REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Baca

REVIEW SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan, Cinta (Hanung Bramantyo & X. Jo, 2018)

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Baca

SINEMA DAN AKAR KEKERASAN

LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA