REVIEW DANGAL (Nitesh Tiwari, 2016)

Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat kampung yang gagal mewujudkan ambisi jadi juara nasional berharap sekali punya anak laki-laki. Ia ingin mewujudkan ambisi tersebut lewat anaknya. Malangnya 4 kali punya anak ndilalah cewek semua. Mahavir Singh pun putus asa.


Suatu hari dua anak tertuanya, Geeta dan Babita menghajar dua cowok yang mengejeknya hingga babak belur. Saat itulah Mahavir Singh merasa bahwa darah pegulat mengalir di kedua putrinya. Akibatnya mimpi untuk mewujudkan juara gulat nasional bangkit lagi. Esoknya Geeta dan Babita dipaksa menjalani latian berat agar jadi juara gulat. Tak ada ampun meski buat anak perempuan. Keduanya dilatih dengan porsi laki-laki.

Satu per satu rintangan ditembus. Tak mudah buat dua anak cewek ingin jadi atlit gulat. Sebagai bapak, Mahavir Singh pun mengorbankan banyak hal agar dua putrinya itu menjadi juara. Dia dibantu keponakannya yang mirip Martin Scorsese muda terus mendukung Geeta dan Babita mulai menjadi juara kampung hingga merangkak jadi juara nasional.

Cerita lalu mulai fokus ke Geeta. Mulai terjadi gap antara Geeta dan bapaknya. Geeta kini harus direlakan untuk berlatih di akademi. Apa yang dulu dianggap hebat di kampung, menjadi kuno di akademi olahraga. Apalagi kini Geeta yang sudah mulai passionated pada gulat diproyeksikan untuk jadi juara dunia. Maka bapak dan anak ini pun musti menghadapi dinamika emosional yang turun naik.

===

Dangal adalah racikan sinematik yang padat rasa. Di awal kisah kita akan merasa betapa konyol Mahavir Singh Phogat memaksa anaknya menebus kegagalan pribadinya. Ada berapa banyak bapak semacam ini? Gagal mencapai ambisi pribadi lalu mengorbankan anaknya. Tapi bukan tanpa alasan kuat Mahavir Singh melakukannya. Ini pula yang membuat kisah Dangal begitu berbobot. Tak cuma drama soal semangat laga namun juga kritik sosial untuk masyarakat rural India. Lebih baik tak saya ceritakan kenapa akhirnya Geeta dan Babita yang awalnya terpaksa (sampai-sampai ia menyabotase program latihan bikinan bapaknya), kemudian hari begitu bersemangat jadi pegulat. Karena ini adalah salah satu tanjakan dramatik yang akan membuat anda haru.

Bukan cuma totalitas para pelakonnya yang bikin saya makin terpesona. Apalagi menyaksikan bagaimana Aamir Khan memerankan karakter yang melalui 2 masa: Mahavir Singh Phogat yang berusia 20 tahunan dan six pack dan versi masa tuanya yang tambun di usia 60 tahunan. Namun yang bikin saya terpesona justru lebih dari itu. Film ini punya kedalaman yang mengaduk-aduk perasaan. Anda bisa ketawa dan menangis secara bergantian. Ini lebih dari yang saya antisipasi.

Simak bagaimana seorang bapak yang begitu berambisi agar anaknya juara, pada suatu saat akan merasa cemburu karena sang anak pintar melebihi dirinya. Kadang ia kesepian ditinggal anak-anaknya yang mengejar impian jadi juara. Dangal begitu rapih menata tanjakan-tanjakan dramatik. Dramanya juga begitu emosional hingga tak terasa air mata meleleh. Apalagi saya tuh cengeng banget kalo sebuah kisah bertutur soal keluarga. Keparatnya tak lama kemudian kita bisa ketawa. Ketawa usai disambung dengan ketegamgan pertandingan. Lalu haru lagi ketika sang tokoh meraih kemenangan.

Tak ada tempelan-tempelan yang tak perlu di film ini. Nggak ada drama cinta-cintaan dua sejoli, nggak ada karakter konyol khas Bollywood yang cuman jadi comic relief dan bahkan gersang dari adegan jejogedan. Dangal bertutur sangat efektif, beralur cepat namun tak terburu-buru.

Pujian pun saya ucapkan pada music score yang tidak terlalu tipikal. Nggak india banget namun juga gak lepas dari aroma Bollywood yang wajib tetabuhan. Saya pikir para penonton film non Bollywwod pun akan cocok dengan racikan ini.

Dangal adalah film drama olahraga yang padat. Baik aspek olahraga maupun dramanya lebur jadi satu kesatuan. Ini bukan drama yang sekadar berlatar sport. Namun juga bukan sekadar film yang melulu menampilkan sport tanpa bicara soal karakternya. Tak Cuma dramanya yang mendalam, detail soal olahraga gulat pun terekspose dengan baik.

India tak asing dengan gulat. Mereka punya tradisi olahraga ini sejak lama. Secara tradisional, gulat disebut dengan Pehlwani sedangkan yang lebih standar disebut dengan Kushti. Pehlwani dipertandingkan di kampung dan dilakukan di atas lumpur kering. Pesertanya sebagian besar pria. Maka tak mudah bagi Geeta dan Babita untuk terlibat ke dalamnya. Penguasaan atas teknik tradisional ini kelak mempermudah Geeta dan Babita untuk beradaptasi ke olahraga gulat standar olimpiade (Olympic Wrestling).

Soal gulat ini, Dangal tak main-main dengan koreografi. Bagi anda yang paham olahraga gulat dan grappling tentunya akan tahu bahwa teknik yang dipertontonkan nggak asal-asalan. Nggak ada fast cut atau extreme shot yang mengaburkan teknik. Teknik dilakukan detail, dalam wide shot dan nyaris nampak realistis. Fatima Sana Shaikh cukup meyakinkan memerankan Geeta saat dewasa. Gesture tubuhnya tidak janggal. Tubuhnya yang padat atletis cocok sekali bermanuver.

Kecemerlangan Dangal membuat saya makin ngefans saja sama Aamir Khan. Meski dia bukan sang sutradara, tapi sentuhan tangan dinginnya sebagai produser sudah kayak jadi jaminan mutu. Film Aamir Khan mana sih yang gagal akhir-akhir ini? Dia benar-benar filmmaker yang berdedikasi. Melihat bagaimana ia mengolah tubuhnya nyaris bikin saya membandingkannya dengan Christian Bale.

Film ini saya rekomendasikan bagi para penyuka sport drama terlebih yang suka grappling arts macam saya hehehe. Oh iya jangan lupa siapkan tisu ya kalau nontonnya sendirian.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA