HIDUP DARI DAN MENGHIDUPI EKOSISTEM KREATIF

Oleh Gugun Javora Studio

Tulisan ini berdasarkan proses "trial and error" dalam menjual, memasarkan dan mendistribusikan karya saya. Mungkin nggak cocok ama teori akademik manapun lha wong emang saya nggak sekolah. Namun ini berdasar apa yang berfungsi pada saya.

MEMAHAMI EKOSISTEM

Mirip seperti alam biologis, industri kreatif itu terdiri dari banyak pelaku dan elemen yang semua harus saling menyokong dan menghidupi. Satu bagian mati yang lain akan terancam. Dari percobaan kecil saya, setidaknya teramati ada beberapa elemen dalam ekosistem yang saya maksud:

1. Kreator (siapapun yang berkarya baik individu maupun kelompok usaha)
2. Platform (saya sebut arena pertemuan karya dengan audiens. Ada yang online, ada yang offline. Termasuk di dalamnya pameran, festival, pemutaran dll.)
3. Audiens atau pembaca (mereka yang mengasup karya kita, terutama yang berdaya beli)

Tiga pihak ini adalah elemen dasar ekosistem. Selanjutnya...

4. Pengiklan (pemilik produk yang butuh eksposure di platform. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat)
5. Pendana (atau investor. Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya)
6. Pengamat dan pembelajar (ini istilah saya untuk para non praktisi yang berperan penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten)
7. Pitching forum (forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator)


Bagaimana masing-masing elemen ini berinteraksi dalam kegiatan saling menyokong dan menghidupi saya gambarkan dalam infografis. Di sini ada 3 "pengaliran" yang saya pandang sangat penting:

1. Distribusi produk (warna pink)
2. Distribusi value (warna biru)
3. Distribusi uang (warna hijau)

Anggap saja 3 hal "pengaliran" ini semacam darah dan oksigen. Semua harus lancar agar sustainable.
Setelah memahami ini tinggal kita putuskan peran kita apa. Dalam hal ini saya menjalani peran sebagai kreator. Platform saya saat ini adalah media sosial (Facebook). Konten yang saya bikin adalah komik, animasi dan film. Produk yang saya jual saat ini baru komik cetak.

MEMAHAMI WATAK DISTRIBUSI ONLINE

Pertama-tama kita musti memahami value dari exposure. Exposure adalah tingkatan kepedulian audiens pada karya kita. Semakin gede exposure maka akan makin mudah mendistribusikan karya dan pada ujungnya membantu menemukan para pembeli. Saya bisa berjualan komik cetak setelah dapat exposure gede untuk konten saya di media sosial. Dengan catatan konten yang dibikin bisa dibuat versi produknya. Contohnya saya memviralkan komik strip 2 panel, kemudian menjual komik cetak 200an halaman berdasar 2 panel yang viral itu.

Saya menemukan bahwa exposure konten kita akan meningkat jika kita:

1. Bikin karya viral
2. Punya branding yang mengingatkan audiens ke yang kita viralkan itu
3. Terus menjalin interaksi dengan audiens

Nah, dengan cara ini kita bisa mengukur kapan kira-kira konten tadi dikonversi jadi produk yang bisa dijual.
Selama proses testing audiens, saya juga menemukan fakta bahwa:

1. Karya bagus tak akan optimal exposurenya jika tidak ditaruh di platform yang exposurenya juga bagus. Contohnya saya posting konten di akun pribadi ternyata tak banyak yang respons. Namun begitu saya posting di page yang followernya banyak, langsung jadi viral.
2. Karya biasa akan lebih dapat exposure jika diposting di media yang followernya banyak (asalkan generik) atau jika dishare oleh "seleb medsos".
3. Konten dengan isu kekinian, kontroversial, NSFW dan related sama audiens akan lebih mudah disukai.

Jadi kata kuncinya adalah "viral". Distribusi akan jauh lebih mudah jika kita berhasil viral.

TARGETING PEMBELI

Setelah viral, langkah selanjutnya adalah mulai targeting. dari top fans, mana kah yang kira-kira berdaya beli dan berniat beli. Dengan mereka kita jalin interaksi intens. Adapun para penggemar lainnya bukan berarti tak berguna meski tidak beli produk kita. Selama mereka mendapat value dari konten kita, mereka akan terus memperluas exposure kita. Jadi tumbuhkan respect sama audiens baik yang membeli maupun tidak.

DARI KONTEN NON FISIK KE PRODUK YANG BISA DIJUAL

Konten yang saya maksud adalah lebih ke yang diunggah secara digital. Konten ini biasanya kita berikan gratis buat para pembaca. Jika exposurenya tinggi (minimal 1K share) maka kita bisa pertimbangkan untuk mengkonversinya sebagai produk. Dalam hal ini diperlukan ketrampilan storytelling. Ada dua macam konversi:

1. Langsung: Produk berdasarkan tema dari konten
2. Tak langsung: Produk tidak berdasarkan tema dari konten

Yang langsung sudah jelas. Yang tidak langsung ini maksudnya kita menggunakan exposure atas branding kita untuk berjualan. Sederhananya, misalnya kita bikin video viral. Jangan lupa kasih branding kita. Nah, dengan brand yang sudah dikenal kita berjualan memakai reputasi tadi. Dalam hal ini pengalaman berjualan online sangat diperlukan.

MERAWAT EKOSISTEM

Tidak selalu anda musti berjualan. Orang akan jenuh ditawari jika tak butuh. Sering-sering juga kita bikin konten yang memang murni menghibur. Tujuannya menciptakan "engagement" yang lebih langgeng. Saya hitungannya termasuk jarang berjualan. Yang saya lakukan adalah terus membangun ikatan dengan audiens. Semoga mereka menyukai, mencintai dan merestui karya-karya saya. Dalam industri kreatif, dalam pandangan saya, uang bukan segalanya. Ada kebahagiaan, pemenuhan diri dan interaksi sosial dan psikologis.

Kadang saya juga berperan sebagai edukator, reviewer, kritikus (amatiran tapi ya) untuk menjaga apresiasi pada karya tetap menyala. Exposure pada dunia konten itu harus tetap dipupuk. Bisa lewat diskusi, nulis artikel di medsos, saling promosi karya dll. Tak ada ruginya anda mempromosikan karya teman. Jangan melihatnya sebagai kompetitor melainkan sebagai pelengkap ekosistem.

Artikel dengan kata kunci terkait:

Bagikan artikel ini :

Post a Comment

 
Copyright © 2011.   GUGUN EKALAYA - All Rights Reserved
Thanks maturnuwun to MASTEMPLATE and also dumateng TUKARCERITA