MENGAPA SPOILER FILM ADALAH TABU?

Spoiler dalam konteks karya fiksi artinya membocorkan jalan cerita. Khusus mengenai film, spoiler mempunyai akibat yang fatal untuk kenikmatan menonton. Pada dasarnya struktur cerita fiksi dibuat agar penonton bisa mendapat sensasi naratifnya, yang mana menyembunyikan informasi yang mengarah pada akhir cerita adalah hal terpenting. Tentu kurang menarik jika menonton film yang sudah diketahui detail-detailnya, meskipun ada juga yang tidak bermasalah dengan itu. Secara umum, kenikmatan menonton adalah ketika tiap informasi plot diungkap secara berlapis-lapis. Itu yang membuat kenapa menonton film terasa greget. Lazimnya, para pekerja film dilarang untuk spoiling atau bahkan memajang foto-foto syuting tertentu yang digariskan oleh produser selama film itu dalam masa release. Ketika detail film terlalu diumbar, tidak ada rasa penasaran yang menjadi salah satu unsur marketingnya.

The Sixth Sense, film yang cukup sukar mengulasnya tanpa spoiler.

Lantas apakah yang termasuk "spoiling" (kata kerja untuk spoiler)?
Pada intinya adalah semua hal menyangkut detail dan penjabaran yang memuat informasi yang harusnya memang disembunyikan. Ini gampang jika kita menerapkannya dalam film genre detektif, thriller dan horror. Hal-hal yang merupakan spoiler antara lain:
1. Kejadian penting yang mengubah pikiran para tokohnya
2. Pelaku kunci sebuah kasus
3. Tokoh mana yang akan meninggal
4. Plot twist yang terjadi
Dan lain-lain.
Apa gunanya nonton film detektif atau thriller jika kita sudah tahu kejadian aslinya? Fiksi jenis ini disusun khusus memang untuk menyesatkan dugaan penontonnya.
Sedangkan untuk genre drama, larangan spoiler tidak seketat genre tadi. Meskipun begitu untuk menghargai para pembuat ceritanya, spoiler harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Terus bagaimana dengan review kritik dan sebagainya? Bukankah mereka juga berpotensi besar mengandung spoiler?

Scream, film thriller yang sangat fatal jika disebar spoilernya.

Ada etika tertentu dalam menulis tentang film yang sedang tayang atau masih dalam masa mencari audiens. Salah satunya adalah menuliskan "SPOILER ALERT" secara jelas di awal tulisan. Artinya memperingatkan pembaca bahwa ulasan itu mengandung resiko spoiling beberapa plot. Akan tetapi penulis review yang baik tentu paham bagaimana menyiasati agar spoiler diminimalisir. Biasanya masa berlaku "larangan" spoiler adalah selama film tersebut dalam masa edar (antara satu hingga dua bulan kira-kira).
Meski tidak ada hukum yang melarang spoiler, ini adalah urusan etis saja dalam dunia literasi. Terlebih dalam ekosistem perfilman banyak hal yang harus dihidupi. Spoiling film bisa merugikan tak hanya industri namun juga secara moral bagi penulis ceritanya. Ini adalah hal yang masih perlu terus dikampanyekan dalam masyarakat yang miskin literasi, jangankan membaca fiksi, kebanyakan juga belum paham bagaimana memperlakukan produk kreatif naratif semacam ini. Diperparah dengan etika berinternet yang belum cukup maju. Ketika larangan spoiler dikemukakan, masih banyak yang menganggapnya lebay karena mungkin belum cukup paham bagaimana industri ini bekerja. Agak bisa dimaklumi karena sejarah perfilman kita tergolong muda di dunia dan pernah mati suri di era 90 ke awal 2000an. Jadi budaya literasi sinema kita sangat terlambat.
Jadi begitulah mengapa spoiler adalah tabu dan tidak etis. Kalau saya ibaratkan seperti anda mau beli nogosari, anda buka satu-satu, anda ciumi atau jilat lalu anda cuma pilih satu untuk dibeli.
(ditulis dari Wlingiwood pada pagi hari yang spoiling)

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA