kualitas. Suara dialog terdengar vintage. Tapi gak masalah. Malah di situ seninya. Soalnya saya penyuka retro dan vintage. Yang saya butuhkan dari audio dialog hanyalah clarity. Di kuping saya, rekaman HP Xiaomi itu udah lumayan. Suara latar, ambience dan lain-lain ditempel saat post production nantinya. Oh iya….bagi yang belum tahu, track dialog dalam film itu mono ya. Kalo suara ambience latarnya stereo.

Untuk scene EXTERIOR, peletakan perekam audio agak tricky

Maka yang terpenting saat syuting adalah mengakali peletakannya. HP itu kadang saya sematkan di saku, saya sembunyikan di latar, bahkan disamarkan sebagai properti. Intinya harus dekat dengan proyeksi suara aktor. Maka aktor juga kita atur blockingnya agar dia memproyeksikan suara ke arah yang tepat. Untungnya si HP ini dirancang agar lebih fokus menangkap dialog. Suara noise dan hiss lingkungan tak akan tertangkap terlalu jelas. Dengan utak-atik dikit di post pro, audionya udah bisa kedengaran pas. Tapi ya itu. Karakternya vintage. Kalau anda mau coba, jangan lupa tertib pakai clapper. Ndak gitu editor anda bisa bunuh diri saking mumetnya nge-sync audio-video.

Saat post pro, audio diedit agar lebih clear dan berkarakter. Levelnya di tiap scene diselaraskan. Kalo ada error dan nggak sempet take ulang, maka saya terpaksa mengakalinya dengan teknik “tambal sulam”. Misalnya ada kesalahan dialog atau ketidak jelasan satu bagian tertentu. Kalau ADR (auto dialogue replacement) nggak mungkin dilakukan, maka saya akan mengganti bagian yang jelek itu dengan audio yang pas.

Lho darimana audionya kalo bukan ADR alias ngrekam audio lagi?

Di sinilah diperlukan kesabaran dan kreativitas. Biasanya saya akan mencari kata yang sama berintonasi sama pula dari bagian lain rekaman audio yang ada. Misalkan jika ada kesalahan dialog, “Aku cinta kamu.” Terus si aktor ngomongnya belibet sehingga yang kedengaran Cuma kata “aku… bla bla bla …kamu”. Maka saya akan mencari di bagian lain di mana si karakter menyebut kata “cinta”. Kata ini lalu saya copy paste ke bagian yang gak jelas itu.

Lha gimana kalo si karakter cuma nyebut “cinta” sekali dan rekamannya rusak?

Nah cara saya gini…saya akan cari suku kata “cin” dan “ta” di seluruh rekaman dialog. Misal saya ambil “cin” dari kata “licin” dan “ta” dari kata “tai” eh maaf…”kita” misalnya. Lalu dua suku kata itu saya gabungkan dengan cermat sehingga terdengar sebagai “cinta” dengan mulus dan jelas. Tentu saja ini ribet banget. Masalahnya kan nggak semua intonasinya bisa pas ama yang kita inginkan. Trus gimana? Ya makanya kita musti ekstra sabar dan ultra kreatif.

Oleh karena audio sangat penting, semua musti diatur baik-baik sejak pre production. Saat saya nulis naskah, saya juga ngebayangin bagaimana menangani audionya. Saya kudu pastikan aktor ngomongnya jelas dan terproyeksi ke alat rekam. Sayangnya di lapangan kontrol sering kurang. Maka bisa dipastikan yang repot adalah saat post pro-nya. Kita akan harus melakukan tambal sulam dengan banyaknya kesalahan dialog. Kita musti mempermak kekurangjelasan rekaman, nge-sync ulang, bahkan juga terpaksa rekam audio ulang. Bikin film indie no budget emang serepot itu.

Okay. Last thing…saya sih dari dulu bukan orang yang selalu mendewakan gadget. Sebisa mungkin mengurangi ketergantungan. Dengan demikian saya bisa bekerja dengan alat apapun dan budget berapapun selama saya suka naskahnya. Lha kalo saya musti nunggu punya RODE dan ZOOM H4N atau TASCAM, ya saya nggak akan bikin film dong hehehehe. Lagian siapa juga yang mo ngasih?

Alat itu nggak guna kalau dengannya anda nggak bisa bercerita. Story is everything. And most of the stories….are told with AUDIO J


NB: Ini adalah film saya yang seluruh audionya pakai HP







Baca

MENGAPA SAYA PAKAI CLOSE UP DAN WIDE APERTURE?


Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.

Ini ngomongin sinematografi. Istilah lebih ketatnya videografi, karena pake kamera video. Bahkan itu juga bukan kamera video melainkan kamera foto (DSLR) yang bisa video hehehe. Tapi kalo mau debat soal alat ada banyak sih grup medsos yang bisa anda ikuti. Bagi saya sinematografi adalah sebuah konsep substansial…sinema, cara tutur visual. Mbok pake kamera HP sekalipun kalo pake kaidah storytelling ya tetep saya sebut sinematografi.


Banyak sekali orang awam yang pake istilah “sinematik”. Mengacu pada karya video yang “kefilm-filman”, “mbioskopi”, “milemi” atau apalah sakkarepnya. Biasanya yang dimaksud adalah video yang di-grade atau diwarnai ulang, penggunaan aspect ratio ala-ala bioskop yang widescreen, main aperture lebar alias “bokeh” dll. Terapannya biasanya di video klip, wedding video, atau company profile video. Saya pribadi gak ada masalah sama istilah itu. Namun kalo bicara soal cara tutur visual, yakni dimana kita mengatur cara mengambil gambar agar menceritakan atau menyampaikan sesuatu…istilah sinematik ini musti punya pertanggungjawababnnya.

Pendekatan saya terhadap sinematografi sampai saat ini adalah simpel…setiap shot adalah cara batin kita memandang. Ketika saya ingin merasakan suasana kota, lingkungan, alam dan lain-lain maka saya akan berdiri di tempat yang luas. Agar saya bisa memandang selebar mungkin. Makanya jika saya ingin penonton merasakan tempat di mana karakter hadir, saya gunakan ruang pandang yang luas, detail. Maka lensa wide (dan saya punyanya cuman lensa kit 18-55) adalah yang cocok untuk menangkapnya. Aperture-nya sesempit mungkin agar mampu menangkap tiap sudut object.

Lain halnya ketika saya ingin penonton merasakan emosi, menangkap perkataan si karakter. Di situ ruang sudah tak terlalu penting. Maka saya akan taruh kamera lebih dekat…close up. Lensa 50 mm fixed sudah mencukupi untuk keperluan ini…lagian saya punyanya cuma itu. Dengan aperture antara 2 sampe 2.8 background akan saya bikin blur biar nggak distraktif. Kayak kalo kita bicara intens sama seseorang. Kita akan tatap matanya, amati bibirnya, saat itu kita tak terlalu perhatian sama sekitar. Apalagi kalo ngobrolnya berbisik. Kita bahkan bisa lihat komedo di hidungnya. Begitu pembicaraan selesai, biasanya kita akan ambil nafas dan mulai melihat lagi ke sekeliling. Dalam bahasa kamera yang saya pakai, dari wide aperture kembali ke narrow. Karena itulah kalo ambil shot dialog, background akan saya bikin jelas lagi ketika pembicaraan dari si karakter tak terlalu perlu ditekankan. Atau ketika saya ingin hubungan karakter dan background ditekankan sekaligus, misalnya menunjukkan posisi, pangkat, kondisi dll. Jadi motivasi saya (sebagai penutur visual) mengikuti rasa batin apa yang mau ditekankan.

Pokoknya saya memposisikan kamera berdasarkan rasa batin. Gimana sih rasanya kalo misalnya kita ngobrol atau mengamati sesuatu tapi posisi kita lebih rendah (low angle)? Atau jika sebaliknya, gimana kalo kitanya yang lebih tinggi? Pasti ada rasa batin yang berbeda. Kadang saya memposisikan sebagai diri sendiri, kadang memposisikan sebagai mata orang ketiga. Intinya mengikuti rasa yang ingin diungkap.

Begitulah sinematografi ala saya. Ini baru ngomongin soal lensa dan posisinya (angle). Belum pergerakan dan warna. Kapan-kapan wae nek ora males.
Baca

COLOSSAL (Nacho Vigalondo, 2016), FILM MONSTER/KAIJU BAPERAN

Sepertinya loh ya…menonton film itu, sama halnya kayak kehidupan. Don’t be too serious. Ada kalanya peristiwa-peristiwa kita periksa mendalam (seperti ilmuwan), tapi ada kalanya kita anggap peristiwa itu biarlah sekadar lewat asal dapet maknanya (seperti sufi…entah sufi yang mana). Tak perlu dalem-dalem menelitinya selama kamu dapet hikmah. Don’t dig too much if happiness is enough. Coro Jowone…asal ati ayem tentrem, ra sah jero-jero mikire. Ya tapi itu lamunan sesat saya hehehe…


Colossal adalah film komedi kelam yang dipersembahkan untuk anda yang sedang nggak mau ber-“jero-jero mikir” itu. Bukan berarti ini film nggak serius ya. Lupakanlah kacamata “Nolanistik” atau “Spielbergian” anda saat nonton film ini. Kalau anda terbiasa dengan cerita bikinan Charlie Kaufman (Being John Malkovoch, Adaptation dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind)  mungkin ini adalah film yang akan anda sukai. Anda demen exclusively genre kaiju, tokutsatsu, Gundam, Ultraman? Hmmm saya nggak yakin ini film cocok buat anda. Colossal adalah film komedi (dark), romans, fantastik dan ya…KAIJU. Kaiju adalah genre film monster raksasa ala-ala Jepang. It’s fun, “lutju tur nyenengake”.

Gloria adalah cewek yang bermasalah dengan alkohol dan karena suatu peristiwa di masa kecil, ia punya masalah ingatan. Di New York ia mengejar karier sebagai penulis artikel online, namun berantakan. Hidupnya makin kacau setelah diusir Tim, pacarnya yang kaya. Pulang kampung ke pinggiran kota, Gloria ketemu lagi dengan Oscar, teman masa kecilnya. Oscar mengelola bar warisan bapaknya.  Ia punya dua teman yang membantunya, Garth si junkie dan Joel si ganteng culun. Baru aja dateng, Gloria udah bikin masalah. Ia nyaris dicumbu si Joel yang sebelumnya ia flirt duluan. Namun Oscar menaruh belas kasihan pada Gloria. Ia pun mempekerjakannya di bar.


Di saat yang sama, sesosok kaiju (makhluk) segede monas muncul di Seoul. Anehnya kaiju itu terkoneksi secara gaib dengan Gloria. Apapun yang Gloria perbuat, si kaiju akan bertingkah sama persis. Tapi keduanya hanya terhubung kalau Gloria menginjak area sebuah petak di taman dekat sekolah jadulnya. Gloria dan kawan-kawan yang menyadari hal itu, malah menjadikannya main-main. Begitu tahu main-mainnya mengakibatkan banyak korban, Gloria merasa bersalah. Belakangan muncul robot besar yang gedenya sama ama kaiju tadi. Ternyata itu adalah proyeksi dari si Oscar.

Masalah muncul ketika Gloria nggak bisa mengendalikan hasrat impulsifnya. Apalagi kalau ia mabuk. Ia ini tipe cewek-cewek labil yang gampangan ngeflirt tanpa mikir. Ia menggoda Joel dan tidur bersama. Oscar yang cemburu mulai berbuat menyebalkan. Selama ini Oscar memperlakukan Gloria lebih seperti teman daripada karyawan. Sejak hal itu, ia menunjukkan dirinya bahwa ia adalah boss. Saat keduanya bertengkar, Oscar memanfaatkan koneksi gaibnya dengan robot raksasa di Seoul. Ia pergi ke petak di taman dan bikin kerusakan. Gloria tak bisa tinggal diam. Ia mengkonfrontasi Oscar. Hasilnya, penduduk Seoul pun melihat bahwa kaiju proyeksi Gloria sedang berusaha melindungi kota dari ancaman robot.

Masalah jadi runyam ketika Tim, mantan Gloria muncul di kota. Ia mau balikan sama Gloria. Jadilah Oscar yang berang bin baper bertarung dengan Gloria di petak taman. Gloria kalah. Oscar mengancam, kalo Gloria balik ama Tim, ia bakal hancurin Seoul tiap pagi. Gloria pun bimbang antara balik ke New York ama Tim, atau menyelamatkan Seoul. Sejak saat itu Gloria pun ngerti bahwa Oscar nggak cuma cemburu, tapi juga punya masalah kejiwaan yang serius.

Akhirnya Gloria menemukan satu cara untuk mengalahkan Oscar sekaligus menyelamatkan Seoul.

Sounds a weird plot?
Ya emang hahaha…

Makanya saya bilang nikmati film ini secara santai.

Ndak bisa? Masih gak paham ama filmnya?

Ya coba pemanasan dulu nonton film yang scriptnya ditulis Charlie Kaufman deh. Not every film for everybody.

Anne Hathaway, selalu dengan “imutisitas”nya yang khas. Cuma aja dia udah bukan eranya Princess Diary. Setidaknya Anne bikin filmnya menyenangkan karena dialog-dialog dari naskahnya biasa aja. Garing enggak, basah enggak. Jason Sudeikis sebagai Oscar? Biasa aja. Dan Stevens sebagai Tim juga biasa aja. Kayaknya magnet film ini selain nama Anne Hathaway adalah si kaiju itu sendiri. Saya mah suka karena saya kan penggemar kaiju. Sutradaranya orang Spanyol, Nacho Vigalondo juga belum terkenal amat. Tapi ia pernah bikin film thriller soal time travel yang bagus. Judulnya Los Cronocrímenes.

Soal plotnya? Well, it’s funny. Filmnya lucu-lucu aneh. Gimana coba dua orang baper lagi bertengkar bikin monster segede Gaban gelut ama robot raksasa dan ngehancurin kota. Cuma jangan berharap adegannya bakal ancur-ancuran ala Pacific Rim. Karena kaiju dan robot itu cuma proyeksi dua orang baper, ya mereka tarungnya kayak sepasang pacar amuk-amukan.

Colossal (mirip ama karya Kaufman) adalah film yang bermain-main dengan konsep. Ndak ada tema besar substansial di sini. Sebenarnya intinya sih cuma film cewek kacau yang jadi pahlawan penyelamat kota (what the fuck…). Film ini mengajak bercanda dengan cara yang aneh. Jadi kalo anda nggak punya bibit “aneh” kemungkinan sukar menghibur anda. Kalo saya emang aneh jadi ya girang bukan kepalang nonton ini. Well…kaiju and Anne Hathaway! Bayangin siapa coba yang mau bikin film kayak gini. Seabsurd apapun sinetron laga kolosal fantasy di TV, saya pikir mereka nggak akan sejauh itu bikin film yang mau menampilkan Chelsea Islan dengan lembusora di layar lebar, dengan sutradara Joko Anwar misalnya. Kayaknya hanya Hollywood yang mahir serius dalam bermain-main.

Trus apa dong bagusnya?

-Lucu, menghibur
-Kalo anda fans Anne ya mungkin anda betah
-Kaijunya imut, robotnya jelek

Kurangnya?

-Dialog yang mengkal, nggak garing nggak basah, ndak memorable
-Ndak ada tema substansial yang mendalam, soal cinta atau apa kek…kosong
-Di bagian akhir compositingnya kasar. Cukup mengganggu polesan cinematic yang dibangun dari awal. Mungkin yang nggarap anak magang.

Kesimpulan umum?

Menghibur…tapi ya jangan berharap banyak J pokoknya ada kaiju saya udah bahagia.




Sepertinya loh ya…menonton film itu, sama halnya kayak kehidupan. Don’t be too serious. Ada kalanya peristiwa-peristiwa kita periksa mendalam (seperti ilmuwan), tapi ada kalanya kita anggap peristiwa itu biarlah sekadar lewat asal dapet maknanya (seperti sufi…entah sufi yang mana). Tak perlu dalem-dalem menelitinya selama kamu dapet hikmah. Don’t dig too much if happiness is enough. Coro Jowone…asal ati ayem tentrem, ra sah jero-jero mikire. Ya tapi itu lamunan sesat saya hehehe…


Colossal adalah film komedi kelam yang dipersembahkan untuk anda yang sedang nggak mau ber-“jero-jero mikir” itu. Bukan berarti ini film nggak serius ya. Lupakanlah kacamata “Nolanistik” atau “Spielbergian” anda saat nonton film ini. Kalau anda terbiasa dengan cerita bikinan Charlie Kaufman (Being John Malkovoch, Adaptation dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind)  mungkin ini adalah film yang akan anda sukai. Anda demen exclusively genre kaiju, tokutsatsu, Gundam, Ultraman? Hmmm saya nggak yakin ini film cocok buat anda. Colossal adalah film komedi (dark), romans, fantastik dan ya…KAIJU. Kaiju adalah genre film monster raksasa ala-ala Jepang. It’s fun, “lutju tur nyenengake”.

Gloria adalah cewek yang bermasalah dengan alkohol dan karena suatu peristiwa di masa kecil, ia punya masalah ingatan. Di New York ia mengejar karier sebagai penulis artikel online, namun berantakan. Hidupnya makin kacau setelah diusir Tim, pacarnya yang kaya. Pulang kampung ke pinggiran kota, Gloria ketemu lagi dengan Oscar, teman masa kecilnya. Oscar mengelola bar warisan bapaknya.  Ia punya dua teman yang membantunya, Garth si junkie dan Joel si ganteng culun. Baru aja dateng, Gloria udah bikin masalah. Ia nyaris dicumbu si Joel yang sebelumnya ia flirt duluan. Namun Oscar menaruh belas kasihan pada Gloria. Ia pun mempekerjakannya di bar.


Di saat yang sama, sesosok kaiju (makhluk) segede monas muncul di Seoul. Anehnya kaiju itu terkoneksi secara gaib dengan Gloria. Apapun yang Gloria perbuat, si kaiju akan bertingkah sama persis. Tapi keduanya hanya terhubung kalau Gloria menginjak area sebuah petak di taman dekat sekolah jadulnya. Gloria dan kawan-kawan yang menyadari hal itu, malah menjadikannya main-main. Begitu tahu main-mainnya mengakibatkan banyak korban, Gloria merasa bersalah. Belakangan muncul robot besar yang gedenya sama ama kaiju tadi. Ternyata itu adalah proyeksi dari si Oscar.

Masalah muncul ketika Gloria nggak bisa mengendalikan hasrat impulsifnya. Apalagi kalau ia mabuk. Ia ini tipe cewek-cewek labil yang gampangan ngeflirt tanpa mikir. Ia menggoda Joel dan tidur bersama. Oscar yang cemburu mulai berbuat menyebalkan. Selama ini Oscar memperlakukan Gloria lebih seperti teman daripada karyawan. Sejak hal itu, ia menunjukkan dirinya bahwa ia adalah boss. Saat keduanya bertengkar, Oscar memanfaatkan koneksi gaibnya dengan robot raksasa di Seoul. Ia pergi ke petak di taman dan bikin kerusakan. Gloria tak bisa tinggal diam. Ia mengkonfrontasi Oscar. Hasilnya, penduduk Seoul pun melihat bahwa kaiju proyeksi Gloria sedang berusaha melindungi kota dari ancaman robot.

Masalah jadi runyam ketika Tim, mantan Gloria muncul di kota. Ia mau balikan sama Gloria. Jadilah Oscar yang berang bin baper bertarung dengan Gloria di petak taman. Gloria kalah. Oscar mengancam, kalo Gloria balik ama Tim, ia bakal hancurin Seoul tiap pagi. Gloria pun bimbang antara balik ke New York ama Tim, atau menyelamatkan Seoul. Sejak saat itu Gloria pun ngerti bahwa Oscar nggak cuma cemburu, tapi juga punya masalah kejiwaan yang serius.

Akhirnya Gloria menemukan satu cara untuk mengalahkan Oscar sekaligus menyelamatkan Seoul.

Sounds a weird plot?
Ya emang hahaha…

Makanya saya bilang nikmati film ini secara santai.

Ndak bisa? Masih gak paham ama filmnya?

Ya coba pemanasan dulu nonton film yang scriptnya ditulis Charlie Kaufman deh. Not every film for everybody.

Anne Hathaway, selalu dengan “imutisitas”nya yang khas. Cuma aja dia udah bukan eranya Princess Diary. Setidaknya Anne bikin filmnya menyenangkan karena dialog-dialog dari naskahnya biasa aja. Garing enggak, basah enggak. Jason Sudeikis sebagai Oscar? Biasa aja. Dan Stevens sebagai Tim juga biasa aja. Kayaknya magnet film ini selain nama Anne Hathaway adalah si kaiju itu sendiri. Saya mah suka karena saya kan penggemar kaiju. Sutradaranya orang Spanyol, Nacho Vigalondo juga belum terkenal amat. Tapi ia pernah bikin film thriller soal time travel yang bagus. Judulnya Los Cronocrímenes.

Soal plotnya? Well, it’s funny. Filmnya lucu-lucu aneh. Gimana coba dua orang baper lagi bertengkar bikin monster segede Gaban gelut ama robot raksasa dan ngehancurin kota. Cuma jangan berharap adegannya bakal ancur-ancuran ala Pacific Rim. Karena kaiju dan robot itu cuma proyeksi dua orang baper, ya mereka tarungnya kayak sepasang pacar amuk-amukan.

Colossal (mirip ama karya Kaufman) adalah film yang bermain-main dengan konsep. Ndak ada tema besar substansial di sini. Sebenarnya intinya sih cuma film cewek kacau yang jadi pahlawan penyelamat kota (what the fuck…). Film ini mengajak bercanda dengan cara yang aneh. Jadi kalo anda nggak punya bibit “aneh” kemungkinan sukar menghibur anda. Kalo saya emang aneh jadi ya girang bukan kepalang nonton ini. Well…kaiju and Anne Hathaway! Bayangin siapa coba yang mau bikin film kayak gini. Seabsurd apapun sinetron laga kolosal fantasy di TV, saya pikir mereka nggak akan sejauh itu bikin film yang mau menampilkan Chelsea Islan dengan lembusora di layar lebar, dengan sutradara Joko Anwar misalnya. Kayaknya hanya Hollywood yang mahir serius dalam bermain-main.

Trus apa dong bagusnya?

-Lucu, menghibur
-Kalo anda fans Anne ya mungkin anda betah
-Kaijunya imut, robotnya jelek

Kurangnya?

-Dialog yang mengkal, nggak garing nggak basah, ndak memorable
-Ndak ada tema substansial yang mendalam, soal cinta atau apa kek…kosong
-Di bagian akhir compositingnya kasar. Cukup mengganggu polesan cinematic yang dibangun dari awal. Mungkin yang nggarap anak magang.

Kesimpulan umum?

Menghibur…tapi ya jangan berharap banyak J pokoknya ada kaiju saya udah bahagia.




Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA