BAGAIMANA SAYA MENILAI FILM?

Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Bagi saya, menilai film itu tidak lagi sekadar bagus dan nggak bagus. Kalo cuma buat hiburan ya oke lah kita pake kategori biner kayak gitu…jelek atau bagus. Film yang bikin seneng, atau film yang bikin ngantuk. Tapi kalo kita mau menilai film secara lebih serius, maka kita akan berhadapan dengan sejumlah kompleksitas. Bagus itu dalam hal apa? Jelek dalam hal apa?


Yang pertama saya lakukan adalah kategorisasi. Bagi saya ini penting agar saya bisa menggunakan kacamata yang pas dalam menilainya. Film berdasarkan kecenderungan tujuannya, saya bagi jadi 5 macam:

-Film propaganda: Film yang menawarkan sebuah nilai, atau memberikan pandangan fixed atas sebuah nilai. Film religi masuk dalam kategori ini.

-Film ekspresif: Film yang merupakan ekspresi pribadi sang pembuat film. Film yang bertujuan menyampaikan perasaan tertentu. Biasanya film-film nyeni, art house, film-film avant garde.-Film reflektif: Film yang menggambarkan keadaan sosial atau realita sekitar. Mungkin bisa juga dipake istilah “film realis”.

-Film “hidangan”: Apa ya istilah yang enak? Pokoknya ini jenis film yang menyajikan suatu hal untuk dinikmati. Ini adalah film yang dibuat semata-mata agar laris ditonton. Menghibur. Rata-rata film box office bioskop masuk ke kategori ini.

-Film diskursus/wacana: Film yang mengajukan gagasan baru, atau tafsir baru atas sebuah gagasan lawas. Bisa tentang sains, masyarakat, budaya, bahasa atau malah tentang film itu sendiri. Ide yang disampaikan haruslah memiliki landasan berpikir yang solid. Kalo enggak nanti jatuhnya ke film "hidangan" atau malah film membingungkan.


Ini cuma kategorisasi umum belaka. Pada kenyataannya, bisa jadi sifat dari masing-masing kategori tersebut akan bercampur. Dengan mengetahui satu film masuk ke kategori mana, maka saya bisa menentukan apakah saya perlu menilai masing-masing film dengan cara tertentu.

Untuk semua kategori tersebut, kita bisa menilainya lewat dua jalur penilaian: Teknis dan non teknis.
Teknis meliputi: Kualitas penggarapan audio visual dan production value.
Non teknis meliputi: Kualitas naratif, ide, storytelling dan akting.

Saya pribadi tak terlalu demen ribet soal hal-hal teknis. Soalnya tolok ukurnya cenderung lebih gampang. Mudah bagi saya untuk menilai gambar atau audio sebuah film bagus enggak, hanya dengan sekali tonton. Dan saya bisa memaafkan kekurangan teknis jika hal-hal non teknisnya jauh memukau. Rata-rata film jadul itu kualitas teknisnya biasa aja. Tapi performa non teknis lah yang bikin film-film tersebut luar biasa.

Menilai film bukan membahas soal alat. Itu wilayahnya teknologi videografi. Membahas film bukan ngomongin soal software editing. Itu wilayahnya teknik post produksi. Film adalah “sastra-nya” produk audio visual. Pembahasan soal film adalah pembahasan soal penyampaian kisah, pesan dan kesan. Jadi ibarat kalo novel, maka film adalah ceritanya. Sedangkan alat syuting dan editing adalah pena dan kertasnya. Saat membahas novel, kita nggak mbahas soal pena, mesin ketik, layout dan font. Kita membahas cerita, nasib para karakternya dan kesan yang kita dapat.

Saya termasuk pemuja storytelling. Film yang bagus, selalu saya nilai dari caranya bertutur. Kalo secara teknis kita akan menilai bagaimana filmmaker mengarahkan mata dan telinga kita, maka storytelling adalah bagaimana filmmaker mengarahkan pikiran dan perasaan kita. Apakah narasi disampaikan secara linier? Dari awal hingga akhir, dari perkenalan hingga penutup? Ataukah disampaikan secara non-linier, yakni secara acak dan membuat kita lebih penasaran?

Storytelling adalah segalanya bagi saya. Cerita yang biasa, jika diceritakan secara istimewa, maka ia menjadi kisah yang dahsyat. Akan tetapi, storytelling bagi saya bukan cuma dalam hal naratif. Sinematografi pun bisa didekati dengan prinsip storytelling. Keunikan angle dan pergerakan kamera yang dilandasi oleh motivasi shot yang bercitarasa (taste), bagi saya merupakan suatu “visual storytelling”. Visual storytelling adalah menyampaikan cerita hanya dengan gambar dan peristiwa.

Storytelling ini akan terikat erat dengan kategori-kategori yang saya sebut di atas. Setiap kategori memiliki cara storytelling-nya sendiri. Maka akan susah kalau kita menilai sebuah film ekspresif misalnya, dengan tolok ukur storytelling ala film-film “hidangan”. Akan banyak nggak nyambungnya. Ketakmampuan mengkategorikan tujuan film dibikin, akan membuat kita menyamaratakan penilaian semua film.

Saya juga menilai sebuah film dari karakter dan citarasa. Mungkin istilah singkatnya adalah “taste”. Ada sutradara-sutradara tertentu yang punya taste khas. Misalnya Quentin Tarantino, Tim Burton dan Wes Anderson. Mereka ini karyanya pasti khas dan unik. Kita bahkan langsung bisa mengenali gayanya. Bagi saya, film nggak cukup hanya bagus. Film yang keren harus lah unik, khas dan memorable. Film semacam ini malah lebih sering diingat orang daripada film-film bagus yang standar. Saya lebih suka film yang inspiratif daripada sekadar “berkualitas”.

Terakhir, apa gunanya menilai film? Emangnya mau jadi kritikus?

Hehehe nah kalo itu silakan belajar pada para kritikus yang udah ngetop. Saya mah bukan kritikus lho ya. Paling banter cuma jadi tukang review cemen. Kebetulan saya suka bikin film. Dengan menilai film, saya bisa belajar darinya. Saya mengikuti kata Pakde Quentin Tarantino; belajar film itu ya dari film. I did’nt go to a film school, I go to the movie.

Akhirul kalam, lets watch a movie, then make your own. It’s fun.


Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA