PENTINGNYA PLATFORM BUAT KREATOR

Di toko buku saya melihat banyak judul yang tak populer dan ragu apakah orang benar-benar membelinya. Tetapi saya yakin tetap ada, karena itu toko buku tempat orang mencari buku-buku apa saja. Yang laris memang buku populer tapi buku non populer juga bisa ditemukan di toko itu.
Dengan adanya suatu tempat untuk memajang, maka orang tak akan repot-repot blusukan mencari penulis di rumahnya, cukup ke toko buku. Filmmaker juga gak repot-repot bawa flashdisk jualan film dari pintu ke pintu. Mau nonton ya ke bioskop atau streaming di internet secara legal.
Begitulah konsep tentang "lapak dagangan" atau platform.


Suatu ketika saya unggah video main-main saya (yang bikin mie itu) di Facebook. Reaksi orang adem-adem saja. Follower saya cuma 2000an di akun pribadi, yang share cuma satu atau dua orang saja. Lalu saya coba unggah di Page saya, eh jadi viral. Hal yang sama juga kalo saya unggah di Youtube. Di sana sepi, di Page FB rame. Dari sini saya belajar bahwa sebuah konten itu laku bukan cuma karena isinya tapi juga tempat kita menaruhnya.
Di jaman ini tidak bisa seorang kreator menjual langsung karyanya dari pintu ke pintu. Terlalu repot dan makan biaya. Pernahkah anda bayangkan Christopher Nolan bawa harddisk terus nawarin filmnya di depan kost-kostan? Atau Frank Miller naik sepeda dengan sekeranjang komik jualan di depan Taman Wlingi?
Kreator butuh lapak atau kalo bahasa sekarang ini platform. Platform adalah sebuah wadah yang mempertemukan para pencipta dan peminat. Seringkali ciptaan dan minat itu begitu khusus. Sama seperti video main-main saya yang tak diminati follower saya namun disukai follower page saya. Juga di Youtube, karya saya tak diminati namun di page Facebook banyak yang membagikannya. Keramaian atau traffic tiap platform beda-beda.
Berhubung pentingnya platform dalam mengekspose suatu produk atau karya, maka valuenya besar sekali. Ibarat toko atau pasar lokasinya kudu strategis, maka ada ilmu mengelola platform agar trafficnya bagus. Sayang sekali pengelolaan ini butuh alokasi energi dan waktu tersendiri. Seorang kreator tak selalu sempat bisa mengurusi sebuah platform. Maka akan lebih mudah jika ada orang lain yang mengurusi. Seperti para pembuat konten digital hari ini, mereka bergantung pada platform yang sudah mapan semacam Youtube, Vimeo dan lain-lain. Kalau bikin sendiri biayanya jauh lebih besar meskipun akan lebih mandiri. Ini memang kurang menyenangkan bagi para kreator pemula yang karyanya segmented. Karya segmented yang tidak laku di platform umum perlu platform yang lebih khusus.
Bicara sesuai bidang saya, ada dua macam platform untuk filmmaker dan comic creator: ONLINE dan OFFLINE. Platform online bisa menjangkau lebih banyak penonton/pembaca namun cenderung susah untuk bisa mendapat profit secara langsung. Platform tertentu kadang menerapkan "bagi hasil" berupa revenue dari iklan. Contohnya Youtube dengan Google Adsense. Untuk mendapatkan penghasilan dari sini susah sekali. Syaratnya banyak dan tak bersahabat untuk konten yang sifatnya segmented. Kreator musti cari cara lain untuk menguangkan karyanya. Dari platform online, value yang didapat adalah exposure atau branding. Misalnya saya bisa jualan komik setelah komiknya viral di medsos.
Platform offline jangkauannya sempit namun langsung. Film yang diputar di bioskop atau komik yang dijual di toko buku hanya bisa diakses secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di radius tertentu dari lokasi. Namun uangnya akan didapat secara langsung. Antara online dan offline ini bisa bersinergi. Apalagi sekarang semua serba terhubung. Branding dilakukan secara online, adapun kegiatan offline bisa dipakai untuk kampanye brand atau platform.
Menurut saya, untuk para kreator yang kesusahan menemukan sasaran pembaca seperti: Filmmaker yang ditolak festival tenar, comic creator yang gayanya nggak "webtoonable", musisi yang belum dapat audiens dll. bisa mulai memikirkan untuk mendapatkan platform. Sebuah ekosistem kreatif tak akan jalan tanpa adanya platform yang tertata.
Menemukan (atau membikin) platform ini memang butuh usaha keras. Perlu waktu lama untuk dapat follower, perlu waktu lama untuk dapat penonton dll. Saya dan rekan senior saya pernah ngobrol bahwa setiap karya akan ada pendengarnya sendiri. Ya realitanya emang tak seindah bibirnya Chloe Grace Moretz. Dalam menemukan atau membangun platform yang sesuai itu butuh perjuangan, darah dan doa.
Sangat penting menciptakan platform yang sesuai sama corak karya kita sendiri. Berharap pada industri yang mapan itu tak mudah. Masing-masing orang sudah ada kepentingan yang mapan di sana. Apa lantas dengan modal udah jadi friend di Facebook lantas kita bakal masuk di jaringan mereka? Nggak seenak itu. Mereka membangun ekosistem juga lewat perjalanan yang lama. Nha kita yang "Lha kowe ki sopo" ini kan nggak ikutan sewaktu mereka membangun itu. Tau-tau mereka udah terkenal dan kita baru mulai jadi gurem yang merindukan bulan. Peduli apa para dinosaurus sama gurem? Mereka punya urusan yang lebih prioritas. We are "The dudu sopo-sopo", Cukgaes.
Mari kita urus diri sendiri agar sedikit lebih merdeka. Segeralah bangun ekosistemmu mulai dari mencari atau membangun platform.
Di toko buku saya melihat banyak judul yang tak populer dan ragu apakah orang benar-benar membelinya. Tetapi saya yakin tetap ada, karena itu toko buku tempat orang mencari buku-buku apa saja. Yang laris memang buku populer tapi buku non populer juga bisa ditemukan di toko itu.
Dengan adanya suatu tempat untuk memajang, maka orang tak akan repot-repot blusukan mencari penulis di rumahnya, cukup ke toko buku. Filmmaker juga gak repot-repot bawa flashdisk jualan film dari pintu ke pintu. Mau nonton ya ke bioskop atau streaming di internet secara legal.
Begitulah konsep tentang "lapak dagangan" atau platform.


Suatu ketika saya unggah video main-main saya (yang bikin mie itu) di Facebook. Reaksi orang adem-adem saja. Follower saya cuma 2000an di akun pribadi, yang share cuma satu atau dua orang saja. Lalu saya coba unggah di Page saya, eh jadi viral. Hal yang sama juga kalo saya unggah di Youtube. Di sana sepi, di Page FB rame. Dari sini saya belajar bahwa sebuah konten itu laku bukan cuma karena isinya tapi juga tempat kita menaruhnya.
Di jaman ini tidak bisa seorang kreator menjual langsung karyanya dari pintu ke pintu. Terlalu repot dan makan biaya. Pernahkah anda bayangkan Christopher Nolan bawa harddisk terus nawarin filmnya di depan kost-kostan? Atau Frank Miller naik sepeda dengan sekeranjang komik jualan di depan Taman Wlingi?
Kreator butuh lapak atau kalo bahasa sekarang ini platform. Platform adalah sebuah wadah yang mempertemukan para pencipta dan peminat. Seringkali ciptaan dan minat itu begitu khusus. Sama seperti video main-main saya yang tak diminati follower saya namun disukai follower page saya. Juga di Youtube, karya saya tak diminati namun di page Facebook banyak yang membagikannya. Keramaian atau traffic tiap platform beda-beda.
Berhubung pentingnya platform dalam mengekspose suatu produk atau karya, maka valuenya besar sekali. Ibarat toko atau pasar lokasinya kudu strategis, maka ada ilmu mengelola platform agar trafficnya bagus. Sayang sekali pengelolaan ini butuh alokasi energi dan waktu tersendiri. Seorang kreator tak selalu sempat bisa mengurusi sebuah platform. Maka akan lebih mudah jika ada orang lain yang mengurusi. Seperti para pembuat konten digital hari ini, mereka bergantung pada platform yang sudah mapan semacam Youtube, Vimeo dan lain-lain. Kalau bikin sendiri biayanya jauh lebih besar meskipun akan lebih mandiri. Ini memang kurang menyenangkan bagi para kreator pemula yang karyanya segmented. Karya segmented yang tidak laku di platform umum perlu platform yang lebih khusus.
Bicara sesuai bidang saya, ada dua macam platform untuk filmmaker dan comic creator: ONLINE dan OFFLINE. Platform online bisa menjangkau lebih banyak penonton/pembaca namun cenderung susah untuk bisa mendapat profit secara langsung. Platform tertentu kadang menerapkan "bagi hasil" berupa revenue dari iklan. Contohnya Youtube dengan Google Adsense. Untuk mendapatkan penghasilan dari sini susah sekali. Syaratnya banyak dan tak bersahabat untuk konten yang sifatnya segmented. Kreator musti cari cara lain untuk menguangkan karyanya. Dari platform online, value yang didapat adalah exposure atau branding. Misalnya saya bisa jualan komik setelah komiknya viral di medsos.
Platform offline jangkauannya sempit namun langsung. Film yang diputar di bioskop atau komik yang dijual di toko buku hanya bisa diakses secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di radius tertentu dari lokasi. Namun uangnya akan didapat secara langsung. Antara online dan offline ini bisa bersinergi. Apalagi sekarang semua serba terhubung. Branding dilakukan secara online, adapun kegiatan offline bisa dipakai untuk kampanye brand atau platform.
Menurut saya, untuk para kreator yang kesusahan menemukan sasaran pembaca seperti: Filmmaker yang ditolak festival tenar, comic creator yang gayanya nggak "webtoonable", musisi yang belum dapat audiens dll. bisa mulai memikirkan untuk mendapatkan platform. Sebuah ekosistem kreatif tak akan jalan tanpa adanya platform yang tertata.
Menemukan (atau membikin) platform ini memang butuh usaha keras. Perlu waktu lama untuk dapat follower, perlu waktu lama untuk dapat penonton dll. Saya dan rekan senior saya pernah ngobrol bahwa setiap karya akan ada pendengarnya sendiri. Ya realitanya emang tak seindah bibirnya Chloe Grace Moretz. Dalam menemukan atau membangun platform yang sesuai itu butuh perjuangan, darah dan doa.
Sangat penting menciptakan platform yang sesuai sama corak karya kita sendiri. Berharap pada industri yang mapan itu tak mudah. Masing-masing orang sudah ada kepentingan yang mapan di sana. Apa lantas dengan modal udah jadi friend di Facebook lantas kita bakal masuk di jaringan mereka? Nggak seenak itu. Mereka membangun ekosistem juga lewat perjalanan yang lama. Nha kita yang "Lha kowe ki sopo" ini kan nggak ikutan sewaktu mereka membangun itu. Tau-tau mereka udah terkenal dan kita baru mulai jadi gurem yang merindukan bulan. Peduli apa para dinosaurus sama gurem? Mereka punya urusan yang lebih prioritas. We are "The dudu sopo-sopo", Cukgaes.
Mari kita urus diri sendiri agar sedikit lebih merdeka. Segeralah bangun ekosistemmu mulai dari mencari atau membangun platform.
Baca

CARA SAYA MEMAHAMI SINEMA (LITERASI SINEMA)

Saya sering nulis review film buat bahan update status medsos maupun blog. Kadang juga ada unsur penilaiannya sedikit-sedikit. Tapi menyebut diri sebagai kritikus film terlalu jauh lah buat saya. Terlebih saya memandang film lewat kacamata keterpesonaan. Orang yang terpesona sering abai melihat kelemahan. Dalam menonton film, saya bukan tipe pencari kesalahan. Meski begitu "kesalahan" itu dengan mudah bisa saya temukan karena saya paham cara bikinnya.
Yang jelas dalam memberikan pendapat mengenai film, saya memegang sejumlah bekal, menjalani proses dan memahami beberapa hal mendasar terlebih dahulu. Semua ini saya rumuskan dalam sekian waktu saya belajar film secara mandiri.


Jadi apa saja yang perlu dalam bicara soal film atau memahami film?
Ini langkah-langkah saya selama ini:

PAHAM TEKNIS BIKIN FILM
Ini adalah langkah awal saya memahami film. Paham bagaimana film itu dibuat baik secara lazim maupun tidak lazim. Tapi ini belum cukup berguna untuk menilai film karena ibarat masakan, apapun rahasia dapurnya rasa tetaplah yang utama. Saya tak peduli misalnya film itu ada naskahnya apa tidak, seandainya hasil jadinya bisa ditonton dengan nyaman. Tentu saja sebagian besar film selalu memakai naskah, tapi itu hanyalah persoalan teknis dalam memetakan ide kepada tim produksi.
Ada setidaknya 5 tahap dalam produksi film: Pengembangan, pra produksi, produksi, pasca produksi dan distribusi.

PAHAM NARATIF FILM
Film yang umum dikonsumsi penonton adalah tipe film cerita. Cerita itu rata-rata berpola. Pola paling mudah adalah 3 babak dan alur paling mudah adalah alur maju. Ini cara saya paling dasar dalam memahami cerita film. Lalu saya membiasakan diri untuk menikmati alur yang non linier yakni susunan kronologisnya diacak-acak. Jika kita terbiasa dengan macam-macam cara bercerita lebih mudah bagi kita menilainya.
Ada beberapa film yang mencoba keluar dari pakem-pakem semacam itu. Hasilnya mereka menjadi butuh perhatian lebih. Satu hal yang paling penting disoroti adalah logika cerita. Cerita yang baik tentu tidak melanggar logika kisah di dalamnya. Ini bisa jadi nggak sesederhana ini.

PAHAM SEMIOTIKA DALAM FILM
Film sebagai produk audio visual juga sering menggunakan simbol-simbol. Komunikais tak melulu lewat kata-kata namun juga bisa lewat gesture. Pemahaman kita terhadap simbol-simbol visual juga membantu dalam memahami narasi. Dulu kala ada kecenderungan filmmaker tidak yakin atas gagasan yang ingin dikomunikasikan. Jadi ia menjelaskan semua kejadian lewat dialog. Seperti saat adegan terima telpon.
"Apa, masuk rumah sakit? Apa biayanya mahal?"
Jadi si karakter mengucapkan terang-terangan kejadiannya.
Filmmaker yang bisa mengoptimalkan semiotika, cukup mengoptimalisasi gambarnya. Lewat editing, pergerakan kamera, lewat musik, lewat sudut pengambilan gambar, cahaya dan lain-lain.
Seringkali kita perlu terobosan. Kalau jaman dulu horror dibangun lewat petir, hujan dan angin mungkin saat ini musti menemukan cara baru menggunakan simbol macam itu.
Ada istilah "mise en scene" (baca: misongsin), artinya apa yang terlihat dalam layar. Jika kita paham mulai dari cara mewujudkan apa yang nampak itu dan semiotika apa yang hendak disampaikan maka kita bisa memahami gagasan yang dibawa film secara utuh.

PAHAM GENRE FILM
Genre adalah sekelompok ciri umum yang menandai karakter film tertentu. Misalnya film laga. Di sini pasti pertarungan fisik antara perwakilan kebaikan dan kejahatan mendominasi film. Komedi. Dalam genre komedi pasti kejadian-kejadian yang tak lazim dan memancing rasa tawa mendominasi film. Kesalahan memahami genre berakibat pada kesalahpahaman memahami keumuman ciri itu.
Jangan protes kalau The Raid misalnya berlebihan dalam pertarungan, karena memang itu genre laga. Jika ada perkembangan karakter secara dramatis, maka itu bonus. Juga jangan harap anak yang menderita dalam kisah ibu tiri bakal belajar silat lalu melawan para pembullynya.

MEMPELAJARI GAGASAN DARI FILM-FILM SEJENIS
Mengasup film yang punya kesamaan tematik, alur dan bahkan premis akan memperkaya kita dalam memahami. Kita bisa membandingkan satu sama lain. Saya percaya, pendapat orang yang sudah banyak referensi akan lebih kokoh daripada yang cuma nonton sedikit. Ketika misalnya menonton Avatar dari James Cameron, kita bisa bandingkan kesamaan tematiknya dengan Dance With Wolves. Meski begitu pembandingan juga musti "apple to apple". Setiap sutradara punya pendekatan yang berbeda-beda dan tak selalu bisa dibandingkan dalam paradigma better or worse.
Ketika saya mulai membandingkan, saya mulai mengapresiasi orang-orang di balik layar. Kenapa misalnya film bertema perang garapan seorang sutradara A akan berbeda dengan si B? Dari situ saya mulai mengenali beberapa nama. Bagi saya rasanya tak cukup kalo bicara film tapi tidak mengapresiasi para filmmaker di baliknya. Yang paling mendasar biasanya saya hafal: Sutradara, produser, scriptwriter, aktor utama, music composer, D.O.P dan editor. Namun sering saya cuma batasi tahu sutradara sama aktor saja.
Yang teroenting dari perbandingan ini adalah soal gagasan. Apakah ada gagasan yang baru? Atau apakah gagasan yang lama diceritakan dengan cara baru?
Maka jika sebuah film sekadar mengulang gagasan lama, bagi saya itu tidak cukup memukau meskipun masih bisa menghibur.

PAHAM MASALAH PREFERENSI INDIVIDU
Ada ungkapan "Kita tak bisa bikin semua orang bahagia". Dalam film tentu banyak hal bisa kita suka atau benci namun bukan karena urusan benar dan salah. Saya lebih menyukai film laga ala Asia dibanding Barat bukan karena Asia lebih hebat. Melainkan preferensi visual, koreografi dan atmosfir film laga Asia lebih memukau saya. Dengan paradigma ini, kita mengasup film seperti kopi. Ada yang suka begini, ada yang suka begitu atau malah bukan dua-duanya. Tak ada yang lebih hebat. Jika urusannya preferensi maka apa yang ada di kepala tiap orang akan beda.
Pernah saya baca komentar seseorang yang berkata, "Lu gak usah memuja si sutradara A. Menurut gue dia itu dangkal."
Di sini saya melihat ia belum terdidik dalam literasi, karena masih memaksakan hal-hal yang sifatnya preferensial. Cinta dan benci tentu sah-sah aja. Saya pribadi mencintai karya sutradara tertentu dan emoh sama sutradara tertentu juga. Ada alasan preferensial saya mengenai hal itu. Namun di mata orang lain itu bisa jadi sebuah nilai pukau.
========
Nah, begitulah cara saya memahami sinema. Paham sinema berarti:
1. Paham cara membuatnya
2. Paham gagasan yang dibawanya
3. Kenal siapa-siapa yang terlibat di dalamnya
4. Menonton cukup banyak film untuk bisa membandingkan
5. Mampu memberikan sebuah ulasan mengenai film
Mungkin nomor 5 opsional ya. Hal-hal beginilah yang saya sebut sebagai "melek film" atau istilah kerennya literasi sinema. Pemahaman ini mempengaruhi cara saya menilai, menuliskan review, berdiskusi dan juga ketika saya bikin film sendiri.
Saya sering nulis review film buat bahan update status medsos maupun blog. Kadang juga ada unsur penilaiannya sedikit-sedikit. Tapi menyebut diri sebagai kritikus film terlalu jauh lah buat saya. Terlebih saya memandang film lewat kacamata keterpesonaan. Orang yang terpesona sering abai melihat kelemahan. Dalam menonton film, saya bukan tipe pencari kesalahan. Meski begitu "kesalahan" itu dengan mudah bisa saya temukan karena saya paham cara bikinnya.
Yang jelas dalam memberikan pendapat mengenai film, saya memegang sejumlah bekal, menjalani proses dan memahami beberapa hal mendasar terlebih dahulu. Semua ini saya rumuskan dalam sekian waktu saya belajar film secara mandiri.


Jadi apa saja yang perlu dalam bicara soal film atau memahami film?
Ini langkah-langkah saya selama ini:

PAHAM TEKNIS BIKIN FILM
Ini adalah langkah awal saya memahami film. Paham bagaimana film itu dibuat baik secara lazim maupun tidak lazim. Tapi ini belum cukup berguna untuk menilai film karena ibarat masakan, apapun rahasia dapurnya rasa tetaplah yang utama. Saya tak peduli misalnya film itu ada naskahnya apa tidak, seandainya hasil jadinya bisa ditonton dengan nyaman. Tentu saja sebagian besar film selalu memakai naskah, tapi itu hanyalah persoalan teknis dalam memetakan ide kepada tim produksi.
Ada setidaknya 5 tahap dalam produksi film: Pengembangan, pra produksi, produksi, pasca produksi dan distribusi.

PAHAM NARATIF FILM
Film yang umum dikonsumsi penonton adalah tipe film cerita. Cerita itu rata-rata berpola. Pola paling mudah adalah 3 babak dan alur paling mudah adalah alur maju. Ini cara saya paling dasar dalam memahami cerita film. Lalu saya membiasakan diri untuk menikmati alur yang non linier yakni susunan kronologisnya diacak-acak. Jika kita terbiasa dengan macam-macam cara bercerita lebih mudah bagi kita menilainya.
Ada beberapa film yang mencoba keluar dari pakem-pakem semacam itu. Hasilnya mereka menjadi butuh perhatian lebih. Satu hal yang paling penting disoroti adalah logika cerita. Cerita yang baik tentu tidak melanggar logika kisah di dalamnya. Ini bisa jadi nggak sesederhana ini.

PAHAM SEMIOTIKA DALAM FILM
Film sebagai produk audio visual juga sering menggunakan simbol-simbol. Komunikais tak melulu lewat kata-kata namun juga bisa lewat gesture. Pemahaman kita terhadap simbol-simbol visual juga membantu dalam memahami narasi. Dulu kala ada kecenderungan filmmaker tidak yakin atas gagasan yang ingin dikomunikasikan. Jadi ia menjelaskan semua kejadian lewat dialog. Seperti saat adegan terima telpon.
"Apa, masuk rumah sakit? Apa biayanya mahal?"
Jadi si karakter mengucapkan terang-terangan kejadiannya.
Filmmaker yang bisa mengoptimalkan semiotika, cukup mengoptimalisasi gambarnya. Lewat editing, pergerakan kamera, lewat musik, lewat sudut pengambilan gambar, cahaya dan lain-lain.
Seringkali kita perlu terobosan. Kalau jaman dulu horror dibangun lewat petir, hujan dan angin mungkin saat ini musti menemukan cara baru menggunakan simbol macam itu.
Ada istilah "mise en scene" (baca: misongsin), artinya apa yang terlihat dalam layar. Jika kita paham mulai dari cara mewujudkan apa yang nampak itu dan semiotika apa yang hendak disampaikan maka kita bisa memahami gagasan yang dibawa film secara utuh.

PAHAM GENRE FILM
Genre adalah sekelompok ciri umum yang menandai karakter film tertentu. Misalnya film laga. Di sini pasti pertarungan fisik antara perwakilan kebaikan dan kejahatan mendominasi film. Komedi. Dalam genre komedi pasti kejadian-kejadian yang tak lazim dan memancing rasa tawa mendominasi film. Kesalahan memahami genre berakibat pada kesalahpahaman memahami keumuman ciri itu.
Jangan protes kalau The Raid misalnya berlebihan dalam pertarungan, karena memang itu genre laga. Jika ada perkembangan karakter secara dramatis, maka itu bonus. Juga jangan harap anak yang menderita dalam kisah ibu tiri bakal belajar silat lalu melawan para pembullynya.

MEMPELAJARI GAGASAN DARI FILM-FILM SEJENIS
Mengasup film yang punya kesamaan tematik, alur dan bahkan premis akan memperkaya kita dalam memahami. Kita bisa membandingkan satu sama lain. Saya percaya, pendapat orang yang sudah banyak referensi akan lebih kokoh daripada yang cuma nonton sedikit. Ketika misalnya menonton Avatar dari James Cameron, kita bisa bandingkan kesamaan tematiknya dengan Dance With Wolves. Meski begitu pembandingan juga musti "apple to apple". Setiap sutradara punya pendekatan yang berbeda-beda dan tak selalu bisa dibandingkan dalam paradigma better or worse.
Ketika saya mulai membandingkan, saya mulai mengapresiasi orang-orang di balik layar. Kenapa misalnya film bertema perang garapan seorang sutradara A akan berbeda dengan si B? Dari situ saya mulai mengenali beberapa nama. Bagi saya rasanya tak cukup kalo bicara film tapi tidak mengapresiasi para filmmaker di baliknya. Yang paling mendasar biasanya saya hafal: Sutradara, produser, scriptwriter, aktor utama, music composer, D.O.P dan editor. Namun sering saya cuma batasi tahu sutradara sama aktor saja.
Yang teroenting dari perbandingan ini adalah soal gagasan. Apakah ada gagasan yang baru? Atau apakah gagasan yang lama diceritakan dengan cara baru?
Maka jika sebuah film sekadar mengulang gagasan lama, bagi saya itu tidak cukup memukau meskipun masih bisa menghibur.

PAHAM MASALAH PREFERENSI INDIVIDU
Ada ungkapan "Kita tak bisa bikin semua orang bahagia". Dalam film tentu banyak hal bisa kita suka atau benci namun bukan karena urusan benar dan salah. Saya lebih menyukai film laga ala Asia dibanding Barat bukan karena Asia lebih hebat. Melainkan preferensi visual, koreografi dan atmosfir film laga Asia lebih memukau saya. Dengan paradigma ini, kita mengasup film seperti kopi. Ada yang suka begini, ada yang suka begitu atau malah bukan dua-duanya. Tak ada yang lebih hebat. Jika urusannya preferensi maka apa yang ada di kepala tiap orang akan beda.
Pernah saya baca komentar seseorang yang berkata, "Lu gak usah memuja si sutradara A. Menurut gue dia itu dangkal."
Di sini saya melihat ia belum terdidik dalam literasi, karena masih memaksakan hal-hal yang sifatnya preferensial. Cinta dan benci tentu sah-sah aja. Saya pribadi mencintai karya sutradara tertentu dan emoh sama sutradara tertentu juga. Ada alasan preferensial saya mengenai hal itu. Namun di mata orang lain itu bisa jadi sebuah nilai pukau.
========
Nah, begitulah cara saya memahami sinema. Paham sinema berarti:
1. Paham cara membuatnya
2. Paham gagasan yang dibawanya
3. Kenal siapa-siapa yang terlibat di dalamnya
4. Menonton cukup banyak film untuk bisa membandingkan
5. Mampu memberikan sebuah ulasan mengenai film
Mungkin nomor 5 opsional ya. Hal-hal beginilah yang saya sebut sebagai "melek film" atau istilah kerennya literasi sinema. Pemahaman ini mempengaruhi cara saya menilai, menuliskan review, berdiskusi dan juga ketika saya bikin film sendiri.
Baca
 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA