MENGAPA MANAJEMEN PRODUKSI LEBIH PENTING DARIPADA GEAR

Saya mengawali belajar film dengan cara yang sangat chaotic. Semua berdasar asumsi dan nekad-nekadan….ya dengan sebongkah kemlinthi di benak saya. Saya pikir bikin film itu gampang. Perlu beberapa tahun untuk menyadarkan saya bahwa karya-karya saya (yang dibuat secara chaotic tadi) sangat tidak memenuhi standar paling dasar.
MOVO FILM CLUB, ekskul film sekolah yang kami bina sedang melakukan pra produksi di 2018
Hal yang paling saya urus pertama untuk diperbaiki adalah kualitas cerita, juga talent. Saya pun kemudian belajar bikin cerita yang lebih baik. Tapi ternyata karya berikutnya, meski lebih mending, tak juga memenuhi visi saya. Ibarat kucuran dana dari pemerintah, di pelaksanaan ada aja potongannya. Saya pun mulai mempelajari, apalagi yang salah? Senior saya pernah ngajarin bahwa bikin film itu mirip argo taksi. Kita diburu waktu, duit terbatas dan tujuan kudu jelas. Saya lalu menemukan sebuah hubungan antara kualitas, visi, biaya dan waktu. Untuk mendukung KUALITAS diperlukan sinkronisasi antara visi, biaya dan waktu. VISI nggak usah muluk-muluk kalo gak ada BIAYA. Duit sebanyak apapun gak bisa membantu kualitas kalo WAKTU yang dimiliki terbatas. Jadi musti dimanage. Jadi sekarang tiap bikin karya, saya pastikan visi saya distel untuk production value paling rendah. Saya perkuat storytelling lebih daripada yang lain. Itu satu-satunya penyelamat jika biaya udah mentok. Makanya saya jarang mengeluh soal bujet. Kebanyakan yang susah adalah nyari tim.
Tim saya yang cuma 4 orang: Vara (D.O.P), Tera (Editor), Belle (Astrada dan Co-Produser) dan saya.
Beberapa jam sebelum produksi rapat di kantin.
Kalo timnya superkere no bujet 3 – 4 orang cukup. Agenda dan alokasi waktu untuk masing-masing kegiatan kudu jelas dan akurat. Bikin plan B atau C sekalian. Tiap orang musti menjalankan tugasnya, diawasi sama yang jadi produser. Saya punya tips: BEKERJALAH DENGAN ORANG YANG KOOPERATIF BUKAN DENGAN YANG JAGO! Hindari yang egois, suka show off, ndak ada respect ama anggota lain dll. You’ll save half of your work. Hmmm okay…agak sulit nyari di era millenial gini. Tim produksi yang solid, yang passion ama kerjanya akan membuat kontrol terhadap visi kreatif lebih mudah. Punya seabreg gear canggih, punya talent keren (gratis pulak) tapi tanpa manajemen yang bagus karya anda bisa bubrah. Visi tak bisa dikontrol tanpa perencanaan matang. Makanya senior saya menasehati…JANGAN MULAI KALO PRA PRODUKSI BELUM BERES RES RES. Saya mengalami secara nyata bahwa karya saya dari 2005 – 2014 buruk sekali manajemen produksinya. Lama banget kan proses belajarnya? Hehehe Perencanaan, manajemen adalah untuk memastikan visi anda tertuang sepenuhnya dalam karya. Visi itu mudah tercecer kemana-mana. Bisa karena jadwal yang kacau, halangan di lapangan, kondisi fisik anggota tim yang berubah, perubahan alam dll. Kalau tidak dimanage jauh-jauh hari, maka kita cuma mengandalkan satu plan aja, tanpa antisipasi. Kondisi di lapangan tak selalu bisa dikontrol. Hari ini planning syuting di pantai yang cerah, eh tiba-tiba hujan. Saat mau ganti hari, eh talent ternyata ada acara lain. Repot. Memanage waktu sangat PENTING. Harus ada ketegasan mengatur durasi syuting. Secara umum kita masih bisa lah konsentrasi 3 jam tanpa break. Tapi kalo demi ngejar scene anda merapel semua jadwal di satu hari, energi tiap anggota tak bisa terdistribusi dengan baik. Anda akan kelelahan. Maka bikin jadwal yang masuk akal, atau anda musti menulis ulang script. Batasan aman yang disarankan senior saya Om Wowo adalah 8 jam sehari. Ikuti irama natural tubuh dan jangan sok sangar tinimbang kamu terkapar menggelepar.
Vara, D.O.P saya sedang breakdown script Ulat Waktu
sementara Mbah Siswo talent kami sedang script reading (duduk di belakang).
Makanya musti ada plan A, B, C dll. Karena jika bujet minim (atau malah nol) anda gak bisa mengontrol aset-aset produksi. Rencanakan bahkan sejak nulis script. Nulis script dengan production value yang sudah diketahui lebih aman daripada nanti repot mewujudkan sesuai tuntutan imajinasi. Makanya tulis cerita berdasar aset. Ini nasehat dari Robert Rodriguez yang saya terapkan di komunitas. Rekrut talent yang anda kenal baik dan ngerti waktu-waktu sibuk/senggangnya. Syukur kalo tetanggaan. Punya talent keren tapi tinggal di luar pulau ya lumayan repot ngurus akomodasinya. Apalagi yang jadwalnya nggak bisa dikunci. Anda gak bisa berharap pada janji "insyaallah" lho :D (ini bukan penistaan agama loh). Kalo dapet talent profesional maka manajemen anda meski no bujet pun kudu level profesional. Bayangin anda udah dapet talent yang pro, tapi karena manajemen syuting anda kaco, maka talent ini gak bisa sinkron sama jadwal syuting anda. Pilih lokasi yang aman dan gak kejauhan. Satu yang penting lokasi itu jelas available untuk syuting. Ijin dulu ama yang punya kuasa. Misal syuting di pendopo desa eh batal gara-gara ada rapat kelurahan. Terpaksa urung deh karena kesalahan koordinasi. Eman-eman banget. Kalopun mau syuting gerilya (alias nggak minta ijin) itu butuh teknik tersendiri (saya pernah hahaha tapi itu ilegal). Well, kalo bikin film diibaratkan perang, kemenangan itu 90 persen karena strategi. Strategi adalah perencanaan. Dan itulah wilayah manajemen produksi. (makasih guru-guru manajemen produksiku :) Mas Cahyo dan Mbak Prita)
Saya mengawali belajar film dengan cara yang sangat chaotic. Semua berdasar asumsi dan nekad-nekadan….ya dengan sebongkah kemlinthi di benak saya. Saya pikir bikin film itu gampang. Perlu beberapa tahun untuk menyadarkan saya bahwa karya-karya saya (yang dibuat secara chaotic tadi) sangat tidak memenuhi standar paling dasar.
MOVO FILM CLUB, ekskul film sekolah yang kami bina sedang melakukan pra produksi di 2018
Hal yang paling saya urus pertama untuk diperbaiki adalah kualitas cerita, juga talent. Saya pun kemudian belajar bikin cerita yang lebih baik. Tapi ternyata karya berikutnya, meski lebih mending, tak juga memenuhi visi saya. Ibarat kucuran dana dari pemerintah, di pelaksanaan ada aja potongannya. Saya pun mulai mempelajari, apalagi yang salah? Senior saya pernah ngajarin bahwa bikin film itu mirip argo taksi. Kita diburu waktu, duit terbatas dan tujuan kudu jelas. Saya lalu menemukan sebuah hubungan antara kualitas, visi, biaya dan waktu. Untuk mendukung KUALITAS diperlukan sinkronisasi antara visi, biaya dan waktu. VISI nggak usah muluk-muluk kalo gak ada BIAYA. Duit sebanyak apapun gak bisa membantu kualitas kalo WAKTU yang dimiliki terbatas. Jadi musti dimanage. Jadi sekarang tiap bikin karya, saya pastikan visi saya distel untuk production value paling rendah. Saya perkuat storytelling lebih daripada yang lain. Itu satu-satunya penyelamat jika biaya udah mentok. Makanya saya jarang mengeluh soal bujet. Kebanyakan yang susah adalah nyari tim.
Tim saya yang cuma 4 orang: Vara (D.O.P), Tera (Editor), Belle (Astrada dan Co-Produser) dan saya.
Beberapa jam sebelum produksi rapat di kantin.
Kalo timnya superkere no bujet 3 – 4 orang cukup. Agenda dan alokasi waktu untuk masing-masing kegiatan kudu jelas dan akurat. Bikin plan B atau C sekalian. Tiap orang musti menjalankan tugasnya, diawasi sama yang jadi produser. Saya punya tips: BEKERJALAH DENGAN ORANG YANG KOOPERATIF BUKAN DENGAN YANG JAGO! Hindari yang egois, suka show off, ndak ada respect ama anggota lain dll. You’ll save half of your work. Hmmm okay…agak sulit nyari di era millenial gini. Tim produksi yang solid, yang passion ama kerjanya akan membuat kontrol terhadap visi kreatif lebih mudah. Punya seabreg gear canggih, punya talent keren (gratis pulak) tapi tanpa manajemen yang bagus karya anda bisa bubrah. Visi tak bisa dikontrol tanpa perencanaan matang. Makanya senior saya menasehati…JANGAN MULAI KALO PRA PRODUKSI BELUM BERES RES RES. Saya mengalami secara nyata bahwa karya saya dari 2005 – 2014 buruk sekali manajemen produksinya. Lama banget kan proses belajarnya? Hehehe Perencanaan, manajemen adalah untuk memastikan visi anda tertuang sepenuhnya dalam karya. Visi itu mudah tercecer kemana-mana. Bisa karena jadwal yang kacau, halangan di lapangan, kondisi fisik anggota tim yang berubah, perubahan alam dll. Kalau tidak dimanage jauh-jauh hari, maka kita cuma mengandalkan satu plan aja, tanpa antisipasi. Kondisi di lapangan tak selalu bisa dikontrol. Hari ini planning syuting di pantai yang cerah, eh tiba-tiba hujan. Saat mau ganti hari, eh talent ternyata ada acara lain. Repot. Memanage waktu sangat PENTING. Harus ada ketegasan mengatur durasi syuting. Secara umum kita masih bisa lah konsentrasi 3 jam tanpa break. Tapi kalo demi ngejar scene anda merapel semua jadwal di satu hari, energi tiap anggota tak bisa terdistribusi dengan baik. Anda akan kelelahan. Maka bikin jadwal yang masuk akal, atau anda musti menulis ulang script. Batasan aman yang disarankan senior saya Om Wowo adalah 8 jam sehari. Ikuti irama natural tubuh dan jangan sok sangar tinimbang kamu terkapar menggelepar.
Vara, D.O.P saya sedang breakdown script Ulat Waktu
sementara Mbah Siswo talent kami sedang script reading (duduk di belakang).
Makanya musti ada plan A, B, C dll. Karena jika bujet minim (atau malah nol) anda gak bisa mengontrol aset-aset produksi. Rencanakan bahkan sejak nulis script. Nulis script dengan production value yang sudah diketahui lebih aman daripada nanti repot mewujudkan sesuai tuntutan imajinasi. Makanya tulis cerita berdasar aset. Ini nasehat dari Robert Rodriguez yang saya terapkan di komunitas. Rekrut talent yang anda kenal baik dan ngerti waktu-waktu sibuk/senggangnya. Syukur kalo tetanggaan. Punya talent keren tapi tinggal di luar pulau ya lumayan repot ngurus akomodasinya. Apalagi yang jadwalnya nggak bisa dikunci. Anda gak bisa berharap pada janji "insyaallah" lho :D (ini bukan penistaan agama loh). Kalo dapet talent profesional maka manajemen anda meski no bujet pun kudu level profesional. Bayangin anda udah dapet talent yang pro, tapi karena manajemen syuting anda kaco, maka talent ini gak bisa sinkron sama jadwal syuting anda. Pilih lokasi yang aman dan gak kejauhan. Satu yang penting lokasi itu jelas available untuk syuting. Ijin dulu ama yang punya kuasa. Misal syuting di pendopo desa eh batal gara-gara ada rapat kelurahan. Terpaksa urung deh karena kesalahan koordinasi. Eman-eman banget. Kalopun mau syuting gerilya (alias nggak minta ijin) itu butuh teknik tersendiri (saya pernah hahaha tapi itu ilegal). Well, kalo bikin film diibaratkan perang, kemenangan itu 90 persen karena strategi. Strategi adalah perencanaan. Dan itulah wilayah manajemen produksi. (makasih guru-guru manajemen produksiku :) Mas Cahyo dan Mbak Prita)
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA