STORYTELLING VS ENGAGEMENT (BELAJAR DARI TOKUSATSU)

Kemarin-kemarin saya percaya bahwa storytelling adalah kunci sukses sebuah film. Storytelling adalah urusan "memanipulasi" informasi agar penonton percaya dan terlibat (engaged). Namun belakangan ini saya mulai melihat ada kemungkinan lain.

Untuk membuat penonton terlibat, engaged, bisa juga tanpa storytelling. Engagement adalah hal yang bisa bikin penggemar jatuh cinta. Lha namanya cinta kan gak peduli latar belakangnya. Kita bisa kesengsem sama Ultraman tanpa peduli dia anak siapa, sukunya apa, agamanya apa...


Saya mengambil film-film tokusatsu atau super sentai sebagai contoh kasus. Saya tak paham kenapa film-film itu digemari gila-gilaan meski mengusung dunia dan cerita yang unbelievable. Tokoh-tokoh yang sehari-hari pakai kostum, jagoan yang bisa "henshin" tanpa kejelasan dalil fisika, asal-usul yang menimbulkan tanda tanya besar, dunia monster yang absurd dll. Belum lagi sinematografi yang tanpa polesan. Dishoot sederhana layaknya FTV tanpa ambisi lebih membuat gambar-gambar yang kuat.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa saya nggak bisa menikmati sajian macam ini. Film-film tokusatsu dan super sentai punya fans base jutaan di seluruh dunia, kenapa saya bukan salah satunya? Bagaimana bisa karakter-karakter itu bisa dapet engagement masif?

Apa mungkin karena jutaan fansnya menyukai karena itu mereka tonton sedari kecil? Jadi ketika mereka dewasa, karakter-karakter kesukaan mereka udah engaged ke selera mereka. Karena itulah saya pikir storytelling bukan satu-satunya (meski saya tetep aja mendewakannya hehehe). Ketika satu karakter dalam film udah punya fans base yang artinya engagementnya solid dan lama maka kayaknya penceritaan bisa dikesampingkan. Tuh film absurd gak absurd tetep punya massa penonton. Toh cerita tapi kalo gak engage ke yang nonton percuma juga.

Hal yang sama mungkin terjadi pada konten yutub. Kok bisa satu konten yang saya pribadi gak tau bagusnya di mana disukai banyak orang. Saya tahu pandangan tiap orang akan bagusnya sesuatu itu berbeda-beda. Apalagi selera saya juga terlalu sempit. Namun yang pasti, karya-karya itu sudah punya engagement khusus ke pemirsanya.

Jadi kalo ukuran suksesnya cuma agar disukai penonton kayaknya gak papa gak mahir storytelling asal udah punya engagement dengan mereka hehehe ...

Tapi cuman ngomong kek gini gampang ya...hmmm
Kemarin-kemarin saya percaya bahwa storytelling adalah kunci sukses sebuah film. Storytelling adalah urusan "memanipulasi" informasi agar penonton percaya dan terlibat (engaged). Namun belakangan ini saya mulai melihat ada kemungkinan lain.

Untuk membuat penonton terlibat, engaged, bisa juga tanpa storytelling. Engagement adalah hal yang bisa bikin penggemar jatuh cinta. Lha namanya cinta kan gak peduli latar belakangnya. Kita bisa kesengsem sama Ultraman tanpa peduli dia anak siapa, sukunya apa, agamanya apa...


Saya mengambil film-film tokusatsu atau super sentai sebagai contoh kasus. Saya tak paham kenapa film-film itu digemari gila-gilaan meski mengusung dunia dan cerita yang unbelievable. Tokoh-tokoh yang sehari-hari pakai kostum, jagoan yang bisa "henshin" tanpa kejelasan dalil fisika, asal-usul yang menimbulkan tanda tanya besar, dunia monster yang absurd dll. Belum lagi sinematografi yang tanpa polesan. Dishoot sederhana layaknya FTV tanpa ambisi lebih membuat gambar-gambar yang kuat.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa saya nggak bisa menikmati sajian macam ini. Film-film tokusatsu dan super sentai punya fans base jutaan di seluruh dunia, kenapa saya bukan salah satunya? Bagaimana bisa karakter-karakter itu bisa dapet engagement masif?

Apa mungkin karena jutaan fansnya menyukai karena itu mereka tonton sedari kecil? Jadi ketika mereka dewasa, karakter-karakter kesukaan mereka udah engaged ke selera mereka. Karena itulah saya pikir storytelling bukan satu-satunya (meski saya tetep aja mendewakannya hehehe). Ketika satu karakter dalam film udah punya fans base yang artinya engagementnya solid dan lama maka kayaknya penceritaan bisa dikesampingkan. Tuh film absurd gak absurd tetep punya massa penonton. Toh cerita tapi kalo gak engage ke yang nonton percuma juga.

Hal yang sama mungkin terjadi pada konten yutub. Kok bisa satu konten yang saya pribadi gak tau bagusnya di mana disukai banyak orang. Saya tahu pandangan tiap orang akan bagusnya sesuatu itu berbeda-beda. Apalagi selera saya juga terlalu sempit. Namun yang pasti, karya-karya itu sudah punya engagement khusus ke pemirsanya.

Jadi kalo ukuran suksesnya cuma agar disukai penonton kayaknya gak papa gak mahir storytelling asal udah punya engagement dengan mereka hehehe ...

Tapi cuman ngomong kek gini gampang ya...hmmm
Baca

MENGGOLONGKAN PENONTON FILM (CARA BELAJAR MENGAPRESIASI FILM)

Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Baca

CONTRATIEMPO a.k.a THE INVISIBLE GUEST (2016, Oriol Paulo), BEST SPANISH THRILLER

Film asal Spanyol yang disutradarai oleh Oriol Paulo ini adalah film yang cocok bagi para penggemar thriller detektif dan konspirasi. Tak hanya plot yang rumit khas film persekongkolan, sinematografinya juga sangat berkelas. Tak akan membuat mengantuk pada menit-menit awalnya.

Adrián Doria, seorang pengusaha sukses ditangkap polisi sedang bersama mayat Laura Vidal, selingkuhannya di sebuah kamar hotel yang terkunci dari dalam. Sejak Laura dan Adrián berada di kamar, saksi menyatakan bahwa tak ada seorangpun keluar dari kamar tersebut. Maka tuduhan pembunuhan hanya bisa ditudingkan ke Adrián Doria seorang.

Adrián Doria yang mengaku tak bersalah kemudian didatangi oleh Virginia Goodman, pengacara kelas kakap yang akan menyelamatkan kariernya. Untuk itu Virginia meminta Adrián Doria menceritakan semua kejadiannya secara komplit. Namun ternyata cerita Adrián malah membuka labirin-labirin misteri yang makin rumit saja.


Meski mengasyikkan dari awal hingga akhir, film ini tentu bukan tanpa kekurangan. Alam di Contratiempo adalah alamnya film detektif, di mana semua kejadian tidak berlangsung chaotic. Kalau pada kejadian sehari-hari, kita bisa pastikan kalau yang demikian itu "too good to be true". Alih-alih menjebak seseorang dengan highly intricate plot macam gitu, kalo di Indonesia mah jebak aja dia dengan tuduhan menista agama hahaha. Beres dah. Gak usah mikir banyak-banyak to?

Ketika plot yang disusun terlalu rumit, maka resikonya akan ada karakter yang kehadirannya seolah cuma sebagai penyumbat lubang atau "kawat pengikat" rangkaian mesin yang rumit agar bekerja normal. Kekurangan ini mungkin baru bisa dirasakan begitu filmnya usai. Tapi tak masalah. Sebagai sebuah hidangan, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Twist yang diberikan pun lumayan rapih meski kalau kita lebih jeli dengan detail, maka hal itu akan terbaca dari awal-awal.


Saya mengganjarnya lima bintang dari lima bintang karena film ini berhasil menggugah saya dari kantuk yang sangat di waktu siang terik begini. Ini bukan hal yang mudah lho. Banyak film bagus tapi masih bikin ngantuk di awal-awal. Nonton Contratiempo kayak minum secangkir kopi panas. Dan saya rasa kopi racikan ini menjadi begitu sempurna ditunjang oleh performa para bintangnya:

Mario Casas as Adrián Doria, seorang pengusaha yang terjebak dalam kasus berliku. Adrian adalah sosok impian para selingkuhan; ganteng, kaya dan perhatian.

Bárbara Lennie as Laura Vidal. Memerankan dengan sempurna sosok perempuan yang manipulatif sekaligus pengidap anxiety disorder. Pas menjadi selingkuhan pengusaha.

Ana Wagener as Virginia Goodman. Sepintas karakter yang diperankannya nampak komikal. Akan tetapi jangan salah! Dia adalah karakter yang setangguh Sherlock Holmes. Mungkin pas jadi emaknya Sherlock.

José Coronado as Tomás Garrido. Memerankan seorang pria kharismatik yang tak putus asa mencari keadilan. Polisi telah membuatnya down, tapi ia tak berhenti sampai di situ.

Film ini recommeded banget untuk anda yang ingin mengusir kantuk di sela-sela sedang menjalani proses kreatif. Seperti secangkir kopi.
Film asal Spanyol yang disutradarai oleh Oriol Paulo ini adalah film yang cocok bagi para penggemar thriller detektif dan konspirasi. Tak hanya plot yang rumit khas film persekongkolan, sinematografinya juga sangat berkelas. Tak akan membuat mengantuk pada menit-menit awalnya.

Adrián Doria, seorang pengusaha sukses ditangkap polisi sedang bersama mayat Laura Vidal, selingkuhannya di sebuah kamar hotel yang terkunci dari dalam. Sejak Laura dan Adrián berada di kamar, saksi menyatakan bahwa tak ada seorangpun keluar dari kamar tersebut. Maka tuduhan pembunuhan hanya bisa ditudingkan ke Adrián Doria seorang.

Adrián Doria yang mengaku tak bersalah kemudian didatangi oleh Virginia Goodman, pengacara kelas kakap yang akan menyelamatkan kariernya. Untuk itu Virginia meminta Adrián Doria menceritakan semua kejadiannya secara komplit. Namun ternyata cerita Adrián malah membuka labirin-labirin misteri yang makin rumit saja.


Meski mengasyikkan dari awal hingga akhir, film ini tentu bukan tanpa kekurangan. Alam di Contratiempo adalah alamnya film detektif, di mana semua kejadian tidak berlangsung chaotic. Kalau pada kejadian sehari-hari, kita bisa pastikan kalau yang demikian itu "too good to be true". Alih-alih menjebak seseorang dengan highly intricate plot macam gitu, kalo di Indonesia mah jebak aja dia dengan tuduhan menista agama hahaha. Beres dah. Gak usah mikir banyak-banyak to?

Ketika plot yang disusun terlalu rumit, maka resikonya akan ada karakter yang kehadirannya seolah cuma sebagai penyumbat lubang atau "kawat pengikat" rangkaian mesin yang rumit agar bekerja normal. Kekurangan ini mungkin baru bisa dirasakan begitu filmnya usai. Tapi tak masalah. Sebagai sebuah hidangan, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Twist yang diberikan pun lumayan rapih meski kalau kita lebih jeli dengan detail, maka hal itu akan terbaca dari awal-awal.


Saya mengganjarnya lima bintang dari lima bintang karena film ini berhasil menggugah saya dari kantuk yang sangat di waktu siang terik begini. Ini bukan hal yang mudah lho. Banyak film bagus tapi masih bikin ngantuk di awal-awal. Nonton Contratiempo kayak minum secangkir kopi panas. Dan saya rasa kopi racikan ini menjadi begitu sempurna ditunjang oleh performa para bintangnya:

Mario Casas as Adrián Doria, seorang pengusaha yang terjebak dalam kasus berliku. Adrian adalah sosok impian para selingkuhan; ganteng, kaya dan perhatian.

Bárbara Lennie as Laura Vidal. Memerankan dengan sempurna sosok perempuan yang manipulatif sekaligus pengidap anxiety disorder. Pas menjadi selingkuhan pengusaha.

Ana Wagener as Virginia Goodman. Sepintas karakter yang diperankannya nampak komikal. Akan tetapi jangan salah! Dia adalah karakter yang setangguh Sherlock Holmes. Mungkin pas jadi emaknya Sherlock.

José Coronado as Tomás Garrido. Memerankan seorang pria kharismatik yang tak putus asa mencari keadilan. Polisi telah membuatnya down, tapi ia tak berhenti sampai di situ.

Film ini recommeded banget untuk anda yang ingin mengusir kantuk di sela-sela sedang menjalani proses kreatif. Seperti secangkir kopi.
Baca

SUPER (James Gunn, 2010), SEKACAU-KACAUNYA FILM SUPERHERO

Udah jadi kebiasaan kalo ada film bagus, saya tertarik menelusuri jejak rekam sutradaranya ke belakang. Guardian of Galaxy 1 dan 2 buat saya adalah film yang bagus dan memuaskan. Saya suka visi James Gunn menjadikan sebuah kisah dari latar antah berantah dengan karakter-karakter aneh jadi tontonan asyik. Para penyelamat galaksi yang terdiri dari manusia yang merupakan anak blasteran manusia dan planet, rakun hasil rekayasa, pohon yang bisa nari dll. sebenarnya adalah ide komik yang absurd kalo difilmkan. Tapi toh ternyata James Gunn bisa mewujudkannya jadi tontonan menyenangkan.


Super adalah film bergenre superhero black comedy lawas yang ia bikin agak bersamaan waktunya dengan peluncuran Kick Ass (sutradara Matthew Vaughn). Kedua film ini nyrempet genre yang sama, superhero real life tanpa kekuatan super. Settingnya juga sama, sebuah kota kecil yang ditempati bajingan kelas lokal.

Belakangan Kick Ass jauh lebih sukses daripada punyanya James Gunn. Bukan karena Kick Ass berasal dari komik yang udah lebih dulu dikenal, tapi memang film itu jauh lebih baik daripada Super. So seburuk apakah Super?

Super bercerita tentang Frank Darbo (Rainn Wilson), seorang koki di sebuah warung yang sepi. Setelah Sarah (Liv Tyler) istrinya meninggalkannya gara-gara rayuan Jacques (Kevin Beacon) seorang bos narkoba, Frank terinspirasi jadi superhero. Ia pun membuat kostum murahan dan menjelma sebagai Crimson Bolt yang punya mental gak stabil. Sayangnya mental gak stabil ini tidak dalam artian asyik...lebih ke arah merusak karakterisasi filmnya. Lalu ia ketemu seorang Libby (Ellen Page) geek cewek yang merayunya agar jadi sidekicknya. Si Libby sama anehnya kayak Frank, tapi mentalnya jauh lebih terganggu. Mereka berdua hendak menumpas kejahatan terutama si Jacques yang selain pengedar narkoba juga mencuri istri Frank. Film ditutup dengan sebuah ending yang dark and annoying. Meski begitu, please do not spoil this shit ending ya hehehe :D

Karakter dalam film ini sungguh nggak stabil. Frank yang tindakannya ngawur mendadak menjadi bijak saat diperkosa Libby. What? Yes... Libby, yang diperanin Ellen Page memperkosa Si Frank, chef yang usianya jauh di atasnya untuk merayunya memberantas kejahatan malam-malam. Cukup annoying.

Frank adalah karakter yang mixed antara aneh, bijak, tak terkontrol, pemberani, pintar dan gegabah sekaligus. Keganjilan ini masih ditambahi dengan azbabun nuzul tindakannya yang gak jelas. Sukar menjelaskan motivasi si Frank ini. Dia jadi Crimson Bolt, superhero yang bersenjatakan kunci Inggris, untuk memberantas kejahatan. Tapi di lapangan ia memukul siapa saja yang menurutnya menyebalkan. Meski ia depresi dan kadang tak terkendali, ia masih bisa mengendalikan nafsu saat dirayu Libby.

Tanpa ada penjelasan, ujug-ujug ia bisa menjadi pakar senjata custom. Belum lagi, bagaimana ia yang cuma jadi koki di sebuah warung sepi bisa punya rumah yang cukup bagus? Duit darimana ia mampu belanja banyak bahan peledak?

Munculnya superhero religius yang ngasih motivasi gak jelas menambah absurditas film ini.

Jadi saya kadang mikir...mungkin yang nulis cerita bikinnya sambil mabok.

Yang menyelamatkan film ini mungkin pembawaan directing James Gunn yang nyantai dan gak berpretensi macem-macem. Aktor-aktornya pun performanya terlalu bagus untuk sebuah film dengan cerita yang jelek. Kalo anda mulai mengamati Michael Rooker setelah performanya sebagai Yondu Udonta di Guardian of Galaxy, maka mungkin anda akan mulai menyukainya. Dia juga main di film ini ama Sean Gunn, adiknya James Gunn yang jadi Kraglin di Guardian of the Galaxy. Ellen Page memukau dengan kekonyolannya. Image dia sebagai Kitty Pride di film X-Men ilang gak berbekas. Jangan lupa bahwa Rainn Wilson si aktor utama pun memberikan performa yang baik meski karakter yang ia perankan ya itu tadi...ditulis sambil mabok (kayaknya).

Entah deh untuk film ini sebaiknya anda nonton apa enggak. Terserah kalian aja. Kick Ass is better, Guardian of Galaxy is amazing (mainly because of it's soundtrack selection).
Udah jadi kebiasaan kalo ada film bagus, saya tertarik menelusuri jejak rekam sutradaranya ke belakang. Guardian of Galaxy 1 dan 2 buat saya adalah film yang bagus dan memuaskan. Saya suka visi James Gunn menjadikan sebuah kisah dari latar antah berantah dengan karakter-karakter aneh jadi tontonan asyik. Para penyelamat galaksi yang terdiri dari manusia yang merupakan anak blasteran manusia dan planet, rakun hasil rekayasa, pohon yang bisa nari dll. sebenarnya adalah ide komik yang absurd kalo difilmkan. Tapi toh ternyata James Gunn bisa mewujudkannya jadi tontonan menyenangkan.


Super adalah film bergenre superhero black comedy lawas yang ia bikin agak bersamaan waktunya dengan peluncuran Kick Ass (sutradara Matthew Vaughn). Kedua film ini nyrempet genre yang sama, superhero real life tanpa kekuatan super. Settingnya juga sama, sebuah kota kecil yang ditempati bajingan kelas lokal.

Belakangan Kick Ass jauh lebih sukses daripada punyanya James Gunn. Bukan karena Kick Ass berasal dari komik yang udah lebih dulu dikenal, tapi memang film itu jauh lebih baik daripada Super. So seburuk apakah Super?

Super bercerita tentang Frank Darbo (Rainn Wilson), seorang koki di sebuah warung yang sepi. Setelah Sarah (Liv Tyler) istrinya meninggalkannya gara-gara rayuan Jacques (Kevin Beacon) seorang bos narkoba, Frank terinspirasi jadi superhero. Ia pun membuat kostum murahan dan menjelma sebagai Crimson Bolt yang punya mental gak stabil. Sayangnya mental gak stabil ini tidak dalam artian asyik...lebih ke arah merusak karakterisasi filmnya. Lalu ia ketemu seorang Libby (Ellen Page) geek cewek yang merayunya agar jadi sidekicknya. Si Libby sama anehnya kayak Frank, tapi mentalnya jauh lebih terganggu. Mereka berdua hendak menumpas kejahatan terutama si Jacques yang selain pengedar narkoba juga mencuri istri Frank. Film ditutup dengan sebuah ending yang dark and annoying. Meski begitu, please do not spoil this shit ending ya hehehe :D

Karakter dalam film ini sungguh nggak stabil. Frank yang tindakannya ngawur mendadak menjadi bijak saat diperkosa Libby. What? Yes... Libby, yang diperanin Ellen Page memperkosa Si Frank, chef yang usianya jauh di atasnya untuk merayunya memberantas kejahatan malam-malam. Cukup annoying.

Frank adalah karakter yang mixed antara aneh, bijak, tak terkontrol, pemberani, pintar dan gegabah sekaligus. Keganjilan ini masih ditambahi dengan azbabun nuzul tindakannya yang gak jelas. Sukar menjelaskan motivasi si Frank ini. Dia jadi Crimson Bolt, superhero yang bersenjatakan kunci Inggris, untuk memberantas kejahatan. Tapi di lapangan ia memukul siapa saja yang menurutnya menyebalkan. Meski ia depresi dan kadang tak terkendali, ia masih bisa mengendalikan nafsu saat dirayu Libby.

Tanpa ada penjelasan, ujug-ujug ia bisa menjadi pakar senjata custom. Belum lagi, bagaimana ia yang cuma jadi koki di sebuah warung sepi bisa punya rumah yang cukup bagus? Duit darimana ia mampu belanja banyak bahan peledak?

Munculnya superhero religius yang ngasih motivasi gak jelas menambah absurditas film ini.

Jadi saya kadang mikir...mungkin yang nulis cerita bikinnya sambil mabok.

Yang menyelamatkan film ini mungkin pembawaan directing James Gunn yang nyantai dan gak berpretensi macem-macem. Aktor-aktornya pun performanya terlalu bagus untuk sebuah film dengan cerita yang jelek. Kalo anda mulai mengamati Michael Rooker setelah performanya sebagai Yondu Udonta di Guardian of Galaxy, maka mungkin anda akan mulai menyukainya. Dia juga main di film ini ama Sean Gunn, adiknya James Gunn yang jadi Kraglin di Guardian of the Galaxy. Ellen Page memukau dengan kekonyolannya. Image dia sebagai Kitty Pride di film X-Men ilang gak berbekas. Jangan lupa bahwa Rainn Wilson si aktor utama pun memberikan performa yang baik meski karakter yang ia perankan ya itu tadi...ditulis sambil mabok (kayaknya).

Entah deh untuk film ini sebaiknya anda nonton apa enggak. Terserah kalian aja. Kick Ass is better, Guardian of Galaxy is amazing (mainly because of it's soundtrack selection).
Baca

THE SHAPE OF WATER (Guillermo Del Toro, 2017), SEBUAH ROMANSA ANTAR SPESIES

Ada jenis-jenis film yang "bukan untuk semua orang". Sering juga film-film semacam itu dibikin oleh sutradara yang "bukan untuk semua orang". Apanya yang bukan untuk semua orang? Bukannya tiap film ada penontonnya sendiri-sendiri?

Ya ini cuman istilah yang agak "gebyah uyah" alias generalistik sih. Paling tidak film yang untuk semua orang, secara statistik ditonton lebih banyak orang. Mungkin film box office atau blockbuster.

The Shape of Water adalah film bikinan seorang sutradara "selera banyak orang" (untuk nggak bilang mainstream). Akan tetapi menurut saya, kayaknya nih film bukan untuk semua orang. Agak kaget juga ketika film ini dinobatkan sebagai film terbaik di Academy Award. Bagi saya yang ngefans ama sutradaranya, ini berita yang nyenengin. Kapan lagi film monster bisa dapat penghargaan terbaik di ajang mainstream?


Guillermo Del Toro adalah seorang spesialis. Obsesinya adalah dunia fantasi, peri, magis dan monster. Secara khusus saya bilang Del Toro adalah spesialis monster. Hampir semua filmnya menampilkan monster atau makhluk-makhluk fantasi. Tapi sekaligus ia juga sutradara "selera banyak orang" karena Hellboy dan Pacific Rim itu box office. Lagi-lagi kedua film itu....ada monsternya hehehe.

Fantasi ala Del Toro bukan fantasi biasa ala dongeng balita. Ia punya citarasa yang kelam sehingga filmnya bisa disebut "Fairy Tales for Adults". Itu sudah terlihat di Pan's Labirynth. Pan's Labirynth meskipun sentral karakternya adalah gadis belia, namun latar kisahnya adalah kesuraman perang dunia. Kurang cocok ditonton anak-anak karena adegan gore dan sadistisnya.

The Shape of Water kurang lebih membawa vibrasi yang sama: Ini masih Fairy Tales for Adults. Dunia monster yang berkelindan dengan realita sosial politik. Sebuah "realisme magis". Saya begitu demen sama subgenre yang juga diusung oleh sastrawan Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia-Marquez ini. Saya pikir Del Toro adalah salah satu sutradara yang sukses mengemas realisme magis lewat film.

KISAHNYA

Elisa adalah seorang pembersih yang kerja di fasilitas rahasia milik pemerintah Amerika tahun 1960an. Suatu hari militer membawa sesosok makhluk amfibi yang katanya ditangkap di sungai Amazon. Makhluk yang berwujud humanoid mirip ikan itu ditahan di fasilitas itu untuk diteliti. Tujuan militer yang menyekapnya adalah mencari tahu apakah makhluk ini bisa berguna untuk misi ke luar angkasa. Saat itu Amerika dan Sovyet sedang dalam masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya ini saling berlomba dengan misi luar angkasa. Salah satu yang dibutuhkan dalam misi tersebut adalah kelinci percobaan yang akan dikirim ke antariksa sebelum nanti benar-benar memakai manusia.


Elisa, perempuan yang mengidap tuna wicara (tapi tidak tuna rungu) ini mencoba berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Selanjutnya konflik kepentingan pun terjadi. Col. Richard Strickland, pimpinan fasilitas tersebut ingin membedah makhluk itu hidup-hidup (vivisect) untuk meneliti anatominya.

Sedangkan Sovyet, yang tak ingin Amerika berhasil, memerintahkan Dr. Robert Hoffstetler alias Dimitri Mosenkov yang sebenarnya mata-mata Sovyet untuk membunuh makhluk tersebut. Dr. Robert Hoffstetler sendiri menentang keduanya. Sama seperti Elisa, ia melihat bahwa makhluk itu lebih mirip manusia daripada hewan amfibi.

Selanjutnya misi penyelamatan pun dilakukan. Singkat kata, Elisa berhasil membawa si makhluk Amazon ini ke apartemennya. Di sini Elisa menjalin hubungan yang makin intens dengan si makhluk, hingga ke hubungan seksual. Nah di sini pula yang kemudian menjadi titik kontroversi film ini.

Meski tetap ada adegan berdarah dan gore (tipikal Del Toro), sebenarnya film ini happy ending.

REAKSI AUDIENS

Film ini banyak dicaci para penikmat karya De Toro antara lain karena:

-Mengira bahwa film ini adalah the origin of Abe Sapiens dari Hellboy. Selain penampakannya mirip, karakter manusia amfibi ini juga dimainkan oleh orang yang sama, Doug Jones.

-Adegan masturbasi Elisa yang berlebihan porsinya. Entah kenapa ini diprotes hehehe. Apa karena pemerannya tidak cantik?

-Hubungan romatik dan seksual yang terlalu aneh. Si makhluk amfibi bukan manusia namun juga bukan binatang. Anggaplah ia spesies yang konon didewakan oleh penduduk tepi Amazon. Banyak penonton tak bisa menerima ini. Hubungan Elisa dengan si makhluk amfibi lebih terlihat menjijikkan kata mereka.

REVIEW SAYA

Dari pembukanya, aura magisme realis ala Del Toro langsung semerbak. Musik misterius dari Alexandre Desplat mengapungkan imajinasi kita ke alam fantasi. Detail settingnya begitu nyata. Tanki air yang karatan, bangunan yang lembab dan juga nuansa 60an dengan mobil Cadillac.

Disain si makhluk amfibi pun, meski mencomot dari Creature The Black Lagoon dan Abe Sapiens dari Hellboy tetaplah terlihat mengagumkan. Sirip, insang dan matanya yang hidup, membuat kita membayangkan jangan-jangan makhluk semacam ini juga hidup di sungai-sungai pedalaman Kalimantan.

Beberapa belas tahun silam, Del Toro membikin Pan's Labirynth yang karakter sentralnya adalah gadis belia yang menarik. Sedangkan di film ini, karakter utamanya tidaklah cukup cantik dalam standar film umum.

Elisa yang diperankan oleh Sally Hawkins adalah perempuan bertampang depresif, terasing sekaligus punya orientasi seks menyimpang. Namun justru inilah kekuatan karakternya. Sally membawakannya dengan sangat meyakinkan. Elisa menjadi karakter perempuan terasing yang tidak lemah. Saat cinta menguasainya, ia mau berkorban apapun.

Saya sendiri begitu terkesan oleh performa Michael Shannon. Aktor bertampang berandalan ini memang langganan peran antagonis. Simaklah saat dia jadi Jendral Zod musuhnya Man of Steel. Jarang kita bisa bayangin Shannon main sebagai orang baik kecuali di filmnya Jeff Nichols, Midnight Special. Lihat betapa bengisnya tampangnya sebagai Colonel Richard Strickland dengan dua jarinya yang busuk itu.

Sayangnya, performa jajaran cast yang unggul ini kurang didukung dengan motivasi plot yang meyakinkan. Mungkin benar kata orang-orang, ikatan batin Elisa dengan si makhluk amfibi kurang dieksplorasi dengan anggun. Del Toro malah sibuk membangun adegan-adegan aneh semacam nari-nari ala film musikal vintage dan juga sex underwater yang rada ajaib. Gila aja nyumpel pintu kamar mandi biar jadi kolam renang...

Belum lagi ada satu keanehan yang bikin saya mikir...

Tuh makhluk kan nemunya di sungai Amazon? Ngapain dia butuh air asin ya?

Meski begitu secara keseluruhan saya suka film ini. Karena saya mungkin termasuk orang yang sedikit tadi... penggemar film yang "bukan untuk semua orang"... ya meski nggak ekstrim sih. Saya ini penyuka film monster.

The Shape of Wateri bisa jadi akan sangat anda sukai atau juga sangat anda benci, bahkan bagi anda yang pecinta film monster sekalipun.

The Shape of Water secara tematik sebenarnya tidak orginal. Selain secara estetik merupakan hommage untuk film monster klasik, Creature Of The Black Lagoon, film ini mengulang lagi tema-tema lawas cinta antar dunia yang berbeda. Bahkan lebih tegasnya: cinta antar spesies! Sebut saja Beauty and The Beast, Splash, Putri Duyung karya H.C. Andersen dll.

Kalo ngomong cinta antar spesies, kita tak hanya bicara romansa manusia dan alien dari planet lain. Bagaimana dengan spesies di bumi yang sama? Repotnya cinta ini juga termasuk aspek seksualnya.

Jika dunia lebih terbuka dengan isu homoseksualitas, tidak demikian dengan zoophilia dan bestiality. Yang terakhir ini adalah penyakit psikis yang memiliki sejarah panjang. Lukisan pornografis di reruntuhan Pompei menunjukkan bahwa praktek seksualitas antar spesies ini telah terjadi sejak lama.

Mungkin yang membuat kisah Elisa ini "menjijikkan" adalah kekaburan jatidiri sang manusia amfibi. Apakah ia hanya binatang yang cerdas? Atau ia sebenarnya lebih dekat dengan manusia?

Tapi bagaimana bisa orang umum menerimanya sebagai manusia dengan wujud bersisik mirip ikan berjalan gitu?

Demikianlah, maka bersamaan dengan sambutan positif oleh juri Academy Award, film ini pun bertaburan cacimaki oleh para penonton karya Del Toro sebelumnya.

Jika anda suka Pan's Labirynth saya pikir anda bisa saja menyukai The Shape of Water. Tetapi ingat, ini adalah Fairy Tale for Adults. Tidak cocok untuk semua umur... dan tak cocok untuk semua selera.
Ada jenis-jenis film yang "bukan untuk semua orang". Sering juga film-film semacam itu dibikin oleh sutradara yang "bukan untuk semua orang". Apanya yang bukan untuk semua orang? Bukannya tiap film ada penontonnya sendiri-sendiri?

Ya ini cuman istilah yang agak "gebyah uyah" alias generalistik sih. Paling tidak film yang untuk semua orang, secara statistik ditonton lebih banyak orang. Mungkin film box office atau blockbuster.

The Shape of Water adalah film bikinan seorang sutradara "selera banyak orang" (untuk nggak bilang mainstream). Akan tetapi menurut saya, kayaknya nih film bukan untuk semua orang. Agak kaget juga ketika film ini dinobatkan sebagai film terbaik di Academy Award. Bagi saya yang ngefans ama sutradaranya, ini berita yang nyenengin. Kapan lagi film monster bisa dapat penghargaan terbaik di ajang mainstream?


Guillermo Del Toro adalah seorang spesialis. Obsesinya adalah dunia fantasi, peri, magis dan monster. Secara khusus saya bilang Del Toro adalah spesialis monster. Hampir semua filmnya menampilkan monster atau makhluk-makhluk fantasi. Tapi sekaligus ia juga sutradara "selera banyak orang" karena Hellboy dan Pacific Rim itu box office. Lagi-lagi kedua film itu....ada monsternya hehehe.

Fantasi ala Del Toro bukan fantasi biasa ala dongeng balita. Ia punya citarasa yang kelam sehingga filmnya bisa disebut "Fairy Tales for Adults". Itu sudah terlihat di Pan's Labirynth. Pan's Labirynth meskipun sentral karakternya adalah gadis belia, namun latar kisahnya adalah kesuraman perang dunia. Kurang cocok ditonton anak-anak karena adegan gore dan sadistisnya.

The Shape of Water kurang lebih membawa vibrasi yang sama: Ini masih Fairy Tales for Adults. Dunia monster yang berkelindan dengan realita sosial politik. Sebuah "realisme magis". Saya begitu demen sama subgenre yang juga diusung oleh sastrawan Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia-Marquez ini. Saya pikir Del Toro adalah salah satu sutradara yang sukses mengemas realisme magis lewat film.

KISAHNYA

Elisa adalah seorang pembersih yang kerja di fasilitas rahasia milik pemerintah Amerika tahun 1960an. Suatu hari militer membawa sesosok makhluk amfibi yang katanya ditangkap di sungai Amazon. Makhluk yang berwujud humanoid mirip ikan itu ditahan di fasilitas itu untuk diteliti. Tujuan militer yang menyekapnya adalah mencari tahu apakah makhluk ini bisa berguna untuk misi ke luar angkasa. Saat itu Amerika dan Sovyet sedang dalam masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya ini saling berlomba dengan misi luar angkasa. Salah satu yang dibutuhkan dalam misi tersebut adalah kelinci percobaan yang akan dikirim ke antariksa sebelum nanti benar-benar memakai manusia.


Elisa, perempuan yang mengidap tuna wicara (tapi tidak tuna rungu) ini mencoba berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Selanjutnya konflik kepentingan pun terjadi. Col. Richard Strickland, pimpinan fasilitas tersebut ingin membedah makhluk itu hidup-hidup (vivisect) untuk meneliti anatominya.

Sedangkan Sovyet, yang tak ingin Amerika berhasil, memerintahkan Dr. Robert Hoffstetler alias Dimitri Mosenkov yang sebenarnya mata-mata Sovyet untuk membunuh makhluk tersebut. Dr. Robert Hoffstetler sendiri menentang keduanya. Sama seperti Elisa, ia melihat bahwa makhluk itu lebih mirip manusia daripada hewan amfibi.

Selanjutnya misi penyelamatan pun dilakukan. Singkat kata, Elisa berhasil membawa si makhluk Amazon ini ke apartemennya. Di sini Elisa menjalin hubungan yang makin intens dengan si makhluk, hingga ke hubungan seksual. Nah di sini pula yang kemudian menjadi titik kontroversi film ini.

Meski tetap ada adegan berdarah dan gore (tipikal Del Toro), sebenarnya film ini happy ending.

REAKSI AUDIENS

Film ini banyak dicaci para penikmat karya De Toro antara lain karena:

-Mengira bahwa film ini adalah the origin of Abe Sapiens dari Hellboy. Selain penampakannya mirip, karakter manusia amfibi ini juga dimainkan oleh orang yang sama, Doug Jones.

-Adegan masturbasi Elisa yang berlebihan porsinya. Entah kenapa ini diprotes hehehe. Apa karena pemerannya tidak cantik?

-Hubungan romatik dan seksual yang terlalu aneh. Si makhluk amfibi bukan manusia namun juga bukan binatang. Anggaplah ia spesies yang konon didewakan oleh penduduk tepi Amazon. Banyak penonton tak bisa menerima ini. Hubungan Elisa dengan si makhluk amfibi lebih terlihat menjijikkan kata mereka.

REVIEW SAYA

Dari pembukanya, aura magisme realis ala Del Toro langsung semerbak. Musik misterius dari Alexandre Desplat mengapungkan imajinasi kita ke alam fantasi. Detail settingnya begitu nyata. Tanki air yang karatan, bangunan yang lembab dan juga nuansa 60an dengan mobil Cadillac.

Disain si makhluk amfibi pun, meski mencomot dari Creature The Black Lagoon dan Abe Sapiens dari Hellboy tetaplah terlihat mengagumkan. Sirip, insang dan matanya yang hidup, membuat kita membayangkan jangan-jangan makhluk semacam ini juga hidup di sungai-sungai pedalaman Kalimantan.

Beberapa belas tahun silam, Del Toro membikin Pan's Labirynth yang karakter sentralnya adalah gadis belia yang menarik. Sedangkan di film ini, karakter utamanya tidaklah cukup cantik dalam standar film umum.

Elisa yang diperankan oleh Sally Hawkins adalah perempuan bertampang depresif, terasing sekaligus punya orientasi seks menyimpang. Namun justru inilah kekuatan karakternya. Sally membawakannya dengan sangat meyakinkan. Elisa menjadi karakter perempuan terasing yang tidak lemah. Saat cinta menguasainya, ia mau berkorban apapun.

Saya sendiri begitu terkesan oleh performa Michael Shannon. Aktor bertampang berandalan ini memang langganan peran antagonis. Simaklah saat dia jadi Jendral Zod musuhnya Man of Steel. Jarang kita bisa bayangin Shannon main sebagai orang baik kecuali di filmnya Jeff Nichols, Midnight Special. Lihat betapa bengisnya tampangnya sebagai Colonel Richard Strickland dengan dua jarinya yang busuk itu.

Sayangnya, performa jajaran cast yang unggul ini kurang didukung dengan motivasi plot yang meyakinkan. Mungkin benar kata orang-orang, ikatan batin Elisa dengan si makhluk amfibi kurang dieksplorasi dengan anggun. Del Toro malah sibuk membangun adegan-adegan aneh semacam nari-nari ala film musikal vintage dan juga sex underwater yang rada ajaib. Gila aja nyumpel pintu kamar mandi biar jadi kolam renang...

Belum lagi ada satu keanehan yang bikin saya mikir...

Tuh makhluk kan nemunya di sungai Amazon? Ngapain dia butuh air asin ya?

Meski begitu secara keseluruhan saya suka film ini. Karena saya mungkin termasuk orang yang sedikit tadi... penggemar film yang "bukan untuk semua orang"... ya meski nggak ekstrim sih. Saya ini penyuka film monster.

The Shape of Wateri bisa jadi akan sangat anda sukai atau juga sangat anda benci, bahkan bagi anda yang pecinta film monster sekalipun.

The Shape of Water secara tematik sebenarnya tidak orginal. Selain secara estetik merupakan hommage untuk film monster klasik, Creature Of The Black Lagoon, film ini mengulang lagi tema-tema lawas cinta antar dunia yang berbeda. Bahkan lebih tegasnya: cinta antar spesies! Sebut saja Beauty and The Beast, Splash, Putri Duyung karya H.C. Andersen dll.

Kalo ngomong cinta antar spesies, kita tak hanya bicara romansa manusia dan alien dari planet lain. Bagaimana dengan spesies di bumi yang sama? Repotnya cinta ini juga termasuk aspek seksualnya.

Jika dunia lebih terbuka dengan isu homoseksualitas, tidak demikian dengan zoophilia dan bestiality. Yang terakhir ini adalah penyakit psikis yang memiliki sejarah panjang. Lukisan pornografis di reruntuhan Pompei menunjukkan bahwa praktek seksualitas antar spesies ini telah terjadi sejak lama.

Mungkin yang membuat kisah Elisa ini "menjijikkan" adalah kekaburan jatidiri sang manusia amfibi. Apakah ia hanya binatang yang cerdas? Atau ia sebenarnya lebih dekat dengan manusia?

Tapi bagaimana bisa orang umum menerimanya sebagai manusia dengan wujud bersisik mirip ikan berjalan gitu?

Demikianlah, maka bersamaan dengan sambutan positif oleh juri Academy Award, film ini pun bertaburan cacimaki oleh para penonton karya Del Toro sebelumnya.

Jika anda suka Pan's Labirynth saya pikir anda bisa saja menyukai The Shape of Water. Tetapi ingat, ini adalah Fairy Tale for Adults. Tidak cocok untuk semua umur... dan tak cocok untuk semua selera.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA