REVIEW SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan, Cinta (Hanung Bramantyo & X. Jo, 2018)

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

+ comments + 1 comments

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA