Review A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Baca

Review THE WOLF OF WALL STREET (Martin Scorsese, 2013)

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Baca

REVIEW TAMPOPO (Juzo Itami, 1985)

Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.
Baca

Review RAGING BULL (Martin Scorsese, 1980)

Jake LaMotta adalah seorang petinju dengan kepribadian bermasalah. Ia seorang pemarah, pencemburu yang kelewatan dan punya kecurigaan yang berlebihan. Meski karir bertinjunya cukup baik hingga bisa hidup layak, ia tak bisa menikmatinya dengan tenang. Setelah menceraikan istri tuanya demi gadis muda yang dikenalkan saudaranya kehidupannya tambah tidak tertata.


Melihat istrinya bertegursapa dengan lelaki lain bisa membuatnya naik pitam. Akibatnya ia sering melampiaskannya pada lawan tinjunya. Ia akan memukuli lawan bertubi-tubi seolah memukuli peselingkuh istrinya. Di atas ring Jake adalah juara namun di meja keluarga ia seorang pengacau. Tak cukup baginya amarah tertumpah di atas ring.

Karena tabiat itulah, kehidupan yang awalnya manis, karena Vikki sang istri masih muda dan cantik, berubah jadi ajang pertengkaran begitu usia perkawinan bertambah. Joey, saudara Jake pun seringkali kuwalahan menghadapi ketakstabilan mental Jake. Suatu ketika bahkan Joey dituduh Jake telah serong dengan Vikki.

Ketika karir Jake meredup, semua meninggalkannya. Joey maupun Vikki. Tak ada yang betah dengan kelakuannya. Jake yang bangkrut lalu beralih kerjaan sebagai standup comedian di klub malam.

===

Bagi saya, menonton karya Scorsese adalah menonton kesemrawutan kehidupan karakter-karakter kelam. Selain itu ciri khasnya adalah latar malam yang berisik sekaligus hampa. Scorsese bagi saya adalah masternya kalau bertutur soal kesuraman hidup.

Memandang sosok Jake LaMotta pada Robert De Niro, kita langsung merasa bahwa si petinju ini tak cuma sakit di atas ring namun juga dalam keseharian. Ia tak cukup bahagia dengan kemenangan-kemenangan. Yang terjadi malahan penyakitnya sering kambuh. Penyakit curiga berlebihan, sukar mengendalikan emosi dan pencemburu.

Matanya selalu awas saat Vikki beredar dari meja ke meja meski sekadar menyapa kenalan. Ia akan menghujaninya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menuduh. Tak jarang berakhir dengan pukulan. Kepada Joey pun juga begitu. Meski saling sayang sebagai kakak adik tak jarang keduanya nyaris baku pukul. Semua selalu Jake yang memulai. Apalagi kalau bukan dengan tuduhan-tuduhan atau kecurigaannya.

Tak seperti Rocky yang bercerita soal semangat juang, Raging Bull adalah cerita tentang penderitaan. Penderitaan karena gangguan mental. Jake LaMotta bukan seorang cendekia. Andai tak punya bakat baku pukul mungkin saja ia berakhir di jalanan sebagai bajingan. Intelektualitas yang tersisa darinya hanyalah sedikit kepandaian melucu di atas panggung. Melucu adalah hal yang mungkin bisa melunakkan keliarannya. Itupun baru ia jalani di saat tua.

Robert De Niro, saya rasa tak ada orang yang paling pantas untuk membawakan Jake selain dia. Ia bukan lagi penyendiri aneh si Travis Bickle dari Taxi Driver. Saya tak membicarakan soal prostetik makeup yang membuat hidungnya tampak lebih besar. Tapi pada bagaimana karakter biang rusuh Si Jake LaMotta nampak begitu menyatu bersemayam dalam pemeranannya.

Pembawaan dan penampakan si Jake muda dan tua pun ia bedakan dengan mulus. Jake muda yang liat dan gahar jadi Jake tua yang sumpek dan tambun. Sedikit aktor yang mampu bertransformasi begini. Mungkin memang karena Robert De Niro adalah seorang method actor yang tangguh. Kalau Robert diganjar piala Oscar atas perannya sebagai Jake LaMOtta itu sudah sebuah kepatutan.

Martin Scorsese pernah bilang bahwa ia lebih peduli karakter daripada plot. Itulah yang saya lihat tertuang dalam Raging Bull. Tak banyak tegangan naratif di film ini. Yang saya rasakan malah naik turunnya emosi, menyaksikan bagaimana Jake LaMotta yang jagoan di ring maupun di rumahtangga pada akhirnya juga menangis pilu di penjara.

Adegan Jake menangis meluapkan amarah sambil memukul tembok penjara itu adalah momen paling mengharukan menurut saya. Scorsese menggali cukup dalam, bagaimana bahwa lelaki sekuat apapun bisa memiliki sisi rapuh.

Kedalaman emosional sebuah film tentu tak cukup jika tanpa sinematografi yang kuat. Kemuraman nasib Jake direpresentasikan dengan tata gambar apik ala film klasik hitam putih. Begitu tegas, kuat dan puitis sekaligus. Scorsese lewat mata sang sinematografer Machael Chapman menekankan kesenduan lewat slow motion dan kefrustasian lewat close up shot. Jangan lupa, Chapman adalah orang yang juga menggarapa Taxi Driver sebelumnya bareng Scorsese.

Gambar-gambar olahan Chapman selalu sederhana namun efektif. Ia mengutamakan wide shot dengan blocking aktor yang efektif. Jarang saya lihat extreme close up. Dari sedikit yang ada itu, yang paling mengesankan saya adalah close up tetesan darah dari tali ring tinju. Sangat puitik, noir dan sangat sinematik.

Terakhir, soal musik. Kesuraman yang dibangun Scorsese dibungkus rapi dengan musik-musik yang ia pilih secara jeli. Karena Raging Bull berlatar tahun 40-60an tentu perlu musik yang pas dengan eranya. Sedangkan untuk jiwa keseluruhan Scorsese memilih musik yang timeless. Betapa tepat ia memilih sebuah komposisi dari Pietro Mascagni, "Intermezzo from Cavalleria rusticana". Mungkin gara-gara musik ini saya jadi terngiang-ngiang adegan-adegan tinju di dalamnya.

Raging Bull, bukan sport drama movie sekadarnya saja. Ia lebih merupakan film psikologi bagi saya.
Jake LaMotta adalah seorang petinju dengan kepribadian bermasalah. Ia seorang pemarah, pencemburu yang kelewatan dan punya kecurigaan yang berlebihan. Meski karir bertinjunya cukup baik hingga bisa hidup layak, ia tak bisa menikmatinya dengan tenang. Setelah menceraikan istri tuanya demi gadis muda yang dikenalkan saudaranya kehidupannya tambah tidak tertata.


Melihat istrinya bertegursapa dengan lelaki lain bisa membuatnya naik pitam. Akibatnya ia sering melampiaskannya pada lawan tinjunya. Ia akan memukuli lawan bertubi-tubi seolah memukuli peselingkuh istrinya. Di atas ring Jake adalah juara namun di meja keluarga ia seorang pengacau. Tak cukup baginya amarah tertumpah di atas ring.

Karena tabiat itulah, kehidupan yang awalnya manis, karena Vikki sang istri masih muda dan cantik, berubah jadi ajang pertengkaran begitu usia perkawinan bertambah. Joey, saudara Jake pun seringkali kuwalahan menghadapi ketakstabilan mental Jake. Suatu ketika bahkan Joey dituduh Jake telah serong dengan Vikki.

Ketika karir Jake meredup, semua meninggalkannya. Joey maupun Vikki. Tak ada yang betah dengan kelakuannya. Jake yang bangkrut lalu beralih kerjaan sebagai standup comedian di klub malam.

===

Bagi saya, menonton karya Scorsese adalah menonton kesemrawutan kehidupan karakter-karakter kelam. Selain itu ciri khasnya adalah latar malam yang berisik sekaligus hampa. Scorsese bagi saya adalah masternya kalau bertutur soal kesuraman hidup.

Memandang sosok Jake LaMotta pada Robert De Niro, kita langsung merasa bahwa si petinju ini tak cuma sakit di atas ring namun juga dalam keseharian. Ia tak cukup bahagia dengan kemenangan-kemenangan. Yang terjadi malahan penyakitnya sering kambuh. Penyakit curiga berlebihan, sukar mengendalikan emosi dan pencemburu.

Matanya selalu awas saat Vikki beredar dari meja ke meja meski sekadar menyapa kenalan. Ia akan menghujaninya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menuduh. Tak jarang berakhir dengan pukulan. Kepada Joey pun juga begitu. Meski saling sayang sebagai kakak adik tak jarang keduanya nyaris baku pukul. Semua selalu Jake yang memulai. Apalagi kalau bukan dengan tuduhan-tuduhan atau kecurigaannya.

Tak seperti Rocky yang bercerita soal semangat juang, Raging Bull adalah cerita tentang penderitaan. Penderitaan karena gangguan mental. Jake LaMotta bukan seorang cendekia. Andai tak punya bakat baku pukul mungkin saja ia berakhir di jalanan sebagai bajingan. Intelektualitas yang tersisa darinya hanyalah sedikit kepandaian melucu di atas panggung. Melucu adalah hal yang mungkin bisa melunakkan keliarannya. Itupun baru ia jalani di saat tua.

Robert De Niro, saya rasa tak ada orang yang paling pantas untuk membawakan Jake selain dia. Ia bukan lagi penyendiri aneh si Travis Bickle dari Taxi Driver. Saya tak membicarakan soal prostetik makeup yang membuat hidungnya tampak lebih besar. Tapi pada bagaimana karakter biang rusuh Si Jake LaMotta nampak begitu menyatu bersemayam dalam pemeranannya.

Pembawaan dan penampakan si Jake muda dan tua pun ia bedakan dengan mulus. Jake muda yang liat dan gahar jadi Jake tua yang sumpek dan tambun. Sedikit aktor yang mampu bertransformasi begini. Mungkin memang karena Robert De Niro adalah seorang method actor yang tangguh. Kalau Robert diganjar piala Oscar atas perannya sebagai Jake LaMOtta itu sudah sebuah kepatutan.

Martin Scorsese pernah bilang bahwa ia lebih peduli karakter daripada plot. Itulah yang saya lihat tertuang dalam Raging Bull. Tak banyak tegangan naratif di film ini. Yang saya rasakan malah naik turunnya emosi, menyaksikan bagaimana Jake LaMotta yang jagoan di ring maupun di rumahtangga pada akhirnya juga menangis pilu di penjara.

Adegan Jake menangis meluapkan amarah sambil memukul tembok penjara itu adalah momen paling mengharukan menurut saya. Scorsese menggali cukup dalam, bagaimana bahwa lelaki sekuat apapun bisa memiliki sisi rapuh.

Kedalaman emosional sebuah film tentu tak cukup jika tanpa sinematografi yang kuat. Kemuraman nasib Jake direpresentasikan dengan tata gambar apik ala film klasik hitam putih. Begitu tegas, kuat dan puitis sekaligus. Scorsese lewat mata sang sinematografer Machael Chapman menekankan kesenduan lewat slow motion dan kefrustasian lewat close up shot. Jangan lupa, Chapman adalah orang yang juga menggarapa Taxi Driver sebelumnya bareng Scorsese.

Gambar-gambar olahan Chapman selalu sederhana namun efektif. Ia mengutamakan wide shot dengan blocking aktor yang efektif. Jarang saya lihat extreme close up. Dari sedikit yang ada itu, yang paling mengesankan saya adalah close up tetesan darah dari tali ring tinju. Sangat puitik, noir dan sangat sinematik.

Terakhir, soal musik. Kesuraman yang dibangun Scorsese dibungkus rapi dengan musik-musik yang ia pilih secara jeli. Karena Raging Bull berlatar tahun 40-60an tentu perlu musik yang pas dengan eranya. Sedangkan untuk jiwa keseluruhan Scorsese memilih musik yang timeless. Betapa tepat ia memilih sebuah komposisi dari Pietro Mascagni, "Intermezzo from Cavalleria rusticana". Mungkin gara-gara musik ini saya jadi terngiang-ngiang adegan-adegan tinju di dalamnya.

Raging Bull, bukan sport drama movie sekadarnya saja. Ia lebih merupakan film psikologi bagi saya.
Baca

25 TAHUN JURASSIC PARK (1993 - 2018)

Sebuah perusahaan menghidupkan ulang dinosaurus dengan cara kloning. DNAnya didapat dari darah dinosaurus yang disedot nyamuk yang kemudian terawetkan dalam fosil amber. Sebagai sebuah novel saya pikir bukan hal yang luar biasa. Ada banyak novel hebat dengan imajinasi hebat. Tulisan adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Seorang penulis bebas menyapukan kuas imajinasinya karena pembaca pun bakal sama bebasnya berenang di dalamnya. Namun ketika kita bicara film, sebuah media yang mendiktekan audio visual sebagai wahana bercerita, urusannya tak gampang lagi.


Dinosaurus adalah hewan yang paling indah di muka bumi. Karena selain ukuran gigantiknya (manusia suka ama yang gigantic), juga karena lebih dari separuh pengetahuan kita tentangnya adalah imajinasi. Hanya sedikit dinosaurus yang ditemukan relatif utuh tulangnya. Di era Jurassic Park ditulis, belum ada fosil dinosaurus ditemukan beserta bulu atau cetakan kulit lengkapnya. Belum juga diketahui (atau diduga) bahwa Spinosaurus berenang seperti buaya dan berjalan dengan keempat kakinya.

Sampai tahun 1993, imajinasi kita soal dinosaurus hanya sampai di film Land of The Lost atau bahkan Carnosaurus, sebuah film kelas B yang lebih mirip Chucky versi dinosaurus. Kita membayangkan Tyrannosaurus berjalan dengan bokong ngesot, berbodi tambun dan lamban.

===

Tahun 1993, seorang sutradara visioner memutuskan melatih ulang para animator stop motion tradisional demi mewadahi teknologi terbaru Computer Graphic Imagery (CGI). Bahkan sudah ada CGI pun sang sutradara ini masih mau repot-repotnya membikin versi animatroniknya yang berskala satu banding satu.

Adalah Stan Winston yang berada di balik efek khusus film besar Hollywood. Tak cuma robot Terminator dan Robocop ia tangani. Ia juga piawai menghidupkan monster yang samasekali tak mirip terbuat dari lateks. Ia menerjemahkan visi sang sutradara sedetail-detailnya. Terlibatnya dia dengan Jurassic Park adalah keniscayaan. Gak boleh enggak.

Dengan arahan visi sutradara, beberapa jenis dinosaurus direka ulang sangat berbeda dari yang selama ini diimajinasikan orang. Seketika orang lupa soal dinosaurus yang pernah mereka tonton di TV atau film-film sebelumnya. This is something really different.


T-Rex (Tyrannosaurus Rex) yang sebelumnya cuma dikenal sama anak-anak penggemar dinosaurus, mendadak jadi selebriti. Semua orang tahu T-Rex. Namun mungkin mereka tak menyangka bahwa T-Rex yang berjalan dengan ekor terangkat dan mampu mengejar jeep baru dimulai sejak Jurassic Park.

Velociraptor, jenis dinosaurus yang sebelumnya tak terkenal, dibikin lebih lebay dari ukuran aslinya. Lebih serem dan ganas. Dilophosaur, yang sama tak terkenalnya dengan Velociraptor dibikin punya kipas di kepala dan bisa menyemburkan racun.

Orang tak protes karena kadung terpana. Suspension of disbelief at it's best cinematic presentation. Maka layaklah sang sutradara menangguk pujian seluruh dunia ketika film ini mampu membuat jutaan anak demam sama dinosaurus dan minat pada palaeologi meningkat.

Tak sopan menyebut Jurassic Park tanpa menyanjung John Williams. Lewat tangan dinginnya lah simfoni orkestra membuat Jurassic Park begitu megah. Tak bisa tidak, setiap saya lihat logo Jurassic Park tanpa terngiang musik temanya di kepala. Kalo main ke taman safari, atau lewat perbukitan, otomatis benak saya memutar ulang musik itu. Jurassic Park tak paripurna tanpa musik John Williams. Lagipula John adalah komposer yang kolaborasinya paling awet sama si sutradara ini.

Steven Spielberg, sang sutradara, tak pernah ada filmmaker sesukses ini dalam rentang karier begitu panjangnya. 40 tahun lebih!

Saya adalah salah satu dari jutaan ABG yang juga ikut demam dinosaurus. Bahkan bermimpi suatu saat ingin seperti Spielberg. Jurassic Park adalah film yang menginspirasi saya untuk bikin film. Jarang ada film yang demikian.

Saya pribadi menyukai ketiga serinya. Banyak yang menganggap bahwa film yang ketiga adalah sampah. Namun saya tetap saja menyukainya. Ketiga seri Jurassic Park awal tetap memberikan pengalaman yang berbeda.

Sayangnya pengalaman itu gagal saya peroleh di Jurassic World. Taman Jurassic yang modern dibikin serupa Sea World. Namun tak ada kemegahan yang saya rasakan sebagaimana saat helikopter Ingen memasuki kawasan Isla Nubar di Jurassic Park 1993. Kemunculan Indominus Rex pun garing-garing saja tak seperti saat saya pertamakali melihat Brachiosaurus. Lagipula entah kenapa musti memunculkan monster yang samasekali bukan dinosaurus itu. Seakan dinosaurus yang paling seram sudah mentok di T-Rex dan Velociraptor.

Lagi-lagi cuman Jurassic Park 1993 yang sudah menghabiskan semua greget soal dinosaurus. Jangankan pada sekuel-sekuelnya, sampai saat ini pun saya rasa belum ada film dinosaurus yang mampu menandingi versi 1993.

Apa ada film dinosaurus baru yang bisa sesukses Jurassic Park?

Atau kita turunin standar deh.... minimal yang bisa box office. Ada?

No!

===

Jurassic Park bukan sekadar film soal "kadal raksasa" (dinosaurus bukan reptil loh) yang hendak memangsa manusia. Ini adalah film yang sebenarnya punya inti cerita mendalam.

"This isn't some species that was obliterated by deforestation, or the building of a dam. Dinosaurs had their shot, and nature selected them for extinction."

Demikian kata Ian Malcolm yang diperankan Jeff Goldblum. Ian adalah seorang matematikawan. Menghidupkan binatang yang ditakdirkan alam punah milyaran tahun silam, tentunya akan membawa dampak jika dihadirkan pada masa kini. Ian Malcolm dipekerjakan untuk mengkalkulasikannya.

Kecemasan yang beralasan. Dinosaurus bagaimanapun hidup di era yang begitu terpaut jauh dari peradaban. Tentunya ada lasan tertentu kenapa mereka tak bertahan (dengan bentuknya di masa itu) hingga sekarang.

"The world has just changed so radically, and we're all running to catch up. I don't want to jump to any conclusions, but look... Dinosaurs and man, two species separated by 65 million years of evolution have just been suddenly thrown back into the mix together. How can we possibly have the slightest idea what to expect?"

Itu adalah tanggapan dari Dr. Allan Grant (diperankan Sam Neill). Kita tak asing dengan yang demikian. Ada sejumlah orang yang ingin membawa sesuatu yang lebih cocok hidup di puluhan abad silam, untuk diterapkan pada kompleksitas jaman ini. Akan ada benturan-benturan. Jaman itu progresif, bergerak seiring dengan kemajuan taraf berkebudayaan manusia. Membangunkan sesuatu yang meskipun pernah jaya di masa lalu, tentunya akan mengakibatkan sesuatu ini menabrak banyak hal.

Masih dari Dr. Grant, "Some of the worst things imaginable have been done with the best intentions."

Jadi rupanya, Jurassic Park punya kritik yang lebih mendalam. Ini bukan film yang sekadar bicara penyalahgunaan sains atau kekacauan ekologis, melainkan kayaknya sih....juga soal ideologi. Kalo anda bisa terima lho ya hehehe

Akan tetapi, sesuatu yang sudah telanjur hidup, akan terus berusaha bertahan hidup. Masih kata Ian Malcolm, "Life will find a way..."

Makanya hati-hati jika mau membangkitkan apa yang seharusnya sudah dipunahkan alam atau sejarah. Karena begitu sudah hidup, kita akan menanggung ketimpangan sistem. Dia akan mencari jalan meski sudah dibendung. Kayak kamu yang jatuh cinta sampe mati namun tetep dihalangi. Ra minggir ya tabrak to ya?

"Life.... will find a way."

Sebuah perusahaan menghidupkan ulang dinosaurus dengan cara kloning. DNAnya didapat dari darah dinosaurus yang disedot nyamuk yang kemudian terawetkan dalam fosil amber. Sebagai sebuah novel saya pikir bukan hal yang luar biasa. Ada banyak novel hebat dengan imajinasi hebat. Tulisan adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Seorang penulis bebas menyapukan kuas imajinasinya karena pembaca pun bakal sama bebasnya berenang di dalamnya. Namun ketika kita bicara film, sebuah media yang mendiktekan audio visual sebagai wahana bercerita, urusannya tak gampang lagi.


Dinosaurus adalah hewan yang paling indah di muka bumi. Karena selain ukuran gigantiknya (manusia suka ama yang gigantic), juga karena lebih dari separuh pengetahuan kita tentangnya adalah imajinasi. Hanya sedikit dinosaurus yang ditemukan relatif utuh tulangnya. Di era Jurassic Park ditulis, belum ada fosil dinosaurus ditemukan beserta bulu atau cetakan kulit lengkapnya. Belum juga diketahui (atau diduga) bahwa Spinosaurus berenang seperti buaya dan berjalan dengan keempat kakinya.

Sampai tahun 1993, imajinasi kita soal dinosaurus hanya sampai di film Land of The Lost atau bahkan Carnosaurus, sebuah film kelas B yang lebih mirip Chucky versi dinosaurus. Kita membayangkan Tyrannosaurus berjalan dengan bokong ngesot, berbodi tambun dan lamban.

===

Tahun 1993, seorang sutradara visioner memutuskan melatih ulang para animator stop motion tradisional demi mewadahi teknologi terbaru Computer Graphic Imagery (CGI). Bahkan sudah ada CGI pun sang sutradara ini masih mau repot-repotnya membikin versi animatroniknya yang berskala satu banding satu.

Adalah Stan Winston yang berada di balik efek khusus film besar Hollywood. Tak cuma robot Terminator dan Robocop ia tangani. Ia juga piawai menghidupkan monster yang samasekali tak mirip terbuat dari lateks. Ia menerjemahkan visi sang sutradara sedetail-detailnya. Terlibatnya dia dengan Jurassic Park adalah keniscayaan. Gak boleh enggak.

Dengan arahan visi sutradara, beberapa jenis dinosaurus direka ulang sangat berbeda dari yang selama ini diimajinasikan orang. Seketika orang lupa soal dinosaurus yang pernah mereka tonton di TV atau film-film sebelumnya. This is something really different.


T-Rex (Tyrannosaurus Rex) yang sebelumnya cuma dikenal sama anak-anak penggemar dinosaurus, mendadak jadi selebriti. Semua orang tahu T-Rex. Namun mungkin mereka tak menyangka bahwa T-Rex yang berjalan dengan ekor terangkat dan mampu mengejar jeep baru dimulai sejak Jurassic Park.

Velociraptor, jenis dinosaurus yang sebelumnya tak terkenal, dibikin lebih lebay dari ukuran aslinya. Lebih serem dan ganas. Dilophosaur, yang sama tak terkenalnya dengan Velociraptor dibikin punya kipas di kepala dan bisa menyemburkan racun.

Orang tak protes karena kadung terpana. Suspension of disbelief at it's best cinematic presentation. Maka layaklah sang sutradara menangguk pujian seluruh dunia ketika film ini mampu membuat jutaan anak demam sama dinosaurus dan minat pada palaeologi meningkat.

Tak sopan menyebut Jurassic Park tanpa menyanjung John Williams. Lewat tangan dinginnya lah simfoni orkestra membuat Jurassic Park begitu megah. Tak bisa tidak, setiap saya lihat logo Jurassic Park tanpa terngiang musik temanya di kepala. Kalo main ke taman safari, atau lewat perbukitan, otomatis benak saya memutar ulang musik itu. Jurassic Park tak paripurna tanpa musik John Williams. Lagipula John adalah komposer yang kolaborasinya paling awet sama si sutradara ini.

Steven Spielberg, sang sutradara, tak pernah ada filmmaker sesukses ini dalam rentang karier begitu panjangnya. 40 tahun lebih!

Saya adalah salah satu dari jutaan ABG yang juga ikut demam dinosaurus. Bahkan bermimpi suatu saat ingin seperti Spielberg. Jurassic Park adalah film yang menginspirasi saya untuk bikin film. Jarang ada film yang demikian.

Saya pribadi menyukai ketiga serinya. Banyak yang menganggap bahwa film yang ketiga adalah sampah. Namun saya tetap saja menyukainya. Ketiga seri Jurassic Park awal tetap memberikan pengalaman yang berbeda.

Sayangnya pengalaman itu gagal saya peroleh di Jurassic World. Taman Jurassic yang modern dibikin serupa Sea World. Namun tak ada kemegahan yang saya rasakan sebagaimana saat helikopter Ingen memasuki kawasan Isla Nubar di Jurassic Park 1993. Kemunculan Indominus Rex pun garing-garing saja tak seperti saat saya pertamakali melihat Brachiosaurus. Lagipula entah kenapa musti memunculkan monster yang samasekali bukan dinosaurus itu. Seakan dinosaurus yang paling seram sudah mentok di T-Rex dan Velociraptor.

Lagi-lagi cuman Jurassic Park 1993 yang sudah menghabiskan semua greget soal dinosaurus. Jangankan pada sekuel-sekuelnya, sampai saat ini pun saya rasa belum ada film dinosaurus yang mampu menandingi versi 1993.

Apa ada film dinosaurus baru yang bisa sesukses Jurassic Park?

Atau kita turunin standar deh.... minimal yang bisa box office. Ada?

No!

===

Jurassic Park bukan sekadar film soal "kadal raksasa" (dinosaurus bukan reptil loh) yang hendak memangsa manusia. Ini adalah film yang sebenarnya punya inti cerita mendalam.

"This isn't some species that was obliterated by deforestation, or the building of a dam. Dinosaurs had their shot, and nature selected them for extinction."

Demikian kata Ian Malcolm yang diperankan Jeff Goldblum. Ian adalah seorang matematikawan. Menghidupkan binatang yang ditakdirkan alam punah milyaran tahun silam, tentunya akan membawa dampak jika dihadirkan pada masa kini. Ian Malcolm dipekerjakan untuk mengkalkulasikannya.

Kecemasan yang beralasan. Dinosaurus bagaimanapun hidup di era yang begitu terpaut jauh dari peradaban. Tentunya ada lasan tertentu kenapa mereka tak bertahan (dengan bentuknya di masa itu) hingga sekarang.

"The world has just changed so radically, and we're all running to catch up. I don't want to jump to any conclusions, but look... Dinosaurs and man, two species separated by 65 million years of evolution have just been suddenly thrown back into the mix together. How can we possibly have the slightest idea what to expect?"

Itu adalah tanggapan dari Dr. Allan Grant (diperankan Sam Neill). Kita tak asing dengan yang demikian. Ada sejumlah orang yang ingin membawa sesuatu yang lebih cocok hidup di puluhan abad silam, untuk diterapkan pada kompleksitas jaman ini. Akan ada benturan-benturan. Jaman itu progresif, bergerak seiring dengan kemajuan taraf berkebudayaan manusia. Membangunkan sesuatu yang meskipun pernah jaya di masa lalu, tentunya akan mengakibatkan sesuatu ini menabrak banyak hal.

Masih dari Dr. Grant, "Some of the worst things imaginable have been done with the best intentions."

Jadi rupanya, Jurassic Park punya kritik yang lebih mendalam. Ini bukan film yang sekadar bicara penyalahgunaan sains atau kekacauan ekologis, melainkan kayaknya sih....juga soal ideologi. Kalo anda bisa terima lho ya hehehe

Akan tetapi, sesuatu yang sudah telanjur hidup, akan terus berusaha bertahan hidup. Masih kata Ian Malcolm, "Life will find a way..."

Makanya hati-hati jika mau membangkitkan apa yang seharusnya sudah dipunahkan alam atau sejarah. Karena begitu sudah hidup, kita akan menanggung ketimpangan sistem. Dia akan mencari jalan meski sudah dibendung. Kayak kamu yang jatuh cinta sampe mati namun tetep dihalangi. Ra minggir ya tabrak to ya?

"Life.... will find a way."

Baca

REVIEW DANGAL (Nitesh Tiwari, 2016)

Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat kampung yang gagal mewujudkan ambisi jadi juara nasional berharap sekali punya anak laki-laki. Ia ingin mewujudkan ambisi tersebut lewat anaknya. Malangnya 4 kali punya anak ndilalah cewek semua. Mahavir Singh pun putus asa.


Suatu hari dua anak tertuanya, Geeta dan Babita menghajar dua cowok yang mengejeknya hingga babak belur. Saat itulah Mahavir Singh merasa bahwa darah pegulat mengalir di kedua putrinya. Akibatnya mimpi untuk mewujudkan juara gulat nasional bangkit lagi. Esoknya Geeta dan Babita dipaksa menjalani latian berat agar jadi juara gulat. Tak ada ampun meski buat anak perempuan. Keduanya dilatih dengan porsi laki-laki.

Satu per satu rintangan ditembus. Tak mudah buat dua anak cewek ingin jadi atlit gulat. Sebagai bapak, Mahavir Singh pun mengorbankan banyak hal agar dua putrinya itu menjadi juara. Dia dibantu keponakannya yang mirip Martin Scorsese muda terus mendukung Geeta dan Babita mulai menjadi juara kampung hingga merangkak jadi juara nasional.

Cerita lalu mulai fokus ke Geeta. Mulai terjadi gap antara Geeta dan bapaknya. Geeta kini harus direlakan untuk berlatih di akademi. Apa yang dulu dianggap hebat di kampung, menjadi kuno di akademi olahraga. Apalagi kini Geeta yang sudah mulai passionated pada gulat diproyeksikan untuk jadi juara dunia. Maka bapak dan anak ini pun musti menghadapi dinamika emosional yang turun naik.

===

Dangal adalah racikan sinematik yang padat rasa. Di awal kisah kita akan merasa betapa konyol Mahavir Singh Phogat memaksa anaknya menebus kegagalan pribadinya. Ada berapa banyak bapak semacam ini? Gagal mencapai ambisi pribadi lalu mengorbankan anaknya. Tapi bukan tanpa alasan kuat Mahavir Singh melakukannya. Ini pula yang membuat kisah Dangal begitu berbobot. Tak cuma drama soal semangat laga namun juga kritik sosial untuk masyarakat rural India. Lebih baik tak saya ceritakan kenapa akhirnya Geeta dan Babita yang awalnya terpaksa (sampai-sampai ia menyabotase program latihan bikinan bapaknya), kemudian hari begitu bersemangat jadi pegulat. Karena ini adalah salah satu tanjakan dramatik yang akan membuat anda haru.

Bukan cuma totalitas para pelakonnya yang bikin saya makin terpesona. Apalagi menyaksikan bagaimana Aamir Khan memerankan karakter yang melalui 2 masa: Mahavir Singh Phogat yang berusia 20 tahunan dan six pack dan versi masa tuanya yang tambun di usia 60 tahunan. Namun yang bikin saya terpesona justru lebih dari itu. Film ini punya kedalaman yang mengaduk-aduk perasaan. Anda bisa ketawa dan menangis secara bergantian. Ini lebih dari yang saya antisipasi.

Simak bagaimana seorang bapak yang begitu berambisi agar anaknya juara, pada suatu saat akan merasa cemburu karena sang anak pintar melebihi dirinya. Kadang ia kesepian ditinggal anak-anaknya yang mengejar impian jadi juara. Dangal begitu rapih menata tanjakan-tanjakan dramatik. Dramanya juga begitu emosional hingga tak terasa air mata meleleh. Apalagi saya tuh cengeng banget kalo sebuah kisah bertutur soal keluarga. Keparatnya tak lama kemudian kita bisa ketawa. Ketawa usai disambung dengan ketegamgan pertandingan. Lalu haru lagi ketika sang tokoh meraih kemenangan.

Tak ada tempelan-tempelan yang tak perlu di film ini. Nggak ada drama cinta-cintaan dua sejoli, nggak ada karakter konyol khas Bollywood yang cuman jadi comic relief dan bahkan gersang dari adegan jejogedan. Dangal bertutur sangat efektif, beralur cepat namun tak terburu-buru.

Pujian pun saya ucapkan pada music score yang tidak terlalu tipikal. Nggak india banget namun juga gak lepas dari aroma Bollywood yang wajib tetabuhan. Saya pikir para penonton film non Bollywwod pun akan cocok dengan racikan ini.

Dangal adalah film drama olahraga yang padat. Baik aspek olahraga maupun dramanya lebur jadi satu kesatuan. Ini bukan drama yang sekadar berlatar sport. Namun juga bukan sekadar film yang melulu menampilkan sport tanpa bicara soal karakternya. Tak Cuma dramanya yang mendalam, detail soal olahraga gulat pun terekspose dengan baik.

India tak asing dengan gulat. Mereka punya tradisi olahraga ini sejak lama. Secara tradisional, gulat disebut dengan Pehlwani sedangkan yang lebih standar disebut dengan Kushti. Pehlwani dipertandingkan di kampung dan dilakukan di atas lumpur kering. Pesertanya sebagian besar pria. Maka tak mudah bagi Geeta dan Babita untuk terlibat ke dalamnya. Penguasaan atas teknik tradisional ini kelak mempermudah Geeta dan Babita untuk beradaptasi ke olahraga gulat standar olimpiade (Olympic Wrestling).

Soal gulat ini, Dangal tak main-main dengan koreografi. Bagi anda yang paham olahraga gulat dan grappling tentunya akan tahu bahwa teknik yang dipertontonkan nggak asal-asalan. Nggak ada fast cut atau extreme shot yang mengaburkan teknik. Teknik dilakukan detail, dalam wide shot dan nyaris nampak realistis. Fatima Sana Shaikh cukup meyakinkan memerankan Geeta saat dewasa. Gesture tubuhnya tidak janggal. Tubuhnya yang padat atletis cocok sekali bermanuver.

Kecemerlangan Dangal membuat saya makin ngefans saja sama Aamir Khan. Meski dia bukan sang sutradara, tapi sentuhan tangan dinginnya sebagai produser sudah kayak jadi jaminan mutu. Film Aamir Khan mana sih yang gagal akhir-akhir ini? Dia benar-benar filmmaker yang berdedikasi. Melihat bagaimana ia mengolah tubuhnya nyaris bikin saya membandingkannya dengan Christian Bale.

Film ini saya rekomendasikan bagi para penyuka sport drama terlebih yang suka grappling arts macam saya hehehe. Oh iya jangan lupa siapkan tisu ya kalau nontonnya sendirian.

Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat kampung yang gagal mewujudkan ambisi jadi juara nasional berharap sekali punya anak laki-laki. Ia ingin mewujudkan ambisi tersebut lewat anaknya. Malangnya 4 kali punya anak ndilalah cewek semua. Mahavir Singh pun putus asa.


Suatu hari dua anak tertuanya, Geeta dan Babita menghajar dua cowok yang mengejeknya hingga babak belur. Saat itulah Mahavir Singh merasa bahwa darah pegulat mengalir di kedua putrinya. Akibatnya mimpi untuk mewujudkan juara gulat nasional bangkit lagi. Esoknya Geeta dan Babita dipaksa menjalani latian berat agar jadi juara gulat. Tak ada ampun meski buat anak perempuan. Keduanya dilatih dengan porsi laki-laki.

Satu per satu rintangan ditembus. Tak mudah buat dua anak cewek ingin jadi atlit gulat. Sebagai bapak, Mahavir Singh pun mengorbankan banyak hal agar dua putrinya itu menjadi juara. Dia dibantu keponakannya yang mirip Martin Scorsese muda terus mendukung Geeta dan Babita mulai menjadi juara kampung hingga merangkak jadi juara nasional.

Cerita lalu mulai fokus ke Geeta. Mulai terjadi gap antara Geeta dan bapaknya. Geeta kini harus direlakan untuk berlatih di akademi. Apa yang dulu dianggap hebat di kampung, menjadi kuno di akademi olahraga. Apalagi kini Geeta yang sudah mulai passionated pada gulat diproyeksikan untuk jadi juara dunia. Maka bapak dan anak ini pun musti menghadapi dinamika emosional yang turun naik.

===

Dangal adalah racikan sinematik yang padat rasa. Di awal kisah kita akan merasa betapa konyol Mahavir Singh Phogat memaksa anaknya menebus kegagalan pribadinya. Ada berapa banyak bapak semacam ini? Gagal mencapai ambisi pribadi lalu mengorbankan anaknya. Tapi bukan tanpa alasan kuat Mahavir Singh melakukannya. Ini pula yang membuat kisah Dangal begitu berbobot. Tak cuma drama soal semangat laga namun juga kritik sosial untuk masyarakat rural India. Lebih baik tak saya ceritakan kenapa akhirnya Geeta dan Babita yang awalnya terpaksa (sampai-sampai ia menyabotase program latihan bikinan bapaknya), kemudian hari begitu bersemangat jadi pegulat. Karena ini adalah salah satu tanjakan dramatik yang akan membuat anda haru.

Bukan cuma totalitas para pelakonnya yang bikin saya makin terpesona. Apalagi menyaksikan bagaimana Aamir Khan memerankan karakter yang melalui 2 masa: Mahavir Singh Phogat yang berusia 20 tahunan dan six pack dan versi masa tuanya yang tambun di usia 60 tahunan. Namun yang bikin saya terpesona justru lebih dari itu. Film ini punya kedalaman yang mengaduk-aduk perasaan. Anda bisa ketawa dan menangis secara bergantian. Ini lebih dari yang saya antisipasi.

Simak bagaimana seorang bapak yang begitu berambisi agar anaknya juara, pada suatu saat akan merasa cemburu karena sang anak pintar melebihi dirinya. Kadang ia kesepian ditinggal anak-anaknya yang mengejar impian jadi juara. Dangal begitu rapih menata tanjakan-tanjakan dramatik. Dramanya juga begitu emosional hingga tak terasa air mata meleleh. Apalagi saya tuh cengeng banget kalo sebuah kisah bertutur soal keluarga. Keparatnya tak lama kemudian kita bisa ketawa. Ketawa usai disambung dengan ketegamgan pertandingan. Lalu haru lagi ketika sang tokoh meraih kemenangan.

Tak ada tempelan-tempelan yang tak perlu di film ini. Nggak ada drama cinta-cintaan dua sejoli, nggak ada karakter konyol khas Bollywood yang cuman jadi comic relief dan bahkan gersang dari adegan jejogedan. Dangal bertutur sangat efektif, beralur cepat namun tak terburu-buru.

Pujian pun saya ucapkan pada music score yang tidak terlalu tipikal. Nggak india banget namun juga gak lepas dari aroma Bollywood yang wajib tetabuhan. Saya pikir para penonton film non Bollywwod pun akan cocok dengan racikan ini.

Dangal adalah film drama olahraga yang padat. Baik aspek olahraga maupun dramanya lebur jadi satu kesatuan. Ini bukan drama yang sekadar berlatar sport. Namun juga bukan sekadar film yang melulu menampilkan sport tanpa bicara soal karakternya. Tak Cuma dramanya yang mendalam, detail soal olahraga gulat pun terekspose dengan baik.

India tak asing dengan gulat. Mereka punya tradisi olahraga ini sejak lama. Secara tradisional, gulat disebut dengan Pehlwani sedangkan yang lebih standar disebut dengan Kushti. Pehlwani dipertandingkan di kampung dan dilakukan di atas lumpur kering. Pesertanya sebagian besar pria. Maka tak mudah bagi Geeta dan Babita untuk terlibat ke dalamnya. Penguasaan atas teknik tradisional ini kelak mempermudah Geeta dan Babita untuk beradaptasi ke olahraga gulat standar olimpiade (Olympic Wrestling).

Soal gulat ini, Dangal tak main-main dengan koreografi. Bagi anda yang paham olahraga gulat dan grappling tentunya akan tahu bahwa teknik yang dipertontonkan nggak asal-asalan. Nggak ada fast cut atau extreme shot yang mengaburkan teknik. Teknik dilakukan detail, dalam wide shot dan nyaris nampak realistis. Fatima Sana Shaikh cukup meyakinkan memerankan Geeta saat dewasa. Gesture tubuhnya tidak janggal. Tubuhnya yang padat atletis cocok sekali bermanuver.

Kecemerlangan Dangal membuat saya makin ngefans saja sama Aamir Khan. Meski dia bukan sang sutradara, tapi sentuhan tangan dinginnya sebagai produser sudah kayak jadi jaminan mutu. Film Aamir Khan mana sih yang gagal akhir-akhir ini? Dia benar-benar filmmaker yang berdedikasi. Melihat bagaimana ia mengolah tubuhnya nyaris bikin saya membandingkannya dengan Christian Bale.

Film ini saya rekomendasikan bagi para penyuka sport drama terlebih yang suka grappling arts macam saya hehehe. Oh iya jangan lupa siapkan tisu ya kalau nontonnya sendirian.

Baca

REVIEW ROCKY (John G. Avildsen, 1976)

Rocky Balboa adalah seorang petinju kelas rendahan yang cuma berpenghasilan receh. Untuk menambah uang saku ia nyambi sebagai debt collector. Agak kontras dengan bawaan lahiriahnya. Meski badannya gede, Rocky nggak tegaan menghajar orang. Mungkin karena ia juga seorang pecinta binatang.

Bertahun-tahun Rocky tak pernah punya kesempatan untuk naik kelas. Kebahagiaan yang ia punya hanyalah merayu dengan joke-joke garing kepada gebetannya, Adrian seorang perempuan kikuk dan pemalu.

Suatu ketika manajemen Apollo Creed, seorang petinju tenar hendak menjual pertunjukan tinju. Sayangnya banyak petinju hebat sedang tidak tersedia dalam waktu dekat. Tiba-tiba Creed punya ide menjual pertunjukan semacam dare to dream. Ia bakal kasih kesempatan petinju underdog untuk bertarung dengannya. Sungguh show yang bakal menjual. A show about American dream.

Rocky pun mempersiapkan diri dengan semangat nothing to lose. Toh siapa lah dia yang bakal mampu mengalahkan Appollo Creed, sang petinju hebat pemegang gelar bertahan. Rocky bertarung hanya demi satu nama, Adrian, perempuan yang paling ia cintai. Hanya kepadanyalah pertarungan berdarah-darah itu ia persembahkan.

===

Apa yang tak saya suka dari Rocky?

Tak ada.

Musik-musik soundtrack gubahan Bill Conti adalah teman saya saat olahraga. Semangat Rocky berlatih dengan lingkungan seadanya menjadi inspirasi saya. Hanya saja saya nggak meninju bongkahan daging digantung.

Untung saya bukan kritikus. Tak wajib bagi saya "mencari kesalahan" sebuah tontonan. Bahkan saya sudah suka Rocky sebelum meniontonnya utuh. Kok bisa?

It's about character. Kata Mbah Martin Scorsese karakter lah yang paling penting untuk membuat film menarik. Karena karakter lah yang menjadi media pembawa kisah. Lebih mudah jatuh hati pada karakter daripada cerita. Apalagi jika sebuah karakter film bernasib serupa dengan audiense-nya.

Rocky agaknya cukup mewakili para petarung kehidupan yang kalah bukan karena tak cakap, melainkan hanya karena belum diberi kesempatan.

Saya selalu suka film lawas dari era pakde-pakde saya. Rocky adalah sport drama movie yang melejitkan Sylvester Stallone sebagai aktor papan atas Hollywood. Selain makin mengukuhkan peran penting para keturunan Italia di jagad perfilman Amerika. Entah lah apa yang akan terjadi pada Sylvester "Sly" Stallone andai naskah bikinannya tak diterima produser. Karena ia sebelumnya cuma beruntung main di film porno. Body dempal muka eksotis. Mana orang percaya dia bisa main film beneran?

Rocky, film yang menyabet piala Oscar ini sebenarnya lebih membuktikan bahwa Sly sebenarnya merupakan penulis cerita yang bagus. Hal itu juga terlihat di sekuel pertama film Rambo: The First Blood. Sayangnya industri agaknya lebih demen menjual otot Si Sly daripada memberinya kesempatan akting yang serius. Makanya sekuel-sekuel film tersebut dibuat dengan semangat serupa sinetron berseri. Ngejual karakter yang udah terbukti laris. But that's not problem.

Rocky adalah petarung yang kuat bukan karena program latihannya. Ia menjadi kuat karena tempaan kehidupan. Ia adalah representasi imigran yang pilihan kerjaannya hanyalah sebagai kerah biru. Apollo Creed sang juara pun bilang padanya, "Orang Italia itu, kalo kagak bisa berantem paling enggak bisa jadi tukang masak lah."

Hidup hanya dengan bertinju di event receh, sehari-hari musti nagih utang sama orang-orang bandel membuat Rocky musti tabah dengan apartemennya yang lebih mirip penjara. Apartemen itu yang membuatnya tak percaya diri setiap orang-orang menolaknya. Adrian, saat pertama kenal Rocky pun enggan untuk berlama-lama. Maka yang dirasakan Rocky hanyalah... "Kamu nggak suka rumahku kan?"

Hanya Adrian yang bisa menghiasai kemuraman hidup Rocky. Setidaknya hanya Adrian yang bisa membaca betapa untuk ukuran tukang tagih utang, Rocky terlalu berhati penyayang. Maka wajar saja jika ia mempersembahkan pertarungannya demi perempuan ini. Perempuan yang mendampingi lelakinya saat jadi pecundang memang layak diganjar gemerlap bintang.

Apollo Creed adalah contoh minoritas sukses buat Rocky. Apollo adalah warga kulit hitam yang kalau tak beruntung mungkin nasibnya juga tak jauh seperti Rocky. Adegan pertarungan sang bintang versus underdog adalah cerminan dari slogan American Dream. Siapapun layak dapat kesempatan di Amerika.

Dengan kesederhanan motivasi naratif ini, tak heran jika Rocky pada masanya menjadi film terlaris. Dicintai para penonton karena kedekatannya dengan realita sehari-hari. Bahkan dicatat sebagai salah satu sport drama movie terhebat yang pernah dibikin. Film ini pun bisa jadi asupan nutrisi batin bagi para loser yang nasibnya seperti Rocky. Para petarung yang tak kunjung dapat kesempatan.

"I was nobody....It really don't matter if I lose this fight.....Nobody's ever gone the distance with Creed, and if I can go that distance, you see, and that bell rings and I'm still standin', I'm gonna know for the first time in my life, see, that I weren't just another bum from the neighborhood."

Rocky tak muluk-muluk ingin mengalahkan Apollo Creed. Ia hanya hendak bertahan hingga usai pertarungan. Dengan demikian ia hendak menunjukkan bahwa ia bukan "nobody" yang biasa.

Begitulah yang sering ditemui pada banyak juara sejati. Mereka bertarung seringkali bukan semata demi kejuaraan. Melainkan demi menghargai sebuah kesempatan yang sangat langka untuk nobody.

Rocky Balboa adalah seorang petinju kelas rendahan yang cuma berpenghasilan receh. Untuk menambah uang saku ia nyambi sebagai debt collector. Agak kontras dengan bawaan lahiriahnya. Meski badannya gede, Rocky nggak tegaan menghajar orang. Mungkin karena ia juga seorang pecinta binatang.

Bertahun-tahun Rocky tak pernah punya kesempatan untuk naik kelas. Kebahagiaan yang ia punya hanyalah merayu dengan joke-joke garing kepada gebetannya, Adrian seorang perempuan kikuk dan pemalu.

Suatu ketika manajemen Apollo Creed, seorang petinju tenar hendak menjual pertunjukan tinju. Sayangnya banyak petinju hebat sedang tidak tersedia dalam waktu dekat. Tiba-tiba Creed punya ide menjual pertunjukan semacam dare to dream. Ia bakal kasih kesempatan petinju underdog untuk bertarung dengannya. Sungguh show yang bakal menjual. A show about American dream.

Rocky pun mempersiapkan diri dengan semangat nothing to lose. Toh siapa lah dia yang bakal mampu mengalahkan Appollo Creed, sang petinju hebat pemegang gelar bertahan. Rocky bertarung hanya demi satu nama, Adrian, perempuan yang paling ia cintai. Hanya kepadanyalah pertarungan berdarah-darah itu ia persembahkan.

===

Apa yang tak saya suka dari Rocky?

Tak ada.

Musik-musik soundtrack gubahan Bill Conti adalah teman saya saat olahraga. Semangat Rocky berlatih dengan lingkungan seadanya menjadi inspirasi saya. Hanya saja saya nggak meninju bongkahan daging digantung.

Untung saya bukan kritikus. Tak wajib bagi saya "mencari kesalahan" sebuah tontonan. Bahkan saya sudah suka Rocky sebelum meniontonnya utuh. Kok bisa?

It's about character. Kata Mbah Martin Scorsese karakter lah yang paling penting untuk membuat film menarik. Karena karakter lah yang menjadi media pembawa kisah. Lebih mudah jatuh hati pada karakter daripada cerita. Apalagi jika sebuah karakter film bernasib serupa dengan audiense-nya.

Rocky agaknya cukup mewakili para petarung kehidupan yang kalah bukan karena tak cakap, melainkan hanya karena belum diberi kesempatan.

Saya selalu suka film lawas dari era pakde-pakde saya. Rocky adalah sport drama movie yang melejitkan Sylvester Stallone sebagai aktor papan atas Hollywood. Selain makin mengukuhkan peran penting para keturunan Italia di jagad perfilman Amerika. Entah lah apa yang akan terjadi pada Sylvester "Sly" Stallone andai naskah bikinannya tak diterima produser. Karena ia sebelumnya cuma beruntung main di film porno. Body dempal muka eksotis. Mana orang percaya dia bisa main film beneran?

Rocky, film yang menyabet piala Oscar ini sebenarnya lebih membuktikan bahwa Sly sebenarnya merupakan penulis cerita yang bagus. Hal itu juga terlihat di sekuel pertama film Rambo: The First Blood. Sayangnya industri agaknya lebih demen menjual otot Si Sly daripada memberinya kesempatan akting yang serius. Makanya sekuel-sekuel film tersebut dibuat dengan semangat serupa sinetron berseri. Ngejual karakter yang udah terbukti laris. But that's not problem.

Rocky adalah petarung yang kuat bukan karena program latihannya. Ia menjadi kuat karena tempaan kehidupan. Ia adalah representasi imigran yang pilihan kerjaannya hanyalah sebagai kerah biru. Apollo Creed sang juara pun bilang padanya, "Orang Italia itu, kalo kagak bisa berantem paling enggak bisa jadi tukang masak lah."

Hidup hanya dengan bertinju di event receh, sehari-hari musti nagih utang sama orang-orang bandel membuat Rocky musti tabah dengan apartemennya yang lebih mirip penjara. Apartemen itu yang membuatnya tak percaya diri setiap orang-orang menolaknya. Adrian, saat pertama kenal Rocky pun enggan untuk berlama-lama. Maka yang dirasakan Rocky hanyalah... "Kamu nggak suka rumahku kan?"

Hanya Adrian yang bisa menghiasai kemuraman hidup Rocky. Setidaknya hanya Adrian yang bisa membaca betapa untuk ukuran tukang tagih utang, Rocky terlalu berhati penyayang. Maka wajar saja jika ia mempersembahkan pertarungannya demi perempuan ini. Perempuan yang mendampingi lelakinya saat jadi pecundang memang layak diganjar gemerlap bintang.

Apollo Creed adalah contoh minoritas sukses buat Rocky. Apollo adalah warga kulit hitam yang kalau tak beruntung mungkin nasibnya juga tak jauh seperti Rocky. Adegan pertarungan sang bintang versus underdog adalah cerminan dari slogan American Dream. Siapapun layak dapat kesempatan di Amerika.

Dengan kesederhanan motivasi naratif ini, tak heran jika Rocky pada masanya menjadi film terlaris. Dicintai para penonton karena kedekatannya dengan realita sehari-hari. Bahkan dicatat sebagai salah satu sport drama movie terhebat yang pernah dibikin. Film ini pun bisa jadi asupan nutrisi batin bagi para loser yang nasibnya seperti Rocky. Para petarung yang tak kunjung dapat kesempatan.

"I was nobody....It really don't matter if I lose this fight.....Nobody's ever gone the distance with Creed, and if I can go that distance, you see, and that bell rings and I'm still standin', I'm gonna know for the first time in my life, see, that I weren't just another bum from the neighborhood."

Rocky tak muluk-muluk ingin mengalahkan Apollo Creed. Ia hanya hendak bertahan hingga usai pertarungan. Dengan demikian ia hendak menunjukkan bahwa ia bukan "nobody" yang biasa.

Begitulah yang sering ditemui pada banyak juara sejati. Mereka bertarung seringkali bukan semata demi kejuaraan. Melainkan demi menghargai sebuah kesempatan yang sangat langka untuk nobody.

Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA