Review A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA