25 TAHUN JURASSIC PARK (1993 - 2018)

Sebuah perusahaan menghidupkan ulang dinosaurus dengan cara kloning. DNAnya didapat dari darah dinosaurus yang disedot nyamuk yang kemudian terawetkan dalam fosil amber. Sebagai sebuah novel saya pikir bukan hal yang luar biasa. Ada banyak novel hebat dengan imajinasi hebat. Tulisan adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Seorang penulis bebas menyapukan kuas imajinasinya karena pembaca pun bakal sama bebasnya berenang di dalamnya. Namun ketika kita bicara film, sebuah media yang mendiktekan audio visual sebagai wahana bercerita, urusannya tak gampang lagi.


Dinosaurus adalah hewan yang paling indah di muka bumi. Karena selain ukuran gigantiknya (manusia suka ama yang gigantic), juga karena lebih dari separuh pengetahuan kita tentangnya adalah imajinasi. Hanya sedikit dinosaurus yang ditemukan relatif utuh tulangnya. Di era Jurassic Park ditulis, belum ada fosil dinosaurus ditemukan beserta bulu atau cetakan kulit lengkapnya. Belum juga diketahui (atau diduga) bahwa Spinosaurus berenang seperti buaya dan berjalan dengan keempat kakinya.

Sampai tahun 1993, imajinasi kita soal dinosaurus hanya sampai di film Land of The Lost atau bahkan Carnosaurus, sebuah film kelas B yang lebih mirip Chucky versi dinosaurus. Kita membayangkan Tyrannosaurus berjalan dengan bokong ngesot, berbodi tambun dan lamban.

===

Tahun 1993, seorang sutradara visioner memutuskan melatih ulang para animator stop motion tradisional demi mewadahi teknologi terbaru Computer Graphic Imagery (CGI). Bahkan sudah ada CGI pun sang sutradara ini masih mau repot-repotnya membikin versi animatroniknya yang berskala satu banding satu.

Adalah Stan Winston yang berada di balik efek khusus film besar Hollywood. Tak cuma robot Terminator dan Robocop ia tangani. Ia juga piawai menghidupkan monster yang samasekali tak mirip terbuat dari lateks. Ia menerjemahkan visi sang sutradara sedetail-detailnya. Terlibatnya dia dengan Jurassic Park adalah keniscayaan. Gak boleh enggak.

Dengan arahan visi sutradara, beberapa jenis dinosaurus direka ulang sangat berbeda dari yang selama ini diimajinasikan orang. Seketika orang lupa soal dinosaurus yang pernah mereka tonton di TV atau film-film sebelumnya. This is something really different.


T-Rex (Tyrannosaurus Rex) yang sebelumnya cuma dikenal sama anak-anak penggemar dinosaurus, mendadak jadi selebriti. Semua orang tahu T-Rex. Namun mungkin mereka tak menyangka bahwa T-Rex yang berjalan dengan ekor terangkat dan mampu mengejar jeep baru dimulai sejak Jurassic Park.

Velociraptor, jenis dinosaurus yang sebelumnya tak terkenal, dibikin lebih lebay dari ukuran aslinya. Lebih serem dan ganas. Dilophosaur, yang sama tak terkenalnya dengan Velociraptor dibikin punya kipas di kepala dan bisa menyemburkan racun.

Orang tak protes karena kadung terpana. Suspension of disbelief at it's best cinematic presentation. Maka layaklah sang sutradara menangguk pujian seluruh dunia ketika film ini mampu membuat jutaan anak demam sama dinosaurus dan minat pada palaeologi meningkat.

Tak sopan menyebut Jurassic Park tanpa menyanjung John Williams. Lewat tangan dinginnya lah simfoni orkestra membuat Jurassic Park begitu megah. Tak bisa tidak, setiap saya lihat logo Jurassic Park tanpa terngiang musik temanya di kepala. Kalo main ke taman safari, atau lewat perbukitan, otomatis benak saya memutar ulang musik itu. Jurassic Park tak paripurna tanpa musik John Williams. Lagipula John adalah komposer yang kolaborasinya paling awet sama si sutradara ini.

Steven Spielberg, sang sutradara, tak pernah ada filmmaker sesukses ini dalam rentang karier begitu panjangnya. 40 tahun lebih!

Saya adalah salah satu dari jutaan ABG yang juga ikut demam dinosaurus. Bahkan bermimpi suatu saat ingin seperti Spielberg. Jurassic Park adalah film yang menginspirasi saya untuk bikin film. Jarang ada film yang demikian.

Saya pribadi menyukai ketiga serinya. Banyak yang menganggap bahwa film yang ketiga adalah sampah. Namun saya tetap saja menyukainya. Ketiga seri Jurassic Park awal tetap memberikan pengalaman yang berbeda.

Sayangnya pengalaman itu gagal saya peroleh di Jurassic World. Taman Jurassic yang modern dibikin serupa Sea World. Namun tak ada kemegahan yang saya rasakan sebagaimana saat helikopter Ingen memasuki kawasan Isla Nubar di Jurassic Park 1993. Kemunculan Indominus Rex pun garing-garing saja tak seperti saat saya pertamakali melihat Brachiosaurus. Lagipula entah kenapa musti memunculkan monster yang samasekali bukan dinosaurus itu. Seakan dinosaurus yang paling seram sudah mentok di T-Rex dan Velociraptor.

Lagi-lagi cuman Jurassic Park 1993 yang sudah menghabiskan semua greget soal dinosaurus. Jangankan pada sekuel-sekuelnya, sampai saat ini pun saya rasa belum ada film dinosaurus yang mampu menandingi versi 1993.

Apa ada film dinosaurus baru yang bisa sesukses Jurassic Park?

Atau kita turunin standar deh.... minimal yang bisa box office. Ada?

No!

===

Jurassic Park bukan sekadar film soal "kadal raksasa" (dinosaurus bukan reptil loh) yang hendak memangsa manusia. Ini adalah film yang sebenarnya punya inti cerita mendalam.

"This isn't some species that was obliterated by deforestation, or the building of a dam. Dinosaurs had their shot, and nature selected them for extinction."

Demikian kata Ian Malcolm yang diperankan Jeff Goldblum. Ian adalah seorang matematikawan. Menghidupkan binatang yang ditakdirkan alam punah milyaran tahun silam, tentunya akan membawa dampak jika dihadirkan pada masa kini. Ian Malcolm dipekerjakan untuk mengkalkulasikannya.

Kecemasan yang beralasan. Dinosaurus bagaimanapun hidup di era yang begitu terpaut jauh dari peradaban. Tentunya ada lasan tertentu kenapa mereka tak bertahan (dengan bentuknya di masa itu) hingga sekarang.

"The world has just changed so radically, and we're all running to catch up. I don't want to jump to any conclusions, but look... Dinosaurs and man, two species separated by 65 million years of evolution have just been suddenly thrown back into the mix together. How can we possibly have the slightest idea what to expect?"

Itu adalah tanggapan dari Dr. Allan Grant (diperankan Sam Neill). Kita tak asing dengan yang demikian. Ada sejumlah orang yang ingin membawa sesuatu yang lebih cocok hidup di puluhan abad silam, untuk diterapkan pada kompleksitas jaman ini. Akan ada benturan-benturan. Jaman itu progresif, bergerak seiring dengan kemajuan taraf berkebudayaan manusia. Membangunkan sesuatu yang meskipun pernah jaya di masa lalu, tentunya akan mengakibatkan sesuatu ini menabrak banyak hal.

Masih dari Dr. Grant, "Some of the worst things imaginable have been done with the best intentions."

Jadi rupanya, Jurassic Park punya kritik yang lebih mendalam. Ini bukan film yang sekadar bicara penyalahgunaan sains atau kekacauan ekologis, melainkan kayaknya sih....juga soal ideologi. Kalo anda bisa terima lho ya hehehe

Akan tetapi, sesuatu yang sudah telanjur hidup, akan terus berusaha bertahan hidup. Masih kata Ian Malcolm, "Life will find a way..."

Makanya hati-hati jika mau membangkitkan apa yang seharusnya sudah dipunahkan alam atau sejarah. Karena begitu sudah hidup, kita akan menanggung ketimpangan sistem. Dia akan mencari jalan meski sudah dibendung. Kayak kamu yang jatuh cinta sampe mati namun tetep dihalangi. Ra minggir ya tabrak to ya?

"Life.... will find a way."

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA