REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA