REVIEW TAMPOPO (Juzo Itami, 1985)

Tampopo adalah seorang single mom yang memiliki kedai ramen. Karena masakannya tak terlalu enak kedainya sepi. Suatu ketika Goro dan Gun, dua lelaki supir truk gede terdampar di kedainya gara-gara menolong anak Tampopo yang dibully. Goro memberi beberapa saran pada Tampopo soal cara bikin ramen yang benar. Hubungan keduanya berlanjut dengan petualangan menciptakan resep ramen terenak. Mereka berburu resep dengan mencurinya dari kedai-kedai tetangga di kota itu.


Tampopo lalu mendapat bantuan. Seorang profesor tua gelandangan bergabung. Profesor ini seorang kritikus makanan yang mumpuni. Juga ada seorang koki yang bergabung. Koki ini sebelumnya bekerja sebagai koki pribadi seorang konglomerat tua. Karena si konglomerat ditolong Tampopo CS saat tersedak di rumah makan, ia menghadiahkan si koki ke Tampopo.

Seiring dengan kisah Tampopo dan kawan-kawan, ada beberapa karakter yang menjalani kisah mereka. Ada seorang mafia yang mengeksplorasi seksualitas dengan makanan, ada seorang karyawan yang pamer pengetahuan kuliner dengan memesan masakan Perancis saat bosnya menjamu kolega, ada seorang nenek yang hobi memencet-mencet makanan di minimart, ada seorang istri yang memasak nasi goreng beberapa menit sebelum mati dan lain-lain.

===

Secara umum film yang mudah diikuti adalah yang tertib bertutur, emphasis pada karakter dan fokus pada plot. Jika ada film yang nyeleweng dari keumuman ini, bisa jadi memang naskahnya payah atau memang sengaja nyentrik. Nyentrik sendiri tak selalu bagus menurut saya. Tampopo, dengan absurditas plot dan karakternya, untungnya masuk film yang saya bilang menyenangkan.

Film ini absurd karena tak fokus pada karakter utamanya. Namun malah menyenangkan karena saya terhibur dengan kisah-kisah penyertanya yang lebih absurd. Jangan berharap bahwa karakter-karakter di luar lingkaran Tampopo itu punya benang merah dengan kisah utama sebagaimana Amores Perros atau Babel-nya Alejandro González Iñárritu. Kalaupun ada kesamaan semuanya adalah soal makanan. masing-masing karakter selalu berhubungan dengan makanan. Selain itu, semuanya berjalan semaunya sendiri. Karakter muncul, berlakon dan mati tanpa alasan naratif.


Film yang dilabeli sebagai "ramen western" ini tak bertendensi apapun selain mengeksplorasi makanan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "foodporn" movie. Adegan seremoni makan ramen yang dipraktekkan seoran Sensei kepada Gun di awal-awal film adalah eksploitasi makanan yang paling mengesankan saya. Jadi ini semacam upacara minum teh, namun diterapkan pada ramen. Jika anda ingin menikmati ramen dengan "tuma'ninah" (full concentration), maka bisa dicoba ajaran Sensei tersebut.

Adegan eksplorasi seksual dengan makanan, alih-alih jadi adegan yang "mingin-mingini" bagi saya malah menjijikkan dan bisa meruntuhkan selera makan. Mungkin cocok bagi penyuka seksualitas yang jorok. Untungnya adegan tersebut tak terlalu banyak. Proses Tampopo mencari resep ramen unggulan tetap menjadi bagian yang paling menghibur. Tapi upacara makan ramen tetap yang nomor satu.


Film ini tak cocok bagi anda yang masih menganggap ketertiban alur adalah segala-galanya. Meskipun begitu, anda juga tak perlu jadi pakar untuk menikmatinya. Jika anda pecinta ramen, atau indomi goreng kuah kayak saya, mungkin cukup bisa menikmati film ini. Lupakan soal cerita, nikmati saja sajiannya. Adegan-adegan itu absurd tapi menggelikan, menyenangkan dan berkesan. Ketika anda legowo soal keharusan menganalisa, mungkin secara tak sengaja anda malah dapat intinya.

Ini kesimpulan saya pribadi. Tampopo adalah soal passion terhadap makanan. Siapapun, entah itu profesor, konglomerat, mafia, pengemis dll. kalau sudah soal makan, tak ada selera tinggi atau rendah. Yang ada adalah mengeksplorasi atau tidak. Kalau anda adalah seorang food explorer yang cinema lover, saya pikir film ini layak anda cicipi.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA