Review RAGING BULL (Martin Scorsese, 1980)

Jake LaMotta adalah seorang petinju dengan kepribadian bermasalah. Ia seorang pemarah, pencemburu yang kelewatan dan punya kecurigaan yang berlebihan. Meski karir bertinjunya cukup baik hingga bisa hidup layak, ia tak bisa menikmatinya dengan tenang. Setelah menceraikan istri tuanya demi gadis muda yang dikenalkan saudaranya kehidupannya tambah tidak tertata.


Melihat istrinya bertegursapa dengan lelaki lain bisa membuatnya naik pitam. Akibatnya ia sering melampiaskannya pada lawan tinjunya. Ia akan memukuli lawan bertubi-tubi seolah memukuli peselingkuh istrinya. Di atas ring Jake adalah juara namun di meja keluarga ia seorang pengacau. Tak cukup baginya amarah tertumpah di atas ring.

Karena tabiat itulah, kehidupan yang awalnya manis, karena Vikki sang istri masih muda dan cantik, berubah jadi ajang pertengkaran begitu usia perkawinan bertambah. Joey, saudara Jake pun seringkali kuwalahan menghadapi ketakstabilan mental Jake. Suatu ketika bahkan Joey dituduh Jake telah serong dengan Vikki.

Ketika karir Jake meredup, semua meninggalkannya. Joey maupun Vikki. Tak ada yang betah dengan kelakuannya. Jake yang bangkrut lalu beralih kerjaan sebagai standup comedian di klub malam.

===

Bagi saya, menonton karya Scorsese adalah menonton kesemrawutan kehidupan karakter-karakter kelam. Selain itu ciri khasnya adalah latar malam yang berisik sekaligus hampa. Scorsese bagi saya adalah masternya kalau bertutur soal kesuraman hidup.

Memandang sosok Jake LaMotta pada Robert De Niro, kita langsung merasa bahwa si petinju ini tak cuma sakit di atas ring namun juga dalam keseharian. Ia tak cukup bahagia dengan kemenangan-kemenangan. Yang terjadi malahan penyakitnya sering kambuh. Penyakit curiga berlebihan, sukar mengendalikan emosi dan pencemburu.

Matanya selalu awas saat Vikki beredar dari meja ke meja meski sekadar menyapa kenalan. Ia akan menghujaninya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menuduh. Tak jarang berakhir dengan pukulan. Kepada Joey pun juga begitu. Meski saling sayang sebagai kakak adik tak jarang keduanya nyaris baku pukul. Semua selalu Jake yang memulai. Apalagi kalau bukan dengan tuduhan-tuduhan atau kecurigaannya.

Tak seperti Rocky yang bercerita soal semangat juang, Raging Bull adalah cerita tentang penderitaan. Penderitaan karena gangguan mental. Jake LaMotta bukan seorang cendekia. Andai tak punya bakat baku pukul mungkin saja ia berakhir di jalanan sebagai bajingan. Intelektualitas yang tersisa darinya hanyalah sedikit kepandaian melucu di atas panggung. Melucu adalah hal yang mungkin bisa melunakkan keliarannya. Itupun baru ia jalani di saat tua.

Robert De Niro, saya rasa tak ada orang yang paling pantas untuk membawakan Jake selain dia. Ia bukan lagi penyendiri aneh si Travis Bickle dari Taxi Driver. Saya tak membicarakan soal prostetik makeup yang membuat hidungnya tampak lebih besar. Tapi pada bagaimana karakter biang rusuh Si Jake LaMotta nampak begitu menyatu bersemayam dalam pemeranannya.

Pembawaan dan penampakan si Jake muda dan tua pun ia bedakan dengan mulus. Jake muda yang liat dan gahar jadi Jake tua yang sumpek dan tambun. Sedikit aktor yang mampu bertransformasi begini. Mungkin memang karena Robert De Niro adalah seorang method actor yang tangguh. Kalau Robert diganjar piala Oscar atas perannya sebagai Jake LaMOtta itu sudah sebuah kepatutan.

Martin Scorsese pernah bilang bahwa ia lebih peduli karakter daripada plot. Itulah yang saya lihat tertuang dalam Raging Bull. Tak banyak tegangan naratif di film ini. Yang saya rasakan malah naik turunnya emosi, menyaksikan bagaimana Jake LaMotta yang jagoan di ring maupun di rumahtangga pada akhirnya juga menangis pilu di penjara.

Adegan Jake menangis meluapkan amarah sambil memukul tembok penjara itu adalah momen paling mengharukan menurut saya. Scorsese menggali cukup dalam, bagaimana bahwa lelaki sekuat apapun bisa memiliki sisi rapuh.

Kedalaman emosional sebuah film tentu tak cukup jika tanpa sinematografi yang kuat. Kemuraman nasib Jake direpresentasikan dengan tata gambar apik ala film klasik hitam putih. Begitu tegas, kuat dan puitis sekaligus. Scorsese lewat mata sang sinematografer Machael Chapman menekankan kesenduan lewat slow motion dan kefrustasian lewat close up shot. Jangan lupa, Chapman adalah orang yang juga menggarapa Taxi Driver sebelumnya bareng Scorsese.

Gambar-gambar olahan Chapman selalu sederhana namun efektif. Ia mengutamakan wide shot dengan blocking aktor yang efektif. Jarang saya lihat extreme close up. Dari sedikit yang ada itu, yang paling mengesankan saya adalah close up tetesan darah dari tali ring tinju. Sangat puitik, noir dan sangat sinematik.

Terakhir, soal musik. Kesuraman yang dibangun Scorsese dibungkus rapi dengan musik-musik yang ia pilih secara jeli. Karena Raging Bull berlatar tahun 40-60an tentu perlu musik yang pas dengan eranya. Sedangkan untuk jiwa keseluruhan Scorsese memilih musik yang timeless. Betapa tepat ia memilih sebuah komposisi dari Pietro Mascagni, "Intermezzo from Cavalleria rusticana". Mungkin gara-gara musik ini saya jadi terngiang-ngiang adegan-adegan tinju di dalamnya.

Raging Bull, bukan sport drama movie sekadarnya saja. Ia lebih merupakan film psikologi bagi saya.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA