APAKAH BUDGET GEDE JAMINAN LARISNYA FILM SUPERHERO?

Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Baca

PERFILMAN INDONESIA: ANTARA INDUSTRI, INDEPENDEN DAN NON INDEPENDEN

Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bisokop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bisokop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Baca

MARVEL PERJUANGAN

Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Baca

GREEN BOOK (Peter Farrelly, 2018)

Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Baca

APA JANG KAU TJARI, PALUPI (Asrul Sani, 1969)

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Baca

ONE CUT OF THE DEAD a.k.a KAMERA O TOMERU NA! (Shinichiro Ueda, 2017)

Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA