SINEMA DAN AKAR KEKERASAN

LATAR SEJARAH RINGKAS Hollywood pusatnya perfilman komersil dunia, pada tahun 1920an dilanda beberapa skandal dan kasus. Antara lain yang mengemuka adalah pembunuhan William Desmond Taylor dan dugaan perkosaan Virginia Rappe oleh Roscoe "Fatty" Arbuckle, aktor terkenal saat itu. Kasus ini menjadi meluas dan dikecam banyak tokoh penegak moralitas dan tokoh politik. Mereka mempertanyakan moralitas orang-orang film. Akibat tekanan politik pada industri perfilman, pada tahun 1921 legislator dari 37 negara bagian Amerika mengajukan hampir seratusan pasal RUU soal movie censorship. Tekanan demi tekanan publik memacu internal industri untuk meregulasi sistem sensor mereka sendiri. Pada tahun 1929, Martin Quigley dan Daniel A. Lord, dua orang agamawan ikut mengajukan rancangan point-point sensor kepada studio film. Hasilnya, pada kurun 1930 hingga 1968, di asosiasi perfilman Amerika (Motion Picture Association of America) mencanangkan apa yang disebut sebagai Hays Code. Ini adalah sejumlah aturan mengenai bagaimana agar film ditampilkan. Jadi dari sinilah film tidak boleh menampilkan kekerasan, ketelanjangan, bahasa kasar dll. Code tersebut berakar dari nilai-nilai moral era Victorian di mana yang musti ditampilkan di muka publik harusah hal-hal yang sopan atau baik, dan melarang hal-hal yang tak pantas atau buruk. Dua hal yang paling banyak disoroti adalah sex dan kekerasan. Sedangkan yang paling dipentingkan untuk perlindungan adalah anak-anak. Hays Code berakhir pada 1968 digantikan oleh rating system seperti yang kita kenal saat ini. OPINI Perkembangan jaman ikut mempengaruhi bagaimana masyarakat film memandang soal sensor film. Moralitas Victorian dianggap sudah tak relevan lagi bagi kebebasan berekspresi . Namun tentu saja pandangan masyarakat film akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat konvensional dan juga pandangan psikologi. Dalam hal ini sistem rating dari MPAA mencoba menengahi. Rating dibagi ke dalam kekhususan penonton dan alih-alih menggantungkan kesalahan pada para filmmaker, mereka meminta partisipasi masyarakat dalam memutuskan tontonan secara dewasa. Makanya ada penggolongan mana film-film yang bisa ditonton semua kalangan dan mana yang tidak. Sementara itu kekerasan dalam film sudah terlanjur dicap sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat maupun agresivitas individu. Dengan kata yang mudah, muncul asumsi bahwa nonton film kekerasan membuat anda menjadi pelaku kekerasan.
Ada beberapa hal yang perlu kita pilah dengan cermat dengan memperhatikan berbagai aspek dalam perfilman, psikologi individu dan nilai masyarakat. Sejarah kekerasan lebih tua dari pada fiksi. Makanya fiksi adalah refleksi dari kondisi masyarakat yang ada. Karena itu hanyalah refleksi maka tak ada relevansinya menuntut moralitas dari sebuah refleksi. Keberadaan kekerasan dalam karya fiksi sudah sangat tua. Dalam Mahabharata, tokoh favorit saya Bisma mati dengan hunjaman puluhan anak panah yang kemudian menjadi “ranjang”nya. Begitu kerasnya adegan itu membuat saya mikir, “Duh Gusti kenapa ia musti mati dengan cara begitu, kenapa nggak matinya yang enak kayak gagal napas saat tidur gitu…” Lalu saat Siswo Budoyo manggung di kampung saya, Nagasasra Sabuk Inten adalah lakon terbrutal yang pernah saya tahu. Aryo Penangsang yang ususnya terburai, melilitkannya pada gagang keris untuk bertarung hingga mati. Itu berdasarkan kejadian sejarah pada era kesultanan di Jawa. Karena ketoprak adalah sajian teater untuk segala umur maka rata-rata kita tak akan menontonnya secara hiper realistik. Berbeda dengan film. Filmmaker ingin menyajikan dunia yang believable. Perkembangan teknologi spesial dan visual efek, membuat tampilan adegan makin realistik dan sadistik. Sudah barang tentu dalam film Aryo Penangsang, kita tak menemukan adegan pertarungan bergaya ketoprak panggung. Sementara ada yang menggugat tayangan kekerasan semacam itu, terjadi dilema. Jika film ditayangkan dengan gaya ketoprakan maka diprotes, “Ah gelut kok gitu? Nggak niat nusuknya!”. Namun jika ditampilkan secara realistik juga diprotes, “Idih terlalu sadis ah! Gak perlu gitu kaleee…”. Apapun yang tersajikan, penonton suka rewel. Ada lagi pertanyaan lanjutan. Apakah para penonton nantinya akan terpicu “meniru” kekerasan yang ada di layar film? Anehnya, kegusaran itu selalu berpusar jika yang nonton dicurigai berpotensi sebagai PELAKU, bukan sebagai KORBAN dan simpati padanya. Saya demen nonton genre laga penuh kekerasan macam Spaghetti Western atau Modern Martial Art Combat macam The Raid. Tak sekalipun saya ingin menjadi Mad Dog yang brutal. Saya malah was-was menjadi korban. Dari situ muncul nilai kemanusiaan prbadi saya, bahwa kekerasan itu buruk tapi tidak ketika hanya dalam film. Saya tak perlu takut bahwa saya akan menjadi pembunuh sadis, sekalipun saya juga berlatih beladiri dan punya koleksi senjata. Karena nilai yang saya anut mencegahnya. Bahkan dari koleksi kerambit saya, senjata bawaan saya malah sebuah baton karena daya bunuhnya rendah. Saat pernah nyaris dikeroyok pun tak terpikir dari saya untuk “menerapkan” beberapa teknik mematikan. Selama bisa dihandle secara verbal, maka damai jauh lebih baik. Semakin ke sini saya makin mikir betapa perlu memilah antara banyak aspek. Kekerasan beda dengan kebencian, nilai dalam masyarakat berbeda dengan nilai dalam karya fiksi, dll. Kekerasan dalam fiksi saya anggap perlu (bagi yang suka) sebagai katarsis naluri hasrat hewani manusia. Fiksi memberi ruang imajinasi agar tidak perlu melakukannya di kenyataan. Atau untuk mengembalikan naluri anda kepada nilai kemanusiaan. Saat nonton kekerasan dalam film, anda berharap itu tak terjadi di dunia nyata. Maka moralitas anda beres-beres saja. Kalau sudah punya bakat psikopat ya lain lagi. Psikopatologi setahu saya bukan semata tayangan media. Saya merasa bahwa dunia sekitar kita ini penuh kemunafikan dan kekerasan terselubung. Antara yang berkuasa dengan yang jelata, mayoritas dengan minoritas. Agama jadi komoditas politik, jabatan jadi privilege untuk melegitimasi kekerasan. Banyak yang tak bisa berbuat apa-apa selain misuh. Bagi kami insan perfilman, tak ada misuh yang elok selain menumpahkannya dalam karya. Karya memberikan kelapangan buat benak yang muak. Dengan karya kami bisa mencurahkan gagasan tanpa musti koar-koar di jalanan. Yang nonton juga bisa belajar bagaimana mengelola agar energi disalurkan secara postif. Kenapa masih ada yang salah paham dengan tontonan kekerasan? Bagi saya itulah kemiskinan literasi sinema. Sama dengan pembacaan teks, “membaca” sinema juga perlu perhatian. Spaghetti Western bukan melulu soal koboi main tembak, The Raid bukan melulu soal kerambit buat menggorok. Gara-gara tak punya wawasan literasi, berjuta generasi menganggap bahwa film G30S PKI karya Arifin C. Noer adalah realita sejarah. Sebagian (kecil) yang melek kemudian mau belajar sejarah dan melek sinema. Jika kita refleksikan seberapa keras realita dan fiksi. Jauh dari eranya Ario Penangsang, pada tahun 1965, terjadi pembantaian besar-besaran antara kaum nasionalis agamis versus pro komunis. Keduanya sama-sama bangsa Indonesia. Tak seluruh korbannya didata namun kesaksian mata bisa memberikan gambaran seberapa keras tragedi itu. Era rezim berikutnya, kita pun masih mendengar kerusuhan etnik yang berakibat pada terbantainya ratusan jiwa. Dari keseluruhan pelaku, seberapa banyak yang terpicu gara-gara nonton film? Dari semua penyuka genre film keras, seberapa banyak yang menjadi pelaku kekerasan? Anwar Congo, pelaku pembantaian yang muncul di film The Act of Killing mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sinema. Tapi sebelum itu dia sudah hidup di lingkungan preman. Ia menonton film sebagai hiburan dan tanpa musti melek literasi sinema. Lagian apa ngaruhnya buat preman? Ia mungkin hanya mencomoti adegan yang “cool’ untuk nyemangatin kebuasannya yang sudah lebih dulu jadi wataknya. Seberapa banyak player Grand Theft Auto, penonton Tom & Jerry dan film-film Quentin Tarantino yang kemudian mempraktekkannya ke dalam dunia nyata? Memang disayangkan, bahwa orang yang dipukuli balok kayu ternyata tidak gepeng kayak di film kartun melainkan pecah dan muncrat berdarah-darah. REFLEKSI Untuk memahami perilaku seseorang, kita bisa melihat ke dalam pribadinya. Nilai-nilai apakah yang ia pegang, lingkungan apakah yang merasuki alam bawah sadarnya dan sejauh mana kontrolnya berfungsi. Sebut saja para suporter bola yang terlibat kekerasan. Latar psikologis apa yang ada dalam diri mereka. Bisakah kita menilainya secara pars pro toto bahwa kekerasan yang mereka lakukan karena satu faktor, misalnya tontonan dan media? Sungguh sukar dielaborasikan pernyataan bahwa kekerasan disebabkan oleh film, ketika kita tak punya data yang mencakup perilaku para penonton film kekerasan. Suatu ketika Quentin Tarantino ditanya soal glorifikasi kekerasan dalam filmnya. Ia menyatakan bahwa sesungguhnya ia tak suka kekerasan di dunia nyata. Ia menyajikan kekerasan hanya sebatas dalam film, agar orang bisa menikmati tanpa harus menikmatinya di realitas. Pada teman-teman yang satu selera, bahkan ada juga dari para pelaku adegan laga dalam film, tak menyukai kekerasan di dunia nyata. Film adalah dunia tersendiri. Perilaku kita di kenyataan lebih dibentuk oleh nilai-nilai yang kita anut secara hakiki. Bisa dicek pada para pelaku kekerasan di dunia nyata. Seberapa sering mereka terekspos tayangan kekerasan fiktif? Ketika anda paranoid, dan seandainya itu menjadi kolektif (sebagaimana era Hays Code) maka dampaknya adalah kejumudan kesenian. Seni adalah refleksi di mana masyarakat diajak merenungkan kembali progresi mereka. Seni bukanlah kode-kode moral, karena itu tugas agama. Seni adalah ajang mempertanyakan diri. Untuk mempertanyakan diri secara mendalam seringkali batas-batas ditembus. Memaksa kita menjawab dengan lebih dewasa dan rasional. Tapi tentu tidak senaif itu kita menyimpulkan bahwa semua serba boleh untuk ditonton. Psikologi manusia sangat kompleks. Tindakan praktis yang dilakukan adalah regulasi. Bersikap paranoid terhadap apapun tak bisa membantu nilai-nilai moral anda terejawantahkan. Bagi saya pribadi sistem rating sudah sangat tepat. Karena orang tua lah yang bertanggungjawab dalam mendewasakan anak-anaknya. Meski bidang anda saat ini jauh dari perfilman, sekalipun anda gak demen nonton film, jangan lupa bahwa industrinya juga menyumbang pendapatan negara. Secara tak langsung sama hajat hidup anda, industri perfilman juga menarik para pengiklan yang produknya bisa jadi anda pakai. Produk hidup dari pembelian, pembelian meningkat gara-gara iklan, iklan marak karena media banyak ditonton. Dan untuk selera nonton, tak bisa kita menyeragamkannya. Masak orang maunya mie instant anda paksa makan pecel? Sekalipun pecel menurut perut anda lebih sehat karena mengandung serat. Untuk mendukung kualitas berkesenian perlu kebebasan berekspresi bagi para filmmakernya. Dunia ini memang tidak cantik. Tidak semudah itu biaya hidup kita dibayar serta merta cuma dengan jualan jilbab Syar’i atau minyak Habbatussauda. BPJS aja dibantu oleh industri rokok yang oleh para anti-rokok maki setiap hari. Itu baru ngomongin film industri. Bagi kami yang independen, nemu penonton yang loyal aja susah. Kami gak bisa bikin karya yang isinya ceramah. Kami musti bikin terobosan untuk bikin karya menarik. Penonton tak peduli seberapa bermutunya film. Mereka ingin hiburan. Masing-masing punya selera sendiri. Kekerasan dalam film memang bukan untuk semua orang. Tiap orang punya preferensi berbeda sesuai dengan nilai yang dianut. Tidak untuk anak kecil itu jelas. Mereka bukan dalam usia mempertimbangkan. Akan tetapi saya rasa, kita juga tak terlalu kecil untuk menyikapi tontonan dan cermat mendalami aspek kreatif di dalamnya. Ya saya memang miris kenapa kok The Raid masif dikagumi dunia internasional, lha kok malah bukannya Laskar Pelangi? (Laskar Pelangi adalah film bagus...jangan salah. Tapi ia tak masuk amatan selera internasional). Kelas-kelas Pencak Silat jadi laris, industri bertumbuh dan industri film dunia hormat sama Indonesia. Kalau kekerasan di masyarakat? Ah ya gimana… emang sudah watak kan? Hehehe sampai-sampai kata “amok” aja jadi kata serapan Inggris. Tentu saja hampir semua kebudayaan punya sejarah kekerasan. Sebelum anda merasa “aman” karena budaya kita banyak “temennya” mari kita lihat dari sisi peradaban. Tiap bangsa beda-beda pencapaian kedewasaannya. Bagaimana dengan bangsa kita? Ya tinggal bandingkan saja sadisme hari ini dengan jamannya Aryo Penangsang. (GUGUN, filmmaker ndeso)

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA