Review THE WOLF OF WALL STREET (Martin Scorsese, 2013)

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA