APA ITU CINEMATIC?

Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Baca

PERBEDAAN ESENSIAL VIDEOGRAFI DAN SINEMATOGRAFI

(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
Baca

KULDESAK (1998), LAHIRNYA ERA BARU FILMMAKER INDONESIA

Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA