APA JANG KAU TJARI, PALUPI (Asrul Sani, 1969)

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA